Bab 2

“Berhentilah menagis!” bentak Leo dengan suara nayaring bak petir, membuat tubuh Aletta yang meringkuk di atas kasur  terperanjat.  

“Pakai bajumu cepat!” perntah Leo pada Aletta, lelaki itu sendiri dengan santainya memakai bajunya sendiri tanpa rasa malu sedikitpun.

 Aleta  mencoba bangkit namun area bawahnya sangat terasa nyeri, sampai ia mengeluarkan suara rintihan kesakitan. Leo yang menyadari itu  menghampiri Aletta.

“ Kenapa?” tanya Leo dengan suara datar.

“Sa-sakit Tuan.” Cicit Aleta pelan dengan kepala yang menunduk. 

Tangan Leo tergerak menyingkap bedcover yang menutupi tubuh polos Aletta, namun tangan Aletta dengan kuat menahannya.

“Lepas!”  

“Tu-tuan-“

 “Lepas!”

Mau tidak mau Aletta menyingkirkan tangannya dari bedcover, dan Leo pun langsung menyingkap bedcover itu hingga terpampang  lah tubuh polos Aletta.

Glek!

‘Ck! sial! Kenapa aku bisa terangsang lagi mlihat tubuhnya, sebelumnya tidak pernah seperti ini.’ batin Leo gusar, susah payah ia mengendalikan  nafsunya sendiri saat ini.  

Sedangkan Aletta bersaha menutupi bagian bawah dan dadanya menggunkan tangan. Malu? Tentu saja, meskipun dia sudah di gagahi oleh lelaki di hadapannya itu, tetap saja ia merasa sangat malu.

 Leo duduk di tepi ranjang, dengan sedikit kasar ia merentangkan kedua kaki Aletta hingga terpampang jelas lah  kupu-kupu Aletta yang membengkak dan merah.

 “Awww sa-sakit Tuan.” Rintih Aletta ketika Leo menyentuh miliknya di bawah sana.

 Leo menatap wajah Aletta yang sedang menahan sakit, terbesit rasa kasihan di diri lelaki itu. “Tunggu sebentar! Saya akan membelika mu obat.” Ucap Leo sembari bangkit.

Aleta hanya diam. Aletta membuang pandangannya ke lain arah, ia  ragu-ragu untuk menegur lelaki yang kini berjalan menuju pintu kamar. Namun ia mencoba memberanikan diri

“Tu-tuan,” panggil Aletta cepat.

Leo yang memegang gagang pintu kembali berbalik menatap Aletta dengan wajah datarnya, “Hm? Ada apa?” tanyanya dingin tanpa ekspresi.

“Emm i-itu Tu-tuan belum pakai celana.” Cicit Aletta pelan menunjuk ke arah bawah Leo yang memang belum memakai celana, rupanya ia tadi hanya baru memakai baju sudah teralihkan pada sosok Aletta yang kesakitan.

Leo yang di tegur langsung membuang pandangannya ke lain arah, menahan malu, namun ia langsung kembali dan mengambil celananya yang tergeletak di lantai, dengan wajah datar lelaki itu memakai celananya dan kembali berjalan keluar.

 ‘Ck! bagaimana bisa lupa!’ gerutu Leo di dalam hati sembari berjalan pergi. 

**

“Tuan, mau kemana?” tanya anak buahnya.

“Saya mau ke Apotek.” Jawab Leo.

“Biar saya saja yang pergi Tuan,”

“Saya tidak menyuruh mu!” Lelaki yang berpakaian serba hitam itu hanya menunduk.  Dan Leo langsung pergi sendiri menggunkan mobilnya.

“Kira-kira Tuan mau ngapain ke Apotek?” tanya Aldi salah satu anak buah Leo.

“Ya sudah pasti mau beli obat lecet lah, kan biasanya emang gitu, tapi anehnya kenapa yang sekarang dia gak nyuruh kita ya? Biasanya kan kita yang di suruh beli obat lecet .” Heran Aldo.

Aldi dan Aldo adalah kembar dan keduanya sama-sama sudah lama mengabdi pada Leo.

 “Heh itu Tuan mau kemana?” tanya Amel pada Aldo.

“Ih kamu kenapa kenpo gitu sih, udah sana beres-beres.” Suruh Aldi pada Amel.

“Kenapa emangnya kalau aku kepo hah?! Masalah buat kamu!” sahut Amel Sarkas.

“Dih songong banget!!” 

“Udah-udah, Tuan pergi ke Apotek Amel.” Ucap Aldo menengahi pertengkaran keduanya.

“Ngapain?” tanya Amel penasaran.

“Ya udah pasti beli obat lecet!  Kamu gak pernah ya? makanya perawan biar ngerasain.” Sahut Aldi lagi, yang sukses membuat Amel naik pitam.

Amel menatap tajam ke arah Aldi yang berucap.

“Kamu ya! sini kamu! Aku bejek-bejek!” Aldi tentu langsung lari dari sana, dan Amel megejarnya.

Aldo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik yang tak pernah akur dengan Amel.  

****

Aletta berusaha bangkit dari posisi baringnya, namun tak dapat. Rasa pedih dan nyeri di bawahnya sana sangatlah menyiksa.

 ‘Iss dasar Tuan tak berperasaan, lagian Paman tega banget sama Letta, masa iya Letta di kasih sebagai penebus hutangnya, mana sama lelaki tak berperasaan lagi.’ Gerutu Aletta mengingat betapa kasarnya Leo menggagahinya tadi.

“Huaaa Ayah Ibu kenapa Letta harus mendapatkan ini? Letta salah apa sih?” tangis gadis itu kembali pecah mengingat nansibnya yang sangat malang.  

**

 Ceklek!

Leo masuk ke dalam kmar, di lihatnya Aletta yang tertidur, Leo pun berjalan mendekat dengan salep lecet di tangnnya, lelaki itu mendekati Aletta yang masih setia terpejam.’Apa dia menangis? Apa aku terlalu kasar padanya?’ batin Leo melihat jejak air mata di pipi mulus  Aletta, tangannya tergerak menghapus jejak air mata itu.

 “Jangan nangis terus, semakin kau menangis semakin aku suka melihatnya.” Monolog Leo sembari menghapus pelan pipi Aletta.  

Namu beberapa menit kemudian, tangannya yang tadinya mengelus tiba-tiba menampar pipi Aletta hingga gadis itu terbangun.

“Siapa yang menyuruh mu tidur hm? Bangun!” ucapnya dingin. Kembali di tariknya kasar bed cover yang menutupi tubuh telanjang Aletta.

“Buka!” perintahnya  menunjuk kaki Aletta. Dengan perlahan Aleta membuka kakinya.

“Tu-tuan saya bisa sendiri kok.” Cegah Aletta.

“Diam!”

Leo tetap melakukannya, mengoles salep itu pada milik Aletta yang lecet.  

Glek!

 Satu tegukkan ludah membuat Leo langsung  memalingkan wajahnya ke arah lain.

‘Sial! jangan sekarang!’  rutuknya pada burung miliknya yang bisa-bisanya berdiri di saat seperti ini.

 “Obati sendiri!” suruhnya pada Aletta dan berenjak pergi begitu saja.

Kening Aletta berkerut.“Dasar Om-om aneh!” kesal Aleta melihat punggung Leo berjalan pergi.

“Apa kamu bilang?!”  

Aletta kelabakan sendiri di buatnya, “Emm e-enggak kok Om, emm maksud saya Tuan.” Ralat Aletta cepat.  

“Obati dengan benar!”

Aletta hanya menganggukkan kepalanya.

Huh! ‘Lega!’ lirih Aleta setelah Leo sudah keluar dari kamarnya.  

Baru saja gadis itu hendak mengobati miliknya sendiri , suara ketukan di pintu membuatnya dengan cepat menutupi tubuhnya dengan bed cover. Masukklah seorang wanita paruh baya dengan senyuman.

Aletta pun membalas senyuman wanita itu.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya wanita itu.

Aletta menganggukkan kepalanya pelan, “Sedikit baik dan banyak buruknya.” sahut Aletta.

Wanita itu terkekeh dan duduk di tepi ranjang, “Saya di suruh Tuan Leo untuk membantu mu mengobati lecetnya.”

 Aleta pun menganggukkan kepalanya, namun sedetik kemudian matanya membola. Yang benar saja? Mau di taruh di mana wajahnya saat ini.

“Tidak usah malu.”

Bella menyengir kuda. “Em emangnya Ibu siapa?” tanya Aletta pelan.

 “Saya kepala ART di sini,  nama saya Narti, tapi mereka di sini memanggil saya dengan sebutan Bi Ati, kamu boleh panggil saya Bi Ati juga.” Ucap Bi Narti ramah.

“Oh begitu. Bi Ati, boleh Aletta bertanya?”

“Tentu, kamu pasti mau bertanya mengenai Tuan ‘kan?”  tebak Bi Ati.

Aletta pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum malu-malu.

“Tanya saja, saya akan menjawab semampu saya.”

Aletta menarik nafas dalam sebelum berbicara. “Saya ke sini karena Paman saya yang tiak bisa bayar hutang Bi, apa saya setelah ini akan di jual?” tanya Aletta ragu. 

Bi Narti tersenyum pilu. “Cerita mu tidak jauh berbeda dengan kami semua, di rumah ini banyak pembantu yang memiliki cerita sama seperti kamu, mereka di jadikan penebus hutang oleh orang -orang terkasih mereka, ada yang dari orang tuanya , Paman, Tante. Dan semua yang menjadi penebus hutang itu akan di jadikan Tuan pembantu di rumah ini, bukan hanya pembantu dalam berberes rumah tapi pembantu dalam memuaskan nafsu Tuan, seperti yang di lakukannya pada mu tadi.”

Mulut Aletta  terbuka lebar. “Ja-jadi semua pembantu di-‘’

Bi Narti terkekeh pelan. “Tidak, tidak semua, hanya beberpa pembantu muda yang di minatinya, saya juga sangat kaget melihat  mu yang baru tapi sudah di pakai oleh Tuan, biasanya tidak seperti ini.”

Kening Aletta berkerut heran.

 “Emm lupakan soal itu, nama mu siapa?”

 “Aleta  Casandra Bi.”

“Cantik seperti orangnya.”

Aleta tersenyum malu.

“Ayo Bibi bantu obatin ya, jangan malu, anggap Bibi adalah Ibu kamu.” Aletta mengangguk sembari tersenyum, Ia merasa Bi Ati adalah orang yang sangat baik.  

***

Di dalam kamarnya Leo mati-matian berusaha meredam nafsunya sendiri, “Aiss sialan! Kenapa hanya dengan melihatnya nafsuku begitu bergejolak! Akhh kenapa selalu terbayang tubuhnya yang indah itu!” monolog Leo di dalam kamarnya sendiri.

Lelakki itu di buat frustasi mengingat kegiatan panasnya dengan Aletta, padahal sebelumnya ia sering malakukannya namun tak  pernah secandu ini.

“Sialan!” lelaki itu berjalan keluar kamar, dan turun ke bawah.

 Matanya tertuju pada sosok Amel yang membersihkan meja dengan badan di lenggok-lenggokkan, bahkan dengan sengaja ia menyingkap rok pendek yang di pakainya.

 ‘Ayo dong seret aku ke kamar Tuan, pengen banget di gagahin sama Tuan yang perkasa itu’ batin Amel penuh harap.

Bab 3

“Perbaiki tingkah mu jika masih ingin tinggal dan hidup di sini!” perkataan Leo itu sontak mebuat Amel berdiri tegak.

 “Ma-maaf Tuan.” Cicitnya pelan sembari menahan malu.

”Jangan kamu pikir saya  tidak tahu apa maksud mu seeperti tadi.” hardik Leo keras.

Amel hanya bisa menundukkan kepalanya malu, lantaran maksud dan tujuannya ternyata sudah di ketahui oleh Leo, bagaimana lelaki itu tidak tahu, di luar sana ia sering menemui wanita  yang bahkan lebih berani dari pada Amel, jadi lelaki itu sudah terlalu hapal dengan godaan para wanita yang mengingnkan dirinya.

Leo berjalan keluar. “Aldo, antar saya ke perusahaan.” Perintah Leo pada lelaki muda yang merupakan anak buahnya itu.”

“Siap Tuan!”

 “Dan kamu Aldi jaga wanita itu agar tak pergi dari rumah ini.” Perintah Leo juga pada Aldi.

“Wanita yang mana Tuan?” tanya Aldi denga tampang polosnya, membuat sang Kakak Aldo menggeram tertahan dengan kebodohan sang adik kembarnya itu.

 “Jangan menguji kesabaran ku Aldi.” Geram Leo dengan tatapan mautnya.

Melihat itu sontak saja otak Aldi bekerja dengan sangat baik. “Oh iya siap Tuan.” Beruntung di saat genting otak lelaki itu seketika waras, dan langsung paham apa yang di maskud oleh majikannya itu.

Leo kembali melangkah meuju mobil mewahnya, dengan Aldo sebagi supir.” Aldi dan Aldo bekerja di sana dengan gajih yang tak main-main, bahkan dalam sebulan gajih keduanya mencapai puluhan juta, tapi ya itu tugas mereka merangkap semua, karena Leo tak ingin mempekerjakan banyak orang di rumahnya. Orang-orang yang dulu ia bawa menemui Aletta, itu hanya akan di panggil sewaktu-waktu saja, tetap anak buahnya yang selalu stay dengannya di mana pun adalah Aldi dan Aldo. 

***

“Bibi keluar dulu ya, kalau ada apa-apa kamu panggil Bibi saja.” Pamit Bi Ati ramah pada Aletta.

Aletta tersenyum manis, “Terimakasih ya Bi Ati.”

“Sama-sama cantik.” Bi Ati pun keluar dari kamar,  tak berselang lama pintu Aletta kembali terbuka, Aletta yang awalnya mengira Bi Ati tersenyum, namun seyumnya sektika pudar melihat dua orang gadis yang berpakaian sama dengan yang tadi di berikan oleh Leo padanya. Keduanya masuk dengan wajah sinis tak bersahabat.

“Oh jadi ini mainan baru Tuan Leo! Cih masih cantikan kita kemana-mana.” Sinis wanita berambut setengah pirang, Alia.  

“Eh kau jala*g kecil! Kau harus patuh ama kita, karena kita  adalah senior di sini.” Ucap Amel dengan tangan yang bersedekap di dada.

Aletta keheranan, di lihatnya kedua wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kepala.

 ‘Apa ini yang di sebut Bi Ati, mereka juga korban penebus hutang seperti aku? Tapi kenapa bersikap senioritas padaku, di kira ini sekolah apa.’ Heran Aletta di dalam hati.

“Heh! Kamu denger gak!” bentak Amel dengan nada tinggi, membuat  Aletta sedikit terperanjat.

“Memangnya kalian siapa?” tanya Aletta.

Alia dan Amel saling pandang dengan tatapan penuh bangganya, “Kami pembantu kesayangan Tuan Leo, dan hanya boleh kami yang menjadi kesayangan Tuan Leo!” ucap Alia penuh penekanan.

‘Cih! Sama-sama pembantu aja bangga, mamam aja sana Tuan kalian itu.’ Sahut Aletta di dalam hati.

“Eh paham gak!” bentak Amel.

 “Iya.” Hanya itu sahutan dari Aletta.

 “Heh! Amel! Alia! Kalian nagapain?!” suara Bi Ati langsung saja membuat kedua gadis itu pergi tanpa pamit.

“Aletta kamu gak apa-apa , mereka gak melakukan hal yang jahat padamu ‘kan?” tanya Bi Ati khawatir menatap Aletta menelisik. 

Aletta menggelengkan kepalamya seraya tersenyum simpul. “Aletta baik-baik aja kok Bi.”

“Aletta kamu harus maklum sama mereka berdua, itu nmanya  Amel dan Alia, mereka sangat terobsesi dengan Tuan Leo, bahkan keduanya dengan senang  hati jika di bawa ke kamar oleh Tuan Leo, dan setiap ada orang baru, mereka itu akan bersikap senioritas di rumah ini, padahal posisi kita semua sama  di rumah ini.” Jelas Bi Ati panjang lebar.

‘Pantas saja.’ Batin Bella seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

 “Emm Bi Ati, apa Tua Leo memang selalu meniduri para pembantunya?” tanya Aletta tiba-tiba.

Bi Ati tertawa, “Tidak semua, saya dan beberapa pembantu  lainnya tidak pernah sama sekali di sentuh oleh Tuan Leo. Ia hanya kan menyentuh gadis belia yanag memikiat hatinya.”

“Apa Amel dan Ali sering di sentuh olehnya?”

“Saya rasa tidak, karena sepengetahuan  saya Tuan Leo itu tidak akan meniduri wanita lebih dari satu kali, Alia dan Amel memang pernah di tidurinya namun hanya satu kali.” Jelas Bi Ati.

Ada rasa lega di hati Aletta mendengar hal itu. ‘Itu artinya aku tidak akan di tiduri oleh lelaki berengsek itu lagi.’ Batin Aletta, bisa sedikit bernafas lega.  

“Oh gitu ya Bi, tapi tadi Amel dan Alia berkata seakan–akan mereka sangat sering melakukannya .”

 “Mereka itu hanya berkhayal sakin obesesinya sama Tuan Leo.” Sahut Bi Ati berbisik.

Aletta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham.

“Tunggu sebntar ya, Bi Sri akan segera datang mebawakan mu makanan.” Ucap Bi Ati .

Dan tak seberapa lama seorang wanita yang sedikit lebih muda dari Bi Ati datang dengan nampan berisi makanan dan minman.

“Aduh maafkan saya, merepotkan kalian berdua.” Ucap Aletta tak enak hati pada kedua wanita di hadapannya itu.

 “Ih biasa aja atuh Neng geulis, kamu teh geulis pisan yak, pantes atuh langsung di bawa Tuan Leo ke kamar.” Ucap Bi Sri cengengesan sendiri.

“Is Sri.”Tegur Bi Ati menyenggol lengan wanita itu. 

“Ehehe iya maaf-maaf.”

 “Aletta, ini namanya Bi Sri, dia sama seperti Bibi, kamu kalau ada apa-apa bilang saja pada kami ya.” Ucap Bi Ati lemah lembut memperkenalkan Bi Sri.

“Iya siap Bi, terimakasih banyak sudah baik sama Aletta.” Aletta sedikit lega, setidaknya masih ada beberpa orang baik di rumah besar bak istana ini, begitu pikirnya. 

“Sama-sama Neng cantik.” Sahut Bi Sri dengan senyuman.

 “Ya sudah ya, kami pergi dulu, jangan lupa di makan makanannya ya Neng.” Pamit Bi Sri dan Bi Ati.

“Siap Bi, sekali lagi terimakasih banyak.”

“Iya sama-sama.” 

Kedua wanita itu pun kembali keluar dari kamar meninggalkan Aletta seorang diri di dalam kamar.  

***

Sementara di sebuah perusahaan besar, seorang CEO muda, tampan dan sangat di segani itu berjalan bak seorang pangeran dari negri dongeng. Seluruh  karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat, ada pula beberapa karyawan yang menyapanya, meskipun tak pernah satu kali pun sapaan itu di jawab oleh sang atasan yang begitu arrogant itu. 

“Kau sesekali harus bersikap lemah lembut sama bawahan.” Bisik lelaki dengan perawakan khas orang korea, dia adalah Mervin lelaki yang merupakan sahabat sekaligus seketarisnya di kantor.

“Ck itu hal yang merepotkan!” Itu sahutan yang selalu di jawab Leo.

“Kau selalu saja begitu.” Keduanya berjalan terus menuju ruangan khusus CEO yang berada di lantai teratas.

“Ku denger-denger kau dapat  mainan baru di rumah, siapa yang ngutang?” tanya Mervin di dalam lift yang memang husus untuk CEO.

“Hm, mantan pekerja di sini.”

“Hah, serius? Siapa ? yang mana?” kaget Mervin.

Leo mentap kesal pada sang sahabat sekaligus seketarisnya itu. “Jangan banyak tanya, apa jadwal hari ini?” tanya Leo.

 “Pertemuan dengan dewan direksi jam dua siang nanti.”

“Hm, setelah itu?”

“Kamu gak lupa ‘kan malam ini , Mami Papii mu serta Nenek, menyuruhmu datang ke rumah besar, untuk makan malam bersama mereka.” Ucap Mervin mengingatkan. Mervin memang tidak hanya mengurus segala kepentingan kantor, ia juga mengingatkan sang sahbat dengan urusan di luar kantor seperti pertemuan dengan keluarga besar lelaki itu, dan lain-lain.

 “Cih! Sungguh merepotkan.” Decih Leo.

Leo memang sangat benci dengan yang namanya berkumpul keluarga, sama seperti keluarga kaya pada umumnya, yang di bahas jika bertemu adalah masalah yang sama yaitu perjodohan konyol. Itu pula yang terjadi pada lelaki itu, ia akan menajdi bulan-bulanan keluarganya jika bertemu, selalu di tanya mengenai menikah, menikah dan menikah, hal itu mebuat Leo malas pulang ke rumah megah orang tuanya itu.

“Bikin  alasan untuk pertemuan malam mini.” Suruh Leo pada Mervin.

“Anjir! Gak ya! Itu mah sama aja kau ingin membunuh ku! Kau ingat terakhir kali aku ke sana menyampaikan alasan? Aku yang malah kena marah.” Dumel Mervin mebuat Leo terkikik geli. Memang selalu seperti itu, Mervin yang akan kena marah karena di anggap membantu Leo menghindar, Mervin sendiri seperti saudara Leo jika di kediaman orang tua Leo. 

***

Jam demi jam pun berlalu, Aletta terbangun dari tidurnya yang rupanya sudah hampir malam. Pintu kamarnya kembali terbuka, rupanya Bi Sri yang masuk, dengan membawa beberapa peralatan mandi.

“Aletta, ini Bibi bawain handuk dan keperluan kamu yang lain.”

“Wah Terimkasih  banyak Bi Sri, maaf Aletta merepokan Bibi ya?”

“Eihh kamu mah bilang gitu mulu, udah gak papa, ini memang tugas Bibi, sok atuh mandi, nanti keburu Tuan datang.” Suruh Bi Sri.

“Emangnya kenapa kalau Tuan datang Bi?”tanya Aletta dengan tampang polosnya.

 Bi Sri malah terkikik geli sendiri dengan pipi yang memerah. “Enggak, gak papa, barangkali aja, Tuan mau mencumbu mu kembali.” Goda Bi Sri membuat mata Aletta membulat sempurna. 

“Ehehe Bibi bercanda, ya sudah atuh ya Aletta, Bibi tinggal dulu.” Aletta pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum .

Rasa sakit di bawahnya sana pun sudah mulai mereda. Aletta mulai bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, untuk menyegarkan badannya yang benar-benar lengket.

‘Tidak mungkin si Tuan brengsek itu akan mencumbu ku lagi kan? ‘Kan kata Bi Ati dai tidak akan melakukannya dua kali dengan orang yang sama, jadi aku aman lah.’ Batin Aletta.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED