“Bawa dia!” suruhnya lelaki dingin nan tampan pada beberapa lelaki yang memakai seragam serba hitam.
“Siap Tuan Leo!” sahut para pemuda berpakaian serba hitam itu. Tubuh mereka semua terlihat sangat kekar dan berotot, membuat nyali seorang gadis yang sedang menagis pilu sedikit menciut.
“Paman, tolong! Aletta gak mau! Aletta mohon Paman, Aletta sanggup melakukan apapun asal jangan biarkan mereka membawa Letta Paman.” Berontak Aletta gadis belia yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia memohon dengan sangat pilu, namun jeritan Aletta seakan angin lalu bagi sang Paman, lelaki paruh baya itu bahkan menutup pintu rumahnya masa bodoh dengan jeritan permintan tolong Aletta. Sementara Aletta terus di paksa masuk ke dalam sebuh monio mewah berwarna hitam .
“Diam atau mati!” tegas Leonardo kejam tanpa ada perasaan lelaki itu mencengkram kuat rahang Aletta, membuat Aletta terdiam seribu bahasa dengan wajah pucat pasinya.
Air matanya terus mengalir seiring berjalannya mobil mewah itu yang ia juga tak tau kemana mobil itu membawanya pergi.
“Tuan tolong lepaskan saya, Tuan” rengek Aletta pada Leo yang kini sedang memejamkan matanya.
“Tu-“
“Diam!” bentak Leo mmebuat tubuh Aletta terjengkit, kaget. Aletta kembali bungkam, jujur saja nyalinya benar-benar ciut berhadapan dengan sosok Leo yang terlihat sangat mengerikan itu, wajah lelaki itu terlihat sangat datar, meskipun begitu tak memungkiri jika ketamapanan lelaki itu sangatlah di atas rata-rata. Tak heran pula banyak wanita yang bertekuk lutut di hadapannya,bahkan ada yang rela memberikan tubuhnya secara percuma pada Leo, sang Casanova .
Tak butuh waktu lama , kini mobil mewah itu berhenti tepat di hadapan rumah yang lebih mirip istana bagi Aletta. Mata gadis itu bahkan tak berkedip ketika melihat bangunan besar bak istana di hadapannya saat ini.
“Bawa dia turun!” Titah tegas Leo lagi pada anak buahnya.
Aletta kembali di bawa oleh para lelaki berseragam hitam itu.
“Ih lepas dong! Aku bisa jalan sendiri!” kesal Aletta pada dua lelaki yang kini sedang memegangi lengannya.
“Diam lah Nona, atau kau akan bernasib buruk.” Bisik lelaki yang ada di sebelah kanannya.
Aletta mendengus kesal. “Nasib ku memang sudah buruk!” hardik Aletta.
Mata Aletta kembali di buat membesar ketika ia menginjakakan kaki di dalam rumah besar itu.
‘Wah ini sih namanya istana, apa dia seorang raja?’ batin Aletta bertanya-tanya melihat interior rumah itu sangatlah mewah dan megah, semua furniture di dominan dengan warna emas hingga membuatnya semakin terlihat mewah dan elegan.
“Bawa dia ke kamar !” suruh lelaki bernama Leonardo itu lagi.
“Siap Tuan!”
Aletta hanya pasrah ketika para pemuda beseragam hitam itu membawa tubuhnya ke sebuah kamar.
“Silahkan masuk!” suruh para lelaki itu.
Aleta menatap sebentar kearah mereak, “Hey, apa aku akan mati di sini?” tanya Aletta sedeikit berbisik.
Para pemuda itu saling tatap, “Mungkin saja iya Nona, jadi sebaiknya jaga sikap jika ingin masih hidup.” Ucap mereka setelah itu mendorong masuk tubuh Aletta , dan mengunci pintu kamar itu dari luar.
“Hey! Buka! Kenapa di kunci?!” teriak Aletta dari dalam kamar, sembari terus menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci dari luar .
Lelah, merasa tak di gubris Aletta berbalik badan, menatap kamar yang berukuran cukup besar itu, di sana ada beberapa furniture yang menurutnya sangatlah bagus. Aletta berjalan perlahan menuju ranjang yang terlihat sangat empuk dan juga indah tentunya.
“Woah sangat empuk, berbeda sekali dengan kasur ku di rumah Paman.” Monolognya sembari menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
***
“Ini Tuan kunci kamarnya.”
“Hm.” Leo menyambut kunci kamar itu dari anak buahnya, dengan senyuman smirk di wajahnya.
Sementara para asisten rumah tangga yang lain saat ini sedang berkumpul di dapur membicarakan Aletta yang baru saja di bawa ke dalam rumah itu. “Iya masih muda sama kayak aku ‘kan?” ucap salah satu dari mereka yang terlihat masih sangat belia, namanya Alia, remaja yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah besar bak istana itu.
Di rumah besar itu tentu saja memerlukan banyak asisten di dalamnya. Jika di tota-total jumlah asisten rumah tangga di kediaman Leo itu menacapai dua puluh lebih, separuhnya merupakan gadis muda yang tak jauh berbeda dengan Aletta, yaitu merupakan tawanan akibat hutang piutang yang tak dapat di lunasi, dan berakhirlah mereka sebagai penebusnya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah itu.
“Iya kayaknya dia bakal bernasib sama kayak kita.” Sahut Amel , yang juga merupakan asisten rumah tangga.
“Hey sudah-sudah jangan banya berbicara, riwayat kalian akan sama seperti Lilu jika meneruskannya.
Lilu adalah gadis remaja ynag di bunuh oleh Leo lantaran tak mematui keinginanya. Begitulah Leo, dia merupakan sosok yang sangat kejam. Di luar sana banyak orang yang memujanya sebagai pembisnis handal, tanpa mengetahui sikap kejam di balik ketampanannya dan kesuksesannya itu.
***
Brak!
Pintu kamar Aletta di buka secara kasar, siapa lagi selain Leo pelakukanya. Aletta yang berbaring langsung saja terduduk menatap takut kearah Leo yang tersenyum smirk menatapnya.
“Pakai!” perintahnya seraya melemparkan baju maid ke arah Aletta. Semua pembantu muda di rumahnya itu memang memakai seragam yang sama terkecuali para pembantu yang sudah berumur, mereka menggunakan pakaian tertutup.
Aletta mengambil dan memperhatikan baju yang di lemparkan oleh Leo, mata Aletta seketika terbelalak saat melihat baju yang sangat terbuka.
“Tuan ser-“
“Pakai!” potong Leo membentak.
Aletta kembali bungkam, ia beranjak pergi ke kamar mandi .
“Pakai di sini!”
Lagkah Aletta terhenti, dengan mata membola. “Apa?” cengangnya.
“Pa-pakai di si-sini?” tanya Aletta tergagap-gagap.
“Saya tidak suka mengulang perkataan saya!” tegas Leo membuat Aletta ketar ketir dan dengan sangat amat terpaksa ia menuruti semua kemauan lelaki di hadapannya itu.
‘Aduh malu.’ Lirih Aletta seraya melucuti pakaiannya satu persatu.
Mata Leo menatap lurus kearah tubuh mulus nan mungil di hadapannya.
Glek!
Satu tegukan ludah dengan susah payah masuk, Leo memalingkan wajahnya ketika melihat tubuh tanpa busana milik Aletta. Gadis itu tidak sepenuhnya telanjang, melainkan ada tersisa Bra dan juga celana dalamnya.
Aletta dengan cepat memakai baju maid yang telah di sediaka. Sementara Leo kembali di buat tercengang melihat tubuh Aletta yang telah memakai baju maid itu, yang sialnya semakin membuat senjatanya di bawah sana semkain berdiri tegak.
“Akh! Shit!” lelaki itu langsung bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Aletta yang berdiri dengan kepala menunduk.
Bruk!
Dengan kasar Leo mendorong tubuh Aleta ke ranjang hingga membuat mata Aletta terbelalak, kaget.
Sedangkan mata Leo tertuju pada celana dalam yang terpampang di depannya lantaran rok pendek milik Aletta tersingkap ke atas.
Senyum smirk terpampang jelas di wajah taman lelaki itu.
“Akhh!” pekik Aletta kaget.
“Shit! Kau benar-benar menggoda!” ucapnya dengan tangan yang setia mengelus area kewanitaan Aletta yang masih tertutup oleh celana dalam berwarna putih.
“Shhh! Janganhh Tuanhh!” Aletta berusaha menutupi area kewanitaannya dengan tangan, sia sangat malu saat ini .
“Huust! Diam! Dan nikmati saja , kau pasti menyukainya.” Leo dengan kasar menepis tangan Aletta. Namun Aleta tak menyerah, ia masih saja mencoba menutupinya, membuat Leo murka.
“Jangan membuat ku marah! Diam atau mati!” ancamnya dengan tangan yang siap mengambil pistol yang tersembunyi di balik Jasnya. Aleta terdiam dengan wajah yang takut, ia terpaksa memilih diam atau berakhir menyedihkan.
“Buka!” titah Leo menunjuk celana dalam Aletta.
Aletta sedikit ragu, namun ia tetap menurutinya dengan menggigit bibir bawahnya menahan rasa malu setengah mati.
Leo menyeringai menatap lekat kewanitaan Aletta yang sudah tak tertutup apapun, lelaki itu menggigt bibir bawahnya, nafsunya sudah memuncak saat ini, matanya saat ini di sudah di penuhi kabut ngadi . Dengan sedikit kasar ia melebarkan paha Aletta, hingga kupu-kupu milik Aleta merekah akibatnya.
Aletta hanya bisa menutup matanya saat melihat lelaki di hadapannya itu mulai berjongkok.
Slrupppp!
“Akhh!” pekik Aletta kuat tatkala lelaki itu mengisap kuat kupu-kupunya.
“Akhh emphhh!” erangan Aletta tak tertahankan saat merasakan lidah Leo bermain dengan liar di bawah sana.
”Enak? kau menyukainya? Sama saya juga!” ucap Leo mendongak menatap Aletta, sedetik kemudian ia kembali membenamkan wajahnya di milik Aletta yang sudah basah dengan cairannya dan air liur pria itu.
“Akhh Tuan!” pekik Aletta lagi ketika kacang miliknya di mainkan dengan sangat cepat oleh Leo.
“Emm? Kenapa? Enak? Bagaimana dengan ini?” satu jari masuk di lobang surga Aletta mebuat wanita itu memejamkan matanya merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan selama ini.
Wajah Leo terlihat puas melihat wajah tersiksa Aletta yang menginginkan permainan lebih.
***
Di luar kamar, para pembantu yang lain sedang menempelkan telinga mereka masing-masing guna mendengarkan suara nikamt yang berasal dari dalam kamar.
“Tuh ‘kan bener , tapi kok jadi pengen di sentuh juga ya, akhh nikamt banget sentuhan Tuanhhh.” Ucep Amel berpantasi sendiri sembari meraba-raba dadanya sendiri yang masih terbungkus.
“Iya kita sekarang udah gak pernah di sentuh sama Tuan, bahkan di lirik Tuan pun sudah tidak lagi.” Sahut Alia dengan wajah sendu.
“Iya padahal aku mah rela-rela aja di tidurin sampai bengkak juga rela aku mah.” Sahut Amel lagi.
“Kayaknya kita bakal gak di pakai lagi deh Mel, ‘kan Tuan emang selalu seperti itu, dia tidak pernah memakai dua kali. Di tambah ada anak baru, kamu dengar suara Tuan di dalam, waktu sama kita dia tak pernah menggeram nikmat seperti itu ‘kan?”
Amel mengangguk dengan wajah kesal. ‘Is aku harus bisa singkirkan tuh pembantu baru.’ Batin Amel bertekad.
“Berhentilah menagis!” bentak Leo dengan suara nayaring bak petir, membuat tubuh Aletta yang meringkuk di atas kasur terperanjat.
“Pakai bajumu cepat!” perntah Leo pada Aletta, lelaki itu sendiri dengan santainya memakai bajunya sendiri tanpa rasa malu sedikitpun.
Aleta mencoba bangkit namun area bawahnya sangat terasa nyeri, sampai ia mengeluarkan suara rintihan kesakitan. Leo yang menyadari itu menghampiri Aletta.
“ Kenapa?” tanya Leo dengan suara datar.
“Sa-sakit Tuan.” Cicit Aleta pelan dengan kepala yang menunduk.
Tangan Leo tergerak menyingkap bedcover yang menutupi tubuh polos Aletta, namun tangan Aletta dengan kuat menahannya.
“Lepas!”
“Tu-tuan-“
“Lepas!”
Mau tidak mau Aletta menyingkirkan tangannya dari bedcover, dan Leo pun langsung menyingkap bedcover itu hingga terpampang lah tubuh polos Aletta.
Glek!
‘Ck! sial! Kenapa aku bisa terangsang lagi mlihat tubuhnya, sebelumnya tidak pernah seperti ini.’ batin Leo gusar, susah payah ia mengendalikan nafsunya sendiri saat ini.
Sedangkan Aletta bersaha menutupi bagian bawah dan dadanya menggunkan tangan. Malu? Tentu saja, meskipun dia sudah di gagahi oleh lelaki di hadapannya itu, tetap saja ia merasa sangat malu.
Leo duduk di tepi ranjang, dengan sedikit kasar ia merentangkan kedua kaki Aletta hingga terpampang jelas lah kupu-kupu Aletta yang membengkak dan merah.
“Awww sa-sakit Tuan.” Rintih Aletta ketika Leo menyentuh miliknya di bawah sana.
Leo menatap wajah Aletta yang sedang menahan sakit, terbesit rasa kasihan di diri lelaki itu. “Tunggu sebentar! Saya akan membelika mu obat.” Ucap Leo sembari bangkit.
Aleta hanya diam. Aletta membuang pandangannya ke lain arah, ia ragu-ragu untuk menegur lelaki yang kini berjalan menuju pintu kamar. Namun ia mencoba memberanikan diri
“Tu-tuan,” panggil Aletta cepat.
Leo yang memegang gagang pintu kembali berbalik menatap Aletta dengan wajah datarnya, “Hm? Ada apa?” tanyanya dingin tanpa ekspresi.
“Emm i-itu Tu-tuan belum pakai celana.” Cicit Aletta pelan menunjuk ke arah bawah Leo yang memang belum memakai celana, rupanya ia tadi hanya baru memakai baju sudah teralihkan pada sosok Aletta yang kesakitan.
Leo yang di tegur langsung membuang pandangannya ke lain arah, menahan malu, namun ia langsung kembali dan mengambil celananya yang tergeletak di lantai, dengan wajah datar lelaki itu memakai celananya dan kembali berjalan keluar.
‘Ck! bagaimana bisa lupa!’ gerutu Leo di dalam hati sembari berjalan pergi.
**
“Tuan, mau kemana?” tanya anak buahnya.
“Saya mau ke Apotek.” Jawab Leo.
“Biar saya saja yang pergi Tuan,”
“Saya tidak menyuruh mu!” Lelaki yang berpakaian serba hitam itu hanya menunduk. Dan Leo langsung pergi sendiri menggunkan mobilnya.
“Kira-kira Tuan mau ngapain ke Apotek?” tanya Aldi salah satu anak buah Leo.
“Ya sudah pasti mau beli obat lecet lah, kan biasanya emang gitu, tapi anehnya kenapa yang sekarang dia gak nyuruh kita ya? Biasanya kan kita yang di suruh beli obat lecet .” Heran Aldo.
Aldi dan Aldo adalah kembar dan keduanya sama-sama sudah lama mengabdi pada Leo.
“Heh itu Tuan mau kemana?” tanya Amel pada Aldo.
“Ih kamu kenapa kenpo gitu sih, udah sana beres-beres.” Suruh Aldi pada Amel.
“Kenapa emangnya kalau aku kepo hah?! Masalah buat kamu!” sahut Amel Sarkas.
“Dih songong banget!!”
“Udah-udah, Tuan pergi ke Apotek Amel.” Ucap Aldo menengahi pertengkaran keduanya.
“Ngapain?” tanya Amel penasaran.
“Ya udah pasti beli obat lecet! Kamu gak pernah ya? makanya perawan biar ngerasain.” Sahut Aldi lagi, yang sukses membuat Amel naik pitam.
Amel menatap tajam ke arah Aldi yang berucap.
“Kamu ya! sini kamu! Aku bejek-bejek!” Aldi tentu langsung lari dari sana, dan Amel megejarnya.
Aldo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik yang tak pernah akur dengan Amel.
****
Aletta berusaha bangkit dari posisi baringnya, namun tak dapat. Rasa pedih dan nyeri di bawahnya sana sangatlah menyiksa.
‘Iss dasar Tuan tak berperasaan, lagian Paman tega banget sama Letta, masa iya Letta di kasih sebagai penebus hutangnya, mana sama lelaki tak berperasaan lagi.’ Gerutu Aletta mengingat betapa kasarnya Leo menggagahinya tadi.
“Huaaa Ayah Ibu kenapa Letta harus mendapatkan ini? Letta salah apa sih?” tangis gadis itu kembali pecah mengingat nansibnya yang sangat malang.
**
Ceklek!
Leo masuk ke dalam kmar, di lihatnya Aletta yang tertidur, Leo pun berjalan mendekat dengan salep lecet di tangnnya, lelaki itu mendekati Aletta yang masih setia terpejam.’Apa dia menangis? Apa aku terlalu kasar padanya?’ batin Leo melihat jejak air mata di pipi mulus Aletta, tangannya tergerak menghapus jejak air mata itu.
“Jangan nangis terus, semakin kau menangis semakin aku suka melihatnya.” Monolog Leo sembari menghapus pelan pipi Aletta.
Namu beberapa menit kemudian, tangannya yang tadinya mengelus tiba-tiba menampar pipi Aletta hingga gadis itu terbangun.
“Siapa yang menyuruh mu tidur hm? Bangun!” ucapnya dingin. Kembali di tariknya kasar bed cover yang menutupi tubuh telanjang Aletta.
“Buka!” perintahnya menunjuk kaki Aletta. Dengan perlahan Aleta membuka kakinya.
“Tu-tuan saya bisa sendiri kok.” Cegah Aletta.
“Diam!”
Leo tetap melakukannya, mengoles salep itu pada milik Aletta yang lecet.
Glek!
Satu tegukkan ludah membuat Leo langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
‘Sial! jangan sekarang!’ rutuknya pada burung miliknya yang bisa-bisanya berdiri di saat seperti ini.
“Obati sendiri!” suruhnya pada Aletta dan berenjak pergi begitu saja.
Kening Aletta berkerut.“Dasar Om-om aneh!” kesal Aleta melihat punggung Leo berjalan pergi.
“Apa kamu bilang?!”
Aletta kelabakan sendiri di buatnya, “Emm e-enggak kok Om, emm maksud saya Tuan.” Ralat Aletta cepat.
“Obati dengan benar!”
Aletta hanya menganggukkan kepalanya.
Huh! ‘Lega!’ lirih Aleta setelah Leo sudah keluar dari kamarnya.
Baru saja gadis itu hendak mengobati miliknya sendiri , suara ketukan di pintu membuatnya dengan cepat menutupi tubuhnya dengan bed cover. Masukklah seorang wanita paruh baya dengan senyuman.
Aletta pun membalas senyuman wanita itu.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya wanita itu.
Aletta menganggukkan kepalanya pelan, “Sedikit baik dan banyak buruknya.” sahut Aletta.
Wanita itu terkekeh dan duduk di tepi ranjang, “Saya di suruh Tuan Leo untuk membantu mu mengobati lecetnya.”
Aleta pun menganggukkan kepalanya, namun sedetik kemudian matanya membola. Yang benar saja? Mau di taruh di mana wajahnya saat ini.
“Tidak usah malu.”
Bella menyengir kuda. “Em emangnya Ibu siapa?” tanya Aletta pelan.
“Saya kepala ART di sini, nama saya Narti, tapi mereka di sini memanggil saya dengan sebutan Bi Ati, kamu boleh panggil saya Bi Ati juga.” Ucap Bi Narti ramah.
“Oh begitu. Bi Ati, boleh Aletta bertanya?”
“Tentu, kamu pasti mau bertanya mengenai Tuan ‘kan?” tebak Bi Ati.
Aletta pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum malu-malu.
“Tanya saja, saya akan menjawab semampu saya.”
Aletta menarik nafas dalam sebelum berbicara. “Saya ke sini karena Paman saya yang tiak bisa bayar hutang Bi, apa saya setelah ini akan di jual?” tanya Aletta ragu.
Bi Narti tersenyum pilu. “Cerita mu tidak jauh berbeda dengan kami semua, di rumah ini banyak pembantu yang memiliki cerita sama seperti kamu, mereka di jadikan penebus hutang oleh orang -orang terkasih mereka, ada yang dari orang tuanya , Paman, Tante. Dan semua yang menjadi penebus hutang itu akan di jadikan Tuan pembantu di rumah ini, bukan hanya pembantu dalam berberes rumah tapi pembantu dalam memuaskan nafsu Tuan, seperti yang di lakukannya pada mu tadi.”
Mulut Aletta terbuka lebar. “Ja-jadi semua pembantu di-‘’
Bi Narti terkekeh pelan. “Tidak, tidak semua, hanya beberpa pembantu muda yang di minatinya, saya juga sangat kaget melihat mu yang baru tapi sudah di pakai oleh Tuan, biasanya tidak seperti ini.”
Kening Aletta berkerut heran.
“Emm lupakan soal itu, nama mu siapa?”
“Aleta Casandra Bi.”
“Cantik seperti orangnya.”
Aleta tersenyum malu.
“Ayo Bibi bantu obatin ya, jangan malu, anggap Bibi adalah Ibu kamu.” Aletta mengangguk sembari tersenyum, Ia merasa Bi Ati adalah orang yang sangat baik.
***
Di dalam kamarnya Leo mati-matian berusaha meredam nafsunya sendiri, “Aiss sialan! Kenapa hanya dengan melihatnya nafsuku begitu bergejolak! Akhh kenapa selalu terbayang tubuhnya yang indah itu!” monolog Leo di dalam kamarnya sendiri.
Lelakki itu di buat frustasi mengingat kegiatan panasnya dengan Aletta, padahal sebelumnya ia sering malakukannya namun tak pernah secandu ini.
“Sialan!” lelaki itu berjalan keluar kamar, dan turun ke bawah.
Matanya tertuju pada sosok Amel yang membersihkan meja dengan badan di lenggok-lenggokkan, bahkan dengan sengaja ia menyingkap rok pendek yang di pakainya.
‘Ayo dong seret aku ke kamar Tuan, pengen banget di gagahin sama Tuan yang perkasa itu’ batin Amel penuh harap.
“Perbaiki tingkah mu jika masih ingin tinggal dan hidup di sini!” perkataan Leo itu sontak mebuat Amel berdiri tegak.
“Ma-maaf Tuan.” Cicitnya pelan sembari menahan malu.
”Jangan kamu pikir saya tidak tahu apa maksud mu seeperti tadi.” hardik Leo keras.
Amel hanya bisa menundukkan kepalanya malu, lantaran maksud dan tujuannya ternyata sudah di ketahui oleh Leo, bagaimana lelaki itu tidak tahu, di luar sana ia sering menemui wanita yang bahkan lebih berani dari pada Amel, jadi lelaki itu sudah terlalu hapal dengan godaan para wanita yang mengingnkan dirinya.
Leo berjalan keluar. “Aldo, antar saya ke perusahaan.” Perintah Leo pada lelaki muda yang merupakan anak buahnya itu.”
“Siap Tuan!”
“Dan kamu Aldi jaga wanita itu agar tak pergi dari rumah ini.” Perintah Leo juga pada Aldi.
“Wanita yang mana Tuan?” tanya Aldi denga tampang polosnya, membuat sang Kakak Aldo menggeram tertahan dengan kebodohan sang adik kembarnya itu.
“Jangan menguji kesabaran ku Aldi.” Geram Leo dengan tatapan mautnya.
Melihat itu sontak saja otak Aldi bekerja dengan sangat baik. “Oh iya siap Tuan.” Beruntung di saat genting otak lelaki itu seketika waras, dan langsung paham apa yang di maskud oleh majikannya itu.
Leo kembali melangkah meuju mobil mewahnya, dengan Aldo sebagi supir.” Aldi dan Aldo bekerja di sana dengan gajih yang tak main-main, bahkan dalam sebulan gajih keduanya mencapai puluhan juta, tapi ya itu tugas mereka merangkap semua, karena Leo tak ingin mempekerjakan banyak orang di rumahnya. Orang-orang yang dulu ia bawa menemui Aletta, itu hanya akan di panggil sewaktu-waktu saja, tetap anak buahnya yang selalu stay dengannya di mana pun adalah Aldi dan Aldo.
***
“Bibi keluar dulu ya, kalau ada apa-apa kamu panggil Bibi saja.” Pamit Bi Ati ramah pada Aletta.
Aletta tersenyum manis, “Terimakasih ya Bi Ati.”
“Sama-sama cantik.” Bi Ati pun keluar dari kamar, tak berselang lama pintu Aletta kembali terbuka, Aletta yang awalnya mengira Bi Ati tersenyum, namun seyumnya sektika pudar melihat dua orang gadis yang berpakaian sama dengan yang tadi di berikan oleh Leo padanya. Keduanya masuk dengan wajah sinis tak bersahabat.
“Oh jadi ini mainan baru Tuan Leo! Cih masih cantikan kita kemana-mana.” Sinis wanita berambut setengah pirang, Alia.
“Eh kau jala*g kecil! Kau harus patuh ama kita, karena kita adalah senior di sini.” Ucap Amel dengan tangan yang bersedekap di dada.
Aletta keheranan, di lihatnya kedua wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kepala.
‘Apa ini yang di sebut Bi Ati, mereka juga korban penebus hutang seperti aku? Tapi kenapa bersikap senioritas padaku, di kira ini sekolah apa.’ Heran Aletta di dalam hati.
“Heh! Kamu denger gak!” bentak Amel dengan nada tinggi, membuat Aletta sedikit terperanjat.
“Memangnya kalian siapa?” tanya Aletta.
Alia dan Amel saling pandang dengan tatapan penuh bangganya, “Kami pembantu kesayangan Tuan Leo, dan hanya boleh kami yang menjadi kesayangan Tuan Leo!” ucap Alia penuh penekanan.
‘Cih! Sama-sama pembantu aja bangga, mamam aja sana Tuan kalian itu.’ Sahut Aletta di dalam hati.
“Eh paham gak!” bentak Amel.
“Iya.” Hanya itu sahutan dari Aletta.
“Heh! Amel! Alia! Kalian nagapain?!” suara Bi Ati langsung saja membuat kedua gadis itu pergi tanpa pamit.
“Aletta kamu gak apa-apa , mereka gak melakukan hal yang jahat padamu ‘kan?” tanya Bi Ati khawatir menatap Aletta menelisik.
Aletta menggelengkan kepalamya seraya tersenyum simpul. “Aletta baik-baik aja kok Bi.”
“Aletta kamu harus maklum sama mereka berdua, itu nmanya Amel dan Alia, mereka sangat terobsesi dengan Tuan Leo, bahkan keduanya dengan senang hati jika di bawa ke kamar oleh Tuan Leo, dan setiap ada orang baru, mereka itu akan bersikap senioritas di rumah ini, padahal posisi kita semua sama di rumah ini.” Jelas Bi Ati panjang lebar.
‘Pantas saja.’ Batin Bella seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Emm Bi Ati, apa Tua Leo memang selalu meniduri para pembantunya?” tanya Aletta tiba-tiba.
Bi Ati tertawa, “Tidak semua, saya dan beberapa pembantu lainnya tidak pernah sama sekali di sentuh oleh Tuan Leo. Ia hanya kan menyentuh gadis belia yanag memikiat hatinya.”
“Apa Amel dan Ali sering di sentuh olehnya?”
“Saya rasa tidak, karena sepengetahuan saya Tuan Leo itu tidak akan meniduri wanita lebih dari satu kali, Alia dan Amel memang pernah di tidurinya namun hanya satu kali.” Jelas Bi Ati.
Ada rasa lega di hati Aletta mendengar hal itu. ‘Itu artinya aku tidak akan di tiduri oleh lelaki berengsek itu lagi.’ Batin Aletta, bisa sedikit bernafas lega.
“Oh gitu ya Bi, tapi tadi Amel dan Alia berkata seakan–akan mereka sangat sering melakukannya .”
“Mereka itu hanya berkhayal sakin obesesinya sama Tuan Leo.” Sahut Bi Ati berbisik.
Aletta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
“Tunggu sebntar ya, Bi Sri akan segera datang mebawakan mu makanan.” Ucap Bi Ati .
Dan tak seberapa lama seorang wanita yang sedikit lebih muda dari Bi Ati datang dengan nampan berisi makanan dan minman.
“Aduh maafkan saya, merepotkan kalian berdua.” Ucap Aletta tak enak hati pada kedua wanita di hadapannya itu.
“Ih biasa aja atuh Neng geulis, kamu teh geulis pisan yak, pantes atuh langsung di bawa Tuan Leo ke kamar.” Ucap Bi Sri cengengesan sendiri.
“Is Sri.”Tegur Bi Ati menyenggol lengan wanita itu.
“Ehehe iya maaf-maaf.”
“Aletta, ini namanya Bi Sri, dia sama seperti Bibi, kamu kalau ada apa-apa bilang saja pada kami ya.” Ucap Bi Ati lemah lembut memperkenalkan Bi Sri.
“Iya siap Bi, terimakasih banyak sudah baik sama Aletta.” Aletta sedikit lega, setidaknya masih ada beberpa orang baik di rumah besar bak istana ini, begitu pikirnya.
“Sama-sama Neng cantik.” Sahut Bi Sri dengan senyuman.
“Ya sudah ya, kami pergi dulu, jangan lupa di makan makanannya ya Neng.” Pamit Bi Sri dan Bi Ati.
“Siap Bi, sekali lagi terimakasih banyak.”
“Iya sama-sama.”
Kedua wanita itu pun kembali keluar dari kamar meninggalkan Aletta seorang diri di dalam kamar.
***
Sementara di sebuah perusahaan besar, seorang CEO muda, tampan dan sangat di segani itu berjalan bak seorang pangeran dari negri dongeng. Seluruh karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat, ada pula beberapa karyawan yang menyapanya, meskipun tak pernah satu kali pun sapaan itu di jawab oleh sang atasan yang begitu arrogant itu.
“Kau sesekali harus bersikap lemah lembut sama bawahan.” Bisik lelaki dengan perawakan khas orang korea, dia adalah Mervin lelaki yang merupakan sahabat sekaligus seketarisnya di kantor.
“Ck itu hal yang merepotkan!” Itu sahutan yang selalu di jawab Leo.
“Kau selalu saja begitu.” Keduanya berjalan terus menuju ruangan khusus CEO yang berada di lantai teratas.
“Ku denger-denger kau dapat mainan baru di rumah, siapa yang ngutang?” tanya Mervin di dalam lift yang memang husus untuk CEO.
“Hm, mantan pekerja di sini.”
“Hah, serius? Siapa ? yang mana?” kaget Mervin.
Leo mentap kesal pada sang sahabat sekaligus seketarisnya itu. “Jangan banyak tanya, apa jadwal hari ini?” tanya Leo.
“Pertemuan dengan dewan direksi jam dua siang nanti.”
“Hm, setelah itu?”
“Kamu gak lupa ‘kan malam ini , Mami Papii mu serta Nenek, menyuruhmu datang ke rumah besar, untuk makan malam bersama mereka.” Ucap Mervin mengingatkan. Mervin memang tidak hanya mengurus segala kepentingan kantor, ia juga mengingatkan sang sahbat dengan urusan di luar kantor seperti pertemuan dengan keluarga besar lelaki itu, dan lain-lain.
“Cih! Sungguh merepotkan.” Decih Leo.
Leo memang sangat benci dengan yang namanya berkumpul keluarga, sama seperti keluarga kaya pada umumnya, yang di bahas jika bertemu adalah masalah yang sama yaitu perjodohan konyol. Itu pula yang terjadi pada lelaki itu, ia akan menajdi bulan-bulanan keluarganya jika bertemu, selalu di tanya mengenai menikah, menikah dan menikah, hal itu mebuat Leo malas pulang ke rumah megah orang tuanya itu.
“Bikin alasan untuk pertemuan malam mini.” Suruh Leo pada Mervin.
“Anjir! Gak ya! Itu mah sama aja kau ingin membunuh ku! Kau ingat terakhir kali aku ke sana menyampaikan alasan? Aku yang malah kena marah.” Dumel Mervin mebuat Leo terkikik geli. Memang selalu seperti itu, Mervin yang akan kena marah karena di anggap membantu Leo menghindar, Mervin sendiri seperti saudara Leo jika di kediaman orang tua Leo.
***
Jam demi jam pun berlalu, Aletta terbangun dari tidurnya yang rupanya sudah hampir malam. Pintu kamarnya kembali terbuka, rupanya Bi Sri yang masuk, dengan membawa beberapa peralatan mandi.
“Aletta, ini Bibi bawain handuk dan keperluan kamu yang lain.”
“Wah Terimkasih banyak Bi Sri, maaf Aletta merepokan Bibi ya?”
“Eihh kamu mah bilang gitu mulu, udah gak papa, ini memang tugas Bibi, sok atuh mandi, nanti keburu Tuan datang.” Suruh Bi Sri.
“Emangnya kenapa kalau Tuan datang Bi?”tanya Aletta dengan tampang polosnya.
Bi Sri malah terkikik geli sendiri dengan pipi yang memerah. “Enggak, gak papa, barangkali aja, Tuan mau mencumbu mu kembali.” Goda Bi Sri membuat mata Aletta membulat sempurna.
“Ehehe Bibi bercanda, ya sudah atuh ya Aletta, Bibi tinggal dulu.” Aletta pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum .
Rasa sakit di bawahnya sana pun sudah mulai mereda. Aletta mulai bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, untuk menyegarkan badannya yang benar-benar lengket.
‘Tidak mungkin si Tuan brengsek itu akan mencumbu ku lagi kan? ‘Kan kata Bi Ati dai tidak akan melakukannya dua kali dengan orang yang sama, jadi aku aman lah.’ Batin Aletta.