"Akhirnya sebentar lagi impianku untuk hidup bersama Bang David tercapai, Sa," ujar Clara pada Rosa-sahabatnya.
"Uhuk." Rosa tersedak minuman jus jeruk saat mendengar ucapan Clara.
"Kalian mau menikah, Ra?" tanya Rosa seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Iya, Sa. Doakan semuanya lancar sampai hari H."
"Kapan kalian akan menikah?"
"Sebulan lagi, Sa" Rosa terlihat murung saat mendengar sahabatnya mau menikah.
"Kamu gak suka mendengar aku menikah, Sa."
"Siapa bilang aku gak suka?" Rosa berdiri lalu menghampiri Clara yang duduk di depannya dan memeluk dengan erat.
"Selamat ya, Ra." Dipelukkan Clara, Rosa menitikkkan air mata dengan tangan mengepal.
"Makasih, Sa." Clara mengurai pelukannya lalu menatap heran sahabatnya.
"Kenapa kamu menangis, Sa?"
"Aku menangis karena bahagia sebentar lagi sahabatku akan mengarungi bahtera rumah tangga dengan orang yang dicintainya."
"Aku pikir kamu kenapa menangis begitu. Kamu takut nanti aku gak ada waktu lagi untuk kita hangout. Tenang saja kita pasti masih bisa bersenang-senang." Rosa hanya menanggapi dengan tersenyum kecut.
"Oh iya, apa cowok itu sudah menyatakan perasaannya sama kamu, Sa."
"Belum, Ra. Aku rasa mungkin dia tidak akan menyatakan perasaannya."
"Kenapa begitu, Sa?"
"Dia hanya menganggapku sahabatnya dan sebentar lagi dia akan menikah."
"Apa! Aku pikir dari ceritamu kalian saling mencintai. Brengs*k juga ya cowok itu hanya php," sungut Clara.
"Aku gak suka kamu bilang begitu tentangnya. Mungkin aku saja yang terlalu baper, menyalah artikan perhatian dan kebaikannya."
"Maafkan aku, Sa Aku gak bermaksud bilang begitu. Kapan kamu mengenalkannya padaku, Sa. Dari dulu kamu selalu banyak alasan menolak permintaanku untuk mengenal cowok itu," sungut Clara.
Pada saat mereka sedang mengobrol, ponsel Clara berdering.
"Iya, Sayang. Aku segera ke sana." Clara menutup panggilan teleponnya.
"Maaf ya, Sa. Aku harus pergi menemui Bang David"
"Kenapa dengan David, Ra?" tanya Rosa dengan nada khawatir.
Clara menautkan alisnya saat melihat perubahan wajah Rosa. Dia berpikir ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya.
"Bang David mengajakku untuk memilih cincin pernikahan kami, Sa. Aku pergi dulu ya," pamit Clara.
Clara mencium pipi kanan dan pipi kiri sahabatnya lalu pergi tanpa mendengar jawabannya Rosa. Setelah kepergian Clara, amarah yang sejak tadi ditahannya kini membuncah.
Brak!
Clara menggebrak meja meluapkan emosinya. Semua mata tertuju padanya.
"Mengapa aku selalu kalah darimu, Clara? Kenapa kamu selalu mendapatkan apa yang aku inginkan? Kenapa takdir baik tidak berpihak padaku? Kenapa!" teriak Rosa sambil menangis. Dia tidak peduli dengan bisik-bisik orang yang ada di restoran itu.
"Hei Mbak, kalau mau gila jangan di sini," ujar seorang ibu menatap sinis Rosa.
"Diam kamu," bentak Rosa seraya menatap tajam ibu tersebut.
Rosa merasakan perutnya kram. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah lalu berdiri meninggalkan restoran itu. Saat Rosa berjalan semua orang cekikikkan. Rosa tidak memperdulikan mereka. Dia menuju parkiran dan mengendarai mobilnya.
Sesampai di rumahnya, Rosa baru menyadari jika orang-orang di restoran itu menertawakannya karena melihat darah haidnya tembus ke dresnya. Setelah membersihkan diri Rosa kembali menangis sambil menatap foto dirinya dengan seorang laki-laki.
"Kenapa kamu tidak menganggapku ada, menganggapku lebih berarti dalam hidupmu?" Air mata menetes mengenai figura foto itu.
Rosa berselancar di aplikasi berlogo biru. Dia ingin kepo dengan akun Clara. Rosa tersenyum getir saat melihat unggahan Clara beberapa menit yang lalu. Tampak sebuah tangan dengan cincin bermata berlian di jari manis Clara dengan caption cincin dari calon imamku.
"Argh!" teriak Rosa seraya melempar ponselnya di ranjang.
Lama Rosa terdiam hanya buliran bening mengalir membasahi wajahnya. Dia mengambil ponselnya, membuka kembali aplikasi tersebut. Netra Rosa berbinar saat melihat informasi tentang pelet darah haid yang dilakukan seorang istri untuk membuat suaminya kembali dalam pelukannya.
Rosa mencari informasi tentang pelet tersebut. Akhirnya dia mendapatkan alamat dukun yang akan membantunya.
"Ah, kebetulan aku sedang haid. Darah haid di hari pertama yang menjadi syaratnya. Secepatnya aku harus ke rumah dukun itu. Sebentar lagi impianku akan menjadi nyata. Bersiaplah kamu akan bertekuk lutut padaku," gumam Rosa seraya tersenyum sinis.
Rosa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak sabar menuju rumah Mbak Sastro-dukun yang akan mewujudkan impiannya bersanding dengan pria pujaan hatinya.
"Rumahnya jelek banget. Apa iya dia dukun sakti? Kok aku jadi ragu begini. Ah, aku coba saja. Siapa tau rumah jelek ini hanya digunakan untuk perdukunan sedangkan rumah aslinya pasti di kawasan elit. Gak mungkin dukun sakti yang banyak uang rumahnya jelek, pinggir kota lagi," batin Rosa.
Rosa keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah Mbah Sastro. Belum juga dia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka. Tampak laki-laki berusia enam puluhan menatapnya tajam.
"Sudah puas kamu menghina rumah saya," ujar Satro sinis.
"Ba-bagaimana Mbah bisa tahu isi hatiku?" tanya Rosa gugup.
"Jika kamu masih meragukan kemampuan saya, silakan angkat kaki dari rumah jelek ini," ujar Satro datar dan dingin.
"Maafkan aku, Mbah. Aku percaya kalau Mbah Sastro dukun sakti," sahut Rosa seraya menangkupkan kedua tangannya.
"Masuklah," ketus Mbah Satro sembari berbalik badan meninggalkan Rosa yang masih bengong.
Laki-laki yang memakai pakaian serba hitam itu langsung duduk di altarnya. Dia membakar kemenyan. Rosa yang mencium bau kemenyan itu bergidik ngeri apa lagi melihat dihadapannya terdapat sesajen.
"Duduklah," titah Sasto.
"Terima kasih, Mbah. Begini Mbah, aku ke sini mau minta tolong untuk ...."
"Saya sudah tahu maksud tujuanmu kemari. Sebutkan nama laki-laki itu dan juga nama ayahnya."
"David Aldiano dan nama ayahnya Fajar Sandiano."
Sastro tersenyum lalu kembali membakar kemenyan dan memakan bunga kenanga yang ada di nampan sesajen.
"Jenis pelet apa yang kamu mau?"
"Pelet yang akan membuat David bertekuk lutut padaku, Mbah. Aku ingin menikah dengannya," jawab Rosa antusias.
"Pelet darah haid yang dicampur dengan satu tetes air kencingmu itu sangat ampuh membuat lawan jenis yang kamu inginkan bertekuk lutut padamu."
"Iya, aku mau jenis pelet itu, Mbah." Rona bahagia terpancar di wajah Rosa mendengar ucapan Satro.
"Apa kamu siap dengan syarat yang akan saya ajukan?"
"Aku siap, Mbah," jawab Rosa cepat.
"Kamu harus menyiapkan maharnya ...."
"Aku sudah menyiapkannya."
"Jangan memotong omongan saya," bentak Sastro.
"Maaf, Mbah. Aku hanya ingin memberitahu jika sudah mempersiapkan uangnya, Mbah," ujar Rosa menunduk sedangkan Sastro tersenyum simpul mendengar kata uang.
"Setelah mempersiapkan maharnya, kamu harus puasa tiga hari, memotong kambing. Dagingnya kamu bagikan ke orang lain sedangkan darahnya kamu minum."
"Apa Mbah gak salah menyuruhku minum darah kambing?"
"Tidak. Itu syarat yang harus kamu lakukan. Lagi pula hanya tiga kali tegukan kamu minum darah kambing. Apa kamu tidak sanggup melakukan ritualnya, Rosa."
"Aku sanggup, Mbah," sahut Rosa cepat. Dia tidak ingin menyerah gara-gara darah kambing.
"Bagus. Setelah selesai puasa kamu kemari lagi dan membawa darah kambing itu. Darah itu nanti saya bacakan mantra dengan begitu jin peliharaanku akan masuk ke dalam tubuhmu. Dia yang akan membantumu."
"Jin? Aku takut dengan hantu, Mbah." Rosa bergidik ngeri membayangkan tubuhnya dimasuki makhluk ghaib.
"Iya, keberadaannya di tubuhmu agar orang lain tidak akan menyakitimu."
"Baiklah, setelah aku minum darah itu, apa lagi yang harus kulakukan, Mbah?"
"Kamu harus memberikan minuman yang sudah kamu beri darah haid dan satu tetes air kencingmu dengan merapalkan mantra kepada laki-laki yang kamu inginkan."
"Berarti gak harus darah haid di hari pertama ya, Mbah?"
"Untuk yang pertama tidak karena kamu harus berpuasa terlebih dahulu. Selanjutnya bulan berikutnya harus darah haid di hari pertama. Apa kamu sanggup melakukan semua ritual yang aku sebutkan," ujar Sastro.
"Aku sanggup, Mbah."
Sastro kemudian merapalkan mantra dengan menyebut nama David dan ayahnya. Mantra itu dinamakan 'Ajian Pengikat Sukma'.
"Setelah tiga hari kamu datang kemari dan membawa apa yang saya perintahkan."
"Baik, Mbah," sahut Rosa seraya menyerahkan amplop coklat.
********
Setelah melakukan semua ritual dan menghapal mantra yang diberikan Satro, Rosa ingin langsung mempraktekannya. Dia menelepon David untuk datang ke rumahnya.
"Tolong aku, David," ujar Rosa pura-pura panik dan menangis.
"Kamu kenapa, Ca?" tanya David cemas.
"Kamu datang ke rumahku sekarang ya, Dav."
"Maaf, aku gak bisa. Aku sudah ada janji dengan calon istriku, Sa."
"Aku mohon, Dav. Arghhhhh." Rosa pura-pura berteriak lalu memutuskan sambungan telepon. Dia yakin sahabatnya itu pasti datang ke rumahnya.
Rencana Rosa berjalan lancar, sesuai prediksinya David datang.
"Rosa ... buka pintunya, Ca!" teriak David.
Rosa keluar dengan air mata membasahi pipinya. Dia langsung memeluk tubuh David.
"Kamu kenapa, Oca? Cerita sama aku," ujar David seraya mengusap punggung Rosa.
"Ibuku di kampung lagi sakit, Dav."
"Ibu sakit apa, Ca." Rosa pura-pura menangis. Dia bingung harus menjawab apa.
"Sudah, sudah kamu jangan menangis. Kamu harus berdoa agar ibu lekas sembuh."
"Iya, Dav."
"Aku ambilkan minum biar kamu tenang." David ingin beranjak ke dapur, tapi tangannya dicekal Rosa.
"Biar aku ambil sendiri, Dav. Sekalian aku buatkan kopi untuk kamu."
"Gak usah, Ca. Aku bentar lagi pulang. Kasian calon istriku menungguku."
"Sebantar saja, Dav. Gak sampai 10 menit. Ini yang aku takutkan belum menikah saja kamu sudah tidak ada waktu dengan sahabatmu ini apa lagi jika sudah menikah. Kamu pasti melupakanku," ucap Rosa sedih.
"Baiklah, buatkan aku kopi spesial ya, Ca."
"Oke," sahut Rosa tersenyum sembari berlalu menuju dapur.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya, David," seringai Rosa setelah membuat kopi spesial permintaan David. Secangkir kopi yang sudah dimantrai dengan darah haid dan satu tetes air kencing.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Manda-Mamanya Clara saat melihat anak gadisnya pulang dengan air mata membasahi pipinya.
"Bang David, Ma. Bang David." Clara berhambur memeluk Manda sambil menangis terisak.
"Kenapa David?" tanya Manda sambil mengelus pundak anaknya.
Clara masih menangis, bibirnya kelu ingin menceritakan kejadian yang membuat hatinya hancur. Manda dengan sabar memberikan ruang waktu untuk anaknya bercerita. Clara mengurai pelukannnya.
"Bang David membatalkan pernikahan kami, Ma." Kembali tangis Clara pecah saat mengingat ucapan David.
"Kenapa David membatalkan pernikahan kalian?"
"David ingin menikah dengan sahabatnya, Ma." Tangis Clara semakin menjadi mengingat calon suaminya akan menikah dengan perempuan lain.
"Siapa, Nak?"
"Sahabat David ternyata sahabatku juga, Ma."
"Rosa?"
"Iya, Ma. Kata Rosa mereka sudah melakukan hubungan int*m," ujar Clara terisak.
"Astaghfirullah! Mama seperti tidak mengenal mereka. David yang mama tahu anaknya shaleh." Clara semakin sesegukkan mendengar ucapan mamanya.
"Sudahlah kak buat apa menangisi orang yang mata hatinya sudah ketutup kemaksiatan," sela Abil-adik Clara yang usianya terpaut cukup jauh, 14 tahun seraya tangannya masih sibuk dengan alat tulisnya.
"Maksudmu apa bilang begitu, bocah tengil," sungut Clara sambil menyeka air matanya.
"Masa begitu saja Kak Clara tidak mengerti," ujar bocah 10tahun itu yang masih fokus dengan alat tulisnya.
Clara geram dengan ucapan adiknya itu. Dia menarik paksa pensil dan buku gambar adiknya. Netra Clara membulat melihat apa yang digambar adiknya.
"Kenapa kamu suka sekali gambar makhluk tak kasat mata, Bil?"
"Suka saja," sahut Abil sembari mengambil alat tulisnya.
"Mama sudah berulang kali bilangi kamu, jangan menggambar mereka. Bagaimana jika mereka tidak suka?"
"Mereka suka, Ma. Kecuali yang baru datang bersama Kak Clara. Dia tidak suka Abil lukis."
Clara syok mendengar ucapan adiknya. Dia langsung memeluk mamanya.
"Jangan ngawur kamu, Nak! Kasian Kakakmu. Dia jadi takut begitu," ujar Manda menasehati Abil.
"Abil serius, Ma. Makanya Kak Clara itu jangan sedih terus, jangan emosi. Mereka sangat suka bila di hati ada rasa amarah dan benci. Salatlah, Kak," ujar Abil kembali tangannya sibuk menggambar.
"Apa yang dikatakan adikmu benar, Ra. Seharusnya kamu mengikhlaskan jika David lebih memilih sahabatmu. Itu berarti Allah sudah menunjukkan jika David bukan calon imam yang baik untukmu," nasehat Manda.
"Mama gak mengerti perasaanku. Aku malu, hatiku sakit karena pengkhianatan mereka, Ma," ujar Clara kembali menangis.
Manda paham sekali perasaan putrinya, tapi dia bersyukur Allah lebih awal menunjukkan siapa sebenarnya David.
"Mama tahu, bagaimana sakitnya dikhianati karena mama pernah ada diposisi kamu. Namun, rasa syukur lebih dominan daripada rasa sakit di hati."
"Kok bersyukur sih, Ma," sungut Clara.
"Bersyukur karena tidak jadi menikah dengan orang yang tidak setia, orang yang tidak bisa menjaga harga dirinya."
"Bagaimana dengan undangan itu, Ma? Kita sekeluarga pasti malu karena pernikahan tinggal dua minggu lagi."
"Kita batalkan saja. Kenapa harus malu? Justru mama akan malu jika David selingkuh dengan sahabatmu di saat kalian sudah menikah. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang."
"Dengerin tuh, omongan Mama, Kak. Move on, Kak. Move on. Mau Abil carikan pengganti Kak David?"
"Sok dewasa banget sih, bocah tengil." Clara mendekati adiknya dan menjitak kepala Abil. Abil tidak merasakan apapun tetapi justru tangan Clara yang sakit.
"Argh," teriak Clara seraya mengusap tangannya.
"Rasain! Itu akibatnya jika Kakak mau menzalimiku jadi, temanku tidak suka," ujar Abil terkekeh melihat kakaknya kesakitan.
"Dasar aneh! Halu kamu, Bil. Mana ada manusia berteman dengan hantu," cibir Clara.
"Iya, Bil. Kamu jangan aneh-aneh. Serem tau." Manda bergidik ngeri.
"Kok aneh sih, Ma. Abil hanya bilang yang sebenarnya."
"Sudahlah, Ma. Jangan dengerin si bocah tengil! Kerjaannya kan begitu, suka ngehalu."
"Kakak tahu alasan kenapa tiba-tiba Kak David mau sama Kak Rosa?" Pertanyaan Abil membuat Clara sadar kenapa tiba-tiba calon suaminya bisa cinta bahkan melakukan zina.
"Gak tau," ucap Clara ketus.
"Mau tau gak, Kak?" Abil bertanya sambil menatap tajam kakaknya.
"Apa?"
"Pelet."
"Hahahahaha. Benar-benar ngehalu dah si bocah tengil. Dengar ya, Adikku sayang! Sekarang itu sudah zaman modern jadi, mana pelet yang ada itu melet. Nih kayak gini," ejek Clara seraya menjulurkan lidahnya.
"Terserah deh dibilangi gak percaya malah mengejek." Abil kembali sibuk menggambar, tangannya lincah mencoret-coret di buku gambarnya.
"Emang gak percaya," sahut Clara lalu kembali tertawa.
"Gak apa-apa Kak Clara tidak percaya yang penting sekarang Kakak sudah tertawa," ujar Abil tersenyum.
"Untung ada kamu, Bil. Mama jadi sekarang lega gak lihat Kakakmu menangis terus."
"Abil gitu loh," sahut Abil menepuk dadanya.
"Banyak gaya lu, dasar bocah tengil," ucap Clara mengcak rambut adiknya.
"Ih, Kakak. Abil sudah bilang jangan mengacak rambutku. Jadi gak ganteng lagi, kan," ucap Abil cemberut.
"Kamu itu gak ada rambut saja pasti ganteng. Jadi, jangan khawatir."
"Akhirnya selesai juga," ujar Abil tersenyum puas saat melihat hasil gambarnya.
"Emang apa yang kamu gambar kok sampai bahagia begitu?" tanya Clara penasaran.
"Jin yang mengikuti Kakak tadi. Jelas dong bahagia karena sudah berhasil abil gambar," jawab Abil seraya menunjukkan hasil gambarnya yang membuat Manda dan Clara syok.
********
Manda dan Clara syok saat melihat hasil lukisan Abil. Clara seakan tak percaya jika makhluk ghaib itu mengikutinya.
"Kuntilanak," lirih Clara.
"Iya, Kak. Kuntilanak ini yang mengikuti Kakak."
"Sekarang dia di mana?"
"Kenapa tanya? Tadi Kakak gak percaya ucapan abil," ujar Abil cemberut.
"Ya tanya saja. Apa kuntilanak itu masih di sini, Bil?"
"Gak. Dia sudah pergi, diusir oleh temannya abil."
Clara mendekati adiknya, menyandarkan tubuh di sofa.
"Sejak kapan kamu bisa melihat mereka, Bil?" tanya Clara seraya memejamkan matanya.
Abil yang duduk di samping kakaknya, langsung baring dan kepalanya di paha Clara.
"Kenapa Kakak bertanya begitu? Bukankah Kak Clara tidak percaya mereka?"
"Aku percaya jika mereka itu ada bahkan kita hidup berdampingan dengannya. Bangsa jin itu mempunyai kehidupan seperti manusia hanya caranya saja yang berbeda. Aku gak percaya jika kamu bisa melihat mereka. Selama ini kupikir dirimu cuma ngehalu, Bil."
"Abil juga tidak tahu kapan persisnya bisa melihat mereka bahkan berteman dengannya."
"Temannya Abil seperti apa? Apa kuntilanak, pocong, genderuwo atau tuyul? Oh, mungkin tuyul karena kamu kecil," ujar Clara nyengir.
"Bukan Kak. Teman abil itu seorang kakek dengan dua orang cucunya. Cucunya seumuran abil namanya Cakra dan Cokro. Mereka kembar, tapi beda sifat."
"Siapa tadi yang memukul tanganku, Bil?"
"Si Cakra."
"Kalian ini pada ngomongin apa sih? Kenapa kamu jadi ikutan halu, Clara?"
"Gak apa-apa, Ma. Aku rasa Abil gak ngehalu."
"Terserah kalian saja yang penting kalian jangan jadi musyrik."
"Kak."
"Hemm."
"Apa Kakak terima tawaran abil tadi?"
"Tawaran apa, Bil?" tanya balik Clara sembari memejamkan matanya.
"Mau tidak abil carikan pengganti Kak David?"
"Emangnya siapa yang mau kamu jodohkan denganku, Bil? Si kakek atau salah satu cucunya teman-temanmu itu."
"Jangan ngaco omonganmu, Kak! Abil serius."
"Aku juga serius, Bil."
"Ustadz Alif."
"Hahahahahaha." Clara tertawa saat adiknya menyebut Ustadz Alif-guru ngaji Abil.
"Kenapa Kakak tertawa? Memang ada yang lucu?" Abil menyipit menatap netra kakaknya.
"Jelaslah aku tertawa, abisnya kamu ngaco. Masa aku mau dijodohkan dengan bapak-bapak."
"Memang kamu sudah pernah melihat guru ngajinya Abil, Ra?" tanya Manda.
"Belum, Ma. Tapi yang namanya guru ngaji apalagi seorang ustadz pasti sudah bapak-bapak," sahut Clara.
"Kata siapa begitu?"
"Kataku dong, Ma."
"Kamu salah, Ra. Ustadz Alif itu masih muda dan wajahnya sangat tampan bahkan ketampanannya mengalahkan david."
"Masa sih, Ma."
"Iya, Sayang."
"Jika Kakak tidak percaya, mau abil menyuruh Ustadz Alif ke sini sekarang biar langsung lamaran," goda Alif.
"Apaan sih, Bil."
"Cieeeeee, muka Kak Clara merah. Pasti mau tuh dilamar oleh ustadz ganteng," celoteh Abil membuat Manda tertawa sementara Clara cemberut.
"Ada apa ini sepertinya bahagia sekali sampai papa memberi salam tidak ada yang mendengar?" tanya Wijaya yang baru pulang kerja.
"Kak Clara mau ta'aruf dengan Ustadz Alif, Pa," jawab Abil.
"Ta'aruf dengan Ustadz Alif? Kamu bercanda ya, Bil. Kak Clara kan mau menikah dengan David," ujar Wijaya melirik Clara. Wajah Clara kembali sendu.
"Pernikahannya batal, Pa," lirih Clara dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa bisa batal, Nak?" Wijaya terkejut, dadanya terasa sesak. Dia melonggarkan dasinya.
"David mau menikah dengan perempuan lain, Pa." Jatuh juga air mata yang sejak tadi dia tahan. Wijaya membawa putri kesayangannya dalam pelukan.
"Kenapa bisa begitu,Ra? Kalian akan menikah dua minggu lagi." Wijaya bingung kenapa tiba-tiba pernikahan itu dibatalkan.
"David dan perempuan itu sudah tidur bersama, Pa," sahut Clara terisak.
"Astaghfirullah! Kamu yang sabar dan ikhlas ya, Nak," ujar Wijaya seraya mengusap punggung anaknya.
Wijaya mengurai pelukannya dan menghapus air mata putrinya. Hatinya hancur melihat putri kesayangannya menangis dan menderita.
"Dengarkan papa, laki-laki seperti David tidak pantas untuk ditangisi. Air matamu terlalu berharga untuk laki-laki murahan yang gak ada harga dirinya itu."
"Benar yang dikatakan Papa, Ra. Kamu jangan menangis lagi," ucap Manda.
"Kurang ajar kamu, David! Seenaknya membatalkan pernikahan putriku dan menyakiti hatinya. Jika kamu membatalkan pernikahan itu maka aku juga akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan papamu biar perusahaan itu bangkrut," batin Wijaya.
"Papa lagi mikirin apa?" tanya Manda khawatir. Dia sangat tahu watak keras suaminya.
"Papa berencana membatalkan kerjasama dengan perusahaan papanya David."
"Aku setuju dengan rencana Papa," sela Clara.
"Tidak boleh begitu, Pa. Masalah pribadi jangan disangkut pautkan dengan bisnis," nasehat Manda.
"Oh, tidak bisa begitu, Ma. Papa tidak akan diam saja ada orang yang menyakiti hati putriku. Perbuatan David itu sama saja melempar kotoran di muka kita. Keluarga David sudah membuat kita malu dengan membatalkan pernikahan. Oleh karena itu, papa ingin memberi pelajaran pada mereka. Jangan bermain-main dengan seorang Wijaya," seringai Wijaya.
"Kasian mereka jika perusahaannya hancur, Pa."
"Apa mereka kasian dengan perasaan Clara? Ingat, Ma, mereka tidak ada perasaan saat membatalkan pernikahan itu. Apa lagi David, apa dia merasa bersalah sudah mengkhianati anak kita dengan tidur dengan yang bukan mahramnya. Perbuatan mereka itu sangat menjijikkan," sungut Wijaya.
"Apa yang dikatakan Papa benar, Ma? Biarkan saja Papa membatalkan kerja sama itu, biar mereka tau rasa dan tidak seenak jidatnya melakukan apapun sesuka hatinya," cibir Clara.
Manda menghela napas panjang. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jika keputusan sudah diambil Wijaya siapapun tidak bisa merubahnya. Sikap keras kepala Wijaya menurun pada Clara.
Wijaya membuktikan ucapannya untuk membatalkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Candra-papanya David.
"Kenapa kamu membatalkan kerja sama kita, Wijaya? tanya Candra saat baru datang ke perusahaan Wijaya."
"Aku membatalkannya karena anakmu sudah menyakiti putriku."
"Memangnya apa yang dilakukan David terhadap Clara?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Candra! David sudah membatalkan pernikahannya dengan Clara. Jadi, wajar jika aku membatalkan kerjasama kita."
"Apa! Kamu bercanda, Wijaya. David tidak mengatakan apa pun. Aku mohon, Wijaya. Nasib perusahaanku berada di tanganmu," melas Candra.
"Apa aku terlihat bercanda? David ingin menikah dengan perempuan lain, bahkan putramu yang biada* itu sudah melakukan hubungan terlarang."
"Jangan fitnah kamu, Wijaya! Anakku tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Jadi, aku mohon jangan membatalkan kerjasama itu, Wijaya."
"Aku tidak akan menarik kata-kataku. Kerjasama kita batal. Silakan kamu angkat kaki dari perusahaanku! Kamu tau pintu keluarnya, bukan?"
"Kamu akan membayar mahal atas sikapmu ini, Wijaya."
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, Candra. Bagiku perasaan anakku lebih berharga dari apa pun. Selagi aku masih bernapas tidak akan kubiarkan siapa pun menyakiti keluargaku. Cam kan itu, Candra," ujar Wijaya menatap tajam Candra.
Dengan menghentakkan kaki dan perasaan amarah, Candra keluar dari ruangan Wijaya. Candra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Dia ingin segera sampai untuk menemui David.
"David!" teriak Candra ketika kakinya baru menginjakkan di depan pintu.
"Ada apa, Pa? Kenapa berteriak begitu?" tanya Siska-istri Candra.
"Mana David, Ma? Mana anak kurang ajar itu?"
"David ada di kamarnya, Pa. Memangnya ada apa Papa mencarinya?"
"David sudah membatalkan pernikahannya dengan Clara, Ma."
"Itu tidak mungkin, Pa. Pernikahan David dan Clara tinggal dua minggu lagi. Jadi, mana mungkin David membatalkan pernikahannnya. Apa lagi dia sangat mencintai Clara."
"Mama tanya saja dengan anak kesayanganmu itu. David sudah mencoreng mukaku dengan perbuatannya dan gara-gara dia membatalkan pernikahan itu, Wijaya membatalkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan kita."
"Astaga! Jadi ini serius, Pa."
"Mama pikir papa bercanda," sungut Candra kesal.
"Apa alasan David membatalkan pernikahannya, Pa?"
"David ingin menikah dengan perempuan lain bahkan mereka sudah melakukan hubungan terlarang."
"Ya Tuhan, apa mama tidak salah dengar? David tidak mungkin melakukan zina, Pa."
"Kita tanya saja dengan David, Ma."
Candra dan Siska beranjak ke kamar David. Mereka lalu mengetuk pintu.
"David buka pintunya," teriak Candra begitu emosi.
Bugh!
Bugh!
Candra langsung memukul wajah putranya saat David membukakan pintu kamarnya.
"Anak kurang ajar! Bikin malu keluarga kamu, David," bentak Candra.
"Jangan pukul David, Pa!" melas Siska.
"Diam kamu, Ma! Papa sedang mengajarkan dia jadi orang yang berguna."
"Kesalahanku apa, Pa? Kenapa Papa memukulku?"
"Dasar bajing*n! Kamu masih tanya kesalahanmu apa. Ya Tuhan, anak macam apa yang berdiri di depanku ini. Aku sudah gagal mendidiknya, mengajarkannya akhlak," ujar Candra kecewa.
"Apa benar kamu membatalkan pernikahanmu dengan Clara, Nak?" tanya Siska.
"Iya, Ma. Aku tidak mencintainya, Ma. Aku ingin menikah dan menghabiskan sisa umurku bersama orang yang kucintai."
"Siapa perempuan itu, Nak?"
"Rosa, Ma," lirih David sendu. Entah kenapa hatinya sakit saat menyebut nama Rosa.
Siska menggeleng seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Setau Siska putranya sangat mencintai Clara sedangkan Rosa hanya dianggap sebatas teman.
"Apa kamu yakin ingin menikah dengan Rosa, Nak?"
"I-iya, Ma," sahut David gugup. Lagi-lagi hatinya merasa sakit. Seperti tidak ada kerelaan untuk menikah dengan Rosa.
"Mama sudah mendengar jawaban dari anak kesayanganmu. Dia lebih memilih Rosa dan berzina dengan perempuan yang selalu membuka auratnya dibandingkan dengan Clara yang menutup auratnya," sela Candra geram.
"Aku tidak mencintai Clara, Pa. Jadi, jangan memaksaku untuk menikah dengannya," sungut David.
"Tidak ada yang memaksamu, David. Clara itu pilihan hatimu sendiri. Gara-gara tindakanmu yang bodoh itu Wijaya membatalkan kerjasama dengan perusahaanku dan akibatnya perusahaan diambang kehancuran."
David dan Siska terkejut dengan ucapan Candra. Jika perusahaan bangkrut itu artinya hidup mereka akan jatuh miskin. David menyugar rambutnya kasar, dalam hatinya ada sebuah penyesalan. Namun, dia seakan sulit untuk mengatakan ingin menikah dengan Clara.
"Tolong kamu batalkan pernikahanmu dengan Rosa, Nak. Apa kamu tidak kasian dengan orang tuamu?" pinta Siska.
David ingin sekali mengatakan iya, tapi lidahnya seakan kelu. Air mata David tiba-tiba mengalir membasahi pipi. Dia tidak mengerti kenapa menangis. Tanpa menjawab pertanyaan mamanya, David masuk ke kamar menyambar kunci mobil lalu berlari meninggalkan Candra dan Siska.
"Mau kemana kamu, David?" teriak Candra.
David tidak memperdulikan teriakan papanya bahkan tangisan mamanya. Dia terus berlari menuju mobilnya. David mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tau harus kemana. Sepanjang jalan air matanya menganak sungai.
David berhenti di sebuah perkampungan pinggir kota. Dia menepikan mobilnya dan menangis terisak. David seolah kehilangan arah. Dia merasa bingung dengan kejadian yang sedang dialaminya. Suara adzan magrib berkumandang, hati David bergetar saat seruan untuk menghadap Sang Pencipta dari toa mushala mengetuk hatinya. Dengan tangan gemetar David membuka pintu mobilnya menuju mushala tersebut.
Semakin dekat dengan suara adzan itu membuat David merasa tubuhnya panas dan telinganya sakit. Namun, di dalam hatinya ingin menunaikan kewajibannya untuk salat. David berdiri di depan mushala, langkah kakinya seakan lunglai untuk masuk ke dalam mushala itu.
"Kenapa tidak masuk, Mas?" tanya seorang kakek.
David pun menceritakan apa yang dirasakannya. Dia seakan tidak sungkan untuk memberitahukan isi hatinya pada kakek itu.
"Jangan dituruti, itu bisikan setan agar kamu tidak salat. Baca ta'awudz dan basmalah saat kakimu akan melangkah ke rumah Allah," ujar kakek.
"Iya, Kek. Siapa nama Kakek?"
"Darmo." Mereka lalu berkenalan.
David dan Darmo berjalan menuju tempat wudhu. Saat ingin berwudhu David merasakan rasa malas.
"Baca ta'awudz dan Surat An-Nas," ujar Darmo. David mengangguk.
David mengambil wudhu, walaupun dia merasa tubuhnya terasa panas saat air wudhu menyentuh kulitnya tetap diteruskannya. David salat walau tidak khusyuk. Dia selalu lupa bacaan dan jumlah rakaat hingga David mengulang salatnya.
Setelah salat David menemui Darmo.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, Kek?"
"Aneh bagaimana, David?"
"Saat aku berwudhu dan salat tubuhku terasa terbakar dan salatku pun tidak khusyuk," jelas David.
"Kamu sudah terkena gangguan jin, David."
"Maksudnya, Kek?"
"Kamu sudah bersekutu dengan jin."
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Kek."
"Bohong." Darmo menatap tajam David.
"Aku sudah berzina, tapi saat melakukannya aku tidak menyadarinya," lirih David menunduk.
"Astaghfirullah! Bertaubatlah, David. Jauhi perempuan itu. Dia hanya membawa dampak buruk dalam hidupmu. Perempuan itu sudah bersekutu dengan jin."
"Kakek jangan memfitnahnya! Rosa itu perempuan baik-baik. Dia calon istriku." David tidak terima dengan ucapan Darmo.
"Saya tidak memfitnahnya," sahut Darmo tenang.
"Kakek belum pernah bertemu dengan Rosa, tapi kenapa omongan Kakek seolah sudah mengenalnya. Aku tidak percaya jika Rosa bersekutu dengan jin," sungut David lalu beranjak meninggalkan Darmo.
"Sebelum kamu tergelincir lebih jauh, menghindarlah darinya atau kamu akan menyesal seumur hidupmu, David," ucap Darmo lantang, tapi tidak digubris oleh David.
"Astaghfirullah!" lirih Darmo saat melihat sosok kuntilanak mengikuti langkah David seraya menyeringai ke arah Darmo.
"Aku harus menolong David sebelum jin bersemayam dalam tubuhnya," batin Darmo.