"Kembalikan! Tolong kembalikan kalung itu!" seru seorang wanita dengan hidung pesek pada seorang perempuan lain yang mengenakan seragam pelayan.
"Ini punya saya! Bagaimana bisa Nona Adelia mengaku kalung ini milik Anda," ujarnya menepis tangan perempuan tersebut.
"Kalung itu punyaku, Sarah. Satu-satunya harta yang kumiliki, kumohon jangan ambil!" Adelia berlutut dan memegang lutut di depan pelayan yang mengenakan seragam hitam putih.
Perempuan dua puluh tiga tahun itu tidak perduli meski harus berlutut dan mengemis di hadapan pelayan tersebut. Dirinya hanya menginginkan kalung yang dibawa oleh Sarah, ART di rumah sang suami.
Adelia tidak perduli kalau Sarah mengambil perhiasan miliknya yang lain. Akan tetapi, kalung tersebut satu-satunya benda yang tidak akan dia serahkan begitu saja.
Sarah, perempuan keturunan Sunda dengan hidung mancung itu menepis tangan Adelia kemudian berjongkok. Dia mencengkram wajah kusam sang majikan, mengabaikan jika perempuan itu meringis kesakitan.
"Anda lupa peraturannya, Nyonya Adelia?" tanya Sarah penuh penekanan. "Apa yang sudah di tangan saya, menjadi milik saya." Sarah melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan kembali berdiri.
"Ambil yg lain! Tetapi jangan yang satu kalung itu, kumohon," iba Adelia sembari memegang ujung baju Sarah.
"Lepas! Jauhkan tangan kotor Anda dari tubuh saya!" teriak Sarah sembari menendang Adelia.
Brak!
"Ada apa ini?! Kenapa kalian membuat keributan!" Terdengar sebuah suara, memberikan secercah harapan untuk Adelia. "Kamu lupa apa yang kukatakan padamu, Sar! Di depan lagi ada acara, pastikan jalang ini untuk diam!" seru seorang pria yang masuk dengan wajah kesal.
Sarah menunduk. "Ma-maafkan saya, Tuan. Nyo-nyonya Adelia berusaha meminta kalung saya," gagap Sarah membuat wajah Adelia pucat seketika.
Adelia menggeleng, memandang sosok yang berdiri di samping Sarah ketakutan. "Bo-bohong, Mas. Sarah mengambil kalungku, hartaku satu-satunya," cicit Adelia beringsut mundur.
"Lihat kan, Tuan. Nyonya mengakui kalung saya sebagai miliknya." Sarah memandang sinis Adelia.
"Kalung itu memang milikku! Pemberian dari Kak..."
Plak!
Wajah Adelia berpaling akibat tamparan dari pria di depannya, bibir perempuan itu bahkan terluka. Pria tersebut berjongkok dan mencengkram wajah Adelia, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Diam! Kamu bisa membuatku malu karena teriakanmu!" desis pria tersebut. "Kamu mau semua orang tahu kalau aku mengucilkan istriku di sini, hah!"
Napas Adelia tercekat, perih pada bibir dan panas pada pipinya tidak seberapa dibandingkan dengan hatinya. Bahkan setelah bertahun-tahun menikah, Bagas Radithya Wijaya masih sama kasarnya ketika ia baru tiba di rumah ini sebagai istrinya.
Air mata Adelia mengalir kencang, meringis ketika sang suami mengeratkan cengkraman nya. Sama seperti sebelumnya, ia semakin di dorong ke dalam jurang keputusasaan oleh keluarganya sendiri.
Bagas melepaskan cengkeramannya dengan kasar kemudian menarik rambut Adelia. Membuat wanita itu mendongak dan mengerang kesakitan.
Adelia dapat melihat Sarah menyeringai dan memandangnya dengan tatapan mengejek. Dirinya tidak lebih dari tawanan yang tinggal menunggu hukuman mati.
"Sa-sakit, Mas...am-ampunn!!" rintih Adelia, membuat Bagas semakin mengeratkan jambakannya.
"Berhenti mengeluarkan suara, mengerti!" peringat Bagas sembari memandang Adelia dengan tatapan tajamnya. "Mengerti, Lia!" Bagas menarik kuat rambut Adelia ketika tidak ada kata yang terucap dari bibir perempuan itu.
"Astaga! Berhenti menyakiti saudaraku, Bagas!" seru sebuah suara membuat Bagas melepaskan tangannya dari rambut Adelia.
Bagas mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi jijik ketika beberapa helai rambut Adelia menempel di tangannya. Pria bermata besar itu berbalik dan tersenyum, menghampiri wanita yang baru saja masuk.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Rose? Pestanya kan di rumah utama." Bagas mengecup pipi perempuan cantik dengan rambut bergelombang.
Perempuan yang dipanggil Rose tersenyum memandang Adelia cukup lama. Melewati Bagas begitu saja dan berjongkok kemudian mengamati wajah perempuan dengan tubuh kurus tersebut.
Adelia memandang Rose dengan wajah yang bersimbah air mata, berjengit ketika perempuan di depannya menyentuh lebam di pipinya. Tanpa kata, Rose membantu Adelia berdiri kemudian menatap Bagas dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu memukulnya, Bagas. Bukankah sudah kukatakan jangan pernah memukulnya!" seru Rose, membuat Bagas mendesah. "Kamu tahu dengan pasti apa yang membuatku mau menjadi madu dari saudaraku sendiri!"
"Ro-rose..."
"Jangan bela suami kita lagi, Lia. Lihatlah apa yang dilakukannya padamu," ujar Rose sendu, membawa Adelia ke ranjang dan mendudukkannya.
"Ayolah, Rosella sayang. Dia membuat keributan, aku hanya memberinya sedikit pelajaran," sahut Bagas malas. "Tidak perlu mengurus perempuan kumal itu. Ayo kita kembali ke pesta." Bagas menadahkan tangannya ke arah Rosa.
Rose hanya memandang tangan Bagas dengan wajah datar kemudian mengalihkan tatapannya pada Adelia. Perempuan yang dinikahi sang suami setahun lebih dulu, tetapi hanya menjadikannya istri simpanan.
"Keluar, Mas. Aku ingin berbicara dengan adikku," pinta Rose tanpa menoleh.
"Tetapi..."
"Keluar! Atau tidak ada jatah buat nanti malam!" potong Rose, membuat hati Adelia tersayat.
"Ap...Oh, tidak adil!" sentak Bagas, tetapi ia tetap mengikuti ucapan sang istri dan keluar dari kamar Adelia.
"Kamu juga, Sar," pinta Rose, menoleh ke arah Sarah.
Sarah mengangguk dan mengikuti Tuannya keluar dari kamar Adelia. Melihat Sarah yang akan keluar masih membawa kalung miliknya, membuat Adelia beranjak dari duduknya, berniat untuk menghalangi Sarah.
Akan tetapi, Rose menarik tangannya, memaksa Adelia untuk duduk di bibir ranjang dan memeluknya erat. Perempuan dengan mata besar itu tertegun kemudian terisak dan memeluk Rose.
"Jangan membuat keributan, Lia. Kamu tahu kan kalau suami kita temperamen," nasihat Rose sembari mengelus punggung Adelia. "Kamu nggak mau kan dia memukulmu lagi?"
"Kalungku. Kalung dari Lio di ambil Sarah, Ros," lirih Adelia, membuat Rose mengurai pelukannya. "Kumohon, cuma kalung itu satu-satunya hartaku, Ros. Tolong ambilkan." Adelia memandang Rose, kakak tiri sekaligus madunya.
Rose memandang Adelia sejenak kemudian mengangguk. "Aku akan berbicara dengan Sarah, tetapi tidak bisa menjanjikan apa-apa," ujar Rose.
"Tidak bisakah kamu memerintahkan nya untuk mengembalikan kalungku?" tanya Adelia penuh harap.
Rose menggeleng. "Aku hanya bisa membujuknya, Lia. Maaf. Kamu tahu bukan, Sarah orang itu orang kepercayaan suami kita," sahut Rose.
Adelia menunduk dan mengangguk, perempuan itu tahu kalau Bagas suami mereka sangat mempercayai Sarah. Statusnya bahkan lebih tinggi di bandingkan pelayan-pelayan lain yang bekerja di rumah megah Wijaya.
Otoritas Sarah berada satu tingkat di bawah kepala pelayan di rumah ini. Bahkan Rose yg merupakan istri kesayangan Bagas, tidak dapat menyentuh perempuan berusia dua puluh empat tahun tersebut.
"Selama aku pergi, jangan membuat keributan, oke," pinta Rose, beranjak dari duduknya kemudian berjalan keluar dari kamar kecil Adelia.
"Rosella," panggil Adelia, menghentikan langkah Rose.
Perempuan berambut bergelombang tersebut menoleh dan memandang adik tirinya tersebut. "Ya, Lia?"
"Terima kasih karena tetap berpihak kepadaku," ucap Adelia tulus.
Rose mengangguk, berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Adelia dalam kegelapan. Perempuan itu berdiri dan berjalan menuju jendela yang berdebu dan memegangnya.
Hatinya berdenyut tatkala melihat Bagas dan Rose berjalan menuju rumah utama sembari bergandengan tangan. Sesuatu yang tidak pernah Bagas, suaminya berikan pada Adelia.
Selama lima tahun pernikahan, kamar ini lah yang menjadi saksi dari penderitaan Adelia. Selama itu juga dirinya menjadi istri yang tidak di anggap dan hanya menjadi pelampiasan nafsu di saat-saat tertentu.
"Ini, maafkan aku yang tidak bisa mempertahankan pemberianmu," lirih Adelia, memandang kelap-kelip lampu di rumah utama dengan mata nanar. "Semoga Rose berhasil membujuk Sarah." Adelia menyandarkan kepalanya pada jendela kamar.
Adelia tersentak dan mengernyit menahan sakit akibat rambut yang tertarik, dengan suara yang teredam karena bekapan pada mulutnya. Seseorang menariknya menjauh dari jendela, menyeret kemudian melempar tubuh Adelia ke atas ranjang.
Mata Adelia membola sempurna, tatkala melihat Srah berdiri di depannya dengan menyeringai. Perempuan dua puluh tiga tahun tersebut menggeleng sembari beringsut mundur menjauh dari jangkauan Sarah.
"Sekarang, waktunya hukuman karena sudah membuat keributan," lirih Sarah, menarik kaki Adelia.
"Ti-tidak jangan lagi..." cicit Adelia menggeleng dengan dada berdegup kencang.
Sarah naik ke atas tubuh Adelia, mendudukinya kemudian mengikat tangan perempuan malang tersebut di kepala ranjang. Ia menyumpal mulut Adelia menggunakan kain lap agar tidak berteriak kemudian menyeringai.
Adelia menggeleng, berusaha berteriak dan memberontak. Tetapi sekuat apapun ia berusaha, semua percuma. Ikatan Sarah terlalu kencang, hingga membuatnya tidak dapat bergerak.
"Aku heran, apa sih yang dilihat oleh Tuan Bagas hingga mau menikah dengan upik abu sepertimu!" desis Sarah penuh kebencian sembari mencengkram pipi Adelia.
Perempuan bertubuh tinggi kurus tersebut turun dari ranjang dan memandang Adelia mengejek kemudian keluar kamar. Ia kembali beberapa saat kemudian dengan membawa baskom yang membuat Adelia bergidik ngeri.
Sarah meletakkan baskom di nakas, memakai sarung tangan dan masker kemudian melihat isi baskom dengan wajah jijik. Ia meraup isi baskom, mengabaikan teriakan tertahan Adelia dan meletakkan kumpulan cacing berwarna coklat di atas tubuh perempuan yang terikat tersebut.
"Mampus! Siapa suruh kamu mengadu pada Nona Rosella!" serunya sembari terkekeh.
Adelia menggeleng kencang, menggeliat berusaha mengeyahkah puluhan cacing yang berada di atas tubuhnya. Namun kembali di rundung nestapa karena hewan melata itu masih bertahan di atas badannya.
Sementara Sarah, duduk di pinggir ranjang tersebut mengejek melihat penderitaan yang dialami oleh Adelia. Pelayan itu bahkan menumpahkan seluruh isi baskom di atas tubuh Adelia kemudian tertawa ketika melihat cacing mulai melata ke wajah perempuan yang terikat tersebut.
"Ah...apa Anda tahu, Nyonya Lia. Sudah sejak lama aku menginginkan kalung ini," ujar Sarah, mengeluarkan liontin dari dalam sakunya. "Benda mahal ini tidak pas di sandingkan dengan kulit kusam Anda." Sarah mengenakan kalung, berdiri dan menatap pantulannya dari cermin kemudian tersenyum.
"Dia lebih pantas bersanding dengan kulitku yang terawat, benar kan?" Lanjut Sarah kembali, melirik Adelia di balik cermin.
Adelia memandang Sarah dengan napas tersengal, memejamkan mata ketika merasakan napasnya mulai terasa berat. Hal yang terus berulang ketika Sarah melakukan hal yang sama.
Sarah tidak pernah memukul Adelia, pelayan tersebut bermain cantik agar majikannya tidak curiga.
Ia tidak ingin pria tampan tersebut mengetahui kalau dirinya menggunakan cacing, hewan yang paling ditakuti oleh Adelia untuk menyiksa nya.
Dia tidak perlu repot-repot bersikap kasar untuk menaklukkan seorang Adelia. Terbukti, perempuan yang terikat tersebut tidak berani melawannya sampai malam ini.
Sarah mendekat, menempelkan telinga ke bibir Adelia yang tertutup lap kotor. "Saya lupa mulut Anda tidak tersumpal. Maafkan saya," ujar Sarah melepas lap kotor dari mulut Adelia. "Apa yang Anda ingin katakan?"
"Likan...kembalikan kalung milikku, kumohon," lirih Adelia dengan suara bergetar, berusaha mempertahankan kesadarannya.
Adelia menyesal melepas kalung pemberian Lio sang kakak ketika pergi mandi. Kalau saja ia tidak melepasnya, maka Sarah tidak akan bisa merebut benda paling berharga dalam hidupnya.
Dalam ketakutan akan hewan melata di atas tubuhnya, Adelia harus memohon agar kalung yang berada di leher Sarah di kembalikan. Akan tetapi, Sarah hanya tersenyum sinis, merasa senang melihat istri pertama sang majikan itu menderita.
"Orang seperti Anda tidak pantas memiliki barang mewah seperti ini, Nyonya."
"Benda itu...pemberian terakhir dari kakakku. Kumohon," lirih Adelia kembali memohon.
"Siapa cepat dia dapat. Kalung ini sudah menjadi milik saya," sahut Sarah sembari meraba liontin di lehernya. "Bagaimana? Cantik kan?"
"Kembalikan, Sarah. Kemba..."
Belum selesai Adelia berbicara, ia sudah tidak sadarkan diri karena tubuh dan psikisnya yang melemah. Sarah memandang Adelia dengan tatapan datar kemudian keluar dari kamar perempuan itu tanpa membersihkan kekacauan yang dibuatnya.
Ia berhenti di depan pintu kembali memandang kembali ke arah Adelia yang pingsan kemudian menutup pintu kamar. "Lemah," desisnya sebelum meninggalkan kamar Adelia.
Penderitaan Adelia tidak sampai di situ saja, satu jam kemudian ketika ia tersadar hewan-hewan melata tersebut telah merayap hingga ke wajahnya. Tubuh Adelia gemetar dengan keringat dingin membasahi dahinya.
Jika biasanya Sarah akan membereskan kekacauan yang di buatnya ketika Adelia pingsan, kali ini tidak. Pelayan tersebut memilih pergi dan membiarkan hewan melata itu merayap dan masuk ke dalam daster lusuh yang dikenakan Adelia.
"Ti-tidak...tolong..." cicit Adelia ketika cacing-cacing tersebut mulai melata di kulitnya yang kusam.
Sensasi geli bercampur ngeri menguasai diri Adelia, ia bahkan terus bergerak berusaha menjauhkan tubuhnya dari hewan melata tersebut. Namun, semua usaha yang dilakukannya sia-sia, kumpulan cacing tersebut terus menggeliat di dalam daster Adelia.
Napas Adelia kembali tersengal, waktu terasa lambat baginya yang terikat tanpa bisa melakukan apa pun. Ia mengerjap mengingat wajah sang kakak yang tidak ada kabar setelah menimba ilmu di luar negeri.
Isak tangis mulai terdengar dari bibir tipis Adelia, merutuki nasibnya yang berubah 360° sejak menikah dengan sang suami. Kini yang dirasakannya hanya penderitaan yang seakan tidak pernah berakhir.
Brak!
Suara pintu terbuka membuat Adelia tersentak, terlihat tiga orang pelayan masuk dengan wajah datar. Mereka mengenakan sarung tangan dan membersihkan semua cacing yang berada di atas tubuh Adelia.
Sementara pelayan lain membuka tali yang mengikat tangan Adelia, membuat perempuan itu menarik napas lega. Tiga pelayan tersebut keluar dengan membawa baskom dan seprei yang penuh dengan lumpur.
"Sakit!" erang Adelia ketika Sarah yang baru saja datang menariknya ke kamar mandi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sarah menarik daster yang dipakai Adelia hingga koyak kemudian menyiram tubuh perempuan itu dengan air dingin. Sarah mengabaikan pekikan kesakitan Adelia ketika ia menggosok tubuh perempuan itu menggunakan sabun dan kembali menyiram nya.
"Mandi sebanyak apa pun tetap saja tidak bisa menghilangkan dekil di tubuhmu," hina Sarah kembali menyeret Adelia keluar kamar mandi dan melempar tubuh telanjangnya ke atas ranjang. "Pakai ini!" Sarah melempar lingerie berwarna merah pada Adelia.
Adelia termangu memandang baju transparan tersebut kemudian meneguk ludah kasar. Sementara Sarah kembali tersenyum ketika melihat wajah Adelia yang pucat.
"Selamat menikmati malam bersama Tuan Bagas," desisnya tanpa ampun.
"Tenang saja, saya tidak akan membiarkan Nyonya cepat mati." Sarah berbisik di kuping Adelia kemudian pergi meninggalkan perempuan itu sendiri.
Adelia membuka mata dan melihat langit-langit kamarnya yang kusam. Tubuhnya terasa bagai di hantam ribuan batu setelah apa yang dilakukan Bagas semalam.
Perempuan itu mengangkat tangan dan meringis tatkala melihat luka memanjang menghiasi tangannya. Luka akibat cambukan yang diberikan oleh sang suami yang menderita sadomasokisme.
Kelainan yang hanya ditunjukkan nya pada Adelia, istri pertamanya. Pria itu tidak ingin Rosella, istri keduanya mengetahui kelainan yang di deritanya.
Jadi, sebelum berbagi ranjang dengan Rosella, ia akan mendatangi Adelia untuk memuaskan hasratnya terlebih dahulu.
"Anda sudah bangun rupanya." Terdengar sebuah suara, membuat Adelia menoleh.
Sarah masuk dengan membawa nampan berisi makan siang Adelia, meletakkannya dengan kasar di meja. Perempuan keturunan Sunda itu menarik tangan Adelia dan melihatnya dengan seksama kemudian menghempaskannya.
Setelah itu, ia menarik tangan Adelia, memaksa majikannya berdiri. Membuat Adelia terjatuh ke lantai karena tidak bisa menjaga keseimbangannya.
"Bersihkan diri Anda dan lekas makan. Jangan sampai Nona Rosalia melihat kondisi Anda yang mengenaskan!" seru Sarah sembari berjalan keluar dan membanting pintu kamar.
Adelia termangu sejenak, melihat makanan di nakas dengan mata nanar. Perlahan ia berdiri, menopang tubuhnya dengan berpegangan pada dinding.
Kaki Adelia bahkan tidak sanggup menopang tubuh kurusnya karena pukulan yang diberikan oleh sang suami. Namun, ia tidak berani membantah ucapan Sarah, takut wanita itu kembali menyiksa nya dengan membawakan cacing.
Membayangkan saja, membuat perempuan itu berdigik dengan napas tersengal. Adelia tidak sanggup lagi kalau harus berhadapan dengan mahkluk yang ditakutinya.
Tiga puluh menit kemudian, Adelia telah duduk di pinggir ranjang, mengenakan daster panjang untuk menutupi lebam di tubuhnya. Ia menyendok nasi dan sup yang sudah berbusa, mengeluarkan bau yang tidak sedap kemudian memasukkannya ke mulut.
"Bertahan, Lia. Kamu bisa!" gumam Adelia sembari memejamkan mata, berusaha menelan makanan basi di pangkuannya.
"Semangat, bukankah makan seperti ini sangat jarang kamu dapatkan!" lanjutnya kembali, berusaha menyemangati diri sendiri.
"Mama?" Terdengar suara panggilan, membuat Adelia menghentikan sendok nya.
Nafsu makannya hilang seketika, ia meletakkan nampan di meja dan tertatih berjalan ke jendela. Dadanya berdegup kencang, tatkala melihat seorang bocah empat tahun sedang bermain di halaman belakang bersama Rosella.
Adelia memegang jendela, dadanya terasa sesak ketika melihat kedekatan Ibu dan anak di bawah sana. Terlihat jelas senyum bahagia terkembang di wajah kedua insan beda generasi tersebut.
"Adrian...Mama di sini, Nak," isak Adelia. "Lihat ke atas, Adrian. Mama di sini."
Dada Adelia bergemuruh memendam kerinduan pada Adrian, putra yang dilahirkannya tiga tahun silam. Namun, nasib kembali tidak berpihak kepadanya, ia harus kehilangan sang putra tanpa bisa melihat wajah sang buah hati.
Rosella membawa pergi Adrian tepat setelah putranya lahir atas perintah suami mereka. Sejak itu dirinya terkurung di kamar paviliun belakang rumah mereka tanpa bisa keluar.
"Tidak! Jangan pergi, Adrian! Jangan..." ucapan Adelia terhenti, tubuhnya luruh ke lantai.
Matanya nanar memandang rantai yang melingkar di kakinya. Ikatan yang di pasang setelah ia berusaha pergi ke rumah utama untuk bertemu dengan sang buah hati.
"Aku akan membujuk suami kita untuk mengizinkan mu bertemu dengan anak kita," ujar Rosella dua tahun silam ketika ia meminta untuk bertemu dengan Adrian.
Namun, sampai hari ini Adelia tidak bisa memeluk sang buah hati dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Dia bahkan tidak yakin, jika Adrian akan mengenalinya saat mereka bertemu nantinya.
Adelia memukul dadanya yang terasa sakit, berharap maut segera menjemputnya agar tidak lagi merasakan penderitaan. Namun, harapannya hilang sekelip mata ketika melihat Sarah masuk dan mengernyit ketika melihat Adelia menangis.
"Dasar ratu drama! Apa lagi yang Anda tangisi, hah?" ketus Sarah sembari mengambil nampan.
"Anda seperti hewan ternak saja. Makanan saya bahkan lebih layak di bandingkan makanan Anda, Nyonya Lia." Sarah tertawa ketika melihat piring yang nyaris kosong.
Adelia menyandarkan kepalanya di lutut, enggan menjawab ucapan Sarah. Melihat majikannya enggan untuk berbicara dengannya, membuat perempuan berhidung mancung itu terbakar amarah.
Brak!
Sarah membanting nampan di nakas, mendekati Adelia dan mencengkram dagunya. Ia memaksa sang majikan untuk menatapnya.
"Anda mengabaikan saya, berani sekali!" desis Sarah.
"Ak-aku tidak..."
"Haruskah saya membawa teman tidur Anda kemari lagi? Kurasa...Anda butuh teman tidur," potong Sarah, membuat tubuh Adelia tersentak.
"Ti-tidak, jangan lagi. Kumohon jangan," cicit Adelia dengan keringat membasahi tubuhnya.
"Takut? Pengecut sekali!" Sarah melepas cengkramannya dan berdiri. "Jangan tunjukkan wajah Anda di jendela kalau Tuan Adrian bermain," ujar Sarah, berbalik dan mengambil kembali nampan di meja.
"Tetapi..."
"Anda mau Tuan Bagas menutup jendela itu, satu-satunya cahaya yang bisa Anda lihat?" tanya Sarah menunjuk jendela menggunakan dagu, membuat dada Adelia tergemap.
Adelia menggeleng. Jika jendela di tutup, maka ia tidak bisa lagi mendengar dan melihat wajah Adrian meski hanya dari jauh. Adelia mendongak, mendekati Sarah dan memegang lutut sang pelayan.
"Ak-aku janji tidak akan menunjukkan wajah lagi di jendela. Jangan tutup jendelanya, kumohon jangan lakukan itu," mohon Adelia dengan suara parau.
Sarah mengesah, menarik kakinya membuat Adelia tersungkur ke lantai. Ia memandang sang majikan yang tidak diakui dengan wajah jijik kemudian berbalik.
"Anda memang pantas mengemis seperti ini. Dasar tidak punya harga diri," ejek Sarah berjalan keluar kamar Adelia.
Sepeninggalan Sarah, Adelia tetap berbaring di lantai, meringkuk layaknya bayi di dalam rahim. Ia tersenyum sembari meraba perutnya yang rata, mengingat ketika Adrian masih dalam kandungannya.
Dalam hati Adelia membenarkan ucapan Sarah kalau dirinya tidak punya harga diri. Demi bisa melihat sang putra tumbuh sehat dan berkecukupan, Adelia rela berlutut di depan seseorang yang statusnya hanya pelayan.
Sepanjang hari, bayangan Adrian muncul di benaknya. Anak itu memberikan oase sekaligus neraka secara bersamaan.
Brak!
Pintu di buka secara kasar membuat Adelia tergemap dan terbangun dari pembaringan. Di depan pintu Bagas memandangnya datar kemudian mendekat dan mencengkram rambut Adelia.
"Sa-sakit!" cicit Adelia memegangi kepalanya yang terasa nyeri akibat tarikan sang suami.
Bagas mengabaikan rintihan Adelia, memaksa perempuan itu berdiri dan menatapnya lekat. Pria itu melemparkan tubuh Adelia ke atas ranjang kemudian mengurung nya hingga membuat perempuan tersebut tidak dapat melarikan diri.
"Sudah kukatakan berulang kali, Lia. Jangan...pernah tunjukkan wajahmu di depan Adrian!" lirih Bagas penuh penekanan, membuat tubuh Adelia merinding.
"Ak-aku tidak sengaja. Ma-maafkan aku, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Adelia menangkupkan tangannya di depan dada dan memohon agar sang suami memaafkannya.
Plak!
Wajah Adelia berpaling, panas menjalari pipinya ketika Bagas menampar wajahnya. Ia bergeming bahkan ketika sang suami mencengkram rahangnya.
"Gara-gara kamu, Adrian menangis! Ia takut kepada nenek sihir sepertimu!" seru Bagas meludah di atas wajah Adelia.
"Kalau bukan wasiat laknat itu, sudah lama aku menyingkirkan mu!" Bagas turun dari ranjang dan memandang Adelia penuh kebencian.
Adelia bergeming, berusaha mencerna ucapan sang suami. Ia bahkan masih tidak mengerti dengan maksud perkataan pria yang sudah menikahinya empat tahun silam tersebut.
"Peringatan terakhir dariku! Jangan pernah tunjukkan wajahmu yang burik di depan anakku!" peringat Bagas.
Pria itu berbalik dan keluar dari kamar, mengabaikan tubuh membeku Adelia.
"...nakku..."
Suara tersebut menghentikan langkah Bagas dan membawanya berbalik. Ia menajamkan telinga, berusaha menangkap ucapan yang terlontar dari bibir istri pertamanya.
Adelia bangkit dari pembaringan dan duduk sembari menunduk, membuat Bagas mengernyit. Sedetik kemudian pria itu termangu ketika melihat Adelia menatapnya tajam.
Tatapan yang tidak pernah diberikan oleh wanita itu sebelumnya. Mata Adelia bahkan mampu membuat nyali seorang Bagas Radithya Wijaya ciut barang sejenak.
"Dia juga anakku!" Ulang Adelia dingin. "Daraj dagingku, dan kalian dengan kejam memisahkan Ibu dari anaknya! Di mana nurani mu!" Adelia menunjuk Bagas dengan emosi menggelegar.
Bagas terpaku sejenak dengan langkah lebar kembali ke ranjang dan menarik rambut Adelia kencang. Kali ini, tidak ada rintihan dari bibir perempuan itu, ia memandang Bagas dengan penuh kebencian.
Tatapan yang tidak pernah diberikan oleh Adelia selama menikah dengan Bagas Radithya Wijaya. Hal ini membuat Bagas terbakar amarah karena perlawanan yang diberikan oleh Adelia.
Bugh!
Tubuh Adelia terlempar ke samping tatkala Bagas menghantamkan tinjunya ke wajah perempuan cantik itu. Tidak cukup sampai di situ, pria tersebut menarik kerah baju Adelia dan kembali memukul wajahnya tanpa ampun.
"Berani kamu membangkang, hah! Kamu memang pantas diberi pelajaran, Lia!" geram Bagas terus memukuli wajah Adelia.
Sementara Sarah hanya berdiri sembari bersandar pada dinding kamar, melihat KDRT yang dilakukan oleh majikannya dengan senyum terkembang. Dirinya bahkan merekam, kejadian tersebut dan mengirimkannya pada seseorang.
Melihat Adelia yang tidak berdaya, membuat hasrat Bagas naik, perlahan ia melepaskan bajunya dan mengoyak pakaian perempuan yang berada di bawahnya tersebut. Menyadari itu, Sarah menghentikan rekamannya dan keluar dari kamar kemudian menutup pintu.
"Ti-tidak...aku tidak mau melayanimu, tidak," rintih Adelia susah payah sembari menggeleng.
"Jangan jadi istri pembangkang, Lia! Kamu suka kan aku melakukan ini padamu?" Bagas menyeringai, turun dari ranjang dan melepaskan pendeng yang dikenakannya.
"Tidak lagi..." Adelia menggeleng, turun dari ranjang, tertatih berusaha menjauh.
Ctaar!
"Aaargh!"
Tubuh Adelia limbung ke lantai, tatkala gasper mengenai tubuhnya. Ia tersentak ketika Bagas tanpa ampun melayangkan pendeng ke punggungnya, mengabaikan darah yang mulai menetes pada tubuh perempuan malang itu.
Tidak ada teriakan yang keluar dari bibir Adelia, hanya rintih kesakitan yang berusaha di redamnya sedaya upaya. Bagas yang merasa tidak puas karena Adelia hanya diam dan tidak memohon ampun seperti biasa, membuatnya kalap.
Ia menghentakkan kaki, menarik rambut Adelia dan menyeret perempuan tersebut kembali ke ranjang. Napas Adelia tersengal, matanya sayu memandang sang suami.
"Memohon lah, Lia. Memohon, maka aku akan menghentikan lecutan ku!" seru Bagas dengan wajah memerah menahan hasrat yang sudah tinggi.
Ctaar!
Tubuh Adelia tersentak kala gesper menyentuh dada telanjangnya. Ia memejamkan mata sembari menggigit bibirnya kuat agar tidak mengeluarkan suara.
Kali ini, Adelia tidak ingin memberikan Bagas kepuasaan seperti hari-hari sebelumnya. Dirinya ingin menghukum sang suami dengan caranya, meski hal tersebut dapat mengancam jiwanya saat ini.
"Memohon lah, Lia. Ayo, memohon!" teriak Bagas dengan napas memburu ketika Adelia tidak kunjung membuka mulutnya.
Bagas ingin menuntaskan hasratnya dengan teriakan sang istri, tetapi wanita itu memilih bungkam. Membuat hasratnya berganti amarah yang menggelegak.
Pria itu terus mencambuk tubuh Adelia yang sudah mengeluarkan banyak darah. Berharap sang wanita merintih dan memohon ampun. Tetapi Adelia tidak kunjung membuka suara.
"Brengsek!" umpat Bagas melempar pending kemudian naik ke atas tubuh Adelia yang telah bersimbah darah. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi istri pembangkang, Lia. Tidak akan!" Bagas melingkarkan tangannya ke leher Adelia dan menekannya kuat.
Adelia tersentak, matanya membola sempurna ketika napasnya tercekat akibat cekikan sang suami. Tangan lemahnya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Bagas, tetapi tenaganya yg sudah berkurang banyak tidak cukup kuat.
Tangan Adelia terkulai di kedua sisi tubuhnya dengan mata melihat sang suami sendu. Orang yang paling di hormati dan di takutinya secara bersamaan.
Adelia tersenyum tipis, sebelum kesadarannya benar-benar memudar. Ia tidak menyesal kalau harus mati di tangan Bagas, penyesalannya hanya lah ketika tidak bisa melihat buah hatinya tumbuh besar.
"Mas! Apa yang kamu lakukan?!!" pekik sebuah suara, menghentikan aksi Bagas.
Pria itu hanya melirik sang istri kedua sekilas kemudian melanjutkan aksinya mencekik Adelia. Ia sudah gelap mata benar-benar tidak terima ketika istri pertamanya abai akan perintahnya.
"Mas! Berhenti! Lia bisa mati!" jerit Rosella, berusaha melepas cekikan Bagas. "Dia sudah tidak sadarkan diri! Kamu bisa dalam masalah, Mas!"
Bagas terpaku ketika melihat Adelia yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah lebam. Ia melepaskan tangannya dan turun dari ranjang sembari mengusap wajahnya kasar.
Sampai akhir, Adelia tetap diam, mengabaikan siksaan yang diberikan olehnya. Bagas tidak menyangka kalau Adelia bisa sekeras kepala itu.
"Lia! Astaga, Lia!" pekik Rosella, naik ke ranjang dan memangku kepala Adelia. "Sebenarnya apa yang membuatmu gila seperti ini, Mas!" Rosella memandang tajam wajah sang suami.
"Lia, bangun! Lia?" lanjut Rosella menepuk lembut pipi Adelia.
"Ak-aku...aku..." gagap Bagas tidak dapat berucap di depan Rosella.
"Pergi dari sini, Mas! Aku tidak mau mendengar pembelaan darimu!" seru Rosella dingin. "Sarah! Cepat obati Liaku!" Rosella memanggil Sarah, pelayan sekaligus orang yang selama ini merawat luka-luka Adelia.
"Sa-sayang..."
"Pergi!!" raung Rosella dengan wajah merah padam.
Bagas termangu sejenak kemudian keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu sadar kalau dia sudah kelewatan pada Adelia, membuat perempuan itu berada dalam bahaya.
Bagas menoleh ke arah Adelia yang terbaring tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh darah dan mengepalkan tangan. Ia menyalahkan Adelia yang melawan sehingga membuat dirinya kalap dan gelap mata.
"Salahkan dia yang membangkang, pastikan dia meminta maaf setelah sadar nanti," ujar Bagas dingin kemudian pergi bertepatan dengan Dina yang masuk ke dalam kamar.
"Suamiku itu benar-benar!" Rosella menggeleng tidak percaya dengan apa yang diucapkan sang suami.
"Salah Nyonya Lia, Nona," ujar Sarah, mengeluarkan alkohol 95% dan membersihkan luka cambukan Adelia. "Kalau dia tidak menjawab ucapan Tuan Bagas, tentu tidak akan separah ini."
Rosella memandang wajah Adelia datar, menghempaskan kepala adik tirinya dan turun dari ranjang. Ia menunduk, memandang jijik gaun yang terkena sedikit darah Adelia dan berbalik.
"Hais! Aku harus membeli baju baru!" gerutu Rosella kesal. "Pastikan dia hidup Sarah, aku belum puas menyiksa nya." Rosella menghentakkan kaki keluar kamar, mengikuti jejak Bagas suaminya.
Adelia membuka mata dengan perasaan tidak karuan, memandang cairan infus yang berada di sisi kiri. Ia mengerjap, berusaha melihat dalam kegelapan dan mencelus tatkala melihat ke arah jendela.
Jendela tersebut tertutup rapat dari luar tanpa menyisahkan cahaya sedikit pun. Pupus sudah harapannya untuk melihat Adrian walaupun hanya sebentar sekilas.
Bagas telah menutup aksesnya untuk melihat dunia luar dan mengurungnya dalam kegelapan. Tanpa disadari air matanya mengalir deras sehingga membuatnya mengernyit karena perih yang dirasakannya.
"Oh, sudah bangun? Baguslah!" ketus sebuah suara.
Tanpa harus menjawab, Adelia sudah tahu siapa yang datang, Sarah. Ia memejamkan mata ketika lampu kamar dinyalakan dan membuat matanya terasa perih.
Sarah mendekat, memandang Adelia dengan wajah datar kemudian mengangkat tangan perempuan yang terbaring tersebut. Ia memeriksa denyut nadi Adelia dan menghempaskan tangannya kasar.
"Berapa lama?"
Sarah melirik Adelia sejenak. "Tiga hari, beruntung Anda masih hidup," sahut Sarah, mengecek jalannya infus.
"Aku merasa sebaliknya," desah Adelia putus asa.
"Tentu saja Anda merasa sebaliknya, Nyonya," ujar Sarah, menopang tubuhnya dan memandang Adelia sembari mengernyit.
"Tetapi untuk saya, sebuah keberuntungan. Hidup Anda membuat saya mendapat pundi-pundi uang yang cukup banyak." Sarah menjauh dan menyeringai.
Adelia membalas tatapan DmSarah, mengerti maksud dari ucapan sang pelayan. Suaminya ingin dia tetap hidup dan kembali merasakan siksaan yang tidak ada akhirnya, bisa jadi seumur hidupnya.
Hukuman yang sudah ditetapkan Bagas adalah sebuah perintah yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun juga, termasuk Adelia. Perempuan itu menarik napas dalam dan meringis ketika merasa sakit dan mencium bau yang pesing.
"CK, bisa muntah saya kalau lama-lama di sini," gerutu Sarah dengan ekspresi jijik dan keluar dari kamar.
"Basah," lirih Adelia dengan dada sesak.
Kasur Adelia basah karena ia mengompol di tempat tidur. Tentu saja dirinya tidak dapat bergerak karena rasa sakit mendera.
Sayangnya, Sarah juga enggan untuk membersihkan kotoran Adelia dan memilih pergi. Adelia termangu, mengangkat tangannya dan tertegun ketika melihat cairan kuning pada bekas lukanya.
Adelia mendesah, pantas saja lukanya tidak kunjung sembuh dan merasakan sakit yang teramat sangat. Rupanya, tubuhnya mengalami infeksi.
"Rose kamu di mana? Aku membutuhkanmu," lirih Adelia putus asa. "Cuma kamu yang bisa membantuku, Ros. Tolong aku."
Tentu saja harapan Adelia sia-sia, Rosella tidak pernah mengunjunginya setelah waktu berlalu cukup lama. Sementara luka yang di deritanya semakin parah karena tidak mendapat pengobatan yang layak.
Bekas cambuk kan Bagas mulai menghitam disertai cairan kuning dengan bau menyengat yang membuat Adelia semakin tersiksa. Dia berharap bisa segera mati, tetapi Sarah selalu memastikan Adelia tetap hidup.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tetapi Rosella tidak kunjung datang. Tubuh Adelia semakin kurus, hanya tulang berbalut kulit dengan bau tidak sedap.
Adelia menjadi kembang ranjang dan bertahan hanya dari cairan infus yang diberikan oleh Dina. Perempuan itu bahkan tidak dapat menghitung hari-hari yang dilewatinya dalam kegelapan.
Bagi Adelia, tidak ada bedanya siang dan malam di dalam kamar yang ia tempati saat ini. Hanya kegelapan, rasa sakit dan bau menyengat dari tubuhnya yang menemani.
"Adelia." Terdengar sebuah suara membuat Adelia membuka mata dan mengernyit karena silau lampu yang mengenai matanya.
Sejenak Adelia mengerjap, membiasakan diri pada cahaya lampu yang berada tepat di atasnya. Ia melihat sekeliling dan terpaku pada sosok yang duduk dengan anggun di kursi di dekat ranjangnya.
Mata Adelia berembun, merasa secercah harapan yang datang dengan hadir sosok tersebut. Ia terisak pelan, merasakan kelegaan yang luar biasa dalam hatinya.
"Rose, akhirnya..."
"Bau. Aku tidak tahu ada manusia yang bisa hidup di tempat seperti ini," potong Rose sembari melihat sekitar membuat Adelia bungkam.
Ia memandang Rose sejenak, ada yang berbeda dari saudara tirinya tersebut. Matanya datar, terkesan dingin ketika memandang Adelia.
Rose beranjak dari duduknya, memegang teralis jendela yang tertutup papan dari luar. Ia tersenyum kemudian berbalik dan memandang Adelia.
"Bagas tidak lagi menginginkan mu, Lia," ujar Rose.
"Bagus, dengan begitu dia nggak akan lagi menyiksaku," lirih Adelia, masih memandang Rose. "Ka-kalau begitu, bisakah kau membawaku keluar dari sini, Ros?"
"Kelua?" Rose tertawa keras, membuat Adelia termangu. "Mau ke mana? Tidak ada tempat untukmu kembali," lanjutnya sembari tersenyum.
"L-lio..."
"Ah...aku lupa. Lio mu sudah lama mati," ujar Rose enteng, membuat dada Adelia bagai di timpah batu. "Dan harta Bagaskara otomatis jatuh ke tanganku. Satu-satunya anak yang tersisa." Rosella menyeringai sembari menepuk dadanya.
"Tidak...kamu bohong, Rose. Kamu pasti berbohong, Lio tidak akan meninggalkan ku," lirih Adelia sembari menggeleng.
Adelia tidak bisa mempercayai ucapan Rosella yang mengatakan kalau saudara kembarnya sudah tidak ada. Beberapa bulan lalu, Rosella bahkan masih berbicara dengan Lio.
"Terserah mau percaya atau tidak." Rosella mengedikkan bahunya. "Adelio meninggal dalam kecelakaan mobil, otomatis harta Bagaskara jatuh ke tanganku," lanjut Rosella.
Mendengar ucapan Rosella membuat Adelia terisak kencang, bayangan Adelio ketika terakhir mereka bersama lima tahun silam. Kini hanya kenangan yang tersisa dari pria yang pernah satu rahim dengannya tersebut.
"Apa maksudmu? Aku masih hidup, aku berhak..." Adelia menghentikan ucapannya. "Aku tidak perlu harta itu, Rose. Ambil, tetapi tolong keluarkan aku dari sini," pinta Adelia mengiba pada wanita yang berdiri di depannya.
Adelia menatap Rose dengan tatapan memohon, dirinya tidak perlu harta. Ia bisa mencari uang sendiri tanpa harta dari Bagaskara, satu-satunya keinginannya saat ini adalah terbebas dari neraka yang diciptakan oleh sang suami.
"Tentu saja harta itu milikku, Lia Sayang. Itu juga alasan aku dan Mama mengirim mu ke neraka ini," bisik Rosella di telinga Adelia, membuat tubuh wanita itu menegang.
Rosella menjauh dan kembali duduk di kursi tadi dan memandang Adelia dengan jijik. Ia mengambil masker dan mengenakannya, berusaha menghalau bau tidak sedap dari perempuan yang berbaring di ranjang keras tersebut.
"Rose, aku tidak..."
"Neraka ini adalah hasil kerja ku menyingkirkan mu, Lia. Tidak kah kamu tahu kalau Bagas sebelumnya adalah pacar ku," potong Rosella. "Ya. Dia pacarku dan aku menyodorkan mu padanya dan membuat Bagas menjadi penerus Wijaya." Rosella melanjutkan ketika melihat ekspresi wajah Adelia.
"Kamu tahu kalau Mas Bagas punya kelainan?"
"Tidak. Sarah yang memberitahu ku, kamu tidak tahu betapa senangnya aku ketika Bagas menyiksamu."
Adelia termangu, tidak menyangka jika orang yang paling di percayanya ternyata ular. Padahal selama ini dia memberikan seluruh kepercayaannya pada saudara tirinya tersebut, tetapi menjadikannya bunga ranjang adalah perbuatan Rosella.
"Aku juga lah yang memintamu untuk di simpan di sini, menjadi boneka demi tujuan yang lebih besar."
"Kamu gila, kalian gila!" desis Adelia berlinang air mata.
"Salahmu lahir di keluarga Bagaskara, Lia. Jangan salahkan kami, aku dan Mama hanya menggunakan kesempatan yang ada," sahut Rosella enteng. "Bukankah kamu sendiri yang meminta Mama menikah dengan Papamu?"
Dada Adelia terasa sesak, benar apa yang dikatakan oleh Rosella. Dirinya lah yang meminta sang Papa menikah dengan Risma, Mama Rosella.
Berharap, pria itu dapat menemukan kebahagiaannya seperti ketika bersama sang Bunda. Akan tetapi, semua berubah saat setahun kemudian Papa sakit keras dan meninggal dunia.
Risma, Mama tiri Adelia menjadi wali atas Adelia dan Adelio Bagaskara sampai mereka cukup umur. Wanita itu mengirim Adelio untuk bersekolah asrama di luar negeri kemudian menikahkan Adelia dengan Bagas dua bulan setelah kelulusannya.
Di paviliun kamar ini, Adelia menghabiskan waktunya setelah menikah dengan Bagas. Ia bahkan menerima Rosella sebagai madunya, berharap kehidupannya akan berubah.
"Sakitkah?" tanya Rosella melihat luka-luka Adelia dengan jijik. "Bagas bahkan tidak tahu kalau kamu masih hidup." Rosella melanjutkan sembari tertawa.
Adelia bergeming, hanya memandang Rosella dengan bersimbah air mata. Perempuan cantik yang sedang duduk tersebut melihat ke arah jendela yang tertutup rapat.
"Kalau dia tahu, pasti akan datang dan menyiksamu lagi. Seharusnya kamu lega, aku masih berbesar hati merawatmu, Liaku Sayang," lanjutnya tersenyum menunjukkan giginya yang putih.
"Haruskah?"
"Ya. Dengan begitu aku baru merasa puas," ujar Rosella. "Melihatmu meraung kesakitan ketika Bagas memukul mu, membuatku bahagia."
"Sudah puas?"
Rosella tersenyum penuh arti beranjak dari duduknya dan berbalik. "Tahukah kamu, kalau aku yang membuatmu terisolasi di sini."
"Kamu sudah mengatakannya tadi."
"Aku nggak mau Adrian kita...ups, Adrianku melihat wajah burukmu dari sini." Rosella menyusuri pinggiran jendela. "Aku juga belum puas kalau belum melihatmu tersiksa," lanjutnya, membuat Adelia menggeram.
Jika saja tubuhnya tidak dalam kondisi lemah dan tidak dapat bergerak, Adelia ingin mencabik-cabik seorang Rosella. Sayangnya, untuk menggerakkan satu jari saja sudah membuat Adelia kepayahan, tidak mungkin ia bisa membalas rubah tersebut.
Akhirnya Adelia tahu siapa musuhnya, tetapi ia terlambat menyadari hal tersebut. Ia bahkan percaya jika Rosella menikah dengan Bagas karena ingin membuatnya keluar dari neraka Wijaya.
Namun sebaliknya, Rosella dan Risma yang membuatnya terjebak di tempat terkutuk ini. Mereka tertawa bahagia di atas penderitaan Adelia dan Adelio, demi gila harta mereka.
"Apa masih belum cukup?" tanya Adelia dengan suara parau.
"Aku..." Rosella menjeda ucapannya. "Karena itulah aku berada di sini, Lia." Rosella tersenyum manis.
Adelia tergemap mendengar ucapan Rosella, sejenak dirinya berharap akan bebas dari tempat terkutuk ini dan dapat menghirup udara segar. Namun, kedatangan Sarah yang membawa sesuatu pada nampan kayu kecil dan usang membuatnya ragu.
Rosella mengangguk mengambil alih nampan dari Sarah dan membawanya mendekati Adelia. Wanita cantik itu mengelus pipi tirus Adelia secara lembut, menyusuri tubuh berbalut kulit di depannya menggunakan matanya.
"Kamu akan membebaskanku?" tanya Adelia hati-hati dengan dada berdegup kencang.
Biasanya Adelia akan senang berada dekat dengan Rosella seperti saat ini. Namun, perempuan itu merasakan hal yang berbeda pada Rosella.
Adelia berniat menggeser tubuhnya dan pergi menjauh dari Rosella, tetapi bahkan tangannya terlalu berat untuk di gerakkan. Tidak ayal, ia takut dengan bayangan di depan mata karena kehadiran Rosella di kamar baunya.
"Tentu saja aku akan membebaskan mu, Liaku Sayang," desah Rosella. " Dengan rasa sakit tentunya, di sini, tempat ini akan jadi peristirahatan terakhirmu." Rosella mengangguk dan mengenakan sarung tangan.
"Ti-tidak...ja-jangan, Rose. Kumohon ja-jangan, ak-aku belum mau mati," iba Adelia dengan keringat membasahi tubuhnya.
Rosella membuka wadah kecil dari tanah liat yang berada di pangkuannya. Mengeluarkan pil kecil dari dalam, mencengkram rahang Adelia dan memaksanya membuka mulutnya kemudian memasukkan obat berwarna hitam itu ke dalam mulutnya.
"Aku akan menemanimu, Lia. Sampai ajal menjemputmu," bisik Rosella kemudian tertawa dan menjauh, mengabaikan gelengan Adelia.
Adelia tidak mau mati dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Di temani oleh musuh dalam selimut yang membuat dirinya berada di dalam neraka ini.
Dalam kondisi seperti sekarang, ia menyesal telah membuat sang Papa menikah dengan Risma, Mama tirinya. Jika saja saat itu dia tidak menginginkan pelukan dari seorang wanita yang bernama Mama, mungkin saat ini dirinya masih bahagia bersama dengan Adelio dan Papa.
Detak jantung Adelia mulai berdetak cepat, ia merasa nyeri pada dada serta pusing, membuatnya meringis kesakitan. Tidak lama kemudian penglihatannya memburam di sertai tidak dapat bernapas.
"Acconite, kamu pintar, Sar. Tidak akan ada yang mencurigaiku kalau Adelia mati," ujar Rosella yang masih terus memandangi Adelia yang mulai merasakan efek racun yang di minumkannya.
"Tidak ada yang akan tahu kalau Nyonya Adelia di racun. Semua orang akan mengira dia terkena serangan jantung," sahut Sarah.
"Benarkah? Ah...sungguh malang nasibmu, Lia. Harus mati dalam kondisi menyakitkan seperti ini," desah Rosella terdengar sendu. "Tidak apa, dengan begini aku akan bahagia. Bukankah sejak dulu kamu mengharapkan kebahagiaanku, Lia?"
Adelia memandang Rosella sendu, ia memang mengharapkan wanita itu mendapatkan bahagianya. Akan tetapi, dirinya tidak menduga kebahagiaan Rosella harus ditukar dengan kehancuran keluarga Bagaskara.
Tangan Adelia terulur ke arah Rosella dan Sarah. "Rose...tolong aku tidak dapat..." ucapan Adelia terhenti dengan tangan menggantung di tepi ranjang.
Adelia meninggalkan dalam kesakitan yang teramat sangat, ia dapat melihat senyum kemenangan terpancar di wajah Rosella ketika nyawanya tercabut. Kemudian gelap yang menyelimuti tubuhnya yang serasa seringan kapas.
"Mimpi yang indah, Lia. Terima kasih telah membuatku berada di titik ini," ujar Rosella terdengar begitu jauh, sebelum tubuhnya tenggelam dalam kegelapan yang terasa begitu pekat.
Adelia merasa terombang ambing di dalam kegelapan yang ditemani kenangan semasa hidupnya. Di awali ketika ia terlahir ke dunia dan tumbuh besar hingga akhirnya dirinya mati dalam kesakitan.
Adelia meringkuk dan terisak merasa ketidakadilan pada hidupnya. Bagaimana bisa takdir mempermainkan dirinya sedemikian rupa hingga membuat dirinya harus menderita sampai akhir hayat.
Adelia berharap dapat membalas semua perbuatan Rosella dan Risma. Ia merasakan kebencian yang teramat sangat pada kedua wanita tersebut.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Rosella! Tidak akan!" desis Adelia dengan tangan terkepal.
Adelia tersentak ketika merasakan sesuatu yang hangat membelai tubuhnya. Perlahan ia membuka mata dan mengernyit ketika merasakan sinar matahari memasuki indra penglihatannya.
Adelia duduk, melihat sekitar dan tergemap ketika ia terbangun di kamarnya dulu. Kamar penuh kenangan yang ditinggalkannya selama begitu lama.
Adelia turun dari ranjang dan termangu ketika berdiri dan terjatuh tepat di depan kaca besar. Ia meraba wajahnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Bagaimana bisa..."
Terdengar ketukan pintu membuat Adelia tergemap dan berbalik, melihat sosok yang membuka pintu.