Janice melenguh panjang saat sapuan hangat dari embusan napas lelaki di atasnya menelusuri seluruh tubuh sintalnya. Wanita 23 tahun itu meremas sprei hingga kusut. Mata lentiknya terpejam lama demi menikmati setiap detik kehangatan bersama Satriyo. Lelaki yang 20 tahun lebih tua darinya itu terus meluapkan seluruh kehangatannya pada wanita yang hampir dua minggu ini tidak ditemuinya.
"Mas ... jangan tinggalin Janice lagi, ya!" ucap Janice tak berdaya saat semua kenikmatan mencapai puncaknya. Satriyo tergeletak tak berdaya di samping tubuh Janice. Lengan kokohnya memeluk pinggang aduhai milik wanita itu.
Satriyo tersenyum manis di tengah kelelahannya. "Iya, Sayang." Sebuah kecupan hangat dan lama mendarat di kening sang wanita. Janice memeluk lelaki itu seolah tak ingin dipisahkan.
"Mas, sih, lama nggak ke sini!" Janice merajuk. Satriyo meraih dagu belahnya dan menciumnya sekilas. Wanita itu semakin cemberut.
"Kan Mas harus ngajar semester pendek, Sayang!"
"Ah, bohong!"
Janice melepaskan pelukan dan berbalik, membelakangi Satriyo. Lelaki itu tersenyum menatap punggung mulus Janice. Dia mendekat, meraba kulit sehalus porselen itu, dan mengecupnya. Lengan kokohnya melingkari pinggang Janice.
"Kok, bohong, sih. Mas jujur, lho!"
"Bilang aja lagi sibuk liburan sama mereka, iya, kan?"
Satriyo menarik tubuh Janice untuk menghadapnya. "Kok nggak percayaan gitu, sih, sama Mas?"
Janice masih cemberut. Membuat Satriyo semakin gemas. Dielusnya pipi halus tanpa make-up itu dengan lembut. Bibir sensual dan tebal Janice diusap dengan ibu jarinya. Gemas, Satriyo menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi. Janice berusaha memberontak. Namun sayang, dia juga sangat membutuhkan dan amat menyukai perlakukan Satriyo itu. Jadilah mereka kembali bergumul hangat di balik selimut yang menahan hawa dingin karena hujan di luar. Suara rintik hujan bagai backsound untuk kemesraan mereka di malam itu. Berpadu dengan suara desahan dan jeritan kecil menahan nikmat dari mulut keduanya. Seluruh kerinduan tumpah. Bersamaan dengan keringat dan cairan kenikmatan dari keduanya. Membuatnya terus terbuai hingga akhirnya lelah dan terlelap.
Dering ponsel membangunkan Janice. Wanita cantik itu menggeliat. Memerhatikan sekitar dan tersenyum menatap sosok di sampingnya. Sosok yang tengah melingkarkan lengannya di perut Janice. Sosok lelaki yang tengah tertidur pulas. Jemari Janice bergerak pelan mengusap bibir dan menelusuri wajahnya. Bibirnya tersenyum penuh bahagia.
"Aku sayang banget sama kamu, Mas," ucapnya pelan.
Tiba-tiba Satriyo bergerak dan memeluknya erat. Jemari lelaki itu menggelitik pinggang Janice. Janice berteriak geli dan meronta. Bukannya berhenti, Satriyo semakin beringas. Bukan hanya gelitikan, tapi ciuman dan gigitan kecil menghampiri tubuh seksinya.
"Udah, Mas. Please!" ucap Janice berusaha menahan gerakan Satriyo. Lelaki itu terengah-engah di atas tubuh Janice. Jemari Janice mengusap dada bidang dan kokoh lelaki yang sudah berkepala lima itu.
"Ada telepon tuh!" Janice melirik ponsel Satriyo di atas meja yang terus berdering sejak tadi. Satriyo hanya mencebik dan tak menoleh.
"Aku tidak peduli! Kamu mencuri perhatianku!" Satriyo menjawil hidung bangir wanita blasteran Indo-Rusia itu. Janice hanya tersenyum dan mengecup hidung Satriyo sekilas.
"Mas nggak ngajar?"
Satriyo bergerak. Dia duduk di tepi ranjang, menatap Janice yang berselimut tak sempurna di sampingnya. "Ngajar, kok, nanti jam 10."
Janice ikut duduk. Dia melendot manja dan bersandar di bahu Satriyo.
"Kenapa? Masih kangen, ya?"
Janice mengangguk cepat. Satriyo tersenyum. Dia meraih Janice ke dalam rengkuhannya. Jemari mereka saling bertaut. Menyalurkan kehangatan dan kerinduan masing-masing. Mereka saling tatap penuh arti.
"Nanti malem pasti nggak ke sini!" ucap Janice merajuk. Satriyo mengusap bibirnya pelan.
"Aku sudah dua hari nggak pulang, Sayang. Mereka nanti curiga!"
"Ah, biarin aja!"
"Kok gitu?"
"Ya biar mereka sekalian tahu hubungan kita."
"Ehm, jangan sekarang, ya. Sabar, ya!"
"Sampai kapan?"
Satriyo mengerling dan berpikir. "Entahlah!"
Janice merajuk. Dia bangkit dan meninggalkan Satriyo di ranjang. Tubuh sintal dan padat itu tanpa busana. Dia melenggang menuju kursi. Satriyo menahan napas memperhatikan tubuh yang semalaman dipeluknya itu. Janice meraih kimono dan mengenakannya. Dia duduk di kursi rias, menyisir rambut.
"Aku juga butuh kepastian, Mas."
Satriyo menghela napas panjang. Dia menatap Janice dari pantulan cermin. Wanita itu tengah membersihkan wajahnya dengan kapas dan pembersih.
"Mas tega ngeliat aku hidup begini terus?"
Satriyo menunduk. Matanya menatap benda perak yang melingkari jari manisnya. Cincin yang sudah ada di sana 20 tahun ini. Benda yang juga masih melingkar dengan setia di jari yang lain.
"Emang Mas nggak bosen liat Mbak Manda terus? Masih sakit-sakitan kan dia?"
Dada Satriyo berdesir halus. Mendengar nama Manda, dia mendadak resah. Ada rasa bersalah ketika wanita yang mengenakan cincin satunya itu membayang di dalam pikirannya. Apalagi dia muncul di saat-saat seperti ini. Saat dia tengah bersama wanita muda yang empat bulan ini dia sembunyikan. Wanita muda, cantik, dan menggoda yang sering dia jumpai di kampus tempat dia mengajar.
"Ehm, kamu ujian jam berapa?" tanya Satriyo seolah mengalihakn pembicaraan. Janice menoleh dengan wajah masam. Di kembali merengut.
"Malah ngalihin topik!" rutuknya.
Satriyo hanya tersenyum. Dia berdiri, menutupkan handuk di tubuh bagian bawahnya. Lelaki itu menuju meja, mengambil ponsel. Matanya sempat melihat name tag-nya yang berdekatan dengan kartu ujian Janice. Satriyo Singgih yang bersebelahan dengan kartu nama bertuliskan Janice Michella Harsono lengkap dengan foto cantik wanita itu.
"Mau Mas anterin atau ...."
"Naik mobil sendiri aja! Lagian kan Mas langsung pulang ke rumah!" jawab Janice sewot. "Pulang ke rumah tempat anak dan istri Mas tercinta!"
Janice membanting daun pintu kamar mandi dengan keras, meninggalkan Satriyo yang menggelengkan kepala dan terkekeh.
"Tapi tetap kamu tempat Mas pulang sesungguhnya, Sayang!" ucap Satriyo sedikit berteriak dari lubang kunci daun pintu kamar mandi. Janice yang mendengar itu tersenyum senang. Semakin tersenyum saat menatap pantulan wajah semringahnya di cermin. Dengan cepat dia bergerak, menarik lengan Satriyo yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Lelaki itu terkejut, tapi kemudian langsung mengangkat tubuh Janice hingga menempel di dinding. Mereka berpagut mesra.
Sementara di sebuah rumah mewah yang lain. Seorang wanita dengan wajah pucat menatap ke halaman. Seolah menunggu seseorang. Kacamatanya berembun karena terlalu dekat dengan teras dan terkena embun dari hujan deras yang belum juga reda.
"Mami ngapain di situ, sih?" tegur seorang remaja dengan seragam SMA mendekati kursinya. Gadis berlesung pipi dan berkulit manis itu adalah Pelangi. Kilau Pelangi Princhesa Satriyo, begitu nama di name tag seragamnya. Dia berjongkok di samping sang mami. Hidung dan bibirnya menciumi tangan yang mulai keriput, tapi tetap halus itu.
"Nggak apa-apa, Nak. Seneng aja liat hujan."
"Seneng apa lagi mikir yang lain?" celetuk seorang lelaki dari dalam. Dia mengibas-ngibaskan rambut gondrongnya yang masih basah. Membuat cipratan airnya mengenai Pelangi.
"Abang Langit! Basah ini!" teriaknya. Yang dipanggil Langit hanya tergelak lantas memapah sang mama untuk masuk ke rumah.
"Haha, kan kamu belum mandi! Weekk!"
Pelangi merutuk kesal. Sementara mami mereka hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka lantas duduk berdekatan di meja makan. Satu kursi masih kosong. Kursi untuk kepala keluarga mereka. Namun kemudian terisi karena Langit duduk di sana.
"Yuk, aku yang pimpin doa!" ucap Langit menengadahkan tangan, memimpin doa sebelum makan.
Sarapan yang dibuat Pelangi memang enak, tapi tetap terasa hambar di lidah Manda. Wanita 50 tahun itu menahan getir ketika menyadari sang suami yang sudah dua hari ini tidak pulang. Entah ke mana dia sekarang, Manda hanya bisa menebak. Berbeda dengan kedua anaknya yang hanya tahu jika papi mereka tengah lembur dan disibukkan dengan tugasnya sebagai seorang dosen. Langit percaya itu, karena di kampus dia masih sering bertemu sang papi. Begitupun Pelangi yang juga sering melihat papinya ketika di musola kampus yang bersebelahan dengan yayasan tempat dia bersekolah.
Hujan terus turun, bahkan semakin deras. Langit memutuskan menggunakan mobil maminya untuk ke kampus sekalian mengantar sang adik. Manda melepas mereka dengan senyum bangga. Senyum yang menutupi luka yang mulai menimbulkan borok bernanah karena terlalu lama dipendam. Luka yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.
....
"Pi?" panggil Langit ketika membuka daun pintu dengan nama Satriyo Singgih. Lelaki yang dipanggil Pi lantas mendongak, mengalihkan pandangan dari laptop di depannya.
"Eh, Langit."
Langit lantas duduk di depan meja sang papi. Lelaki semester akhir itu memperhatikan jemari papinya yang tengah sibuk.
"Mami sehat?"
Langit mengangguk. "Ya, kalau minum obat ya pasti baikan, Pi."
Satriyo berdehem paham. "Pelangi gimana?"
"Tadi kuanterin, kok. Pakai mobil mama. Ujan soalnya, hehe," ucap Langit menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Nggak apa-apa!"
Keduanya diam. Langit hanya terus memperhatikan sang papi yang bekerja. Sesekali dia menatap tumpukkan kertas dan map di mejanya.
"Nanti papa pulang, kan?" tanya Langit ragu.
"Iya. Tapi malem, ya. Masih banyak yang harus dikerjain!"
Langit mengangguk. Merasa papinya tengah sibuk, mahasiswa Tekhnik Elektro itu pamit. Dia keluar ruangan papinya dan menuju fakultasnya yang lumayan jauh.
Kampus tengah masa senggang karena para mahasiswa sudah melewati ujian. Hanya ada semester pendek dan ujian susulan beberapa fakultas. Langit ke kampus karena ingin melihat nilai ujiannya yang sudah keluar sekalian mengantar sang adik.
Saat di lorong menuju fakultasnya, Langit berpapasan dengan seorang wanita yang langsung menarik perhatiannya. Wanita dengan setelah celana panjang ketat, kemeja pas badan, sepatu hak tinggi, dan rambut indah yang dibiarkan tergerai. Langit mengerutkan kening. Daerah itu adalah fakultas Pendidikan yang notabene adalah kawasan sopan yang melarang mahasiswanya mengenakan pakaian seksi.
Ketika berpapasan, Langit sempat melirik sang wanita yang berjalan mantap dan menatap ke depan. Suara ketukan sepatu tingginya menggema. Langit pura-pura tidak melihatnya, hingga wanita itu hilang di belokan.
***
"Kok, kamu ke sini?" tanya Satriyo sembari mengintip dari balik kaca jendela, mengamati keadaan di luar. Janice tersenyum jahil dan mengunci pintu.
"Kan nanti kita nggak ketemu lagi, masak nggak boleh aku ke sini," jawab Janice merengut. Satriyo mendekat dan memeluk pinggangnya.
"Bukan nggak boleh, Sayang, kan ini kampus. Nggak enak kalau ada yang lihat!"
"Nggak akan ada yang lihat. Kan cuma kita berdua!" Janice memeluk pinggang kokoh Satriyo dan mencium bibirnya sekilas. Satriyo hanya tersenyum. Lelaki itu mendadak ingat Langit, putra bungsunya yang beberapa menit lalu menemuinya. Kini dia teringat Manda, sang istri yang sedang di rumah. Kesehatan wanita yang dinikahinya hampir 25 tahun itu terus memburuk. Leukimia, diabetes, dan anemia akut seolah setia menemaninya sejak sepuluh tahun ini.
"Istri mas masih sakit?" tanya Janice duduk di kursi Satriyo dan memainkan laptop. Sementara Satriyo duduk di meja, menghadap sang kekasih.
"Ya gitu, lah."
"Ehm, nggak bisa sembuh, ya? Kasihan!"
Satriyo diam. Diingatkan tentang Manda, lelaki itu semakin resah. Apalagi dia kini tengah bersama Janice. Matanya tak sengaja menatap bingkai foto keluarganya. Foto yang diambil lima tahun lalu, saat mereka tengah berlibur dan Manda sedang sehat. Mereka tersenyum bahagia.
"Kok melamun, Mas?" tanya Janice mengusap pipi Satriyo lembut. Lelaki itu menggeleng dan tersenyum. Diusapnya pipi halus Janice.
"Kamu ke kelas dulu aja, Mas masih ada kerjaan."
"Mas ngusir?"
"Bukan, Sayang—"
"Takut nggak konsentrasi, ya, hihi."
Satriyo tergelak. Dicubitnya hidung bangir wanita itu hingga menjerit manja. Setelah mendaratkan kecupan dan pagutan mesra, Janice melenggang keluar. Tentu saja setelah merapikan kemejanya yang sedikit berantakkan.
Tinggalah Satriyo sendiri. Kembali merenungi hidupnya. Dalam hati kecilnya, Satriyo sadar jika yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Hampir setengah tahun ini lelaki yang masih terlihat tampan dan lebih berwibawa di usia setengah abadnya itu menjalin kasih dengan mahasiswinya sendiri. Janice, mahasiswi Ilmu Pemerintahan yang saat itu tengah menempuh mata kuliah Bahasa Indonesia dengannya. Entah mengapa wanita blasteran itu begitu menggoda akal sehatnya.
Bermula dari saling senyum, konsultasi mata kuliah, sering bertemu, hingga kemudian bertukar nomor WA.
[Saya sudah berkeluarga.]
Tulis Satriyo saat itu. Saat dia meyadari jika mereka semakin hari semakin dekat. Lelaki itu siap kehilangan Janice andai dia memang akan pergi. Satriyo tahu diri posisinya yang hanya sebatas dosen dan mahasiswi. Namun ....
[Saya sudah tahu dari dulu, kok, Pak. Dan saya tidak peduli!]
Di luar dugaan, Janice tetap memaksa dekat dan tidak peduli statusnya. Satriyo bingung. Dia senang, karena ternyata apa yang dia rasakam selama ini benar-benar cinta. Jatuh cinta kedua pada wanita selain istrinya. Namun di lain sisi dia malu dan merasa bersalah. Statusnya dengan Janice sudah jelas, sebagai pasangan yang berselingkuh. Malu, karena Satriyo tahu usianya dan Janice terpaut jauh. Dia yang mendekati kepala lima sedangkan Janice masih seusia putra sulungnya, 23 tahun. Namun siapa yang peduli? Jika cinta sudah kadung melekat, usia bukan lagi sekat!
Hubungan mereka semakin akrab. Tidak ada yang menyangka jika kedekatan mahasiswi dan dosen itu lebih dari hubungan biasa, karena mereka pandai menyembunyikannya. Di kampus, Satriyo boleh saja bersikap biasa saja. Namun di luar, dia bagai remaja yang tengah kasmaran. Begitu pun Janice. Mahasiswi yang juga mempunyai usaha butik kecil-kecilan itu tak peduli apapun tentang Satriyo. Baginya Satriyo adalah cinta sejatinya yang selama ini ditunggu.
[Mas nggak takut ketahuan Mbak Manda?]
Satriyo yang kala itu tengah membaca diktat kuliah terdiam.
[Entahlah!]
Akhirnya hanya itu yang dijawab Satriyo.
Merasa pembahasan tentang istri selalu menjadi pemicu dinginnya hubungan mereka, keduanya berkomitmen untuk tidak pernah mengungkit rumah tangga Satriyo lagi. Mereka merasa dipertemukan oleh takdir yang berpihak untuk menyatukan mereka. Tidak peduli bagaimana pun keadaannya.
****
Menjelang tengah malam, Satriyo baru pulang ke rumah. Langit yang belum tidur membukakan pintu untuk sang papi.
"Kok malem banget, Pi?"
"Baru kelar kerjaannya!"
Langit mengangguk dan membuntuti sang papi yang duduk di sofa. Wajah lelaki itu terlihat lelah. Langit lantas menawarkan segelas air dingin yang langsung disetujui Satriyo.
"Mami sudah tidur?"
"Sudah, Pi. Habis minum obat tadi."
"Pelangi gimana?"
"Baik. Minggu depan dia ujian."
Satriyo mengangguk. Langit mengulurkan segelas air pada sang papi yang tak lupa mengucap terima kasih. Saat Satriyo memejamkan mata, diam-diam Langit memperhatikannya. Baginya sang papi adalah panutan sejak kecil. Lelaki pekerja keras, bertanggung jawab, dan penyayang. Senakal apapun Langit dan Pelangi, lelaki itu tidak pernah marah sedikitpun. Langit tersenyum. Senyum karena kini sang papi kembali setelah dua hari di luar, mencari nafkah untuknya dan sang adik. Senyum karena setidaknya pikiran negatif sang mami tidak terbukti. Sementara Satriyo yang hanya pulang membawa lelah langsung merebahkan tubuh di ranjang. Tak peduli jika Manda menunggu cerita darinya. Seperti hal yang biasa Satriyo lakukan.
....
Bersambung
"Mas pulang jam berapa semalam?"
Satriyo yang baru saja menggeliat bangun langsung mengucek mata saat jemari lembut Manda mengusap pipinya. Lelaki itu menatap sang istri yang juga baru bangun. Dari jauh, sayup-sayup suara adzan terdengar mendayu. Sudah subuh rupanya, pikir Satriyo. Padahal dia baru tertidur beberapa jam saja. Lelah dan penat membuatnya tertidur dengan lelap.
"Hampir jam satu. Banyak kerjaan," jawab Satriyo duduk dan mengusap jemari dingin Manda. Wanita itu meremas telapak tangan kekarnya dan mengecupnya perlahan. Ada kerinduan membuncah dari sorot mata yang semakin lemah itu.
"Maaf, ya, aku sudah tidur."
Satriyo mengusap rambut lembutnya dan tersenyum. "Tak apa. Kamu butuh istirahat."
Satriyo lantas membimbing Manda ke kamar mandi. Dengan telaten dia menunggu sang istri mengambil wudhu. Satriyo hanya khawatir jika air dingin membuat Manda menggigil lantas tak kuat berjalan dan terjatuh seperti beberapa hari lalu.
Sholat subuh dipimpin Satriyo dengan khusyuk. Langit dan Pelangi sesekali menguap di belakang sang papi. Meski begitu, hawa sejuk dan menenangkan seolah menyelimuti hati dan rumah itu.
"Mas mau sarapan apa?" tanya Manda ketika dia menyalami sang suami. Kedua anak mereka sudah kembali ke kamar, belajar atau ... malah tidur.
"Apa aja," jawab Satriyo singkat sembari melipat sajadah. Manda mengerutkan kening. Tidak biasanya Satriyo akan menjawab begjtu. Biasanya lelaki penyuka pedas itu akan memesan sarapan padanya. Nasi goreng, roti isi cokelat, atau hanya segelas sereal. Manda termenung masih dalam balutan mukena.
Satriyo terdiam ketika mendapati Manda hanya diam saja. Dia seolah menyadari sesuatu. Namun lelaki itu cuek saja dan langsung meninggalkan Manda. Tujuannya sekarang adalah teras. Tempat dia menghabiskan waktu dengan gerakan-gerakan kecil hingga melompat-lompat di tempat. Sedikit olahraga tapi rutin akan lebih baik, begitu pikirnya.
"Mas, nasi gorengnya sudah siap. Mau makan sekarang atau mandi dulu?" Manda muncul di pintu dan menatap Satriyo yang terengah-engah setelah berolahraga.
"Aku mandi dulu!"
Tanpa pamit atau sepatah kata pun, Satriyo meninggalkan Manda yang bengong lagi. Wanita itu merasa sikap sang suami berubah. Namun hati kecilnya memaksa untuk tidak berpikir buruk.
Sarapan siap, begitu juga penghuni rumahnya. Langit yang belum mandi dan masih terlihat kusut, serta Pelangi yang sudah siap dengan seragamnya. Sementara sang papi masih berganti pakaian setelah mandi.
"Abang mau nganterin Pelangi nggak?" tanya Pelangi menatap sang kakak yang masih terlihat mengantuk.
"Ehm, boleh."
"Tapi abang belum mandi!"
"Belum mandi aja udah ganteng, kok."
Pelangi cemberut dan melempar secuil kerupuk ke arah sang abang. Pertempuran kecil hampir terjadi andai Satriyo tidak segera muncul. Lelaki itu bergabung dengan kaus pendek dan celana oblong. Matanya fokua menatap ponsel.
"Mas nggak ke kampus?"
"Nggak!" jawab Satriyo tanpa menatap sang penanya. Langit dan Pelangi saling tatap melihat sikap papinya.
Sepanjang sarapan, keempat penghuni rumah saling diam. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu. Satriyo fokus ke layar ponsel sembari menyuap nasi goreng. Sementara Manda sesekali curi pandang ke arah sang suami yang terlihat sibuk. Langit dan Pelangi mencoba tak ambil pusing karena tahu sang papi pasti sibuk mengurus pekerjaannya.
Selepas sarapan, tanpa pamit Satriyo juga langsung meninggalkan meja makan. Meninggalkan anak dan istrinya yang bertanya-tanya. Tidak biasanya papi mereka bersikap begitu. Merasa tak mau ambil pusing, Manda meminta Langit mengantar Pelangi ke sekolah saja. Keduanya lantas berangkat.
"Pi, Pelangi sekolah dulu." Pelangi mengulurkan tangan berniat bersalaman, pamit.
"Ya, hati-hati," jawab Satriyo menerima uluran tangan Pelangi dan mata yang masih fokus pada ponsel. Langit hanya menghela napas panjang.
"Mas sibuk, ya?" tanya Manda duduk di samping sang suami. Satriyo hanya mengangguk.
"Urusan nilai?"
Satriyo mengangguk lagi.
"Masih banyak, ya?"
Satriyo menghela napas panjang dan menatap sang istri. "Kamu nggak mau ngapain gitu? Aku masih ada kerjaan!"
"Ehm, udah beres kok, Mas. Pelangi juga udah nyuci tadi."
"Ya kan biasanya kamu betah sibuk ngapain gitu."
"Ehm, kan memang harus banyak istirahat, Mas."
"Ya terserah lah!"
Manda hanya diam saat Satriyo kemudian berdiri dan meninggalkannya.
"Mas?" panggil Manda membuat Satriyo menghentikan langkah.
"Apa lagi?"
"Mas kenapa?"
"Kan udah kubilang, banyak kerjaan!"
Manda terdiam dan menunduk. Matanya mendadak berkaca-kaca. Semakin mendung saat menyadari jika langkah Satriyo semakin jauh. Terdengar pintu yang dibuka. Satriyo pasti sedang di kamar.
***
[Lagi libur kok BeTe?]
Satriyo tersenyum dan dengan cepat membalas pesan Janice.
[Nggak tau nih, liat Manda di rumah aja, jenuh aku]
[Kan dia emang selalu di rumah, Mas.]
[Iya, sih.]
[Makanya cari istri jangan yang cuma di rumah aja. Kayak aku dong, sibuk kuliah juga bisnis, hehe.]
[Iya, nih. Kamu hebat. Istri siapa, sih?]
Emot tertawa dan love membanjiri kolom chat Satriyo. Lelaki itu kegirangan dan berguling-guling di ranjang. Jantungnya berdebar seolah baru pertama merasakan jatuh cinta pada seseorang.
Saking asyiknya chat dengan Janice, Satriyo tidak menyadari jika Manda sudah berdiri di depan pintu, memperhatikannya. Wanita itu hanya diam dan perlahan keluar dari kamar ketika Satriyo semakin asyik dengan ponselnya.
[Aku kerja dulu, ya.]
Sebaris kalimat yang menjadi pemungkas chat mesra pasangan sejoli itu. Satriyo lantas terdiam dan manyun menelusuri isi chat-nya pagi itu. Dia menghela napas panjang dan meletakkan ponsel di atas bantal. Matanya lantas menerawang jauh. Hingga membentur sebingkai foto pernikahannya dengan Manda. Hatinya mendadak sendu.
"Maafin, Mas, Manda," ucapnya lirih.
Samar terdengar suara mesin penghalus bumbu. Satriyo lantas bangkit dan menuju sumber suara. Dilihatnya Manda tengah mengiris daging dan beberapa bumbu lain sembari menunggu bumbu halus. Satriyo ragu untuk mendekat. Hingga akhirnya Manda yang melihatnya terlebih dahulu. Mereka saling tatap. Namun kemudian Manda melengos. Satriyo tahu, Manda tengah menyembunyikan mata sembabnya.
"Kamu masak apa?" tanya Satriyo memeluk Manda dari belakang. Dia tahu Manda baru saja menangis dan itu pasti karena dia.
"Semur daging, Mas. Mas suka?"
Satriyo hanya mengangguk.
Untuk menebus rasa bersalahnya karena mengabaikan Manda, Satriyo lantas membantu Manda memasak. Canda tawa menghiasi acara masak mereka. Sesekali Satriyo menggoda sang istri, begitu juga sebaliknya. Saat itulah Langit pulang. Dia tersenyum dan merasa sejuk melihat maminya sebahagia itu. Pemuda itu lantas berlalu dan berniat mandi.
Saat menuju kamar, Langit melirik ponsel sang papi yang tengah dicas. Dia mengerutkan kening. Layar ponsel itu menyala, memperlihatkan notifikasi yang masuk. Lima panggilan tak terjawab dan tujuh pesan dari orang yang sama, Damar FISIP. Langit iseng menggeser layar ponsel dan kemudian terdiam ketiak muncul layar berkode.
"Sejak kapan papi mengunci ponselnya?"
....