Bab 1

Pria tampan itu menghentikan langkahnya, begitu mendengar suara keributan di lobi utama kantornya. Ia menyipitkan kedua matanya, begitu melihat sesosok perempuan berjilbab yang sedang berjongkok memunguti berkas yang berserakan dilantai.

"Sudah aku bilang, disini tidak ada lowongan pekerjaan! Apa kau tuli? Hanya lulusan SMA saja sudah berani melamar pekerjaan diperusahaan ini. Sudah Pak, seret saja wanita ini keluar," perintah seorang wanita dengan pakaian super ketat, kepada salah seorang security yang berjaga dilantai tersebut.

"Mbak, tolong, jangan usir saya. Saya hanya melamar pekerjaan disini, bukan mau membuat keributan. Saya bisa keluar sendiri dari tempat ini. Maaf kalau sudah mengganggu," ucap wanita tersebut dengan suara lembut.

"Baguslah kalau kamu sadar diri. Sudah cepat sana keluar," sahut wanita berpakaian seksi, sambil menarik tangan wanita berjilbab itu dengan kasar agar segera meninggalkan lobi tersebut.

"Hentikan!"

Sebuah suara bariton langsung mengundang perhatian semua orang yang ada di lobi tersebut.

Tidak terkecuali wanita dengan pakaian seksi yang sedang menarik tangan wanita berjilbab itu.

Wanita berpakaian seksi itu buru-buru melepaskan cekalan tangannya, begitu melihat siapa sosok pria yang sedang berjalan kearahnya. Sambil berpura-pura merapikan pakaiannya yang terlihat begitu sempit ditubuhnya, wanita itu tersenyum lalu membungkuk hormat.

"Ada apa ini? Mengapa kau berbuat kasar kepada wanita ini?" Tanya pria dengan suara bariton itu, serayak menatap tajam kearah wanita berpakaian seksi itu.

Sedangkan wanita berjilbab itu hanya diam, sambil menatap lurus kelantai.

"Maaf Pak Alex, wanita ini membuat keributan dengan memaksa untuk melamar kerja disini. Padahal sudah saya kasih tau baik-baik, malah dia tidak terima," jawab wanita berpakian seksi dengan name tag Selly tersebut.

Wanita berjilbab itu langsung menegakkan kepalanya, begitu mendengar perkataan Selly.

"Benarkah begitu?" Tanya pria berhidung mancung itu serayak menatap kearah wanita berjilbab.

"Maaf Pak, niat saya datang kesini hanya untuk melamar pekerjaan, bukan untuk membuat keributan," jawab wanita berjilbab itu dengan suara lembut.

"Bohong Pak! Wanita ini terus memaksa untuk meminta pekerjaan disini," tukas Selly dengan sengit.

"Diam! Saya tidak meminta kamu untuk berbicara," sahut Alex.

"Kamu ikut saya kelantai atas, biar kita lihat apa kamu pantas mendapatkan pekerjaan disini," ucap Alex kepada wanita berjilbab itu.

Wanita itu hanya mengangguk samar, tanpa berani menatap kearah Alex.

"Dan kamu! Saya tidak ingin melihat kamu berbuat seperti itu lagi. Kalau sampai kamu mengulanginya lagi, saya tidak akan segan memecat kamu, tanpa harus meminta persetujuan pak Arfa. Apa kamu paham?" Alex kembali menatap tajam kearah Selly.

"Ba-baik Pak. Saya paham," jawab Selly menunduk, dengan suara terbata-bata.

"Dan satu lagi, jangan pernah memakai pakaian kurang bahan seperti itu, menjijikan!" Ujar Alex, yang langsung membuat wajah Selly merah padam.

"Mari ikut saya," ucap Alex, lalu mengajak wanita berjilbab itu untuk mengikutinya masuk kedalam lift kusus, menuju kelantai 65, dimana ruang kerja sang tuan besar berada.

Semua pasang mata langsung melihat dengan tatapan heran dan juga iri kepada wanita berjilbab itu. Begitu Alex dan wanita itu masuk kedalam lift, semua karyawan yang ada dilantai itu langsung bergosip ria membicarakan kejadian yang baru saja berlangsung didepan mata mereka.

Sedangkan Selly, wanita itu menjadi bahan tertawaan teman-temannya yang lain, karena ucapan Alex soal pakaiannya yang kurang bahan.

"Tunggulah sebentar disini, aku akan masuk menyerahkan berkas lamaranmu kepada Pak Arfa," ucap Alex serayak meminta kepada wanita berjijbab itu untuk menunggu dibangku yang ada dilorong ruangan itu.

"Baik Pak," jawab wanita tersebut.

"Oh ya, siapa namamu?" tanya Alex sebelum sempat melangkahkan kakinya.

"Aleena Pak."

"Aleena. Nama yang indah," sahut Alex sambil melangkah menuju keruangan sang CEO.

Tidak berapa lama kemudian, Alex kembali keluar dari ruangan kerja pak Arfa, selaku CEO perusahaan Arhadita Company.

"Silahkan masuk, Pak Arfa sudah menunggu didalam," ucap Alex kepada Aleena.

"Apa tidak apa-apa saya masuk sendiri Pak? Sa-saya takut," cicit Aleena.

Alex langsung terkekeh mendengar ucapan Aleena.

"Dia tidak akan menggigitmu. Apa yang harus kau takutkan?" Sahut Alex.

"Masuklah, bukankah kau sedang memerlukan pekerjaan? Pak Arfa punya pekerjaan untukmu," lanjut Alex.

"Baiklah," sahut Aleena, kemudian melangkah menuju keruang kerja Arfa.

Tok tok tok

Aleena mengetuk pintu begitu sampai didepan ruang kerja Arfa.

"Masuk."

Terdengar sebuah suara yang memintanya untuk masuk.

Dengan langkah pelan Aleena memasuki ruangan dengan nuansa hitam abu-abu tersebut, dimana terlihat seorang pria sedang duduk dikursi kebesarannya, dengan posisi memunggunginya.

"Se-selamat pagi Pak," sapa Aleena dengan suara bergetar, gugup.

Dan begitu pria tersebut memutar kursi kebesarannya menghadap kearah Aleena, wanita itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Kau yang bernama Aleena?"

"I-iya Pak," jawab Aleena tanpa berani menegakkan kepalanya menatap Arfa.

"Pekerjaan apa yang kau inginkan?" Tanya Arfa, sambil tersenyum melihat kearah wanita berusia 25 tahun didepannya, yang masih setia menunduk.

"Sa-saya tidak tau Pak. Sa-saya hanya tamat SMA, mungkin tukang bersih-bersih barangkali," jawab Aleena, lirih.

"Bagaimana kalau kau menjadi sekretarisku?"

"Hah!"

Aleena berseru terkejut mendengar tawaran Arfa. Wanita itu langsung menegakkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Lho? Bu-bukannya kamu ...?"

Aleena semakin terkejut, begitu melihat siapa sosok pria tampan yang sedang menatap kearahnya dengan tersenyum.

"Kamu terkejut? Akhirnya kau sendiri yang datang kepadaku, setelah aku seperti putus asa, karena tidak menemukanmu dimana-mana," ucap Arfa, lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Aleena yang masih setia berdiri didepan meja kerjanya.

"Mengapa kau menghilang begitu saja? Apa kau sengaja menghindar dariku, hem?" Tanya Arfa, yang berdiri begitu dekat disamping Aleena, hingga wanita itu dapat mencium wangi tubuh pria tampan disampingnya.

"Bu-bukankah Mas sendiri yang pergi meninggalkan rumah tanpa menunggu kepulanganku?" Tanya Aleena, lirih.

"Hari itu aku menunggu kepulanganmu. Tapi menurut salah satu temanmu kau mengambil lembur hingga malam, karena ada hal yang begitu penting, aku terpaksa pulang sebelum kau kembali," jawab Arfa.

"Ya sudah. Itu berarti bukan salahku. Akupun terpaksa pindah kontrakan karena aku tidak mampu lagi membayar uang sewanya. Uang dan tabunganku habis untuk biaya berobat seseorang, hingga aku terpaksa pindah dan mencari kontrakan yang jauh lebih murah," sahut Aleena.

Arfa terkekeh pelan mendengar perkataan Aleena. Ia tau yang dimaksud oleh Aleena adalah dirinya.

"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu dulu?" Tanya Arfa.

"Aku dipecat dari tempat laundry itu Mas, karena sering datang terlambat. Rumah kontrakanku yang sekarang jaraknya lebih jauh lagi dari tempat kerjaku, makanya aku sering terlambat datang," Jawab Aleena.

"Kemarilah."

Arfa menggandeng tangan Aleena, lalu mengajak wanita itu untuk duduk disofa yang ada diruangan tersebut.

"Bekerjalah denganku," ucap Arfa, sambil menggenggam tangan Aleena dengan erat.

"Maaf Mas, lebih baik aku mencari pekerjaan ditempat lain saja. Sepertinya tempat ini kurang cocok dengan ijazahku," jawab Aleena, sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Arfa.

"Aku tidak butuh ijazahmu, aku hanya butuh dirimu," sahut Arfa tanpa mau melepaskan genggaman tangannya.

"Aku enggak bisa apa-apa Mas, aku ini cuma tamat SMA. Mas Arfa cari wanita lain saja ya," ucap Aleena dengan lembut.

"Anggap saja ini sebagai rasa trimakasihku, karna kau sudah menolong dan merawatku hingga sembuh. Bagaimana?" Tawar Arfa.

"Maaf Mas, aku melakukan semua itu dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balas budi, Mas Arfa tidak perlu repot-repot memberiku pekerjaan, karena aku sendiri tidak memiliki keahlian apa-apa," jawab Aleena dengan lembut.

"Kau yakin tidak memiliki keahlian apa-apa?" Tanya Arfa sambil mendekatkan wajahnya kearah wanita itu, yang membuat Aleena langsung beringsut kebelakang.

"Bukankah kau sangat pandai merawatku? Itu juga termasuk salah satu keahlian bukan?" 

Arfa semakin memajukan tubuhnya kearah Aleena, hingga membuat wanita itu terlihat gugup.

"Ma-mas Arfa mau apa?" 

"Aku hanya mau melihat wajahmu dari dekat," jawab Arfa, lalu tiba-tiba saja mengungkung tubuh Aleena yang bersandar kebelakang sofa.

"Ma-mas Arfa, sepertinya aku ingin kekamar mandi," cicit Aleena, beralasan.

"Aku tidak yakin," sahut Arfa sambil membelai wajah Aleena.

"Kalau sampai aku mengompol disofa ini, Mas Arfa tanggung jawab sendiri," ucap Aleena dengan wajah merona.

"Aku ingin melihatnya," sahut Arfa sambil terkekeh.

"Mas Arfa."

Aleena memukul dada pria itu dengan gemas.

"Baiklah, baiklah. Pergilah kekamar mandi dulu. Setelah itu kita lanjutkan lagi kencan kita," ucap Arfa, kemudian menegakkan tubuhnya.

Bab 2

Tiga bulan yang lalu.

"Aku sudah memerintahkah orang-orangku untuk berjaga ditempat yang sudah mereka rencanakan. Kau tidak perlu kuatir."

"Apa kau yakin dia akan baik-baik saja?" Tanya seorang wanita berjilbab, dengan mata menerawang.

"Mereka berencana akan membuatnya pingsan, baru kemudian membuangnya kejurang bersama dengan mobilnya."

Sejenak wanita berjilbab itu terdiam, ia kemudian menghela nafas panjang sebelum kemudian kembali membuka suara.

"Apa aku bisa? Dan mengapa mereka begitu kejam," ucapnya.

"Untuk itu kau harus benar-benar berhasil kali ini. Jangan mundur satu jengkal pun. Kami akan terus membantumu agar kau bisa mendapatkannya, kau tidak perlu takut. Kau pasti berhasil."

"Trima kasih Karina, sudah mau membantuku selama ini," ucap wanita berjilbab.

"Aku hanya menjalankan tugasku. Kau tidak perlu berterima kasih. Berterima kasihlah padanya nanti. Sekarang turunlah dan bersiap ditempatmu." Ujar wanita yang bernama Karina itu.

Malam semakin larut. Dinginnya angin malam disertai hujan rintik-rintik membuat suasana malam itu semakin sunyi dan sepi.

Sebuah mobil sport berwarna hitam terlihat menepi di sisi jalan yang cukup sepi dan lengang.

Entah apa yang terjadi. Sang pengendara turun, lalu memeriksa keadaan ban mobilnya.

Terlihat pengendara mobil sport yang ternyata seorang pria tampan itu menendang salah satu ban mobilnya yang terlihat kempes.

"Mengapa bisa kempes begini? Mana ditempat sepi seperti ini," gerutu pria tampan tersebut, sambil menyugar rambutnya kebelakang.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul beberapa orang pria bertubuh gempal dengan memakai topeng diwajahnya.

"Hahaha, akhirnya kita dapat mangsa besar juga," ucap salah seorang pria bertopeng dengan tato elang dilengannya, sambil terus mendekat kearah pengendara mobil sport itu.

"Hei, siapa kalian!" Pria tampan pengendara mobil sport itu langsung mundur beberapa langkah kebelakang.

"Habisi dia!" Perintah pria bertato elang.

Dan tanpa dapat dielakkan lagi, perkelahianpun terjadi. Satu lawan lima. Tapi sepertinya pria tampan pengendara mobil sport itu bukan pria biasa. Untuk beberapa saat lamanya pria itu mampu membuat kelima penjahat itu kewalahan. Hingga sebuah balok kayu menghantam kepalanya dari belakang, yang membuat pria tampan itu langsung tersungkur keaspal. Disusul kemudian dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat ditubuh pria tampan tersebut.

"Cepat, masukkan dia kedalam mobil, jangan lupa, ambil semua barang-barangnya!" Perintah pria bertato elang.

Keempat anak buahnya itu langsung bergegas menjalankan perintahnya.

"Hei, berhenti! Tolong!! Ada rampok! Ada begal!"

Tiba-tiba muncul seorang wanita berjilbab dengan membawa payung ditangannya. Dengan wajah mengenakan masker, berteriak sekuat tenaga meminta tolong.

"Tolooong! Tolooong!" 

Wanita berjilbab itu kembali berteriak.

"Bagaimana ini Bos?" Tanya salah seorang penjahat itu dengan nada panik.

"Singkirkan juga wanita sialan itu!" Perintah pria bertato.

Keempat pria bertopeng itu langsung mendekat kearah wanita berjilbab itu yang sudah terlihat ketakutan. Namun belum sempat mereka beraksi, tiba-tiba muncul sekelompok pengendara sepedah motor, yang langsung mengepung tempat tersebut.

"Habisi para begal itu, mereka sangat meresahkan!" Teriak seorang pengendara.

"Bos! Bagaimana ini?" Tanya salah satu anak buah pria bertato itu.

"Jumlah mereka terlalu banyak, ayo cabut!" Perintah pria bertato, lalu segera kabur meninggalkan tempat itu.

"Hei! Jangan kabur! Kejar mereka!!"

Beberapa pengendara motor itu langsung mengejar kearah rombongan pria bertopeng, yang ternyata telah menyiapkan sebuah mobil jeep tidak jauh dari tempat itu dan langsung kabur menggunakan mobil tersebut.

Sementara wanita berjilbab itu segera menghampiri pria tampan yang tergeletak tidak sadarkan diri, setelah beberapa saat tadi sempat mendengar suara teriakan wanita tersebut.

***** *****

Aroma sedap yang berasal dari dapur, membuat seorang pria tampan yang sejak semalam terus memejamkan kedua matanya, perlahan terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.

Pria tampan itu kemudian bangkit, lalu menyandarkan tubuhnya kebelakang.

"Aku ada dimana ini?" 

Pria itu memutar pandangan matanya, mengamati suasana kamar yang sangat asing baginya. Sejenak ia terdiam sambil mencoba mengingat kejadian apa yang menimpanya sehingga berakhir ditempat itu.

Setelah mengingat semua peristiwa yang menimpanya, pria tampan itu perlahan turun dari tempat tidur. Sambil terus memegangi kepalanya yang diperban, pria itu melangkah tertatih-tatih menuju kearah dapur, asal aroma sedap dan lezat itu berasal.

Pria itu menghentikan langkahnya didepan pintu dapur, begitu melihat sesosok wanita sedang asyik memasak sesuatu diatas kompor, hingga membuatnya menelan ludah beberapa kali.

Wanita yang sedang berdiri memunggunginya, mengenakan drees lengan pendek selutut, memperlihatkan kedua kakinya yang jenjang dan putih mulus. Rambutnya dicepol keatas dengan asal, menyisakan anak rambut yang berantakan, yang membuat leher jejangnya semakin terlihat indah dan menggoda.

Ekhem ekhem

Wanita itu langsung terlonjak kaget mendengar suara deheman dibelakangnya. Ia langsung membalikkan tubuhnya kebelakang.

"Eh, M-mas sudah sadar? Apa masih pusing? Apa masih sakit?" Tanya wanita cantik itu sambil mendekat kearah pria tampan yang justru menatapnya tanpa berkedip.

"Mas. Mas baik-baik saja?" Wanita itu melambaikan tangannya didepan wajah pria tersebut dengan wajah cemas.

Pria tampan itu langsung mengerjapkan matanya berulang kali, lalu mengalihkan pandangannya kesudut lain dengan wajah salah tingkah.

"A-aku haus," ucap pria tampan itu dengan nada gugup.

"Oh, i-iya. Nanti aku siapkan sekalian sarapan ya. Sekarang Mas kekamar mandi dulu cuci mukanya dulu ya," ujar wanita cantik itu sambil menuntun pria tampan itu kekamar mandi yang terletak didekat dapur tersebut.

"Mas bisa sendiri kan cuci mukanya?"

"A-aku tidak yakin," jawab pria tampan itu.

"Ya sudah, biar aku bantu ya," sahut wanita tersebut.

Wanita itu kemudian mengambil air digayung, kemudian membasuh wajah pria tampan itu menggunakan kedua telapak tangannya yang sudah dibasahi dengan air.

"Sikat gigi dulu ya Mas."

Pria tampan itu hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan matanya dari wajah wanita cantik didepannya.

Setelah selesai membantu pria itu mencuci wajah dan menyikat gigi, wanita itu kembali membawa pria tersebut keluar dari kamar mandi, lalu menyuruhnya duduk dikursi meja makan sederhana yang ada didapur.

"Minum dulu ya Mas," ucap wanita itu sambil membantu pria tersebut untuk meminum lemon tea hangat buatannya.

"Kau yang menyelamatkan aku malam itu?" Tanya pria tersebut setelah meminum lemon tea hangat, yang rasanya seolah tidak asing dilidahnya.

"Bukan hanya aku Mas, tapi juga beberapa warga yang kebetulan melintas ditempat itu," jawab wanita tersebut.

"Trima kasih," ucap pria tersebut.

"Sama-sama Mas."

"Siapa namamu?"

"Aleena Mas."

"Aku Arfa."

"Oh Mas Arfa. Mas Arfa sarapan dulu ya, setelah itu minum obatnya lagi," ucap Aleena, lalu mulai menyuapi Arfa bubur ayam buatannya.

"Bubur buatanmu sangat enak. Aku seperti tidak asing dengan rasanya," ucap Arfa sambil terus menelan suapan demi suapan bubur ayam dari tangan Aleena.

"Benarkah? Mungkin Mas Arfa pernah memakannya disuatu tempat yang kebetulan rasanya hampir sama," sahut Aleena sambil memberikan suapan terakhir kepada Arfa.

"Entahlah. Aku juga seperti tidak asing dengan tatapan matamu," gumam Arfa.

"Oh ya? Tapi hanya aku satu-satunya wanita yang memiliki tatapan mata seperti ini. Lalu dimana Mas Arfa pernah melihatnya?" 

"Entahlah," cicit Arfa, seperti orang bingung.

"Ya sudah, tidak perlu memaksa untuk mengingatnya. Sekarang Mas Arfa minum obatnya dulu ya, biar cepat sembuh," ucap Aleena dengan lembut, lalu kembali membantu Arfa untuk meminum obat.

"Kau tinggal sendiri disini?" Tanya Arfa.

"Iya, sebelum aku membawa Mas Arfa pulang kerumah," jawab Aleena dengan tersenyum lembut.

"Apa kau keberatan kalau aku tetap tinggal disini sampai sembuh?" Tanya Arfa dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tentu saja tidak. Aku justru senang bisa merawat Mas Arfa sampai sembuh," jawab Aleena dengan lembut.

"Kau sudah punya suami? Atau pacar?"

"Pacar? Aku tidak punya pacar. Suami? Aku sudah sangat lama berpisah dengan suamiku. Tapi sekarang aku harus merawat pria asing seperti suamiku sendiri," jawab Aleena sambil tertawa pelan.

Empat hari sudah Arfa tinggal bersama Aleena. Wanita itu dengan telaten dan penuh kesabaran merawat dirinya. Bahkan wanita itu seolah tau dengan kebiasaan Arfa, makanan kesukaan Arfa, hingga ukuran  pakaian dalam pria tersebut.

"Kau sedang memasak apa?" Tanya Arfa, yang tiba-tiba saja sudah berada dibelakang punggung Aleena.

"Mas Arfa bikin kaget saja. Ini, masak semur ayam untuk makan malam kita," jawab Aleena, lalu kembali fokus mengaduk masakannya.

"Aku langsung lapar jadinya," ucap Arfa, lalu melingkarkan kedua tangannya diperut Aleena yang rata, meletakkan dagunya diatas bahu wanita tersebut.

Tubuh Aleena seketika membeku. Jantungnya berdebar tidak menentu. Sekuat tenaga wanita itu mencoba untuk tetap tenang, dengan terus melanjutkan aktivitas memasaknya.

"Terus ini kenapa tangan Mas Arfa main peluk-peluk segala? Bikin enggak fokus saja," ucap Aleena setenang mungkin.

"Terus tangan kamu ini sampai gemetar begini kenapa Aleena?" Tanya Arfa berbisik ditelinga Aleena. Pria itu lalu meraih tangan Aleena, membantu memegangi spatula lalu mengaduk semur ayam diatas wajan.

"Mas Arfa yang membuatnya gemetar," cicit Aleena.

"Kau yang membuatku berdebar," bisik Arfa.

"Sudah sembuh kan? Kalau sudah pulang sana, anak istrimu menunggumu dirumah," ucap Aleena, mencoba mengabaikan Arfa yang semakin erat memeluk tubuhnya dari belakang.

"Aku ingin menikmati suasana seperti pasangan suami istri denganmu," bisik Arfa.

"Ngawur! Tak suruh nikahin aku nanti baru tau rasa," sahut Aleena sambil menepuk lengan Arfa yang melingkar erat diperutnya.

"Kau pikir aku takut?"

"Aku mau jadi yang pertama dan yang terakhir. Bukan yang pertama terus diduain, apalagi jadi yang kedua. Berani? Orang tampang Mas Arfa tampang suami takut istri gitu, gaya," sahut Aleena, menahan senyum.

"Apa kau bilang? Aku? Suami takut istri?" 

Arfa lalu mematikan api kompor yang masih menyala. Pria itu kemudian membalikkan tubuh Aleena menghadap kearahnya, sambil menarik tubuh wanita itu lalu memepetnya kemeja makan.

"Coba bilang sekali lagi," tuntut Arfa.

"Yang mana Mas?" Aleena memasang wajah bingung.

"Kau bilang aku suami apa tadi?"

"Ooh, i-itu."

"Ayo katakan," desak Arfa.

"Ma-mas Arfa suami yang tampan, penyayang, baik hati, setia, lemah lembut dan ... "

Heemmpptt

Arfa membungkam mulut Aleena dengan mendaratkan sebuah ciuman lembut dibibir wanita itu. Bibir yang sejak kemarin sudah membuatnya begitu tergoda.

Bab 3

Aaahhk!

Arfa langsung berlari masuk kedalam kamar yang ada diruang kerjanya, begitu mendengar suara teriakan Aleena dari dalam kamar mandi dikamar tersebut.

"Ada apa?" Tanya Arfa dengan wajah cemas.

"Basah," cicit Aleena dengan wajah sedih.

"Kenapa sampai bisa basah begitu? Apa kau sengaja menggondaku? Hem?"

"Ck. Kalau aku mau aku sudah melakukannya selama Mas Arfa tinggal dirumahku. Bukankah Mas Arfa sendiri yang sampai bosan merayuku setiap hari?" Jawab Aleena dengan bibir mengerucut.

"Kondisikan bibirmu Aleena. Atau aku akan menggigitnya seperti waktu itu," ucap Arfa dengan memainkan alisnya naik turun.

"Enggak usah ngadi-ngadi kamu Mas. Enggak lihat apa bajuku basah begini?" Gerutu Aleena.

"Kemarilah," ucap Arfa, lalu menarik tangan Aleena untuk keluar dari kamar mandi.

"Buka bajumu, aku akan menyuruh seseorang membawanya ke laundry. Kau pakailah bajuku dulu," ucap Arfa, lalu meraih sebuah kemeja berwarna putih yang tergantung didalam lemari pakaian.

"Besar Mas," ucap Aleena sambil menerima kemeja tersebut.

"Tak apa. Kau justru akan terlihat seksi jika memakinya," sahut Arfa sambil terkekeh.

"Dih, mesum saja mikirnya. Seperti sudah lama tidak mendapat asupan gizi dari istrimu," sahut Aleena.

"Aku hanya mau asupan gizi darimu."

"Enggak usah kumat mendadak. Heran deh," cicit Aleena dengan wajah kesal, yang justru membuat Arfa terkekeh melihatnya.

"Mau aku bantu membuka pakaianmu, Aleena?"

"Ngawur. Sudah sana keluar," usir Aleena dengan gusar.

"Aku akan tetap disini menemanimu. Bukankah kau bilang, jika hanya aku satu-satunya lelaki yang berhak melihat tubuhmu?"

"Haiish. Kalau sampai ngeces enggak tanggung jawab ya," ujar Aleena.

"Aku bisa mencari solusi untuk mengatasinya," jawab Arfa dengan tenang.

"Terserah," sahut Aleena.

Wanita itu kemudian mulai melepas jilbabnya yang basah dibagian dada, lalu merapikan ikatan rambutnya, kemudian menyepolnya keatas dengan asal. Leher jenjang itu semakin terlihat menggoda dimata Arfa.

Pria itu duduk disisi tempat tidur sambil memandangi Aleena tanpa berkedip sama sekali.

Perlahan Aleena mulai menurunkan risleting dress panjangnya yang ada dibagian belakang. Namun naas, risleting itu seperti menyangkut begitu saja saat sudah dibagian tengah.

"Apa kau perlu bantuan?" Tanya Arfa ketika melihat Aleena kesusahan membuka risleting dres yang dikenakannya.

"Tidak perlu, aku bisa mencobanya lagi," jawab Aleena tanpa melihat kearah Arfa.

Wanita itu kemudian kembali mencoba menurunkan risleting yang macet tersebut dengan sekuat tenaga. Tapi sampai ia merasa lelah, risleting itu tidak juga mau bergeser.

"Kau sangat keras kepala sekali," ucap Arfa yang entah sejak kapan sudah berdiri begitu dekat dibelakang Aleena, hingga hembusan nafasnya yang hangat bisa dirasakan oleh Aleena.

Pria itu lalu memeriksa risleting tersebut, kemudian melepaskan kain bagian dalam yang tersangkut, hingga membuat risleting tersebut macet.

Arfa perlahan menurunkan risleting tersebut hingga sampai batas penghabisan. Dengan gerakan lembut pria itu menurunkan dres Aleena hingga memperlihatkan punggung dan bahu mulus milik wanita itu.

Arfa menelan ludahnya dengan kasar. Telapak tangannya yang besar itu perlahan mengusap punggung mulus milik Aleena, seiring dengan meluncurnya dres yang dikenakan wanita itu kebawah, hingga teronggok dilantai begitu saja.

"Mengapa kau tidak pernah mau menerimaku, Aleena," bisik Arfa, sambil mengendus wangi tubuh wanita itu.

"Aku tidak mau menjadi yang kedua."

"Aku akan menjadikanmu yang pertama," sahut Arfa ditelinga Aleena.

"Dan aku tidak mau ada yang kedua."

"Aku akan menjadikanmu yang pertama dan yang terakhir," sahut Arfa berbisik.

"Lalu istri Mas Arfa yang dirumah mau dikemanain?" Tanya Aleena, sambil membelai rahang pria tampan itu.

"Istri? Aku tidak pernah merasa menikah dengannya. Aku hanya perlu membuangnya kelaut," jawab Arfa, yang mulai mencium leher jenjang milik Aleena.

"Ngawur," ucap Aleena sambil memukulkan tangannya kebelakang, yang tidak sengaja justru mengenai milik Arfa hingga membuat pria itu mengaduh sambil meringis kesakitan.

"Uppss, sorry Mas, aku tidak sengaja," ucap Aleena sambil membalikkan tubuh, dan menatap Arfa dengan wajah iba.

"Kau menyakiti milikku," cicit Arfa, lalu menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur.

"Maaf Mas, aku tidak sengaja," ucap Aleena, lalu mengusap-ngusap milik Arfa dengan lembut, seakan tidak menyadari efek dari tindakannya tersebut.

"Dan kau sekarang justru membuatnya terbangun," cicit Arfa.

Aleena seketika menarik tangannya dari atas bagian tubuh Arfa itu. Sekilas ia dapat melihat jika ada sesuatu yang menonjol dibalik celana yang dikenakan Arfa.

"Ma-maaf, aku tidak bermaksud begitu," cicit Aleena dengan wajah merona.

"Aku tidak mau tau. Kau harus bertanggung jawab," ucap Arfa, lalu dengan cepat menarik tubuh Aleena hingga terjatuh diatas tempat tidur, kemudian mengungkung tubuh wanita itu dibawah tubuhnya.

"Ma-mas Arfa mau apa? Jangan macam-macam ya," ucap Aleena dengan suara lirih.

"Aku tidak macam-macam. Aku hanya menginginkanmu," bisik Arfa yang membuat bulu-bulu halus ditubuh Aleena meremang.

Arfa kemudian melumat bibir wanita itu dengan lembut. Aleena yang terus meronta akhirnya tidak berdaya begitu Arfa tidak mau melepaskan pagutan dibibirnya. Wanita itu justru ikut terlena, dan mulai membalas permainan Arfa dibibirnya.

Ciuman panas dan liar itu perlahan turun kebawah, menjelajah leher jenjang nan putih mulus milik Aleena. Mencecapnya dalam, hingga meninggalkan bercak merah disana.

"Ma-mas hentikan," pinta Aleena disela-sela nafasnya yang mulai tersengal-sengal. Namun Arfa abai, pria itu justru semakin turun kebawah, dan mulai bermain diatas bukit kembar miliknya, yang masih terbungkus bra berwarna hitam.

"Maas, aahh, aku mohon hentikan." Aleena kemudian mendorong tubuh Arfa kesamping, lalu cepat-cepat bangkit dari posisi tidurnya.

"Aku menginginkanmu Aleena, kau membuatku gila," ujar Arfa dengan nafas memburu.

"Aku lapar. Bahkan aku belum sempat sarapan saat berangkat melamar pekerjaan dimana-mana."

Arfa seketika menoleh kearah wanita yang duduk disampingnya. Pria itu lalu bangkit dan duduk disamping wanita itu.

"Kau lapar? Mengapa kau tidak bilang dari tadi, hem?" Tanya Arfa sambil mengusap bahu Aleena dengan lembut. Seketika saja hasratnya menguar begitu saja, ketika tau jika wanita yang sudah membuatnya tergila-gila itu sedang menahan lapar.

"Aku malu," cicit Aleena.

"Mengapa mesti malu. Bukankah sudah aku katakan, aku adalah milikmu, kau bebas minta apa saja padaku, walau aku tau kau selalu saja menolakku," sahut Arfa sambil merangkul tubuh Aleena kedalam pelukannya.

"Pakailah baju dulu, aku akan mencarikan makanan untukmu, sekalian membawa pakaianmu ke laundry," ucap Arfa, lalu memakaikan kemeja besarnya ketubuh Aleena.

"Kau ingin makan apa?" Tanya Arfa begitu selesai memakaikan baju ketubuh Aleena.

"Aku ingin makan makanan kesukaan Mas Arfa," jawab Aleena dengan tersenyum lembut.

"Baiklah. Kau istirahatlah dulu dikamar ini. Jangan pernah keluar dari ruangan ini," ucap Arfa berpesan.

"Baik Mas Arfa," sahut Aleena dengan suara lembut.

"Aku tinggal dulu, kau boleh bermain game yang ada diponselku jika kau bosan. Aku sudah mendownload permainan kesukaanmu," ucap Arfa, lalu mencium kening Aleena sebelum keluar dari ruangan itu.

Begitu Arfa menghilang dibalik pintu, Aleena tersenyum penuh arti sambil berkata seorang diri.

"Sekarang saatnya permainan dimulai."

Aleena lalu mengambil tas kecil miliknya, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Wanita itu kemudian memasang sebuah alat komunikasi ketelinganya yang langsung terhubung dengan seseorang disebrang sana.

[Aku sudah berhasil masuk] kata Aleena kepada seseorang yang sedang berkomunikasi dengannnya.

[Bagus. Sebentar lagi wanita itu akan datang, jadi bersiaplah]

[Apa aku harus diam saja jika ia menyakitiku?] tanya Aleena.

[Dia akan menerima balasannya langsung jika sampai ia menyakitimu, aku yakin itu. Kau tidak perlu cemas. Bukankah aku sudah melatihmu dengan baik]

[Aku hanya sedikit berdebar dan cemas. Apa kau bisa memastikan jika mas Arfa akan datang tepat waktu?] Tanya Aleena.

[Tentu saja. Kau tidak perlu takut]

[Aku hanya —]

[Kau harus menjadi wanita kuat agar semua keinginanmu tercapai. Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi wanita lemah seperti dulu] potong seseorang disebrang sana dengan cepat.

[Baiklah] sahut Aleena.

[Beristirahatlah]

Aleena lalu mematikan alat komunikasi itu, kemudian melepasnya dari telinga dan kembali menyimpannya.

Wanita itu kemudian merebahkan diri diatas kasur latex yang empuk itu, lalu membuka ponsel milik Arfa yang sengaja ditinggal untuknya. Dan hanya dirinya yang tau sandi dari benda pipih tersebut.

Sebuah senyum terbit dibibirnya, begitu melihat jika wallpaper diponsel Arfa adalah foto dirinya yang sedang dipeluk Arfa dari belakang, dengan senyum bahagia menghiasi wajah keduanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED