Bagaskara Dharma, pria gagah berusia 59 tahun, biasa disapa Pak Bagas atau Mayor Bagas, melangkah keluar dari rumahnya, menghirup udara yang masih segar. Embun sudah tidak ada yang menempel di dedaunan. Di tangannya, sebuah senapan angin tergenggam santai, bukan untuk berburu sungguhan, hanya untuk mengisi waktu dengan sedikit keisengan.
Ia berjalan pelan, matanya menyapu ke sekeliling. Pepohonan rindang berdiri kokoh, suara burung-burung bernyanyi di antara dahan-dahan tinggi. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak pelan di tanah.
Pak Bagas mengangkat senapannya, membidik sebuah ranting kering di kejauhan. Ia menarik napas, menahan selama beberapa detik, lalu menarik pelatuk.
Pletak!
Ranting itu patah dan jatuh ke tanah. Ia menyeringai kecil, menikmati kepuasan sederhana dari tembakannya yang tepat sasaran.
Ia melanjutkan langkahnya, melihat seekor tupai kecil di cabang pohon, ekornya bergerak-gerak, sontak matanya menatapnya penuh waspada. Pak Bagas tersenyum, menurunkan senapannya. Ia bukan pemburu, dan pagi ini ia pergi bukan untuk membunuh.
Angin berembus pelan, membawa aroma rumput dan dedaunan. Pak Bagas terus berjalan, menikmati ketenangan limgkungannya, di antara alam yang hanya membalas keisengannya dengan bisikan lembut pepohonan.
Pak Bagas melangkah lebih jauh hingga tiba di tepian sungai kecil yang membelah hutan. Airnya jernih, mengalir tenang dengan suara gemericik yang menenangkan. Ia baru saja hendak duduk di atas batu besar, menikmati hari yang damai, ketika matanya menangkap sesuatu di seberang.
Seketika, tubuhnya menegang.
Di bawah rimbunnya dedaunan, tersembunyi dari jalur utama, ada sepasang manusia yang sedang melakukan sesuatu yang sangat mencurigan. Bersetubuh. Gerakan mereka begitu alami, liar namun intim, seakan dunia hanya milik mereka berdua. Kulit mereka berkilau oleh pantulan cahaya matahari yang menyelinap di antara ranting-ranting.
Gelombang kecil di permukaan air menunjukkan bahwa mereka mungkin sempat bermain di sungai sebelum semuanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mendebarkan.
Pak Bagas tetap diam, bukan karena takut ketahuan, tapi lebih karena pemandangan ini begitu mengejutkan dan tak terduga. Ia bahkan tidak tahu siapa mereka, dari mana mereka datang. Apakah sepasang kekasih yang sengaja mencari ketenangan di alam? Atau mungkin pasangan terlarang yang memanfaatkan kesunyian tempat ini untuk melampiaskan hasrat?
Ia menelan ludah, tiba-tiba merasa seperti penyusup di sebuah adegan yang seharusnya bukan untuk matanya. Jari-jarinya menggenggam senapan angin lebih erat, bukan karena gelisah, tapi lebih karena dorongan naluriah sebagai Purnawirawan TNI alias Pensiunan Tentara untuk tetap siaga.
Pak Bagas menahan napas sejenak, lalu melangkah lebih dekat, berusaha tidak menimbulkan suara di antara semak-semak. Daun-daun kering di bawah kakinya sedikit berdesir, tapi suara gemericik air dan desahan halus dari pasangan di seberang tampaknya lebih mendominasi.
Dari celah dedaunan, ia mengintip, mencoba mengenali wajah mereka. Namun, masih belum terlihat jelas wajahnya.
Lelakinya tampak kekar, dengan rambut sedikit gondrong yang tergerai di bahunya, sementara perempuan itu memiliki tubuh ramping dengan kulit kecokelatan yang berkilau oleh sinar matahari. Sepertinya mereka bukan orang-orang yang pernah ia temui di kota sekitar.
Jantung Pak Bagas berdetak lebih cepat, bukan karena terangsang, tapi karena perasaan aneh yang menyusup dalam dirinya. Ada sesuatu yang begitu liar dan primitif dalam cara mereka bersetubuh, seakan mereka bagian dari alam itu sendiri, tanpa beban, tanpa peduli apakah ada orang lain yang akan melihat segala tindakan tak pantasnya.
Pak Bagas bisa saja berbalik pergi, meninggalkan mereka dengan privasi yang seharusnya tetap terjaga. Tapi nalurinya berkata lain. Entah mengapa, ia tetap berdiri di sana, mengamati dalam diam.
Pak Bagas masih berdiri di balik semak-semak, napasnya tertahan saat menyaksikan bagaimana pasangan itu larut dalam dunianya sendiri. Ada sesuatu yang ganjil dalam perasaannya, bukan sekadar rasa bersalah karena mengintip, melainkan sesuatu yang lebih primitif.
Matanya mengikuti gerakan mereka. Cara lelaki itu menyusuri lekuk tubuh pasangannya dengan penuh penghayatan, sementara perempuan itu menengadah, seolah menyerahkan diri sepenuhnya. Mereka begitu alami, seakan alam ini memang milik mereka. Pak Bagas berusaha memperhatikan wajah mereka, namun masih belum jelas.
Namun, tiba-tiba, sesuatu membuat bulu kuduk Pak Bagas meremang. Dari balik punggung lelaki itu, ia melihat sekelebat bayangan bergerak di antara pepohonan. Seperti mata yang mengintai. Sepertinya bukan hanya dia yang menyaksikan adegan ini. Ada orang lain di luar sana.
Pak Bagas segera merapatkan tubuhnya ke batang pohon, matanya menyipit, mencoba menelusuri siapa atau apa yang mengawasi dari kejauhan. Sensasi mencekam mengusik gairah yang sempat hadir, dan kini, ia lebih fokus pada satu hal-apakah pasangan itu dalam bahaya? Ataukah justru dirinya yang harus bersiap menghadapi sesuatu?
Pak Bagas masih menempel di batang pohon, napasnya berusaha dikendalikan. Dari celah dedaunan, ia kembali mengintip ke arah pasangan paruh baya yang masih tenggelam dalam pusaran gairah. Sang wanita menggeliat dalam pelukan pasangannya, jemarinya mencengkeram rerumputan, sementara bibirnya merekah, mengerang dalam kenikmatan yang semakin memuncak.
"Mas Badriiiii... ahh... Mas Badriii..."
Jantung Pak Bagas berdegup keras. Tubuhnya menegang seketika.
Nama itu menggema di udara, menyusup ke dalam kepalanya seperti sesuatu yang tak terduga. Matanya menatap lekat wajah perempuan itu, bukan nama yang dia ingat namun samar-samar, merasa sangat familiar dengan suara itu. Namun, dalam keadaan seperti ini, sulit baginya untuk memastikan.
Setelah sekian menit, pasangan itu akhirnya mencapai puncak. Napas mereka tersengal, gerakan mulai melambat, dan setelah beberapa saat, mereka pun mulai berbenah. Dengan gerakan santai, pria itu menarik celananya, sementara sang wanita merapikan rambut dan mengenakan pakaiannya kembali, lengkap dengan kerudungnya.
Namun, rasa penasaran Pak Bagas terlalu kuat.
Ia melangkah keluar dari persembunyiannya.
Ranting kering yang terinjak di bawah kakinya berbunyi nyaring. Pasangan itu sontak menoleh, mata mereka membelalak begitu melihat sosok pria yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan-dengan senapan angin di tangannya.
"W-Who the hell-" si pria terkejut, langkahnya mundur waspada.
Sang wanita juga terdiam, wajahnya memucat saat mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.
Pak Bagas tidak langsung bicara. Tatapannya menelusuri wajah si wanita itu yang kini kembali telah tertutup semua auratnya. Dengan jarak yang lebih dekat, semuanya menjadi jelas. Dan itu membuat dada Pak Bagas semakin bergemuruh.
Sang Komandan masih berdiri tegak, menahan denyut yang menggedor dadanya. Matanya menyipit, menelisik wanita yang kini berdiri kaku di hadapannya. Wajahnya tampak pucat, seperti orang yang tertangkap basah mencuri sekaleng cat di toko bangunan.
"Bu Hajah..." Suara Pak Bagas serak, menghambur bersama angin sore.
Wanita berusia 40 tahun itu menelan ludah, matanya berkedip cepat, seolah mencari cara untuk menghindari situasi ini. Sementara itu, pria di sampingnya-yang diperkirakan berusia 30 tahun, memperkenalkan diri sebagai Badri dengan penuh percaya diri. Malah menyeringai kecil, ekspresinya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
"Kenapa? Lihat-lihat begitu? Kau kenal dia?" Badri bertanya santai, melirik wanita itu dengan nada bangga.
Pak Bagas mengabaikannya, fokusnya hanya pada wanita itu. Kini ia semakin yakin, wanita itu adalah Bu Hajah Soraya, istri kedua Pak Haji Fuadi-pemilik toko bangunan sekaligus besannya, atau mertua Niken, anak sulungnya selama lebih dari 15 tahun.
Meski begitu, Pak Bagas memang belum terlalu akrab dengan Bu Soraya. Ia lebih sering berurusan dengan Bu Hajah Linda, istri pertama Pak Fuadi, karena memang Bu Hajah Linda lah ibu dari Zaki, suaminya Niken, alias menantunya. Hanya pernah beberapa kali ia bertemu Bu Soraya di toko matrialnya yang baru.
"Bu Hajah istrinya Pak Haji Fuadi, kan?" Pak Bagas akhirnya membuka suara, untuk memastikan. Nadanya lebih rendah, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
Bu Soraya tersentak. Bibirnya terbuka seolah ingin membantah, tapi tak ada kata-kata yang keluar.
Badri terkekeh, melipat tangan di depan dada. "Wah, terkenal juga ya Bu Hajah? Dengar, Bung," katanya dengan nada meremehkan, "kami hanya bersenang-senang. Tidak ada yang perlu diributkan."
Pak Bagas mengencangkan rahangnya. "Dan kamu... Badri. Saya pernah dengar namamu. Preman parkiran di kecamatan sebelah, kan?"
Badri mendengus, matanya menyipit menilai Pak Bagas dari atas ke bawah. "Ya, jadi mau sok jadi pahlawan di sini?"
Pak Bagas mengabaikan sindiran itu. Matanya masih tertuju pada Bu Soraya, yang kini menunduk, menggigit bibirnya sendiri. Ada ketakutan di wajahnya, atau mungkin rasa bersalah?
"Kamu tinggal di mana?" Pak Bagas bertanya lagi, kali ini suaranya lebih dingin.
Badri mengangkat dagu ke arah pepohonan di seberang sungai. "Rumah gue di atas sana. Kami hanya menghabiskan waktu bersama di sini. Lu ini siapa, sih? Sok kenal, sok ngatur? Tentara atau Polisi?"
Pak Bagas tidak segera menjawab. Pikirannya masih berputar, mencoba memahami situasi ini. Bagaimana bisa istri kedua besannya yang dalam kesehariannya sangat naggun dan syar'i, bersama seorang tukang parkir atau mungkin preman lokal yang jauh dari kata tampan?
Ada sesuatu yang tidak beres.
Pak Bagas masih berdiri di sana, senapan angin tergenggam erat di tangannya. Bu Soraya masih menunduk, jilbabnya acak-acakan menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena malu dan panik. Sementara Badri, pria dengan rahang kasar dan mata penuh curiga, berdiri tegak, seolah siap menghadapi ancaman apa pun.
Suara angin berbisik di sela dedaunan, menggiring keheningan yang semakin menekan. Hanya suara napas mereka yang terdengar berat dan tertahan.
"Saya cuma lewat," suara Pak Bagas akhirnya terdengar, tenang namun dingin.
Bu Soraya mendongak, sorot matanya memohon. Badri mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
Pak Bagas menatap mereka bergantian, membiarkan kesunyian berbicara lebih lama. Ada kekuatan dalam diam, dan dia menikmatinya. Dia bisa saja bicara banyak, bisa saja menghakimi, atau bahkan melontarkan ancaman serta menyeret mereka ke pihak berwajib. Tapi tidak.
Ia hanya membiarkan dua insan mesum itu tenggelam dalam ketakutan mereka sendiri.
"Lain kali, pilih tempat yang lebih aman, Bu Hajah." Itu saja kalimat terakhirnya, kemudian berbalik dan melangkah pergi, membiarkan tanah basah di bawah sepatunya mengisyaratkan keberadaannya yang perlahan menjauh.
Pak Bagas tiba di rumahnya, melemparkan senapan angin ke atas meja kayu di teras, lalu melepas kaos dan celana panjangnya yang sudah basah oleh keringat dan embun pagi. Napasnya masih sedikit berat, bukan karena lelah, tapi pikirannya terus berputar.
Apa yang membuat Bu Soraya memilih pria seperti itu untuk berselingkuh?
Sudah habiskah pria yang lebih tampan?
Mengapa harus melakukannya di semak belukar yang bersiko tinggi?
Bagaimana kalau ada ular berbisa?
"Dunia ini benar-benar penuh misteri."
^*^
Sorenya di lapangan tenis yang sudah menjadi tempat favoritnya, Pak Bagas dan Erni sedang asyik bermain. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, terutama sejak Yudis, anak kedua Pak Bagas, suaminya Erni, pergi ke Jepang untuk pendidikan singkat selama dua tiga bulan. Sebelumnya mereka selalu bertiga.
Latihan tenis menjadi rutinitas yang mereka nikmati, tanpa banyak kata-kata berlebihan, namun dengan keakraban yang terasa tulus.
"Ayah, kok makin jago aja sih!" goda Erni sambil menyeka keringat di dahinya. Wajahnya lelah, tapi penuh senyum.
Pak Bagas tertawa kecil, menyapu keringat di dahinya juga. "Kalau gak ada kamu, Ayah udah males latihan. Kamu yang bikin Ayah semangat terus."
Pukulan demi pukulan mereka lemparkan ke net, diiringi canda ringan. Di sela-sela permainan, obrolan sederhana mengalir.
"Yudis gimana di sana?" tanya Pak Bagas, menarik napas sejenak sambil menatap Erni.
Erni mengangguk pelan. "Baik, Yah. Tapi, tiga bulan tanpa dia tuh terasa lama banget. Rumah jadi sepi."
"Kan ada Gita dan Aldi?" timpal Pak Bagas.
"Iya sih, tapi tetep aja beda, Yah."
Pak Bagas mengangguk mengerti dan menyadari makna kesepian yang dirasakan menantunya. Seketika pikirannya melayang pada Bu Soraya, mungkinkah dia juga kesepian? Pak Fuadi selalu ada, hanya mungkin datang digilir dengan Bu Hajah Linda istri pertamanya.
"Sabar. Tapi kamu masih punya keluarga besar di sini. Terutama ada ayah, kapan pun mau ngobrol atau main tenis, tinggal ajak ayah," hibur Pak Bagas.
Erni tersenyum, matanya berbinar hangat. "Iya, untung ada Ayah Mertua yang sangat pengertian, kalau gak, aku udah kebosanan, tidak ada penyaluran, hehehe."
Sore itu, Erni mengenakan pakaian tenis berwarna cerah-atasan kuning muda dan rok tenis putih yang dipagu dengan legging dan manset hitam, serta jilbab hitam yang simple. Keringat membasahi wajahnya, namun hal itu tak mengurangi pesona semangat yang terpancar darinya.
Sementara itu, Pak Bagas tampak santai dengan celana pendek hitam dan kaos berkerah warna biru tua. Meski sudah berumur, tubuhnya masih tampak bugar, hasil dari rajin berolahraga.
Mereka tampak serasi di lapangan. Keterampilan bermain tenis, canda dan tawa mewarnai setiap pukulan, seakan hubungan mereka hanyalah sebatas mertua dan menantu yang akrab. Namun, di balik itu, bisa jadi ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Mungkin perasaan samar yang tanpa mereka sadari.
Permainan selesai, dan mereka berdua duduk di bangku pinggir lapangan, mengatur napas sambil menikmati angin sore. Meski tidak diucapkan, ada kehangatan di antara mereka yang semakin terasa akrab.
Pak Bagas menyerahkan handuk kecil pada Erni. "Kamu tadi mainnya bagus banget, Er."
Erni menerima handuk itu dengan senyum tipis. "Makasih, Yah. Kalau gak ada Ayah yang rutin ngajak latihan, aku udah lama berhenti olahraga."
Mereka tertawa kecil, menikmati obrolan yang terasa ringan. Keduanya duduk berdekatan, tanpa jarak yang mengganggu.
Selesai berlatih, seperti biasa Pak Bagas mengantar Erni pulang. Lapangan tenis memang tak jauh dari rumah Erni, jadi mereka berjalan santai sambil menikmati suasana sore. Sementara sepeda Pak Bagas diparkir di depan rumah Erni.
"Ayah, capek gak? Tadi seru banget mainnya," ucap Erni dengan lirikan manis.
Pak Bagas tersenyum, tak bisa menahan tawa kecil. "Lumayan capek, tapi kalau main sama kamu, selalu jadi semangat."
Erni tertawa lembut mendengar candaan itu, mereka terus berjalan santai. Meski percakapan mereka ringan, suasana keakraban begitu kental. Mereka seolah tak perlu banyak bicara untuk merasakan kenyamanan satu sama lain.
"Hari Minggu ayah mau kondangan ke mertuanya si Letda, kamu mau ikut gak, Er?"
"Oh, keluarganya Sinta ya, wah kejauahn Yah, anak-anak gak bisa ikut deh, kan mereka sekolah, kalau ke sana bolak-balik capek. Dulu aja waktu ikut ngebesan, kelelahan. Jalan kampungnya masih rusak parah sih. Ayah sama siapa ke sana?"
"Ya paling sendirian. Gak enak kalau gak ada perwakilan dari keluarga kita. Lagian Letda Nurdin juga katanya gak bisa pulang dari Papua."
"Iya, aku juga paling titip amplop sama salam aja buat mereka."
"Iya, Ibu, Niken, Hendri dan Azizah juga begitu, pada mau nitip sama ayah, hehehe."
Sampai di depan rumah Erni, mereka berhenti sejenak. Rumah terasa sunyi, berbeda dengan kehangatan sore yang mereka nikmati.
"Masuk dulu, Yah. Minum teh sebentar sebelum pulang," ajak Erni dengan nada lembut.
Pak Bagas menatap Erni dan tersenyum. "Boleh, tapi cuma sebentar, ya. Nanti Ayah malah betah di sini."
Erni tertawa kecil, mengajaknya masuk. Keduanya tampak biasa saja. Namun ada kehangatan yang tak bisa diabaikan.
Saat Erni berdiri di depan meja makan, membuat teh, suasana di dapur begitu hening. Tangan Erni yang sedang mengaduk teh bergetar sedikit, namun dia berusaha tampak tenang.
Dari sudut matanya, dia bisa merasakan kehadiran mertuanya semakin mendekat. Jantungnya berdebar-debar, sementara pikirannya berkecamuk antara keraguan dan keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pak Bagas berdiri tepat di belakang Erni, jarak mereka semakin dekat. Napasnya terasa di tengkuk menantunya, membuat udara di sekitarnya semakin panas. Sang Mayor pun sekuat tenaga menahan sesuatu yang sejak tadi mengeras di balik celana pendeknya, akibat terlalu fokus memperhatikan pantat menantunya yang seksi dalam balutan rok tenis yang relatif pendek. Ditambah bayangan aksi liar Bu Soraya tadi siang bersama Badri.
Erni tetap mengaduk teh, pura-pura tidak menyadari bahwa mertuanya kini sudah begitu dekat, bahkan nyaris menyentuhnya. Ada perasaan campur aduk di dalam dirinya-rasa bersalah, penasaran, dan ketegangan yang tak terelakkan. Erni bahkan sudah mulai merasakan ada sesuatu yang samar terasa keras dan panas menyentuh tubuh bagian belakangnya.
Pak Bagas merasa sedikit ragu, menunggu tanda dan reaksi menantunya, apakah akan menolak atau tidak. Tapi Erni tidak bergerak, padahal Pak Bagas hampir saja menempelkan selangkangannya pada pantatnya. Erni tetap berdiri dalam posisinya sambil mengaduk teh yang sepertinya sudah lama selesai diaduk.
Di dalam hati, Erni tahu, bahwa jarak di antara mereka sudah tidak ada batas lagi, dan dirinya hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh mertuanya. Akhirnya, Pak Bagas memberanikan diri merapat, tubuhnya benar-benar menyentuh tubuh Erni. Tangannya terulur perlahan, menyentuh bahu menantunya dengan lembut.
Pada saat itu, Erni berhenti mengaduk teh, tubuh dan tangannya sedikit gemetar, namun dia tetap berdiri di tempatnya. Sesaat kemudian, Pak Bagas melingkarkan tangannya di pinggang Erni, menariknya pelan ke dalam pelukannya.
Erni sempat tersentak kecil, mencoba menahan diri untuk berpura-pura menolak.
"Yah, ini... gak seharusnya," bisiknya pelan, meski tubuhnya tak bergerak menjauh. Nada suaranya terdengar lemah, seolah tidak sungguh-sungguh mencegah apa yang tengah terjadi. Rona wajahnya memerah, menahan malu dan gairah yang mulai tersulut.
Pak Bagas hanya terdiam, tak berkata apa-apa. Dia menunggu reaksi lebih lanjut, namun Erni tak menunjukkan perlawanan yang nyata. Pelukan itu semakin erat, membuat kehangatan di antara mereka semakin terasa. Tubuh mereka benar-benar hanya dipisahkan pakaian masing-masing.
Pak Bagas menarik Erni semakin erat dalam pelukannya, gerakan tubuhnya halus namun penuh keyakinan. Erni masih terdiam, meskipun ada pergulatan dalam hatinya, dia tak bisa menyangkal kehangatan seperti ini sudah diimpikan lama sekali dan kini perlahan-lahan merayap membakar sekujur tubuhnya.
Kedua tangan Pak Bagas makin erat memeluk perut ramping menantunya, perlahan-lahan turun hingga salah satu telapak tangan lelaki berusia 59 tahun itu mulai menempel tepat di atas bukit hangat di balik rok tenis Erni. Kedutan lembut pun mulai Erni rasakan namun dia belum brani berbuat banyak. Desiran darah dan degup jantungnya masih terlalu kuat mendominasu rasa yang berkecamuk dalam dirinya.
Pak Bagas menundukkan wajahnya, menyesap leher menantunya walau terhalang kerudung, namun tetap mesra. Aroma tubuh Erni yang bercampur keringat, kian membuatnya bergairah. Erni sedikit memiringkan kepalanya.
Wajah mereka kini begitu dekat. Mata mereka bertemu dalam sekejap yang terasa begitu panjang, saling membaca tanpa perlu kata-kata. Telapak tangan Pak Bagas semakin berani bergerak lembut mengelus-elus vagina Erni, walau masih terhalang rok, lagging dan celana dalamnya.
Dengan gerakan lembut, Pak Bagas mengangkat dagu Erni, mengarahkan wajahnya ke arah dirinya. Erni sedikit ragu, namun tidak menghindar. Napas mereka kini menyatu dalam keheningan yang begitu intim. Tanpa terburu-buru, Pak Bagas mendekatkan bibirnya ke bibir Erni, memberikan sebuah ciuman yang dalam, perlahan, dan penuh kehangatan.
Ciuman itu terasa begitu mesra dan mengalir. Sentuhan bibir mereka penuh rasa dan keintiman yang sudah lama terpendam. Erni pun menutup matanya, tenggelam dalam momen yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi juga sebelumnya. Tubuhnya mulai merespons, ikut larut dalam ciuman yang terasa begitu mendalam. Sungguh lelaki plamboyan nan matang ini sangat luar biasa.
Di tengah-tengah keheningan itu, hanya ada mereka berdua, mertua dan menantu yang kini terperangkap dalam sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Ciuman mereka bukan sekadar nafsu, melainkan sebuah ungkapan dari kedekatan yang selama ini tidak terucapkan.
Mereka semakin tenggelam dalam gelombang birahi yang membara, tangan-tangan mereka pun mulai ikut beraksi, menjalar ke beberapa wilayah yang bisa mereka jangkau untuk mengungkapkan segala keresahan dalam dirinya yang kian bergemuruh.
Erni sedikit menekan dan mengoyangkan pantatnya, membalas tekanan benda keras dan panas di pantat kenyal nan montoknya. Ia bahkan bisa merasakan seolah benda tersebut menempel tanpa penghalang. Dan yang pasti dia juga bisa meyakinkan jika benda itu jauh lebih keras, lebih besar dan lebih panjang dibandung milik Yudis, suaminya.
"Yaaaah," Erni sedikit melenguh dalam desah napas yang tersengal. Tangannya yang sedikit bergetar pun mulai merayap perlahan ke belakang pantatnya, hendak meraba benda bulat panjang yang sangat membuatnya bergairah sekaligus penarasan. Benda yang masih terlinduk celana dalam dan celana tenis sang ayah mertua.
Untuk sejenak Pak Mayor, benar-benar melupakan bayangan besannya, fokus dengan menantunya yang kini sudah makin pasarah dalam pelukannya, walau masih terasa ada sedikit-sedikit penolakan. Entah karena tidak mau atau hanya berpura-pura. Namun yang pasti layanan lidah Erni semakin liar, dan tangannya semakin nekad memegangi senjata andalan mertuanya, walau masih dibalik celana.
Namun tiba-tiba...
^*^
Terdengar suara anak-anak di halaman depan, langkah kecil berlari-lari menuju rumah, Erni dan Pak Bagas seketika tersentak. Tanpa berpikir panjang, Pak Bagas langsung bergegas ke kamar mandi, berusaha menutupi apa yang baru saja terjadi.
Sementara Erni dengan cepat merapikan diri, mencoba menenangkan debaran jantungnya, lalu melanjutkan membuat teh seperti tak ada yang terjadi.
Pintu terbuka, dan kedua anak Erni, Gita yang berusia enam tahun dan Aldi yang berusia empat tahun, berlarian masuk ke dalam rumah. "Mama! Mama!" seru mereka dengan penuh semangat.
"Eh, anak-anak mama sudah pulang dari rumah nenek?" Erni tersenyum, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Mainnya sudah selesai?"
"Iya, Mama! Kita mau main di sini sekarang," jawab Gita sambil memeluk kaki ibunya.
Aldi ikut tersenyum lebar, menunjukkan mainan barunya yang didapat dari nenek mereka. "Mama lihat! Ini mobil-mobilan dari nenek!"
Erni tertawa kecil, menunduk dan mengusap kepala kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. "Wah, bagus banget, Aldi. Main dulu, ya. Mama bikin teh dulu."
"Ma, Kakek Bagas kemana, itu sepedanya masih ada di depan."
"Oh, lagi di kamar mandi, ini mama lagi mau buatkan minum buat Kakek."
Tak lama kemudian, Pak Bagas keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah kembali tenang, seolah-olah tidak ada kejadian apapun. Melihat kedua cucunya, senyumnya langsung mengembang.
"Wah, Gita sama adik sudah pulang, ya? Main apa tadi di rumah nenek?"
"Main bola sama Kakek Purba," jawab Gita dengan riang sambil berlari mendekati kakeknya. Aldi ikut mendekat, menunjukkan mobil mainan barunya kepada Pak Bagas.
Pak Bagas duduk di ruang tamu bersama kedua anak Erni, bercengkrama dan tertawa kecil saat mereka menceritakan keseruan hari mereka di rumah nenek. Erni sesekali Melirik dari dapur, Melihat bagaimana anak-anaknya begitu akrab dengan Pak Bagas, seperti tidak ada hal yang mencurigakan.
Pak Bagas memainkan perannya dengan sempurna, memperlakukan cucu-cucunya dengan kasih sayang seperti biasa, sementara Erni berusaha mengatur kembali pikirannya, mencoba melupakan momen intim yang baru saja terjadi.
Setelah menghabiskan waktu bersama kedua cucunya, mereka pun berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan sederhana yang sudah disiapkan. Suasana makan sore terasa hangat dan penuh canda, seolah-olah tidak ada yang berubah di antara mereka.
Pak Bagas bercanda dengan Gita dan Aldi, membuat suasana menjadi lebih riang. Erni duduk di ujung meja, ikut tersenyum dan tertawa, meski dalam hatinya masih merasakan jejak keintiman yang terjadi sebelumnya.
Setelah selesai makan, Pak Bagas berdiri sambil tersenyum kepada Erni. "Ayah pulang dulu, ya. Sudah sore juga, Ayah harus istirahat. Besok ada jadwal kegiatan lagi."
Erni mengangguk, mengantar Pak Bagas hingga ke depan pintu. "Terima kasih, Yah, sudah menemani. Hati-hati di jalan."
Pak Bagas tersenyum hangat, lalu melirik ke arah Erni dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah pandangan yang mengingatkan keduanya akan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Tapi tidak ada kata-kata lain yang keluar.
"Iya, kamu juga istirahat, ya. Kalau butuh apa-apa, tinggal hubungi ayah."
"Iya, Yah. Terima kasih," jawab Erni lembut.
Pak Bagas pun melangkah keluar, berjalan menuju sepedanya yang terparkir di depan rumah. Erni berdiri di depan pintu, menatap punggung mertuanya yang semakin menjauh menggoes sepedanya.
Erni lantas menutup pintu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa lega momen itu sudah berlalu, tetapi di sisi lain, perasaan yang tumbuh di dalam dirinya membuatnya semakin bingung.
Pak Bagas bergegas mengowes sepeda agar bisa segera sampai di rumahnya. Sudah tak tahan ingin segera masuk ke kamar mandinya, bukan karena gerah atau tubuhnya merasa lengket, namun ingin segera mandi sore.
Air hangat mengalir perlahan dari shower, membasahi tubuh Pak Bagas yang berdiri diam mematung di bawahnya. Butiran air menetes dari rambutnya yang sudah mulai memutih, meluncur di sepanjang wajah dan dada yang masih tampak kekar untuk lelaki seusianya.
Suara gemericik air seharusnya membawa ketenangan, namun pikiran Pak Bagas sedang jauh dari damai. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang. Sebelah tangannya memegangi batang kontolnya yang sejak tadi tak pernah mau tidur kembali. Kebiasaan yang susah dihindari. Andai saja Bu Siska, istrinya sudah pulang dari rumah makan, mungkin dia bisa menyalurkannya dengan baik dan benar.
Bayangan keliaran permainan Bu Soraya dan Badri, serta wajah Erni muncul bergantian seolah tak mau lepas dari benaknya. Ekspresi gugupnya, napas tersengal saat tubuh mereka begitu dekat. Dan ciuman bersama Erni yang masih terasa hangat di bibirnya.
Semua itu seperti adegan yang diputar ulang tanpa jeda. Tangan Pak Bagas semakin kencang maju mundur mengocok batang kontolnya saat kembali membayangkan goyangan pelan namun bermakna pantat Erni yang menekan-nekan kontolnya.
"Oooh, Erni... Ayah ini siapa sebenarnya?" gumamnya lirih.
"Oooh Soraya...mengapa kamu mencari pelampiasan sama preman..." lanjutnya.
Di satu sisi, ia merasa seperti pria biasa, yang tak bisa menghindari daya tarik perempuan yang lemah dan rapuh dalam pelukannya. Tapi di sisi lain, ia juga ayah dari Yudis, lelaki yang saat ini sedang berjuang di negeri orang demi masa depan yang lebih baik. Anak yang pernah ia banggakan setengah mati. Anak yang menitipkan istrinya, Erni dengan kedua buah hati mereka. Dengan kepercayaan yang sepenuhnya.
"Anak sendiri, Bagas... itu anakmu sendiri..." ucapnya dalam hati, suara itu tajam seperti pisau. Namun tangannya tetap tak bisa berhenti mengocok batangnya hingga akhirnya mencapai pucak kenikmatan yang semu.
"Ooooohssss Sorayaaaa...." Lenguhan panjang mendesis dari mulutnya bersamaan dengan meluncurnya sperma dengan sangat kencang dari ujung batang kontolnya.
Ia mengguyur wajahnya dengan air, berharap bisa menyapu bersih rasa bersalah yang mulai tumbuh seperti jamur di dadanya. Tapi sia-sia. Rasa itu justru semakin mengendap, bercampur dengan perasaan yang lebih berbahaya. Hasrat kuat untuk bisa saling memuaskan bersama menantunya.
Ia tahu, Erni tak pernah benar-benar memprovokasi. Tapi ia juga tahu, dirinya yang terlalu dalam membaca isyarat. Setiap sorot mata ragu, setiap tarikan napas yang berat, setiap lirih suara Erni saat mereka bicara sendirian-semuanya terasa seperti pintu yang setengah terbuka. Dan Pak Bagas, alih-alih menutupnya, justru perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Tangannya mengepal, menghantam pelan dinding kamar mandi yang basah.
"Apa yang sebenarnya kamu cari, Bagas? Kasih sayang? Pelarian? Atau sekadar pembuktian kalau kau masih diinginkan? Masih perkasa?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam kepalanya, membenturkan rasa haus akan keintiman dengan rasa bersalah yang kian menyesakkan. Ia tak bisa mengabaikan bahwa dirinya telah menodai garis yang tak seharusnya disentuh. Tapi saat ia mengingat sentuhan Erni, tatapannya yang bingung tapi tidak sepenuhnya menolak, hatinya bergemuruh.
"Erni... kamu juga nggak benar-benar melawan, kamu juga menginginkan ayah kan?" bisiknya pelan, entah sedang menyalahkan, atau sedang mencari pembenaran.
Air terus mengalir, namun tak cukup deras untuk membawa pergi kekusutan dalam dadanya.
Pak Bagas menunduk, memejamkan mata, membiarkan dirinya larut beberapa saat dalam keheningan. Tapi ia tahu, ketika ia keluar dari kamar mandi nanti, dunia akan tetap sama. Dan Erni... tetap akan ada menjadi menantunya, sementara Bu Soraya mungkin akan tetap menjadi misteri.
Malamnya udara di kamar anak-anak terasa hangat, namun dada Erni justru dingin dan sesak. Gita dan Aldi sudah tertidur pulas, tubuh kecil mereka meringkuk nyaman di balik selimut bergambar tokoh kartun kesayangan. Lampu tidur berwarna kuning temaram memantulkan cahaya lembut di dinding, menciptakan suasana yang seharusnya membawa tenang. Tapi tidak malam ini.
Erni duduk di tepi ranjang, menatap wajah kedua anaknya satu per satu. Nafas mereka teratur, damai, seakan dunia luar tak mampu menjamah ketenangan kecil itu. Dengan tangan gemetar, ia menyeka air mata yang sejak tadi mengalir diam-diam di pipinya. Isaknya nyaris tak terdengar, hanya getaran lembut di bahunya yang memperlihatkan betapa rapuh dirinya saat ini.
"Susah sekali..." bisiknya lirih, nyaris seperti doa yang tak ingin didengar siapa pun. "Susah sekali menahan gejolak ini..."
Ia menggigit bibirnya sendiri, mencoba mengurung gelombang rasa bersalah yang membuncah dari dalam dada. Bukan hanya karena ciuman itu, bukan juga karena pelukan ayah mertuanya, bukan hanya karena sentuhan yang tak sengaja tapi terasa terlalu dalam. Tapi karena sesuatu yang lebih menakutkan: bahwa hatinya... sempat bergetar.
Ia tahu, dirinya masih istri Yudis. Ia tahu, Pak Bagas adalah ayah mertuanya. Tapi perasaan itu-yang datang tiba-tiba, di sela sunyinya rumah dan sepinya komunikasi dari Jepang-perasaan itu datang seperti arus deras, menariknya ke arah yang salah namun terasa begitu hangat.
"Mas Yudis... maafin istrimu ini..." Erni menunduk, menatap tangan Gita yang menggenggam boneka kecilnya dengan tenang. Seandainya anak-anak ini tahu... seandainya mereka tahu ibunya hampir tergelincir ke dalam sesuatu yang tidak bisa dimaafkan oleh siapa pun.
Tapi yang lebih menakutkan dari rasa bersalah... adalah keinginan untuk mengulanginya. Untuk merasakan lagi kedekatan yang aneh tapi memabukkan itu.
Erni menggeleng cepat, mencoba mengusir pikirannya sendiri. Ia lalu mencium kening Gita dan Aldi satu per satu, berbisik, "Mama janji... mama nggak akan bikin kalian kecewa."
Tapi janji itu terasa hampa di hatinya sendiri.
Karena ia tahu, godaan itu belum selesai. Kini bahkan sebelah tangannya mulai sedikit bergerak meraba-raba selangkangannya yang sejak tadi terasa terus berdenyut-denyut. Dia bahkan sudah mengganti celana dalamnya, karena saat bercumbu dan berpelukan tadi dengan ayah mertuanya, vaginanya sudah banjir. Dua belan lebih sawahnya sama sekali tak teraliri.
Dan malam pun masih akan sangat panjang. Terlebih buat Pak Bagas yang isi kepalanya sudah benar-benar terkontaminasi racun birahi. Bukan hanya oleh Erni, namun juga Bu Soraya, yang seolah menempel kuat di kelopak matanya, hingga susah tidur, walau sudah lampiaskan pada istrinya.
^*^