Bab 1

“ASTAGA!!!”

Anisa terbangun dengan tiba-tiba. Dadanya naik turun, napasnya pendek-pendek seperti habis berlari jauh. Suara detik jam di dinding terdengar begitu keras dalam keheningan kamar.

Ia duduk perlahan di atas ranjang, mengusap wajah yang dingin oleh peluh. Keningnya berkeringat, meski kipas angin masih berputar pelan di pojok ruangan.

Matanya memandang gelap, seperti masih terjebak di antara mimpi dan nyata. Ia memejamkan mata lagi, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan tadi itu... masih tersisa. Membekas terlalu jelas. Terlalu hidup. Terlalu salah.

“Astaghfirullah...” bisiknya lirih.

Tangannya meremas ujung selimut. Pipinya terasa panas, meski tak ada siapa-siapa yang melihat. Ada rasa malu yang entah ditujukan kepada siapa—kepada Tuhan, kepada dirinya sendiri, atau... kepada sosok dalam mimpinya yang tak pernah ia bayangkan akan muncul dalam cara yang begitu mengguncang.

Ia berdiri pelan, berjalan ke dapur. Menuang air putih dengan tangan sedikit gemetar. Matanya sesekali melirik ke arah ruang tengah—gelap dan sepi. Seolah takut bayangan dari alam mimpi itu menyelinap lewat celah pintu.

“Apa-apaan sih tadi itu...” gumamnya pelan, mencoba membuang rasa bersalah yang menempel seperti jelaga.

Ia menatap bayangannya sendiri di kaca lemari. Sejenak tak mengenali wajah itu. Wajah yang baru saja membawa kenangan tidur ke tempat yang... seharusnya tak pernah ia kunjungi.

Anisa menarik napas panjang, mencoba mengabaikan denting waktu yang terasa lambat malam itu. Ia kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Pian yang masih terlelap—dengkurnya halus, damai, seperti tak pernah ada badai dalam hidupnya. Anisa memiringkan tubuh, memunggungi suaminya. Tapi matanya tetap terbuka, memandangi gelap, lalu langit-langit kamar.

Pikiran dan perasaannya kacau. Masih ada jejak panas yang aneh, tertinggal samar di kulitnya, di sebagian besar tubuhnya terutama area intimnya dan di ruang bawah sadarnya. Hingga tak terasa fajar datang menjelang.

Akhirnya ia bangkit. Berjalan pelan menuju kamar mandi. Air dingin tak cukup menghapus apa yang terasa kotor dalam pikirannya. Tapi setidaknya, bisa sedikit menenangkan.

Setelah mandi, ia salat Subuh. Rukuknya dalam, sujudnya lama. Tapi lidahnya kelu. Doa-doa yang biasa ia panjatkan terasa asing. Ia tak tahu harus berkata apa. Bahkan menyebut namanya sendiri dalam hati pun terasa canggung.

Pagi pun datang, seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh kopi untuk Pian. Saat suaminya keluar kamar, menguap dan tersenyum seperti biasa, Anisa ikut tersenyum kecil, meski tak sampai ke matanya.

“Kopinya seperti biasa ya, Mas,” kata Anisa.

“Iya, makasih. Kamu gak tidur nyenyak?” tanya Pian, sekilas melihat wajahnya.

“Biasa aja. Agak susah tidur, itu aja.”

Pian tak terlalu memperpanjang. Ia segera bersiap berangkat ke sawah, seperti biasa, dengan langkah tenang dan sandal kebunnya yang sudah agak usang.

Anisa mengantar sampai teras, lalu kembali masuk. Tak lama kemudian, suara klakson ojek langganannya terdengar. Ia naik, membetulkan letak tas selempangnya, dan memberi salam pelan.

Di sepanjang jalan, Anisa diam. Sementara tukang ojeknya bercerita soal hujan semalam, tentang jalur yang becek dan sawah yang mungkin tergenang, Anisa hanya mengangguk, sesekali tersenyum simpul, pura-pura menyimak.

Padahal pikirannya jauh. Terbang ke sudut gelap mimpi yang belum juga mau pergi. Mimpi yang membuatnya... malu. Sangat malu. Bahkan pada dirinya sendiri.

Setibanya di toko, ia membuka pintu dan rolling door dengan gerakan mekanis. Meletakkan tas, menggulung lengan baju, dan menata etalase. Tapi tangannya agak gemetar.

“Apa yang salah dengan diriku semalam?” bisiknya dalam hati.

Dan untuk pertama kalinya, dia berharap Tante Maya datang lebih awal. Atau paling tidak, ada keramaian janda-janda Ganjen dan candaan mereka yang biasanya membuat kupingnya panas—karena pagi ini, pikirannya jauh lebih riuh daripada suara siapa pun.

Waktu terus berlalu dan harapan Anisa pun terkabul.

Toko mainan Tante Maya bukan sekadar tempat jual beli boneka, mobil-mobilan, dan lego bajakan dari Cikarang. Ia adalah pusat semesta kecil di pasar kota kecamatan. Lantai bawah toko selalu ramai—entah karena diskon boneka Barbie kw super, atau karena magnet utama: kelompok janda-janda sosialita dengan aroma semerbak minyak zaitun dan riasan tajam penuh tekad.

Seperti biasa Anisa sibuk melayani ibu-ibu muda yang memilih mainan untuk anak mereka dalam berbagai warna. Tak lama dari arah pintu masuk terdengar suara khas Mbok Rahayu, yang hari ini mengenakan rok span dan sepatu wedges:

“Woyy... minggir-minggir, Janda Elite mau lewat! Buka jalan!”

Disusul suara ketawa renyah Tante Nani yang berjalan di samping dua pemuda berkaus ketat dan rambut cepak hasil potong 20 ribu di barbershop viral.

“Eh, Yoga, Aldi... sini deh duduk deket Tante... dingin ya di sini, tapi kalau deket kamu jadi hangat-hangat gimana gitu, hihi…”

Mereka lalu duduk di kursi sofa yang memang disediakan di sudut toko lantai bawah—seolah sudah paham fungsi sosial dari keberadaan toko ini. Di meja tengah, teh tarik dan kue lapis sudah disediakan oleh asistennya Tante Maya yang diam-diam juga mantan finalis Duta Herbal se-kecamatan.

Di sela-sela suara anak-anak yang mencoba mainan demo, dan tawa khas ibu-ibu muda yang menawar harga, suara Mbok Murni terdengar menggema:

“Nis, kamu masih betah ya kerja di sini? Nggak takut ketularan edan kita-kita ini? Hahaha!”

Anisa tersenyum simpul dari balik etalase, menekan struk pembelian sambil menjawab pelan, “Sudah kebal, Mbok. Kayaknya tiap hari aku malah belajar sabar.”

“Sabar itu bagus, tapi jangan sampai kebablasan jadi pasrah loh, Nis,” sahut Tante Nani sambil mengedip pada pemuda brondong di sebelahnya.

Tante Maya, yang baru turun dari lantai atas dengan kacamata hitam dan pashmina ungu, langsung menertawakan suasana.

“Eh, jangan bikin Anisa pusing pagi-pagi, ya! Dia itu brangkasku. Gak bisa diganggu! Palingan kalau hatinya yang minta digoyang, ya itu urusan dia sendiri, bukan?”

Tawa pecah. Anisa menunduk, pura-pura merapikan display mobil-mobilan, meski kupingnya jelas merona. Tapi dia sudah terlalu biasa dengan siulan nakal, kalimat ganda penuh makna, dan godaan ganjen yang bertebaran seperti glitter di udara dingin toko tersebut.

Namun di balik candaan mereka, ada getar lain yang hanya Anisa tahu: kadang ada yang lebih panas dari sinar matahari siang, dan lebih dingin dari AC toko lantai dua. Terutama ketika bisikan-bisikan itu perlahan berganti arah...

Dan dari kejauhan, saat Anisa menengok ke luar jendela, motor matic seseorang melintas pelan, masih mengenakan celana seragam SMA, berjaket jeans. Menoleh sekilas, tidak berhenti. Tapi cukup untuk membuat dada Anisa sedikit bergeser. ‘Haikal,’ bisiknya dalam hati.

Toko mainan berubah seperti panggung karnaval mini. Musik dangdut remix dari speaker kecil di pojokan diputar pelan tapi cukup untuk mengiringi gelak tawa rombongan janda elite yang tengah menyerbu toko seperti sedang fashion week dadakan.

Parfum mahal bercampur aroma body lotion kelapa dan rokok slim menthol memenuhi udara. Seorang brondong kurus tinggi sedang mencoba topi koboi mainan sambil bergaya di depan cermin.

“Eh Vano, jangan kayak gitu dong posenya... Tante bisa salah fokus tau!” goda Tante Tatik sambil mencubit manja pinggang Vano yang agak sedikit melenting ke depan.

Sementara itu, Tante Rani dan Mbok Rahayu sibuk mencoba boneka-boneka untuk hadiah keponakan mereka—atau pura-pura untuk keponakan, padahal ingin mengundang perhatian kasir ganteng di toko sebelah.

Di antara semua kegaduhan itu, Anisa berdiri seperti paku bumi. Tak tergoyahkan, walau senyumnya kerap kaku, matanya tetap fokus mencatat dan melayani pembeli sungguhan yang datang dan pergi di sela-sela kegilaan rombongan Ganjen.

“Eh Nis... suamimu yang ganteng itu masih tahan ya, punya istri secantik kamu tapi ditinggal kerja tiap hari?” suara Mbok Murni terdengar nyaring namun jelas penuh satir.

“Atau jangan-jangan, dia pasrah karena tahu kamu di sini udah jadi maskot toko Tante Ganjen?” celetuk Tante Nani, membuat tawa pecah kembali.

“Coba ya, kalau aku jadi Pian, udah aku gembok kamu di kamar, Nis!” seru Om Rano sambil tertawa. Dia satu-satunya duda yang maksa jadi anggota komunitas janda ganjen. Memang agak melambai tabiatnya.

Anisa hanya tersenyum simpul. Tangan tetap merapikan rak mobil-mobilan. Batinnya seperti sudah kebal, atau lebih tepatnya: tahu tak ada gunanya melawan derasnya godaan dari para senior yang lebih licin dari belut ditaburi bedak talk.

Akhirnya, setelah hampir dua jam "menyerbu" toko dengan tawa, siulan, dan godaan beracun, rombongan itu pun bersiap pergi. Brondong-brondong mereka sudah siap di motor, ada yang sambil menyulut rokok, ada pula yang sibuk membuka jok motor seperti hendak menjemput nasib.

“Udah Nis, kami pamit dulu. Mau ke... tempat yang sejuk,” ujar Tante Maya sambil mengenakan kacamata hitam.

“Mau ngadem di air terjun atau di pelukan?” balas Anisa setengah menggoda.

Tawa mereka kembali meledak, kali ini benar-benar tumpah ruah seperti balon air. Tapi tak lama kemudian, suara mesin motor satu demi satu menghilang di kejauhan. Dan toko pun menjadi hening. Hanya AC yang menderu pelan. Suara jam dinding terdengar lebih keras. Anisa berdiri sendirian di balik etalase dan bayangan mimpi semabalm pun kembali mengusik.

Hari masih panjang. Langit masih terang. Tapi bayangan itu terus menempel seperti sudah tertanam kuat dalam jiwanya, padahal datang hanya sekilas, bahkan dengan susunan yang tidak terlalu jelas dan tidak logis.

^*^

Bab 2

Sinar matahari mulai melumer keemasan, menembus jendela kaca toko yang kini mulai lengang. Anisa sudah bersiap menutup, meski tetap menjaga etika bisnis—siapa tahu ada pembeli terakhir datang.

Dan benar saja, pintu berderit pelan. Seorang lelaki setengah baya melangkah masuk dengan aroma minyak rambut dan parfum maskulin yang menyengat seperti hendak menutupi usia.

Kemejanya berkilau tipis, celana kain disetrika rapi, sepatu kulit mengilap, dan di tangan kirinya ada gelang batu akik yang memantulkan cahaya senja. Ia tersenyum—senyum penuh percaya diri, seperti orang yang baru saja memenangkan tender besar.

“Selamat sore, Mbak cantik. Masih buka, ya?” suaranya dalam, dibuat-buat berat.

“Masih, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Anisa ramah, namun tetap menjaga jarak.

Lelaki itu berjalan perlahan, matanya menelisik rak mainan, tapi sorotnya jelas tak tertarik pada mainan.

“Saya... sebenarnya cari mainan mobil-mobilan buat keponakan. Tapi, sejak tadi siang kok gak tenang ya. Rasanya ada yang menarik saya ke sini,” katanya sambil tersenyum menggoda.

Anisa hanya tersenyum tipis, tak menanggapi. Tangannya tetap sibuk membereskan catatan stok.

“Saya Rudy. Panggil saja Om Erdi. Kontraktor besar, dan alhamdulillah proyek-proyek sudah beres. Tapi yang belum beres, urusan hati.”

Anisa menatap sekilas, masih mengangguk sopan.

“Mainannya di rak kanan, Om. Silakan dilihat-lihat dulu.”

Tapi Om Erdi tak bergerak ke rak.

“Saya udah sering lihat Mbak Anisa. Ya Allah... cantik, ayu, anggun, tapi tetap kelihatan... kesepian.”

“Maaf, Om... saya sudah bersuami, bagaimana bisa kesepian?” ucap Anisa langsung, tegas tapi masih menjaga etika.

“Justru itu. Saya tahu. Tapi saya gak bisa pura-pura tutup mata terus.” Om Erdi mendekat sedikit, suaranya dikecilkan seperti orang hendak berbisik rahasia.

“Kalau suami kamu bertanggung jawab, kenapa kamu tiap hari sendirian di sini? Dipajang, tapi gak dijaga. Cantik begini harusnya jadi ratu, bukan jadi babu.”

Anisa menarik napas panjang. Tangannya berhenti menulis, darahnya berdesir.

“Pak Rudy, saya tidak terbiasa dilontari kata-kata seperti itu. Kalau tidak ada yang ingin dibeli, silahkan keluar karena aya mau tutup!” tegas Anisa, walau sejatinya tak pernah dia sekasar itu sebelumnya. Mungkin karena pengaruh mimpinya semalam.

Tapi lelaki flamboyan putus urat malunya itu malah tertawa kecil.

“Saya gak main-main, Mbak Anisa. Saya bisa buktikan. Saya bisa nyalakan api cinta dari dalam dada saya—api yang gak akan padam, seperti sumber api Merapen. Kamu tahu itu? Api abadi dari bumi... begitu juga cintaku.”

Anisa menatapnya datar.

“Saya tahu api Merapen, Pak. Tapi saya juga tahu cara memadamkan orang yang nyebelin, bermulut besar.” Lagi dan lagi Anisa berkata kasar.

Ia berdiri, menatap Om Erdi dengan sorot dingin.

“Saya pamit tutup toko. Mohon jangan kembali kalau cuma mau bawa api murahan, ya.”

Om Erdi masih tertawa, tapi kini mulai salah tingkah. Ia mencoba mencairkan suasana dengan candaan yang makin basi, tapi Anisa sudah menutup buku kas dan mulai membereskan meja kasir.

Dengan sedikit kikuk, akhirnya si flamboyan angkat kaki.

“Baiklah... kalau begitu, sampai jumpa, Mbak Anisa. Saya belum menyerah.”

Pintu kembali tertutup. Udara kembali tenang.

Tapi di dalam dada Anisa, ada sesuatu yang menggelegak. Marah? Jijik? Terhina? Atau luka lama yang kembali disinggung? Tak ada yang tahu.

Anisa menutup pintu rolling toko perlahan, mengaitkan gembok, lalu menarik napas panjang. Sisa aroma parfum Om Erdi masih tersisa samar di udara, membuatnya geleng kepala sendiri.

“Boleh saja datang lagi...” gumamnya dalam hati, senyum miring terbentuk di bibir. “Asal waktu ada Tante Maya,” lanjutnya memasukan anak kunci ke dalam tas tangannya.

“Dan nikmati keseruannya. Paling juga kamu mati kutu, trauma dikerjain Tante Maya dan geng janda Ganjen-nya. Baru jadi pemborong aja udah ketinggian. Aku bukan babu, Pak Rudy. Aku istrinya Mas Pian dan tak berniat juga jadi ratu!” geramnya.

Langkah Anisa ringan sore itu. Bukan karena lelah, tapi karena sebagian besar hasil penjualan sudah diambil Tante Maya tadi siang, sehingga dia tak perlu mampir dulu ke rumah Tante Maya. Uang sisa itu bisa dibawa pulang, cukup untuk jajan gorengan di pinggir jalan kalau sempat.

Ia berdiri di tepi trotoar menunggu angkot, menatap jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan pulang kerja. Sinar matahari mulai merambat ke jingga, langit separuh lembut, separuh kelabu. Persis seperti hatinya.

Tiba-tiba suara knalpot pelan terdengar mendekat. Sebuah motor matic berhenti tak jauh darinya. Helm hitam terbuka, menampilkan wajah yang sangat dikenalnya.

Haikal. Dan masih bercelana seragam SMA, kali ini jaketnya ganti kulit.

Ia turun pelan, menyapa tanpa kata. Hanya anggukan dan senyum kecil. Seperti biasa, tak banyak bicara. ‘Untung saja Tante Maya, belum pernah melihatmu, Kal. Kalau sampai tahu, entah akan dibawa kemana brondong seganteng kamu inii,’ pikir Anisa.

“Sendiri aja, Mbak?” tanya Haikal sambil tersneyum hangat.

“Iya. Lagi nunggu angkot, tapi... malas juga, kelamaan.”

“Mau pulang kan? Bareng aku aja.”

Anisa ragu sejenak, lalu mengangguk, dadanya terasa hangat. “Ya udah... tapi pelan-pelan ya.”

Mereka pun melaju di antara keramaian. Udara sore membawa debu dan bau gorengan dari pinggir jalan. Tak banyak kata yang terucap, hanya suara motor, suara kota, dan... suara jantung yang berdetak sedikit tak wajar. Terlalu dekat. Terlalu sunyi. Terlalu sadar.

Di pertigaan kecil, sebuah becak tiba-tiba muncul dari gang, nyelonong tanpa aba-aba.

“Waduh—!” seru Haikal spontan menarik rem. Motor berhenti mendadak.

Anisa yang tak siap, reflek memeluk Haikal dari belakang. Tubuhnya menempel dan buah dadanya menekan punggung sang pengendara. Napas bertukar panas. Dunia seolah berhenti sepersekian detik.

Mereka tak berkata apa-apa. Haikal menegakkan motor, masih dalam posisi yang sama. Anisa cepat-cepat melepaskan pelukan, pura-pura sibuk membenarkan tasnya.

“Maaf... refleks,” ucapnya pelan.

“Iya, gak apa-apa,” jawab Haikal, sama pelannya. Nadanya agak serak.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan. Lebih pelan. Lebih kikuk. Tapi hati keduanya seperti dibakar sesuatu yang tak bisa mereka sebutkan namanya.

Sesampinya di rumah, langit sudah menggantungkan gelapnya sepenuhnya. Udara terasa lembap, walau tak ada hujan yang mengguyur. Anisa membuka pagar rumah dengan hati yang berat, tapi bibirnya tetap tersenyum kecil ketika melihat Pian menyambut dari ambang pintu.

“Pulang sama Haikal ya?” tanya Pian sambil masuk kembali ke rumah setelah Anisa mencium tangannya.

“Iya kebetulan tadi lewat depan toko, pas aku sedang nyari ojek,” balas Anisa sambil berjalan mengikuti suaminya.

“Syukurlah. Pas banget, makanannya baru mateng,” kata Pian sambil mengangkat tutup panci di atas meja makan.

Aroma tumisan sayur dan sambal terasi menyebar di udara, sederhana tapi menggugah selera. Anisa mengganti bajunya, mencuci tangan, lalu duduk di hadapan suaminya. Mereka makan berdua, seperti biasa. Seperti pasangan yang saling menyayangi dan berbagi hari dengan penuh ketulusan.

Namun, dalam hatinya, Anisa justru merasa sebaliknya.

Sendok demi sendok terasa seperti beban. Matanya sesekali melirik Pian, mencoba menebak apakah pria itu bisa merasakan kegelisahan yang terus berdesak-desakan dalam dirinya.

“Kamu capek banget ya?” tanya Pian sambil tersenyum, “Mukamu dari tadi keliatan murung.”

“Enggak, cuma agak pusing aja mungkin,” jawab Anisa pelan.

Padahal bukan itu. Bukan pusing yang membuatnya hilang arah. Tapi peristiwa mimpi yang menghadirkan sosok yang tak seharusnya muncul Dan perasaan kini menjadi sangat tersiksa karena mimpi itu terasa terlalu nyata.

Setiap kali ia menatap Pian, rasa bersalah kembali menggelayut. Ia merasa seperti seorang istri yang sudah mengkhianati, meski tidak dalam tindakan. Tapi mimpi itu... rasanya begitu hidup. Begitu menggaorahkan dan liar. Dan ia tak tahu apakah Tuhan pun menganggapnya dosa.

Setelah makan malam, mereka membereskan meja dan mencuci piring bersama. Sesekali Pian menggoda atau bercerita tentang sawah, tapi Anisa hanya menanggapinya dengan senyum yang setengah hati.

Hingga akhirnya mereka masuk kamar.

Pian tertidur lebih dulu, tubuhnya rebah damai, seperti biasa. Anisa memandang wajah suaminya dalam senyap. Tak ada yang berubah darinya. Tetap lembut, tetap penuh kasih. Tapi justru itu yang membuat Anisa merasa lebih buruk.

Ia memeluk Pian perlahan dari belakang. Bukan untuk membangunkan, tapi untuk menenangkan dirinya sendiri.

Malam ini, ia berharap bisa tidur tanpa mimpi. Atau kalau pun bermimpi... semoga bukan mimpi yang membuatnya merasa malu semalu-malunya seperti lagi.

^*^

PERINGATAN KERAS!!!

Bersiaplah untuk menangis tersedu-sedu, tertawa terbahak-bahak, tegang urat syarat hingga tubuh panas dingin secara mendadak hingga tiba-tiba sesuatu yang hangat dan nikmat keluar meleleh dari salurannya dengan tak terduga.

Pemuas Birahi Setengah Baya ini, benar-benar beda dengan cerita-cerita yang pernah ada. Bahasanya sederhana, lugas, tegas, penuh makna namun asik mengalir laksana Sungai Ciliwung yang bergelora dalam dinamika lika-likunya. Hingga berakhir dengansesuatu yang tak bisa diduga.

Selamat membaca, jangan lupa masukan cerita ini dalam daftar bacaan atau pustakamu. Dan berikan respon jika menikmatinya.

^*^

Bab 3

Di bale bambu depan warung Bu Ida, dua perempuan paruh baya tengah duduk berselonjor, mengunyah rengginang dan sesekali menyeruput teh manis dari gelas bercorak bunga. Suara ayam tetangga sesekali menyela percakapan mereka, bersaing dengan bunyi motor yang menderu dari kejauhan.

Bude Ami, janda beranak dua yang dulu sempat jadi primadona ronda malam, duduk termenung sambil mengipas-ngipas dirinya dengan kain serbet lusuh, usai membantu Bu Ida menggoreng bakwan.

“Aku tuh ngerasa aneh, Rin…” gumamnya lirih, seolah berbicara pada angin pagi.

“Apanya yang aneh, Bud?” sahut Rini, sahabat sejawat sesama janda beda usia, yang sedang asyik menyesap rokok kretek sambil menggoyang-goyangkan kakinya di ujung bale. Rini tak punya anak, tapi buah dadanya seperti ibu menyusui bayi kembar.

“Kita ini… kayak makin gak laku. Dulu mah tiap sore, tiap malam ada aja yang nyenggol. Sekarang? Lewat depan pos ronda aja kayak hantu tak kasat mata. Jangankan brondong, aki-aki aja kaya gak bisa liat kita.”

Rini tertawa pendek, sinis. “Lha iya. Kita udah dianggap bukan cabe lagi, Bud. Kita tuh… apa ya… kayak udah dianggap rempah-rempah jadul. Wanginya cuma buat yang ngerti aja.”

Tapi Bude Ami tak tertawa. Matanya malah menyipit menatap jalan, tempat Anisa, biasa melintas dengan langkah pelan dan pakaian kerja yang modis, atau naik ojeg yang katanya tukangnya pun sampai antri ingin membonceng dia.

“Sejak si Anisa tinggal di kampung kita, dunia para janda berubah drastis, Rin!” desis Bude Ami, nada suaranya seperti menahan geram. “Punya suami tapi gaya dia kayak janda muda. Jalan dikit, paha keliatan. Senyum dikit, yang di pos ronda langsung duduk tegak.”

Rini mendengus. “Aku liat sendiri kemarin. Mang Usup tukang sayur aja sampe nabrak tiang listrik gara-gara mandangin dia terus. Padahal si Anisa cuma jalan biasa sambil nenteng belanjaan dari warung.”

“Ya ampun, Rin… Aku aja sekarang kalau ngajakin si Ujang, malah pura-pura sibuk goreng tahu. Kata temennya sih lagi fokus sama si Anisa. Sakit banget hatiku. Walau cuma gocap sekali naik, kan bisa buat beli beras.”

Mereka terdiam sesaat. Hanya suara cericit burung dan seruput teh yang terdengar. Lalu, tiba-tiba Bude Ami menepuk pahanya, seperti mendapat wahyu. “Aku yakin si Aroh, si Ijah, si Mumun dan yang lainnya, pasti merasakan hal yang sama. Sekarang janda turun pamor, bini orang malah kesohor.”

“Berat emang. Terus kita harus gimana, Bud?” Rini ikutan makin bingung.

“Aku punya ide. Gimana kalau si Anisa, kita ajak gabung.”

“Gabung apa?” Rini melirik waspada.

“Ya… gabung ke lingkaran kita. ‘Geng Janda Rasa Rawit, Tangguh dan Mengigit.’ Kita ajak dia arisan, pengajian, atau paling nggak duduk-duduk sore sambil ngerumpi. Biar dia ngerti rasanya jadi single parent di kampung ini. Siapa tahu auranya nular ke kita.” Bude Ami bicara antusias dan rona wajahnya mulai sedikit berbinar.

Rini menggigit bibir bawahnya, berpikir keras dengan ide yang dia pikir agar mustahil itu.

“Jadi strategi pansos gitu ya?” Rini ingin memastikan.

“Ya… numpang eksis lah, Rin. Daripada duduk begini terus tiap hari kayak patung warung. Kita dekati dia pelan-pelan, akrabin. Biar lelaki di kampung kita mulai melirik kita lagi.”

“Kalau dia gak mau?” tanya Rini ragu.

Bude Ami meneguk tehnya sampai bunyi. Matanya menyipit nakal, bibirnya tersungging jahat.

“Kalau dia nolak, ya tinggal minta bantuan Bah Udin aja, biar diritual. Kita semua kan anak buahnya, masa harus pusing-pusing, hehehe” Bude Ami makin bersemangat.

Rini terkekeh, lalu menepuk-nepuk lutut Bude Ami. “Bude jahat, tapi aku suka.”

Mereka masih duduk di bale bambu, tapi kali ini dengan posisi agak menunduk, seperti dua konspirator ulung tengah merancang kudeta kecil. Angin kampung yang semilir membawa aroma warung dan suara kambing dari kejauhan, tapi obrolan mereka tetap berpusat pada satu nama: Anisa Sang Perusak.

“Eh, tapi kamu berani gak ngadepin suaminya? Si Pian itu anak mantan kades kita loh.” bisik Bude Ami, matanya menyipit, seolah ada bayangan Pian mengintip dari balik pohon pisang.

Rini menyeringai santai. “Alah, Pak Abdul kan udah gak tinggal di sini. Lagian si Pian itu belum tentu anak kandungnya Pak Abdul. Liat aja mereka itu kaya bumi dan langit.”

Bude Ami mengangkat alis, setengah tak percaya. “Jangan sembarangan, Rin. Si Pian emang kurus, letoy, item, ngomong pelan, kerjaan di sawah. Tapi kasih sayang Pak Abdul justru paling besar sama dia. Katanya kebutuhan bulannya pun masih disubsidi.”

Rini menjulurkan lidah, mengejek. “Prett lah… Pak Abdul itu baik bukan karena si Pian, tapi ada maunya sama si Anisa, menantunya. Hihihi.”

Tawa kecil meledak di antara mereka. Bukan karena lucu, tapi karena tergoda bayangan skandal besar yang mereka bayangkan sendiri.

“Wajar sih,” sambung Bude Ami, tak mau kalah, “Lah Pak Kades yang sekarang aja katanya diam-diam suka nanyain si Anisa.”

“Hih, dasar lelaki. Lihat jidat bening dikit, langsung lupa istri di rumah, apalagi sama kita-kita pelanggan lama.”

“Balik lagi ke topik. Jadi gimana, si Anisa, kita ajak gabung aja? Berani gak ngadepin suaminya?”

Rini menghela napas, lalu menepuk-nepuk pahanya sendiri. “Ya… kita pikir-pikir dan cari celah dulu, deh. Sambil jalan sambil mikir gitu loh. Nggak bisa ujuk-ujuk terjang, nanti kita malah kelihatan lapar dan dicurigai.”

Bude Ami manggut-manggut, lalu menatap lurus ke jalan setapak yang bisas dilewati Anisa saat akan ke warung Bu Ida.

“Aku setuju. Kita gak usah buru-buru. Tapi kalau proyek ini berhasil, yang lain juga pasti gabung lagi sama kita. Geng kita akan kembali berjaya, bukan hanya sekampung ini yang kita taklukan, tapi sekabupaten, hehehe.”

Mereka tertawa pelan, kali ini seperti dua bidak catur yang sadar akan posisi masing-masing — tak punya kekuatan besar, tapi punya modal licik, sabar, dan berani bergerak dalam bayang-bayang.

“Eh, tapi gimana dengan Bu Ida, dia pasti gak setuju si Anisa gabung. Secara dia akan merasa tersaingi.”

“Biarin aja. Bu Ida kan emang punya suami, ngerasa janda. Kalau dia gak setuju, kita tinggalin aja. Lagian Bu Ida gak nambah aura sama geng kita. Malah adi beban.”

“Oke deh, kalau gitu, mulai sekarang kita harus rancang strategi jitu.”

Mereka pun toast dengan wajah semringah penuh harapan. Sepertinya permainan besar akan segera dimulai.

^*^

Di bawah pohon ketapang dekat lapang voli SMAN 14, Haikal dan Daren duduk santai sambil nyemil gorengan. Plastik es teh bergoyang pelan di tangan mereka, sesekali diteguk sambil melihat anak-anak lain berlalu-lalang di jam istirahat.

“Eh, Kal,” Daren mulai dengan nada pelan, “lu ngerasa gak sih, Kang Badri sama Kang Diat tuh kayak ngebet banget sama Mbak Anisa?”

Haikal nyengir, menyikut pelan lengan temannya. “Ya elah, nenek-nenek bau tanah aja mereka godain, apalagi Mbak Anisa. Padahal mereka udah punya bini dan anak, dasar Kang Ojek rasa buaya semua.”

Daren cengengesan. “Tapi emang sih, Mbak Anisa itu beda. Matanya, senyumnya, jalannya... asli, aura selebgram banget. Gue yakin, semua cowok yang pernah ngeliat dia pasti… ya langsung ngebayangin yang aneh-aneh malamnya. Gue aja kadang sampai coli, heheheh.”

“Ya, sama aja, hehehe,” timpal Haikal sambil tertawa kecil.

Daren mengangguk cepat. “Tapi gue masih heran, kenapa dia mau sama Mas Pian?”

Haikal mendesah. “Namanya juga jodoh, Bro. Tapi gue akui sih, auranya Mbak Anisa emang kuat banget. Seksinya elegan, gak kayak emak-emak komplek yang doyan pamer paha.”

“Kalau menurut gue,” Daren nyeruput es teh plastiknya, “walau punya suami, tapi vibe-nya tuh janda banget. Ada sisi liar yang susah dijelasin. Lu ngerti kan?”

Haikal ngangguk. “Nyokap gue pernah bilang, dulu waktu nikah sama Mas Pian, dia emang janda. Tapi cuma bentar sama suami pertamanya, terus gak jelas.”

“Serius, Bro? Gue kira perawan-bujangan.” Daren melotot.

“Ya, gak banyak yang tahu. Kayaknya mereka emang nutupin. Mungkin Mas Pian malu dapetin janda, hehehe.”

“Hah! Yang harusnya malu tuh Mbak Anisa, dapetin suami jelek banget.”

Haikal gak merespon, biar bagaimana pun, Pian masih saudaranya. Pandangannya kosong, terbang ke peristiwa kemarin sore, saat Anisa memeluknya dari belakang karena motornya ngerem mendadak dan sedikit oleng.

“Eh, ngomong-ngomong,” Daren kembali angkat suara, “mereka udah lama ya nikahnya. Tapi kok belum punya anak juga? Menurut lu siapa yang payah?”

Haikal nyengir nakal. “Kalau ngeliat penampilan fisiknya sih... Mungkin Mas Pian, hehehe.”

Daren angkat bahu. “Mungkin. Tapi ya sudahlah, bukan urusan kita.”

“Bukan urusan kita, tapi bahan coli lu tiap malam,” goda Haikal.

“Anjay, setuju! Jujur gua bahkan rela kalau diminta antar-jemput dia tiap hari. Pelukannya... bisa bikin gue tidur nyenyak seminggu penuh.”

“Asal jangan lu lampiasin ama kambing aja, Ren.”

“Gila, mending dilampiasin sama Bude Ami atau Mbak Rini. Janda-janda keladi rasa rawit. Biar udah tua, tapi goyangannya masih pedas, bikin muncrat banyak, hahahaha.”

Haikal nyaris cerita soal dia berkesempatan jemput Anisa. Tapi dia tahan, tahu Daren adalah saingan beratnya. Kalau dia tahu, bisa-bisa tiap sore Daren nongkrong depan toko Tante Maya.

“Eh Bro, pernah mikir gak... sebenernya Mbak Anisa tuh gak puas sama suaminya?” lanjut Daren.

“Mungkin.” Hikal menjawab singkat.

“Dari gosip emak-emak, selain kurang ganteng, Mas Pian juga kurang greng gitu.”

Haikal tak merespon.

“Dan gue ngerasa, Mbak Anisa itu emang kesepian, makanya dia sering ngasih kode.”

“Kode gimana?” tanya Haikal penasaran.

“Kalau pas ngobrol, mata dia tuh kadang suka fokus ke selangkangan kita. Dan sumpah, kadang punya gue suka langsung ngaceng kalau diliatin gitu.”

Haikal terbelalak tak percaya.

“Dan, sejak sering digituan sama dia, gue jadi males ngelayanin emak-emak.”

Haikal agak melongo. “Berarti lu udah gak main sama Bu Iis?”

“Jangkan Bu Iis, Bu Mila yang udah sering transfer aja, gue tolak.”

“Gokil, lu serius banget ya.”

Daren menatap serius. “Ya, gue mau serius deketin Mbak Anisa.”

Haikal tersenyum kecut. “Tapi berat Bro. Saingannya banyak. Ada Kang Badri, Kang Diat, Pak RW, Bah Adi, Ustaz Umar dan...”

“Gue siap singkirin saingan aki-aki semua, gampang. Bahkan suaminya bisa gue singkirin,” Tantang Daren. Lalu mencondongkan kepala, berbisik cukup lama di telinga Haikal. Setelahnya, Haikal menatapnya dengan alis terangkat.

“Lu serius?” tanya Haikal pelan.

Daren membalas dengan senyum penuh misteri. “Kita coba aja dulu. Namanya juga usaha, Kal.”

“Bahaya gak?”

“Justru makin enak kalau gede risikonya.”

“Kalau gagal?”

“Tinggal temui Bah Udin, gampang!”

Mereka saling adu pandang dan memainkan alisnya masing-masing, seolah sepekat atas sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar khayalan siswa kelas tiga SMA. Dan rencana itu akan mereka susun, walau entah kapan bisa dieksekusi. Dan mungkinkah mereka berani ambil resiko?

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED