Bab 1

"Astaga, Nada. Lihat apa yang terjadi sama payudara kamu!" Nek Siti membelalak dengan suara tercekat. Wanita tua itu menatap pada payudara cucunya dengan raut wajah terkejut.

"A ... ada apa, Nek?" Gadis berwajah cantik alami bernama Nada itu terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaan dari neneknya.

"Nada, susu kamu keluar lagi?" tanya Nek Siti lagi, saat ia melihat Nada yang tengah bersiap untuk pergi ke sekolah.

Nada merasakan debaran hatinya meningkat. Wajahnya tertunduk, matanya tertuju pada seragam sekolah yang telah basah oleh rembesan air susu. Sebuah kondisi hormonal yang tidak biasa yang telah menimpa dirinya di usia remaja, meskipun ia belum pernah menikah atau memiliki anak.

"Astaga! Iya, Nek. Aduh, bagaimana ini?" kepanikannya makin menjadi, sambil memandang jam dinding yang menunjukkan waktu sudah sangat siang, sedangkan dia tak ada baju ganti lain.

Dengan tenang, Nek Siti mendekat dan merangkul bahunya.

"Sabar, Nak. Coba sekarang kamu ganti seragamnya, pakai kain tebal di payudara . Semoga itu bisa menahan susu kamu," sarannya dengan lembut.

Nada menggeleng cepat, kebingungan masih terlukis jelas di wajahnya, berat menerima kenyataan yang dihadapinya. Gadis itu menghela nafas berat, matanya nanar menatap seragam sekolah yang sudah basah karena rembesan susu.

"Ini seragam terakhir yang aku punya, Nek," suaranya pelan, hampir tak terdengar.

Rasa cemas bercampur kepasrahan tergambar jelas di wajah tanpa riasan itu. Di sudut rumah yang sederhana tersebut, Nek Siti menggumam keras, mencoba mengumpulkan solusi.

"Coba kamu kenakan seragam SMP-mu, Nak. Itu lebih baik daripada kamu tidak sekolah sama sekali. Para guru pasti akan mencarimu, dan kamu tidak ingin kehilangan beasiswa hanya karena sering absen kan?"

Meskipun tawaran itu keluar dari mulutnya, dalam hati, Nek Siti sendiri terasa hampa, sama kesulitan menemukan jalan keluar bagi cucu tercintanya yang hanya bermodalkan keuletan dan tekad kuat demi masa depan yang lebih baik.

"Nenek benar. Lebih baik aku pakai seragam SMP saja, daripada aku nggak masuk sekolah."

"Cepatlah, Nak!"

Setelah mendapat saran dari Nek Siti, Nada cepat-cepat masuk ke kamar untuk berganti seragam. Baju seragam SMP nya sudah polos dan tak ada atribut apapun, sehingga Nada bisa mengenakannya untuk pergi ke SMA.

Beberapa saat, gadis berwajah cantik dan imut itu sudah keluar dari kamarnya. Baju SMP di tubuhnya terlihat sangat pas, dan bahkan terkesan kekecilan sehingga memperlihatkan dada Nada yang menonjol sangat bes4r. Wajar saja, karena di usianya yang baru 16 tahun, ia sudah memiliki dada besar dengan ukuran 38.

Pinggangnya ramping, leher dan kakinya jenjang dalam balutan kulit putih mulus. Pinggulnya juga besar, membuat bentuk tubuh Nada sangat sempurna bak gitar spanyol paling mahal.

"Kamu sudah siap, Nada?" tanya Nek Siti dengan lembut.

"Sudah, Nek. Mana sumpalannya?" jawab Nada dengan antusias.

"Biarkan Nenek yang memasangkannya," ujar Nek Siti sambil menyumpal kedua dada Nada dengan kain tebal, membuat penampilannya terlihat lebih penuh.

Kancing baju di bagian dada Nada bahkan tak muat untuk dikancingkan, namun hal itu tak mengurangi semangat Nada untuk pergi ke sekolah. Meskipun kini tubuhnya terlihat semakin seksi dan menantang.

"Sudah siap, sekarang kamu bisa berangkat ke sekolah," kata Nek Siti sambil merapikan penampilan Nada.

"Iya, Nek. Aku berangkat dulu. Hati-hati di rumah," balas Nada sambil berlalu menuju sekolah.

Setelah berpamitan kepada neneknya, Nada cepat-cepat berangkat ke sekolahnya dengan berjalan kaki. Karena kebetulan jarak sekolahnya juga tak terlalu jauh.

***

"Astaga! Kenapa rasanya nggak nyaman banget? Apa susu ku merembes lagi?" Nada berjalan cepat melalui koridor sekolah dengan perasaan cemas, karena ia merasa bahwa baju seragamnya mulai basah lagi.

Nada berjalan cepat, melalui beberapa cowok yang kini sedang mematung menatapnya. Tatapan mereka sangat liar dan tak bisa berkedip saat melihat keindahan tubuh Nada dalam balutan seragamnya yang kekecilan.

"Wow, Nada," ujar salah seorang cowok yang tiba-tiba langsung menghadang langkahnya.

Nada tersentak kaget. Namun, ia berpura-pura tidak ketakutan dan justru tersenyum menatap pada cowok itu.

"Hey, Kak Aldo. Apa aku bisa lewat? Maaf, tapi kamu menghalangi jalanku," tegur Nada dengan sopan.

Tatapan Nada terlihat risih saat berhadapan dengan Aldo, karena ia tahu bahwa Aldo adalah cowok yang terkenal paling nakal di SMA nya. Di SMA favorit seperti ini, tentu cowok sekelas Aldo bisa saja diterima karena dia adalah anak orang kaya.

"Oh mau lewat ya?" Aldo menyeringai dengan senyum liciknya.

"Iya."

"Boleh saja, asalkan ...." Aldo mengusap bibir bawahnya dengan ibu jarinya.

Matanya tak hentinya memandang dada Nada yang membusung sangat besar dan kencang.

"Asalkan apa?" Firasat Nada mulai tak enak.

"Asalkan aku boleh menyentuh milikmu yang sangat menggoda itu," tunjuk Aldo yang bersiap mengarahkan telapak tangannya ke payudara Nada yang super jumbo itu.

Nada terkejut dengan perlakuan Aldo. Refleks ia langsung mengangkat tangannya tepat di wajah cowok tampan itu.

Plakk!

"Jangan kurang ajar, Kak!" sentak Nada marah.

"Ah, sialan kamu, Nada!" pekik Aldo marah, karena Nada baru saja menamparnya.

Nada gemetar ketakutan dan segera berlari meninggalkan Aldo beserta kawan-kawannya.

"Bos Aldo, lo baik-baik saja?" tanya seorang temannya.

"Gue baik-baik saja, tapi awas aja tuh cewek. Gue pasti akan beli harga dirinya," geram Aldo marah.

"Iya, Bos. Cewek kayak gitu emang harus dikasih pelajaran," kata yang lain menimpali.

Aldo terus menatap ke arah Nada yang sedang berlari menjauh. Sejurus kemudian, sebuah seringai aneh tercipta di bibirnya.

"Aku pasti akan dapetin kamu, Nada," desis Aldo licik.

Setelah hampir mendapatkan pelecehan dari Aldo, seharian ini Nada memilih untuk tidak istirahat keluar kelas. Dia takut jika sampai bertemu dengan Aldo di luar kelas, dan cowok itu akan kembali melakukan perbuatannya yang tertunda.

Nada memilih untuk tetap berada di kelasnya walaupun jam istirahat. Ia yang masih kelas 2 SMA itu, tentu takut pada Aldo yang merupakan kakak kelasnya karena sudah kelas 3.

Akhirnya tak terasa jam pulang pun tiba. Semua siswa berhamburan pulang, dan begitu juga dengan Nada. Ia pulang berjalan kaki bersama sahabatnya yang bernama Ayu.

"Ayu, kenapa kamu nggak minta dijemput saja sama sopirnya papa kamu?" tanya Nada saat berjalan berdua di bawah terik matahari bersama Ayu.

Nada merasa tak enak, karena sebenarnya Ayu adalah anak orang kaya. Tapi ia malah memilih menemani Nada berjalan kaki dan panas-panasan seperti ini.

"Nggak apa-apa kok, Nada. Nanti setelah sampai di depan rumah kamu, aku juga bakalan dijemput kok. Lagian aku kasihan karena kamu jalan kaki sendirian." Aruna tersenyum.

"Terima kasih banyak ya, Ayu. Kamu sangat baik."

"Sama-sama, Nada."

Sambil terus ngobrol, tanpa terasa kedua gadis itu pun sudah tiba di gang dekat rumah Nada. Benar saja!

Tak lama, datanglah sebuah mobil yang menjemput Ayu. Nada melambaikan tangan pada sahabatnya itu dan bergegas hendak memasuki gang ke rumahnya.

Namun, baru saja Nada melangkah, tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan yang membekap mulutnya dengan sesuatu hingga membuat Nada merasa pusing. Gadis itu pun berontak dan meronta-ronta, tapi tubuhnya mulai terasa lemas.

"Lepas!" teriak Nada tertahan, dan setelah itu ia tak tahu lagi apa yang terjadi padanya.

Bab 2

Entah sudah berapa lama dan apa yang terjadi. Namun, tiba-tiba Nada membuka mata, dan gadis itu terbangun dengan perasaan bingung. Kepalanya terasa berat, dan pandangannya masih kabur.

"Aku di mana?" gumamnya lemah, seraya mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengerti situasi yang tengah dia hadapi.

Saat matanya terbuka sepenuhnya, dia mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang asing. Cahaya redup dari jendela yang tertutup tirai tebal membuat ruangan terasa suram. Di hadapannya berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah dingin.

"Kamu ada di rumah Tuan Hendra," jawab wanita itu ketus, tanpa memperkenalkan diri atau memberikan penjelasan lebih lanjut.

"Siapa kamu?" tanya Nada dengan mata membelalak, terkejut.

"Tidak penting siapa aku, yang jelas aku ada di sini untuk mengurusmu," sahut wanita itu lagi.

Nada mengerutkan kening, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dia tak tahu bagaimana dia bisa sampai di sini. Tapi yang dia ingat hanyalah bahwa tubuhnya ditarik paksa oleh beberapa orang, lalu semuanya menjadi gelap.

"Siapa Tuan Hendra?" tanya Nada akhirnya, suaranya mengandung nada kebingungan dan ketakutan.

Namun, wanita itu hanya memandangnya dengan tatapan dingin, tanpa berniat menjawab.

Tatapan wanita itu beralih ke seragam SMA yang dikenakan Nada, yang basah di bagian dada karena susu Nada yang sudah tumpah ruah.

"Cepat ganti pakaianmu!" perintah wanita itu sambil melemparkan sehelai pakaian tepat ke wajah Nada.

Nada terkejut, tubuhnya gemetar. Refleks ia langsung menyingkirkan sehelai pakaian yang mendarat di wajahnya sambil menatap pada wanita paruh baya itu.

"Kenapa aku harus mengganti pakaian? Aku nggak mau," jawabnya, berusaha menolak dengan suara lirih.

Ada rasa takut yang begitu mendalam di hatinya. Siapa wanita ini? Dan siapa Tuan Hendra?

"Jangan membantah!" sergah wanita itu dengan Nada tinggi. "Sebentar lagi Tuan Hendra akan segera datang. Kamu harus siap."

Nada ancaman dalam suara wanita itu membuat Nada terpaksa menyerah. Dia tahu dia tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, dia pun mengambil pakaian yang diberikan, lalu menuju ke kamar mandi yang ditunjukkan oleh wanita tersebut.

Sambil menggigil, Nada mencoba menenangkan dirinya, berharap bisa mencari jalan keluar dari situasi mengerikan ini.

"Pakaian apa ini?" Nada terkejut saat ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi.

Bagaimana tidak?

Pakaian yang diberikan wanita paruh baya itu kepadanya adalah sebuah mini dress dengan belahan dada rendah. Mini dress tanpa lengan itu hanya punya panjang sampai setengah paha Nada. Belahan payudara nya juga sangat rendah, hingga menonjolkan belahan bukit kembar Nada yang besar dan padat.

Dress itu juga melekat di tubuhnya dengan sangat ketat, benar-benar menampilkan keseksian tubuh Nada yang memang dianugerahi dada besar dibandingkan gadis seusianya itu.

Pakaian itu benar-benar membuat Nada risih dan merasa tak nyaman. Namun, ia bimbang karena sudah tak punya pakaian lain lagi. Bahkan ia juga tak diberikan bra oleh wanita paruh baya tadi. Hanya diberikan mini dress itu dan sebuah g string. Untuk memakai seragam dan bra nya yang tadi rasanya sangat tidak mungkin. Karena semua pakaian Nada sudah basah oleh air susunya.

"Aduh, bagaimana ini? Nggak mungkin aku keluar dengan pakaian setengah jadi seperti ini kan?" Nada gusar.

Tok! Tok! Tok!

Nada tercengang, karena sebelum ia berhasil mengambil keputusan, tiba-tiba sudah terdengar suara ketukan keras di pintu kamar mandi tersebut.

"Cepat keluar! Tuan Hendra sudah datang dan dia tidak punya waktu untuk menunggumu berlama-lama di kamar mandi," kata wanita di luar sana dengan nada suara yang ketus dan sinis seperti tadi.

Nada kebingungan, tapi ia juga tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang dikatakan oleh wanita. Dengan jari-jarinya, Nada menyisir rambutnya yang tampak berantakan. Setelah itu, barulah ia membuka pintu kamar mandi dengan tangan gemetar.

Ceklek!

Begitu pintu terbuka, tanpa berkata apa-apa lagi, wanita paruh baya itu langsung menarik tangan Nada dengan kasar.

"Aw, ini sakit, Nyonya," keluh Nada meringis kesakitan saat pergelangan tangannya dicengkeram dengan erat oleh wanita itu.

"Kita tidak punya banyak waktu, karena kamu sudah terlalu lama berada di kamar mandi. Sekarang ayo cepat ikut aku. Tuan Hendra Sudah menunggu!"

"Akh!" Nada meringis tertahan, dan akhirnya hanya menurut saja saat ia ditarik paksa masuk kembali ke dalam kamar.

Setibanya di kamar, Nada tercengang karena di hadapannya sedang berdiri seorang pria paruh baya berusia sekitar 60 tahun yang didampingi oleh dua orang bodyguard berbadan kekar.

"Si ... Siapa kalian?" jerit Nada panik, dan cepat-cepat menutup tonjolan dada besarnya itu serta paha dengan menggunakan tangannya.

Rasanya saat ini dia benar-benar risih, karena berpenampilan seperti gadis malam di hadapan tiga pria tak dikenal itu.

"Sstt! Jangan banyak bicara! Saya tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan kamu," kata pria itu pada Nada.

"Ira," panggil pria tua itu pada si wanita paruh baya tadi.

"Iya, Tuan Hendra," angguk Ira dengan patuh.

"Bawa gadis ini ke kamar Daffa. Kita bicarakan semuanya di sana!" perintah pria tua yang ternyata adalah Tuan Hendra itu.

"Baik, Tuan."

Tuan Hendra dan kedua bodyguard nya itu segera keluar dari kamar. Sedangkan Ira cepat-cepat menarik tangan Nada untuk mengikuti mereka.

Mereka berjalan melalui beberapa koridor di rumah mewah itu, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah lift. Nada heran, karena ada lift di sebuah rumah.

Tanpa membuang waktu, Ira segera menuntun Nada masuk ke lift bersama Tuan Hendra dan yang lain. Tak butuh waktu lama, akhirnya lift pun berhenti di lantai yang menuju ke sebuah kamar. Dan hanya satu-satunya kamar di lantai itu, lantai paling atas rumah mewah tersebut.

Nada dan yang lainnya mengikuti langkah Tuan Hendra, yang masuk ke dalam kamar tersebut. Begitu ia membuka pintu, tampaklah seorang pria berusia sekitar 25 tahun yang sedang terbaring dengan wajah yang tampak lemah.

Di tangannya terpasang tak hanya satu infus. Wajahnya sangat tampan dan berkulit putih, tapi terlihat sangat pucat.

"Dia putraku satu-satunya, namanya Daffa," ujar Tuan Hendra tiba-tiba sambil menunjuk ke arah pria tersebut.

"Daffa mengidap penyakit langka selama satu tahun terakhir. Separuh tubuhnya lumpuh dan dia sering sesak nafas secara tiba-tiba karena gangguan di paru-parunya. Tapi penyakitnya ini tidak bisa diobati dengan peralatan medis. Saya sudah berusaha membawa Daffa berobat kemana saja, bahkan ke luar negeri, ke rumah sakit terbaik sekali pun. Tapi hasilnya tetap saja nihil."

Nada hanya diam dan tak berani menyahut sedikit pun. Ia bahkan terus menunduk dan tak berani menatap Daffa maupun tuan Hendra.

"Nada," panggil Tuan Hendra, yang seketika membuat Nada mengangkat wajahnya karena kaget, sebab Tuan Hendra mengetahui namanya.

"Iya, Tuan." Nada mengangguk pelan.

"Saya ingin kamu menolong putra saya. Nanti saya akan berikan imbalan besar untuk kamu."

"Menolong? Apa yang harus saya lakukan?" tanya Nada kebingungan.

Tuan Hendra menghela nafas dalam-dalam, lalu menatap pada Ira dan juga kedua bodyguard nya secara bergantian.

"Tolong susui Daffa, karena selama ini dia hanya bisa ditolong dengan air susu seorang gadis."

Bab 3

Duarr!

Bagaikan tersambar petir di siang bolong telinga Nada, ketika mendengar apa yang baru saja ditangkap oleh telinganya itu.

"Apa?" Nada membelalak kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Tuan Hendra.

"Ya. Saya sudah tau dari para anak buah saya, kalau kamu sudah bisa menghasilkan asi. Karena itu saya membawa kamu kesini untuk menolong Daffa. Saya pasti akan memberikan banyak uang untukmu dan nenekmu itu, asalkan anak saya bisa sembuh," kata Tuan Hendra dengan suara dingin.

"Ta ... Tapi, Tuan, saya nggak bisa. Saya masih sekolah dan saya ...."

"Saya tidak menerima penolakan, dan saya bisa saja menghancurkan hidup kamu, kalau kamu berani membantah perintah saya!" Tuan Hendra menatap tajam pada Nada dengan sangat dingin.

Tanpa menunggu jawaban dari gadis muda itu, Tuan Hendra segera keluar dari kamar dengan diikuti oleh kedua anak buahnya. Sedangkan Nada masih terdiam, bersama dengan Ira yang masih berdiri di sampingnya. Ia terpaku menatap hampa pada Daffa yang terbaring lemah bagaikan mayat hidup.

"Tuan Hendra tidak akan senang dengan penolakanmu. Jadi lebih baik kamu sekarang di sini saja dan temani tuan muda. Kalau dia bangun dan minta disusui, maka kamu harus siap menyusuinya," kata Ira dengan suaranya yang selalu saja ketus dan dingin.

"Aku nggak bisa, Bu. Aku ...."

Brak!

Ira pergi begitu saja dan menutup pintu kamar. Nada terkejut dan cepat-cepat berlari menyusulnya untuk membuka pintu. Namun, saat ia mencoba membukanya, pintu itu tetap tak kunjung mau terbuka. Sebab rupanya Ira sudah mengunci pintu itu dari luar.

"Bu, buka pintunya! Izinkan saya keluar. Saya nggak mau di sini, tolong!" pekik Nada sambil menggedor-gedor pintu dengan cukup keras.

Rasanya ia sangat ketakutan berada di dalam kamar itu, berdua saja dengan mayat hidup seperti Daffa. Nada sudah menangis sesenggukan, karena Ira sama sekali tak mau membukakan pintu kamar tersebut untuknya.

"Huhuhu, nenek, tolong aku!" isak Nada yang terus menangis sambil memanggil neneknya. Rasanya ia begitu merindukan nek Ijah.

"Uhuk! Uhuk!"

Nada sontak terdiam. Wajahnya mendadak terlihat pucat, saat ia mendengar suara terbatuk-batuk yang tak jauh di belakangnya. Dengan tubuh yang terasa kaku, perlahan gadis itu memutar tubuhnya dan menatap pada sosok pria tampan yang kini mulai membuka kelopak matanya.

"Pa," lirih Daffa dengan suara berat dan seakan tersangkut di tenggorokan.

Nada semakin terbelalak saat melihat Daffa yang sudah mulai siuman. Panik, gadis itu cepat-cepat berusaha sekali lagi untuk membuka pintu, tapi usahanya sia-sia. Pintu itu tak akan pernah bisa dibuka dari dalam.

"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Nada panik. Keringat dingin mulai mengalir membasahi wajah dan tubuhnya.

Ia menatap ke sekeliling kamar untuk mencari jendela, tapi tetap tak bisa menemukannya. Nada semakin cemas karena tak menemukan jalan keluar.

"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?"

Nada kaget mendengar pertanyaan itu. Refleks ia berbalik badan dan memandang pada Daffa. Namun, sungguh mengherankan karena pria itu tiba-tiba saja bangkit dari tempat tidur. Ia perlahan turun dari ranjang, sambil membawa tiang infus di tangannya.

Langkahnya tertatih-tatih, menghampiri Nada yang masih mematung tanpa berani berucap sedikit pun. Nada masih gemetar, apalagi saat kini akhirnya Daffa tiba di hadapannya.

Tatapan matanya menyapu seluruh tubuh Nada dari ujung kepala hingga ujung kaki, tanpa ada satu inci pun bagian tubuh Nada yang terlewat. Nada gemetar saat ditatap seperti itu, apalagi karena pakaiannya yang seperti kekurangan bahan.

Dengan cepat, ia langsung menutupi payudara nya dengan kedua lengan. Ia semakin takut saat mata Daffa menatap dada besarnya dengan liar.

"Apa kamu nggak punya telinga?" tanya Daffa sarkas.

Pertanyaan itu sontak membuat Nada mengangkat wajahnya cepat. Ia cukup terkejut dan tak menyangka, jika pria sakit seperti Daffa bisa mengatakan hal kasar seperti itu.

"Kamu ...?"

"Kenapa? Apa papa sudah mengatakan banyak hal sama kamu?" Daffa memandang Nada dengan sinis.

"Nggak begitu, tapi ...."

"Katakan apa yang sudah papa katakan!" desak Daffa dengan suara menggeram berat.

Nada tercekat. Ia memandang pada Daffa yang tampak kaku. Gadis itu cukup heran, karena sebelumnya Tuan Hendra mengatakan kalau separuh tubuh Daffa mengalami kelumpuhan. Namun, kenapa kini ia bisa berjalan dan mendekat ke arahnya?

"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu nggak bisa menjawab pertanyaanku? Wah, rupanya selain tuli, kamu juga bisu ya," kata Daffa dengan sangat kejam.

"Ma ... Maafkan saya, Tuan Muda. Saya ada di sini karena disuruh oleh Tuan Hendra. Tapi saya nggak tahu kalau ternyata tuan muda bisa ...."

"Bisa berjalan? Apa papa mengatakan kalau separuh tubuhku lumpuh?"

"I ... Iya." Nada mengangguk, mengiyakan pertanyaan Daffa.

"Hah!" Daffa mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Nada.

"Papa terlalu berlebihan. Separuh tubuhku memang lumpuh, tapi itu dulu. Aku sudah sembuh sekarang dan aku sudah nggak butuh bantuan dari siapapun lagi. Sekarang lebih baik kamu pergi saja dari sini!" usir Daffa sambil menunjuk ke arah pintu.

Rasanya Nada ingin berteriak kegirangan saat itu juga. Sebab ia tak jadi harus memberikan asi pada pria tampan itu. Nada segera menganggukkan kepalanya cepat dengan senang.

"Saya akan segera keluar dari sini, Tuan. Tapi pintu ini dikunci dari luar. Saya nggak bisa membukanya." Nada menunduk.

Tanpa menjawab perkataan Nada, Daffa memutar tubuh dan berjalan terseok-seok menuju ke sebuah lemari yang tak jauh dari tempat tidurnya. Ia membuka laci meja itu, dan segera mengeluarkan sebuah kunci dari sana. Daffa dengan cepat melemparkan kunci itu ke arah Nada.

"Nah, sekarang buka pintunya dan cepat keluar!"

Nada menangkap kunci itu dengan senang hati. Wajahnya sangat bahagia, membuatnya mengangguk dengan cepat.

"Baik, Tuan. Terima kasih banyak."

Gadis itu buru-buru membuka pintu. Namun saat ia sedang fokus, tiba-tiba saja terdengar suara seperti sesuatu yang terjatuh.

Bruk!

Nada refleks berbalik, dan seketika ia terkejut saat melihat Daffa yang jatuh di dekat ranjang.

"Astaga! Tuan muda!" pekik Nada sambil berlari menghampiri Daffa, membiarkan kunci tergantung di pintu begitu saja.

Dengan cepat ia mengangkat kepala Daffa. Tubuh pria itu tampak kaku, dan nafasnya juga terengah-engah seolah ia kesusahan untuk bernafas.

"Tuan, apa yang terjadi sama kamu?" panik Nada sambil meletakkan kepala Daffa di atas pangkuannya.

Daffa hanya menatap sayu pada Nada. Kepalanya menengadah ke atas, tepat menghadap dada Nada yang kini berada di hadapannya. Ia bisa menatap jelas dada Nada yang sangat besar dan padat tampak berguncang, seolah nyaris keluar dari tempatnya berada.

Daffa menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya gemetar, sedangkan tangan Daffa juga nampak bergetar. Jari telunjuknya terangkat dengan lemah, menuju ke dada Nada yang setengah terbuka dan membusung sempurna.

"A ... Aku butuh susu kamu," ucap Daffa tersendat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED