Linar mematutkan dirinya di depan cermin. Ia tersenyum puas melihat dirinya yang berhasil menurunkan dua kilogram berat badan dalam seminggu ini. Ia merasa tampak pas mengenakan lingerie hitam yang dibelinya dua minggu yang lalu.
Dean benar, mereka punya banyak waktu untuk mengupayakan punya anak, dan kali ini Linar lah yang akan memulainya. Ia menyemprotkan kembali wewangian yang disukai Dean, suaminya. Linar memakai jubah panjang untuk menutupi lingerie hitamnya, lalu keluar dari kamar mandi.
Linar melihat tubuh tinggi Dean di balkon kamar tidur mereka, tampak Dean tengah mengangguk dan berbicara di saluran telepon, ia memutuskan menyusul ke balkon.
Linar tersenyum pada Dean yang langsung menutup teleponnya karena kedatangan Linar. Namun, ada raut wajah kaget berlebihan yang segera disembunyikan oleh Dean.
Linar mengerutkan dahinya penasaran, "Dari siapa, Mas?"
Dean balas tersenyum, ia menarik pelan dan merengkuh Linar erat. Dean mencium kening dan menumpu dagunya pada kepala Linar.
"Dari Roland, dia meminta bertemu di kafe untuk bertemu rekan kerja kami yang baru. Kamu tahu 'kan kami sedang membangun koneksi dan relasi," papar Dean, ia merangkum wajah Linar mendongak untuk bertemu bola matanya.
Dean sempat meragu, ia menatap dalam bola mata Linar yang jernih "Maafin aku, ya. Aku harus pergi sekarang,"
"Tapi ini udah malam, Mas?!"
"Aku tahu, tapi ini sekedar pertemuan kasual, sambil nongkrong sambil kenalan relasi baru dan sedikit membicarakan pekerjaan,"
Linar mengerutkan dahi "Nggak perlu minta maaf, tapi bisa 'kan kamu pulang cepat? Aku akan menunggumu," pinta Linar mengalungkan kedua tangannya pada leher Dean.
"Oh, ya Mas. Dari kemarin malam, ponsel kamu berdering terus, aku lihat pemanggilnya Dera. Nama perempuan 'kan? Dia siapa, Mas?"
Linar melihat pupil Dean sempat membesar barang beberapa detik sebelum mengedipkan mata cepat, "Dera? Ah, iya dia teman lama aku, temannya Roland juga. Mungkin dia mau ngajak reuni atau semacamnya, aku belum sempat mengangkat teleponnya,"
"Reuni? Oh ya, cuma kalian bertiga?"
"Aku... Aku nggak tahu, Lin! Tapi aku dengar dari Roland dia bertemu sama Dera beberapa waktu lalu, itu aja aku ngga tanya lebih jauh,"
"Roland pasti udah di perjalanan, dan aku nggak mau terlambat datang dan melewatkan banyak hal, jadi aku pergi, ya!"
Linar mengerutkan dahi "Nggak perlu minta maaf, tapi bisa, 'kan? Kamu pulang nggak terlalu larut? Aku akan menunggumu." pinta Linar mengalungkan kedua tangannya pada leher Dean.
Dean tersenyum tipis dan mengangkat bokong Linar demi bisa mencumbu dalam kelopak bibir merah muda Linar.
Linar mendorong dada Dean pelan dan menghirup oksigen, degup jantungnya berdetak cepat entah karena gairah atau kurangnya oksigen.
"Hati-hati di jalan, aku akan menunggu kamu di sini." lepas Linar.
***
Linar membuka aplikasi pesan pada gawainya, dan merengut saat membaca pesan yang tertulis permintaan maaf suaminya karena menginap di rumah Roland tadi malam.
Sudah tengah malam Dean membalas pesannya, Linar kecewa, perasaannya hari ini kian buruk.
Linar mengerutkan dahinya karena tak jua mendapat balasan tambahan, kenapa Dean semakin irit membalas pesan? Seperti bukan dia, tapi rasanya tak mungkin ada yang berani mengotak-atik gawai Dean walau tak di kunci.
Linar menggelengkan kepalanya pelan, membuang pikiran negatif yang mulai menghantuinya belakangan ini.
"Sudah sampai. Bu," interupsi supir taxi dan benar saja ia sudah tiba di depan lobi kantor Dean.
Setelah menyelesaikan transaksi, Linar keluar taxi menegakkan tubuhnya. Karena ia tahu ia setidaknya akan ada beberapa orang yang memperhatikan dirinya. Linar berjalan dengan wibawa yang ia rakit sendiri menenteng dua kantung dengan percaya diri.
Linar melambatkan langkah kakinya dan, "Linar?" panggil Roland menyapa.
"Hai Mas Land, apa kabar?" balas Linar.
"Aku baik, kamu ... terlihat lebih cantik."
Linar terkekeh. "Ya, aku memang lebih kurusan karena diet karbohidrat" ucapnya tersenyum maklum.
"Oh ya Mas, gimana semalam lancar hasilnya?"
"Semalam?" tanya Roland menggantung.
"Iya, semalam selesai ketemuannya sampai jam berapa, sih?" tanya Linar ingin tahu.
Roland menyatukan alisnya dekat, keheranan "Jam sebelas malam,"
"Oh ya? terus kenapa Mas Dean harus sampai menginap, biasanya jam segitu dia masih memilih pulang ke rumah?"
"Dean?" gumam Roland bertanya.
"Iya, kenapa? Kalian ketemuan di cafe atau di club' tadi malam 'kan?" tanya Linar curiga.
"Kalian? Semalam aku nggak bersama Dean, tapi sama teman perempuanku dan bukannya Dean semalam ada di rumah kakeknya, bersama kamu, 'kan?"
Tahu ada yang salah dengan berubahnya raut wajah Linar, Roland segera menambahkan.
"Mungkin kamu salah tangkap omongannya dia, bukan aku teman Dean yang bersama dia semalam, mungkin Dipta yang dimaksud." tebak Roland menenangkan.
Deg.
Ia jelas mendengar jika nama yang di sebut suaminya adalah Roland bukan Dipta, tapi kenapa?'
"Linar, maaf aku harus lanjut bekerja Sebentar lagi jam makan siang,aku duluan ya."
Linar mengangguk kecil seketika ada beban yang menggelayuti dada dan pikirannya. Linar menggeleng pelan dan menatap depan, terkesiap menyadari ia berdiri sendiri di tempat yang salah.
Untung saja liftnya terbuka dan ia segera masuk menyelamatkan dirinya dari tatapan bertanya atau kesal karena berdiri di tengah jalan.
****
Linar mengangguk saat dirinya dipersilahkan masuk oleh Nuga asisten kerja Dean.
"Terima kasih Nuga."
Linar menatap dalam Dean yang menyambutnya di depan pintu. "Linar, kamu disini, tumben biasanya kamu nge WA aku kalau mau datang? Ah, soal semalam, aku minta maaf karena semalam aku nggak pulang dan terlambat membalas pesanmu."
Dean yang tak kunjung dapat jawaban bertanya kembali "Apa yang kamu bawa?"
Deg... deg.. deg.
Linar mendongak menatap kedalaman bola mata Dean, menatap dalam dengan perasaan yang tak menentu.
"Lin?"
Linar menunduk dan menggeleng pelan.
"Kenapa kamu masih bertanya, bukannya aku sudah memberitahu kamu, Mas?" ucapnya pelan.
Dean melipat bibirnya tahu ada yang salah.
"Dan Mas, kelihatan terkejut melihatku mengunjungi kamu pagi ini setelah meninggalkanku di rumah kakekmu, kamu tahu? Semalam aku kedinginan menunggu kamu dan paginya aku kebingungan menjawab pertanyaan saudaramu tentang keberadaan kamu yang aku sendiri nggak tahu, dimana Mas semalam?" cecar Linar.
Dean mendatarkan wajahnya tak suka akan situasi yang diciptakan Linar.
"Aku sudah bilang sama kamu, semalam aku harus menemui relasi kerja yang akan di kenalkan sama Roland. Dan kami lupa waktu, aku terlalu lelah mengemudi, jadi aku putuskan menginap di kontrakan Roland." ucap Dean sembari berbalik menuju set sofa kecil yang ada di tengah ruangan.
Tangan Linar saling bertaut mencari kekuatan, dadanya kian sakit seolah dipukul oleh tangan tak kasat mata. Siapa yang sedang berbohong? Tapi respon Roland terlalu natural tadi.
Linar menarik napas dan menghembuskan pelan, "Ada apa lagi, Linar?"
Linar mendongak "Aneh," gumam Linar sengaja.
"Aneh aja, tadi pagi aku mengirimi pesan menanyakan keberadaan kamu dan Mas yang balas sendiri isi pesannya ada di rumah Roland."
"Tapi aku juga menawarkan mengantar baju ganti untuk bekerja dan makan siang ke kantormu dan Mas membalasnya 'iya datang aja' terkesan dingin." ucap Linar parau sembari mengamati respon Dean.
"Ah, iya kamu benar aku yang lupa, maaf ... udahan ya, marahnya," seru Dean tulus.
Linar benci jadi terlalu peka, karena kepekaannya membuat ia berpikir banyak hal dengan menyakitkan. Maka Linar hanya bisa tersenyum masam,
"Aku masih ngerasa aneh, kamu yakin yang balas pesan tadi pagi itu kamu, Mas?" tanya Linar sangsi.
"Aku cuma lupa Linar, hari ini aku terlambat ke kantor karena telat bangun dan langsung di hadapan banyak pekerjaan, maaf ok!" pinta Dean merengkuh tubuh Linar tak perduli telah berjalan mundur, dipeluknya erat di cium puncak kepala merambah ke kening dan turun ke bibir Linar yang tak membalas.
Bibir Linar tersungging masam mendengar degup jantung Dean berdetak keras, seperti ... Perasaan nggak nyaman?
Linar membalas pelukan, menyandarkan kepalanya di dada Dean menghirup aroma yang menguar dari tubuh Dean yang selalu ia sukai. Tapi aromanya terlalu kuat tanda Dean menyemprotkan wewangian terlalu banyak.
Dasar!
Linar meregangkan pelukannya lebih dulu dan mendongak, ia tersenyum lalu bertanya.
"Jadi gimana pertemuan kamu sama relasi yang dikenalin Mas Roland kemarin, sini ceritain deh, sama aku?" pancing Linar tersenyum tipis.
Dean menatapnya dalam seolah tengah memilah sesuatu, "Lancar, dia seorang kontraktor yang memiliki banyak pengalaman. kami berbicara banyak sampai lupa waktu dan karena terlalu lelah mengemudi jadi Roland mengajak aku menginap di tempatnya jadi, ya aku setuju."
Linar mengangguk dua kali mendudukkan dirinya tepat di samping Dean tak lama Dean bangkit dan berjalan ke mejanya, Dean menyambungkan telepon di meja kerjanya memesan segelas ice matcha latte secepatnya pada Nuga asisten kerjanya untuk istrinya.
"Nggak apa-apa Mas, aku bisa menunggu. Kamu nggak perlu mendesak Nuga yang juga sedang sibuk."
Dean menoleh setengah hati lalu menuntaskan panggilannya dengan Nuga.
"Kamu sini dong, Mas!" ajak Linar
Linar menoleh mengamati wajah asli Dean. Pasalnya sedari tadi Dean bergerak kikuk, bahkan lebih banyak membelakanginya seperti tak nyaman atau ada yang ia tutupi, salahkan saja hatinya yang terlalu peka.
"Terus sama siapa lagi kalian mengobrol?"
Dean mengerjap matanya dua kali
"Cuma kami bertiga, memang kemarin itu sekedar pertemuan kasual antar lelaki sambil ngobrolin prospek kerja, proposal client yang sekiranya bisa kerja sama nantinya," papar Dean mengangkat bahunya dan menyugarkan rambutnya yang sudah rapih ke belakang.
Linar menatap dalam pada bola mata Dean, terasa begitu kecewa namun ia lebih memilih diam.
Linar yakin Dean menangkap perubahan dirinya yang tak ditutupi. Linar membiarkan Dean yang sudah duduk di sampingnya mencoba meraih tangannya, namun disaat yang sama Linar sengaja menepis tangannya.
"Kenapa, Lin?!" tanya Dean yang ditepis kasar oleh Linar. Mereka sama-sama terkejut akan reaksi masing-masing.
"Maaf, refleks tadi," cicit Linar tersenyum palsu.
"Aku pulang aja, Mas," ucap Linar bangkit dan berbalik cepat, tapi belum sampai ke depan pintu lengannya ditahan oleh Dean.
"Kamu itu kenapa, sih?!" sentak Dean frustrasi.
"Nggak apa-apa, aku nggak mau mengganggu kamu lebih lama Mas, maksudku. Mas harus lanjut bekerja lagi 'kan?" balas Linar menepiskan tangan Dean pelan namun tegas.
"Dan pastikan nanti malam, Mas pulang ke rumah kita! Bukannya keluyuran, ok!" pungkas Linar keluar, mengabaikan panggilan Dean.
POV Linar
Aku teringat ucapan Listya yang pernah melihat Dean berjalan di Mall ditemani seorang lelaki dan wanita, namun wanita itu tampak dekat dengan Dean, dan ketika aku konfirmasi pada suamiku ia membenarkan, tapi tak setuju dikatakan dekat, mereka berteman dalam porsi wajar, kilahnya.
Aku membuka media sosial miliknya dan mencari akun suaminya, ia memainkan layar gawainya ke atas dan ke bawah, mencari tahu jejak digital yang mungkin saja jadi petunjuk entah apa itu.
Yang jelas hari ini moodnya ambruk, dan aku sedang tak butuh beramah-tamah dengan siapapun, aku sedang sulit tersenyum maka aku butuh menenangkan dirinya lagi pula beberapa minggu belakangan, aku tengah rajin olahraga dan merawat diri ke salon demi menyenangkan diri dan suamiku.
****
Aku mematut diri di depan cermin yang hanya memantulkan sebagian rupa wajah dan tubuhku, ia mencubit pipinya yang masih saja terlihat tembem beralih pada lengan atasnya yang tak jua mengecil.
"Hufth .. " hela napasku.
Aku menyalakan keran air dan membasuh wajahnya, mencoba menghilangkan pikiran negatif yang bersarang di pikirannya berharap bersih dengan air itu. Aku keluar dari kamar mandi dan berhenti melangkah saat mendapati Dean yang baru saja masuk. Kami saling bertatap saling menunggu.
"Hai, kamu baru selesai mandi?" sapa Dean mendekati ku.
Aku mengangguk dan berjalan ke ruangan baju, ia memilih baju tidur yang akan dipakainya.
"Kenapa mencarinya di lemari yang itu?" interupsi Dean membuat Linar menoleh, baru menyadari Dean yang menatapku tengah bersandar pada dinding dekat pintu.
"Pingin aja,"
"Ada apa Linar?"
"Apanya yang ada apa?"
Dean mengatupkan bibirnya kesal mendengar nada dan raut wajah aku yang kelewat datar bahkan tanpa repot menoleh ke arahnya malah sibuk memilih baju tidur.
"Dari tadi pagi kita bertemu, kamu jadi kasar sama aku?"
Untuk beberapa alasan, aku merasa ingin menampar wajah angkuh suamiku yang berlagak polos itu.
"Kali ini apa lagi yang salah?" Dean menggeram marah.
"Bukan apa-apa," gumam ku. "Aku cuma lelah . . . Aku mau langsung tidur."
"Oh, ayolah Linar," Dean geram.
“Kamu nggak bisa melakukan ini sama aku. Aku nggak bisa menebak apa yang ada di pikiranmu sekarang, aku bukan paranormal yang bisa baca pikiran kamu tanpa kamu bilang!”
“Aku tahu, dan aku nggak menyuruh kamu untuk melakukannya 'kan Mas?" aku berbalik dan melanjutkan langkah ke ranjang kami.
Dean mengikutinya ke luar dan menangkap siku ku untuk menghentikan langkahku.
Aku menoleh malas mencoba menarik lengannya, tetapi malah berubah jadi cengkeraman meski tak terlalu kuat.
"Apa yang baru aja terjadi?" Dean bertanya dengan berbisik.
"Apa karena tante Ira atau tante Ambar yang sinis ke kamu atau mereka menyinggung kamu tentang anak lagi?"
"Bukan," aku menggelengkan kepalanya dua kali. "Aku sudah terbiasa dan menjadi biasa saja,"
"Jadi ini tentang aku?" Dean bertanya tanpa basa-basi.
"Menurut kamu?" aku bergumam pelan, sedikit meringis karena tak mampu menarik sudut bibirku untuk tersenyum, aku hanya bisa memandang dengan sayu.
Linar mencoba menggeliat lengannya dan mendongak ketika Dean tidak akan melepaskannya.
"Mas, lepas, kamu nyakitin aku!" Linar menyatakan sejelas yang dia bisa, dan Dean terkesiap menatap genggaman yang sudah jadi cengkraman tanpa ia sadari, Dean segera melepaskannya.
"Aku nggak bermaksud menyakiti kamu," gumam Dean menatap Linar dalam.
"Nggak apa-apa, belakangan ini, Mas memang jadi emosional tanpa aku tahu alasannya," jawab Linar pelan mengambil baju tidur yang paling atas dan berbalik meninggalkan Dean.
"Apa maksud kamu bilang begitu?"
Linar menggeleng lemah kemudian ia mulai menyalin bajunya masih membelakangi Dean.
"Ganti dengan lingerie hitam aja Lin, yang kemarin aku belikan pada liburan kemarin!" seru Dean menghentikan gerakan Linar.
"Aku udah memakainya kemarin malam, itu sebabnya aku menunggu kamu pulang sampai larut malam dan kedinginan." Linar menarik kedua sudut bibirnya.
"Lingerienya belum aku cuci lagian lebih nyaman tidur pakai baju tidur ini, biar nggak kedinginan lagi," tambah Linar lebih datar.
"Aku mau langsung tidur, ngantuk."
Aku langsung ambil posisi tidur dan memunggunginya.
Senyum masam tertarik pada satu sudut bibirku. Aku tahu Dean merasakan kalau aku tengah menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya.
Bukan hal baru, banyak masalah yang terjadi sejak kami menikah dan aku selalu bersikap seperti ini, membatasi emosi dan menghindar demi mendapatkan waktu sendiri hingga kemudian bersikap manis dan tegar kembali.
Selama beberapa menit berlalu, aku merasakan pergerakan pada ranjang kemudian aku dipeluk nya dari belakang, ia ikut berbaring bersiap tidur.
Aku terkesiap dan tubuhnya menegang dengan pelukan tiba-tiba Dean. Dada Dean menempel di punggung, lengan pria itu melingkari pinggangku. Wajah pria itu bahkan menempel di ceruk leherku. Dean mengurung tubuhku sangat erat, hingga ke bawah kakiku sampai tak bisa bergerak.
"Maafin aku," bisik Dean parau di telingaku.
Deg!
"Maaf untuk apa?" Linar menunggu dengan degup jantung berdetak sesak.
"Karena udah buat kamu marah,"
Aku menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis terasa ada pesan tersembunyi entah apa yang jelas sukses menyesakkan dadaku.
Hening.
Dean pasti kecewa karena aku yang membisu terbukti ia semakin mempererat pelukannya. Menghirup aroma khas di rambut dan kulitku. Selalu sama mampu membuat aku betah masih terasa tempat berpulang.
Aku merasakan detak jantung Dean yang berdegup cepat entah apa pemicunya aroma tubuh khas Dean tengah membuainya.
"Linar?"
"Hmm."
"Berbaliklah." Dean sedikit melonggarkan pelukannya.
Dengan patuh aku berbalik mendongak demi membalas tatapan Dean yang begitu dekat di depan wajahnya, deru napasnya menghela lembut mengenai wajahku menularkan detak jantung berdegup cepat.
"Aku ngantuk."
"Aku menginginkanmu Linar" Dean mendorong tengkuk ku dan mencium bibirku dalam tak membiarkan adanya jarak di antara mereka. Linar di dorong pelan ke belakang dan tubuh Dean bergerak naik melanjutkan cumbuannya ia menahan tangan kananku dan mengarahkan tengkuknya ke atas dan membuka akses mencium leherku agresif.
***
Aku tak bisa memejamkan mata lebih lama lantaran pikiran itu menganggunya ia menengok ke belakang pada Dean yang sudah terlentang pulas. Aku menghirup napas dalam dan mengeluarkannya. Aku tak percaya akan ada pemikiran seperti ini.
Aku menduduki dirinya pelan di tepi ranjang aku mengambil gawai milik suaminya yang tengah di isi daya dan membuka layar gawai yang tak dikunci aku melangkah menjauh dari tempat tidur dan benar saja galeri fotonya dikunci aku mengambil pelan jempol Dean dan mengidentifikasinya di layar gawai dan sukses terbuka.
Aku terus mencari foto selain dirinya dan Dean yang memenuhi layar gawai dan ia membuka file demi file dan ketemu!
Dada ku seketika sesak sakit di tatapnya foto itu yang menampilkan Dean tengah di rengkuh dari samping oleh wanita cantik yang tersenyum manis ke arah kamera dengan Dean yang tersenyum tipis berlatar belakang satu manekin dress perempuan dengan tulisan ukuran besar di belakangnya tertulis Deraras's Boutique.
Hah?
Aku mengigit bibirnya ia mendongak demi menahan isak tangis dan deraian air mata yang mulai mengalir. Belum puas aku menggulirkan layar, menampilkan wanita yang sama tengah menggelayut manja di lengan suamiku ditopang meja disertai menu makanan Jepang, lagi - lagi wanita itu tersenyum manis dan Dean yang tersenyum tipis menghadap ke kamera.
Seolah ingin menyakiti diri lagi, aku terus menggulirkan layar namun aku tak menemukan foto itu lagi selain foto dirinya dan Dean.
Aku menyerah, aku memutuskan mengirim kedua foto itu pada gawai miliknya. 'Ah aplikasi pesan' Linar segera melakukan hal yang sama agar terbuka aplikasi pesan, aku langsung menemukan nama Dera di baris ke dua, nama yang serupa. Ia membukanya dan kebanyakan pesan itu berisi ajakan bertemu.
'masih kurang' desahku dalam hati.
Aku membuka akun media sosial milik Dean di gawai suaminya ,dan mencari nama yang sama benar saja akun wanita itu langsung di temukan di kolom pencarian ia menekan akun itu dan muncul laman milik Dera, tak ada foto mereka berdua hanya ada foto gawai yang di balik menampilkan casing gawai yang ia yakini milik suaminya dan casing gawai yang pasti milik wanita itu di dekatkan di meja kayu yang sama.
'Apa ini jawaban dari semua perubahan suaminya?' desah hatinya masam.
***
"Linar, kamu kenapa nggak bangunin aku? Aku jadi nggak punya waktu buat sarapan!"
"Maaf, Mas aku memasak sampai lupa bangunin kamu. Tapi jangan khawatir aku udah siapin bekal buat kamu,"
"Kamu sudah nggak marah lagi sama, Mas kan?"
Aku mendongak menatapnya. Seketika dadaku berdebar menatap raut wajah menunggu. Mencoba mencari kebenaran pada kebeningan bola matanya.
Mungkinkah Tuhan?
"Apa yang mengganggumu. Sayang. Kamu bicara dong sama aku seperti yang selalu kamu bilang komunikasi itu penting sekecil apapun itu!" seru Dean agak gusar.
"Aku belum jelas apa yang lagi aku rasain sekarang, lagi badmood aja" jawab Linar mengedikkan bahunya asal.
Satu tangan Dean mulai mengelus pergelangan tanganku, ia meraih leherku namun aku menahan tangannya.
"Cepat ambil bekal sarapannya, Mas atau kamu akan terlambat berangkat kerja!" tolakku menukik alis ringan
Dean meregangkan kungkungannya dengan raut wajah tersinggung.
"Aku nggak suka kamu nolak aku ngga jelas kayak gini."
Linar menoleh. "Maaf " Linar merangkum wajah Dean di pipinya dan mencium kening suaminya lembut.
"Hari ini aku lembur lagi, jadi kamu bisa tidur duluan, ok!"
***
Aku menggenggam erat ponselku. Aku masih ingat dan telah memastikan ajakan pertemuan mereka di restoran Jepang terkenal di Jakarta satu jam lagi, jam pulang kerja 'aku harus bersiap sekarang.'
Sekitar dua puluh menit kemudian, aku sudah berada di depan sebuah restoran Jepang. 'Semoga aku yang salah. Semoga mereka nggak hanya berdua ya, Tuhan.' Lafalku dalam hati.
Aku lekas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung restoran. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, dadaku seketika sesak saat mataku menangkap mereka yang sedang duduk berhadapan di sebuah meja.
Dadaku berdegup cepat melihat Dean benar bersama wanita itu di jam pulang kantor yang normal, hah padahal akhir-akhir ini Dean sering pulang terlambat dengan alasan lembur dan apa-apaan itu mereka...!
'Mereka ... berbicara intens. Sesekali wanita itu meremas tangan suamiku. Sungguh aku jengah melihat keakraban mereka yang tak tahu malu itu yang benar saja di ruang publik begini?'
Aku menusuk kuku jempolku pada kulit telunjukku dengan tangan yang bergetar.
Sesak!
Wanita yang sama pada dua foto di ponsel suamiku.
Sesak!
Wanita yang sama pada dua foto di ponsel suamiku.
Dengan langkah yang ditarik-tarik Linar mendudukkan dirinya di meja kosong di luar restoran yang sama. terletak cukup jauh, namun mudah melihatnya dan syukurlah. Di atas meja mereka terlihat piring-piring makanan yang sudah kosong.
Linar menggerutu dalam hati. Sedetik kemudian ia mencoba menggunakan teknik pernapasan dilanjutkan berdzikir, agar lebih kuat dan tak menggila di sini.
"Hufth!"
Ia masih menatap lemah mereka dan memilih akan mencoba sekali lagi. Linar melihat suaminya sedikit tersentak mendapat panggilan telepon darinya. Si wanita itu menatap bertanya, lalu Dean membuka mulutnya entah bicara apa, dan Dean mengangkatnya ponselnya.
"Iya halo, Mas. Kamu di mana?"
"Aku lagi di kantor, nih. Aku harus lembur lagi,"
"Masih di kantor? Jadi benar hari ini kamu lembur lagi?" tanyanya mendesah.
"Iya, lagi. Kamu nggak perlu tungguin aku pulang. Kemungkinan aku menginap di kantor,"
"Oh, ya? Sesibuk itu?"
"Iya, dan nggak usah khawatir tentang baju ganti, aku punya setelan baju kerja di ruang kantor aku. Jadi kamu nggak perlu repot ke kantor pagi-pagi, ok!"
Linar mengangguk lemah menanggung kecewa teramat sangat, "Oh, ok!"
Selang tak berapa lama Linar mengikuti mereka meninggalkan segelas teh ocha yang hampir habis. Ia terus mengikuti mereka dari belakang, hingga mobil berhenti pada sebuah gedung hotel elit.
Deg!
'Kenapa harus berhenti di sini?' pikirnya dalam hati yang semakin menyesakkan Dada.
Namun, ia menolak untuk menyerah, walau sudah memulai dengan merakit sakit hati agar masih kuat demi meneruskan penyelidikan, dan masih terlalu awal baginya.untuk menyerah bukan?
Linar memastikan jarak aman dan tetap mengikuti mereka dari belakang jangan sampai tertinggal, hotel semewah ini sudah barang pasti menjaga ketat keamanan dan informasi pemiliknya bukan.
Dengan tak sabaran ia segera keluar dari kotak hitam besi yang bisa mengantarnya ke lantai tiga belas, angka yang sama yang ku lihat pada penunjuk lift yang membawa mereka berdua.
"Semoga aja masih terkejar." gumamnya.
Saat berbelok Linar melihat mereka di ujung lorong tengah membuka dan memasuki sebuah pintu unit yang ia tak tahu berapa deret angkanya, merasa tak penting karena sudah tahu letak pintunya di mana.
Deg ... Deg ... Deg
Pelupuk mata Linar mulai panas, ia menyentuh dadanya yang berdegup sakit lebih terasa menyesakkan. Ia mematung di ujung dinding belokan.
Untung saja hotel ini sepi. Mungkin karena penyewanya para pekerja keras yang pulang larut malam. Hah, mewah sekali gedung ini. Kenapa harus pergi ke hotel atau siapa yang membayar kamarnya di antara mereka.
Overthinking Linar bertebaran lagi di kepala dan seperti ada tangan yang memukul-mukul dadanya kembali.
Linar melihat tangannya bergetar lebih parah, ia mengepalkan jemari seolah tengah mencengkeram dadanya yang berdegup cepat menyesakkan, agar lekas berhenti.
Linar menarik napas dalam dan hembuskan perlahan berulang kali, ia menegakkan tubuh, lalu merogoh gawai kecil dan ia hidupkan kamera video. Ketika sudah pasti ia taruh di saku atas dadanya sebelah kiri kemejanya.
'Semoga bukan seperti apa yang aku pikirkan, Tuhan mohon kuatkanlah hati hamba." gumamnya.
Linar berbalik dan mengangkat dagu dengan tangan yang dingin saling bertaut menguatkan. Ia melangkah pelan sembari merakit kekuatannya kembali.
Aku terkesiap ketika petugas kebersihan keluar dari pintu unit di depanku, dia bahkan ikut terkejut dengan reaksiku.
Linar mencoba tersenyum dan ah, "Maaf, Mas. Boleh minta tolong?" pintanya mencegat.
Setelah menjelaskan apa dan bagaimana, selanjutnya Linar mengambil posisi setengah meter dari pintu unit yang dimasuki Dean dan wanita itu, tak berhenti mengintai.
Sudah dua kali si petugas kebersihan menekan bel, ia menoleh pada Linar yang segera diberi kode untuk terus menekan bel yang dipatuhi oleh lelaki itu.
Klik
Suara pintu terbuka, Linar menahan napas gemuruh detak jantungnya semakin cepat. Penampakan seorang perempuan dengan pakaian tidur yang sangat terbuka muncul dari baliknya.
"Ada apa ya, Mas?" suara perempuan terdengar menyahut dari dalam kamar.
Sentak Linar menoleh, namun ia masih diam memaku dirinya bertahan.
"Maaf, Nyonya. layanan kamarnya," seru petugas kebersihan itu.
"Layanan kamar? Saya belum memesannya, dasar aneh!" tukas wanita itu judes.
"Maaf,"
"Ada apa?" suara Dean menginterupsi mereka yang membuat Linar dan dari suaranya wanita itu terkesiap juga dengan alasan berbeda.
Linar berjalan cepat membuat petugas lelaki itu mundur, melihat wanita itu sedang menoleh ke belakang menjawab interupsi Dean, dengan kasar ia mendorong pintu lebih lebar.
Linar nyaris kehilangan suara saat memindai tubuh perempuan berjubah putih dengan sebagian besar tangan dan paha putihnya terpampang.
"Kamu?" tuduh wanita itu terperangah.
Linar segera menyadarkan dirinya dan berjalan lagi sengaja menabrak bahu wanita itu kasar.
Linar menerobos masuk dan Dean menoleh cepat. Mereka saling balas menatap dengan cara yang berbeda, Linar dengan pandangan menatap nyalang tapi rapuh dan Dean yang terkejut. Dengan wajah yang terlihat kalut Dean berjalan mendekati Linar.
"Linar?" panggil Dean parau ia mulai tampak kebingungan.
Linar seperti telah kehilangan banyak darah saat ini. Kulitnya memucat, kepala pening bukan main. Pandangan matanya mengabur, dada ini bergemuruh kian hebat.
Hal itu lantaran Linar yang baru sadar kalau ia bahkan belum makan apa-apa sejak tadi siang, tapi itu tidak cukup menyiksa, yang paling menyiksa adalah pemandangan yang tersuguh di depan kedua matanya saat ini.
Seorang pria dewasa bertelanjang dada berada di dalam satu kamar dengan perempuan berpakaian terbuka. Bagaimana mungkin Linar yang istri sahnya harus bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya. Apa yang dilakukan suaminya dengan perempuan itu di kamar ini?
Dera dan Linar tenggelam dari keterkejutan dan berbagai ocehan spekulasi di kepala keduanya, hingga terlambat menyadari Dean melangkah cepat dan meraih lengan Linar sebelum ia benar-benar ambruk, namun ia segera menepis kasar tangan Dean.
Linar mendongak menatap kedalaman bola mata yang sarat akan keterkejutan dan kekalahan hingga kecemasan.
Dera yang melihatnya, tersulut cemburu ia menggeram kesal lalu menoleh pada petugas lelaki tadi.
"Jadi kamu diperalat sama dia? Dasar bodoh!" desis Dera dan langsung membanting pintu, tak butuh saksi atas labrakan yang dialaminya.
"Aku bisa jelasin, Lin!" kata Dean meraih tangan Linar yang segera dibalas dengan tamparan di pipi kanannya keras.
Dean menunduk sebelum menoleh. Linar menamparnya lagi di pipi kiri sekeras mungkin.
Linar bergerak mundur dua langkah, tersenyum masam dan mengangguk lemah.
"Oh, tentu aja. Karena aku tahu gimana rasanya nggak dikasih kesempatan untuk menjelaskan, dan jadi orang bego yang ngga tahu apa-apa sehingga gampang dibohongi."
Kalimat terakhir yang terlontar berhasil membuat Dean terperanjat, wajahnya pias dan tersinggung.
Pria itu menyugar rambutnya frustasi dan mendesis saat mengucapkan maaf, "Keluarlah, Dera!" titah Dean parau.
"Apa? Nggak mau. Kamu tahu 'kan aku cuma pakai lingerie minim di balik jubah pendek ini. Nggak! orang-orang akan berpikir kalau aku wanita panggilan!"
"Itu fakta 'kan?" sambar Linar cepat.
"Apa lo bilang?"
"Kamu memang wanita panggilan. Jalang murahan yang dengan murahnya berzina sama suami orang, fakta 'kan?" sengit ku mengejek.
"Apa! Sialan! Beraninya lo dasar ...!"
"Keluar, Dera!" sentak Dean tegas menatap dalam tanda tak perlu penolakan berikutnya.
Dera terkesiap. Ia menatap kesal pada Dean, ia melangkah mundur seraya mencebikkan bibirnya kesal.
"Nggak perlu!" imbuh Linar. Menoleh malas pada Dera.
"Kamu udah bersikap jalang yang merusak rumah tangga aku, jadi ayo kita selesaikan semuanya dengan cara dewasa!"
"LINAR!"
"Apa? Kenapa kamu nggak mau libatkan dia di saat dengan teganya kamu mempersilakan dia masuk dan merusak rumah tangga kita, Mas?"
"Oh, atau ini cara kamu untuk menjaga jalang kamu dari kemarahan aku, begitu, Mas?" bentak Linar dengan suara bergetar, aku melotot dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Sebaiknya aku pergi," gumam Dera berbalik terburu-buru ke arah nakas untuk mengambil barang pribadinya.
"Suruh wanita kamu untuk tinggal, Mas. Atau aku akan membesar-besarkan masalah lebih dari ini!" ancam Linar berdesis.
Dean menatapnya marah, ia menghela napas kasar kasar dan berjalan menjauh, lalu berteriak.
"Linar dengar! ... brengsek!" amuknya menjenggut rambutnya frustrasi kemudian berbalik.
"Kenapa kamu ada di sini sih, hah?" bentak Dean marah.
Linar sebagai istri sudah tahu bahwa suaminya akan semarah ini, dan ia bertekad akan tetap menuntaskannya meski terlampau alot.
"Dera, kamu jangan keluar atau aku akan labrak kamu di Derara's boutique, itu milik kamu dan saudara sepupu kamu kan? Pasti akan lebih seru kalau acara pelabrakannya di rekam dan diviralkan ke media sosial, gimana setuju?"
"Sialan! kamu dengar itu Dean? Wanita ini baru aja mengancam aku!"
"Kita buat simple aja, kamu cukup ikuti apa kata aku sebagai istri sah dari pria yang sedang kamu serong suaminya!"
"Brengsek!" desis Dera melotot.
"Lin, jangan begini! kita bicarakan ini di rumah, sebentar aku bersiap dulu," seru Dean yang langsung berbalik untuk mendapatkan baju miliknya.
"Terdengar ancaman kosong ya? Ok, aku udah tahu alamat toko offline dan media sosialnya Dera, dan mungkin aku akan menyewa beberapa orang untuk merekam aksi pelabrakan designer muda bersama salah satu petinggi perusahaan kamu, Mas dan menyebar luaskannya, the power of netizen, right?"