Bab 2

"Gadis sialan! Setelah menamparku. Beraninya meninggalkanku begitu saja. Aku harus memberinya pelajaran!" Glenn segera mengambil langkah besar untuk menyusul Lala.

"Dasar siput," batin Glenn kembali bermonolog ketika melihat gadis itu yang belum jauh bahkan dari tadi baru sampai ruang tamu. Glenn tersenyum mengejek melihat langkah kecil itu.

Sebenarnya Glenn tidak begitu peduli dengan uang dua ratus juta itu. Dia hanya ingin tunangannya bisa kembali padanya. Itu saja, dan mendadak ingin mengerjai bocah miskin yang baru dikenalnya ini.

Sepertinya akan jadi mainan baru untuknya dihidupnya yang semakin statis.

Glenn mencekal lengan kecil itu, menariknya dan melemparkan ke sofa panjang berwarna abu di ruang tamunya.

"Akh!" Lala meringis kesakitan.

"Kamu tidak boleh pergi! Sebelum menjelaskan semua pada pacarku!" ucap Glenn kemudian. "Dan karena kau telah menamparku. Kau juga harus diberi hukuman," ancamnya.

"Jangan khawatir. Aku akan kembalikan uangmu," lirih Lala.

"Kamu pikir setelah uangku kembali, pacarku juga akan kembali. Diam di sini dan jangan coba-coba kabur!" ucap Glenn kemudian kembali masuk ke dalam.

Lala menurut saja duduk di sofa ruang tamu. Pandangannya menjelajahi ruangan itu dan berhenti pada sebuah foto lelaki yang merangkul seorang gadis cantik.

"Hmm. Ini mungkin pacarnya Glenn. Cantik sih, tapi bagaimana mungkin mau sama Glenn?" Lala bermonolog dalam hati.

Tak berapa lama kemudian, Glenn keluar dengan penampilan yang sangat berbeda. Semula dirinya hanya pakai celana kolor pendek dan kaos putih.

Kini sudah berganti. Glenn memakai kemeja denim dikombinasikan dengan celana jeans dengan detail sobek-sobek di bagian depannya. Sementara kemejanya dilipat sampai siku memperlihat kan bulu-bulu halus di tangannya.

"Ayo kita pergi," ajaknya kemudian

Hei. Kenapa Lala tersentak mendengarnya? Benarkah lelaki keren ini mengajaknya berkencan? Bukankah ini terlalu cepat?

"Hei, bocah? Selain miskin apa kau juga tuli?!" Glenn tersenyum sinis. "Cepetan! Kita sudah tidak punya banyak waktu," ucap Glenn sembari melihat arloji yang melingkar di tangannya.

"Tapi kamu mau mengajakku ke mana Glenn?"

"Ha ha ......!!! Lucu sekali pertanyaanmu?!" ucap Glenn dengan memajukan wajahnya. Glenn tampaknya menyukai mainan barunya. "Kemana?! Ke hotel dong. Kamu tahu? Aku tidak ingin menodai sepreiku, akibat pelunasan hutang itu!" ucap Glenn tersenyum miring tepat di wajah Lala, bahkan hidung tinggi itu hampir menyentuh pipinya.

"Jangan kurang ajar!" Lala mendorong tubuh besar itu. Hingga Glenn mundur beberapa langkah.

"Ha ha..., jangan banyak protes, atau akan kulaporkan dirimu ke polisi? Ikut bersamaku," perintah Glenn.

Lala hanya mengekori langkah besar itu, sedikit terburu mengimbanginya hingga nafasnya terengah-engah. Mereka berdua masuk ke dalam lift dan Glenn menekan tombol paling bawah.

Lala terpaksa menurut daripada ambil resiko dilaporkan polisi seperti ancaman Glenn. Jika itu terjadi pasti keluarga besarnya marah. Bukankah Lala dalam proses melarikan diri dari keluarganya.

Pintu Lift terbuka Glenn terus saja berjalan tanpa memedulikan Lala. Tapi Lala tetap patuh, sebagai rasa tanggung jawabnya, sudah memakai sebagian uang Glenn.

Rupanya Lala di bawa ke Basemen tempat mobil Glenn terparkir. Glenn membuka pintu dan duduk di balik kemudi mobil sport berwarna hitam itu. Namun ketika Lala tidak juga ikut masuk. Glenn membuka kaca mobilnya.

"Masuk atau aku laporkan polisi?!" ucapnya tidak terdengar seperti penawaran akan tetapi lebih seperti ancaman.

Lala membuka satu sisi pintu mobil itu dan duduk di samping Glenn. Mengapa posisi ini begitu sulit. Apakah benar Glenn akan mengajaknya ke Hotel?

Lala terlihat gelisah sementara mobil Glenn mulai membelah jalan menyusuri keremangan kota Violens. Lala memandang lurus ke depan. "Inikah karma karena telah melawan Ayah?" batinnya.

Tiba-tiba dirinya ingat sang Bunda. Bulir bening di sudut mata cantiknya mulai menetes.

Glenn meliriknya sekilas. Melihat gadis itu menangis rasa kasihan menggelitiknya.

"Kenapa menangis?" tanyanya kemudian dengan suara sedikit lembut.

Lala hanya menggeleng dan mengambil tisu dari dalam tasnya. Kemudian mengelap air mata yang sudah terlanjur membasahi pipinya, bahkan dirinya tidak menginginkan menangis. Lala tidak ingin terlihat lemah di mata Glenn.

"Antarkan aku pulang," cicitnya dengan suara yang teramat pelan. Terdengar lebih seperti suara anak burung yang baru lahir.

Glenn tidak menjawab hanya tersenyum, dan terus berkonsentrasi pada jalanan, karena tujuan mereka sudah hampir sampai.

Mereka tiba di parkiran sebuah kafe. Lala tersenyum sedikit lega, karena bukan hotel seperti yang dibilang Glenn tadi yang mereka datangi. Apakah Glenn tahu jika Lala lapar dan ingin mengajaknya makan.

Glenn keluar lebih dulu. Sementara Lala masih sibuk melepas seatbeltnya dan menyusul keluar. Dirinya menatap punggung tegap Glenn. Seketika curiga mulai menyergapnya, apa yang di rencanakan Glenn? Sepertinya Lala berniat kabur.

Lala memutar langkahnya hendak melarikan diri. Namun baru dapat beberapa langkah cekalan kuat ditangannya membuat berubah pikiran

"Sakit!!" ucapnya meringis.

"Jangan coba-coba kabur," Glenn melepaskan cekalannya. "Ikuti aku!" titahnya.

Lagi-lagi Lala harus menurutinya. Berjalan di belakangnya. Sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu berjalan memasuki kafe. Tidak terlihat seperti sepasang kekasih sama sekali.

Glenn tersenyum tertangkap mata seorang wanita cantik duduk di meja nomor lima puluh delapan yang terletak di pojok kafe.

Gadis berkulit putih dengan rambut panjangnya tampak curly di bagian bawah di biarkan tergerai bebas. Tangan lentiknya dengan kuku cantiknya yang di hiasi lukisan nail art berwarna dominan merah muda itu sedang memainkan ponselnya. Kalau ditilik nampaknya detail sekali soal penampilan.

Karena terlalu asyik memainkan ponselnya hingga tidak menyadari langkah kaki yang mendekati mejanya. Bahkan laki-laki ini sudah tepat di hadapannya diikuti seorang gadis kecil dengan raut muka penuh tanda tanya.

Lala baru tersadar bahwa gadis ini sama dengan foto yang berada di ruang tamu apartemen Glenn. "Syukurlah," batinnya lega. Tapi dia terlihat lebih cantik dari foto yang dilihatnya.

Iya. Namanya Sabilla Veronika, berusia dua tahun lebih tua dari Lala.

"Hei, Sayang?" ucap Glenn

Sabila mendongak ke atas menyadari kekasihnya sudah datang. Tiba-tiba sinar di matanya meredup. Dahinya berkerut.

Tanpa menunggu jawaban Sabila. Glenn duduk tepat di depan gadisnya. Laki-laki itu menggenggam tangan lentik Sabila. "Apa masih marah? Tuan putri" ucapnya sambil tersenyum manis sekali. Bahkan Lala sampai terkejut tiba-tiba Glenn bisa selembut itu. Dengan bodohnya dirinya masih berdiri mematung menyaksikan pertunjukan ini.

“Sial...!! Dia pikir aku obat nyamuk?” runtuk Lala dalam hati. Sambil terus menyaksikan drama yang baru saja dimulai.

"Untuk apa kau memintaku kemari? Bukankah kita sudah selesai?" ucap Sabilla.

"Sayang, jangan bilang begitu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu?" ucap Glenn.

"Lalu dia siapa?" tanya Sabila kemudian. Dengan pandangan mengarah pada Lala yang sejak tadi masih berdiri.

Lala jadi salah tingkah ketika mata Sabilla menyorotnya tidak bersahabat. “Astaga, mungkin dia mengira aku rivalnya,” batin Lala

"Duduklah," ucap Glenn lembut. Dahi Lala mengernyit akan perubahan sikap Glenn kepadanya. Tumben tidak kasar seperti tadi, ataukah ini hanya pencitraan di depan Sabila.

Tiba-tiba saja Lala merasa muak. "Namanya Lala, dia yang membuat kita salah paham, Sayang"

"Hah...!!! Dia yang ceroboh. Mengapa aku yang di kambing hitamkan?" protes Lala dalam hati.

"Coba jelaskan Lala, apa yang sebenarnya terjadi?" titah Glenn.

"Baiklah, perkenalkan namaku Lala kak. Sebenarnya aku sendiri juga bingung sewaktu ada transfer masuk dari bank lain sebesar dua ratus juta rupiah. Aku pikir uang itu dari Ayahku. Mengingat satu-satunya orang yang memberiku uang hanyalah Ayah. Aku asli kota Burgundi kak, di sini aku kuliah dan tinggal di kos. Aku pikir ayah mengirimiku uang untuk biaya hidup di kota Violens ini,"

"Kalian tidak sedang bersekongkol ‘kan?" tanya Sabila dengan tatapan memindai wajah mereka bergantian.

Lala mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sepertinya masalah ini harus segera selesai. Dengan begitu dirinya akan terbebas dari Glenn. Kemudian menunjukkan notifikasi transfer masuk dan mobile bankingnya.

"Silahkan dicek kak tanggal dan harinya," Lala menyerahkan ponsel itu pada Sabilla. Kemudian Sabilla menelusuri riwayat chat dengan kekasihnya dan mencocokkannya. Iya benar data dari notifikasi mobile bangking Lala sama persis dengan screenshoot bukti transfer yang pernah dikirim kekasihnya itu.

"Tapi ini bukan rekayasa 'kan?"

Sabila masih meragukannya, hingga Lala mengeluarkan dompet warna pinknya. Lala mengambil kartu mahasiswa dan KTP untuk diserahkan pada Sabila.

"Silahkan di Cek kak, nama di bukti transfer itu sama dengan nama di KTP saya. Saya benar-benar tidak tahu kak jika itu yang kirim Glenn, sebab jika beda bank maka nama pengirim tidak muncul dalam notifikasinya," jelas Lala.

Glenn mengamati dua gadis cantik itu, dan tampak puas dengan jawaban Lala. "Cukup pintar juga bocah ini untuk seukuran gadis miskin."

"Saya berjanji akan mengembalikan uang, kak Glenn," ucap Lala. Sambil mengamati wajah Sabila. "Jika sudah selesai tugas saya, ijinkan saya mohon diri kak. Takut mengganggu acara kalian,"

"Oh, jangan pergi dulu, Lala. Kita bisa makan bertiga. Bukan begitu sayang?" ucap Glenn manis sekali meminta persetujuan Sabila.

"Huh! Dasar manusia bertopeng, bisanya pencitraan mulu!" umpat Lala dalam hati.

***

BERSAMBUNG

Bab 3

Sebenarnya Lala tidak semiskin yang Glenn kira. Bahkan dirinya adalah putri bungsu dan pemilik 'Harani Hospital'. Siapa yang tidak mengenal mereka?

'Harani Hospital' merupakan rumah sakit terbesar berpusat di kota Burgundy, yang cabangnya hampir ada di setiap provinsi. Kiprah pasangan Harjito Pribadi dan Iriani Retno Wulandari pun tidak diragukan lagi dalam dunia kesehatan. Mereka adalah tokoh yang sangat dikenal.

Lalu, mengapa Lala sampai terdampar di kota Violens?

Tidak! Dirinya tidak terdampar. Lala pergi atas kemauannya sendiri.

Suatu Malam Harjito mengajak Lala ke ruang kerjanya untuk membicarakan sesuatu. Lala tidak begitu dekat dengan Ayahnya, dan jarang sekali di minta mendatangi ruang kerjanya.

Ini pasti penting.

Mengapa tiba-tiba detak jantung Lala bekerja lebih cepat? Atau Lala sudah melakukan sebuah kesalahan sehingga Harjito sampai memanggilnya?

"La," Harjito memulai percakapan.

"Iya, Yah," jawab Lala kemudian

"Ayah bangga, kamu bisa lulus SMU dengan nilai yang sangat memuaskan," ucap Harjito dengan senyuman yang melengkung sempurna di bibirnya. Mereka duduk berhadap-hadapan yang hanya terhalang meja berbentuk persegi di antara mereka.

"Terimakasih, Yah. Lala janji akan selalu buat ayah bangga," jawab Lala lega.

"Hmmmmmm........ jadi hanya ini yang mau ayah katakan. Atau setelah ini ayah akan memberikanku hadiah?” batin Lala sambil memikirkan hadiah apa yang bakal dia minta nantinya.

"Bagus, ayah bahagia mendengarnya, La. Ayah juga sudah mempersiapkan jurusan apa untuk kuliahmu nanti. Besok pagi jam sembilan siapkan berkas-berkasmu, Pak Darmin akan membantumu mengurus pendaftaran!" ucap Harjito Pribadi kepada sang putri.

"Tapi Yah, Lala sudah mendaftar di Universitas Nuansa lewat jalur prestasi, dan kebetulan diterima," ucap Lala pelan dengan pandangan tertunduk. Sebab sudah dipastikan, setelah ini dirinya akan dimarahi. Mengingat, dari awal Papanya ingin dirinya mengambil fakultas kedokteran.

"Baiklah universitas kamu bisa pilih di mana pun, asal jurusannya tetap ambil kedokteran?"

Lala terdiam. Hari ini adalah hari yang paling ditakutkan. Sama seperti yang telah dilewati kedua kakaknya. Ini perkara sensitif bagi keluarga mereka.

Sanggupkah Lala menolak seperti kedua kakaknya?

"Lala ambil jurusan Sastra, Yah" ucap Lala sepelan mungkin, bahkan dirinya berharap Harjito tidak mendengarnya.

BRAKKK!!!

Celakanya Harjito cukup mendengar dengan jelas apa yang telah Lala ucapkan. Harjito menggebrak meja kerjanya. Senyum yang semula terbit sekarang terbenam kembali. Wajah Harjito memerah menahan amarah.

"Batalkan! Apa tidak ada satu pun anak Ayah, yang mau mendengarkan keinginan orang tuanya?!”

Harjito meninggalkan Lala sendiri di ruangan itu. Sepertinya sangat kecewa dengan keputusan Lala.

Selang berapa menit kemudian, Lala pun keluar dari ruang kerja Harjito menuju kamarnya, dengan menahan beribu kesedihan.

Sesampai di kamar itu Lala menumpahkan semua kesedihannya dalam tangis.

Bukankah selama ini dirinya sudah menjadi anak penurut. Lala selalu mengiyakan semua ucapan Ayah dan Bundanya mengingat dirinya adalah anak perempuan satu-satunya.

Lala tak pernah ingin membuat kedua orang tuanya kecewa. Kesedihan mereka adalah kesedihan bagi Lala. Tapi bolehkah untuk saat ini Lala sedikit menawar. Lala tidak sanggup jika dipaksa menjadi dokter.

"Lala......" Suara halus itu menghentikan tangisnya sejenak. Lala mengangkat wajahnya yang sedari tadi dibenamkan dalam boneka Teddy Bearnya.

"Bunda...." ucap Lala. Bahkan dirinya tidak mengetahui sejak kapan Iriani masuk ke dalam kamarnya.

"Bunda sudah tahu. Tadi Lala berantem sama Ayah 'kan?" ucap Iriani seraya meraih dan memeluk putrinya. Tubuh Lala semakin bergetar dalam dekapan sang Bunda.

"Turuti kemauan Ayahmu, Nak. Orang tua sudah tentu tahu yang terbaik buat putrinya" ucap Iriani sambil membelai rambut cokelat Lala. Kemudian mengusap-usap punggungnya berulang kali.

"Tapi Bunda, keinginan Lala sendiri gimana?"

"Dengerin. Bunda dulu juga sepertimu. Bunda juga melawan kakekmu, saat bunda diminta ambil fakultas kedokteran. Bunda sangat marah ketika dipaksa. Kamu tahu sendiri 'kan cita-cita bunda ingin jadi chef? Tapi akhirnya Bunda menepikan ego Bunda. Dan lihatlah! Sekarang Bunda bisa jadi dokter. Bunda dan ayah bisa memiliki rumah sakit. Coba pikir jika saat itu bunda melawan. Belum tentu bunda sesukses ini, Nak."

Lala menatap mata teduh Iriani, mencari kebohongan dari sorot mata itu. Tapi Lala gagal, Lala tidak menemukan apa pun, kecuali kejujuran dan ke dalaman kasih seorang Ibu.

"Tapi kenapa harus Lala, Bunda?"

"Lala, Ayah dan Bunda hanya ingin salah satu anaknya menjadi dokter, Nak. Kami sudah cukup kecewa dengan kedua kakakmu?" ucap Iriani sambil membelai rambut Lala.

Lala mengangguk sedih, mengingat dua kakak kesayangannya tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya. Reno memilih menjadi sarjana pertanian dan sekarang bekerja di daerah pelosok, untuk bisa mengembangkan ilmunya dan menghindari konflik dengan Ayahnya.

Sementara Adrian tengah menyelesaikan kuliahnya di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Adrian tetap tinggal serumah dengan orang tuanya, karena memang dia punya karakter cuek.

"Coba, Lala berpikir dulu. Dinginkan hati dan tenangkan diri. Tidak perlu ambil keputusan sekarang, nanti jika Lala sudah mantap dengan pilihan Lala. Beritahu Bunda."

Lala mengangguk. Maniknya melepas langkah Iriani yang beranjak meninggalkannya.

Wanita berusia berusia empat puluh tahun itu keluar dari kamar, dan kembali menutup pintu. "Lala butuh waktu untuk berpikir" batin Iriani berkata dan memutuskan meninggalkan putrinya sendiri.

Selang beberapa saat. Irama ketukan pintu itu terdengar begitu nyaring. Lala mengusap air matanya yang tetap saja mengalir dengan deras. "Semoga bukan Ayah yang ke sini," batin Lala ketakutan.

Kreeekkkk !!!

Derit pintu terbuka menampakkan seorang cowok berwajah ganteng. Iya. Dia adalah Adrian. Kakak ke dua Lala.

"Ngapain nangis, Dek?" tanyanya kemudian ketika mendapati sang adik tengah menangis dan memeluk boneka Teddy Bear berwarna coklat itu.

Lala tidak menjawab tapi segera melompat dari kasurnya dan memeluk kakaknya erat-erat.

"Kak, apa kau bisa membantuku?" tanya Lala menatap wajah kakaknya serius. Ide gila mulai terbesit dipikirannya untuk tetap mewujudkan mimpinya.

Iya jurusan sastra memang sedikit dilirik orang. Tapi itu tidak membuatnya berubah pikiran. Sejak kecil Lala begitu mencintai karya sastra dan tulisan-tulisan indah.

Lala kecil suka ngomong sendiri, membayangkan dirinya seorang putri dan boneka-boneka miliknya adalah kurcaci-kurcaci yang menjadi obyek halunya.

Ketika duduk di bangku SMP, Lala mulai suka menulis. Tulisan pertamanya dimuat di majalah dinding sekolah. Tidak terkira senangnya hati Lala saat itu.

Itulah titik awal kecintaan Lala pada karya sastra. Dirinya begitu rajin mengikuti lomba menulis puisi di pentas seni setiap akhir tahun di sekolahnya.

"Hooiii, jadi nggak minta bantuannya?"

"Jadi Kak, tapi...."

"Tapi apa? Jangan yang aneh-aneh ya?"

Adrian duduk di kursi dekat meja belajar adiknya. Tatapannya mulai terfokus pada rak sebelah kiri kamar itu. Ruangan ini lebih pantas di sebut perpustakaan, dari pada kamar seorang gadis.

"Lala mau kabur dari rumah, Kak?"

"Apa?! Jangan bilang kau sudah punya pacar, ya?"

"Kak, Lala hanya ingin kabur. Bukannya mau kawin lari," ucap Lala kesal.

"Masih kecil kamu itu, Dek. Jangan main kabur-kaburan masih bau kencur, bau bawang, bau kunyit.... jangan macam-macam!"

"Kakak pikir Lala bumbu seblak? Kak, bantu Lala ya?"

"Nggak! Kamu masih di bawah umur dek. Apa siap hamil? Apa siap melahirkan?"

"Lalu apa bedanya dengan kakak? Pacar kakak bahkan seumuran dengan Lala?"

"Dek, tapi 'kan?"

"Nggak ada tapi, apa kakak sudah nggak sayang sama Lala?" ucap Lala sedih. Bulir air mata pun kembali menetes Lala kembali duduk di bibir ranjangnya.

Menyadari Lala sedih. Adrian mendekat, karena dirinya paling tidak bisa melihat seorang gadis mengeluarkan senjata utamanya, yaitu nangis. Herannya kenapa semua wanita yang dikenalnya selalu menangis untuk menyelesaikan masalah mereka.

"Coba jelaskan mau minta bantuan apa?" ucap Adrian lembut.

"Ini bukan tentang pacar, Kak. Lala juga takut pacaran takut ketemu cowok playboy macam kakak."

"Huss! Itu bukan playboy, Dek. Tapi kakak memang best seller," ucap Adrian.

"Bantu Lala pergi ke kota Violens, Lala diterima di fakultas sastra di kampus itu, jadi ......."

"Kakak tahu, kamu harus berjuang dan kakak akan mendukungmu! Tapi jika Ayah sampai tahu tamatlah riwayat kakak nantinya,"

"Aah, Kak Adrian cemen, penakut!" kata Lala kecewa.

"Bukan gitu Dek, tapi kalo Ayah sampai menghentikan biaya kuliah kakak, gimana?" Ucapannya serius.

"Lala nggak peduli! Tolong kak anterin sampai terminal saja. Ayah nggak bakal tahu. Lala janji,"

"Hmmm.... tapi apa kamu sanggup hidup sendiri di kota itu, Dek? Kamu tahu hidup di kota orang itu keras? Bahkan sejak bayi, kamu tidak pernah berpisah dengan Bunda"

"Aku bukan bayi, aku sudah besar, aku harus berjuang demi mimpiku kak, yang paling penting aku tidak mau jadi dokter kak, titik."

***

BERSAMBUNG

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED