Zaman Tiga Kerajaan atau juga dikenal dengan nama Samkok adalah sebuah zaman di penghujung Dinasti Han di saat Tiongkok terpecah menjadi tiga negara yang saling bermusuhan. Di dalam sejarah Tiongkok biasanya hanya boleh ada kaisar tunggal yang dianggap menjalankan mandat langit untuk berkuasa, tetapi pada zaman ini karena tidak ada satupun negara yang dapat menaklukkan negara lainnya untuk mempersatukan Tiongkok, maka muncullah tiga negara dengan kaisar masing-masing.
Cao Cao (kerajaan Wei), Liu Bei (Kerajaan Shu) dan Sun Quan (Kerajaan Wu) masing-masing telah memaklumatkan diri sebagai kaisar dan mengklaim legitimasi sebagai kekaisaran yang mewarisi Dinasti Han yang telah runtuh. Hal ini membuat situasi keamanan di dataran tengah memanas. Tiga pihak yang bertentangan sama-sama menghimpun kekuatan.
Di satu pihak, kerajaan Wei yang diperintah Kaisar Cao Cao. Di pihak lain, Kerajaan Shu yang diperintah oleh Kaisar Liu Bei. Perang besar sudah di depan mata. Tidak hanya melibatkan ribuan prajurit tapi juga para pendekar yang berilmu tinggi.
Hampir seluruh pendekar ternama di dataran tengah ikut terlibat dengan bermacam alasan. Ada yang karena kesetiaan dan keyakinan. Ada yang terpikat janji dan iming-iming materi.
Waktu itu banyak penduduk dan pemimpin agama dari Kerajaan Wei menyeberang dan mengabdi ke Kerajaan Shu. Sebagian mereka tidak puas terhadap kebijakan Kaisar Cao Cao, sebagian lain melihat masa depan yang lebih menjanjikan di Kerajaan Shu. Kaisar Cao Cao marah-marah. Kaisar Liu Bei tertawa senang. Amarah Kaisar Cao Cao makin menjadi mendengar berita Kaisar Liu Bei telah menobatkan diri sebagai Kaisar Kerajaan Shu.
Kaisar Cao Cao merencanakan serangan besar menghancurkan Kerajaan Shu. Tapi kemudian membatalkan rencana tersebut karena mendengar laporan mata-mata bahwa pasukan Kaisar Liu Bei sudah siap-siap meluruk ke Kerajaan Wei. Kaisar Cao Cao memutuskan untuk menanti serangan lawan. Dia mempersiapkan pasukannya lebih matang dan rencana untuk menjebak lawan. Keputusan ini tidak banyak menguras kekayaan kerajaan dan juga tidak menguras tenaga pasukannya.
Di pihak Kerajaan Shu, Kaisar Liu Bei juga sudah menyusun rencana. Dia memang akan menyerang Kerajaan Wei, bahkan sengaja membocorkan rencana tersebut. Tetapi ada rencana rahasia yang dipersiapkan dengan matang. Dia mengirim pasukan khusus yang terdiri dari sekelompok pendekar silat kenamaan dataran tengah, dengan tujuan menyerang dan membumihanguskan Partai Partai Naga Emas, perguruan yang merupakan pemasok Prajurit sakti yang setia pada kerajaan Wei.
Hancurnya Partai Naga Emas secara langsung akan melumpuhkan separuh kekuatan Kerajaan Wei. Selain itu juga mendatangkan rasa takut dan waswas di kalangan Prajurit Kerajaan Wei. Dia yakin Partai Naga Emas akan mudah diserang dan ditaklukkan karena saat itu sebagian besar murid utama perguruan itu berada di istana dalam persiapan menyambut serangan Kerajaan Shu.
Sore itu seorang pemuda bernama Guo Jia sedang istirahat bersandar di pangkal pohon ketika ekor matanya melihat serombongan besar orang mengindap-indap di hutan. Dia curiga bahkan firasatnya mencium ada bahaya yang mengancam dirinya. Matanya memandang sekeliling mencari- cari tempat persembunyian. Di dekatnya ada kubangan lumpur, satu-satunya tempat paling aman.
Dia tiarap di kubangan lumpur. Tidak bergerak, dia mengatur nafas agar tidak terdengar orang. Dia takut keberadaannya diketahui rombongan itu, nyawanya pasti melayang. Rombongan melewati jalan tidak jauh dari persembunyiannya. Karenanya dia bisa mendengar dengan jelas sebagian pembicaraan orang-orang itu. Mendengar pembicaraan itu dia menggigil ketakutan.
Tak lama setelah rombongan menjauh, pelan-pelan dia bangkit, melangkah hati-hati Rombongan menuju ke Luoyang. Dia juga menuju Partai Naga Emas yang tak jauh dari desa Luoyang, satu hari perjalanan dari tempatnya tadi. Dia memilih jalan lain, menghindari kemungkinan berpapasan dengan rombongan itu.
Hutan belantara itu gelap dan senyap. Cahaya rembulan tak mampu menembus kerimbunan pepohonan. Samar-samar tampak enam buah tenda darurat. Di salah satu tenda, tujuh pendekar sedang istirahat. Ada yang duduk, ada yang berbaring. Tetapi semuanya melek, tak ada yang tidur. Rombongan Kerajaan Shu itu dipimpin Pang Tong, pendekar kepercayaan Kaisar Liu Bei. Dia lelaki bertubuh tegap dan berusia sekitar tigapuluhan.
"Besok pagi kita menuju Luoyang, supaya tidak menyolok, kita berpencar dalam sepuluh kelompok, kita berjalan kaki sebagaimana orang awam. Sore hari kita akan tiba di hutan di luar desa. Kita istirahat. Sekitar tengah malam menjelang fajar kita akan menyerang. Agar bisa saling mengenal satu sama lain, kita semua menggunakan ikat kepala warna putih," kata Pang Tong kepada kawan-kawannya.
Ma Chao, pendekar sakti yang dijuluki Iblis Chengdu, berkata lirih namun jelas. "Bagaimana dengan rencanamu, apakah murid Partai Naga Emas itu bersedia meracuni air minum perguruannya?" Ma Chao, berusia di penghujung tiga-puluhan, kurus, wajahnya buruk dan tampak kejam. Dia bertelanjang dada dengan celana sebatas lutut dan jubah hitam panjang yang penuh dengan tambalan.
Pang Tong tersenyum licik.
"Dia pasti akan melakukan itu, dia telah kubekali racun pelemas tulang yang reaksinya cepat. Jika dia menabur bubuk itu di sore hari kemungkinan besar sebagian mereka sudah mulai keracunan di waktu malam. Biasanya mereka akan ngantuk dan tidur. Selama mereka tidak berlatih silat, mereka tidak akan sadar tubuhnya sudah keracunan. Pada dini hari saat kita menyerang, barulah mereka merasakan tubuhnya lemas. Saat itu sudah terlambat untuk suatu penyembuhan. Ya, rencana ini membuat kita tak perlu membuang banyak tenaga."
Semua orang yang mendengar tertawa senang. Mendadak terdengar suara protes, nadanya ketus. "Itu bukan ksatria, itu perilaku pengecut, aku tidak setuju rencana itu. Mengapa harus pakai cara meracuni lawan dengan pelemas tulang, aku sendiri mampu mengalahkan orang-orang Partai Naga Emas, termasuk ketuanya Xiahou Dun dan adik-adiknya itu."
Lelaki itu berusia separuh abad, dia pendekar asing asal dari pegunungan Himalaya, negeri India. Namanya Takadagawe. Tubuhnya tinggi kekar, agak kehitaman, wajahnya tampan dengan hidung mancung. Dia orang kepercayaan berkedudukan sebagai penasehat Kaisar Liu Bei, pendapatnya selalu didengar sang Kaisar.
Semua orang diam. Pang Tong meskipun tidak menyukai protes Takadagawe, ikut diam. Agaknya dia menaruh hormat bahkan agak keder terhadap Takadagawe. Namun tidak demikian dengan lelaki gembrot berkepala botak, Mi Fang. Pendekar ini merasa cemburu melihat Takadagawe disanjung dan dihormati semua orang Kerajaan Shu. "Huh, orang Himalaya itu makin lama makin sombong, apakah memang benar cerita orang bahwa ilmunya itu mumpuni, huh tanganku jadi gatal aku ingin jajal," gumamnya dalam hati.
Tak bisa bersabar lagi Mi Fang berkala lantang. "Tuan pendekar Himalaya memang berilmu tinggi, sampai di mana hebatnya aku sendiri belum melihat, apakah benar tuan bisa mengalahkan Xiahou Dun dan adik-adiknya, hal itu masih perlu tuan buktikan. Tetapi sekarang ini kita dalam situasi perang, rencana meracuni air minum orang Partai Naga Emas sangat bagus. Rencana itu untuk menghemat tenaga kita semua sehingga masih segar saat berperang lawan pasukan Kerajaan Wei. Aku setuju dan meNonaung rencana itu!"
Takadagawe tidak menjawab. Dia melonjorkan kaki dan rebah telentang di tanah. Saat berikut tubuhnya terangkat sejengkal dari tanah. Takadagawe sengaja pamer tenaga dalamnya yang tinggi dan hanya pendekar kelas satu yang bisa melakukannya. Mi Fang dan pendekar lain, diam-diam merasa kagum dan jeri.
Guo Jia bergegas. Setelah merasa tak ada orang yang melihatnya, dia lalu berlari menggunakan ilmu ringan tubuh. Meskipun hari gelap tetapi dia bisa bergerak cepat karena mengenal benar liku-liku jalan yang dilaluinya. Dia ingin secepatnya tiba di perguruannya dan melapor pada gurunya. Dia mencium adanya semacam bahaya maut yang mengancam Partai Naga Emas.
"Aku harus cepat memberitahu guru Rombongan itu pasti beristirahat di hutan karena tidak mungkin menempuh perjalanan malam. Jadi aku punya banyak waktu mendahului mereka," katanya dalam hati.
Keesokan siang, dia tiba di Partai Naga Emas. Seorang murid di pintu gerbang menyapanya, tetapi dia nyaris tak bisa bicara lantaran nafasnya yang sengal-sengaL Di pekarangan dia bertemu seorang murid lain yang menghadang jalannya. "Hai, Guo Jia, kamu habis mandi lumpur, ada apa? Kelihatannya kamu habis berlari jauh, apakah ada kejadian penting?"
"Gawat! Celaka, paman Xun Yu. Aku tadi bertemu serombongan pendekar, tampaknya mereka punya niatan menyerang perguruan kita, aku mendengar pembicaraan di antara mereka."
Xun Yu, usia tigapuluh tahun, tampan dengan kumis tipis, berewokan, rambut panjang digelung di atas kepala, tegap dan kekar. "Jumlahnya banyak? Dimana kamu bertemu dan apakah kamu mengenal mereka?" Mimik Xun Yu sangat serius memberondong keponakan muridnya dengan pertanyaan beruntun.
”Aku melihat mereka di hutan dekat desa, satu hari jalan kaki dari sini. Jumlahnya lima puluhan, dan semuanya dan golongan pendekar. Aku mendengar diantara mereka ada yang dipanggil Ma Chao, Pang Tong, Mi Fang, hanya itu yang kuingat”
Xun Yu mengibas tangannya. ”Kamu cepat-cepat menghadap guru besar, ceritakan semua yang kamu ketahui, aku akan memeriksa sekitar perguruan.”
Xun Yu menoleh sekeliling, tak ada orang yang memerhatikan. Dia berbalik arah menuju gudang tempat penyimpanan air minum dan bahan makanan. Ada beberapa guci besar penuh berisi air minum. Hati-hati ia membuka tutup guci dan menabur bubuk. Semua guci dan kendi sudah dicampurnya dengan racun pelemas.
”Sekarang masih sore jika diminum saat makan malam maka racun akan bereaksi tengah malam. Nah, rasakan balas dendam atas kematian keluargaku”, gumamnya disertai senyum licik.
Hari masih pagi matahari baru saja terbit. Embun dan kabut masih bergayut di pekarangan bagian belakang istana Kerajaan Wei, Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh limaan sedang bermain-main dengan anak laki-laki yang berusia sekitar delapan tahun. Lelaki itu, Sima Yi pendekar yang memiliki ilmu ringan tubuh paling hebat di dunia persilatan.
Sima Yi adalah murid tunggal pendekar gunung Huang Yue Jin yang di rimba persilatan tidak tertandingi ilmu ringan tubuhnya.
Sima Yi tidak hanya terkenal ilmu ringan tubuh Jejak Kilat tapi juga ketampanannya. Tubuhnya jangkung, tegap meskipun agak kurus sangat padu dengan wajahnya yang bulat telur dan rambutnya yang panjang.
Saat itu muncul ibu Jiu Cien, Zsu Mei, wanita cantik seksi berusia tigapuluhan. Dia tidak tinggi, dada montok dan rambut panjang ikal terurai di bahunya yang putih mulus. Kecantikannya sungguh menggoda hasrat lelaki. Dia mengenakan celana longgar sebatas lutut memperlihatkan betisnya yang memadi bunting dan pakaian ketat tanpa lengan menonjolkan kemontokan lengan dan buah dadanya.
Sambil tertawa kecil Zsu Mei ikut bermain dan mengejar putranya yang berlompatan dari satu pohon ke pohon lain. Sima Yi pun ikut mengejar. Jiu Cien berlari sambil tertawa. Setelah merasa cukup bermain ketiganya berhenti.
"Jiu Cien, ayahmu sudah menunggumu untuk latihan tenaga dalam, pergilah." Berkata demikian dia melirik dan tersenyum pada Sima Yi.
Sepeninggal putranya, Zsu Mei melangkah menghampiri lelaki itu. Perempuan itu mengulum senyum menggoda. Dia menatap lelaki itu. Keduanya bertatapan. Sima Yi melihat keliling, sepi tak ada orang. Ia memegang tangan wanita. "Zsu Mei, hari-hari belakangan ini aku melihat kamu semakin cantik."
Zsu Mei menengadah menatap lelaki itu yang lebih jangkung. Sepasang mata wanita itu berkedip-kedip dan berbinar macam kemilau bintang di malam purnama. "Benarkah aku cantik ?"
Laki-laki itu tak menjawab, dia gugup. Sekali lagi dia melihat sekeliling. Mendadak dia menggenggam tangan wanita itu. Keduanya berkelebat melompati pagar istana. Mereka menuju hutan yang berada tidak jauh di arah timur istana.
Mereka tiba di goa tersembunyi yang berada di balik pohon besar. Setelah menyingkirkan batu dan ranting pohon yang menutup pintu, mereka masuk. Goa itu bersih, tampaknya sering dibersihkan karena selama ini menjadi tempat pertemuan kedua kekasih itu memadu cinta. Keduanya tak kuasa menahan birahi lagi, mereka bergumul dengan liar, panas dan bernafsu. Cinta terlarang memang penuh nafsu yang panasnya selalu membara dan menimbulkan rasa ketagihan.
Pada saat bersamaan di halaman belakang dekat pendopo, Jiu Shan sedang melatih Jiu Cien. Dia berusia empatpuluhan. Tetapi kesannya tampak lebih tua.
Cambangnya hitam lebat, rambutnya yang panjang dikonde di atas kepala. Ia mengenakan celana sebatas lutut, tubuh bagian atas telanjang. "Anakku, jurus Naga Emas itu semakin dahsyat jika kamu menguasai tenaga dalam yang sangat mumpuni. Itu sebab kamu harus melatih tenaga batinmu lebih rajin lagi."
Mereka berlatih semedi dari pagi hari sampai matahari berada di titik palingtinggi. Udara panas. Keringat membasahi tubuh keduanya. Jiu Shan membuka matanya ketika merasa tangan yang lembut mengusap keringat di dahinya.
Dia melihat isterinya. Zsu Mei duduk di sampingnya. Jiu Shan berkata pada putranya, "Jiu Cien, sudah cukup latihan hari ini, pergilah istirahat ke kamarmu"
Dia kemudian merangkul pundak isterinya. "Tubuhmu panas dan keringatan, kamu dari mana, sejak pagi aku tidak melihatmu?"
Isterinya mengangguk, memeluk dan mencium leher suaminya yang masih berkeringat. "Aku tadi berlatih kejar-kejaran sejenak dengan Jiu Cien kemudian pergi berkeliling ke desa, mencari-cari udara segar."
Jiu Shan melonjorkan kaki. Dia menarik nafas panjang. "Zsu Mei, hari-hari belakangan ini hatiku tidak tenteram, aku memikirkan Jiu Cien. Aku kawatir mimpiku itu menjadi nyata." Dia memandang isterinya dengan penuh rasa cinta. Keduanya berpelukan. "Aku kawatir akan nasib Jiu Cien, jika sampai kita kalah atau kita mati terbunuh dalam perang."
"Kakak, kita tidak mungkin kalah. Sehebat apa pun pasukan Kerajaan Shu, kita tetap akan memenangkan perang," tukas wanita itu dengan semangat berapi-api.
Dia mengerutkan kening dan menatap isterinya. "Dalam perang apa saja bisa terjadi. Sulit meramalkan siapa lebih kuat dan siapa bakal menang. Terkadang pasukan yang menang pun banyak kehilangan prajurit dan punggawa. Jika kita kalah perang, kamu harus pergi meninggalkan medan perang, selamatkan dirimu dan kembalilah ke istana menyelamatkan Jiu Cien. Jangan biarkan dia terluka atau menjadi tawanan musuh."
Zsu Mei merenggangkan tubuhnya, memandang mesra suaminya. Matanya bersinar cinta. "Aku sudah bersumpah setia. Hidup dan mati selalu bersamamu. Kak, jika aku mati dalam perang, maka kau yang harus selamatkan dirimu, pergi ke istana dan selamatkan anak kita. Tetapi jika kamu yang mati maka aku ikut mati bersamamu, membela suami adalah darma kesetiaan dan kehormatanku sebagai isteri."
"Zsu Mei kekasihku, aku tidak mungkin melarikan diri dari medan perang," tegas laki-laki itu.
Mendadak Zsu Mei ingat seseorang, ia tersenyum "Kenapa kamu tidak meminta Kakak Sima Yi menolong Jiu Cien. Di antara semua pendekar yang berkumpul di sini, dialah yang paling tinggi ilmu ringan tubuhnya. Amat mudah baginya meloloskan diri untuk kembali ke istana menyelamatkan Jiu Cien."
"Dia laki-laki sejati, dia tidak akan mau lari dari medan perang." Mendadak laki-laki itu tersenyum, dia teringat sesuatu. Sambil memeluk isterinya dia berbisik. "Tetapi Sima Yi pasti mau melakukan itu jika kamu yang membujuknya. Aku rasa tak akan ada seorang laki-laki pun yang bisa menolak permintaanmu apalagi jika kau membujuk dan merayunya."
Dia mencubit suaminya.
"Termasuk kamu, Kak?" Jiu Shan mengangguk.
"Aku pun selalu tak berdaya jika dihadapkan pada kecantikanmu" Dia berbisik sambil lidahnya menggelitik telinga isterinya. "Zsu Mei, lakukan itu, kau bujuk dia, lakukan sebelum perang ini terjadi, lebih cepat lebih baik. Jika Sima Yi sudah berjanji, dia pasti akan menepatinya dan itu artinya keselamatan anak kita sudah terjamin."
"Apa maksudmu, Kakak?" Dalam hati Zsu Mei menebak- nebak apakah suaminya sudah mengetahui perselingkuhannya selama ini dengan Sima Yi.
"Demi kepentingan anak kita, lakukan itu Zsu Mei, bujuk dan rayu dia supaya mau berjanji menolong Jiu Cien seandainya kita kalah perang atau jika kita berdua mati di medan perang. Pada saat itu dia harus kembali ke istana dan menyelamatkan Jiu Cien meskipun untuk itu dia harus lari dari medan perang." Dia masih mendekap isterinya, menyembunyikan wajahnya di leher wanita itu.
Zsu Mei terkesiap. Hatinya berbunga memperoleh kesempatan itu, tapi ia berpura-pura. "Tetapi aku hanya membujuk, bicara dengannya, tidak lebih dari itu, Kak. Meskipun begitu aku butuh waktu satu atau dua hari membujuknya. Dan belum tentu aku akan berhasil."
"Ini demi keselamatan anak kita, demi anakmu. Lagipula Sima Yi adalah kekasihmu yang pertama, aku melihat bahwa dia masih mencintaimu bahkan sangat kasmaran. Makanya aku yakin Sima Yi akan mengabulkan permohonanmu, apa saja yang kau minta."
"Kak, kamu suamiku, hanya padamu aku mengabdi dan jiwa ragaku kepunyaanmu semata. Sima Yi itu milik masa lalu, tapi Jiu Shan dan Jiu Cien adalah masa depanku. Aku sangat mencintaimu, Jiu Shan," bisiknya separuh mendesis. Zsu Mei merasa dia benar-benar mencintai suaminya. Tetapi di dalam hati, dia tak bisa memungkiri bahwa dia juga mencintai Sima Yi.
Mereka masih berangkulan. Lantas Jiu Shan meregangkan tubuh, memandang wajah jelita isterinya. Dia mencium bibir Zsu Mei. Dia tak pernah tahu, pagi tadi mulut itu sudah dilumat habis-habisan oleh Sima Yi.
Di salah satu kamar di bagian istana, Jiu Cien sedang menekuni lembaran kulit tipis yang bertuliskan aksara Huruf kuno dan Sansekerta. Kamar itu diterangi obor dinding.
Seorang lelaki berusia tiga puluhan sedang mengawasi. Dialah Cao Pi, tokoh muda yang terkenal sebagai tabib sakti dan juga ahli racun. Dia merupakan tabib istana yang menjadi orang kepercayaan Cao Tao, adik kandung Kaisar Cao Cao.
Cao Tao menyukai Jiu Cien karena menganggap anak itu punya bakat luar biasa bagusnya untuk menjadi pendekar besar. Itu sebabnya, dia ikut melatih Jiu Cien. Bahkan dia minta Cao Pi melatih dan mempersiapkan Jiu Cien menjadi pendekar yang menguasai sastra, obat-obatan, bahkan juga racun. Sedang untuk ilmu, dia berempat Jiu Shan, Lu Xun dan Sima Yi akan mendidiknya serius.
"Jiu Cien, ini aksara kuno yang digunakan orang di jaman dulu, sekitar seratusan tahun lebih. Kamu perlu mengetahui ini semua, pasti suatu waktu ilmu sastra ini akan berguna bagimu." Cao Pi tak bosan-bosan memberi petunjuk. Lelaki itu mengelus-elus kepala Jiu Cien. "Dua tahun sudah aku mendidikmu, sebenarnya kamu sudah lulus. Besok mungkin aku tak perlu lagi menemanimu. Kamu sudah pandai membaca menulis, mengerti sastra, menguasai ilmu ketabiban serta yang paling penting, darahmu kini punya daya tolak terhadap segala macam racun. Kamu sudah kebal terhadap racun. Mungkin ada beberapa jenis racun yang bisa menerobos daya tahan tubuhmu, tetapi tidak banyak."
~~~
Partai Naga Emas suatu perguruan besar. Sudah menjadi tradisi turun temurun sejak cikal bakal Zhang He mendirikan perguruan itu di jaman raja sebelumnya, Partai Naga Emas selalu mengirim anak muridnya untuk mengabdi istana. Dalam beberapa kejadian, murid-murid Partai Naga Emas ini menjadi punggawa kerajaan tidak resmi yang setiap saat siap membela istana dari ancaman luar.
Tanah Partai Naga Emas cukup luas. Di rimba kependekaran dataran tengah, Partai Naga Emas tergolong perguruan paling berpengaruh dan disegani orang. Murid yang berguru di perguruan itu mencapai seratus limapuluhan. Sebagian di antaranya mengabdi di istana Kerajaan Wei. Dalam situasi panas membara dan perang sudah bergayut di depan mata, sekitar lima puluh murid Partai Naga Emas berada di istana. Siap membela istana. Sebagian lainnya masih tinggal di perguruan namun sudah siap-siap berangkat membela kerajaan.
Sore menjelang malam Ketua Partai Naga Emas, Xiahou Dun, duduk bersama adik seperguruannya, Wei Hu. Dua tokoh itu hampir sebaya, sekitar empat puluhan. Duduk di hadapan keduanya, seorang cucu murid, Guo Jia yang adalah murid Lu Xun. Guo Jia sejak tiba siang tadi belum istirahat. Dia membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya yang penuh lumpur, kemudian menghadap dua kakek gurunya itu.
Guo Jia menceritakan kejadian yang dialaminya di hutan kemarin sore. Xiahou Dun berpikir sejenak, keningnya berkerut. Dia kemudian memerintah Guo Jia memanggil enambelas murid lain yang namanya disebut satu-satu. Mereka semua adalah murid paling tangguh yang berada di perguruan saat itu.
Selang sesaat sepeninggal Guo Jia, seorang murid perempuan masuk dengan nampan berisi makanan dan beberapa kendi air minum Dua tokoh itu makan dan minum sambil membincang kekuatan lawan. "Jumlahnya sekitar limapuluh pendekar di antaranya Ma Chao, Mi Fang, Pang Tong.
Mereka semua pendekar kenamaan yang memiliki ilmu kelas satu. Pasti ini bagian dari strategi perang Kerajaan Shu.
Pertama, lumpuhkan Partai Naga Emas, setelah itu baru menyerang istana Kerajaan Wei," kata Xiahou Dun.
Tak lama kemudian tujuhbelas murid termasuk Guo Jia duduk menghadap. Ada beberapa murid yang meskipun masih muda usia namun sudah memiliki ilmu mumpuni. Di antaranya tiga murid Xiahou Dun yakni Yuan Shao murid kedua, Xun Yu murid kelima dan Jen Ting murid ketujuh. Empat murid Xiahou Dun lainnya saat itu sedang berada di istana. Lu Xun yang tertua dan sudah mewarisi semua ilmu gurunya. Jiu Shan murid ketiga, Lin Wa murid keempat dan Zsu Mei murid keenam.
Xiahou Dun menceritakan adanya bahaya yang sudah di depan mata. Musuh dengan kekuatan besar akan menyerang dan menghancurkan Partai Naga Emas.
"Keadaan ini sangat menentukan mati hidupnya Partai Naga Emas. Kita di sini akan diserang dan yang menyerang adalah pendekar berilmu tinggi yang menjadi bagian kekuatan pasukan Kerajaan Shu. Di Kerajaan Wei, saudara kalian akan berperang membela istana, dan kita tidak tahu bagaimana nasib mereka dalam perang nanti. Tetapi satu hal penting harus kalian ingat, ilmu Partai Naga Emas ini tak boleh lenyap dari muka bumi. Jika keadaan terdesak dan kita tak mungkin bertahan lebih lama, kalian harus lari, selamatkan diri masing-masing, berlatihlah dengan rajin, pelihara dan lestarikan jurus-jurus Naga Emas, aku yakin suatu hari nanti akan muncul seorang ketua baru dari angkatan muda untuk memimpin Partai Naga Emas. Camkan ini”
Selanjutnya Xiahou Dun dan Wei Hu mengatur semua muridnya untuk bersiap menanti serangan lawan. Tujuhbelas murid itu menjadi pemimpin kelompok yang bertanggungjawab di pos-pos tertentu.