Elara mengunci pintu kamarnya dengan suara pelan, seakan takut dunia di luar sana mendengar langkahnya. Suasana rumah ini seakan memeluknya dalam cengkraman yang semakin erat. Ruangan itu terasa sempit, meskipun sebenarnya cukup luas. Setiap sudutnya dipenuhi dengan bayangan masa lalu-bayangan yang tak bisa ia buang, tak bisa ia lupakan. Bayangan ibunya, yang dulu selalu mengajarkan untuk hidup bebas, untuk tidak terikat pada apapun yang bisa menghalangi kebahagiaan. Tapi sekarang, semua itu terasa jauh.
Ia berjalan menuju jendela, memandang keluar, menatap langit senja yang berwarna merah keemasan. Seharusnya ia merasa tenang, tapi tidak. Perasaan itu, perasaan terperangkap, terus menghantui. Ketika ibunya bunuh diri, dunia Elara berubah dalam sekejap. Dan sekarang, ia terjebak di dalam rumah besar ini, rumah yang dibangun dengan ambisi, dengan kekuasaan yang tidak dapat ia mengerti sepenuhnya.
Tapi ada satu hal yang jelas. Thorne. Pria itu, yang selama ini mencoba untuk tampil seperti ayah, ternyata lebih mirip seorang penjara. Seorang tiran yang melihatnya bukan sebagai seorang anak, tetapi sebagai seseorang yang bisa dikendalikan. Sering kali, Elara merasa seperti boneka yang terikat tali, bergerak hanya sesuai dengan kehendaknya. Thorne selalu punya cara untuk membuatnya merasa kecil, tak berdaya, terjatuh dalam jurang kebingungannya sendiri.
Namun ada satu hal yang lebih menakutkan lagi-Thorne sepertinya tidak hanya ingin mengendalikannya. Ada sesuatu yang lebih gelap di balik perhatian yang diberikannya. Sesuatu yang membuat Elara merasa tidak nyaman, yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana mungkin seorang pria yang sudah menghancurkan segalanya untuk ibunya, bisa mendekatinya begitu saja dengan cara yang hampir penuh kasih?
Sebuah ketukan pelan di pintu membangunkan Elara dari lamunannya. Ia menoleh, jantungnya berdebar kencang. Dalam sekejap, Thorne sudah berada di sana, berdiri di ambang pintu, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya mata yang tajam, penuh makna.
"Ada apa?" tanya Elara, suaranya terdengar lebih dingin dari yang ia niatkan.
Thorne mengangkat alisnya sedikit, seakan terkejut dengan sikapnya. "Makan malam hampir siap," katanya tanpa mengubah nada suaranya. "Kamu tidak mau terlambat lagi, kan?"
"Jangan perintah aku," jawab Elara dengan nada tajam. "Aku tidak anak kecil lagi, Thorne."
Thorne hanya diam, seolah kata-kata Elara tak pernah ada. Matanya tetap menatapnya dalam, penuh dengan ketenangan yang begitu mengganggu. Ia melangkah lebih dekat, begitu dekat hingga Elara bisa merasakan hembusan napasnya. Bau cologne yang kuat mengelilinginya, menambah ketegangan yang semakin menyelimuti ruangan itu.
"Elara," Thorne akhirnya bersuara, suaranya kali ini lebih dalam, lebih menekan. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jangan buat semuanya lebih sulit daripada yang seharusnya."
Elara menahan napas. Kata-kata itu. Kata-kata yang selalu sama. Yang terbaik untuknya. Apa yang terbaik untuknya dalam hidup yang penuh dengan kontrol ini? Apa yang terbaik untuknya dalam hidup yang dipenuhi dengan ancaman dan manipulasi? Ia ingin berteriak, tapi malah hanya bisa menatapnya dengan mata penuh kebencian.
"Tapi itu tidak ada hubungannya dengan aku," ujar Elara pelan, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh kekuatan. "Kamu tidak tahu apa yang terbaik untukku. Dan aku tidak butuh kamu untuk menunjukkan jalan."
Thorne hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak menyembunyikan apapun selain ketegangan yang semakin mencengkeram. Ia mundur selangkah, memberikan ruang antara mereka.
"Apapun yang terjadi, Elara," katanya, "ingat satu hal. Kamu tidak pernah bisa melarikan diri dariku. Aku akan selalu ada, mengawasi."
Elara merasakan darahnya mendidih. Kata-kata itu, ucapan yang penuh ancaman, bukan lagi hanya tentang kontrol-itu adalah permainan. Permainan di mana ia hanya sekadar pion.
Thorne menoleh dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Elara yang masih berdiri di sana, terjebak dalam perasaan yang sulit ia artikan. Semua yang terjadi-setiap tindakan, setiap kata-semakin membuatnya ragu. Dia tidak tahu apa yang lebih buruk: terjebak dalam permainan ini atau mencoba melawan dan kehilangan semuanya.
Namun satu hal yang jelas, tak ada jalan keluar yang mudah. Thorne akan selalu ada, mengintai, menunggu kesempatan untuk menariknya lebih dalam ke dalam dunia yang tidak pernah ia pilih.
Elara tahu ini baru permulaan. Dan dia tidak akan tinggal diam.
Malam itu, Elara duduk di meja makan, matanya berkelana di atas hidangan yang tersaji di hadapannya. Suasana di meja makan terasa kaku, setiap orang terdiam, hanya suara peralatan makan yang terdengar memecah keheningan. Thorne duduk di ujung meja, pandangannya selalu mengarah padanya, meski seolah ia tidak peduli. Sejak pertemuan mereka tadi di kamar, Elara bisa merasakan ketegangan yang semakin nyata di antara mereka.
Pemandangan itu-semua yang ada di sekelilingnya-terasa begitu asing. Paman dan bibinya yang duduk di seberang meja tidak berbicara, mereka seakan tahu apa yang terjadi, tapi memilih untuk diam. Elara tahu mereka bukanlah orang yang bisa ia percayai sepenuhnya. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri, tak peduli apa yang terjadi padanya. Di dunia ini, dia hanya punya satu orang yang benar-benar mengendalikan takdirnya: Thorne.
"Elara, makanlah," kata Thorne dengan nada lembut namun penuh perintah. Itu bukan permintaan, itu adalah instruksi yang tak bisa ia tolak. "Kamu tidak ingin mengecewakan kami, kan?"
Elara menatap Thorne dengan tajam. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti duri yang menusuk langsung ke hatinya. Ada sesuatu yang salah dengan semua ini. Ia bisa merasakan pengaruh Thorne yang begitu kuat, menggerogoti segalanya dalam hidupnya. Perasaan seperti ini membuatnya ingin berontak, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Setiap pergerakan, setiap keputusan, terasa seperti perang besar yang harus ia hadapi sendirian.
"Kenapa kamu melakukannya?" Elara akhirnya membuang pertanyaan yang telah terpendam begitu lama. "Kenapa semuanya harus seperti ini? Kenapa aku harus tinggal di sini, di bawah kontrolmu?"
Thorne mengangkat alis, seolah terkejut dengan keberanian Elara. Untuk sesaat, suasana di meja makan seakan terhenti. Paman dan bibinya menundukkan kepala, tidak berani mengangkat pandangan mereka. Elara bisa merasakan atmosfer yang mencekam, tetapi ia tidak peduli. Sudah cukup ia hidup dalam ketakutan.
"Melakukan apa?" Thorne berkata, suaranya terdengar tenang, hampir menenangkan, namun Elara tahu itu hanyalah kebohongan yang ia coba tutupi. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Elara. Kamu tahu itu."
"Tidak ada yang terbaik dari semua ini, Thorne," Elara membalas dengan tajam. "Aku tidak butuh perlindungan dari orang yang membunuh ibuku."
Kata-kata itu langsung mengiris udara, meninggalkan keheningan yang lebih dalam di antara mereka. Paman dan bibinya saling berpandangan, jelas sekali mereka tidak ingin terlibat dalam percakapan ini. Mereka tahu betul siapa yang memegang kendali di rumah ini, dan siapa yang bisa membuat hidup mereka sengsara.
Thorne tetap diam sejenak, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Namun matanya, mata yang penuh rahasia itu, menatap Elara dengan kedalaman yang mengerikan. Ada kekuatan yang tersembunyi dalam pandangannya, sebuah ancaman yang tidak perlu diucapkan.
"Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan," Thorne akhirnya berkata pelan, namun suaranya mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. "Terkadang, apa yang kita anggap salah adalah yang terbaik bagi kita."
Elara merasa tubuhnya bergetar mendengar kata-kata itu. Betapa mudahnya Thorne berbicara seolah dia yang paling tahu segalanya. Segalanya tentang hidupnya, tentang ibunya. Segalanya yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan pria itu.
"Yang terbaik?" Elara tertawa, namun suara tawanya terdengar pahit, seperti air mata yang tertahan. "Kamu tidak pernah tahu apa yang terbaik, Thorne. Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri. Kamu membunuh ibuku, dan sekarang kamu mencoba mengendalikan hidupku. Tidak ada yang terbaik dari semua itu."
Thorne menatapnya, sekali lagi dengan pandangan yang tidak bisa ia terjemahkan. Ada keheningan yang menekan di antara mereka, dan Elara tahu dia baru saja membuat sebuah langkah berbahaya.
"Jangan menguji aku, Elara," Thorne berkata, nadanya lebih dalam sekarang, hampir seperti peringatan. "Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan."
Namun Elara tidak mundur. Dia tahu terlalu banyak. Dia tahu bahwa Thorne berusaha memainkannya, membuatnya merasa takut, merasa tidak berdaya. Tapi dia tidak bisa membiarkan itu terus berlanjut. Dia tidak bisa membiarkan pria itu merusak apa yang tersisa dalam dirinya.
"Aku tidak takut padamu, Thorne," Elara membalas dengan penuh keyakinan, meskipun hatinya berdegup kencang. "Kamu bisa mencoba mengendalikan semuanya, tapi aku tidak akan pernah menjadi bagian dari permainanmu."
Perkataan itu menggantung di udara, dan Elara bisa melihat kekesalan di wajah Thorne. Namun ia hanya tersenyum tipis, seakan itu semua hanyalah bagian dari rencananya. "Kita lihat saja nanti, Elara. Kamu mungkin berpikir bisa melawan, tapi dunia ini tidak sehitam putih yang kamu pikirkan."
Dengan itu, Thorne bangkit dari meja, meninggalkan Elara dengan perasaan campur aduk. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa dia terperangkap. Tapi itu tidak akan membuatnya menyerah. Tidak sekarang. Tidak pernah.
Thorne mungkin berpikir dia bisa mengendalikan segalanya, tetapi Elara tahu-dia tidak akan tinggal diam selamanya.