PEMB4LUT SUAMIKU
"Astaghfirullah!"
Sontak aku terperangah kaget dan reflek melempar bungkusan plastik itu ke tanah. Aku terkejut bukan kepalang mendapati plastik berisi pembalut bekas pakai yang disimpan Mas Darma di saku celananya.
Untuk apa dia menyimpan pembalut bekas pakai seperti ini? Pembalut siapa ini?
"Mas ... Mas ...." Aku berteriak tak sabar memanggil Mas Darma yang berada di teras rumah dengan anak-anak.
"Ada apa sih, Bu? Gak baik tau malam-malam teriak!" sungut Mas Darma, lelaki yang bahkan diberitakan warga sudah tewas sebab bertahun-tahun lamanya tidak pulang.
Dan aku hanya bisa sabar dan menenangkan anak-anak ketika mendapati olokan demikian dari orang-orang.
Bahkan tak jarang Danu pulang bermain dalam keadaan menangis karena diolok teman-temannya bahwa Danu anak tak diinginkan yang ditinggal ayahnya.
"Mas, i-itu apa? Kenapa ada di saku celanamu?" tanyaku shock sembari menunjuk sesuatu yang tergeletak di tanah.
"Laksmi! Aku tidak suka ya kamu sembarangan membuka celanaku seperti itu! Lancang kamu sekarang, ya!" bentak Mas Darma yang membuatku tersentak kaget.
Ada rasa tak percaya dia membentakku seperti itu. Sebab, ini baru kali pertama dia meninggikan suara terhadapku bahkan hanya karena perkara sepele.
"A-aku tidak berniat seperti itu, Mas. Aku hanya ingin mencuci celanamu. Benda itu menganggu berada di sakumu dan akhirnya kuambil khawatir sesuatu yang penting," jelasku panjang lebar dengan mulut gemetar.
Tiktok 1
Pasalnya, kilatan mata Mas Darma begitu tajam dan nyalang menatapku. Seolah aku sudah melakukan hal fatal di sini.
Padahal, harusnya aku yang marah dan dia berutang penjelasan padaku. Bagaimana pembalut bekas pakai wanita bisa ada di sakunya bahkan jumlahnya tidak hanya satu. Terlebih masih ada noda darah di sana. Aku bergidik ngeri melihat bungkusan dengan plastik kresek putih itu tergeletak di lantai.
"Aku baru pulang dari perjalanan jauh, harusnya kamu ngelayani aku! Bukannya malah menanyakan hal tidak penting seperti ini! Lain kali jangan lancang membuka celanaku sembarangan!" peringat Mas Darma serius. "Bukan hanya celana, tapi apapun barang milikku!" imbuhnya sengit.
Aku menunduk takut. "I-iya, Mas. A-aku minta maaf."
Mas Darma membuang muka dan keluar kamar tanpa berkata apapun lagi.
Kejadian barusan masih tak bisa kupahami. Sejak awal Mas Darma pulang, aku merasa ada yang berbeda darinya. Namun, kupikir wajar karena kami tidak bertemu hampir menginjak satu dekade lamanya. Jadi tak heran aku merasa asing. Bahkan, kali pertama ketemu sore tadi saat dia pulang, aku sempat mematung beberapa saat dan tidak ingat siapa dia.
Sembilan tahun berpisah banyak hal yang berubah dari Mas Darma. Mulai dari postur tubuh dan wajahnya ada banyak perubahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Pikiranku kalut memikirkan pembalut bekas yang berada di saku Mas Darma barusan. Namun, aku tidak berani menanyakan ini lebih jauh. Situasinya sedang tidak tepat. Mungkin benar Mas Darma capek.
***
"Mi ... Laksmi ...."
"Iya, sebentar!" teriakku dari arah dapur. Tergesa aku menghampiri asal suara di teras depan.
"Budhe? Silakan masuk, Budhe," ujarku mempersilakan Budhe masuk.
"Udah gak perlu. Budhe cuma mau tanya asam jawa kamu ada stok nggak? Budhe lupa bikin kehabisan," ujar Budhe Yanti. Ia berdiri di ambang pintu.
"Oh, asam jawa. Iya aku ada stok banyak, kok. Bentar aku ambilkan. Budhe silakan duduk dulu."
Aku masuk ke dapur mengambil asam jawa yang Budhe pinta.
"Mi, itu kok ada kopi lengkap sama camilannya. Habis ada tamu siapa, Mi, pagi-pagi begini?" Budhe menunjuk meja di beranda rumah yang ada piring berisi ubi kukus serta kopi yang sudah sisa setengah di sana.
Kami sengaja menyediakan kursi lengkap dengan meja mini di beranda rumah. Sebab, jika ada tamu lelaki aku tidak boleh membawanya masuk. Jadi kujamu tamu tersebut di sini. Khawatir menimbulkan fitnah sebab aku wanita bersuami yang tinggal sendiri, sebelum Mas Darma pulang.
"Oh itu, bekas Mas Darma, Budhe," sahutku sambil tersenyum manis. Ada rasa bahagia sekaligus tak percaya akhirnya yang kami harapkan kini sudah terjadi. Mas Darma benar-benar pulang dan aku bisa membuktikan bahwa yang diberitakan orang-orang kampung tidaklah benar jika Mas Darma sudah meninggal.
Mendengar jawabanku, Budhe mengangkat alis seolah heran. "Darma? Suami kamu?" tanya Budhe ragu.
"Iya, Budhe. Alhamdulillah. Bapaknya anak-anak sudah pulang," sahutku penuh semangat.
Budhe tiba-tiba mengusap seluruh tubuhnya sembari bergidik seolah tengah merinding. Pandangannya kemudian menatap awas ke kanan kiri dan seluruh rumah.
Lantas, wanita setengah baya itu pergi begitu saja dengan melempar tatapan mengerikan padaku.
"Hii! Benar ternyata kata orang!" gumamnya seolah mencibir yang masih bisa kudengar sebelum Budhe benar-benar menjauh.
PEMB4LUT SUAMIKU (2)
"Buk, Mira takut deket-deket sama Bapak. Bapak sering liatin Mira terus," bisik putri sulungku dengan bibir gemetar.
Tak bisa dipungkiri aku bisa melihat sorot ketakutan dari matanya.
"Iya, Buk. Danu juga takut. Jangan tinggalin Danu berduaan sama Bapak ya, Buk," sambung Danu berbisik.
"Shutt! Kalian gak boleh bicara gini. Harusnya kalian senang dong, bentar lagi lebaran bisa sama Bapak. Danu juga gak lagi diolok teman-teman karena gak punya Bapak," jelasku pelan-pelan sambil berbisik, sembari menatap awas sekeliling.
Aku khawatir Mas Darma mendengar pembicaraan kami dan tak bisa dibayangkan bagaimana sedihnya dia mendengar perkataan seperti itu dari anak-anaknya.
"Ibuk sih gak pernah liat kalau kita berdua lagi sama Bapak. Bapak lihatin Mira terus!" kekeuh Mira tak putus asa. Anak itu memang keras kepala.
"Iya. Bapak gak pernah ajak kita becanda, Buk. Bapak bengong terus."
Aku menghela napas. "Sebentar!" kataku lalu bangkit meninggalkan mereka dan pergi ke kamar, hendak mengambil sesuatu.
Aku terdiam sebentar. Mengingat-ingat di mana aku menyimpan album foto keluarga kami.
"Ah, ya! Di situ!" kataku sembari menunjuk lemari tua di sudut kamar. Aku menyimpannya di sebelah tumpukan baju, supaya album yang menyimpan kenangan keluarga kecil kami tetap aman dan tidak dimakan rayap.
Klatak!
Sesuatu terjatuh saat aku mengambil album yang berada di bagian belakang tumpukan baju. Tumpukan baju terdorong maju dan terjatuhlah bungkusan kecil tersebut. Sepertinya benda itu tadinya diletakkan di antara tumpukan baju.
Aku mengernyit. "Benda apa ini?" gumamku sembari memungut plastik berisi sesuatu yang keras dan berlubang.
Penasaran, kubuka plastik tersebut. Mataku melebar menatap benda cantik di tangan. Cincin dengan mata biru yang mengkilap. Lingkaran cincin itu berwarna kuning ke emasan. Cantik.
Tanpa pikir panjang, kupakai cincin tersebut. Sepertinya tidak terlalu buruk melingkar di jariku, meski tanganku tidak begitu putih.
Mungkin cincin ini milik Mas Darma. Meski aku tak yakin, sebab barang-barang Mas Darma masih berada di ranselnya. Aku tak memindahkan ke lemari karena dia tidak menyuruh. Aku takut membuatnya marah lagi, mengingat kemarin dia melarangku untuk menyentuh barang-barangnya.
Meski agak aneh dan membuatku bingung, aku pun menuruti. Aku tak mau ada keributan. Terlebih di awal kepulangannya. Karena harusnya Mas Darma kusambut dengan baik.
Aku kembali ke ruang tengah di mana Mira dan Danu duduk di sana.
"Itu apa, Buk?" tanya Danu menunjuk sesuatu dalam dekapanku.
"Bentar. Ibu tunjukkan ke kalian."
Kubuka lembaran demi lembaran. Yang di dalamnya terdapat foto-foto kami. Sebagian masih bertiga, saat Danu dalam kandungan.
"Ini Bapak waktu Danu masih dalam kandungan," ujarku sembari melepas foto dari album tua itu.
"Gak mirip, Buk. Bapak yang ini tidak menakutkan!" sahut Danu.
"Nak, Bapak bertahun-tahun kerja mencari uang untuk kita. Tidak ada yang merawat Bapak di sana. Bahkan Bapak tidak sempat merawat dirinya sendiri demi cari uang untuk kalian," ujarku mencoba menjelaskan.
"Iya, Buk. Agak mirip, sih. Cuma beda jauh," gumam Mira sembari memperhatikan foto tersebut.
Aku harus menjelaskan dan membuat mereka mengerti. Supaya tidak terus-terusan merasa takut dan tidak nyaman di dekat ayahnya.
Sebetulnya aku mengerti dan wajar. Danu ditinggalkan saat masih dalam kandungan. Sementara Mira waktu itu usia dua tahun. Yang tentu saja ingatannya masih belum begitu kuat. Wajar mereka takut dan merasa asing dengan ayah mereka.
Namun, bagaimana pun keasingan ini tidak bisa berlanjut. Untuk satu minggu ini aku memang memutuskan untuk tidak bekerja dahulu, sebab ingin menemani Mas Darma.
Tapi untuk hari-hari berikutnya? Aku harus bekerja untuk kebutuhan hidup kami. Biasanya, Danu dan Mira berada di rumah ketika aku kerja di ladang. Namun, jika mereka tidak mau ditinggal berdua dengan ayahnya, mau ke mana mereka? Sementara Mas Danu belum dapat kerja yang tentunya dia akan tetap di rumah.
Kupandangi foto Mas Darma, badannya kurus tegap dengan potongan rambut rapi. Jambang dan kumisnya dicukur rapi. Beda dengan sekarang. Badannya agak berisi dengan perut buncit, berjambang dan rambut agak gondrong. Tentu saja aku merasa takut awalnya saat dia datang, terlebih di sore hari menjelang maghrib.
Kupikir waktu itu orang asing yang berniat jahat. Ah, aku merasa bersalah jika mengingat waktu itu. Mungkin Mas Darma agak kecewa karena aku tak mengenali, meski dia tidak mengatakan itu.
"Tapi yang bikin Mira takut karena Bapak lihatin Mira terus, Buk!" bisik Mira lagi seolah tidak puas dengan perkataannku.
"Bapak juga sering lihatin Ibuk. Kalian tahu kenapa? Karena Bapak rindu sama kita, Nak, bertahun-tahun tidak berjumpa. Terakhir Bapak ketemu kamu, saat Mira usia dua tahun. Kebayang kan bagaimana rindu seorang ayah pada anaknya?"
"Iya, Buk. Kami minta maaf. Kami gak takut lagi sama Bapak," ujar Mira menunduk, merasa bersalah.
***
Malam ini entah kenapa aku begitu gelisah. Berkali-kali aku terbangun karena mimpi buruk. Mimpi yang tidak bisa kugambarkan tetapi setiap kali terbangun aku selalu ngos-ngosan dengan keringat dingin. Anehnya, tiap terbangun aku selalu lupa apa yang terjadi di mimpi barusan.
Karena mulai ketakutan, terlebih mendengar suara nyanyian binatang malam yang sangat ramai bersahut-sahutan tak seperti biasanya, aku mendekat ke sisi Mas Darma dan melingkarkan tangan di perutnya.
Tak berselang lama terpejam, aku terperanjat saat tanganku dihempas begitu kuat hingga membuat tubuh kurusku juga sedikit terpental.
"Laksmi! D-dari mana kamu dapat cincin ini, hah?!" bantak Mas Darma begitu kerasnya. Saking terkejutnya, hatiku seolah tersentak membuat kantuk seketika menguap begitu saja.
PEMB4LUT SUAMIKU (3)
"Laksmi! D-dari mana kamu dapat cincin ini, hah?!" bantak Mas Darma begitu kerasnya. Saking terkejutnya, hatiku seolah tersentak membuat kantuk seketika menguap begitu saja.
Suamiku itu seketika berdiri menatap nyalang padaku. Matanya memerah, antara amarah atau karena kantuk aku tak tahu. Yang jelas, kini tubuhku gemetar melihat begitu menyeramkannya Mas Darma.
Terlebih di remangnya cahaya. Rambut gondrong dan jambangnya membuatku menelan saliva getir.
Aku bangkit duduk dan meletakkan telunjuk di depan bibir. "Mas, tolong jangan keras-keras nanti anak-anak kebangun," ujarku pelan.
"Persetan soal anak-anak! Aku tidak peduli! Katakan dari mana kamu dapat cincin itu, hah?! Sudah kubilang jangan pernah menyentuh apapun barang pribadiku. Lancang kamu!" bentak Mas Darma menunjuk wajahku dengan tangannya. Ia bahkan tak mengindahkan pintaku.
Tak mau memperkeruh suasana, aku berlutut dan meminta maaf. Iya, aku rela berlutut di hadapannya. Hal itu kulakukan agar Mas Darma tidak lagi meninggikan suara dan membangunkan anak-anak.
"A-aku minta maaf, Mas. I-ini, aku menemukannya di dalam lemari." Kulepas cincin yang melingkar di jari tengahku.
"Maaf maaf dan maaf! Untuk kali ini kau ku ampuni. Tapi tidak dengan lain kali. Camkan ucapanku!" bentak Mas Darma lagi sembari melotot.
"B-buk, I-ibuk kenapa?" tanya Mira yang tiba-tiba masuk bersama Danu. Kamar mereka berada di sebelah, tentu saja mereka mendengar keributan ini. Ternyata usahaku sia-sia.
"Ibu hanya mimpi buruk, Nak," sahutku berbohong.
Mira dan Danu menatap Bapaknya yang tengah berdiri dengan gagah. Rambut gondrongnya berantakan. Alisnya menyatu matanya tajam menatapku.
"T-tapi tadi kita dengar Bapak marah-marah bentak Ibuk. Ada apa, Buk?" Mira tak putus asa.
"Buk, takut ...." Danu menghambur ke pelukanku.
Jangankan anak-anak, aku saja merasa ketakutan menatap Mas Darma. Tubuhku terasa panas dingin.
"Kalian kembali ke kamar, ya. Ibuk hanya mimpi buruk," bujukku sembari mengusap lengan keduanya.
Meski agak keberatan, Mira dan Danu pun menurut. Suara derap langkah kaki mereka terdengar keras di rumah panggung ini.
"Katakan dengan jujur dari mana kamu mendapatkan cincin ini?!" Mas Darma tiba-tiba mendekat dan mencekal lenganku begitu kuat. Namun, beruntungnya kali ini ia tidak meninggikan suara. Setidaknya Danu dan Mira tidak mendengar bentakan bapaknya.
"M-mas, aku sudah jujur. Aku menemukan ini di lemari," sahutku pelan.
"Bohong! Kamu pasti geledah tasku, kan? Rupanya kau tidak tahu takut, Laksmi!" Mas Darma makin menguatkan cekalannya di lenganku. Aku hanya bisa meringis menahan sakit.
"M-mas, aku minta maaf. Aku sudah mengembalikan cincin itu padamu." Aku mulai tergagap karena rasa takut.
"Sekali lagi kau berbuat lancang, awas kamu! Aku tidak main-main dengan ucapanku, Laksmi!"
Saking takutnya, aku bahkan tak berani menatap mata Mas Darma. Aku tak tahu kenapa sikapnya tiba-tiba berubah drastis seperti ini. Jauh berbeda seperti dulu sebelum ia meninggalkan kami merantau di wilayah orang.
***
Pagi ini aku ke pekarangan rumah, hendak memetik bayam liar dan kacang panjang yang kutanam.
Rumahku memang di kelilingi ladang. Agak jauh dari rumah tetangga. Yang paling dekat hanya rumah Budhe Yanti, itu pun dibatasi sepetak ladang.
Rumahku terletak di ujung jalan buntu. Hanya ada tumbuhan hijau sejauh mata memandang. Ketika pagi hari, biasanya ada banyak orang yang lewat hendak ke ladang masing-masing.
Itulah kenapa rumahku dibangun bentuk panggung. Khawatir ada hewan-hewan berbisa dan berbahaya yang menelusup masuk.
Kecuali bagian dapur. Dapurku berada di bawah beralas tanah. Kamar mandi juga berada di sana. Supaya lebih mudah mengisi air kamar mandi sebab aku harus menimba terlebih dahulu di sumur yang berada di belakang rumah.
Usai memetik bayam dan kacang panjang, aku hendak berbelanja ke warung Bu Santi di ujung jalan sana.
Saat hendak pamit, rupanya Mas Darma tengah mandi. Namun, tak terdengar suara percikan air sama sekali. Seperti tidak ada aktifitas apa pun di dalam sana.
"Mir, Bapak di mana?" tanyaku memastikan.
"Mandi, Buk. Kan sudah Mira bilang tadi kalau Bapak mandi. Sini deh, Buk!" Mira berbisik, memintaku mendekat. Dia berada di ujung tangga pembatas dapur dan ruang tengah.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Tadi, Bapak bawa sesuatu di perutnya. Besar, disembunyikan di perut kayak orang hamil," bisik Mira serius.
Aku mengamati wajahnya, khawatir dia bohong. Namun, aku tahu Mira bukan anak yang seperti itu.
"Kamu yakin?"
"Ibuk sih suka gak percaya sama Mira. Liat aja nanti kalau Bapak keluar," ujar Mira sedikit kesal karena aku tak kunjung memercayainya.
Eh, tapi bukannya perut Mas Darma memang buncit? Mungkin Mira salah sangka.
"Perut Bapak kan memang bun--"
"Ibuk ... Ibuk ...." Terdengar teriakan Danu yang melengking keras sebelum aku menyelesaikan perkataanku pada Mira.
Aku dan Mira sontak terperanjat mendengar teriakan Danu serta derap langkah kaki yang begitu keras menuju ke mari.
Danu menghampiri kami dengan wajah panik, ketakutan dan sepertinya juga shock. Dia begitu tegang.