Bab 1

Slater baru saja tiba di rumah. Pintu ia dorong pelan, namun suara engsel yang berderit terdengar jelas dalam keheningan rumah. Wajahnya tampak kusut, tubuhnya benar-benar kesal, lelah, letih, lesu, dan sangat penat. Hari ini terasa seperti hari paling panjang dalam hidupnya. Jasnya sudah kusut, dasinya melonggar, dan kemejanya lengket oleh keringat serta debu kota.

Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada Seveline-istrinya-yang tampak duduk santai di sofa ruang tengah. Kakinya berselonjor, ponsel di tangan, matanya fokus ke layar, jari-jarinya lincah menari.

"Kamu pulang dari tadi?" tanya Slater, suaranya berat dan datar, mencoba menahan rasa jengkel.

Seveline hanya mengangguk kecil, tak menoleh sedikit pun. Bahkan tidak menyapa. Hanya sekali sentuhan singkat pada layar, lalu kembali tenggelam dalam dunianya sendiri.

Slater menghela napas panjang. Ia meletakkan tas kerja di sisi rak, melepas dasi dengan gerakan lambat, lalu sepatu yang terasa seperti beban batu ia tendang pelan ke sisi karpet. Tanpa bicara lebih, ia berjalan ke lantai atas, langkahnya berat dan malas.

Usai mandi, Slater turun kembali dengan rambut masih agak basah dan pakaian yang lebih santai. Aroma sabun masih menyelimuti tubuhnya, namun kehangatannya tak cukup untuk meredakan letih di hatinya. Seveline masih berada di tempat yang sama-pose yang nyaris tak berubah.

Slater berjalan menuju meja makan, berharap setidaknya ada semangkuk sup atau sepiring nasi hangat. Tapi kenyataan berkata lain. Meja itu kosong, bahkan tak ada satu pun sendok tersusun.

"Kamu nggak masak untuk makan malam?" tanya Slater, nadanya mulai sedikit meninggi, jelas menyimpan nada kesal.

Seveline akhirnya menoleh, wajahnya datar. "Beli aja di luar. Kebetulan aku juga belum makan," jawabnya singkat, tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.

Slater menggertakkan giginya pelan, lidahnya bergerak di dalam mulut, menahan gejolak amarah yang hampir meledak. Ia menatap istrinya beberapa detik tanpa berkata apa-apa. Lalu, dengan langkah tenang namun penuh tekanan, ia berjalan mendekat ke ruang tengah, menghampiri Seveline.

Matanya menatap lekat, seolah ingin mengucapkan banyak hal... namun lidahnya belum juga bergerak. Ada yang mulai retak di antara diam mereka-dan Slater merasakannya makin jelas malam itu.

"Apa kamu akan terus bersikap acuh seperti ini?" tanya Slater, suaranya terdengar tegas namun masih menahan emosi.

Seveline akhirnya menoleh, kali ini benar-benar menatapnya. Wajahnya tetap tenang, tapi mata itu-mata yang biasa dingin-kini mulai menunjukkan sedikit percikan emosi. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang, menatap Slater dengan alis terangkat.

"Kenapa?" balasnya singkat, nada suaranya datar namun terasa mengandung tantangan.

Slater menghela napas panjang, dalam dan berat, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebelum akhirnya menatap istrinya.

"Kau seorang istri," ucapnya, lebih pelan namun jelas. "Kewajibanmu melayani suami. Aku tidak menuntut kamu harus masak, bersih-bersih rumah, atau mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan itu. Aku hanya butuh kamu... melayaniku."

Kata-kata itu menggantung di udara, menampar keheningan di antara mereka.

"Tapi tidak ada satu pun kewajiban itu yang kamu lakukan selama satu minggu kita menikah," lanjut Slater, kini suaranya mengandung luka yang ia sembunyikan dengan amarah. "Kamu benar-benar sangat enggan untuk disentuh. Kita seperti orang asing yang kebetulan tinggal di bawah satu atap."

Setelah kalimat itu, keheningan kembali menyelimuti. Namun kali ini berbeda. Suasana jadi lebih berat, lebih tajam.

Seveline memandangi wajah Slater untuk beberapa saat. Matanya berkedip pelan, dan tanpa sepatah kata pun, ia akhirnya mematikan ponselnya. Gerakan kecil itu-menekan tombol di sisi ponsel dan meletakkannya di meja-menandakan bahwa kata-kata Slater berhasil menembus dinding ketidakpeduliannya.

Tatapan mereka bertemu. Kali ini tak ada layar yang jadi penghalang. Hanya dua orang yang seharusnya saling mencintai, tapi kini tenggelam dalam jarak yang tak kasat mata... namun terasa begitu nyata.

Seveline perlahan beranjak dari sofa, ponselnya ditinggalkan begitu saja di meja. Gerak tubuhnya tenang, tapi sorot matanya menusuk tajam ke arah Slater.

"Memangnya, apa yang kau harapkan dari pernikahan yang kau rancang sendiri?" tanyanya, nada suaranya dingin namun menyakitkan. "Semua ini demi mendapatkan posisi pemimpin di keluargamu, bukan?"

Slater diam terpaku, rahangnya mengeras.

"Aku mau menerima pernikahan ini karena tampangmu yang sempurna," lanjut Seveline, langkahnya mulai mendekat ke arah Slater. "Aku harus menjaga harga diriku sebagai seorang aktris. Apa kata mereka kalau idolanya menikah dengan pria buruk rupa seperti kakak angkatmu?"

Kata-katanya tajam, seperti pisau yang disayatkan pelan ke dada Slater.

"Jadi, jangan mengharapkan apa pun dariku selain keuntungan. Jika bukan karena wajahmu, aku takkan sudi menerima lamaranmu. Ada banyak miliarder di luar sana yang menginginkanku sebagai istri mereka."

Ia menjeda ucapannya sejenak, mengatur napas, sebelum melangkah makin dekat hingga hanya beberapa langkah dari wajah Slater.

"Dan satu hal lagi..." katanya, kali ini dengan nada nyaris berbisik tapi lebih menghina. "Seharusnya kau berterima kasih padaku. Sebelum kau dapat posisi itu, akulah yang membiayai hidupmu. Kau menumpang di rumahku. Jadi jaga sikapmu... dan jangan bertingkah seolah kau suamiku. Aku benci diperintah!"

Matanya menatap Slater tajam, penuh amarah sekaligus superioritas yang dingin.

Tanpa menunggu reaksi apa pun dari Slater, Seveline langsung membalikkan badan dan melangkah pergi dari ruang tengah. Suara langkah sepatunya yang teratur bergema di lantai, sementara Slater hanya berdiri di sana, membatu, menyaksikan punggung wanita yang ia nikahi menjauh... membawa bersamanya sisa-sisa harapan yang baru saja hancur.

Bab 2

Pagi yang seharusnya diisi dengan jadwal rapat dan laporan bisnis justru dilanggar Slater dengan langkah santai menuju club Ramos-tempat favoritnya melarikan diri dari realita pernikahan yang membosankan. Club itu masih sepi, lampu redup menyala malas, aroma alkohol dan asap cerutu memenuhi udara. Ramos, pemilik club sekaligus teman lamanya, langsung melirik heran begitu melihat Slater duduk santai di sofa VIP, mengenakan jas rapi tapi dengan dasi longgar dan cerutu mahal di tangan.

"Ada apa dengan dirimu? Pagi buta kau duduk di sini alih-alih pergi ke kantor? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ramos, menyempil di sampingnya sambil mengambil botol whiskey.

Slater menghembuskan asap cerutunya perlahan. "Suasana hatiku sedang bahagia saat ini," katanya dengan nada dingin namun penuh makna.

Ramos mengangkat alis. "Memangnya kenapa? Seveline memberimu jatah secara percuma? Atau kau sudah mendapatkan posisi pemimpin di perusahaan papamu? Yang mana yang membuat hatimu bahagia?"

Slater berdecak, seolah bosan dengan tebakan Ramos yang meleset jauh. Ia menjentikkan abu cerutunya ke asbak, lalu menatap kosong ke depan. "Wanita angkuh itu terlalu sombong. Dia selalu merasa aku ini hanya numpang hidup. Seolah-olah aku harus bersujud karena menikahinya. Padahal, aku cuma memastikan satu hal-dia tidak akan pernah jatuh cinta padaku. Dan itu yang aku butuhkan. Dia terlalu sibuk mengurusi wajah dan tubuhnya, tak sadar kalau mulut busuknya yang paling menjijikkan."

Ramos hanya diam, mengangguk seolah mengerti.

Slater melirik tajam padanya. "Aku butuh bantuanmu untuk suatu hal."

Ramos bersandar santai. "Apa itu?"

Slater meletakkan cerutu, menuangkan whiskey ke gelasnya, lalu berkata tenang, "Mungkin setelah aku berhasil duduk sebagai pemimpin perusahaan, aku butuh kamu jadi sekretarisku. Alihkan urusan club ini pada anak buahmu. Aku butuh orang yang kupercaya di sekelilingku."

Belum sempat Ramos menjawab, seorang pegawainya datang tergesa, membisikkan sesuatu di telinganya.

"Tuan, pria tua itu datang lagi... dengan putrinya. Kurasa dia mau... menjual gadis itu," bisik sang pegawai dengan wajah penuh rasa iba.

Ramos menghela napas berat, berdiri dengan wajah kesal. Namun sebelum ia bisa bergerak, pria itu sudah datang mendekat sambil menyeret seorang gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah.

"Tuan! Aku akan menjual putriku padamu. Berapa pun harganya, yang penting aku dapat uang sekarang!" ucap si pria penuh harap, dengan mata merah dan suara mabuk.

Gadis itu berdiri kaku, menunduk ketakutan, jemarinya mencengkram erat lipatan roknya, wajahnya pucat pasi.

Ramos menahan emosi. "Sudah berapa kali aku bilang, aku bukan mucikari! Aku tidak membeli siapa pun! Ini tempat alkohol, bukan pelelangan manusia! Lindungi putrimu, jangan jual dia!"

Namun si pria makin nekat. "Berapa uang yang kau inginkan?"

Saat itu, semua mata menoleh pada Slater yang duduk tenang. Slater meneguk whiskey-nya sekali lagi, lalu menatap lurus pada gadis itu-mata yang penuh beban dan luka yang dalam.

"Berapa uang yang kau butuhkan?" tanya Slater dingin.

Gadis itu langsung menggeleng panik, air mata menggantung di pelupuk matanya.

"500 juta!" seru si pria sambil bersimpuh di kaki Slater, seolah sudah menemukan malaikat penyelamatnya.

Slater mengangguk pelan.

Seketika, keheningan menyelimuti ruangan. Gadis itu tampak makin panik, tubuhnya gemetar, menahan tangis yang hampir pecah.

Dan Ramos hanya berdiri kaku, menatap Slater yang-untuk alasan yang belum diketahui-baru saja membeli sebuah nasib yang belum tentu bisa dia tebus kembali.

Slater menatap pria itu dengan dingin. Sorot matanya tajam, namun datar, tak menunjukkan emosi apapun. Ia menghisap cerutunya sekali lagi, lalu bertanya dengan nada rendah tapi tajam, "Dia bersih?"

Pria itu mengangguk mantap. "Sangat bersih, patuh, tidak kenal pria, dan pintar. Gadis berprestasi. Kau tidak akan kecewa."

Ramos mendekat, berbisik khawatir, "Slater, pikirkan lagi. Dia masih sekolah. Kau sudah menikah. Jangan bertindak gegabah."

Slater tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan cek, menulis jumlah, lalu mengulurkannya pada pria itu. Namun saat pria itu hendak menyambarnya, Slater menariknya kembali.

"Kau sudah memberikannya padaku. Jangan pernah muncul lagi. Jika kau berani mengusiknya, aku sendiri yang akan memotong tangan dan kakimu. Paham?"

Pria itu mengangguk panik. Slater menjatuhkan cek ke lantai dan mengisap cerutunya dengan tenang.

Saat pria itu hendak pergi, putrinya menarik lengan bajunya dengan suara bergetar. "Ayah, kenapa menjualku? Aku bisa bekerja untukmu. Kenapa harus begini?"

Dengan kasar, pria itu mendorong putrinya hingga jatuh dan kepalanya membentur tepi meja.

Slater langsung mematikan cerutunya dan memberi perintah, "Berikan satu pukulan untuknya."

Tanpa pikir panjang, Ramos memukul pria itu hingga tersungkur. Ia mengambil cek yang jatuh dan merobeknya, lalu diganti dengan nominal baru-400 juta.

"Kenapa dikurangi?" tanya pria itu panik.

Slater menunjuk gadis itu dengan tangan yang masih menggenggam cerutu. "Kau membuat barangku lecet."

Pria itu pergi dengan tergesa, sementara gadis itu hanya menangis pelan di lantai. Slater bangkit dan berkata tegas, "Berdirilah!"

Gadis itu berdiri, menunduk penuh ketakutan.

"Siapa namamu?" tanya Slater.

"Argista, tuan," jawabnya lirih.

Tiba-tiba Argista bersimpuh, memohon dengan suara gemetar, "Saya mohon tuan, jangan lakukan apapun pada saya... Saya akan melakukan semua perintah tuan, asal jangan..."

Slater menatapnya lama, lalu menyeringai kecil.

"Jangan apa? Jangan menidurimu? Aku sudah menikah. Siapa yang bilang aku membelimu untuk kepuasanku?"

Ramos dan Argista menatapnya dengan penuh keterkejutan.

Slater mengambil kunci mobil dari meja, melangkah santai keluar dari club.

"Jadi ART di mansionku," ucapnya datar, lalu hilang di balik pintu.

Bab 3

Argista tampak bingung kala ia dibawa Slater ke mansion mewah yang menurutnya bak istana tersebut. Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun.

"Ini mansionku, sepulang sekolah kau harus pulang kemari untuk bekerja sebagai ART, hanya memasak dan berberes, kau paham?" Argista dengan ragu mengangguk.

Slater kembali menyalakan mobilnya, Argista menoleh dengan bingung, kenapa Slater tidak menurunkan dirinya? Kemana mereka akan pergi?

"Di mana sekolahmu?" Argista langsung menoleh, bingung dan terkejut.

Slater akan mengantarnya ke sekolah? Setelah membelinya untuk menjadi ART? Wahh apa dia seorang malaikat? Kenapa baik sekali?

"Kau tidak mendengar ucapanku?" tanya Slater kala Argista hanya diam.

Argista dengan gugup menjawab, "SMA Loso!" Slater langsung menuju ke SMA yang Argista sebutkan.

Selang beberapa menit mereka tiba, Argista menatap Slater, di mana pandangan mereka saling bertemu saat ini.

"Tu-tuan terima kasih banyak," Slaer hanya mengangguk dengan datar tanpa ekspresi.

Slater menatap sekilas gerbang sekolah dan berkata, "Nanti pengawal yang akan menjemputmu." Argista sedikit terkejut bingung dan canggung.

"Bagaimana jika saya pulang dengan menaiki bus saja?" tawarnya membuat Slater menaikkan sebelah alisnya.

"Tidak ada jaminan kamu tidak kabur? Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Argista menelan salivanya dengan berat.

Ia berpikir jaminan apa yang harus ia berikan untuk menyakinkan Slater.

"saya pastikan itu tidak akan terjadi, tidak ada rumah dan tempat yang bisa saya kunjungi untuk sembunyi, orang tua saya sendiri sudah menjualku, kemana aku bisa pergi selain pulang ke rumah tuan," Slater diam, mendadak hatinya tersentuh dengan ucapan Argista.

slater menunjuk dengan dagunya untuk Argista segera masuk ke dalam sekolahnya sebelum terlambat.

Argista mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya ia turun dan masuk ke dalam sekolahnya dengan perasaan yang bingung dan canggung.

Slater mengusap dadanya dengan menatap ke arah lain, "ada apa dengan jantungku?" dumel Slater kesal kala jantungnya berdebar lebih cepat saat berdekatan dengan Argista.

Slater langsung melajukan mobilnya untuk menuju ke kantor.

Sedangkan itu Argista masuk ke dalam sekolah dengan perasaan yang sedikit lega, lega karena ia diberi kesempatan untuk menyelesaikan sekolahnya oleh Slater meski ia sudah dibeli untuk menjadi ART mansionnya.

--

Sore harinya Argista tiba di mansion Slater. Dengan ragu ia berjalan menapaki pelataran luas itu dan bertanya pada pengawal, "Maaf apa saya boleh masuk? Saya ART baru di sini yang tuan Slater perintahkan." pengawal itu mengangguk dan langsung membawa Argista masuk ke dalam.

"Tuan Slater berpesan untuk kamu membuat makanan makan malam, tuan pulang pukul 7 malam," kata pengawal itu berpesan membuat Argista mengangguk dengan sopan.

pengawal itu kembali berpesan, "Kamarmu ada di bawah tangga dekat dapur, di sana sudah ada pakaian maid. Letakkan barang barangmu di sana." Argista kembali mengangguk dan mengucap terima kasih pada pengawal.

Dengan sedikit ragu Argista langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan menu makan malam. Bagi Argista bekerja sebagai ART itu adalah hal yang mudah, karena di rumah itu adalah pekerjaannya, mulai dari memasak dan beberes rumah.

Malam sudah tiba, tepat pukul 7 malam Seveline pulang lebih dulu dari Slater.

Seveline menyipitkan tatapannya kala melihat seorang gadis muda berkutat di dapur dengan cekatan, terlebih aroma masakan yang sedap ini membuat perut Seveline terkoyak dan memberontak, ingin melahap masakan tersebut.

seveline berjalan ke meja makan, hidanga yang masih mengepulkan asap itu benar benar menggugah selera.

Begitu Argista berbalik, ia terkejut kala melihat Seveline berdiri di meja makan.

"Maaf nyonya, saya maid baru di sini," kata Argista dengan sopan.

Seveline manggut manggut mendengar hal itu dan bertanya, "Apa Slater yang memintamu?" Argista mengangguk dengan sopan.

Tak lama dari itu, Slater datang, melihat istrinya berdiri di meja makan membuatnya langsung menghampirinya.

Aroma masakan Argista benar benar membuat mansion mereka hidup, ini kali pertama mansion mereka ada semerbak aroma masakan terlebih di malam hari.

"Kau yang memintanya untuk menjadi ART?" Slater hanya mengangguk dan langsung menarik kursi bersiap untuk makan malam.

Seveline menarik napas dan langsung duduk untuk bersiap makan malam juga.

"Itu artinya kau yang menanggung upahnya," Slater hanya mengangguk sedangkan Argista sudah pergi ke dapur untuk membersihkan hal lain.

Slater menyuapkan suapan pertama, benar benar lezat dan sangat nikmat. Melihat Slater begitu lahap membuat Seveline merasa penasaran juga dengan rasanya.

Seveline akui, ini benar benar pas dan cocok dengan seleranya.

"Apa kau mampu membayarnya?" Slater masih berusaha mengunyah mengabaikan pertanyaan yang membuatnya merasa direndahkan saat ini.

Seveline mengunyah begitu menikmati makanannya, sedangkan Slater makan dengan lahap dan cepat, seperti bergegas untuk mengakhiri makan malam agar terpisah dari Seveline.

Seveline meletakkan sendok dan garpunya, menatap Slater dari samping lalu bertanya, "Kau sengaja mencari ART muda bukan karena dia cantik kan? Alih alih ibu paruh baya kau malah memilih gadis polos, untuk apa? Jangan bilang untuk bisa mendapatkan kepuasan kan?" Slater langsung meletakkan sendok garpunya dan meraih gelas minumnya, mengusap bibirnya dengan tisu.

Slater langsung beranjak dari kursi dan melenggang pergi dari meja makan begitu saja meninggalkan Seveline sendiri dengan kekesalannya.

Seveline berdecak dengan kesal kala Slater mengabaikan dirinya.

"Pria kurang ajar, makan dan hidup numpang padaku saja belagu banget, jika dia tidak setampan itu, aku juga tidak sudi menerima lamarannya," ketusnya dengan kesal beranjak dari meja makan dan kembali keluar untuk kembali ke lokasi syuting.

Bagi Seveline mansion hanyalah tempat rest area sejenak, hidup dan rumahnya ada di lokasi syuting. Di dunia ini hal yang paling Seveline utamakan adalah pekerjaannya yakni sebagai aktris.

Seveline akan meninggalkan apapun kecuali dunia hiburan entertainmentnya sebagai seorang aktris.

Sementara itu Slater baru saja mandi, ia tahu Seveline tidak akan tidur di rumah mengingat ia sedang mengerjakan drama barunya. Lagian jika Seveline di rumah, mereka akan tidur di kamar terpisah. Karena pernikahan mereka hanyalah sebuah bisnis, untuk meraup keuntungan dan sebuah pencitraan.

Slater naik ke atas ranjang, bersamaan dengan itu pintu diketuk.

"Masuk!" seru Slater dengan sedikit gugup.

Pintu terbuka, menampilkan Argista di ambang pintu dengan kepala menunduk.

"Maaf tuan, semua sudah saya selesaikan, apa anda membutuhkan hal lain?" Slater diam sejenak.

"Masuklah, tolong pijat kakiku," Argista langsung mengangkat kepalanya.

Diam tertegun di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Slater menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa? Kamu tidak dengar ucapanku? Cepat masuk!" Argista dengan ragu masuk ke dalam kamar Slater.

"Tutup pintunya!" Argista berbalik dan menutup pintunya.

Ia berjalan dengan gugup ke dekat ranjang, Slater menyibak selimut yang menutupi kakinya.

"Naiklah dan pijat kakiku!" Argista menelan salivanya, jantungnya berdebar tak karuan saat mendengar perintah tersebut.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED