"Surat apa ini?"
Napas Nara tercekat, di saat ia melihat tulisan pengadilan agama di dalam sebuah amplop yang masih tertutup rapat. Dengan tangan yang bergetar, ia mulai membuka isi surat itu dan membacanya secara menyeluruh hingga air matanya luruh begitu saja.
"Surat cerai? Ini tidak mungkin! Bagaimana caranya Mas Evan bisa menceraikanku tanpa sepengetahuanku? Apa salahku?" gumamnya tak percaya sambil membaca isi surat tersebut untuk yang kedua kalinya.
Tetes air mata Nara semakin menderas, di saat ia menyadari kenyataan ini bukanlah sebuah mimpi buruk. Entah nasib sial apa lagi yang tengah menimpanya, hingga detik ini tangannya bisa menggenggam sebuah surat perceraian yang dilayangkan oleh seorang pria yang belum genap menikahi dirinya selama dua bulan.
"Tidak! Aku tidak boleh percaya begitu saja! Aku harus meminta konfirmasi langsung dari Mas Evan!" batin Nara yang langsung menyeka jejak air matanya.
Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, dan beralih mencari ponsel di kamar. Nara masih berusaha berpikir positif, sampai langkah kakinya terhenti di saat terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Mas Evan? Ya, itu pasti Mas Evan pulang!" ujar Nara bersemangat, sambil berlari menuju pintu rumahnya.
Nara berusaha menampilkan senyuman terbaik untuk menyambut kepulangan sang suami, dengan harapan agar ia bisa berbicara baik-baik dengan Evan. Namun sayangnya, pria yang telah mengetuk pintu rumahnya itu ternyata bukanlah pria yang diharapkan. Kedua matanya sampai membulat, di saat ia mendapati tatapan tajam dari para tamu yang tak pernah diundangnya.
"Maaf, ini ada apa ya?" Nara sampai mundur selangkah ke belakang. Nyalinya seketika menciut, di saat beberapa pria berbadan besar dengan banyak tato di badannya menghampiri dirinya.
"Apa benar ini rumah kediamannya Evan dan Nara?"
"Ya, benar. Nara itu saya sendiri, dan Evan itu suami saya. Ada urusan apa ya?"
"Rumah ini akan kami sita! Suami Anda telah meminjam sejumlah uang pada pihak bank, dan tidak bisa melunasinya. Sehingga mulai besok Anda dan suami Anda tidak bisa lagi tinggal di tempat ini!"
Jdarrr!
Bagai tersambar petir di siang bolong, seketika kekuatan yang ada di dalam tubuh Nara pun hancur. Baru saja beberapa saat yang lalu batinnya terguncang berkat hadirnya surat perceraian yang amat tiba-tiba, dan kini ia sudah dihadapkan lagi dengan situasi yang tak kalah sulit.
"Ini adalah sisa pembayaran yang harus ibu segera lunasi," ucap pria berkepala botak tersebut, sambil menyerahkan selembar kertas pada wanita yang ada di hadapannya.
Nara membaca sejumlah angka yang tertera di kertas itu, hingga mulutnya kembali terbuka dengan napas yang kembali tercekat. "Seratus juta?" tanyanya tak percaya.
"Iya, benar. Itu adalah nominal gabungan sisa hutang suami Anda, berikut dengan bunganya!"
Seketika kedua sudut air mata Nara kembali basah. Dirinya merasa pening sekaligus sesak, dengan berbagai cobaan yang datang secara bersamaan di hari ini. Kini tak hanya tangannya saja yang bergetar, tetapi mulutnya juga. Nara mengigit kuat bibirnya, mencoba menahan ledakan tangis yang hampir pecah. Namun sayangnya, ia gagal.
"Tolong jangan usir saya dari tempat ini, Pak!" lirih Nara memohon, dengan air mata yang semakin luruh. "Sudah lebih dari sebulan ini Mas Evan belum pulang, karena dia tengah bekerja di ibu kota sana," lanjutnya dengan sorot mata meminta iba.
"Maaf, kami hanya menjalankan tugas. Sertifikat rumah ini telah ada di tangan kami, dan mungkin untuk lebih jelasnya lagi Anda bisa tanyakan langsung pada suami Anda sendiri," ucap pria itu tak mau berdebat, dan langsung mengajak para teman-temannya pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tangis Nara pecah. Perempuan itu terduduk di balik pintu, dengan kedua tangan yang menutup wajah. Nara tak tahu apa yang tengah terjadi pada Evan, pikirannya sudah terlanjur kacau. Hingga keesokan harinya, ia terbangun dan berusaha mencoba mencari tahu semuanya.
"Ya, sepertinya aku harus mencari tahu alamat tempat tinggal Mas Evan di Jakarta! Aku harus segera menemuinya, sebelum para rentenir itu kembali ke rumah ini!"
Dengan susah payah, Nara mengobrak-abrik isi lemari suaminya. Meski sebagian tubuhnya masih terasa lemas, ia tetap mencari semua data diri Evan. Tak ada satu pun yang dilewatinya, hingga kedua netranya tak sengaja melihat sebuah buku kecil dengan coretan pena di depannya.
"Jalan Melati, Nomor 30A. Tidak salah lagi, pasti Mas Evan ada di tempat ini sekarang!" ucap Nara yang seketika langsung merobek kertas tersebut dan menyimpannya di dalam dompet.
Pukul tujuh pagi keesokan harinya, Nara segera bergegas menumpangi sebuah bus yang berjalan menuju Jakarta. Dalam duduknya, Nara tak pernah berhenti meremas ujung baju yang tengah dikenakannya. Ia terlalu takut, karena ini adalah momen pertama kali dirinya meninggalkan kampung halaman sendirian. Selama ini Nara memang sama sekali tak pernah bepergian jauh, karena terlalu fokus mengurus ayahnya yang telah sakit berbulan-bulan.
"Jakarta! Jakarta!"
Nara terperanjat, dan langsung melihat sekelilingnya. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya ia bisa sampai di tempat tujuannya. Sehingga dengan menarik napas terlebih dahulu, Nara pun turun dari bus tersebut dan mulai menanyakan alamat tujuannya pada beberapa orang yang ada di sana.
"Waduh! Kalau alamat ini masih jauh, Neng! Neng harus naik beberapa angkutan umum dulu, supaya bisa ke sana," ucap orang itu, yang langsung membuat Nara memeriksa isi dompetnya.
Sisa uangnya hanya tinggal hanya tinggal 4 lembar uang lima puluh ribuan saja, mengingat selama ini Evan belum pernah mengiriminya uang. Itu pun adalah sisa uang simpanannya, yang sebagian besar telah habis untuk perawatan rumah sakit dan biaya pemakaman ayahnya.
"Saya catat di sini saja nama-nama angkutan umum sekaligus nomornya ya, Neng. Semoga cepat ketemu suaminya," ucap orang tersebut sambil mengembalikan kembali secarik kertas yang sempat diperlihatkan kepadanya dan pergi melanjutkan perjalanannya.
Nara mengikuti beberapa instruksi yang telah orang tadi tuliskan di kertasnya. Ia mulai menaiki sebuah angkutan umum berwarna merah dari stasiun bus tersebut, sampai akhirnya ia menyambung menumpang angkutan umum lainnya. Nara tak gentar mencari Evan, meski kini ia tengah berada di tempat yang sangat asing baginya.
"Jalan Melati," ejanya pelan sambil melihat sebuah papan nama jalan yang ada di hadapannya.
Untuk sesaat, Nara sedikit mengerenyitkan dahinya. Ia nampak terlihat bingung, di saat melihat beberapa mobil dan motor yang tengah terparkir hampir memenuhi pinggir jalanan. Hingga akhirnya, dengan ragu-ragu Nara pun kembali menyusuri beberapa rumah yang ada di sana. Ia mencari keberadaan rumah Evan. Sampai tiba-tiba napasnya terasa sesak, di saat dirinya melihat sebuah tenda dan tulisan yang amat menghentakkan hati.
"Tidak! Ini tidak mungkin!"
"Mas Evan?"
Sontak seluruh kekuatan yang ada di dalam diri Nara menghilang, hingga membuat secarik kertas yang ada di dalam genggamannya terjatuh begitu saja. Rasa sesak dan pedih seketika menyeruak masuk ke dalam tubuhnya, seiring dengan munculnya sesosok pria yang tak lagi asing di matanya.
Pria itu adalah sosok yang tengah ditunggu-tunggu kabarnya selama ini. Dia sedang merangkul mesra pinggang seorang wanita, bahkan tak ragu untuk mengecup dahi wanita tersebut di depan para tamu undangan dan wartawan berita.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Kenapa Mas Evan bisa bersama wanita itu?" gumamnya dengan tetes air mata yang mulai turun secara bersamaan.
Nara mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak, sambil berupaya berjalan menerobos beberapa orang yang tengah berdiri dengan memegangi ponsel mereka. Orang-orang di sekitarnya mulai menatap ke arahnya dengan tatapan aneh, tetapi ia tak peduli. Hatinya sudah sungguh tak karuan, berkat kenyataan yang sangat mengejutkan ini.
"Mas Evan!" teriak Nara menghentikan acara.
Perempuan berpakaian sederhana itu semakin melangkah maju ke depan, hingga membuat semua pasang mata tertuju padanya. Seketika suasana yang tadinya terasa bahagia dan khidmat pun kini berubah menjadi menegang, berkat sebuah interupsi yang datang secara tiba-tiba.
"Kamu mau menikah lagi, Mas?" Kedua manik mata Nara bertubrukan langsung dengan tatapan Evan, yang nampak sangat terkejut ketika menyadari keberadaannya.
"Sial! Kenapa gadis kampungan itu bisa ada di sini?" gumam Evan pelan, dengan rahang yang seketika mengeras.
Kedua netra Evan membulat, hingga dirinya refleks melangkah menghampiri seorang perempuan yang sama sekali tak pernah ia harapkan kedatangannya. Salah satu tangan pria itu pun terlihat terkepal kuat, seolah tengah bersiap untuk menghajar seseorang yang telah merusak rencananya.
"Awhh! Lepaskan, Mas!" Nara berusaha memberontak, tetapi sayang tenaganya jauh lebih kecil. Tubuhnya terhempas begitu saja ke sebuah pilar besar yang ada di sampingnya, hingga membuat seluruh mata yang menyaksikannya terkejut bukan main.
Sorot mata gelap itu sama sekali tak menghiraukannya, Evan sama sekali tak suka rencananya di gagalkan. Tanpa memberikan jeda, ia semakin mencengkram pergelangan tangan Nara sampai memerah. Evan seolah tak mempunyai hati, padahal wanita yang ada di hadapannya itu adalah seseorang yang pernah menjadi istrinya.
"Mau apa kau ke sini? Kenapa kau bisa tahu tempat ini?" tanya Evan dengan nada serendah mungkin, agar percakapannya tak terdengar oleh siapa pun yang ada di sekitarnya selain Nara. Ia tak begitu menyadari, jika kini hampir seluruh kamera tengah tertuju padanya.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Mas!" hentak Nara dengan suara yang terdengar bergetar hebat.
"Untuk apa kamu ada di sini? Apa kamu benar-benar ingin menikahi perempuan itu, Mas? Apa ini alasannya kamu menceraikan aku? Jawab aku, Mas! Tolong jelaskan semuanya padaku! Apa salah aku, Mas!" teriaknya sekali lagi dengan perasaan yang sepenuhnya hancur.
Sementara Evan, pria itu hanya mendengkus pelan. Ia melempar pandangannya ke arah lain sesaat, hingga netranya kembali tertuju pada wanita yang ada di hadapannya dengan diiringi seutas senyum menyeringai di wajahnya.
"Ini, lihatlah! Kau lihat cincin di jariku ini!" ucap Evan sambil menunjukkan sebuah cincin baru yang melingkar di jari manisnya, tepat di hadapan wajah Nara.
"Aku memang sudah menikah dengan Bella! Dia adalah artis pendatang baru yang sangat cantik, yang tentunya sangat berbeda jauh denganmu!" lanjutnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Lagi pula, apa masalahnya denganmu? Apa kau telah lupa, kalau kita sudah bercerai? Ingat! Kau ini bukan lagi istriku, jadi kau sama sekali tak berhak melarangku!"
Plakk!
Sebuah tamparan keras seketika mendarat begitu saja tepat di wajah tampan pria itu. Sorot mata Nara memancarkan gelombang emosi dan juga kekecewaan, dengan deru napas yang semakin menggebu.
"Kamu benar-benar tega, Mas!" ujar Nara dengan netra basahnya yang berapi-api. "Bisa-bisanya kamu mencampakkan aku, setelah menggadaikan rumah satu-satunya harta peninggalan almarhum ayahku!"
Evan mendelik tak percaya, hingga satu tangannya langsung menarik kencang rambut hitam yang ada di hadapannya. Ia menjambak rambut Nara tanpa perasaan, hingga akhirnya pria itu menyadari berbagai tatapan yang tengah menatap ke arahnya.
"Sial! Kau benar-benar sudah mempermalukanku, Nara!" geramnya tertahan semakin emosi.
Sedetik kemudian, Nara merasa tubuhnya terhempas. Ia didorong oleh mantan suaminya hingga terjatuh, sampai akhirnya datang beberapa petugas keamanan yang seketika menarik paksa tubuhnya dengan begitu kasar.
"Dia ini adalah perempuan kampungan yang mengaku-ngaku sebagai istriku! Jadi tolong jauhkan dia dari tempat ini, karena aku tidak mau acara pernikahanku rusak karenanya!" ucap Evan yang semakin menarik atensi orang-orang di sekitarnya.
Kini satu per satu sorot kamera mulai mengarah ke arah Nara. Silaunya berbagai lampu sorot kamera, membuat gadis desa itu semakin tertunduk dengan menahan rasa malu. Ingin rasanya Nara berteriak menjerit, melepas segala kekesalan pada Evan. Namun sayangnya, saat ini tubuhnya sudah terlebih dahulu terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh di saat kedua orang pria berbadan besar semakin menahan pergerakannya.
"Lepas! Dia pembohong! Dia yang telah membohongiku!" ujar Nara memberontak.
Namun sayangnya, hanya dengan satu tarikan saja kini tubuh Nara berhasil diseret menjauh. Perempuan itu dibawa dengan cara yang tak manusiawi, hingga beberapa saat kemudian tubuhnya pun dilempar begitu saja ke pinggir jalanan.
"Pergilah dari sini! Jangan pernah ganggu acara pernikahan atasan kami, atau kau benar-benar kami laporkan pada petugas rumah sakit jiwa!" usir petugas keamanan itu, dan langsung pergi meninggalkan Nara tanpa rasa iba.
Dengan langkah gontai, Nara pun melangkah menjauh dari tempat pernikahan yang telah membuat hatinya perih. Seumur hidupnya, ia sama sekali tak pernah membayangkan akan dipermalukan dan diperlakukan seperti ini oleh pria yang pernah amat dicintainya.
"Apa salahku Tuhan? Kenapa hidupku harus seperti ini?"
Langkah Nara terhenti di sebuah jalanan panjang yang cukup ramai, sampai akhirnya ia kembali melanjutkan langkahnya hendak menyebrang dengan tatapan kosong. Tujuannya tak jelas, semua sisi jalanan yang ada di sekitarnya benar-benar terlihat sangat asing di matanya.
"Kenapa kamu begitu tega padaku, Mas? Kamu benar-benar jahat! Apa aku harus menyusul ayah di alam sana, agar aku bisa kembali merasa bahagia seperti dulu?" gumam Nara kembali, dengan pandangan yang sudah mulai kabur dan tubuh yang kian lunglai.
Seketika perempuan itu terjatuh di tengah jalan, tanpa disadari oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Untuk saat ini Nara benar-benar pasrah, ia sama sekali tak lagi mempunyai hasrat untuk hidup. Hingga seketika, pandangannya pun berubah menghitam dan tak ada lagi yang bisa dilihatnya.
"Ayah, jemput aku di surga ya?"
"Hey! Hey! Jangan mati dulu!" ucap seseorang yang seketika membuat Nara mengerang lemah.
Tubuhnya yang sudah terlalu lemas, membuat Nara tak bisa bergerak bahkan menoleh. Hingga perlahan-lahan, kedua netranya yang sudah terpejam pun kini mulai terbuka dengan pandangan yang kurang begitu jelas.
"Siapa kamu?" tanya Nara pelan dengan bibir yang sudah pucat.
Pria itu tak menjawabnya, melainkan langsung mengangkat tubuh Nara dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Nara direbahkan di dalam sebuah mobil yang sudah terbuka, dan langsung disodorkan oleh sebotol air mineral yang baru saja dilepaskan segelnya.
Pria itu memegangi botol minuman Nara, hingga telapak tangannya bersentuhan langsung dengan punggung tangan dingin perempuan tersebut. Pandangannya saling bertemu dengan netra merah yang masih basah, membuat manik matanya bisa sedikit banyak mendalami apa yang telah dirasakan oleh perempuan itu.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Nara tiba-tiba yang langsung membuat dahi pria itu mengerenyit heran. "Kenapa kamu tidak membiarkanku mati di sana saja?" lanjutnya dengan nada yang kian menghentak.
Pria itu mengusap pelan wajahnya, hingga akhirnya ia melemparkan botol bekas minuman Nara ke tempat sampah yang kebetulan tak jauh dari sisinya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dengan manik mata yang kembali mengunci pandangan perempuan yang ada di hadapannya.
"Apa kamu sudah gila?" ucap pria pelan, tanpa penekanan sama sekali. "Apa semua masalah bisa diselesaikan dengan cara bunuh diri?"
Untuk sesaat, Nara terdiam tanpa menanggapi apa pun. Di dalam benaknya, masih terputar dengan jelas kilasan kenangan buruk yang baru saja dilewatinya. Hingga tangisnya kembali pecah, di saat ia tak sengaja melihat sebuah cincin berkilau yang masih berada di jari manis tangannya. Itu adalah cincin pernikahannya bersama Evan, yang masih belum sempat Nara lepaskan.
"Bunuh diri itu adalah perbuatan terbodoh! Apa kau mau mengalami kesulitan di dunia dan juga kesulitan di alam sana?"
Lagi-lagi Nara terdiam, sambil mengigit bibirnya dengan kencang. Ia sedang berusaha menahan ledakan tangisnya, yang semakin membuat dirinya tersiksa. Namun sayangnya, hal itu malah membuat tekanan emosi yang ada di dalam dirinya semakin pecah. Tangis Nara semakin menjadi, hingga tiba-tiba saja ia merasakan sebuah dekapan hangat yang memenangkan dirinya.
"Ssstt, tenanglah. Sepertinya aku bisa membantumu, Nara," ucap pria tersebut yang seketika membuat tangis Nara mereda.
Nara begitu terkejut ketika pria itu menyebut namanya, hingga perlahan-lahan pun ia mulai memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya. Kini wajahnya berhadapan langsung dengan pria yang sama sekali tak dikenalnya tersebut, sampai kedua netranya nampak sama sekali tak berkedip menatap pria yang hadir seperti dewa penolongnya itu.
"Aku Dimas, dan aku sudah tahu masalahmu. Jadi bagaimana kalau kita berdua bekerja sama saja untuk menghancurkan Evan?"
Berawal dari tawaran itu, kini Nara tengah terpaku pada beberapa gedung menjulang tinggi yang ada di sekitarnya. Ia sama sekali tak tahu ke mana pria bernama Dimas tersebut akan membawanya pergi, hingga dirinya cukup terkejut ketika wajah pria itu tiba-tiba hadir persis di hadapan wajahnya.
"Selamat datang di apartemenku, Nara!" ucap Dimas setelah berhasil melepas sabuk pengaman perempuan itu.
"Untuk sementara ini, kamu bisa tinggal di apartemenku terlebih dahulu," lanjut Dimas dengan sebuah senyum tipis yang membuat Nara kembali tertegun.
Pria tersebut cukup tampan, dan juga menarik. Namun yang menjadi pertanyaan besar Nara saat ini adalah tentang tujuan pria itu yang sebenarnya. Jujur, ia sedikit ragu. Terlebih dengan cara Dimas yang menawarkannya tempat tinggal bagai sesuatu yang sangat enteng. Nara takut kembali dimanfaatkan, seperti kejadiannya bersama Evan.
"Di sini ada beberapa pelayan yang akan membantumu, dan di sana adalah tempat yang akan menjadi kamarmu," lanjut Dimas yang mulai memperkenalkan satu per satu bagian apartemennya.
Di sepanjang langkah kakinya, Nara hanya bisa terdiam sambil memandang lekat sekelilingnya. Netra hitam perempuan itu terus membulat, seolah tengah kagum dengan segala kemewahan yang ada di sekelilingnya. Sampai akhirnya kini, ia disuruh menunggu di sebuah sofa besar oleh sang pemilik apartemen untuk sesaat.
"Surat apa ini?" tanya Nara terkejut, ketika disodorkan oleh sebuah surat di hadapannya.
Dimas tersenyum, sambil duduk di hadapan perempuan itu. Ia akhirnya menaruh surat tersebut di atas meja, karena Nara yang tak kunjung mengambilnya.
"Itu adalah surat perjanjian kerja sama kita untuk menghancurkan hidup Evan. Silakan baca dan tanda tangani dokumen ini!"
Untuk sesaat Nara terpaku, sambil memandangi sebuah surat yang ada di atas map bewarna hijau tersebut. Perasaannya seketika menjadi tak enak, karena khawatir surat perjanjian itu akan memberatkan hidupnya. Hingga akhirnya, dengan ragu-ragu ia pun mulai mengambil surat tersebut dan membacanya secara perlahan.
"Aku harus mematuhi segala perintahmu?" tanya Nara dengan alis yang menekuk, ketika pandangannya terjatuh pada salah satu poin yang paling menjadi pusat perhatiannya.
Dimas mengangguk, sambil menyeruput kopi hangat yang ada di hadapannya. Pria itu nampak sangat santai, tanpa mengindahkan raut keraguan yang timbul di wajah Nara.
"Iya, itu hanya untuk jaga-jaga kalau ternyata dirimu masih mencintai Evan," jawab Dimas akhirnya, sambil kembali menaruh segelas kopinya di atas meja. "Aku tidak mau dirugikan, atau pun dibohongi," lanjutnya dengan sedikit penekanan.
Tatapan netra Dimas yang tajam, seketika membuat Nara tertunduk takut. Kini ia mulai bimbang dengan pria yang telah menolongnya itu, hingga akhirnya Nara memaksa otaknya untuk berpikir cepat untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat.
"Aku rasa itu adalah hal yang cukup setimpal dengan semua yang telah kuberikan. Aku akan memenuhi seluruh kebutuhanmu, dan juga membantu mengatasi semua masalahmu dengan Evan. Jadi sebagai imbalannya, kamu hanya perlu menuruti perintahku saja. Bukankah itu adalah sebuah persyaratan yang cukup mudah?"
Nara kian merasa terhimpit. Ia benar-benar berada di posisi yang sangat sulit untuk memilih. Jika dirinya menyetujui Dimas, itu berarti seluruh hidupnya akan terus berada di tangan pria itu. Akan tetapi jika ia menolak tawaran kerja sama tersebut, sepertinya sudah bisa dipastikan kalau hidupnya akan semakin menderita ke depannya nanti.
"Sudah, tandatangani saja surat perjanjian itu. Aku tidak akan memintamu untuk melakukan hal yang lain," tambah pria itu sedikit memaksa.
"Benarkah? Tidak ada hal yang lain?"
"Tidak ada, aku hanya senang membuat mantan suamimu itu menderita!"
Satu jawaban itu seketika ampuh membuat diri Nara kembali menegang. Tidak terdengar sama sekali nada penekanan di sana, akan tetapi rasanya sungguh terasa menyeramkan. Hingga akhirnya, Nara pun meraih sebuah pulpen yang telah disodorkan dan menandatangani dokumen tersebut dengan cepat.
"Bagus! Kamu telah membuat keputusan yang tepat, Nara!" puji Dimas dengan seutas senyumnya. "Kalau begitu beristirahatlah sekarang, karena besok kita akan memberikan kejutan pertama untuk mantan suamimu itu!"