POV Linar
Aku teringat ucapan Listya yang pernah melihat Dean berjalan di Mall ditemani seorang lelaki dan wanita, namun wanita itu tampak dekat dengan Dean, dan ketika aku konfirmasi pada suamiku ia membenarkan, tapi tak setuju dikatakan dekat, mereka berteman dalam porsi wajar, kilahnya.
Aku membuka media sosial miliknya dan mencari akun suaminya, ia memainkan layar gawainya ke atas dan ke bawah, mencari tahu jejak digital yang mungkin saja jadi petunjuk entah apa itu.
Yang jelas hari ini moodnya ambruk, dan aku sedang tak butuh beramah-tamah dengan siapapun, aku sedang sulit tersenyum maka aku butuh menenangkan dirinya lagi pula beberapa minggu belakangan, aku tengah rajin olahraga dan merawat diri ke salon demi menyenangkan diri dan suamiku.
****
Aku mematut diri di depan cermin yang hanya memantulkan sebagian rupa wajah dan tubuhku, ia mencubit pipinya yang masih saja terlihat tembem beralih pada lengan atasnya yang tak jua mengecil.
"Hufth .. " hela napasku.
Aku menyalakan keran air dan membasuh wajahnya, mencoba menghilangkan pikiran negatif yang bersarang di pikirannya berharap bersih dengan air itu. Aku keluar dari kamar mandi dan berhenti melangkah saat mendapati Dean yang baru saja masuk. Kami saling bertatap saling menunggu.
"Hai, kamu baru selesai mandi?" sapa Dean mendekati ku.
Aku mengangguk dan berjalan ke ruangan baju, ia memilih baju tidur yang akan dipakainya.
"Kenapa mencarinya di lemari yang itu?" interupsi Dean membuat Linar menoleh, baru menyadari Dean yang menatapku tengah bersandar pada dinding dekat pintu.
"Pingin aja,"
"Ada apa Linar?"
"Apanya yang ada apa?"
Dean mengatupkan bibirnya kesal mendengar nada dan raut wajah aku yang kelewat datar bahkan tanpa repot menoleh ke arahnya malah sibuk memilih baju tidur.
"Dari tadi pagi kita bertemu, kamu jadi kasar sama aku?"
Untuk beberapa alasan, aku merasa ingin menampar wajah angkuh suamiku yang berlagak polos itu.
"Kali ini apa lagi yang salah?" Dean menggeram marah.
"Bukan apa-apa," gumam ku. "Aku cuma lelah . . . Aku mau langsung tidur."
"Oh, ayolah Linar," Dean geram.
“Kamu nggak bisa melakukan ini sama aku. Aku nggak bisa menebak apa yang ada di pikiranmu sekarang, aku bukan paranormal yang bisa baca pikiran kamu tanpa kamu bilang!”
“Aku tahu, dan aku nggak menyuruh kamu untuk melakukannya 'kan Mas?" aku berbalik dan melanjutkan langkah ke ranjang kami.
Dean mengikutinya ke luar dan menangkap siku ku untuk menghentikan langkahku.
Aku menoleh malas mencoba menarik lengannya, tetapi malah berubah jadi cengkeraman meski tak terlalu kuat.
"Apa yang baru aja terjadi?" Dean bertanya dengan berbisik.
"Apa karena tante Ira atau tante Ambar yang sinis ke kamu atau mereka menyinggung kamu tentang anak lagi?"
"Bukan," aku menggelengkan kepalanya dua kali. "Aku sudah terbiasa dan menjadi biasa saja,"
"Jadi ini tentang aku?" Dean bertanya tanpa basa-basi.
"Menurut kamu?" aku bergumam pelan, sedikit meringis karena tak mampu menarik sudut bibirku untuk tersenyum, aku hanya bisa memandang dengan sayu.
Linar mencoba menggeliat lengannya dan mendongak ketika Dean tidak akan melepaskannya.
"Mas, lepas, kamu nyakitin aku!" Linar menyatakan sejelas yang dia bisa, dan Dean terkesiap menatap genggaman yang sudah jadi cengkraman tanpa ia sadari, Dean segera melepaskannya.
"Aku nggak bermaksud menyakiti kamu," gumam Dean menatap Linar dalam.
"Nggak apa-apa, belakangan ini, Mas memang jadi emosional tanpa aku tahu alasannya," jawab Linar pelan mengambil baju tidur yang paling atas dan berbalik meninggalkan Dean.
"Apa maksud kamu bilang begitu?"
Linar menggeleng lemah kemudian ia mulai menyalin bajunya masih membelakangi Dean.
"Ganti dengan lingerie hitam aja Lin, yang kemarin aku belikan pada liburan kemarin!" seru Dean menghentikan gerakan Linar.
"Aku udah memakainya kemarin malam, itu sebabnya aku menunggu kamu pulang sampai larut malam dan kedinginan." Linar menarik kedua sudut bibirnya.
"Lingerienya belum aku cuci lagian lebih nyaman tidur pakai baju tidur ini, biar nggak kedinginan lagi," tambah Linar lebih datar.
"Aku mau langsung tidur, ngantuk."
Aku langsung ambil posisi tidur dan memunggunginya.
Senyum masam tertarik pada satu sudut bibirku. Aku tahu Dean merasakan kalau aku tengah menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya.
Bukan hal baru, banyak masalah yang terjadi sejak kami menikah dan aku selalu bersikap seperti ini, membatasi emosi dan menghindar demi mendapatkan waktu sendiri hingga kemudian bersikap manis dan tegar kembali.
Selama beberapa menit berlalu, aku merasakan pergerakan pada ranjang kemudian aku dipeluk nya dari belakang, ia ikut berbaring bersiap tidur.
Aku terkesiap dan tubuhnya menegang dengan pelukan tiba-tiba Dean. Dada Dean menempel di punggung, lengan pria itu melingkari pinggangku. Wajah pria itu bahkan menempel di ceruk leherku. Dean mengurung tubuhku sangat erat, hingga ke bawah kakiku sampai tak bisa bergerak.
"Maafin aku," bisik Dean parau di telingaku.
Deg!
"Maaf untuk apa?" Linar menunggu dengan degup jantung berdetak sesak.
"Karena udah buat kamu marah,"
Aku menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis terasa ada pesan tersembunyi entah apa yang jelas sukses menyesakkan dadaku.
Hening.
Dean pasti kecewa karena aku yang membisu terbukti ia semakin mempererat pelukannya. Menghirup aroma khas di rambut dan kulitku. Selalu sama mampu membuat aku betah masih terasa tempat berpulang.
Aku merasakan detak jantung Dean yang berdegup cepat entah apa pemicunya aroma tubuh khas Dean tengah membuainya.
"Linar?"
"Hmm."
"Berbaliklah." Dean sedikit melonggarkan pelukannya.
Dengan patuh aku berbalik mendongak demi membalas tatapan Dean yang begitu dekat di depan wajahnya, deru napasnya menghela lembut mengenai wajahku menularkan detak jantung berdegup cepat.
"Aku ngantuk."
"Aku menginginkanmu Linar" Dean mendorong tengkuk ku dan mencium bibirku dalam tak membiarkan adanya jarak di antara mereka. Linar di dorong pelan ke belakang dan tubuh Dean bergerak naik melanjutkan cumbuannya ia menahan tangan kananku dan mengarahkan tengkuknya ke atas dan membuka akses mencium leherku agresif.
***
Aku tak bisa memejamkan mata lebih lama lantaran pikiran itu menganggunya ia menengok ke belakang pada Dean yang sudah terlentang pulas. Aku menghirup napas dalam dan mengeluarkannya. Aku tak percaya akan ada pemikiran seperti ini.
Aku menduduki dirinya pelan di tepi ranjang aku mengambil gawai milik suaminya yang tengah di isi daya dan membuka layar gawai yang tak dikunci aku melangkah menjauh dari tempat tidur dan benar saja galeri fotonya dikunci aku mengambil pelan jempol Dean dan mengidentifikasinya di layar gawai dan sukses terbuka.
Aku terus mencari foto selain dirinya dan Dean yang memenuhi layar gawai dan ia membuka file demi file dan ketemu!
Dada ku seketika sesak sakit di tatapnya foto itu yang menampilkan Dean tengah di rengkuh dari samping oleh wanita cantik yang tersenyum manis ke arah kamera dengan Dean yang tersenyum tipis berlatar belakang satu manekin dress perempuan dengan tulisan ukuran besar di belakangnya tertulis Deraras's Boutique.
Hah?
Aku mengigit bibirnya ia mendongak demi menahan isak tangis dan deraian air mata yang mulai mengalir. Belum puas aku menggulirkan layar, menampilkan wanita yang sama tengah menggelayut manja di lengan suamiku ditopang meja disertai menu makanan Jepang, lagi - lagi wanita itu tersenyum manis dan Dean yang tersenyum tipis menghadap ke kamera.
Seolah ingin menyakiti diri lagi, aku terus menggulirkan layar namun aku tak menemukan foto itu lagi selain foto dirinya dan Dean.
Aku menyerah, aku memutuskan mengirim kedua foto itu pada gawai miliknya. 'Ah aplikasi pesan' Linar segera melakukan hal yang sama agar terbuka aplikasi pesan, aku langsung menemukan nama Dera di baris ke dua, nama yang serupa. Ia membukanya dan kebanyakan pesan itu berisi ajakan bertemu.
'masih kurang' desahku dalam hati.
Aku membuka akun media sosial milik Dean di gawai suaminya ,dan mencari nama yang sama benar saja akun wanita itu langsung di temukan di kolom pencarian ia menekan akun itu dan muncul laman milik Dera, tak ada foto mereka berdua hanya ada foto gawai yang di balik menampilkan casing gawai yang ia yakini milik suaminya dan casing gawai yang pasti milik wanita itu di dekatkan di meja kayu yang sama.
'Apa ini jawaban dari semua perubahan suaminya?' desah hatinya masam.
***
"Linar, kamu kenapa nggak bangunin aku? Aku jadi nggak punya waktu buat sarapan!"
"Maaf, Mas aku memasak sampai lupa bangunin kamu. Tapi jangan khawatir aku udah siapin bekal buat kamu,"
"Kamu sudah nggak marah lagi sama, Mas kan?"
Aku mendongak menatapnya. Seketika dadaku berdebar menatap raut wajah menunggu. Mencoba mencari kebenaran pada kebeningan bola matanya.
Mungkinkah Tuhan?
"Apa yang mengganggumu. Sayang. Kamu bicara dong sama aku seperti yang selalu kamu bilang komunikasi itu penting sekecil apapun itu!" seru Dean agak gusar.
"Aku belum jelas apa yang lagi aku rasain sekarang, lagi badmood aja" jawab Linar mengedikkan bahunya asal.
Satu tangan Dean mulai mengelus pergelangan tanganku, ia meraih leherku namun aku menahan tangannya.
"Cepat ambil bekal sarapannya, Mas atau kamu akan terlambat berangkat kerja!" tolakku menukik alis ringan
Dean meregangkan kungkungannya dengan raut wajah tersinggung.
"Aku nggak suka kamu nolak aku ngga jelas kayak gini."
Linar menoleh. "Maaf " Linar merangkum wajah Dean di pipinya dan mencium kening suaminya lembut.
"Hari ini aku lembur lagi, jadi kamu bisa tidur duluan, ok!"
***
Aku menggenggam erat ponselku. Aku masih ingat dan telah memastikan ajakan pertemuan mereka di restoran Jepang terkenal di Jakarta satu jam lagi, jam pulang kerja 'aku harus bersiap sekarang.'
Sekitar dua puluh menit kemudian, aku sudah berada di depan sebuah restoran Jepang. 'Semoga aku yang salah. Semoga mereka nggak hanya berdua ya, Tuhan.' Lafalku dalam hati.
Aku lekas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung restoran. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, dadaku seketika sesak saat mataku menangkap mereka yang sedang duduk berhadapan di sebuah meja.
Dadaku berdegup cepat melihat Dean benar bersama wanita itu di jam pulang kantor yang normal, hah padahal akhir-akhir ini Dean sering pulang terlambat dengan alasan lembur dan apa-apaan itu mereka...!
'Mereka ... berbicara intens. Sesekali wanita itu meremas tangan suamiku. Sungguh aku jengah melihat keakraban mereka yang tak tahu malu itu yang benar saja di ruang publik begini?'
Aku menusuk kuku jempolku pada kulit telunjukku dengan tangan yang bergetar.
Sesak!
Wanita yang sama pada dua foto di ponsel suamiku.
Sesak!
Wanita yang sama pada dua foto di ponsel suamiku.
Dengan langkah yang ditarik-tarik Linar mendudukkan dirinya di meja kosong di luar restoran yang sama. terletak cukup jauh, namun mudah melihatnya dan syukurlah. Di atas meja mereka terlihat piring-piring makanan yang sudah kosong.
Linar menggerutu dalam hati. Sedetik kemudian ia mencoba menggunakan teknik pernapasan dilanjutkan berdzikir, agar lebih kuat dan tak menggila di sini.
"Hufth!"
Ia masih menatap lemah mereka dan memilih akan mencoba sekali lagi. Linar melihat suaminya sedikit tersentak mendapat panggilan telepon darinya. Si wanita itu menatap bertanya, lalu Dean membuka mulutnya entah bicara apa, dan Dean mengangkatnya ponselnya.
"Iya halo, Mas. Kamu di mana?"
"Aku lagi di kantor, nih. Aku harus lembur lagi,"
"Masih di kantor? Jadi benar hari ini kamu lembur lagi?" tanyanya mendesah.
"Iya, lagi. Kamu nggak perlu tungguin aku pulang. Kemungkinan aku menginap di kantor,"
"Oh, ya? Sesibuk itu?"
"Iya, dan nggak usah khawatir tentang baju ganti, aku punya setelan baju kerja di ruang kantor aku. Jadi kamu nggak perlu repot ke kantor pagi-pagi, ok!"
Linar mengangguk lemah menanggung kecewa teramat sangat, "Oh, ok!"
Selang tak berapa lama Linar mengikuti mereka meninggalkan segelas teh ocha yang hampir habis. Ia terus mengikuti mereka dari belakang, hingga mobil berhenti pada sebuah gedung hotel elit.
Deg!
'Kenapa harus berhenti di sini?' pikirnya dalam hati yang semakin menyesakkan Dada.
Namun, ia menolak untuk menyerah, walau sudah memulai dengan merakit sakit hati agar masih kuat demi meneruskan penyelidikan, dan masih terlalu awal baginya.untuk menyerah bukan?
Linar memastikan jarak aman dan tetap mengikuti mereka dari belakang jangan sampai tertinggal, hotel semewah ini sudah barang pasti menjaga ketat keamanan dan informasi pemiliknya bukan.
Dengan tak sabaran ia segera keluar dari kotak hitam besi yang bisa mengantarnya ke lantai tiga belas, angka yang sama yang ku lihat pada penunjuk lift yang membawa mereka berdua.
"Semoga aja masih terkejar." gumamnya.
Saat berbelok Linar melihat mereka di ujung lorong tengah membuka dan memasuki sebuah pintu unit yang ia tak tahu berapa deret angkanya, merasa tak penting karena sudah tahu letak pintunya di mana.
Deg ... Deg ... Deg
Pelupuk mata Linar mulai panas, ia menyentuh dadanya yang berdegup sakit lebih terasa menyesakkan. Ia mematung di ujung dinding belokan.
Untung saja hotel ini sepi. Mungkin karena penyewanya para pekerja keras yang pulang larut malam. Hah, mewah sekali gedung ini. Kenapa harus pergi ke hotel atau siapa yang membayar kamarnya di antara mereka.
Overthinking Linar bertebaran lagi di kepala dan seperti ada tangan yang memukul-mukul dadanya kembali.
Linar melihat tangannya bergetar lebih parah, ia mengepalkan jemari seolah tengah mencengkeram dadanya yang berdegup cepat menyesakkan, agar lekas berhenti.
Linar menarik napas dalam dan hembuskan perlahan berulang kali, ia menegakkan tubuh, lalu merogoh gawai kecil dan ia hidupkan kamera video. Ketika sudah pasti ia taruh di saku atas dadanya sebelah kiri kemejanya.
'Semoga bukan seperti apa yang aku pikirkan, Tuhan mohon kuatkanlah hati hamba." gumamnya.
Linar berbalik dan mengangkat dagu dengan tangan yang dingin saling bertaut menguatkan. Ia melangkah pelan sembari merakit kekuatannya kembali.
Aku terkesiap ketika petugas kebersihan keluar dari pintu unit di depanku, dia bahkan ikut terkejut dengan reaksiku.
Linar mencoba tersenyum dan ah, "Maaf, Mas. Boleh minta tolong?" pintanya mencegat.
Setelah menjelaskan apa dan bagaimana, selanjutnya Linar mengambil posisi setengah meter dari pintu unit yang dimasuki Dean dan wanita itu, tak berhenti mengintai.
Sudah dua kali si petugas kebersihan menekan bel, ia menoleh pada Linar yang segera diberi kode untuk terus menekan bel yang dipatuhi oleh lelaki itu.
Klik
Suara pintu terbuka, Linar menahan napas gemuruh detak jantungnya semakin cepat. Penampakan seorang perempuan dengan pakaian tidur yang sangat terbuka muncul dari baliknya.
"Ada apa ya, Mas?" suara perempuan terdengar menyahut dari dalam kamar.
Sentak Linar menoleh, namun ia masih diam memaku dirinya bertahan.
"Maaf, Nyonya. layanan kamarnya," seru petugas kebersihan itu.
"Layanan kamar? Saya belum memesannya, dasar aneh!" tukas wanita itu judes.
"Maaf,"
"Ada apa?" suara Dean menginterupsi mereka yang membuat Linar dan dari suaranya wanita itu terkesiap juga dengan alasan berbeda.
Linar berjalan cepat membuat petugas lelaki itu mundur, melihat wanita itu sedang menoleh ke belakang menjawab interupsi Dean, dengan kasar ia mendorong pintu lebih lebar.
Linar nyaris kehilangan suara saat memindai tubuh perempuan berjubah putih dengan sebagian besar tangan dan paha putihnya terpampang.
"Kamu?" tuduh wanita itu terperangah.
Linar segera menyadarkan dirinya dan berjalan lagi sengaja menabrak bahu wanita itu kasar.
Linar menerobos masuk dan Dean menoleh cepat. Mereka saling balas menatap dengan cara yang berbeda, Linar dengan pandangan menatap nyalang tapi rapuh dan Dean yang terkejut. Dengan wajah yang terlihat kalut Dean berjalan mendekati Linar.
"Linar?" panggil Dean parau ia mulai tampak kebingungan.
Linar seperti telah kehilangan banyak darah saat ini. Kulitnya memucat, kepala pening bukan main. Pandangan matanya mengabur, dada ini bergemuruh kian hebat.
Hal itu lantaran Linar yang baru sadar kalau ia bahkan belum makan apa-apa sejak tadi siang, tapi itu tidak cukup menyiksa, yang paling menyiksa adalah pemandangan yang tersuguh di depan kedua matanya saat ini.
Seorang pria dewasa bertelanjang dada berada di dalam satu kamar dengan perempuan berpakaian terbuka. Bagaimana mungkin Linar yang istri sahnya harus bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya. Apa yang dilakukan suaminya dengan perempuan itu di kamar ini?
Dera dan Linar tenggelam dari keterkejutan dan berbagai ocehan spekulasi di kepala keduanya, hingga terlambat menyadari Dean melangkah cepat dan meraih lengan Linar sebelum ia benar-benar ambruk, namun ia segera menepis kasar tangan Dean.
Linar mendongak menatap kedalaman bola mata yang sarat akan keterkejutan dan kekalahan hingga kecemasan.
Dera yang melihatnya, tersulut cemburu ia menggeram kesal lalu menoleh pada petugas lelaki tadi.
"Jadi kamu diperalat sama dia? Dasar bodoh!" desis Dera dan langsung membanting pintu, tak butuh saksi atas labrakan yang dialaminya.
"Aku bisa jelasin, Lin!" kata Dean meraih tangan Linar yang segera dibalas dengan tamparan di pipi kanannya keras.
Dean menunduk sebelum menoleh. Linar menamparnya lagi di pipi kiri sekeras mungkin.
Linar bergerak mundur dua langkah, tersenyum masam dan mengangguk lemah.
"Oh, tentu aja. Karena aku tahu gimana rasanya nggak dikasih kesempatan untuk menjelaskan, dan jadi orang bego yang ngga tahu apa-apa sehingga gampang dibohongi."
Kalimat terakhir yang terlontar berhasil membuat Dean terperanjat, wajahnya pias dan tersinggung.
Pria itu menyugar rambutnya frustasi dan mendesis saat mengucapkan maaf, "Keluarlah, Dera!" titah Dean parau.
"Apa? Nggak mau. Kamu tahu 'kan aku cuma pakai lingerie minim di balik jubah pendek ini. Nggak! orang-orang akan berpikir kalau aku wanita panggilan!"
"Itu fakta 'kan?" sambar Linar cepat.
"Apa lo bilang?"
"Kamu memang wanita panggilan. Jalang murahan yang dengan murahnya berzina sama suami orang, fakta 'kan?" sengit ku mengejek.
"Apa! Sialan! Beraninya lo dasar ...!"
"Keluar, Dera!" sentak Dean tegas menatap dalam tanda tak perlu penolakan berikutnya.
Dera terkesiap. Ia menatap kesal pada Dean, ia melangkah mundur seraya mencebikkan bibirnya kesal.
"Nggak perlu!" imbuh Linar. Menoleh malas pada Dera.
"Kamu udah bersikap jalang yang merusak rumah tangga aku, jadi ayo kita selesaikan semuanya dengan cara dewasa!"
"LINAR!"
"Apa? Kenapa kamu nggak mau libatkan dia di saat dengan teganya kamu mempersilakan dia masuk dan merusak rumah tangga kita, Mas?"
"Oh, atau ini cara kamu untuk menjaga jalang kamu dari kemarahan aku, begitu, Mas?" bentak Linar dengan suara bergetar, aku melotot dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Sebaiknya aku pergi," gumam Dera berbalik terburu-buru ke arah nakas untuk mengambil barang pribadinya.
"Suruh wanita kamu untuk tinggal, Mas. Atau aku akan membesar-besarkan masalah lebih dari ini!" ancam Linar berdesis.
Dean menatapnya marah, ia menghela napas kasar kasar dan berjalan menjauh, lalu berteriak.
"Linar dengar! ... brengsek!" amuknya menjenggut rambutnya frustrasi kemudian berbalik.
"Kenapa kamu ada di sini sih, hah?" bentak Dean marah.
Linar sebagai istri sudah tahu bahwa suaminya akan semarah ini, dan ia bertekad akan tetap menuntaskannya meski terlampau alot.
"Dera, kamu jangan keluar atau aku akan labrak kamu di Derara's boutique, itu milik kamu dan saudara sepupu kamu kan? Pasti akan lebih seru kalau acara pelabrakannya di rekam dan diviralkan ke media sosial, gimana setuju?"
"Sialan! kamu dengar itu Dean? Wanita ini baru aja mengancam aku!"
"Kita buat simple aja, kamu cukup ikuti apa kata aku sebagai istri sah dari pria yang sedang kamu serong suaminya!"
"Brengsek!" desis Dera melotot.
"Lin, jangan begini! kita bicarakan ini di rumah, sebentar aku bersiap dulu," seru Dean yang langsung berbalik untuk mendapatkan baju miliknya.
"Terdengar ancaman kosong ya? Ok, aku udah tahu alamat toko offline dan media sosialnya Dera, dan mungkin aku akan menyewa beberapa orang untuk merekam aksi pelabrakan designer muda bersama salah satu petinggi perusahaan kamu, Mas dan menyebar luaskannya, the power of netizen, right?"