Dengan mata membara, Ranti menatap nyalang pada beberapa lembar foto yang ada di tangannya.
Ada sepuluh lembar foto wanita yang telah diberi nomor dan nama.
Sebenarnya foto-foto itu telah ada di tangannya sejak Yuda-suaminya-masih ada di sisinya. Ranti mendapatkannya dengan menyewa seseorang dan menyelidiki suaminya yang mulai berubah kasar saat putri mereka berusia satu tahun.
Selain itu, ada Intan sahabatnya yang menjadi istri dari Bos suaminya.
"Foto-foto siapa, Kak?"
Tiba-tiba, Narendra, adiknya telah berdiri di belakangnya.
"Oh! Ini ... ini foto ...,"
Belum sempat Ranti menyelesaikan ucapannya, Narendra telah merebutnya dari tangan Ranti.
"Hmmm! Ini pasti foto-foto perempuan penggoda Mas Yuda, kan! Dan ini_?" Narendra memperhatikan dengan seksama.
"Ya! Khusus nomer dua itu, foto sekretaris kantornya. Intan sengaja menyisipkannya karena berselingkuh dengan Gunawan," terang Ranti.
Narendra menggeleng,"Maksudku, nomer sepuluh ini!" Mata pemuda tanggung itu lekat menatap dengan pandangan tajam ke arah foto seorang wanita paruh baya.
"Itu ... itu foto istri baru ayah," jawab Ranti tersendat.
Narendra tersenyum sinis, matanya berkilat penuh dendam.
"Aku membenci wanita-wanita yang merusak kebahagiaan rumah tangga kita. Apalagi, karena kehadiran mereka Mas Yuda dan Ayah jadi berlaku kasar," gumam Ranti.
"Apa yang akan Kakak lakukan dengan foto-foto itu?" tanyanya sejurus kemudian, berusaha menelan salivanya yang terasa pahit.
"Belum terpikirkan, tapi aku pasti akan membuat perhitungan pada perempuan-perempuan s*alan itu!" Ucapan Ranti terdengar dalam dan penuh dendam.
Narendra menunduk dalam diam, rahangnya mengeras. Dia mengepalkan tangannya, menahan perasaan. Matanya terfokus pada foto-foto di tangannya.
"Kak, nomer sembilan, itu_," Narendra menatap tajam sosok wanita cantik dalam foto tersebut. Di bawah foto tersemat nama Nadia.
"Ya, itu istri baru Mas Yuda," jawab Ranti dalam.
"Kita lihat! Apa yang bisa Kakakmu ini lakukan pada mereka!" Ranti mengambil kembali foto-foto itu dari tangan Adiknya dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Tak ada yang tahu, enam bulan setelah itu mulai terjadi kehebohan di kota kecil itu.
Bab 1. Korban Pertama
"Maasss ... mau lagi!" desah Siska manja sambil mengecup pipi Arga, kekasih gelapnya. Kepalanya berbantal lengan kokoh Arga, sementara tangan kanannya terus bergerilya dengan gerakan lembut di dada dan perut lelaki yang bukan suaminya itu.
Arga mendesis nikmat setiap kali merasakan sentuhan tangan wanita cantik dan seksi yang kini tergeletak tanpa busana di sampingnya.
"Sebentar lagi, Sayang! Aku lagi ngumpulin tenaga dulu, ya," ucapnya sambil membelai rambut Siska,"teruskan sentuhanmu biar lebih cepat!" bisiknya lagi, mengecup kening wanita yang mulai menggeliatkan tubuhnya dengan gerakan erotis.
Drrrttt ... Drrtttt!!
Terdengar suara getaran handphone milik Arga yang dia letakkan di atas meja rias milik Siska, perempuan yang telah setahun belakangan menjadi selingkuhannya.
Arga dan Siska tidak memperdulikan suara itu, mereka kembali asik dengan sentuhan panas mereka.
Tak tahan, Siska akhirnya naik ke atas tubuh Arga yang mulai bereaksi oleh sentuhannya. Arga tertawa kecil menikmati kelakuan wanita itu. Inilah yang membuat Arga begitu tergila-gila pada Siska hingga rela mengeluarkan banyak uang untuk wanita simpanannya ini. Untung saja, dia menjadi Manajer keuangan di Perusahaan tempatnya bekerja sehingga tak sulit bagi Arga untuk mendapatkan uang.
Derrrtttttt ... Derrrtttttt!!!
Kembali terdengar suara getaran Hp miliknya.
"Aahhhh, pasti Si nenek lampir yang cerewet itu!" gumam Arga kesal, tangannya masih terus membelai punggung Siska yang berada di atasnya hingga akhirnya dia membalikkan posisi. Siska terkikik geli mendengar julukan yang disebutkan Arga untuk Rasti, istrinya.
Mereka kembali meneruskan pagutan dan sentuhan panas hingga tubuhnya berkeringat meskipun di ruangan ber-AC.
Kriiinnggg!!
"Aaahhh, Sial! Apa, sih, maunya nenek lampir ini?!" Dengan kesal Arga menghentikan aksinya yang hampir mencapai klimaks, meloncat dan meraih gawainya dengan kasar.
Bukan untuk menerima panggilan, melainkan me-Nonaktifkan handphonenya.
"Maassss ... sini ... tanggung!" Tangan Siska menggapai dan meraih tangan Arga, menariknya kembali dan membenamkan Arga ke dalam pelukan panasnya.
Kini, tak ada lagi deringan telepon yang mengganggu pergumulan panas mereka di atas ranjang.
Desahan dan erangan mereka mengakhiri aktivitas panas itu hingga keduanya terkulai di atas kasur yang empuk.
"Kamu hebat sekali, Mas ...!" bisik manja Siska di telinga Arga tanpa melepaskan pelukannya.
"Kamu juga hebat, Sayang ... makanya aku selalu terbayang sama kamu walaupun sedang bersama nenek lampir ... hahaha!" Arga geli sendiri dengan kata-katanya.
Siska tertawa lirih.
"Mulutmu manis banget, Mas ... kalau memang begitu, kenapa belum juga kamu ceraikan dia dan menikahiku_" umpat Siska, tentu saja dalam hati. Mana mungkin dia ucapkan langsung, bisa-bisa dia kehilangan ladang rejekinya.
"Aku harus pulang sekarang, nanti Rasti akan curiga kalau aku pulang terlalu larut!" Arga segera melompat dari ranjang dan mengenakan kembali pakaiannya, diikuti pandangan protes dari Siska.
Setelah mengecup kening perempuan simpanannya, Arga bergegas keluar dari rumah Siska. Tepat jam sembilan malam.
Tanpa disadari oleh Siska, seseorang menyelinap masuk melalui pintu yang belum terkunci.
Seseorang dengan Hoodie dan celana ketat hitam, serta menggunakan penutup wajah dan sarung tangan yang juga berwarna hitam. Hanya matanya yang tampak nyalang menatap rumah wanita pelakor itu.
Dengan mengendap-endap, orang itu melewati ruang tamu yang cukup luas. Melewati ruang keluarga yang terlihat nyaman dan asri karena ada taman buatan mini lengkap dengan air terjun yang juga mini. Suara gemericik air membuat pikiran menjadi tenang.
Namun, tamu misterius itu tak peduli dengan sekitar, dia mengendap cepat menuju satu arah-kamar Siska.
Sepertinya, orang itu tau bahwa di dalam rumah itu hanya tinggal ada Siska sendirian.
Krompyangg!!!
"Shit! Kenapa harus ada pot bunga di sini, sih!" umpatnya pelan saat tiba-tiba dia menabrak sebuah vas bunga besar di depan kamar Siska hingga pecah berantakan.
Orang misterius itu segera menyelinap ke samping kanar yang berbatasan dengan ruang keluarga.
"Siapa itu? Mas_?"
Siska yang masih terbaring malas tanpa busana langsung menyambar piyama yang tergantung di belakang pintu dan segera memakainya sembarang.
"Mas? Apa Mas Arga lupa sesuatu?" Siska segera membuka pintu kamar, berpikir bahwa yang menendang vas bunga tadi adalaha Arga.
Namun, dia tersurut ke belakang saat melihat vas bunga di depan kamarnya telah hancur dan tak ada seorang pun di situ.
Siska mulai curiga, dia mundur selangkah, memegang daun pintu kamar dengan mata menyorot tajam. Melirik kan matanya ke setiap sudut ruangan, namun tak menemukan apapun.
Dia berbalik dan hendak menutup pintu kamarnya, bermaksud mengunci diri dan menelepon Arga atau polisi.
Tapi belum sempat pintu itu tertutup, tiba-tiba sebuah tangan menarik kepalanya dan membekap mulutnya dengan sangat kuat hingga hampir tak bisa bernapas.
Aaarrrgghhhh!!!
Siska memegangi leher jenjangnya yang serasa tertusuk jarum.
Dia tak sempat lagi berteriak apalagi melakukan perlawanan. Cairan yang disuntikkan ke tubuhnya dengan cepat menyebar melalui pembuluh darah dan jantungnya.
Tubuh seksi wanita cantik itupun melorot dari pegangan manusia misterius. Siska tumbang seketika dengan mata melotot dan mulut menganga dan suara tercekik di tenggorokan. Sejenak tubuhnya terlihat menegang dan terdiam di detik berikutnya.
"Mampus kau pelakor!" gumam orang itu menatap penuh kebencian pada Siska yang sudah tewas dengan mulut berbusa.
Tanpa membuang waktu, dia segera memasukkan alat suntik yang digunakan ke dalam saku Hoodienya.
Segera dia melangkah pergi tanpa beban sedikit pun setelah menghabisi nyawa orang lain.
Seperti seorang profesional, tak meninggalkan jejak ataupun sidik jari.
***
Ranti memacu kuda besinya dengan santai meskipun saat itu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Dia sudah terbiasa pulang larut meskipun tidak setiap malam. Kali ini dia pulang larut karena mengantar pesanan customer yang memesan hoodie melalui lapak onlinenya.
"Wah! Jalanan udah sepi gini, sih. Padahal belum terlalu malam juga," pikirnya sambil terus melaju.
Matanya tajam menatap jalan lurus di depannya, sementara pikirannya menerawang.
"Aira pasti udah pules, nih. Ah! Kangen sama manjanya dia," Ranti tersenyum sendiri setiap kali ingat putri semata wayangnya yang baru berusia empat tahun.
Ranti tinggal bersama ibu dan anaknya serta Narendra-adik laki-lakinya yang sudah empat tahun lulus SMA.
Suaminya entah dimana, dia pergi dengan selingkuhannya saat Aira baru berusia dua tahun.
Ibunya juga mengalami nasib yang sama dengannya, ditinggal suami-ayah Ranti-dengan wanita simpanannya.
Karena itu, dia sangat membenci siapapun wanita yang menjadi "Pelakor" ataupun perempuan simpanan.
"Aku akan meghabisi semua pelakor yang menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain!" katanya suatu ketika, saat sedang ngobrol dengan ibu-ibu di kompleks rumahnya.
"Jangan, Mbak! Dosa_!" timpal Bu Yayuk.
"Peduli apa sama dosa, saya benci sekali sama perempuan yang merusak kebahagiaan orang lain! Mereka itu penjahat, Bu ibu! Bukan cuma menyakiti istri sah, tapi juga anak-anaknya jadi terlantar tanpa ayah!" kata Ranti lagi berapi-api. Matanya nyalang menyimpan dendam.
Ciiitttt!!
Ranti menekan rem secara mendadak.
"Sial! Kenapa ada kucing nyebrang malam-malam begini, sih!"
Ranti mengumpat sendiri karena harus mengerem mendadak saat seekor kucing hitam tiba-tiba melompat di depannya.
Tak berapa lama, Ranti masuk ke kawasan kompleks tempat tinggalnya.
Setelah memasukkan motor maticnya ke dalam garasi, dia celingukan seraya mengambil bungkusan hitam dari bagasi motor, seperti takut bila ada yang melihat.
Dengan cepat dia membuka pintu dengan kunci cadangan.
"Kak! Baru pulang?"
Narendra tiba-tiba muncul dari kamarnya saat mendengar ada yang membuka pintu.
"Hhhhrrkk!"
Ranti yang baru menutup pintu terkejut dan langsung menyembunyikan bungkusan hitam yang dibawa ke belakang tubuhnya.
"Oh, iya. Kakak abis nganter pesenan ... lumayan, daripada bayar kurir!" jawabnya sedikit gugup.
Narendra menatap sekilas gerakan tangan Ranti, tapi dia berusaha tak peduli.
"Kamu, kok belum tidur?" tanya Ranti lagi.
"Belum bisa tidur, Kak. Lagi pula baru pulang juga," jawab Narendra tenang, kemudian duduk di sofa ruang tamu dan menyalakan televisi.
Adik Ranti satu-satunya itu, saat ini belum mempunyai pekerjaan tetap selepas SMA.
Untuk mengisi waktu luangnya, dia bekerja sebagai driver ojek online.
"Tadi Aira agak rewel!" lapor Bu Diah yang tiba-tiba sudah muncul dari dalam kamarnya.
Bu Diah-ibu mereka-menempati kamar sebelah Ranti.
Seketika raut wajah Ranti berubah cemas dan bertanya,"Kenapa Aira, Bu?" tanyanya pada ibunya.
"Nggak tau, tadi saat pulang main tiba-tiba dia bilang pengin beli ayah," kata ibu sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Ya, ampun, Aira!"
Ranti terhenyak memdengar penuturan ibunya.
Segera dia masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian malam.
Dengan cepat dia mengunci pintu kamarnya dan menyimpan bungkusan hitam yang tadi dibawanya kedalam laci lemari dan menguncinya.
Dia menatap Aira yang telah terlelap, wajah imutnya terlihat begitu polos. Dari sudut matanya masih tampak sisa air mata, menandakan dia habis menangis.
Dengan lembut, Ranti membelai rambut dan pipi gembil buah hatinya. Ada perih yang menyesak dalam dadanya.
Diraih tangan mungil Aira dan dikecupnya dengan penuh perasaan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Maafin mama, Sayang. Mama nggak bisa nahan ayahmu untuk tetap tinggal sama kita," ucapnya lirih.
Setitik air bening menetes di sudut matanya.
Tubuh mungil Aira menggeliat seperti merasakan kehadiran sang ibu.
Perlahan, Ranti meletakkan kembali tangan kecil itu dan mencium kening Aira.
Menatap wajah polos itu sendu.
Lalu melangkah keluar menemui ibu dan adiknya yang kini sedang asik menonton tayangan berita di televisi.
"Selamat malam Pemirsa. Kabar terbaru yang menghebohkan datang dari daerah pinggiran kota. Tepatnya di perumahan mewah Aman.
Seorang wanita muda ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya. Dia ditemukan oleh tetangga yang juga pembantu rumah tangganya saat hendak membersihkan rumahnya pagi tadi. Kondisi jenazah terlihat membiru seperti terkena gigitan ular berbisa. Yang menghebohkan, di kantong piyama yang dikenakannya ditemukan tulisan yang berbunyi 'Pemburu Pelakor' pada secarik kertas yang ditulis dengan tinta merah. Siska- demikian nama wanita muda tersebut, dikenal sebagai wanita simpanan seorang Manager keuangan yang diketahui bernama Arga.
Saat ini, kasusnya sudah ditangani oleh pihak berwajib."
Terdengar Presenter berita membacakan berita pertama.
Ranti mengernyitkan kening, ada senyum sinis terukir di sudut bibirnya.
Narendra meliriknya sekilas, sementara Bu Diah terlihat fokus mengikuti berita.
"Kenapa, Kak?" tanya Narendra tiba-tiba pada kakaknya.
"Ups!" Ranti langsung terdiam.
"Nggak apa, Rend. Cuma ada perasaan gimanaa ... gitu! Kalau liat berita kayak gini," jawab Ranti santai.
"Gimana apanya?" tanya ibu ikut nimbrung.
"Yah ... seneng aja! Ternyata ada juga yang perhatian sama istri-istri sah kayak kita," jawab Ranti sambil mengulum senyum.
"Kamu tuh, ya. Liat orang dibunuh, kok malah seneng!"
Bu Diah berkata sambil melemparkan bantal sofa ke arah Ranti yang langsung tertawa menghindar.
"Hahaha ... ya, iya dong, Bu! Biar para pelakor itu nggak bisa hidup tenang di atas penderitaan istri dan anak dari laki-laki yang menjadi selingkuhannya," ucap Ranti lagi seraya menggeram penuh emosi.
"Yang sabar, Nak! Nanti juga ada Gusti Allah yang bakal mbales kelakuan mereka. Dan juga perlakuan suamimu." Bu Diah sangat mengerti perasaan putrinya yang harus menjadi janda di usia muda, karena suaminya tergoda perempuan lain.
Dia membelai rambut hitam Ranti yang hanya sebatas bahu, gerah katanya kalau terlalu panjang.
"Ehemm!"
Narendra berdehem kecil menyaksikan drama ibu dan anak itu.
Tanpa banyak bicara, dia bangun dari duduk dan hendak melangkah masuk kembali ke kamarnya yang terletak di paling depan, sejajar dengan ruang tamu.
"Rendra ... kamu udah makan, Nak?" tanya Bu Diah pada putra tunggalnya itu.
"Udah, Bu. Tadi sambil narik penumpang di jalan," jawab Narendra menghentikan langkahnya dan menghadap Bu Diah.
Dia memang sangat patuh dan menghargai ibu dan kakaknya.
Dia juga sangat menyayangi Aira-keponakan satu-satunya.
Tak jarang dia membelikan mainan dan makanan kesukaan Aira bila ada rezeki lebih.
Tapi, Ranti sangat tahu. Adik lelakinya itu menyimpan kekecewaan dan kerinduan yang tak terungkapkan.
Ya, Narendra kecewa pada ayah dan kakak iparnya yang tega meninggalkan dua orang wanita yang sangat dicintainya itu hanya demi mengejar Cinta Pelakor.
"Hhhhhh!"
Ranti mendesah pelan seraya berkata,"Kamu istirahat dulu sana, pasti lelah setelah keliling seharian mencari penumpang!" perintahnya.
Narendra pun mengangguk dan meneruskan langkahnya ke kamar.
"Ibu juga udah ngantuk, Ran. Kamu jangan terlambat tidur, ya. Kalau lapar masih ada makanan di dapur!" ucap Bu Diah seraya bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamar yang terletak di belakang ruang tamu.
Pikirannya sedikit resah, dia takut jika Ranti terlibat dalam kasus yang baru saja diberitakan.
Setelah ibu dan adiknya masuk kamar, Ranti masih menatap layar kaca di hadapannya.
"Akhirnya, kamu lenyap juga, Siska ... kamu pikir bisa bebas berkeliaran? Sementara Rasti diperlakukan kasar oleh Arga?"
Ranti menggumam,"Ciss! Nggak boleh ada pelakor lagi yang menang daripada istri sah!" geramnya.
Rasti dan Arga adalah sahabatnya sejak SMA. Mereka menikah setelah berpacaran lima tahun, sejak semester akhir SMA.
Tapi, beberapa bulan terakhir ini, Arga sering memperlakukan Rasti dengan kasar setelah diketahui mempunyai perempuan simpanan bernama Siska. Entah, sudah berapa lama mereka menjalin hubungan. Rasti tak pernah memberitahunya.
"Aku memang tak bisa menyelamatkan pernikahanku dengan Mas Yuda, tapi aku senang bila pernikahan orang lain terselamatkan," bisiknya sambil tersenyum samar.
Pikirannya melayang ... menyibak masa lalunya yang kelam bersama mantan suami sekaligus ayah Aira.
***
Plakkk!
Suara tamparan yang begitu keras menghentikan teriakan Ranti.
Dia terisak sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
"Kamu jahat, Mas! Kamu jahat!" teriaknya penuh emosi.
Aira kecil menangis dalam pelukannya. Tangan mungilnya mengusap pipi Ranti yang membasah.
"Perempuan sialan!"
Bentakan Yuda kembali menggema sambil mengangkat telapak tangannya siap untuk mendaratkannya kembali di pipi istrinya, tapi .....
Tangan Yuda tertahan oleh tangan kokoh yang lain.
"Hentikan semua kekerasan ini, Mas!" Sebuah bentakan menyurutkan gerakan tangan Yuda, matanya nyalang ... menyorot tajam pada pemilik tangan tersebut.
"Jangan ikut campur urusan rumah tangga kami, NARENDRA!" ucapnya memberikan tekanan pada nama adik iparnya.
"Rumah tanggamu?"
Pemuda tanggung itupun tersenyum sinis pada kakak iparnya.
"Lalu ... harus aku biarkan kekerasan terjadi di depan mataku, sementara korbannya adalah kakakku satu-satunya!" teriak Narendra kalap. Padahal biasanya, dia selalu diam dan tak mau ikut campur setiap kali terjadi keributan di antara suami-istri tersebut.
"Mama!" Aira menjerit ketakutan menyaksikan semua yang terjadi di depan matanya. Usianya yang baru dua tahun, tak bisa menerima kondisi seperti itu. Tubuh mungilnya tampak gemetar ketakutan, dia menyembunyikan wajah dalam pelukan Ranti.
"Kak, bawa Aira keluar! Kasihan dia harus melihat mamanya dipukul oleh ayahnya sendiri!"
Tegas ucapan Narendra, lebih dewasa dari usianya yang baru 21 tahun.
Ranti segera berdiri dan memeluk putrinya erat, keluar dari kamar itu. Kamarnya bersama suami dan Aira.
Sekuat hati dia berusaha menahan amarah dan kesedihannya, hingga yang tersisa hanya air mata.
"Dia yang selingkuh, dia juga yang meradang!" sungutnya perlahan. Dia tak ingin membuat Aira semakin ketakutan.
Ranti membawa putrinya keluar dari dalam rumahnya dan memesan ojek online. Tujuannya hanya satu, rumah ibunya.
Selama ini dia tinggal terpisah dari ibu dan adiknya-Narendra. Dia ikut dengan Yuda mengontrak rumah di kompleks perumahan yang tak begitu jauh dari rumah ibunya, hanya sekitar iima kilometer.
Narendra memang sering menjenguk kakak satu-satunya itu, terkadang hanya mampir saat ada pelanggan yang tujuannya tak jauh dari rumah Ranti.
Bukan tanpa sebab, Narendra sering melihat lebam di tubuh Ranti, terkadang pelipisnya membiru, kadang bibirnya membengkak.
Meskipun Ranti tak mau cerita, tapi dia cukup mengerti apa yang terjadi dalam rumah tangga kakaknya.
"Udah punya nyali, ya, kamu! Mau lawan aku!" bentak Yuda berang, menatap penuh kemarahan pada Narendra.
"Maaf, Mas Yuda. Bukan aku mau ikut campur ataupun berani melawan Mas ...,"
Narendra menarik napas dalam.
"Tapi aku nggak sanggup melihat Mas terus menjatuhkan tangan sama Kak Ranti," jawabnya datar.
"Kamu tau, kenapa kakakmu itu pantas dipukul? Dia perempuan kurang ajar! Dia berani melawan suami!" ucap Yuda dengan nada tinggi.
"Apapun alasannya, aku nggak akan membiarkan itu terjadi lagi!"
Narendra mengepalkan tangannya dengan kesal. Dia membanting pintu kamar dan melangkah pergi meninggalkan kontrakan kakaknya setelah yakin Ranti dan Aira telah pergi.
"Kalian memang keluarga ba**ngan!" teriak Yuda kalap, dia membuka pintu kamar dan hendak mengejar Narendra untuk memberi pelajaran. Namun pemuda itu sudah memacu sepeda motornya dengan suara gas menderu.
"Awas saja! Kalau kulihat lagi mukamu di sini, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" teriak Yuda seperti kesetanan.
Beberapa orang tetangga menoleh ke arahnya, ada pula yang mengintip dari balik tirai rumah mereka.
Namun Yuda seperti tak perduli.
Dengan kesal dia kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara berdebum.
Bahkan beberapa ekor kucing yang sedang bersantai di pinggir pagar pun berlompatan menjauhi rumahnya.
Seminggu lamanya Ranti dan Aira tak berani pulang ke rumah mereka, takut emosi Yuda masih membara.
Di minggu berikutnya saat Ranti memberanikan diri untuk pulang, ternyata Suaminya telah menikah lagi dan pergi bersama perempuan selingkuhannya.
Dia meninggalkan kunci rumah pada pemilik kontrakan.
Bahkan, di bulan ketiga setelah kepergiannya yang tanpa kabar, datang surat dari pengadilan agama yang mengabarkan bahwa Yuda Pratama telah menceraikannya secara sepihak.
Hancur sudah perasaan Ranti.
Menyakitkan!
***
"Hhhh ...!"
Ranti menarik napas dalam-dalam. Jauh di relung hatinya, dia masih menyimpan kerinduan untuk mantan suaminya.
Meskipun terkadang bersikap kasar, sebelum ada perempuan lain dalam kehidupan rumah tangga mereka, Yuda selalu memperhatikan dan menyayangi dirinya dan Aira.
Ranti menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, dia merasa lelah.
Tak berapa lama, terdengar dengkuran halusnya.
Sementara, Narendra tampak seperti gelisah di dalam kamar.
Sejak masuk kamar belum sedetikpun dia duduk atau bahkan berbaring.
Sejenak dia berdiri dekat meja belajarnya dan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
Tak lama dia berjalan mondar-mandir.
"Hhhhh!"
Dia mendesah
"Tulisan itu ... jangan-jangan ... Kak Ranti ...,"
Narendra terus bergumam tak jelas.
Akhirnya dia duduk juga di pinggiran tempat tidur.
"Aku harus cari tau besok!"
Dengan perasaan yang masih gelisah, akhirnya Narendra memejamkan matanya.
***
Eh, Bu ibu! Udah denger berita belum di tivi semalam?" tanya Bu Yayuk yang baru saja keluar dari rumahnya dan bergabung dengan ibu-ibu kompleks perumahan Royal, satu komplek dengan keluarga Ranti.
"Ada berita apa, Bu Yayuk?" tanya salah seorang ibu yang mengenakan daster dan rambut cepol, terlihat belum mandi.
Para ibu itu memang senang ngerumpi pagi sambil belanja sayuran dari gerobak Mang Piping yang selalu mangkal di Pos kompleks Royal itu.
"Itu, lho! Berita pembunuhan seorang wanita pelakor?" kata Bu Yayuk semangat merasa paling tahu.
"Wah! Heboh nih, kok tau kalau dia pelakor dari mana?" tanya yang lain.
"Ya, pembunuh itu kasih tulisan di deket korban ... tau, nggak? Apa yang dia tulis?"
Bu Yayuk makin semangat, sementara para ibu yang lain fokus memperhatikan dirinya.
"Bunyinya ... Pemburu Pelakor ... makanya buat para wanita, nih. Hati-hati! Apalagi yang merasa menjadi pelakor!" kata Bu Yayuk lagi seraya melirik Santi yang terkenal di komplek itu sebagai istri simpanan.
Wanita cantik yang dimaksudkan hanya diam sambil tersenyum.
Sepertinya, dia telah terbiasa dengan ejekan tetangganya.
"Mbak Santi, mah, pasangannya bukan receh. Biarpun simpanan, tapi polisi, loh!" timpal Bu Anggi seraya menyenggol bahu Santi.
"Ooohh ... iya! Aman-aman!" seru Bu Yayuk sedikit mencibir.
"Hai ... Para emak ... apa kabar hari ini?"
Tiba-tiba, Ranti muncul dari arah rumahnya. Hari ini dia libur kerja karena hari minggu, karena itu dia sempatkan belanja juga di Mang Piping.
"Eh! Mbak Ranti ... ada gosip hangat nih! Pasti Mbak Ranti suka deh!"
Bu Yayuk tetap terdepan dalam menyebar berita, sementara ibu-ibu yang lain hanya memasang telinga mereka dengan baik.
"Wah! Gosip apa, nih, Bu?" tanya Ranti pura-pura bingung, padahal dia sudah tau apa yang akan dibicarakan oleh Sang Ratu Gosip di kompleks ini.
"Itu, lho, Mbak! Semalam ada berita Pemburu Pelakor!" katanya dengan semangat.
"Ah! Masa, sih? Kok saya udah tau, ya ... hahaha!" jawab Ranti berseloroh.
"Mbak Ranti ini lho ...!"
Akhirnya Bu Yayuk hanya bisa cemberut.
"Biarin aja, Bu! Saya juga akan melakukan hal yang sama kayak gitu!" tiba-tiba, Ranti berseru geram.
"Maksudnya?"
Serempak para ibu yang hadir menoleh ke arah Ranti dan bertanya.
"Ahemmm! Maksudnya, saya juga akan membunuh semua Pelakor yang sudah merusak rumah tangga orang lain dan menyengsarakan anak istri laki-lakinya itu!" ujarnya berapi-api.
Semua terdiam.
"Sayuuurrr!"
Ternyata, Mang Piping telah hadir di antara mereka.
Para ibu itu pun mulai berebut sayuran.
"Waduh! Si Mbak serem amat!" kata Mang Piping yang ternyata mendengar perkataan Ranti.
"Hehehe ... becanda kali, Bang!" ucap Ranti tak ingin menambah masalah.
Akhirnya, mereka pun bubar ke rumah masing-masing.
Begitu pun Ranti yang langsung pulang untuk membuat sarapan bagi keluarganya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan di pintu depan.
"Siapa?" tanya Narendra yang baru saja bangun dan keluar kamarnya.
Betapa terkejutnya, saat membuka pintu, nampak dua orang anggota polisi sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Selamat pagi, Pak. Apa benar di sini tempat tinggal Ibu Ranti?"