Hari ini aku baru saja tiba di rumah Maya setelah perjalanan panjang. Aku mengenakan gamis panjang berwarna pastel, dan berusaha merasa nyaman di tempat baru ini. Suamiku bekerja di kapal pesiar, jadi aku memutuskan untuk tinggal sementara dengan keluargaku.
Kakakku, Maya, adalah seorang single parent berusia 39 tahun, sembilan tahun lebih tua dariku. Sejak bercerai dua tahun lalu, dia harus merawat anaknya seorang diri. Meskipun menjalani hidup yang tidak mudah, Maya selalu menunjukkan ketangguhan dan kemandirian yang mengagumkan.
"Oh, Aldi! Sini sayang, ada yang ingin Ibu kenalkan," Maya dengan senyum cerah ketika seorang remaja lelaki memasuki rumah.
Aldi mengangkat bahu dan berjalan mendekat dengan tatapan penasaran. "Ada apa, Bu?"
"Ini Tante Rina, adik Ibu. Suaminya bekerja di kapal pesiar, jadi sekarang dia akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu," jelas Maya.
Aku menoleh dan tersenyum. "Hai, Aldi. Kamu sudah besar sekarang. Terakhir kali kita bertemu, kamu masih berusia lima tahun." Kini, Aldi adalah remaja 17 tahun dengan penampilan khas. Tingginya sekitar 170 cm, sedikit lebih tinggi dariku yang 165 cm. Tubuhnya tidak atletis, namun berisi..
Aldi mengangguk, berusaha mengingatku. "Selamat datang, Tante Rina," katanya sambil mencoba tersenyum. "Aku ke kamar dulu, Bu," lanjutnya sebelum bergegas menuju kamarnya.
Aku menatap Maya dan tersenyum. "Dia tampak lelah ya? Bagaimana di sekolah?"
Maya mengangguk. "Hari ini ada ujian matematika. Aldi memang sering merasa tertekan dengan pelajaran itu."
Aku menghela napas. "Semoga dia bisa lebih santai setelah ini."
Aku menatap Maya dan memberanikan diri untuk mulai pembicaraan yang lebih serius. "Ka, aku tidak berencana tinggal lama di sini. Hanya sampai aku menemukan tempat yang cocok," kataku dengan hati-hati.
Maya memelukku erat dan tersenyum lembut. "Rina, jangan khawatir. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu butuhkan. Sebenarnya, aku lebih senang jika kamu tinggal sampai suamimu, selesai kontrak 5 tahun di kapal pesiar. Aku dan Aldi hanya berdua di rumah ini, dan kehadiranmu sangat berarti buat kami."
Aku terkejut dengan tawarannya. "Tapi, Ka... 5 tahun itu waktu yang lama. Aku tidak ingin merepotkanmu terlalu lama."
Maya menggelengkan kepalanya dan menatapku dengan penuh kasih. "Kamu tidak merepotkan, Rina. Justru aku merasa lebih baik ada kamu di sini. Rumah ini terlalu besar untuk kami berdua saja. Dan Aldi juga akan merasa lebih baik dengan adanya kamu. Lagi pula, aku kadang harus keluar kota dan meninggalkan Aldi sendirian di rumah."
Aku tersentuh oleh kata-katanya dan merasa beban di pundakku mulai berkurang. "Terima kasih, Ka Maya. Kamu benar-benar kakak yang luar biasa. Aku akan memikirkan tawaranmu."
Maya tersenyum lebar. "Tidak perlu dipikirkan lagi. Kamu bagian dari keluarga ini, dan rumah ini selalu terbuka untukmu."
Kamipun berbincang hingga sore hari, mengenang masa kecil, menceritakan pengalaman dan berita terbaru. Tawa dan candaan yang kunikmati bersama Maya menghangatkan hati. Rasanya seperti menghidupkan kembali kenangan manis yang sudah lama terkubur oleh kesibukan masing-masing.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏🖊️
Malam itu, setelah beraktivitas seharian, aku memutuskan untuk mandi. Aku berjalan menuju kamar mandi di ujung koridor. Tanpa berpikir untuk mengunci pintu, aku mulai mengeringkan rambut setelah mandi. Tiba-tiba, pintu terbuka keras.
"Astaga!" seruku, terkejut melihat Aldi berdiri di sana, membeku di tempatnya. Matanya tak bisa lepas dari tubuhku yang tanpa sehelai benang pun.
"Aldi!" jeritku panik, berusaha menutupi tubuhku dengan handuk.
Aldi segera menutup pintu dengan keras. "Maaf, Tante! Aku tidak tahu kalau ada orang di dalam," teriaknya dari balik pintu.
Aku berdiri di sana, jantungku berdegup kencang. "Kenapa pintunya tidak aku kunci tadi? Ya Allah, semoga Aldi tidak berpikir macam-macam," pikirku dengan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. Cepat-cepat aku mengenakan handuk dan keluar dari kamar mandi, merasa malu dan khawatir.
Saat aku kembali ke kamarku, pikiran tentang kejadian tadi membuatku gelisah. "Kenapa ini harus terjadi?" bisikku pada diri sendiri sambil berbaring di tempat tidur. "Aku tidak boleh memikirkannya, ini salah," lanjutku mencoba menenangkan diri.
Namun, bayangan tubuh Aldi yang terkejut dan tatapan tak sengajanya terus muncul di benakku. "Ya Allah, beri aku kekuatan," doaku dalam hati, berharap kejadian ini tidak berdampak buruk pada Aldi. Aku berusaha memejamkan mata, tetapi rasa cemas dan malu terus menggangguku.
Ketika akhirnya aku terlelap, tidurnya tak nyenyak. Bayangan kejadian di kamar mandi terus menghantuiku, membuatku sering terbangun. "Aku harus bicara dengan Aldi besok," pikirku dalam hati, berharap bisa menjelaskan semuanya dan menghapus rasa canggung di antara kami.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏🖊️
Keesokan paginya, aku duduk di meja makan, mencoba menenangkan diri dengan secangkir teh hangat. Ada ketegangan yang menggantung di udara sejak kejadian tadi malam. Aku tahu aku harus berbicara dengan Aldi, tapi bagaimana caranya?
"Selamat pagi, Tante," suara Aldi terdengar pelan saat ia duduk di kursi berhadapan denganku.
"Selamat pagi, Aldi. Tidur nyenyak?" tanyaku dengan suara lembut, berusaha memecahkan kebekuan di antara kami.
"Ya, lumayan," jawabnya singkat. Aku bisa melihat dari matanya bahwa dia juga tidak tidur nyenyak.
"Rin, tehmu masih hangat?" tanya Maya dari dapur sambil menyiapkan cangkir teh tambahan.
"Masih, terima kasih," jawabku singkat, mencoba tetap tenang.
"Ayo makan, nanti keburu dingin," seru Maya sambil meletakkan cangkir teh di meja.
Aldi mengambil roti bakar di depannya, tetapi ia hanya menggigitnya sedikit. "Aku harus pergi sekarang, Bu. Ada tugas yang belum selesai di sekolah," katanya buru-buru, berusaha menghindari situasi yang tidak nyaman.
"Baiklah, hati-hati di jalan," jawab Maya sambil tersenyum.
Setelah Aldi pergi, aku menghela napas panjang. "Ya Allah, beri aku kekuatan," gumamku dalam hati. Aku tahu aku harus bicara dengan Aldi saat dia pulang nanti.
Hari itu terasa panjang. Aku mencoba sibuk dengan berbagai hal di rumah, tetapi pikiranku terus kembali ke kejadian malam itu. Bagaimana cara bicara dengan Aldi? Bagaimana agar hubungan kami kembali normal?
Ketika Aldi kembali dari sekolah, aku mendengar langkah kakinya menuju kamarnya. "Ini saatnya," pikirku. Aku berjalan pelan menuju kamarnya, hatiku berdebar kencang. Dengan suara cemas, aku mengetuk pintu kamarnya. "Aldi, boleh Tante masuk?"
"Ya, Tante. Masuk saja," jawabnya dengan suara yang sedikit gemetar.
Aku membuka pintu dan masuk dengan langkah pelan. Wajahnya tampak tegang, dan aku duduk di kursi dekat tempat tidurnya. "Kita perlu bicara," kataku dengan suara yang hampir berbisik.
"Tentang apa, Tante?" tanyanya meskipun ia sudah tahu jawabannya.
Aku menarik napas panjang sebelum berbicara. "Tentang kejadian semalam. Tante ingin kamu tahu bahwa Tante tidak marah. Itu hanya kecelakaan," kataku, suaraku bergetar sedikit di akhir kalimat.
"Maaf, Tante. Aku benar-benar tidak sengaja," ucapnya dengan nada penuh penyesalan, matanya menatap lantai.
"Tante tahu, Aldi. Tapi..." aku terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Tante juga minta maaf kalau itu membuat kamu tidak nyaman," lanjutku, mencoba tetap tenang meskipun jantungku berdebar kencang.
Ada jeda panjang yang penuh dengan keheningan yang canggung. "Aku akan berusaha melupakan kejadian itu," katanya pelan, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa itu tidak akan mudah.
Aku mengangguk perlahan, mencoba tersenyum meskipun senyumnya tampak dipaksakan. "Bagus. Kita harus tetap seperti biasa. Jangan biarkan ini mengganggu hubungan kita," jawabku, tetapi kata-kataku terdengar kurang meyakinkan, bahkan bagi diriku sendiri.
Setelah keluar dari kamar Aldi, aku merasa sedikit lega tetapi tetap khawatir. "Semoga ini tidak mengubah apa pun antara aku dan Aldi," pikirku, berharap hubungan kami tetap seperti biasa.
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku bisa mendengar setiap detak jantungku dan setiap suara kecil di sekitar rumah kakakku. Angin berhembus lembut melalui celah jendela, membuat tirai bergetar pelan. Aku duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan pikiranku yang penuh dengan kekhawatiran dan rasa bersalah. Hari itu terasa begitu panjang, dengan setiap detik seolah merayap lambat.
Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, berharap air dingin bisa menyegarkan pikiranku yang penat. Setelahnya, aku memutuskan untuk berkeliling rumah sebentar, mencoba mengalihkan pikiran. Ketika melewati kamar Aldi, langkahku tiba-tiba terhenti. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku mendengar suara-suara samar, suara desahan yang membuat dadaku berdebar.
Rasa penasaran dan kecemasan membawaku lebih dekat ke pintu kamar Aldi. Setiap langkah terasa berat, seolah ada beban tak terlihat yang menahan kakiku. Aku merasa seperti berada di ambang sebuah jurang, tidak tahu apakah aku harus melangkah maju atau mundur. Suara desahan itu semakin jelas, dan tiba-tiba namaku disebut dengan penuh hasrat, "Ahhh... Tantee... Rina...". Tubuhku membeku, dan dunia seolah berhenti berputar.
Aku berusaha untuk tidak membuat suara, tetapi perasaanku campur aduk. Aku tahu bahwa mendengarkan lebih lama hanya akan memperburuk keadaan, namun aku tidak bisa menggerakkan kakiku untuk pergi. Akhirnya, dengan hati-hati, aku melangkah mundur dan kembali ke kamarku, berusaha mengabaikan apa yang baru saja kudengar.
Di kamarku, aku berbaring dengan pikiran yang berkecamuk. "Kenapa Aldi meracaukan namaku?" pikirku, hatiku dipenuhi kebingungan dan penasaran. Aku mencoba membayangkan apa yang mungkin dilakukan Aldi hingga menyebut namaku dengan begitu intens. Pikiranku berkelana ke berbagai kemungkinan, tetapi setiap bayangan hanya membuatku semakin bingung dan gelisah. "Apa yang sebenarnya terjadi di antara kita?" tanyaku dalam hati, merasa campur aduk antara rasa malu dan keingintahuan.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏🖊️
Hari-hari berlalu dengan Aldi yang semakin sulit mengendalikan hasratnya. Setiap kali dia melihat lekukan tubuhku, perasaannya bergejolak. Aku bisa merasakan perubahan itu; tatapan Aldi yang semakin intens membuatku salah tingkah dan kikuk.
Suatu hari, saat aku sedang di dapur, aku memanggil Aldi. “Aldi, bisa tolong ambilkan panci di atas rak sana?” tanyaku, berusaha tetap tenang.
Aldi berjalan mendekat dan menatapku dengan pandangan yang begitu dalam. Tanganku gemetar, panci itu hampir terlepas dari genggamanku. "Maaf, Tante," kata Aldi cepat-cepat, tetapi tatapannya tetap penuh dengan hasrat yang tak bisa disembunyikan.
"Tak apa, Aldi. Terima kasih," jawabku sambil mencoba tersenyum, meskipun hatiku berdebar-debar. Aku merasa canggung dan bingung.
Malam itu, aku duduk di tempat tidur, memikirkan apa yang harus kulakukan. Tatapan Aldi tadi siang terus terbayang di pikiranku. "Kenapa ini harus terjadi?" pikirku, merasa gelisah dan bingung.
Ketika aku sedang lewat di depan kamar Aldi, aku mendengar suara yang sangat dikenalnya. Aldi kembali meracaukan namaku dalam desahan yang penuh gairah. "Ahh, Tante," suara itu terdengar jelas dari balik pintu.
Aku terdiam di depan pintu, tidak tahu harus bagaimana. Perasaanku campur aduk antara rasa malu, bingung, dan marah. Dengan hati yang berat, aku kembali ke kamarku, merasa tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.
Di dalam kamar, aku duduk menghadap kaca, melihat bayangan diriku yang berkerudung. "Kenapa ini terjadi?" pikirku. Aku merasa jijik, bukan hanya pada apa yang Aldi lakukan, tetapi juga pada perasaan aneh yang muncul dalam diriku.
Saat aku berbaring di tempat tidur, pikiranku tidak bisa berhenti berputar. "Apa yang sebenarnya terjadi di antara kami?" tanyaku dalam hati, merasa campur aduk antara rasa malu, marah, dan bingung. Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Ini tidak benar," gumamku, merasa cemas dan tak berdaya. Aku tahu bahwa aku harus berbicara dengan Aldi tentang hal ini, tetapi keberanian untuk melakukannya tampak menguap setiap kali aku memikirkannya.
Tetapi pada saat yang sama, aku tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang terus muncul setiap kali aku mengingat tatapan Aldi. "Apa yang sebenarnya terjadi di antara kami?" tanyaku lagi dalam hati, merasa campur aduk antara rasa malu, marah, dan bingung.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏🖊️
Pada hari itu, hanya Aldi dan aku yang berada di rumah karena Maya sedang tidak ada. Saat aku sedang makan siang, Aldi mendekatiku. "Tante Rina, bolehkah aku membantu?" tanyanya dengan suara tenang.
Aku tersenyum padanya. "Ah, tidak perlu, Aldi. Terima kasih."
Aku berbalik untuk mengambil sesuatu dari lemari. Sambil mengatur piring, aku mendengar suara kecil di belakangku, namun tidak terlalu memikirkannya. "Apa kamu butuh sesuatu, Aldi?" tanyaku sambil menoleh.
"Eh, tidak, Tante. Aku hanya mengambil air," jawabnya sedikit canggung.
Aku kembali duduk di meja dan melanjutkan makan siang tanpa curiga. Aldi berdiri di sudut ruangan, sibuk dengan sesuatu, namun aku sedikit heran mengapa dia terus menatap gelas di depanku.
Setelah makan siang, aku bergabung dengan Aldi di ruang keluarga untuk menonton TV. Perlahan, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhku. "Duh, kenapa ya?" gumamku dalam hati, mencoba memahami perubahan yang aku rasakan. Tubuhku terasa lebih sensitif dan gairahku mulai meningkat.
Aku melihat Aldi yang begitu jeli mengamati setiap perubahan kecil pada diriku. Dia tampak sadar betul saat aku mulai merasa tidak nyaman.
Aldi kemudian mendekatiku dan mulai mengajakku berbincang sambil menyentuhku dengan lembut. "Tante, kelihatan lelah. Mungkin perlu istirahat?" tanyanya sambil meraba pundakku dengan lembut
Sentuhannya membuatku semakin gelisah. "Aldi, tolong jangan begitu. Tante merasa tidak nyaman," ujarku mencoba menolak dengan halus.
Aku akhirnya beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar tidurku, berharap bisa menemukan ketenangan. Namun, Aldi mengikutiku. Saat aku sampai di kamar, dia memelukku dari belakang. "Tante Rina... Aldi ingin," desahnya dengan suara rendah penuh hasrat.
Bagaikan petir menyambar, aku tersentak mendengar desahannya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. "Aldi, tolong jangan seperti ini," bisikku dengan suara gemetar, berusaha melepas cengkeramannya dari tubuhku. Namun, kekuatannya jauh lebih besar, dan postur tubuhnya yang tegap membuatku sulit melepaskan diri.
Aku merasa tubuhku semakin terpojok saat tangan Aldi mulai menggerayangi pundak, lengan, dan punggungku dengan penuh nafsu. Rasa takut dan kebingungan semakin menguasai diriku, namun aku tidak bisa memarahi atau menolak Aldi dengan keras. "Aldi, tolong... Tante nggak nyaman," kataku lagi, berusaha menahan tangis yang semakin besar.
Aldi tidak mendengarkan permohonanku. Hasratnya yang sudah menggebu membuatnya semakin tidak terkendali. Dia semakin erat memelukku, seolah berusaha memastikan bahwa aku tidak akan kemana-mana. Tangannya mulai meremas-remas payudaraku dengan penuh gairah, sementara napasnya semakin panas dan cepat. Batangnya yang mengeras pun menekan-nekan pada bokongku, menciptakan sensasi yang tidak bisa diabaikan. Aku merasa bingung dan terperangkap dalam situasi yang menyesakkan, tidak tahu harus berbuat apa.
Aku merasa lemah dan bingung saat Aldi mendekatiku. "Hentikan Aldi, ini tidak benar. Tante tidak bisa," kataku mencoba menenangkan situasi, meskipun suaraku terdengar lemah.
"Kenapa Tante? Aku sudah sangat menginginkan ini. Tante juga mulai merasakannya, kan?" Aldi mendesah lirih sambil menempelkan wajahnya di leherku. Sentuhannya membuatku merinding, tetapi aku tahu ini salah.
"Jangan seperti ini. Kita akan menyesal nanti. Ini tidak boleh terjadi." Suaraku bergetar, aku berusaha tetap tegar meskipun hatiku gelisah.
"Menyesal? Aku enggak bakal menyesal, Tante. Aku justru akan menikmatinya dan aku yakin Tante juga akan menikmatinya." Aldi menyentuh lebih dalam, menciptakan gelombang panas di sekujur tubuhku. Aku merasa makin terpojok, air mata mulai menggenang di mataku.
"Tolong, Aldi. Tante mohon, hentikan ini sebelum terlambat." Aku mengalihkan pandanganku, berusaha menjauh dari lengan Aldi yang semakin menguasai tubuhku.
"Tante, jangan munafik. Aku tahu Tante juga menginginkannya, tubuh Tante sudah berbicara banyak. Biarkan aku memuaskan hasrat kita berdua." Aldi semakin mendekap erat, tidak memberikan ruang bagiku untuk menghindar.
"Tidak, Aldi. Ini tidak benar. Kita harus hentikan sekarang." Aku mencoba menahan air mataku, namun perasaan takut dan bingung semakin menguasai diriku.
"Kalau Tante benar-benar tidak mau, kenapa tubuh Tante merespons begini? Aku bisa rasakan kehangatannya, keinginan yang sama." Aldi semakin agresif, menciptakan ketegangan yang memuncak.
"Aku mohon, jangan teruskan." Akhirnya, air mata mulai mengalir di pipiku, rasa takut dan bingung menguasai diriku. Aku merasa tak berdaya, terperangkap dalam situasi yang semakin tidak terkendali.
"Udah telanjur, Tante. Kita nikmati aja momen ini." Aldi semakin mengerahkan tenaganya, membuatku tak berdaya untuk melawan. Aku hanya bisa berharap ada keajaiban yang menghentikan segala ini, tetapi di dalam hatiku, aku tahu bahwa situasi ini sudah terlalu jauh.
Tiba-tiba Aldi menghempaskanku ke kasur dengan kekuatannya. Aku terkejut dan ketakutan, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tatapannya penuh nafsu, matanya berkilat seakan ingin menguasaiku sepenuhnya. Dengan cepat dan kasar, dia menyingkirkan atasan bajuku, membuat suara robekan yang mengerikan di tengah keheningan malam itu.
"Tante, payudara tante bikin Aldi gak tahan, tante," bisiknya dengan nafas memburu, sambil menatap penuh nafsu pada tubuhku yang setengah telanjang. Tangannya bergerak dengan kasar, mencengkeram bahuku yang gemetar. Aku hanya bisa bergetar dan terisak, merasa semakin terpojok dalam situasi yang tidak kuinginkan. Tangisanku pecah, namun tidak ada yang mendengar, seolah dunia di sekitar kami telah berhenti bergerak.
"Aldi, jangan!" jeritku sambil berusaha menyingkirkan Aldi dengan kekuatanku. Tapi apa daya, tenaganya lebih besar untuk menahan tubuhku. Aldi dengan mudah menahan gerakanku, membuatku semakin putus asa. Aku berusaha meronta, tapi usahaku sia-sia. Tubuhnya yang lebih besar dan kuat membuatku sulit untuk melawan. Dalam keputusasaanku, aku hanya bisa berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkanku dari cengkeraman Aldi.
Dengan sedikit usaha, akhirnya Aldi pun dapat menyingkirkan bra yang kupakai, dan payudaraku pun terlihat jelas tanpa penghalang. "Tante, Aldi gak tahan, Tante," dengan hasrat menggebu mulutnya pun menggerayangi payudaraku. Putingku dia jilat-jilat dan dihisapnya bagaikan anak bayi kelaparan. "Aldi, tolong Aldi jangan," lirihku sambil berusaha menyingkirkan Aldi. Namun, kekuatannya terlalu besar, dan aku hanya bisa menangis dalam keputusasaan, berharap ada keajaiban yang menghentikan segala ini.
"Aldi, tolong hentikan. Aku mohon... jangan lakukan ini..." Isakanku semakin keras saat air mata membasahi wajahku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, hanya berharap kata-kataku bisa menyentuh hatinya. Namun, tatapan Aldi penuh dengan hasrat yang tak terkendali, matanya tak lepas memandangi tubuhku.
"Tante, tubuhmu begitu indah. Aku sudah lama menginginkannya, sangat lama. Setiap melihatmu, aku hanya bisa bayangkan bagaimana rasanya memilikimu," suaranya terdengar serak, dipenuhi nafsu yang mengerikan. Aku merasa semakin terjebak dalam situasi yang menakutkan ini.
"Aku tidak bisa, Aldi. Ini salah, sangat salah. Kita tidak boleh melanjutkan ini," suaraku bergetar, penuh dengan ketakutan. Aku berharap dia bisa mengerti, bisa berhenti. Tapi tubuhku sendiri mulai lemah, energiku terkuras dalam usaha untuk melawan.
"Kenapa, Tante? Aku yakin Tante juga merasakannya. Lihatlah bagaimana tubuhmu meresponsku. Aku tidak bisa menahan nafsu ini. Tante sangat menggairahkan," desahnya semakin mendalam, tangannya mulai meraba lebih dalam tubuhku. Aku merasa jijik, namun tubuhku tidak bisa bergerak.
"Tolong, Aldi. Jangan lakukan ini. Kita akan menyesal seumur hidup," suaraku makin lemah, hampir tidak terdengar. Ketakutan dan keputusasaan memenuhi hatiku, membuatku merasa semakin tak berdaya.
"Aku tidak akan menyesal, Tante. Setiap detik aku menginginkan ini. Tubuhmu... kehangatanmu... semua membuatku tergila-gila," jawabnya dengan agresif, seolah tidak lagi memiliki kendali atas dirinya sendiri. Aku merasa seperti mainan di tangannya, tidak bisa melarikan diri dari cengkeramannya.
"Aldi, aku mohon. Lepaskan aku... tolong," air mataku terus mengalir, setiap kata dipenuhi dengan harapan yang semakin tipis. Tapi, Aldi semakin agresif, suaranya semakin rendah dan bergairah, tangannya tak henti menjelajahi tubuhku. Aku merasa seperti berada dalam mimpi buruk yang tidak pernah berakhir, dan tidak ada satu pun yang bisa menyelamatkanku.
Dalam hati aku berteriak, "Ya Allah, bagaimana ini? Suamiku, maafkan istrimu yang tidak berdaya ini." Tubuhku sudah tidak mampu bergerak melawan kekuatan Aldi yang semakin menggila. Perasaanku campur aduk antara ketakutan, penyesalan, dan ketidakberdayaan. Dalam keterpurukanku, aku hanya bisa berharap ada keajaiban yang bisa menghentikan semua ini dan mengembalikan ketenangan dalam hidupku.
Tangannya yang kasar dan penuh nafsu bergerak cepat, membuka celananya untuk mengeluarkan batang kemaluannya yang sedari tadi mengeras. Aku bisa mendengar desah pelannya ketika batang itu akhirnya bebas, berdiri tegak penuh keinginan. Dengan penuh hasrat, dia mulai menggesek-gesekkan batang kemaluannya di selangkanganku, menciptakan sensasi hangat dan geli yang sangat intens. Aku hanya bisa menggigil dan menangis, merasa tubuhku semakin tertawan dalam gairah yang tidak kuinginkan. Tangis dan permohonanku sudah tidak lagi terdengar, seolah hilang dalam gelombang nafsu yang menguasai Aldi sepenuhnya.
Tiba-tiba, terdengar suara klakson mobil di luar rumah, "tin tinnn tin tinn". Aldi segera menghentikan aksinya, terkejut mendengar suara yang menginterupsi momen tersebut. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menutupi diriku dengan selimut, masih terisak dan gemetar.
"Sial, itu memang ibu," kata Aldi setengah berbisik, sambil cepat-cepat merapikan kembali pakaiannya. Aku merasa sedikit lega, meski tubuhku masih gemetar. Suara ketukan di pintu semakin memecahkan keheningan.
"Aldi, kamu di rumah? Bukain pintu, Nak!" Suara Maya terdengar jelas dan tegas dari balik pintu.
Dengan rasa panik, Aldi menatapku sekali lagi sebelum bergegas menuju pintu. Dia mencoba membuat dirinya terlihat tenang dan biasa saja, meski aku tahu jantungnya pasti berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap momen ini benar-benar berakhir dan aku bisa kembali menemukan ketenangan dalam hidupku.
Dengan cepat, aku menutup dan mengunci pintu kamar, berusaha menenangkan diri dari trauma yang baru saja ku alami. Tangisku belum reda dan aku meringkuk di atas kasur. Dalam kepasrahanku, tubuhku masih menggigil ketakutan, merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Setiap kali mengingat apa yang hampir menimpaku, tubuhku bergetar hebat, seolah mencoba mengeluarkan sisa-sisa kecemasan yang masih tertinggal.