Bab 2

Dan ketika ku buka pintu, seseorang berdiri disana. Dia tersenyum sangat manis. Tapi …

"Hei! Orang datang, kok kamunya malah bengong!" sungutnya sambil memonyongkan bibirnya.

"Ng– nggak, aku pikir tadi …." Aku terhuyung, tidak mampu melanjutkan kata-kataku.

"Kamu kenapa sih? Kok aneh!" tanyanya sambil masuk nyelonong melewatiku yang masih bersandar lemas di pintu. Ia langsung ke dapur, lalu meletakkan mangkuk yang dibawanya di atas meja.

"Aku pikir tadi Mas Roby," ujarku lemas, membuatnya merasa tidak enak.

Dia adalah Mbak Tri, tetangga yang juga mengontrak di sebelah kontrakan kami. Kontrakan kami hanya dibatasi tembok. Kontrakan tempat kami tinggal terdiri dari empat pintu. Aku tinggal di kontrakan paling ujung dan Mbak Tri persis di sebelah kontrakanku. Diantara penghuni kontrakan yang lain, Mbak Tri adalah yang paling dekat denganku.

"Gimana ya Mbak, kalau Mas Roby nggak pulang sebelum aku lahiran!" 

"Nggak usah mikir yang aneh-aneh, Win! Doakan aja suamimu sehat, dan cepat pulang." Mbak Tri menguatkanku.

"Eh … kamu udah makan belum?" tanya Mbak Tri sambil membuka tutup mangkuk yang dibawa nya tadi. Aroma gulai menguar menggugah selera.

"Makan bareng yuk! Laper nih!" ujarnya sambil mengelus perutnya.

Kami memang sering seperti ini, makan bersama disaat pasangan kami sedang tidak di rumah. Suami Mbak Tri kerja sebagai sekuriti di sebuah pabrik. Mereka memiliki anak perempuan berumur delapan tahun, bernama Lea. Lea sudah sekolah kelas tiga SD.

"Kamu nggak punya nasi, Win?" tanya Mbak Tri saat membuka magic com yangbmasih kosong, aku hanya menggeleng.

"Ya udah, biar aku ambil ke sebelah," ujarnya seraya beranjak. Dan tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa panci magic com berisi nasi miliknya. 

"Aku nggak makan, Mbak! Nggak selera." ucapku ketika Mbak Tri menyodorkan piring berisi nasi padaku.

"Kamu harus makan, kasihan anak kamu. Nih, dikit aja." ujarnya sambil mengurangi nasi dalam piring tadi.

Mbak Tri sudah seperti keluarga buatku. Aku seperti merasa punya kakak, ah … bukan, bahkan mungkin seperti ibu. Aku yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, membuat kehadiran Mbak Tri mengisi sedikit ruang kosong di hatiku. 

Usia kami terpaut tiga belas tahun. Pembawaannya yang keibuan membuatku nyaman menceritakan masalahku padanya. 

"Belum ada kabar dari Roby, Win?" tanyanya setelah kami selesai makan. Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.

"Gimana ya, Mbak, aku harus gimana setelah anak ini lahir?" 

"Hah …." Terdengar Mbak Tri menghela nafas. Mungkin dia juga turut merasakan sesak di dadaku. 

"Aku juga bingung, Win. Aku nggak tau juga harus bantu gimana." ujarnya sesaat kemudian.

"Kalau aku kerja setelah anak ini lahir, anakku sama siapa? Kalau aku nggak kerja, kami makan apa? Benar-benar pusing aku, Mbak! Kalau di titipkan sama orang lain juga pasti butuh biaya kan, Mbak," Aku mengutarakan kegalauanku.

"Belakangan ini, kadang aku berpikir, sepertinya lebih baik  anak ini nggak lahir ke dunia ini, Mbak!" Tiba-tiba mata Mbak Tri membulat ke arahku. Terkadang aku memang merasa bahwa anak ini pembawa sial. Dulu, Mas Robby tidak pernah pergi tanpa kabar, tapi sekarang saat aku akan melahirkan anaknya, dia malah pergi entah kemana. Kurang aj*r kamu, Mas!

"Hush … kamu ngomong apa sih, Win? Nggak boleh ngomong gitu!" ucapnya sedikit keras.

"Habis gimana lagi, Mbak? Seandainya Mas Roby pergi tanpa ada anak ini, mungkin aku nggak sepusing ini, Mbak!" Mbak Tri tidak menanggapi ucapanku, dia masih terus menatapku. Mungkin dia tidak percaya aku akan berpikir seperti itu.

"Aku bisa cari pekerjaan tanpa terbebani anak ini harus gimana. Aku hanya akan memikirkan hidupku, tanpa harus mikirin anak ini, aku bisa bebas, Mbak! " ucapku lagi, air mataku turut berkejaran keluar dari pelupuk mata. Kurasakan hatiku sakit sekali, aku tidak menyangka nasibku akan seperti ini. 

Mungkin aku mulai putus asa, tapi perasaanku saat ini sulit ku ungkapkan. Rasa rindu yang kemarin begitu berat, lambat laun mulai berubah. Kini mulai ada rasa sakit hati pada Mas Roby. Bagaimana mungkin dia tega membiarkanku sendirian dalam keadaan seperti ini? Rasa cinta yang tadinya begitu besar, kini mulai luntur berubah menjadi benci. 

"Udah, nggak usah berpikiran macam-macam dulu, kita belum tau apa yang terjadi sebenarnya. Nggak usah khawatir, aku ada disini." ujar Mbak Tri sambil mengelus punggungku.

"Sebentar lagi anak ini lahir, Mbak! Gimana aku bisa tenang kalau suamiku nggak pulang-pulang?" Nada suaraku agak meninggi. Ada rasa sesak di dada, yang sepertinya siap untuk meledak.

"Aku nggak punya keluarga, Mbak. Tanpa Mas Roby aku nggak punya siapa-siapa," Mbak Tri memelukku. Tangisanku semakin menjadi.

"Sabar, Win! Kamu harus tenang," Ia masih memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku.

"Coba kamu bicarakan ini sama kakaknya si Roby, siapa tahu mereka bisa bantu kamu." ucap Mbak Tri.

"Biar bagaimanapun, mereka keluarga Roby. Kalau Roby nggak bisa bertanggung jawab sama kamu, harusnya keluarganya yang mengambil alih tanggung jawab itu, karena kamu mengandung darah daging dari Roby, adiknya." Lanjut Mbak Tri memberi sedikit celah untuk penyelesaian masalahku.

Kenapa aku tidak kepikiran kesitu? Mbak Tri benar, harusnya keluarga Mas Roby bisa membantuku, paling tidak mengurus anak ini. Ada sedikit rasa lega di dada, meski belum tahu hasilnya nanti tapi aku harus mencoba.

"Mbak–," panggilku ragu. Mbak Tri menoleh ke arahku, menungguku melanjutkan ucapanku.

"Hmm … boleh aku minta tolong sama Mbak Tri?" tanyaku ragu.

"Apa? Aku pasti bantu kamu selagi aku bisa. Apa yang bisa kubantu?" tanya Mbak Tri berusaha menghilangkan keraguanku.

"Antarin aku ke tempat Mas Joko, Mbak. Aku harus kesana seperti yang Mbak saranin tadi." pintaku, sambil menatap mata wanita baik hati itu.

"Nanti aku omongin dulu sama Mas Edi, Win. Kebetulan lusa dia libur, siapa tau dia bisa mengantar kita kesana." ujar Mbak Tri. 

"Makasih ya, Mbak! Kalau nggak ada Mbak, nggak tau aku mengadu pada siapa." Mataku kembali berkaca-kaca.

"Udah, nggak usah dipikirin! Aku udah menganggapmu adik. Jadi nggak usah sungkan!" Aku memeluk Mbak Tri erat.

"Ishh … udah ahh, sesak ini!" Mbak Tri mendorong tubuhku yang memeluknya semakin erat.

"Aku pulang dulu ya, tadi Lea lagi tidur, siapa tau udah bangun. Belum makan dia tadi." ujar Mbak Tri, seraya mengambil panci magic com miliknya.

"Ini gulainya masih ada, kamu makan nanti ya. Kamu harus banyak makan, biar anakmu sehat." Mbak Tri menutup mangkuk berisi gulai ayam campur nangka muda, yang dibawanya tadi.

****

Dua hari kemudian, setelah makan siang, Mbak Tri dan Mas Edi, suaminya menemaniku ke tempat Mas Joko dengan menggunakan mobil milik orang tua Mbak Tri, yang memang tinggalnya tidak jauh dari tempat kami tinggal, sementara Lea tinggal sama neneknya.

Tempat tinggal Mas Joko tidak jauh dari kios Pak Haji tempatku dulu tinggal. Dulu sebelum kami menikah, Mas Roby sering datang kesana. Disanalah dulu kami menikah, hanya disaksikan beberapa tetangga dari Mas Joko saja.

Hampir satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di halaman sebuah rumah berwarna hijau muda dengan model minimalis. Seorang wanita berdaster terlihat sedang  menyapu teras rumahnya. Terlihat wanita itu menghentikan kegiatannya saat sadar mobil yang kami tumpangi berhenti di depan rumahnya. 

Wanita itu adalah Mbak Hanyk, istri Mas Joko. Ia menatap ke arah mobil, mungkin ia menunggu kami keluar dari mobil.

"Winarsih?" Ia memanggilku, sepertinya ia terkejut melihatku datang.

Bab 3

"Winarsih?" Ia memanggilku, sepertinya ia terkejut melihatku datang.

"Tumben kamu datang kesini, Win? Ada apa?" tanya Mbak Hanik menyelidik, padahal kami baru juga keluar dari mobil. Mbak Hanyk seperti tidak suka dengan kedatanganku.

"Mau ketemu Mas Joko, Mbak. Masnya ada?" tanyaku tanpa basa basi.

"Ada tuh di belakang. Bentar Mbak panggil dulu." ujarnya seraya berlalu tanpa mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Begitulah, kakak iparku itu memang sedikit cuek. Bahkan, terkadang aku merasa Mbak Hanyk tidak menyukaiku. 

"Ehh … Win, kenapa disitu? Ayok masuk!" pinta Mas Joko tidak lama setelah Mbak Hanyk pergi ke belakang. Lalu kami pun masuk, setelah Mas Joko mempersilahkan kami masuk. 

"Silahkan duduk, Mas, Mbak!" Setelah masuk, kami dipersilahkan duduk oleh Mas Joko. Sementara Mbak Hanyk tidak terlihat lagi batang hidungnya.

"Ada apa, Win? Tumben kesini, udah ada kabar dari Robby?" tanya Mas Joko setelah kami duduk. Pertanyaannya membuatku merasa sedikit sungkan menanyakan soal suamiku yang tak kunjung pulang. 

"Belum ada, Mas! Itulah maksud kedatanganku kesini, Mas." Aku menghela nafas sesaat, membuang sedikit sesak di dada. Sebenarnya aku tidak yakin, keluarga dari suamiku ini bisa menolongku. Apalagi setelah melihat sikap Mbak Hanyk tadi, semakin membuatku ragu. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus tetap mencoba, karena merekalah keluarga Mas Robby satu-satunya. 

Aku bingung bagaimana cara menyampaikan maksudku pada Mas Joko. Bagaimana cara memulainya? Hatiku kembali ciut.

"Kenapa, Win? Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Mas Joko seakan tidak sabar.

"Hmm … gimana ya, Mas, aku–"

"Gini, Mas, inikan si Winar bentar lagi mau lahiran, sementara si Roby nggak tau kemana rimbanya. Jadi, bagusnya kan keluarganya yang harus turut tanggung jawab." potong Mbak Tri, mungkin dia tau kebingunganku.

"Maaf, Mas! Bukan bermaksud ikut campur. Saya cuma kasihan sama Winar." Sambungnya lagi.

"Maksudnya tanggung jawab gimana ya?" Tiba-tiba Mbak Hanyk nongol dari balik pintu penghubung ruang tamu dengan ruang keluarga. Kami saling pandang, bergantian.

"Bertanggung jawab sama Winar lah, Mbak!  Paling nggak sampe suaminya pulang. Atau pas Win melahirkan, Kalian kasih solusi gitu, Win harus gimana. Emang Mbak nggak kasihan lihat si Winar?" Mbak Tri sedikit sewot.

"Mbak ini siapanya Winar ya? Kok kayaknya ikut campur banget urusan si Winar?" Mbak Hanyk bicara dengan pongah, ia tidak kalah emosi.

"Saya tetangganya Winar. Saya bukan siapa-siapanya, tapi saya kasihan sama Winar makanya saya mau bantu antar kesini. Mbak kan keluarga suaminya, harusnya Mbak ngerti dong!" ujar Mbak Tri, masih dengan nada sedikit tinggi. Sementara Mas Joko dan Mas Edi hanya diam dan aku hanya bisa menunduk, merasa tidak enak hati.

"Maaf, Mas, Mbak! Sampai sekarang kan, Mas Robby belum ada kabar, dan belum tau juga kapan pulangnya. Kalau seandainya Mas dan Mbak tidak keberatan, bisa nggak saya tinggal disini. Paling nggak, sampai nanti saya sudah bisa kerja." akhirnya aku beranikan untuk mengutarakan niatku. Aku tidak ingin Mbak Tri dan Mbak Hanyk ributnya semakin tidak jelas. 

"Hmm–"

"Maaf ya, Win, bukannya kami nggak mau bantu kamu. Tapi kamu sendiri kan tau kebutuhan kami ini banyak. Mbak cuma nggak mau nanti karena bantu kamu, keluarga kami malah kekurangan!" Mbak Hanyk menyela ucapan Mas Joko yang hendak bicara. Akhirnya Mas Joko diam kembali. 

Kalau secara materi sebenarnya keluarga Mas Joko, bisa di bilang berlebih. Ia memiliki sepuluh hektar kebun sawit yang telah menghasilkan, empat buah mobil truk yang disewakan pada orang lain. Sementara mereka hanya memiliki satu orang anak laki-laki. 

"Lagi pula ya, mungkin kamu yang salah, makanya sampai Roby pergi nggak ada kabar. Bisa aja kamu bohongi kami, kan?" Mbak Hanyk mulai memojokkanku. "Atau jangan-jangan kamu selingkuh ya? Bisa aja kan, anak yang kamu kandung itu, bukan anak Roby!" tuduh Mbak Hanyk tanpa alasan. Kami semua terperanjat dengan ucapan Mbak Hanyk. Terutama aku. Bagaimana bisa Mbak Hanyk menuduhku seperti itu? Aku sungguh tidak menduga Mbak Hanyk akan mengeluarkan tuduhan yang tidak berdasar. 

"Ya, Allah … kok tega sih Mbak nuduh aku kayak gitu! Nggak mungkin aku seperti itu, Mbak!" Netraku mulai berkaca-kaca. Tidak pernah aku menghianati Mas Robby, dalam benak pun tidak. Bahkan saat Mas Robby tidak di rumah pun, aku tidak pergi kemana-mana kecuali untuk belanja. 

"Siapa yang bisa jamin kamu nggak seperti itu, Win! Bisa aja kamu bermain bersama laki-laki lain saat Roby kerja, kan? Lalu ketahuan sama Roby, makanya Roby ninggalin kamu?" Tuduhannya semakin menjadi. Kalau saja aku tahu diperlakukan seperti ini, tidak akan pernah aku kesini untuk meminta bantuan. Air mataku kini luruh, tidak bisa lagi kutahan. Bendungan yang sejak tadi kubangun, kini jebol sudah. 

"Cukup, Mbak!" teriakku. "kalau Mbak nggak mau bantu, katakan aja, Mbak! Nggak usah nuduh yang nggak-nggak!" Suaraku meninggi, seiring dengan semakin derasnya cairan bening dari netraku yang masih berusaha kutahan. 

"Lalu kenapa Roby sampai pergi dan nggak ngasih kabar? Kalau kamu memang nggak salah, nggak mungkin Roby seperti ini." Mbak Hanyk menatapku sinis. Ada kebencian yang terpancar dari matanya yang ditujukan padaku. Entah kenapa, tatapan itu sudah sedari dulu ia simpan untukku. Aku tidak tahu, apa salahku padanya. 

"Terserah, Mbak! Yang jelas aku bukan perempuan seperti yang Mbak katakan. Aku datang kesini bukan untuk dihina." enak saja menuduhku yang tidak-tidak, pengen rasanya ku sumpal mulut Mbak Hanyk. 

"Jangan bicara seperti itu, Ma! Mungkin Roby punya alasan lain yang membuatnya seperti ini." ujar Mas Joko, tapi ia tidak melihat ke arah Mbak Hanyk, ia menatap meja di depannya. Ia seperti takut menghadapi istrinya. Dari ucapannya, ia seperti membelaku. 

"Papa jangan belain dia, Pa! Roby itu orang yang baik dan bertanggung jawab. Dia nggak mungkin meninggalkan istrinya yang sedang hamil, kalau istrinya ini perempuan baik-baik." Mbak Hanyk melirik ke arahku. Iya, Mas Robby memang orang yang baik dan bertanggung jawab, tapi itu sebelum dia menghilang. 

"Tapi bukan berarti Mama bisa menuduh Winar seperti itu, Ma!" Suara Mas Joko pelan. Masih terdengar suara perdebatan sepasang suami istri itu. 

"Papa kenapa sih, kok malah belain dia! Atau jangan-jangan Papa suka sama Winar, ya? Kok dari tadi Papa belain dia terus!" hardik Mbak Hanyk setengah berteriak, terlihat netra Mas Joko melebar ke arah istrinya itu. Mungkin ia tidak percaya Mbak Hanyk malah menuduhnya.

"Kok Mama pikirannya makin aneh, sih! Papa malah dituduh yang nggak-nggak!" ucap Mas Joko masih dengan suara yang pelan.

"Habisnya Papa kok malah belain dia, adik kamu itu Roby, Mas, bukan dia! Jadi nggak usah belain dia. Aku nggak percaya kalau Roby yang salah." Lagi-lagi Mbak Hanyk masih ingin memojokkanku. 

"Ini kakak iparmu kurang segaris ya, Win?" ucap Mbak Tri membuat Mbak Hanyk melotot. Aku hampir saja tertawa dengan ucapan Mbak Tri, namun rasa sakit dengan tuduhan Mbak Hanyk barusan masih lebih kuat, yang membuatku tidak mampu untuk tertawa. 

"Heh … kamu bukan siapa-siapa ya disini, jadi lebih baik diam saja! Jangan ikut campur! Pake bilang aku kurang segaris, dasar kurang *jar!" umpat Mbak Hanyk, menunjuk Mbak Tri.

"Lah … trus apa na–"

"Dek! Sudah diam!" Mas Edi menarik tangan Mbak Tri yang duduk di sampingnya. "Biar Winar menyelesaikan masalahnya dengan keluarganya, Dek!" ucap Mas Edi, yang di balas Mbak Tri dengan memonyongkan bibirnya.

"Sudah, Mbak, Mas Edi benar. Biar aku selesaikan masalahku sendiri. Aku nggak apa, kok!" ucapku pada Mbak Tri. Aku tidak ingin melibatkan mereka terlalu jauh. 

"Tuh, denger suaminya ngomong. Jangan kebanyakan bacot!" ujar Mbak Hanyk sinis. Sesaat suasana hening. Tidak ada yang bicara.

"Maaf, Mbak! Jika kedatangan saya kesini tidak berkenan sama Mbak. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang memang harus ku lakukan, sebelum aku mengambil jalan lain. Aku pun bukannya ingin melimpahkan sepenuhnya tanggung jawab Mas Robby pada kalian. Aku hanya mencari tempat berlindung di saat aku akan melahirkan nanti. Tapi jika kalian tidak berkenan, aku juga tidak memaksa." ucapku akhirnya memecah keheningan, lalu aku diam sesaat, menahan gejolak di dada yang seperti ingin meledak. "dalam agama pun, sebenarnya kalianlah yang bertanggung jawab atas anak ini, jika bapaknya tidak ada." lanjutku lagi, membuat mata Mbak Hanyk membesar ke arahku. Mungkin ia tidak menyangka aku akan mengatakan itu. 

"Hahh …." Terdengar Mas Joko menghela nafas.

"Saya juga bingung, mau gimana, Win–"

"Nggak usah bingung-bingung, Mas! Ngapain Mas capek-capek mikirin dia. Winarsih itu bukan tanggung jawab kita. Sudah! Terserah dia aja, aku nggak mau direpotin!" Lagi-lagi Mbak Hanyk bersuara lantang. "Heh! Kamu nggak usah sok sok bawa agama, ya. Aku nggak peduli apa kata agama. Yang jelas, aku nggak mau rugi dan tidak mau capek. Jelas! Jadi, jangan ajarin aku soal agama. Kamu pikir, aku bodoh! Mau diperalat dengan alasan agama, hah!?" bibir Mbak Hanyk dimiringkan sebelah. 

Sungguh, berani sekali dia berkata seperti itu. Tidakkah ia takut jika Tuhan bisa menghukumnya hanya dengan tiupan kecil? Aku saja merinding mendengar ocehannya. 'Ya Tuhan, ampunilah dia, bukakan pintu tobat untuknya'. Ku sempatkan melantunkan doa di dalam hati untuk kakak iparku itu. 

"Kamu yang hamil, kok mau ngerepotin orang lain! Kalau kamu nggak sanggup ngurus anakmu, ngapain kamu hamil?" Lanjut Mbak Hanyk tanpa menjaga perasaanku sedikit pun. Suaranya kini sedikit merendah. Andai aku bisa meminta, aku juga tidak ingin dalam keadaan seperti ini, siapapun tidak ada yang ingin bernasib sama denganku. 

"Sudah, Ma! Kasihan Winar, jangan di tambah dengan ucapan mama yang nggak berperasaan itu." ujar lelaki berkulit gelap itu. 

"Apa? Nggak berperasaan kata Papa? Jadi kamu punya perasaan sama dia, Pa? Hah!" bentak Mbak Hanyk, emosinya kini naik lagi. 

"Sudahlah, Win! Kita pulang saja. Sepertinya nggak ada gunanya kita kesini." Ujar Mbak Tri. Aku pun berdiri hendak beranjak. 

"Tunggu, Win!" pinta Mbak Hanyk ketika aku telah berdiri, aku pun mengurungkan langkahku. 

"Kenapa, Mbak?" tanyaku melihat Mbak Hanyk seperti sedang berpikir. Aku sebenarnya sudah enggan untuk bicara padanya. 

"Gini …." Mbak Hanyk terlihat ragu, ia menatap kami satu per satu. Kami semua menatap Mbak Hanyk, menanti apa yang akan dikatakannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED