Bab 1

- Bokap tiri ku

Memang siang ini cuacanya cukup panas, satu persatu pakaian yang menempel di tubuhku kulepas. Kuakui, kendati masih ABG tetapi aku memiliki tubuh yang lumayan montok. Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jakun pria manapun untuk tersedak. Dengan rambut kemerah-merahan dan tinggi 167 cm, aku tampak dewasa. Sekilas, siapapun mungkin tidak percaya kalau akuadalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual kegemaranku. Mungkin karena pertumbuhan yang begitu cepat atau memang sudah keturunan, entahlah. Tetapi yang jelas cukup mempesona, wajah oval dengan leher jenjang, uh.. entahlah.

Pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah, seperti biasanya aku berpamitan dengan kedua orangtuaku. Cium pipi kiri dan kanan adalah rutinitas dan menjadi tradisi di keluarga ini. Tetapi yang menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman Papa. Seusai sarapan pagi, ketika Mama beranjak menuju dapur, aku terlebih dahulu mencium pipi Papa. Papa Robi (begitu namanya) bukan mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aku sempat terpaku sejenak. Entah karena terkejut untuk menolak atau menerima perlakukan itu, aku sendiri tidak tahu.

Papa Robi sudah setahun ini menjadi Papa tiriku. Sebelumnya, Mama sempat menjanda tiga tahun. Karena aku dan kedua adikku masih butuh seorang ayah, Mama akhirnya menikah lagi. Papa Robi memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun. Teman-teman sekolahku banyak yang cerita kalau aku bersukur punya Papa Robi.

"Salam ya sama Papa kamu.." ledek teman-temanku.

Aku sendiri sebenarnya sedikit grogi kalau berdua dengan Papa. Tetapi dengan kasih sayang dan pengertian layaknya seorang teman, Papa pandai mengambil hatiku. Hingga akhirnya aku sangat akrab dengan Papa, bahkan terkadang kelewat manja. Tetapi Mama tidak pernah protes, malah dia tampak bahagia melihat keakraban kami.

Tetapi ciuman Papa tadi pagi sungguh diluar dugaanku. Aku memang terkadang sering melendot sama Papa atau duduk sangat dekat ketika menonton TV. Tetapi ciumannya itu lho. Aku masih ingat ketika bibir Papa menyentuh bibir tipisku. Walau hanya sekejab, tetapi cukup membuat bulu kudukku merinding bila membayangkannya. Mungkin karena aku belum pernah memiliki pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aku begitu terkesima.

"Ah, mungkin Papa nggak sengaja.." pikirku.

Esok paginya seusai sarapan, aku mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Tetapi ketika aku memberikan ciuman ke Mama, Papa beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera berjinjit untuk mencium pipi Papa. Respon Papa pun kulihat biasa saja. Dengan sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Papa menerima ciumanku. Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dengan bibir atasku. Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Papa Robi menerpa wajahku. Hampir satu menit kubiarkan Papa menikmati bibirku.

"Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!" begitu yang kudengar dari Papa.

Sejak kejadian itu, hubungan kami malah semakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali. Aku sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilakukan Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan.

Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Papa menjadi tradisi. Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Mama di dapur, aku dan Papa berciuman di meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa yang masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Papa juga begitu. Kalau tidak memikirkan Mama yang berada di dapur, mungkin kami akan melakukannya lebih panas lagi.

Hari ini cuaca cukup panas. Aku mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aku hanya sendirian di rumah. Mama membawa kedua adikku liburan ke luar kota karena lagi liburan sekolah. Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aku merasakan segar di tubuhku.

Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yang cukup akrab di telingaku menyebut namaku.

"Vin.. Vin.., Papa pulang.." ujar lelaki yang ternyata Papaku.

"Kok cepat pulangnya Pa..?" tanyaku heran sambil mengambil baju dari lemari.

"Iya nih, Papa capek.." jawab papa dari luar.

"Kamu masak apa..?" tanya papa sambil masuk ke kamarku.

Aku sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aku coba tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aku ketatkan lagi. Kemudian membalikkan tubuh. Papa rupanya sudah tiduran di ranjangku.

"Ada deh..," ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.

"Ada deh itu apa..?" tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.

"Memangnya kenapa Pa..?" tanyaku lagi sedikit bercanda.

"Nggak ada racunnya kan..?" candanya.

"Ada, tapi kecil-kecil.." ujarku menyambut canda Papa.

"Kalau gitu, Papa bisa mati dong.." ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.

Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.

"Kalau Papa mati, gimana..?" tanya Papa lagi.

Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.

"Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!" tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.

Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya. Aku diam saja diperlakukan begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini.

Nafsu remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.

"Pa.." kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.

Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.

"Pa.. nanti ketahuan Mama.." sebutku mencoba mengingatkan Mama.

Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.

"Vina, tubuh kamu sangat harum.." bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.

Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yang membalut kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke payudaraku.

"Kamu udah punya pacar, Vin..?" tanya Papa di telingaku.

Aku hanya menggeleng pasrah.

Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.

"Uuhh..," desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih. Puting susu yang masih merah itu kemudian dikulum.

"Pa.. oohh.." desahku lagi.

"Pa.. nanti Mamm.." belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.

"Papa sayang Vina.." kata Papa sambil memandangku.

Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.

"Ohh, ohh.." desahku panjang.

Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aku pun mengulum benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.

"Terus Vin.., oh.. nikmatnya.." gumamnya.

Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya.

Karena birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian kejantanannya Papa menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding vaginaku.

"Sakit.. pa.." ujarku.

"Tenang Sayang, kita nikmati saja.." jawabnya.

Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan.

Papa melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.

"Terus Vin, ya.. seperti itu.." sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.

"Papa.. ohh.., ohh.." renguhku karena sudah tidak tahan lagi.

Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras. Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku.

Vagina yang sudah basah berulangkali diterobos penis papa. Tidak jarang payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.

Kenikmatan ini semakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dengan posisi 69, Papa masih perkasa. Penis Papa dengan tanpa kendali keluar masuk vaginaku.

"Nikmat Vin..? Ohh.. uhh.." tanyanya.

Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.

"Pa.. Vina nggak tahan.." katakuku ditengah terjangan Papa.

"Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu.." ucap Papa terpatah-patah.

Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aku mengeluarkan mani kembali.

"Okhh.. Ohkk.. hh..!" teriakku.

Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan posisi telungkup di ranjang membuat Papa semakin belingsatan. Papa semakin kuat menekan penisnya. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.

"Okhh.. Ohh.. Ohk.." erang Papa.

Hangat rasanya ketika mani Papa menyiram lubang vaginaku.

Dengan peluh di tubuh, Papa menindih tubuhku. Nafas kami berdua tersengal-sengal. Sekian lama Papa memelukku dari belakang, sementara mataku masih terpejam merasakan kenikmatan yang baru pertama kali kualami. Dengan penis yang masih bersarang di vaginaku, dia mencium lembut leherku dari belakang.

"Vin, Papa sayang Vina. Sebelum menikahi Mamamu, Papa sudah tertarik sama Vina.." ucap Papa sambil mengelus rambutku.

Mama dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aku dan Papa mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yang merasuki kami, dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun Mama ada di rumah. Dengan alasan menonton bola di TV, Papa membangunkanku, yang jelas perbuatan ini kulakukan hingga sekarang.

Selesai...

Bab 2

Hi...

aku akan menceritakan suatu cerita yang menimpa pada diriku. Namun pertama – tama perkenalkan namaku Rando saat ini aku berumur 17 tahun tinggiku sekitar 170 cm beratku 58 kg aku sangat suka sekali berolahraga sehingga disekolah aku cukup menonjol dalam bidang tersebut. Ayahku seorang PNS namun beliau seringkali ikut berbisnis dengan rekannya.Adikku perempuan dan dia masih SMP kelas 3 dia berbeda 3 tahun dengan ku, Stefi namanya.

Sedangkan ibuku namanya Lina dia hanya ibu rumah tangga namun beliau sering kali aktif di lingkungan karena dia lulusan perguruan tinggi yang cukup terkenal.Kami tinggal di provinsi Jawa Barat di kota X.Tubuh ibuku putih ke merah-merahan tingginya sekita 165 cm,beratnya sekitar 63 kg rambutnya lurus,karena ibu memang rajin merawat tubuhnya.

Peristiwa ini terjadi ketika aku masih SMA kelas 1 ketika itu umurku 15 tahun dan ibuku 36 ayahku pergi bersama adikku ke neneknya di Jawa Timur ketika liburan sekolah.Mereka pergi dengan waktu yang cukup lama.

Cerita Seks Berawal Dari Paksaan Ku Terkam Memek Mamaku Yang Mulkus

Sedangkan aku tidak bisa pergi kemana mana karena ada kegiatan ekskul ku yaitu sepakbola yang akan bersiap menghadapi pertandingan antar sekolah.Pada sore hari itu aku usai berlatih sepakbola, aku pulang kerumah aku lihat hanya ada bibi,"kemana ibu" pikirku,"ah paling lagi tiduran" balasku pada pemikiranku itu,lalu aku simpan tasku dan aku pergi bergegas untuk mandi.Ku lepaskan semua bajuku yang penuh tanah karena bermain bola dan ku tutupi celana dalamku dengan handuk.

Ketika aku berjalan menuju kamar mandi,aku melihat kamar tidur ibuku terbuka,karena penasaran aku buka sedikit pintu dan ku lihat ibuku sedang terlentang tidur dengan televisi yang menyala "pasti ibu nonton ketiduran"dalam hatiku,namun ada satu hal yang menarik bagi pikiranku.Dia menggunakan daster putih,roknya tersingkap sehingga aku bisa melihat celana dalamnya.Saat itu aku sangat tegang dan penasaran,lekukan tubuh ibuku begitu indah.Sempat terpikir bagiku untuk melihat lebih dalam lagi "gila apa yang aku pikirkan!! bagaimana kalau ibu terbangun pasti aku akan diusir" karena takut aku pun pergi bergegas untuk mandi saja.

Rupanya hal tersebut masih teringat dipikiranku aku tidak bisa tidur beberapa kali,kubayangkan aku bercinta dengan ibuku,menciumi satu sama lain dan juga posisi tidur ibuku tidur sore tadi yang membuat ku berfantasi lebih jauh.Akhirnya aku punya pemikiran bagaimana bila aku dapat menyetubuhi ibuku.Berbagai ide telah ku coba,dari pura – pura memijit hingga memberi ibu obat tidur,tapi semua itu akan sia – sia jika bukan ibuku yang memulainya terlebih dahulu.Sampai akhirnya datanglah padaku satu ide,aku ingat pada temanku yang bercerita tentang obat yang dapat membuat wanita terangsang.Lalu ku buka internet dan kucari tahu,ternyata benar saja obat tersebut memang ada,dan menggunakan tabunganku yang ada kubeli beberapa obat itu dari internet dan akan ku campur dengan obat tidur.

Keesokan harinya bibi mengatakan ada kiriman barang untukku dikamar.Aku tahu obat ini sudah berada ditanganku,satu hal yang aku selalu ingat ialah ibuku selalu meminum teh,dan tidak ada orang lain di rumah ini yang suka meminum teh selain ibuku.Kutunggu hingga saat yang tepat tiba,akhirnya ibu pulang dari arisan dan aku pura – pura menonton televisi saja.Dan setelah ibu mengganti bajunya ibu pun meminum teh hangat yang telah ku campurkan dengan obat perangsang dan obat tidur tersebut."lagi apa kamu nan?"tanya ibuku "ah lagi nonton bu.."balasku "loh kamu ngga maen bola sama temanmu?"tanya ibuku lagi "sudah bu.... sekarang lagi istrahat dulu.."balasku.. ibuku pun pergi ke kamarnya.Aku hanya tinggal menunggu obat tersebut berkerja. Dan lu lancarkan aksiku.

Ternyata benar ibuku tertidur dikamarnya,lalu aku menerobos masuk,ku panggil namanya dia tidak bangun,ku goyangkan dia tidak bangun juga,hingga akhirnya ku coba untuk sedikit menamparnya ternyata tidak bangun juga.akhirnya aku berkesimpulan jika obat telah berkerja.saat itu mulailah ku buka singkapkan daster bagian dadanya sehingga aku bisa melihat buah dada ibu yang begitu besar,ku hisap buah dada ibuku seperti aku menyusu waktu kecil dulu.kemudian tanganku yang kanan masuk menerobos ke daster bagian bawahnya dan ku temukan vagina ibuku ku masukan kedua jariku dan mulai memainkan di vaginanya.Setelah beberapa lama aku menikmati aku beranikan diriku untuk membuka semua pakaianku dan ku lucuti juga semua pakaian ibuku.

Ku rentangan tangan ibuku dan kulihat bulu ketiaknya aku pun menciumi aroma bulu ketiak ibu yang memang terdapat aroma khas.Kujilati semua bagian muka ibuku hingga kelehernya turun kebawah ke perutnya dan kubalikkan tubuhnya dan kujilati seluruh punggungnya hingga basah sekujur tubuh ibu.

Karena kemaluanku sudah mengeras aku masukan kemaluanku pada vagina ibuku,ada perasaan yang aneh ketika ujung kemaluanku menyentuh vagina ibuku seperti ke-"setrum" kemaluanku.ku masukan sedikit demi sedikit dan akhirnya aku mencapai ujungnya ternyata terdapat kenikmatan yang tidak terbayangkan,kemaluanku bagaikan dipijit dan dihisap,disini begitu hangat,inikah tempat jalan keluarnya ketika aku dilahirkan dahulu.Lalu ku goyangkan perlahan – lahan sehingga dapat merasakan kenikmatan setiap gerakannya.

Lalu gerakanku semakin cepat dan cepat,hingga ku raih pinggang ibuku dan ku naikan lalu kupeluk sehingga aku dan ibuku seperti sedang duduk."ahh.. ah..." ku dengar ibuku mengucapkan itu dikala tidurnya ternyata sekujur tubuh ibuku bergetar,ibu orgasme.lalu kulanjutkan gerakanku naik dan turun semakin cepat,ku lumat mulutnya dan kuhisap air liurnya,kupeluk erat tubuhnya hingga buah dadanya tertekan pada dadaku.

Lama kelamaan vagina ibu semakin menyempit dan menyedot kemaluanku seolah meminta untuk dikeluarkan milikku semua.tangan kiriku meraih lubang anus ibuku kumasukan jariku dan kumainkan didalamnya.ternyata hasilnya vagina ibu semakin menggelitik kemaluanku "aahh...aahhh... mmm.....mmm...."desahan ibu dikala tidurnya yang sedang aku setubuhi membuatku ingin keluar segera.aku tahu ini ibuku dan aku lahir karenanya tapi ini terlalu enak bagi ku.. kuambil resiko dan kubenamkan kemaluanku sedalam dalamnya hingga dasarnya dan kukeluarkan semua spermaku didalam rahim ibuku."aaaahhhhhhhhhhhhhhhh...."begitu teriakku..akhirnya aku telah mengambil keputusanku dan tidak bisa kembali lagi.

Penisku masih terbenam didalamnya,kutunggu beberapa saat dan ku mulai lagi hingga beberapa kali di malam itu mungkin lebih dari lima kali aku orgasme.Setelah selesai ke rapihkan semua carian yang melakat pada tubuh ibuku dan seprai,walaupun masih ada beberapa cairan disitu aku tidak begitu peduli jika ibuku mengetahuinya maka akan ku katakan dengan terus terang saja.

selama 3 hari kedepan ibuku ku telah menjadi mainan bagi nafsu birahiku..hingga suatu hari aku begitu ceroboh langsung melancarkan aksiku.. ketika itu karena sudah yakin aku langsung menindih tubuh ibuku dan memasukan kemaluanku ke dalam vagina ibuku selang beberapa saat ibuku terbangun "Rando! Astaga...apa yang kamu lakukan!?"ibuku terkejut dan marah padaku,sedangkan aku panik dan heran apa obat itu tidak berkerja,pikirku sudah jelas pasti ibu tidak meminumnya atau tidak sampai habis,ah sial betapa ceroboh dan bodohnya diriku.."aa.. nan.. Randoo... lagii..",ibu mendorong tubuhku dan menamparku dengan keras namun saat itulah insting dominan laki-laki ku bangkit.

Lalu ku tahan ibuku kedua lengan ibuku dan ku katakan "ibu ngga mau kan Rando ceritakan ke ayah" ibuku pun terdiam dan menangis.. lalu ku usap air matanya dan ku cium bibirnya,ibu tidak menyahut ciumanku namun aku berusaha lalu kucium dan kuhisap.akhirnya aku masukan lagi kemaluanku ke dalam vagina ibu.tiba – tiba saja ibu berkata "Rando sejak kapan kamu melakukan ini sama ibu?"

"sejak tiga hari yang lalu bu"

"apa saja yang kamu lakukan"

"ya aku melakukan ini bu.."

"apa kamu keluarin diluar"tanya ibu dengan penasaran

"ngga bu aku keluarin di dalam"

ibu hanya diam

lalu aku jelaskan bahwa aku melakukan ini karena aku sayang dan cinta pada ibuku sendiri,aku pun terangsang melihat ibuku yang begitu cantik ketika sedang tidur terbuka belahan dasternya..tidak ada maksud jahat pada ibuku sendiri.ibuku hanya diam seolah tidak ada semangat,mungkin ibu begitu syok melihat kelakuan anaknya sendiri yang seperti ini namun ku lanjutkan saja aksiku ini seperti biasa.kutinggalkan ibuku didalam kamarnya,kulihat menetes air matanya namun aku mencium keningnya kembali.

Esok harinya ibuku tengah memasak di dapur,dia sangat diam hari ini.kutanya "bu,bibi kemana?"

"lagi ke pasar"jawab ibuku dengan dingin

kembali nafsuku berbicara pada otakku melihat tonjolan pantat ibu ku yang begitu gempal,lalu ku datangi ibuku diam-diam dan dari belakang ku masukan lengan ku ke dalam celemek ibu dan ku remas buah dada ibuku "ahh.."

"Rando kamu mau apa lagi"

tanpa dibalas olehku langsung ku sedot saja bibir dan lidah ibuku..awalnya menolak tapi tenaga ku lebih kuat,terang saja aku seorang atlit sepakbola di sekolahku.perlawanan ibuku melunak mengetahui aku lebih kuat.ku perosotkan saja daster bawahnya dan perosotkan pula celana boxer ku,tapi aku tidak langsung memasukan ke vagina ibuku.

"haahhh Rando kamu mau apa?"tanya ibuku dengan kaget,"tenang bu aku tahu,ibu diam saja"balasku lalu aku taruh kelaminku dibawah vagina ibuku sehingga labia vagina ibuku menggesek kelaminku yang telah menegang dan keras."ahhh..."desah ibuku"kenapa bu?geli ?"tanya ku namun ibu tidak menjawab.Jujur saja aku sudah cukup hangat tanpa harus masuk ke dalam vagina ibuku karena paha ibuku yang putih kemerahan sudah menjepit kemaluanku dengan keras di selangkangnya,lalu kuciumi lagi bibir ibuku,kuberikan ludahku sebanyaknya sembari aku menggesekan kelaminku di labia vaginanya,lalu ibu menelanludahku dan memberikan ludahnya padaku sebanyaknya,ku telan ludah ibuku yang enak itu.ludah yang berceceran ku tampung ditangan ku dan ku olehkan pada kelamin dan paha ibuku sehingga gerakanku bisa lebih licin dan lebih kuat."aaahhhhh..."teriak ibu.. ibuku orgasme,sedangkan aku tidak.. kumainkan putingnya yang telah membesar,ku lepaskan ciumanku dan ku ceritakan hal yang tabu agar menambah gairah ibuku.

"Bu puting ibu membesar ya.."

"....."ibu hanya diam menahan rasa gairah dan juga rasa geli dari yang ku mainkan

"Rando jadi ingat waktu kecil suka sekali menyusu ke ibu,susu ASI ibu sangat enak buat Rando"saat yg bersamaan ku hirup wangi dari shampo yang dipakainya

"...hhm..mm...."

"Rando mau menyusu lagi sama ibu..."

"..apa yang kamu katakan Rando..aaaaaahhhh..."ketika ibu bicara ku tekan buah dadanya dengan keras.

kulanjutkan perkataan tabu itu pada ibuku namun ibuku hanya diam saja,lima menit kemudian kaki ibuku mengejang dengan kuat,tubuhnya bergetar"aaaaahhhhhh...."teriak ibu dengan suara mendesah paraunya.ibu akan orgasme lagi.. ku lihat vagina sudah banjir ternyata.. dan setelah itu ku hentikan semua aksiku,aku melangkah mundur beberapa detik.

"hah hah hah.."muka ibuku memerah seolah menginginkan sesuatu dia menatapku..

"kenapa bu?"

"...Rando.. kamu.."

"kenapa bu.."

"..."ibu hanya diam

"kalau ibu mau ibu harus mengatakannya! atau Rando ngga akan melakukannya" ancamku,atau ku biarkan ibuku termakan oleh gairahnya dan tidak terlampiaskan

"ibu mau tidak!!"tanyaku lebih kerass

"..ma..maauu.." kata ibuku dengan malu – malu,akhirnya ibu kandungku yang melahirkanku telah jatuh pada diriku,anaknya sendiri

"dengan sigap ku dekati lagi tubuh ibuku dan kumasukan kembali kemaluanku kali ini ke vaginanya dari belakang."aaaahhhhh....."teriak ibuku,baru saja ku masukan ibu sudah orgasme ke dua kalinya.hangat rasanya.

Tanpa memperdulikan ibu yang masih kelelahan aku ku mundurkan perlahan kemaluanku dan ku masukan dengan cepat sedalam – dalamnya hingga mentok."ahhhh...hhmmppff.." teriak ibu yang langsung ku hisap kembali mulutnya..ku goyangkan dengan keras kali ini.."ahhh.. ahhh... ahhh... Randoo... ahhh..." vagina ibu serasa memijat kemaluanku lagi kali ini vagina ibu terasa lebih hangat dari biasanya.lalu dari belakang ku angkat kaki kanannya menggunakan tangan kananku dan ku balikan badannya sehingga kami berhadapan.

Lalu ku angkat dengan sekuat tenaga tubuh ibu ku yang begitu gempal,sehingga berat ibu benar – benar bertumpu pada diriku,namun kurasakan sensasi yang tiada tara,ku hisap buah dadanya dengan keras,lalu ku tidurkan ibuku di meja makan,dan ku lanjutkan gerakanku,"aaahhh ahhhh..."kali ini vagina ibu semakin menyempit mungkin ibu sudah mau orgasme namun aku pun mau keluar juga."buuu...ahh.. Rando mau keluar buu..."

"jangan didalam Rando..."

"tapi ini enak sekali buu... Rando ingin sekali memberikan sperma Rando ke rahim ibu.."

"jangan Rando kamu sudah gila.."karena kesal,ku hentakan dengan keras

"aaaahhhhhh....."teriak ibuku

"pokoknya Rando mau didalam"

"Rando, saat ini ibu sedang dalam masa subur kamu mau ibu hamil anak kamu"

"tidak apa apa bu Rando mau punya anak dari ibu,Rando mau ibu hamil anak Rando"lalu ku cium perut ibuku dimana letak Rahim

"ibulah yang membuat Rando dan mengandung Rando dahulu,ibu juga yang harus hamil dari anak yang ibu buat"

"ahhhh..ahhh... jangan Rando..jangann...."

"pokoknya nanti Rando akan bertanggung jawab sama ibu.."

"ibu tidak mau.."ibuku berontak untuk lepas dari peganganku

"LINA!! diam kamu!!"kusebut namanya

"Rando jangan gila kamuu...aaahhh....."

lalu ku tekan keras keras kedalam rahim ibuku hingga mentok,kukeluarkan semua spermaku di dalam rahim tempat ibu membuatku dulu,tubuh ibu dan aku mengejang bersamaan"aaaahhhhhh..."teriak ibuku.. kemaluanku tetap kubenamkan didalam vagina ibu.ku cium kembali mulutnya.

Selesai.

Bab 3

Hampir setiap sore beberapa minggu ini, hobbyku untuk bersepeda di lingkungan tempat tinggalku muncul kembali. Kesehatan memang salah satu alasan kenapa hal ini sering aku lakukan sekarang, Tetapi ada alasan lain yang kemudian menjadi alasan utamaku yaitu seorang cewek atau lebih tepatnya seorang ibu Rumah tangga/tante di salah satu wilayahku. Mbak Devi, begitulah aku sering memanggilnya. Perawakan dengan tinggi 168 cm, berwajah khas orang kota gudeg dan padat berisi khas seorang ibu-ibu muda jaman now. Aku Rizal, seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung. Ketika aku bersepeda, aku selalu bertemu dengan mbak devi, dia selalu menggendong anaknya yang masih berumur 2 tahun di sebuah SD dekat rumahku sambil menyuapi makanan ke anaknya. Dan sering juga aku memergoki mbak Devi sedang menyusui anaknya tersebut, pemandangan itulah yang membuat ku sangat bersemangat untuk melihatnya. Mbak Devi tanpa malu-malu menyusui anaknya di tempat umum dan dilihat olehku. Sering pas aku melihat prosesi tersebut, dia malah tersenyum kepadaku. "Wah ada tanda-tanda sesuatu ini" pikirku Dasar otak mesum, yang dipikir pasti yang itu-itu aja..hehe Malahan kadang aku ngerasa dia sengaja memamerkan payudaranya kepadaku, saat menyusui kadang dia membuka hampir separuh kancing bajunya sehingga telihat dua buah payudaranya yang mengkal itu. Rizal setelah beberapa lama aku baru tahu kalo ukurannya 34C. BH yang dia pakai setiap hari selalu membuatku merasa kalau payudaranya semakin hari semakin merangsang saja. Kadang hitam, pink, merah, biru, ungu dan yang paling aku suka yaitu bentuk BH yang mempunyai renda. Hot banget rasanya. Suatu Saat, aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya. Hari itu dia sedang memakai baju seperti baju tidur berwarna biru laut dengan rok longgar berwarna putih. Masih kayak anak muda aja deh walau umurnya telah menginjak kepala 3. "apa kabar mbak??lagi asyik ngapain ne??" tanyaku "ini dek, biasa nyuapin Doni sambil jalan-jalan" "sekalian nyari udara segar sore hari"lanjutnya. "wah sehat banget keliatannya mbak anaknya, pasti makannya banyak ya?" "ga juga si Zal, Cuma nyusunya itu loh, kenceng banget."timpalnya Otakku yang ngeres langsung deh mengarah ke hal yang iya iya... "wah susu yang mana ne mbak??" tanyaku sambil tersenyum mupeng. "ya susu botol dan susu ini."sambil dia memegang payudaranya sendiri. "Glek, wah mau dong mbak minta susunya, biar aku juga sehat." Hehehe sambil cengenges2an..... "wah susu yang mana neh Rizal, klo susu botol kan ga mungkin toh kamu uda besar." "jangan-jangan yang ini ya??" sambil senyum juga mbak Devi ini. Wuiih...berani juga neh mbak Devi, langsung aja deh aku jawabh dengan ketawa juga "emang bole ya mbak??" Sebelum melanjutkan Cerita ini saya ingin bercerita sedikit tentang reaksi saya melihat ibu menyusui sebelum cerita ini berawal, Entah kenapa setiap melihat ibu menyusui saya jadi kepengen ikut nyusu, dan akhirnya keinginan itupun terwujud Hampir setiap sore beberapa minggu ini, hobbyku untuk bersepeda di lingkungan tempat tinggalku muncul kembali. Kesehatan memang salah satu alasan kenapa hal ini sering aku lakukan sekarang, Tetapi ada alasan lain yang kemudian menjadi alasan utamaku yaitu seorang cewek atau lebih tepatnya seorang ibu Rumah tangga/tante di salah satu wilayahku. Mbak Devi, begitulah aku sering memanggilnya. Perawakan dengan tinggi 168 cm, berwajah khas orang kota gudeg dan padat berisi khas seorang ibu-ibu muda jaman now. Aku Rizal, seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung. Ketika aku bersepeda, aku selalu bertemu dengan mbak devi, dia selalu menggendong anaknya yang masih berumur 2 tahun di sebuah SD dekat rumahku sambil menyuapi makanan ke anaknya. Rizal sering juga aku memergoki mbak Devi sedang menyusui anaknya tersebut, pemandangan itulah yang membuat ku sangat bersemangat untuk melihatnya. Mbak Devi tanpa malu-malu menyusui anaknya di tempat umum dan dilihat olehku. Sering pas aku melihat prosesi tersebut, dia malah tersenyum kepadaku. "Wah ada tanda-tanda sesuatu ini" pikirku Dasar otak ngeres, yang dipikir pasti yang itu-itu aja..hehe Malahan kadang aku ngerasa dia sengaja memamerkan payudaranya kepadaku, saat menyusui kadang dia membuka hampir separuh kancing bajunya sehingga telihat dua buah payudaranya yang mengkal itu. Setelah beberapa lama aku baru tahu kalo ukurannya 34C. BH yang dia pakai setiap hari selalu membuatku merasa kalau payudaranya semakin hari semakin merangsang saja. Kadang hitam, pink, merah, biru, ungu juga yang paling aku suka yaitu bentuk BH yang mempunyai renda. Hot banget rasanya. Suatu ketika, aku beranikan diri untuk berbicara dengannya. Hari itu dia sedang memakai baju seperti baju tidur berwarna biru laut dengan rok longgar berwarna putih. Masih kayak anak muda aja deh walau umurnya telah menginjak kepala 3. "apa kabar mbak??lagi asyik ngapain ne??" tanyaku "ini dek, biasa nyuapin doni sambil jalan-jalan" "sekalian nyari udara segar sore hari"lanjutnya.. "wah sehat banget keliatannya mbak anaknya, pasti makannya banyak ya?" "ga juga si Rizal, Cuma nyusunya itu loh, kenceng banget."timpalnya Otakku yang ngeres langsung deh mengarah ke hal yang iya iya... "wah susu yang mana ne mbak??" tanyaku sambil tersenyum mupeng. "ya susu botol dan susu ini."sambil dia memegang payudaranya sendiri. "Glek, wah mau dong mbak minta susunya, biar aku juga sehat." Hehehe sambil cengenges2an..... "wah susu yang mana ne dan, klo susu botol kan ga mungkin toh kamu uda besar." "jangan-jangan yang ini ya??" sambil senyum juga mbak Devi ini Wuiih...berani juga ne mbak Devi, langsung aja de gue jawabh dengan ketawa juga "emang bole ya mbak??" Tiba-tiba si Doni merengek dan minta susu ke Ibunya.." bentar ya Zal, Doni minta netek nih." sambil dia buka kancing baju 3 biji sambil ngeluarin kedua payudaranya yang masih terbungkus BH warna hitam berenda itu.Wah pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya bisa melihaat dari dekat moment ini. payudara mbak Devi sangat indah ternyata, apalagi BH yang dipakai sangat kontras dengan kulitnya yang kuning langsat dan yang paling aku sukai "BHnya berenda cuy"....yes yes yes. Begitu payudaranya terbuka satu, langsung deh si Doni menyerobotnya dengan cepat dan menghisap dengan kencang. "pelan-pelan sayang, nanti tersedak lho" sambil mbak Devi mengocok-ngocok payudaranya yang sudah dikenyot anaknya itu. Wah jadi mupeng neh, putingnya yang coklat dan agak besar sempat terlihat sekilas oleh mataku. "Penis ku sudah mulai berontak neh, gawat" batinku Waktu itu kami berada di pinggir lapangan sebuah SD, tepatnya di tempat duduk di luar kelas yang terletak dipojokan gedung. Mbak devi tiba-tiba meminta anaknya untuk berganti posisi supaya anaknya mengenyot payudara yang satunya. (uda abis mungkin yang kiri??) payudara yang sudah selesai diisep anaknya dibiarkan menggantung bebas, "Duh otong uda ga kuat neh, uda berdiri tegak didalam celana dan membuat aku jadi salting. Mbak devi ternyata melihat gelagat anehku ini. "Kamu kenapa Zal??" tanyanya Dengan terkaget aku menjawab "anu..emm..eh ngga papa kok mbak." "jangan bohong kamu Zal, kamu pengen ya??" Duh semakin tegang aja dengan pertanyaan seperti ini. Tapi karena amin telah mengalahkan iman maka akupun menjawab "emangnya boleh ya mbak? Nanti ada yang marah?" "ya asal ga rebutan sama Doni ya ga papa." Wah bener-bener beruntung ne hari ini...."maksudnya Mbak?"sok sok berlagak begok neh aku. Sambil memutar-mutar payudaranya yang sebelah kiri dia bilang "ayo sini aja, masih ada satu kok." "tapi pelan pelan ya, si Doni mau tidur nih kayaknya" lanjutnya. Langsung aja gua deketin mbak Devi, pertama-tama aku masih ragu, Tetapi dia terus menarik tanganku untuk menyentuh bukit yang indah itu. "jangan malu Zal..."sambil menyentuhkan tanganku ke payudaranya itu.. Ku elus-elus payudara itu dengan lembut, seru juga ya mainin payudara cewek yang menyusui sambil ada anaknya yang sedang netek. (ukurannya itu lho, manteb banget!!) Waduw kayak threesome aja, tapi yang satu masi anak-anak. Lama kelamaan remesanku terhadap payudaranya ternyata membuatnya ON, terus aku beranikan untuk mencium putting yang imut itu. "mas di sebelah sana aja yuk?"dengan menunjuk sebuah pelataran kecil di pojok gedung dengan lokasi agak ke belakan.wah seru juga ne tempatnya.. "ayo mas dilanjut lagi." Ajaknya "mbak dibuka aja deh bajunya, biar lebih gampang."pintaku Akirnya dia membuka baju itu dengan mudah karena tinggal beberapa kancing saja yang belum terbuka. Dengan BH yang masih menempel diatas payudaranya, aku mulai mengisap, memilin, menjilat dan memainkan dengan lidahku. Tanganya mulai bereaksi terhadapku, menelusurlah tangan kirinya ke selangkanganku. Mulailah dia mengelus dari luar, kemudian tak berapa lama telah masuk ke dalam celana kolorku. Di tempat itu, terdapat sumur dengan sedikit lantai kering berbahan beton yang hangat karena terkena sinar matahari seharian. Dengan perlahan aku rebahkan dia di lantai tersebut dengan Doni masih mengenyot payudaranya yang kanan tanpa terganggu sedikitpun. Dia memintaku melepas celana dan baju yang kupakai sehingga hanya tertinggal CD kaos ku yang menempel. Langsung akupun rebahan di samping mbak Devi sambil saling berciuman. Ganas juga ciumannya, lidah kami saling bertemu, mulut pun beradu sambil tangan kiriku bergerilya di dalam roknya. Bergantian aku mencium bibir dan payudaranya itu sambil tangan kiri mengelus gundukan selangkangannya. Tangan kananku tak mau kalah mulai melepas kaitan BH yang masih menempel itu. Mbak Devi juga makin liar mengelus Penisku dari luar celana dalam, kemudian karena tidak puas dia masuk ke dalam celana dalamku dan mengelus+mengocok Penisku..mantap bener rasanya, namanya juga uda pengalam kali ya? "Zal, mbak ga bisa bangun ne, jadi tolong bukain celana dalammu ya?" Langsung kubuka celana dalamku sambil berdiri. Kulihat dia tersenyum menatapku, ketika terlepas, menyembullah Penisku yang sudah tegang ini. "gede banget Rizal?punya suami mbak aja kalah" Penis ku masih standar dengan ukuran 17cm, namun gendut dari pangkal ke ujung. "masak si mbak?"tanyaku.. "mbak, aku bole minta diemut ga Penisnya?" Sambil senyum dia mengangguk tanda mengiyakan. Aku arahkan Penisku ke mulutnya, dan langsung dijilati pelan-pelan sampai dia menelannya. Tanganku tak mau menganggur, aku raih payudara yang kanan dan dengan sedikit susah payah aku jangkau celana dalamnya yang berwarna hitam berenda pula, kemudian aku lepaskan namun dengan rok yang masih terpakai. Sambil terus menjilat dan mengulum Penisku, aku terkagum melihat vaginanya yang tercukur mulus dengan bibir merah dan sedikit menjulurkan kulitnya keluar, langsung saja aku memposisikan diri membentuk angka 69. dengan perlahan aku menjilat bibir vaginanya, aku julur-julurkan lidah ini kedalamnya secara perlahan. Sengaja aku memancing nafsunya agar terus naik, terlihat dari cara dia mengulum Penisku yang semakin liar. Disedot-sedot dengan kenceng Penisku ini sampai tertelan semuanya, "wah hebat ne, Penisku sampai bisa ditelan abis" pikirku. Jariku mulai ikut campur dengan lidahku, mulai aku masukkan sedikit ujung telunjukku ke miss V nya dengan terus menjilat, aku ga mau merusak vagina yang indah ini dengan tanganku. Hanya Penisku yang hanya boleh masuk lebih dalam lagi. Lenguhan mbak Devi yang terangsang dengan aksiku terdengar cukup keras, untung daerah tersebut sepi dan jarang dilewati orang. Anaknya, doni, gak merasa terganggu dengan lenguhan mamanya itu namun tetap tertidur, mungkin ngantuk berat kali??hehehe tanpa terasa vaginanya uda basah banget dan tak berapa lama cairan benih agak putih keluar dari lubang surga tersebut, tubuh mbak Devi agak terhentak dan mulutnya terasa sedikit menggigit Penisku. "Pasti dia uda sampai duluan ni?" pikirku dalam hati. Aku hentikan aksiku dan aku cabut juga Penisku dari mulutnya, mbak Devi terlihat sedikit lemas namun tetap tersenyum penuh gairah terhadapku. Aku sudah sangat terangsang dan pengen memasukkan Penisku ini ke sarangnya, begitu juga mbak Devi yang begitu terangsang melihat Penisku. "mbak, aku bole masukin ne?"tanyaku Dia hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Aku lebarkan pahanya itu, dengan agak menindih aku masukkan sedikit demi sedikit Penisku ini. Aku resapi tiap jengkal kenikmatan surga ini, belum sampai setengah mbak Devi terlihat sedikit meringis. " Pelan-pelan Rizal...agak sesak ne rasanya.." "Rizal...besar sekali punyamu, tapi nikmat banget Rizal!" "terus Rizal....."sambil menggigit bibirnya Setelah masuk seluruhnya, aku genjot dia dengan posisi MOT dan sambil aku push-up mantep banget, rasanya dalem banget Penisku ini menusuknya. Mulutku tak mau kalah, mencium dan mengemut payudaranya secara bergantian. Hampir 15 menit kami dalam posisi seperti ini, karena sedikit lelah akupun berubah posisi. Aku cabut dengan cepet Penisku, serr sensasinya ruaar biasa. Kemudian aku rebahkan badan ku disampingnya dan miring kekanan, aku angkat kaki kirinya ke atas kemudian dari samping aku masukkan Penisku lagi. BLESSS....Penisku ini telah tenggelam lagi kedalam lubang surgawi, aku goyang pelan, sedikit bertenaga dan kenceng.....sambil mulut ini beradu dan tangan kiriku meremas puting payudara sebelah kiri. Lagi asik-asiknya tiba-tiba anaknya terbangun. "Duh gawat ne?" kataku dalam hati. Namun mbak Devi langsung mengelus anaknya dan mendekapnya agar tetap diam dan akirnya doni pun tertidur kembali sambil netek. Wah lengkap sudah yang mbak Devi rasakan, uda yang bawah diganjal ama Penisku, kedua payudaranya ada yang ngenyot dan mulut juga bergantian aku lumat. Erangannya semakin kuat hampir menuju puncaknya, akupun merasakan ada sesuatu yang mau menyembur dari ujung Penisku. Semakin ku percepat gerakan Penisku ke dalam vaginanya, semakin liar juga kami berciuman dan semakin ganas tanganku meremas payudaranya. Setelah hampir 20 menit dalam posisi tersebut tiba-tiba aku ngerasa uda hampir sampai. "Mbak aku mau keluar ne.." "aku juga Rizal, bareng ya..."pintanya Aku terus mnggoyangkan Penisku dengan makin cepat, 5 menit kemudian aku sudah tak tahan lagi. "Mbak....k...k....aku keluarrrrrrr" "aku juga dek...k..k..." Crot..Crot..Crot...Crot...tumpahlah semua maniku ke dalam vaginanya.ahhh.....nikmat banget rasanya, sampai ke ubun-ubun rasa nikmat itu. Tapi walau uda keluar aku tetap membiarkan Penisku di dalam vaginanya.

Kami masih saling berpagutan lembut menikmati tiap centi kenikmatan yang telah kami lewati., tanganku juga masih mengelus payudaranya, anaknya juga masih mengenyot payudara yang satunya secara perlahan. "Makasih ya Rizal....sensasi ini belum pernah aku dapatkan." "sama sama mbak, makasih juga uda diberi kehormatan mencicipi tubuh mbak." "udah lama aku pengen ama mbak setiap kulihat mbak neteki disini" "nakal kamu ya Rizal!!" "mbak juga sengaja si ngeluarin payudara kok sampe dua duanya. Hehehehe" Aku cabut Penisku, "Ploop.." bunyinya.

Setelah itu aku bangun dan memakai semua bajuku, aku kenakan lagi celana dalam mbak Devi sambil aku berikan kecupan kecil di bibir vaginanya. "uhh....."lenguh mbak Devi. Diapun mengaitkan Bhnya tanpa memakai dulu karena doni masih netek. Kamipun masih berbincang, dan aku masih merasa pengen menghisap payudaranya. Mbak Devi mempersilahkan aku untuk tetap mencium payudaranya...sampai menjelang senja akirnya kami keluar dari SD tersebut dengan doni yang mulai terbangun. Kami pun berjanji akan mengulangnya kembali. Sungguh sensasi yang luar biasa dari seorang wanita menyusui.

Selesai...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED