Lampu meja kerja masih menyala, satu-satunya sumber cahaya di ruang tengah yang mulai terasa sunyi. Kalila menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang mulai terasa keras di tulang belikatnya. Matanya perih, efek menatap layar laptop selama hampir dua belas jam hari ini. Namun, di balik rasa lelah yang menghimpit, ada senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Di samping laptopnya, tergeletak sebuah map biru berisi surat keputusan resmi: Kalila kini menjabat sebagai Senior Manager Pemasaran.
Kenaikan jabatan ini bukan cuma soal gengsi. Ini soal angka di rekening yang bakal bertambah, soal bonus yang lumayan besar, dan yang paling penting, soal pengakuan atas semua lembur dan keringatnya selama ini. Kalila membayangkan wajah Arkan saat mendengar kabar ini. Ia membayangkan pelukan hangat suaminya, mungkin sebuah makan malam romantis sederhana, atau sekadar ucapan, "Aku bangga banget sama kamu, Sayang."
Kalila melirik jam dinding. Sudah pukul delapan malam. Arkan belum pulang, padahal katanya hari ini kantornya tidak ada lembur. Kalila memutuskan untuk tidak mengirim pesan lagi. Ia ingin memberikan kejutan. Ia beranjak ke dapur, menuangkan air putih, lalu mulai memikirkan restoran mana yang ingin ia datangi besok untuk merayakan pencapaian ini. Mungkin tempat steak yang dulu pernah mereka datangi saat baru jadian.
Suara kunci pintu berputar memecah lamunan Kalila. Arkan masuk dengan wajah yang tampak kusam, kemejanya sudah keluar dari ikat pinggang, dan tas kerjanya disampirkan asal-asalan di bahu.
"Baru pulang, Mas?" sapa Kalila, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap ceria.
Arkan hanya bergumam tidak jelas, melepas sepatunya tanpa menoleh. "Iya, macet parah. Mana laper banget lagi. Ada makanan nggak?"
Kalila agak kecewa dengan sambutan dingin itu, tapi ia berusaha maklum. Mungkin Arkan sedang banyak masalah di kantor. "Ada tadi aku pesen ayam bakar, aku panasin dulu ya. Eh, Mas, aku ada kabar bagus."
Arkan duduk di sofa, langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai asyik membalas pesan. "Kabar apa?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Kalila mendekat, membawa map biru tadi dan meletakkannya di atas meja kopi tepat di depan Arkan. "Coba liat deh."
Arkan melirik map itu sebentar, lalu membukanya dengan malas. Matanya menyisir baris-baris tulisan di sana. "Senior Manager? Wah, naik jabatan lagi kamu, Kal? Hebat ya."
"Iya, Mas. Akhirnya perjuanganku nggak sia-sia. Gaji pokoknya naik tiga puluh persen, terus ada tunjangan posisi juga. Besok kita makan enak yuk? Aku yang traktir," ujar Kalila dengan semangat.
Arkan meletakkan map itu kembali ke meja. Alih-alih senyum lebar atau pelukan yang Kalila harapkan, Arkan justru menghela napas panjang-tipe helaan napas yang biasanya menjadi pembuka sebuah permintaan.
"Wah, pas banget kalau gitu, Kal," kata Arkan. Suaranya tiba-tiba berubah, tidak lagi datar, tapi lebih... manis. Ada nada persuasif yang sangat familiar di telinga Kalila.
Kalila mengernyit. "Pas banget gimana?"
"Itu... Ibu tadi sore telepon aku. Dia nangis-nangis," Arkan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Kalila. "Katanya dia malu banget pas acara arisan tadi siang. Semua temennya pamer tas baru, cuma Ibu yang masih pake tas lama yang udah ngelupas kulitnya. Terus Dimas juga butuh uang buat bayar kegiatan kampus yang katanya wajib. Aku bingung mau bantu pake apa, gaji aku bulan ini udah mepet banget buat bayar cicilan motor sama iuran lingkungan."
Senyum di wajah Kalila perlahan luntur. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah euforia-nya. "Mas, aku baru aja ngasih tau soal kenaikan jabatanku. Kamu bahkan belum nanya gimana perasaanku atau seberapa capek aku bulan ini. Kok langsung bahas tas Ibu sama uang kuliah Dimas?"
Arkan langsung memasang wajah defensif. "Lho, kok kamu ngomongnya gitu? Ya aku kan bangga sama kamu, tapi ya realistis aja, Kal. Sekarang kamu punya uang lebih, apa salahnya kita bantu keluarga? Ibu itu orang tua aku juga, orang tua kamu sekarang. Dimas itu adek aku. Masa kita tega liat mereka kesusahan sementara kita malah foya-foya makan enak?"
"Bukan mau foya-foya, Mas. Aku cuma pengen ngerayain hasil kerja kerasku sendiri. Dan soal Dimas, bukannya bulan lalu aku udah kasih uang lebih buat biaya bukunya? Masa sekarang ada tagihan lagi?"
"Ya namanya juga anak kuliahan, Kal. Banyak pengeluaran nggak terduga. Kamu kan dulu juga kuliah, harusnya paham lah," Arkan mulai menggunakan nada bicara yang membuat Kalila merasa bersalah. "Terus soal Ibu, tas yang dia mau itu nggak seberapa kok dibanding kenaikan gaji kamu. Mereknya itu lho, yang lagi tren di kalangan ibu-ibu arisannya. Biar Ibu nggak minder lagi."
Kalila terdiam. Ia menatap Arkan yang kini menatapnya penuh harap. Di kepala Kalila, ia mulai menghitung. Kenaikan gajinya memang lumayan, tapi ia punya rencana untuk mulai menabung lebih banyak untuk uang muka rumah yang lebih besar, atau mungkin asuransi kesehatan tambahan. Sejak mereka menikah dua tahun lalu, hampir 70% kebutuhan rumah tangga dan cicilan ditanggung oleh gaji Kalila. Gaji Arkan entah lari ke mana, seringkali habis untuk membantu ibunya, membayar hutang-hutang kecil Dimas, atau sekadar hobi otomotif Arkan yang tidak murah.
"Berapa harga tasnya, Mas?" tanya Kalila lirih.
Arkan menyebutkan sebuah angka yang membuat jantung Kalila mencos. Angka itu hampir setara dengan setengah dari bonus kenaikan jabatannya.
"Mas, itu mahal banget cuma buat sebuah tas!" seru Kalila.
"Yah, namanya juga barang bermerek, Kal. Tahan lama. Itung-itung investasi buat Ibu biar dia seneng. Ibu kan udah tua, kapan lagi kita bisa bahagiain dia kalau nggak sekarang? Kamu kan menantu kesayangan Ibu, masa tega?"
Kalimat 'menantu kesayangan' itu terasa hambar di telinga Kalila. Ia tahu betul, ia disebut kesayangan hanya saat dompetnya terbuka lebar. Saat ia mulai mempertanyakan pengeluaran, Ibu mertuanya akan mulai menyindir soal 'istri yang terlalu dominan' atau 'perempuan yang lupa kodrat kalau sudah punya jabatan tinggi'.
"Aku harus pikir-pikir dulu, Mas. Aku capek banget malam ini," kata Kalila sambil berdiri, meninggalkan Arkan dan map biru yang kini terasa tidak ada harganya lagi.
"Jangan lama-lama mikirnya ya, Sayang. Besok Ibu mau berangkat arisan lagi soalnya. Dia udah terlanjur janji sama temennya mau pamer tas baru," seru Arkan dari ruang tengah.
Kalila menutup pintu kamar dengan pelan. Ia tidak langsung tidur. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajahnya tampak kusam, kantong matanya menghitam. Ia sukses di kantor, ia dipuja oleh atasan dan disegani oleh bawahan, tapi di rumah ini, ia merasa seperti mesin ATM yang hanya perlu dirawat agar terus bisa mengeluarkan uang.
Teman-temannya, terutama Maya, sudah berkali-kali mengingatkannya. 'Kal, lu itu istri, bukan tulang punggung seluruh silsilah keluarga Arkan. Berhenti manjain mereka sebelum lu abis nggak bersisa,' kata Maya suatu sore saat mereka minum kopi. Waktu itu Kalila membela diri, mengatakan bahwa itu adalah bentuk pengabdian. Tapi malam ini, kata-kata Maya terngiang seperti peringatan darurat.
Keesokan paginya, Kalila terbangun dengan kepala yang berat. Di meja makan, Arkan sudah duduk manis dengan secangkir kopi yang ia buat sendiri-sebuah pemandangan langka. Biasanya Kalila yang menyiapkan segalanya sebelum berangkat.
"Pagi, Sayang. Gimana? Udah dipikirin soal yang semalem?" tanya Arkan dengan senyum paling manis yang ia punya.
Kalila menghela napas, mengambil roti tawar. "Mas, aku bakal kasih buat uang kuliah Dimas. Tapi buat tas Ibu, aku cuma bisa kasih setengahnya. Sisanya tolong Mas yang usahain, atau Ibu cari model lain yang lebih murah."
Wajah Arkan langsung berubah. Manisnya hilang berganti masam. "Setengah? Kal, itu sama aja bohong. Ibu mana mau pake barang setengah-setengah gitu. Masa kamu tega sih? Kamu kan baru naik jabatan, uang segitu mah kecil buat kamu sekarang."
"Ini bukan soal kecil atau besar, Mas. Ini soal prinsip. Aku juga butuh nabung buat masa depan kita. Kita masih ngontrak, Mas. Kita belum punya rumah sendiri. Apa kamu nggak kepikiran ke sana?"
"Rumah kan bisa nanti, Kal. Kesempatan bahagiain Ibu nggak dateng dua kali. Kamu kok jadi perhitungan banget sih semenjak naik jabatan? Apa bener kata orang, kalau perempuan uangnya lebih banyak dari suami, dia jadi sombong dan pelit sama keluarga?"
Deg. Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati Kalila. Sombong? Pelit? Selama dua tahun ini, siapa yang membayar cicilan motor Arkan? Siapa yang membayar tagihan listrik rumah mertua setiap bulan? Siapa yang membelikan Dimas laptop baru saat laptop lamanya rusak?
"Aku nggak sombong, Mas. Aku cuma capek," suara Kalila bergetar.
"Ya udah, kalau kamu emang nggak mau bantu, nggak papa. Biar aku cari pinjaman ke tempat lain aja. Biar aku yang malu sama Ibu karena punya istri sukses tapi nggak mau bantu keluarga sendiri," Arkan berdiri, menyambar tasnya, dan pergi begitu saja tanpa pamit, meninggalkan Kalila yang terpaku di meja makan.
Air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya luruh juga. Rasa bangga atas kenaikan jabatannya kini berubah menjadi beban yang menyesakkan. Kalila menyadari satu hal yang menyakitkan pagi itu: kenaikan jabatannya bukanlah kabar bahagia bagi keluarganya, melainkan kabar bahwa "limit penarikan" mereka baru saja ditingkatkan.
Sesampainya di kantor, Kalila tidak bisa fokus. Selamat dan jabat tangan dari rekan-rekan kerjanya terasa hampa. Di kepalanya hanya ada bayangan tagihan, permintaan uang, dan wajah Arkan yang kecewa. Ia mulai bertanya-tanya, sampai kapan ia harus bertahan dalam pola seperti ini? Apakah benar ini yang namanya pernikahan, di mana kebahagiaan satu pihak harus dibangun di atas pemerasan pihak lain?
Ponselnya bergetar di atas meja. Pesan WhatsApp masuk. Dari Ibu mertuanya.
"Kalila, selamat ya atas jabatan barunya. Ibu bangga banget punya menantu kayak kamu. Arkan bilang kamu mau kasih hadiah tas buat Ibu ya? Tadi Ibu udah liat di toko, warnanya bagus-bagus. Ibu tunggu ya kirimannya, biar nanti pas arisan Ibu bisa bilang ini hadiah dari menantu Ibu yang hebat itu. Makasih ya, Sayang."
Kalila meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Belum juga ia mengiyakan, Arkan sudah lebih dulu "menjual" namanya demi janji palsu itu. Kalila merasa terjebak. Ia merasa dikepung dari segala arah. Ia ingin berontak, tapi rasa tidak enak dan doktrin "istri sholehah" yang selama ini ditanamkan padanya masih terlalu kuat.
Ia menghela napas panjang, menatap tumpukan berkas di mejanya yang menuntut perhatian penuh. Dunia menuntutnya menjadi profesional yang tangguh, sementara di rumah, ia dituntut menjadi sumber dana yang tak boleh mengeluh. Hari pertama jabatannya sebagai Senior Manager dimulai bukan dengan perayaan, melainkan dengan awal dari rasa lelah yang jauh lebih dalam dari sekadar kurang tidur. Ia belum tahu, bahwa benih pemberontakan itu sudah mulai tumbuh, hanya menunggu satu tetes air lagi untuk meledak.
Suasana kantor yang dingin karena hembusan AC sentral ternyata nggak cukup buat mendinginkan kepala Kalila. Padahal hari ini jadwalnya padat banget, ada rapat koordinasi antar divisi buat proyek kuartal depan, tapi fokusnya buyar setiap kali ponsel di atas mejanya bergetar. Dia tahu itu bukan dari klien atau bosnya. Getaran itu punya ritme yang dia hafal: rentetan pesan dari grup keluarga Arkan atau pesan pribadi dari ibu mertuanya.
Kalila mencoba mengabaikan notifikasi yang muncul di layar. Dia memaksakan diri membaca laporan performa timnya, tapi kata-kata di layar itu seolah menari-nari tanpa makna. Pikirannya melayang kembali ke percakapan di meja makan tadi pagi. Rasa sesak di dadanya belum juga hilang. Padahal, harusnya dia lagi bahagia-bahagianya menikmati jabatan baru. Tapi kenapa malah rasanya kayak baru aja dapet hukuman tambahan?
Sekitar jam sebelas siang, ponselnya berdering. Kali ini bukan pesan, tapi telepon langsung dari Ibu mertuanya, Bu Lastri. Kalila menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Assalamualaikum, Bu?" sapanya berusaha seramah mungkin.
"Waalaikumsalam, Kal. Duh, sibuk banget ya menantu Ibu yang sukses ini? Ibu ganggu nggak?" Suara di seberang sana terdengar sangat manis, tipe suara yang biasanya jadi pembuka untuk sebuah permintaan besar.
"Lagi di kantor sih, Bu. Ada apa ya?"
"Gini, Kal... Ibu tuh bener-bener nggak enak sebenernya mau ngomong, tapi Ibu bingung mau ke siapa lagi. Tadi malem kan Arkan ke sini, Ibu udah bilang sama dia, eh dia malah bilang katanya dia lagi nggak ada pegangan. Terus Ibu pikir, ya siapa lagi yang bisa Ibu andalin kalau bukan kamu?"
Kalila sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. "Ada apa emangnya, Bu?"
"AC di kamar Ibu mati, Kal! Mana cuaca lagi panas-panasnya begini. Ibu semaleman nggak bisa tidur, sesek napas rasanya. Kamar Ibu kan nggak ada jendela yang gede, jadi pengap banget. Ibu udah panggil tukang servis tadi pagi, katanya mesinnya udah jebol, udah nggak bisa dibetulin lagi. Harus ganti baru."
Kalila terdiam sejenak. "Oh, AC kamar Ibu rusak? Kalau mau dibelikan yang biasa dulu gimana, Bu? Yang setengah PK aja cukup kan buat kamar segitu?"
Suara Bu Lastri tiba-tiba berubah, nadanya agak meninggi dan terdengar tersinggung. "Aduh Kal, kalau yang murah-murah mah cepet rusak lagi. Ibu tadi udah liat-liat di katalog toko elektronik deket sini. Ada itu lho, yang mereknya terkenal, yang ada pembersih udaranya, yang Inverter biar listriknya irit katanya. Harganya emang lumayan, tapi kan awet. Ibu nggak mau ya kalau cuma dipasangin AC yang berisik sama nggak dingin."
Kalila melirik saldo rekening di layar komputernya-ia baru saja membuka mobile banking untuk mengecek dana darurat. "Tapi harganya pasti jauh beda ya, Bu, kalau yang tipe itu? Kalila baru aja ada pengeluaran buat uang kuliah Dimas yang kemarin Mas Arkan bilang."
"Lho, uang kuliah Dimas kan emang kewajiban, Kal. Masamu mau biarin adek ipar kamu putus sekolah? Terus sekarang masa kamu tega biarin mertua kamu mati kepanasan? Arkan bilang gaji kamu baru naik banyak kan? Masa buat kenyamanan Ibu sendiri kamu perhitungan banget? Ibu ini udah tua, Kal, cuma pengen tidur nyenyak aja kok susah banget..."
Kalimat itu selalu menjadi senjata pamungkas. Membawa-bawa umur, kenyamanan orang tua, dan membandingkannya dengan gaji Kalila. Kalila merasa sudut matanya mulai panas. Bukan karena sedih, tapi karena marah yang tertahan.
"Iya, Bu. Nanti Kalila liat ya," jawabnya pendek, ingin segera mengakhiri percakapan.
"Jangan nanti-nanti, Kal. Kalau bisa sore ini udah dipesenin biar besok dipasang. Ibu bener-bener nggak kuat kalau harus tidur di ruang tamu lagi, badan Ibu sakit semua. Ya udah ya, Ibu tunggu kabarnya. Kirim aja uangnya ke rekening Ibu atau kamu mau pesenin lewat online?"
"Nanti Kalila kabarin lagi, Bu. Assalamualaikum."
Kalila meletakkan ponselnya dengan agak kasar. Dadanya naik turun. Rasanya dia ingin berteriak di tengah kantor yang tenang itu. Belum lewat dua puluh empat jam sejak dia dapet promosi, tapi "daftar belanja" dari keluarga Arkan sudah lebih panjang dari daftar tugas kantornya.
Sore harinya, perjalanan pulang terasa jauh lebih melelahkan. Macet Jakarta seperti ikut mengejeknya. Di dalam mobil, Kalila hanya melamun, membiarkan radio memutar lagu-lagu yang bahkan nggak dia dengerin. Pikirannya cuma satu: Arkan.
Kenapa Arkan seolah memberikan "lampu hijau" ke keluarganya untuk terus-terusan memalaknya? Kenapa suaminya itu nggak pernah pasang badan?
Sampai di rumah, Kalila mendapati Arkan sudah santai di depan TV sambil ngemil. Nggak ada tanda-tanda dia merasa bersalah soal pembicaraan mereka tadi pagi.
"Udah pulang, Sayang?" sapa Arkan tanpa dosa. "Gimana kantor? Capek?"
Kalila melempar tasnya ke sofa. "Ibu telepon aku tadi."
Arkan menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Oh, soal AC ya? Tadi dia juga chat aku, katanya udah ngomong sama kamu. Syukurlah kalau kamu udah tau."
"Syukurlah gimana, Mas? Kamu tau nggak AC yang diminta Ibu itu harganya berapa? Hampir delapan juta kalau sama pasang! Itu AC teknologi terbaru yang bahkan di kamar kita aja kita nggak pake yang semahal itu."
Arkan berdecak, meletakkan toples camilannya. "Ya ampun Kal, mulai lagi deh. Kamu tuh kenapa sih jadi sensi banget soal uang? Ibu kan butuh. Dia itu punya asma, kalau udaranya nggak bersih sama gerah, asmanya kambuh. Kamu mau tanggung jawab kalau Ibu masuk rumah sakit?"
"Mas, bukan gitu masalahnya! Masalahnya adalah, kenapa semuanya harus aku? Uang kuliah Dimas aku, AC Ibu aku, cicilan motor kamu aku, belanja bulanan aku. Terus gaji kamu buat apa, Mas? Buat apa?!" Suara Kalila meninggi. Dia sudah tidak tahan lagi.
Arkan berdiri, wajahnya mulai terlihat emosi. "Kan udah aku bilang berkali-kali, gaji aku tuh kecil, Kal! Habis buat bantu-bantu cicilan di rumah Ibu, buat bayar utang koperasi yang dulu aku ambil buat biaya nikah kita. Kamu pikir aku seneng apa nggak punya uang? Aku ini suami kamu, tapi kamu kayak nggak ada harga dirinya sama sekali kalau ngomongin soal duit."
"Harga diri?" Kalila tertawa getir. "Mas, harga diri itu dibangun dengan tanggung jawab, bukan dengan numpang hidup sama istri terus malah nuntut macem-macem buat keluarga kamu. Aku kerja berangkat pagi pulang malem sampe tipes, cuma buat jadi mesin ATM kalian?"
"Jaga mulut kamu ya, Kalila! Kamu udah keterlaluan. Cuma gara-gara naik jabatan sedikit aja sombongnya udah selangit. Kamu pikir aku nggak usaha? Aku juga kerja! Tapi rezeki aku emang belum sebanyak kamu. Harusnya kamu bersyukur bisa bantu keluarga, itu jadi ladang pahala buat kamu."
"Pahala atau diperes, Mas? Bedanya tipis!"
Arkan membanting bantal sofa. "Ya udah! Kalau kamu nggak mau beliin, nggak usah! Biar aku yang cari pinjaman. Biar aku makin numpuk utang demi Ibu aku sendiri. Biar kamu puas liat aku susah!"
Arkan langsung masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Kalila terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah juga. Dia merasa sangat sendirian di rumah yang dia bayar sendiri cicilannya setiap bulan.
Dia teringat kata-kata sahabatnya, Maya. 'Kal, orang kalau dimanja pake duit terus, lama-lama mereka nggak akan liat lu sebagai manusia, tapi cuma sebagai angka.' Sekarang Kalila merasakan kebenaran ucapan itu. Di mata Arkan dan ibunya, Kalila bukan lagi seorang istri atau menantu yang perlu disayangi dan dilindungi perasaannya, melainkan sebuah solusi instan untuk setiap keinginan mereka.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan masuk dari grup keluarga. Isinya foto-foto Dimas yang lagi nongkrong di kafe mahal sama temen-temennya, pake sepatu baru yang Kalila curigai dibeli pake uang "buku kuliah" yang dia kasih kemarin. Di bawah foto itu, Bu Lastri berkomentar: "Duh, gantengnya anak bungsu Ibu. Untung ada kakak ipar baik ya, jadi bisa gaya dikit."
Kalila merasa mual. Dia merasa seperti orang bodoh yang paling bodoh sedunia. Dia bekerja keras sampai mengabaikan kesehatan, mengabaikan hobi, bahkan jarang membelikan sesuatu untuk orang tuanya sendiri karena takut uangnya nggak cukup untuk "kebutuhan" keluarga Arkan. Sementara itu, orang-orang yang dia biayai malah bersenang-senang di atas keringatnya.
Malam itu, Kalila tidak bisa tidur. Dia menatap langit-langit kamar yang gelap. Arkan tidur memunggunginya, masih dalam mode marah karena keinginannya belum dituruti. Di tengah kesunyian itu, sebuah pikiran mulai muncul di kepala Kalila. Sebuah pikiran yang sebelumnya tidak pernah berani dia bayangkan.
Sampai kapan aku mau begini?
Dia menghitung dalam hati. Dua tahun. Dua tahun dia sudah bersabar. Dua tahun dia sudah mengalah. Dan setiap kali dia mengalah, tuntutan mereka bukannya berkurang, malah makin melunjak. Kalau hari ini dia membelikan AC itu, besok apalagi? Kulkas baru? Renovasi dapur? Atau mungkin mobil baru untuk Dimas?
Kalila mengambil ponselnya, membuka aplikasi belanja online, dan menatap keranjang belanjanya yang berisi barang-barang yang sudah lama dia inginkan tapi selalu dia tunda demi keluarga Arkan. Ada sepatu lari baru, ada skincare yang sudah habis, ada buku-buku yang ingin dia baca. Dia melihat total harganya. Jauh lebih murah dibanding AC yang diminta mertuanya.
Tapi, bukannya check-out belanjaannya sendiri, jari Kalila malah bergerak mencari AC yang diminta Bu Lastri. Kebiasaan untuk "mengalah demi kedamaian" ternyata masih terlalu kuat mencengkeramnya. Dia merasa kalau dia nggak beliin sekarang, drama ini nggak akan selesai. Arkan bakal terus mendiamkannya, dan mertuanya bakal terus menyindirnya.
Dengan tangan gemetar dan hati yang berat, Kalila menyelesaikan transaksi itu. Delapan juta rupiah terbang begitu saja dari rekeningnya.
Dia meletakkan ponselnya, lalu membalikkan badan membelakangi Arkan. Air matanya mengalir lagi, membasahi bantal. Bukan karena dia kehilangan uangnya, tapi karena dia merasa baru saja mengkhianati dirinya sendiri lagi. Dia merasa baru saja mengonfirmasi kepada keluarga Arkan bahwa dia memang "mesin ATM" yang bisa ditekan kapan saja.
Di dalam kegelapan kamar itu, Kalila berbisik pelan, hampir tak terdengar. "Ini yang terakhir, Mas. Ini bener-bener yang terakhir."
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu, selama dia tidak punya keberanian untuk berkata 'tidak', kata 'terakhir' itu hanyalah sebuah kebohongan yang dia ciptakan untuk menghibur dirinya yang sedang hancur. Kalila memejamkan mata, mencoba tidur, meski dia tahu besok pagi dia akan bangun dengan beban yang sama, di rumah yang mulai terasa seperti penjara baginya.
Besok pagi, dia harus bangun, memakai baju rapi, memasang topeng "Senior Manager" yang sukses, dan kembali bekerja keras. Bukan untuk masa depannya, tapi untuk memastikan AC di kamar mertuanya tetap dingin, sementara hatinya sendiri perlahan membeku.
Hari Sabtu seharusnya jadi waktu di mana Kalila bisa membalas dendam pada jam tidurnya yang hilang selama seminggu. Dia ingin bangun siang, pesan kopi lewat aplikasi, lalu luluran sambil nonton serial favorit di kamar yang sejuk. Apalagi setelah kejadian AC delapan juta kemarin, dia merasa benar-benar butuh waktu untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Tapi, baru jam tujuh pagi, gedoran pintu kamar sudah membuyarkan mimpinya.
"Kal! Kalila! Bangun, Sayang. Itu Ibu sama rombongan tante-tante dari kampung udah di depan," suara Arkan terdengar antusias dari balik pintu.
Kalila mengerang, menarik selimut sampai menutupi kepala. "Mas, ini jam tujuh. Sabtu. Kamu bilang mereka datengnya minggu depan?"
Pintu terbuka. Arkan masuk dengan wajah ceria, sudah rapi pakai kaos polo baru-yang juga dibelikan Kalila bulan lalu. "Ya namanya juga orang tua, pengen cepet-cepet liat rumah menantunya yang baru naik jabatan. Ayo dong, bangun. Nggak enak kalau mertua nunggu di ruang tamu sementara kamu masih gegulungan di kasur."
Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, Kalila duduk di pinggir kasur. Kepalanya berdenyut. "Mereka sarapan apa? Biar aku pesenin bubur ayam atau nasi uduk yang lewat depan deh."
Arkan langsung menggeleng cepat. "Eh, jangan. Ibu tadi pesen, katanya kangen masakan kamu. Dia bilang, 'Masakan Kalila kan paling enak, masa kita ke sini cuma dikasih makanan plastik'. Jadi, Ibu udah bawain bahan-bahannya dikit dari pasar, sisanya kamu belanja lagi ya ke pasar depan."
Kalila menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Mas, aku ini baru tidur jam dua pagi karena nyelesain laporan. Aku capek banget. Kenapa nggak pesan katering aja? Aku yang bayar, nggak papa. Yang penting aku nggak perlu masak buat sepuluh orang."
"Duh, Kal, kamu ini gimana sih? Masak buat keluarga itu ibadah. Lagian, tante-tante aku tuh pengen liat kamu pantes nggak jadi Senior Manager di rumah juga. Masa di kantor hebat, di dapur payah? Udah sana, cuci muka, terus ke pasar. Ibu udah nungguin di dapur tuh, mau 'nemenin' katanya."
'Nemenin' dalam kamus Bu Lastri artinya adalah duduk di meja makan, memetik satu dua helai bayam, sambil memberikan instruksi ini-itu tanpa benar-benar membantu. Kalila tahu persis polanya.
Dengan langkah gontai, Kalila keluar kamar. Di ruang tamu, sudah ada Bu Lastri dan dua saudaranya, Tante Rosa dan Tante Netty. Mereka sedang sibuk memeriksa gorden rumah Kalila.
"Eh, Kalila. Baru bangun? Jam segini kalau di kampung mah udah selesai nyuci daster," celetuk Tante Rosa sambil tersenyum miring.
"Iya, Tante. Semalem lembur kerja," jawab Kalila singkat, mencoba tetap sopan walau hatinya dongkol setengah mati.
"Ya namanya juga bos, pasti sibuk. Tapi kalau di rumah ya tetep istri, ya kan?" timpal Bu Lastri. "Itu Kal, Ibu udah beli daging rendang dua kilo. Dimas juga ikut, dia pengen banget rendang buatan kamu. Katanya rendang kamu beda. Tuh, Dimas lagi main game di depan."
Kalila melirik ke arah teras. Dimas, si adik ipar yang kuliahnya dia biayai, sedang asyik teriak-teriak main game online di ponselnya, kaki diangkat ke atas kursi, tanpa ada niat menyapa atau sekadar membantu membawakan belanjaan ibunya tadi.
"Kalila ke pasar dulu ya, Bu," pamit Kalila.
"Eh, Mas Arkan mana? Suruh anterin dong, kasian kamu bawa belanjaan banyak," kata Tante Netty.
"Arkan lagi mau nyuci motor, Tante. Katanya motornya kotor banget mau dipake nanti sore buat nganter Ibu jalan-jalan," sahut Arkan dari arah belakang.
Akhirnya, Kalila berangkat sendiri. Di pasar yang becek dan penuh sesak, dia membawa kantong belanjaan yang makin lama makin berat. Bahunya perih, kakinya pegal. Sambil menawar harga cabai yang makin mahal, dia bertanya-tanya: Kenapa aku di sini? Kenapa aku yang harus melakukan ini semua?
Sesampainya di rumah, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Dapur yang tadinya bersih kini berantakan. Kalila harus mulai memotong daging, menghaluskan bumbu, mengupas bawang yang jumlahnya sekilo sendiri. Asap dari tumisan bumbu mulai memenuhi ruangan. Matanya perih, peluh mulai membasahi dahi dan punggungnya.
Sementara itu, di ruang tengah yang hanya dibatasi sekat tipis, suara tawa dan obrolan terdengar riuh. Arkan, Bu Lastri, dan tante-tante itu sedang asyik ngobrol sambil ngemil kerupuk yang juga baru saja Kalila beli.
"Wah, hebat ya Arkan, bisa dapet istri kayak Kalila. Udah pinter cari uang, pinter masak lagi," suara Tante Rosa terdengar.
"Ya itu kan juga karena Arkan pinter bimbingnya, Mbak," sahut Bu Lastri bangga. "Dulu kan Kalila nggak kayak gini. Sekarang mah apa-apa nurut sama suami. Emang harus gitu, biar rejeki suami lancar."
Kalila yang sedang mengulek bumbu tambahan nyaris membanting ulekannya. Nurut? Bimbing? Yang ada dia merasa seperti robot yang sudah diprogram untuk memenuhi segala keinginan mereka tanpa boleh mengeluh.
"Mbak Kal, rendangnya jangan pedes-pedes ya! Aku lagi sariawan nih!" teriak Dimas dari ruang tamu tanpa beranjak sedikit pun.
Kalila tidak menyahut. Tangannya terus bergerak, tapi pikirannya sudah pergi jauh. Dia merasa sangat terasing di rumahnya sendiri. Dia yang membayar kontrakan ini, dia yang membeli kompor ini, dia yang membeli semua bahan makanan ini, tapi dia malah diperlakukan seperti pelayan oleh orang-orang yang numpang makan di sana.
Jam satu siang, makanan baru siap. Kalila sudah hampir pingsan karena kelelahan dan lapar. Dia menata makanan di meja makan dengan rapi.
"Ayo, ayo, makan semua!" seru Arkan dengan semangat, seolah dia yang sudah berjuang di dapur sejak pagi.
Mereka semua menyerbu meja makan. Rendang, sayur lodeh, ayam goreng, sambal-semuanya ludes dalam sekejap. Mereka makan dengan lahap sambil terus mengobrol, hampir tidak menyisakan ruang bagi Kalila untuk duduk.
"Kok rendangnya agak kurang garem ya, Kal?" kritik Bu Lastri setelah suapan ketiga. "Dagingnya juga kurang empuk dikit. Kayaknya tadi kurang lama kamu masaknya."
Kalila menarik napas panjang. "Tadi Ibu bilang jangan kelamaan biar nggak hancur dagingnya."
"Ya jangan kelamaan, tapi jangan terlalu cepet juga. Harus pas. Namanya juga masak buat orang tua, harus sabar," lanjut Bu Lastri tanpa merasa bersalah.
Kalila hanya bisa diam. Dia mengambil nasi sedikit, tapi seleranya sudah hilang. Dia melihat Arkan yang sedang asyik nambah rendang untuk ketiga kalinya. Suaminya itu sama sekali nggak sadar kalau istrinya bahkan belum makan dengan tenang.
Setelah makan selesai, pemandangan yang paling menyakitkan bagi Kalila terjadi. Mereka semua beranjak dari meja makan kembali ke sofa untuk nonton TV, meninggalkan tumpukan piring kotor, sisa tulang ayam, dan remah-remah nasi di atas meja.
"Aduh, kenyang banget. Enak ya kalau punya menantu pinter masak begini, tiap minggu bisa makan enak," kata Tante Netty sambil mengelus perutnya.
Kalila menatap tumpukan piring itu dengan tatapan kosong.
"Mas, tolong bantuin beresin piring ya? Aku mau istirahat bentar, kepalaku pusing banget," bisik Kalila pada Arkan saat suaminya itu lewat mau ambil minum.
Arkan mengerutkan kening, wajahnya terlihat risih. "Duh, Kal, masa aku yang nyuci piring? Malu dong diliat Tante sama Ibu. Cowok kok di dapur. Udah, kamu aja pelan-pelan. Kan bisa sambil santai."
"Tapi aku capek banget, Mas! Dari pagi aku belum duduk!" suara Kalila mulai bergetar.
"Sstt! Jangan kenceng-kenceng, nanti Ibu denger dikira kita berantem. Udah sih, tinggal cuci piring aja kok repot. Kamu kan biasa kerja berat di kantor, masa nyuci piring aja ngeluh. Udah ya, aku mau nemenin Dimas main PS dulu."
Arkan pergi begitu saja.
Kalila berdiri sendirian di dapur. Suara tawa dari ruang TV terasa seperti ejekan yang menusuk telinganya. Dia mulai mencuci piring satu per satu. Air keran mengalir deras, menyamarkan suara isak tangisnya yang akhirnya pecah.
Dia merasa sangat bodoh. Kenapa dia membiarkan dirinya diinjak-injak seperti ini? Dia seorang Senior Manager, dia punya kuasa atas ratusan orang di kantor, dia punya gaji besar, tapi di sini... di sini dia bahkan lebih rendah dari seorang pembantu. Karena pembantu setidaknya dibayar dan punya jam kerja. Dia? Dia yang membayar untuk disiksa.
Ponselnya di saku celana bergetar. Pesan dari Maya masuk.
"Kal, gimana Sabtu lu? Jadi luluran? Atau lagi jadi Chef Dadakan buat keluarga Arkan lagi?"
Kalila menatap pesan itu dengan tangan yang penuh busa sabun. Dia ingin membalas, ingin curhat, tapi dia terlalu malu. Malu karena dia tahu dia nggak mengikuti nasihat Maya. Dia lebih memilih jadi "istri penurut" yang malah berakhir jadi keset.
"Mbak Kal! Es jeruknya dong satu! Haus nih abis makan rendang!" teriak Dimas lagi.
Kalila mematikan keran air dengan kasar. Dia mengambil gelas, mengisinya dengan air putih biasa-tanpa es, tanpa jeruk-lalu membawanya ke depan.
"Ini," katanya sambil meletakkan gelas itu di depan Dimas dengan dentuman yang agak keras.
"Lho, kok air putih doang? Es jeruknya mana?" tanya Dimas heran.
"Kalau mau es jeruk, beli sendiri atau bikin sendiri. Tangan aku cuma dua, dan aku bukan pelayan kamu," jawab Kalila dengan nada dingin yang belum pernah dia gunakan sebelumnya.
Suasana ruang tamu tiba-tiba hening. Bu Lastri menoleh dengan wajah kaget. Arkan langsung berdiri, wajahnya merah padam.
"Kalila! Apa-apaan kamu ngomong gitu sama adek aku?" bentak Arkan.
"Aku cuma ngomong kenyataan, Mas. Aku capek. Kalau kalian mau makan enak, mau minum enak, tolong hargain orang yang nyiapinnya. Jangan cuma tau pesen ini-itu tapi pantat nggak mau geser dari kursi," kata Kalila, suaranya gemetar tapi tegas.
"Astaga, Kalila... Kamu kok jadi kasar gini?" Bu Lastri mulai berakting, matanya berkaca-kaca. "Ibu cuma mau kumpul keluarga, kok malah jadi berantem gini. Apa Ibu salah kalau minta kamu masak?"
"Nggak salah, Bu. Yang salah adalah saat Ibu nganggep tenaga saya itu gratisan dan nggak berharga. Saya manusia, bukan mesin!"
Kalila langsung berbalik, masuk ke kamar, dan mengunci pintunya rapat-rapat. Dia bisa mendengar Arkan menggedor pintu, memanggil namanya dengan penuh emosi, dan suara Bu Lastri yang mulai menghasut Arkan kalau istrinya itu sudah mulai "berubah" sejak punya jabatan.
Di dalam kamar yang gelap, Kalila meringkuk di lantai. Dadanya sesak. Tapi, di balik rasa sesak itu, ada sedikit rasa lega. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia berani bersuara. Meskipun dia tahu, setelah ini badai besar akan datang. Arkan pasti tidak akan tinggal diam, dan mertuanya akan menyebarkan berita buruk tentangnya ke seluruh keluarga besar.
Tapi Kalila tidak peduli lagi. Rasa lelah fisiknya mungkin bisa hilang dengan tidur, tapi rasa lelah di hatinya sudah sampai pada titik di mana dia tidak bisa lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia menatap map biru di atas meja riasnya-map kenaikan jabatannya. Dia sadar, kalau dia bisa memimpin sebuah divisi besar, dia seharusnya juga bisa memimpin hidupnya sendiri.
Dia tidak mau lagi jadi mesin ATM yang juga merangkap jadi pelayan. Cukup sudah.