"Kok bisa ya, acara seperti itu bisa sampai berkenalan dengan perempuan cantik dan ceritanya dibawa ke rumah."
Semua yang hadir menatap wajah Istri Uzair.
"Acara yang dimaksud itu acara seperti apa?."
"Terus cerita perempuannya seperti apa?."
"Iya, mbak ini bikin kita jadi makin penasaran saja.
"Kita kan nggak tahu pokok ceritanya."
"Masa suami-suami kalian nggak cerita. Kalau suamiku, dia pasti akan bercerita setiap dia keluar dan pulang dari mana."
"Berbeda-beda Mbak, ada yang tipe pencerita dan ada juga yang tidak."
"Iya juga sih, ya cuman kalau suamiku itu dia pasti bercerita. Karena kesepakatannya sebelum dia terpilih, dia harus bercerita tentang apapun kepada saya. Jika tidak saya akan lebih rela dia berhenti dari semua jabatannya daripada kami harus bermasalah dengan rumah tangga kami. Kami sudah sepakat dengan kesepakatan itu. Itu sebabnya dia tidak mau kalau dia akhirnya menghianati kesepakatan yang sudah kami buat bersama."
"Enak sekali ya. Bisa ada kesepakatan-kesepakatan segala macam."
"Iya dong. Kita ini perempuan. Kita harus pintar. Jangan sampai kita nanti justru dimanfaatkan oleh laki-laki."
"Buat apa punya uang banyak, rumah mewah tapi kalau kenyataannya suami kita berhianat. Malah akan membikin sakit nantinya."
"Bener juga sih Mbak tapi kalau Mas Narto dia tidak akan mungkin mau diajak bersepakat seperti itu. Bisa-bisa malah kami bercerai."
"Akan jauh lebih baik bercerai daripada harus menanggung derita di rumah kita sendiri. Setiap hari kita menyiapkan makannya, tidurnya, pakaiannya, mencintainya dan menyayanginya. Ternyata suami kita malah berkhianat dan tidak jujur terhadap kita.
Terus untuk apa?"
"Iya nggak sih," kata istri Uzair meminta persetujuan teman-temannya yang ada di Kafe tersebut.
"Kenapa hanya diam dan memperhatikan saja sambil tersenyum sendiri begitu?."
"Nggak pa pa."
"Dia tidak terlalu banyak bicara. Dia hanya akan menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya ataupun permintaan akan komentar yang disampaikan untuknya. Selain itu dia tidak akan mungkin bercerita."
"Diantara kita ini yang paling sukses berkarir itu kan sebenarnya Bu Gava."
"Kira-kira, bagaimana rumah tangga Bu Gava?. Terganggu tidak dengan aktivitas suaminya setelah dia terpilih menjadi wakil rakyat?," tanya Bu Narto.
Bu Narto adalah perempuan yang paling centil, paling suka sewot dan juga paling gaul di antara teman-teman sesama istri anggota legislatif.
Gava hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya.
"Pertanyaan ini buat saya ya?" tanya Gava kepada yang lainnya sambil matanya yang sayu itu menatap ke kanan dan ke kiri.
Ibu-ibu yang lainnya justru tersenyum. Mereka sepertinya sudah sangat mengenal bagaimana keseharian Gava.
"Iya Bu Gava. Kami menanyakan tentang rumah tangga njenengan bagaimana?."
"Tidak ada yang istimewa dalam rumah tangga saya. Semuanya biasa-biasa saja. Suami saya juga masih pulang ke rumah. Masih baik. Masih memberikan gajinya kepada saya dan juga masih tetap tersenyum setiap pagi. Saya pikir itu sudah cukup. Itu sudah jadi bagian dari rasa syukur saya memiliki Mas Rasyid sebagai suami."
"Nah itu yang benar. Tidak usah curiga yang berlebihan terhadap suami kita. Biarkan saja setiap orang itu memiliki ujian hidupnya masing-masing. Apa yang terjadi pada orang lain kita jadikan kaca dalam kehidupan kita. Mungkin bisa kita mengambil pengalaman dan pelajaran tapi tidak sepenuhnya semuanya sama kan?."
Gava mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju pada apa yang disampaikan oleh Ibu Ani.
"Tapi sebenarnya bisa juga didengarkan cerita dari Bu Uzair tadi."
"Ada cerita apa dari suaminya Bu Uzair yang mungkin kita tidak tahu kan?."
"Iya Bu Uzair. Ceritanya tentang apa sih. Cerita dong ke kita!"
"Begini. Kemarin waktu ada acara kan mereka menginap di hotel. Nah di sana itu, ternyata pelayanannya luar biasa. Orangnya baik-baik, resepsionisnya ramah-ramah. Manajernya cantik, Ownernya juga cantik. Sampai-sampai saat berbelanja ke pusat perbelanjaan dan oleh-oleh, ownernya sama manajernya yang cewek itu juga ikut sama rombongannya suami-suami kita."
"Masak Bu seperti itu. Kok bisa sampai ikut begitu. Ceritanya bagaimana?"
"Katanya, itu bagian dari pelayanan. Tapi tidak tahu lagi. Saya juga sempat protes kepada suami saya."
"Saya tanya kepada suami,
"Kok kamu nggak protes kalau perempuan itu ikut di dalam bis
rombongan?"
Suami saya langsung bilang, "Saya mau protes bagaimana wong yang lain setuju," katanya begitu."
"Susah juga, kan?."
"Kalau begitu suami saya juga setuju dong perempuan itu ikut masuk di dalam rombongan bus yang ada. Keterlaluan."
"Berarti suami saya juga setuju." Suara ibu yang lain.
"Kita harus tanya nih, cerita yang benar bagaimana? Cerita tentang acara di Hotel dari Bu Uzair ini harus jadi catatan buat kita," kata Bu Narto. Sepertinya dia sangat emosi.
"Sudah, tidak usah ditanggapi terlalu berlebihan. Bisa saja itu memang bagian dari pelayanan. Toh suami kita juga tidak kembali ke hotel itu lagi kan?"
"Tidak bisa begitu dong Bu, kalau mereka akhirnya bertukar nomor Whatsapp lalu mereka janjian bagaimana?. Kan kita tidak tahu?"
Gava dan Bu Ani lantas tersenyum. Gava kemudian berkata,
"Kalau janjian dan bertukar nomor whastsapp itu tidak harus dengan Owner hotel. Dengan perempuan manapun selama suami kita mau melakukannya, dia pasti akan melakukannya. Tetapi kalau suami kita sudah bersepakat untuk tidak melakukannya, ya dia tidak akan melakukannya begitu kan Bu?"
"Tapi ini beda lho, Bu Gava."
Gava mengernyitkan dahinya. Dia bingung mendengar apa yang disampaikan oleh Bu Uzair.
"Bedanya di mana Bu?"
"Ini perempuan cantik sekali dan ramah sekali kepada suami kita. Dia sampai berani berfoto bergandengan tangan segala. Yang lebih herannya lagi, suami-suami kita itu tidak menolak berfoto dengan dia."
"Berarti suami Bu Uzair juga berfoto dengan perempuan itu?"
"Kalau suami saya, saya tidak melihat fotonya. Entah dia berfoto atau tidak saya tidak tahu. Mungkin dia berfoto tapi kemudian dihapus saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, bapak-bapak yang lain berfoto dengan perempuan itu."
"Suami saya juga?" tanya Bu Narto lantas menyela.
"Ya, iyalah. Suaminya Bu Narto itu yang paling top fotonya."
"Nanti ya kalau suami saya pulang, Saya akan kirimkan fotonya ke Bu Narto. Saya juga akan kirimkan fotonya ke grup. Biar ibu-ibu semuanya tahu kebenarannya nya "
Mereka terus berbincang-bincang. Menjelang siang, mereka memutuskan untuk pulang. Mereka mencium pipi kanan dan pipi kiri sebagai ciri khas perpisahan para istri Wakil Rakyat itu usai melakukan pertemuan-pertemuan dan perbincangan-perbincangan santai. Mereka juga saling berjabat tangan kemudian mereka memasuki mobil mewah mereka masing-masing. Tidak ada dari satu pun istri anggota legislatif itu yang tidak menggunakan mobil mewah. Semuanya menggunakan mobil mewah mereka masing-masing.
Gava menjabat tangan Bu Ani juga Bu Uzair,
"Saya permisi dulu ya, karena ada yang harus saya kerjakan kan."
"Bu, kalau boleh saya ingin berbicara tapi saya mohon maaf kalau saya salah," kata Bu Uzair kepada Gava.
Gava lantas mendekat.
"Boleh Bu, mau berbicara apa?" kata Gava kepada Bu Uzair.
"Saya hanya ingin mengatakan, sebaiknya ibu berhati-hati dengan Pak Rasyid."
Gava lantas bingung, dia sedikit bertanya,
"Hati-hati, maksudnya apa Bu?"
"Iya hati-hati saja. Pak Rasyid itu kan tampan. Uangnya banyak selain jadi Wakil Rakyat juga pengusaha. Jadi kemungkinan besar dia didekati oleh perempuan-perempuan itu ada, Bu."
Gava lantas terdiam. Dia sepertinya sedang melamun sampai akhirnya lengan Bu Ani menggenggam jemari tangannya.
Lalu Bu Ani berkata, "Bu Gava sebaiknya segera pulang, katanya ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Jadi sebaik segera pulang saja."
Gava mengemudikan mobilnya menuju ke arah kantornya, di dalam mobil dia berfikir keras tentang apa yang disampaikan oleh Bu Uzair.
Apa mungkin suaminya, Rasyid berani melakukan hal-hal seperti yang dikatakan oleh Bu Uzair.
Bukankah selama ini Rasyid adalah orang yang taat beragama, apa mungkin dia berani melakukan hal itu?.
Gavs menjadi resah, bisa saja Rasyid berada dalam godaan perempuan yang agresif, cantik, percaya diri dan bisa membuat dia terpesona.
Selama ini kehidupan rumah tangga Gava memang baik-baik saja tetapi mungkin saja hal itu terjadi.
Ah....Gava menjadi resah, dia bimbang bukan kepalang, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang hingga kemudian dia sampai di kantornya.
Gava memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan, dia tidak langsung turun tetapi mencoba menelpon Rasyid.
Dia coba menghubungi Rasyid melalui panggilan video.
Satu panggilan tidak terjawab.
Gava mencobanya lagi,
dua panggilan juga tidak terjawab, Gava masih mencobanya lagi, sampai di panggilan ketiga pun tidak terjawab.
Kegalauan Gava semakin memuncak, dia bingung sekali apa yang sedang dilakukan Rasyid saat ini, apa mungkin Rasyid selingkuh, seperti apa yang diisyaratkan oleh Bu Uzair.
Gava menarik nafas panjang. "Bila memang kenyataan itu terjadi lantas apa yang akan aku lakukan?, apakah mungkin aku akan berdebat panjang dengan Rasyid tentang hal ini?.
Aku akan sangat malu sekali memperebutkan laki-laki, untuk apa?, bukankah kita punya kesempatan untuk hidup tenang dan bahagia?."
Gava diam, dia enggan untuk turun dari mobilnya sampai kemudian notifikasi grup para Istri Wakil Rakyat pun berbunyi, beberapa foto dikirim ke sana tampak foto bapak-bapak yang sedang tersenyum bergandengan tangan dengan owner Hotel.
Mungkin fotonya akan tampak biasa-biasa saja jika tanpa dibumbui kalimat yang sudah disampaikan oleh Bu Uzair karena bumbu kalimat itu akhirnya foto-foto yang tampak hari ini menjadi sesuatu yang meresahkan memang.
Tak berapa lama. . muncul panggilan dari Rasyid. Serta merta Gava menerimanya.
"Assalamualaikum . ."
"Ada apa sayang, tumben telepon?."
"Waalaikumussalam, tidak ada apa-apa Mas, hanya ingin tahu kabarmu hari ini bagaimana?."
Rasyid tersenyum sambil tawanya meledak "tumben sekali kamu menanyakan kabarku pagi-pagi begini."
"Memangnya nggak boleh ya Mas, aku nanya kabarmu?."
"Boleh dong. . . kenapa jadi tidak boleh, boleh dong, kamu itu kan pemilik hatiku kamu boleh melakukan apapun terhadap ku.
Hanya pagi-pagi begini tidak biasanya, kita kan selalu bertemu di rumah. Sebenarnya ada apa?."
"Ini sudah bukan pagi Mas, ini sudah siang, sampai perputaran waktu saja kamu lupa tumben juga."
"Loh ada orang bicara kok malah sewot. Kabarku baik, aku sedang di kantor. Oh iya tadi katanya mau video call ya. Sebentar ya aku alihkan video call."
Rasyid lantas mengubah panggilannya menuju ke panggilan video, tampak dia sedang duduk di dalam kantornya, di ruangan itu Rasyid tersenyum sangat bahagia.
Rasyid kemudian meledek Gava dengan berkata "aku suka kalau kamu kangen, kangen saja terus yang lebih sering dari ini juga nggak apa-apa aku juga sering kok kangen sama kamu hanya aku malu mau mengatakannya padamu."
Gava tersenyum lagi, "bisa-bisanya kamu berkata seperti itu, bilang saja kok malu."
"Kamu juga malu kan kalau mau ngomong kangen sama aku, tumben tumbennya juga hari ini kamu telepon dan menanyakan kabarku, aku sepertinya mendapatkan kejutan durian runtuh hari ini."
"Ya sudah jangan bicara terus, sudah dulu ya aku mau masuk ke kantor. Aku belum masuk nih aku masih ada di tempat parkir."
"Iya Tuan Putri silakan masuk ke kantor semoga pekerjaannya hari ini lancar ya." kata Rasyid kepada Gava.
Gava lantas menambahkan. "Jangan lupa pulang tepat waktu, aku ingin makan malam bersama hari ini."
"Iya Sayang, aku akan pulang tepat waktu kamu mau nitip apa?, mau aku belikan sesuatu?."
"Enggak. .enggak usah, terima kasih, yang penting makan malam di rumah saja, aku akan minta Mbak Tin untuk membikinkan makanan kesukaan Mas Rasyid."
"Siap Putri cantikku. . hati-hati ya. . jaga diri baik-baik, jangan lupa jangan banyak senyum kepada laki-laki karena aku tidak mau bertanggung jawab atas senyum itu di akhirat nanti."
"Kamu juga Mas, jangan banyak senyum terhadap perempuan, terlebih lagi kalau misalnya kamu sedang booking kamar hotel untuk kegiatan-kegiatan kantor, enggak usah pakai kenalan dengan Owner Hotel,Manager Hotel,resepsionis Hotel. Apalagi sampai foto bersama."
Di seberang sana tampak Rasyid tertawa terbahak-bahak. Dia lantas berkata.
"Pasti ada yang menyebarkan kabar buruk ini rupanya, pasti ibu-ibu itu."
"Sudahlah enggak usah dibahas. Aku males ngomongin itu yang penting aku minta sama kamu jangan sampai kamu melakukan hal-hal yang dilarang agama .Mas jangan takut terhadap ku, takut saja kepada Tuhan. Tuhan itu Maha baik tapi Tuhan tidak mau kalau kita melakukan hal-hal buruk yang bertentangan dengan agama."
"Iya sayang. . Insya Allah siap, akan aku lakukan, kamu juga bantu aku dengan doa ya supaya tidak ada godaan yang mendekat dan andai pun ada, doakan aku dijadikan Tuhan sebagai laki-laki yang kuat."
Gava manggut-manggut sambil bertukar senyum, mereka lantas saling melambaikan tangan dari tempat masing-masing.
Gava bahagia ternyata suaminya, Rasyid masih baik-baik saja, dia masih menghubungi kembali ketika tidak dapat mengangkat panggilan video yang tadi dilakukan oleh Gava.
Dalam percakapan itu Rasyid juga tampak ceria. Rasyid tidak merasa terganggu dengan telepon yang disampaikan oleh Gava dia begitu bahagia artinya tidak ada hal-hal yang bisa membuat Gava curiga, semuanya dalam kondisi yang stabil dan baik-baik saja.
Gava lantas memutuskan untuk turun dari mobilnya, sudah waktunya dia melakukan pekerjaannya kembali tidak terlibat dengan urusan emosi dan perasaan meskipun memang mempertimbangkan emosi dan perasaan itu terkadang ada perlunya juga tetapi tidak harus selalu begitu.
Gava menutup mobilnya lalu melenggangkan kaki dan tangannya menuju ke kantor tempat ia bekerja.
"Selamat pagi Bu . .selamat pagi bu. . sapa beberapa karyawan yang menemui dirinya. Gava lantas melirik ke jam tangan yang ada di tangannya, jam tangan Rolex itu menunjukkan bahwa saat ini pukul 12.15 tapi kenapa semua orang mengucapkan selamat pagi padanya bahkan Rasyid tadi juga mengatakan selamat pagi kepada Gava "apa jam tanganku yang salah?."
"Sebentar . .sebentar ini sudah siang kan kenapa kalian mengucapkan selamat pagi?."
Mereka lantas menoleh ke arah jam dinding dan benar di jam dinding itu menunjukkan pukul 12.15 artinya memang hari sudah siang.
"Iya Bu sekarang memang sudah siang tetapi kan semangatnya masih tetap pagi Bu."
"Oh begitu ya oke deh, oke."
Gava tersenyum dengan sangat bahagia dia memasuki ruangannya lantas meletakkan tas yang dari tadi dia pegang dia ingin melanjutkan pekerjaannya kali ini hatinya tenang kegalauan yang tadi menggunung itu sudah hilang semoga saja kegalauan itu tidak pernah datang, dia selalu berharap agar rumah tangganya baik-baik saja seperti juga Ayah dan Bundanya yang tetap selalu setia, sampai hari ini tidak ada pertengkaran di antara mereka andaipun ada semuanya bisa mereka selesaikan dengan sangat sempurna dan paripurna.
.
Pelacur3
Kekhawatiran
Gava telah tiba di rumah. Dia mengganti pakaiannya dengan gaun yang sangat indah. Kulit putihnya tampak terlihat sangat jelas.
Dia ingin mempersiapkan makan malam yang indah untuk Rasyid suaminya hari ini. Rasyid janji akan pulang lebih cepat dan menemaninya makan malam berdua. Memang hanya makan malam sederhana di rumahnya sendiri tetapi malam makan berdua sudah menjadi sangat jarang sejak Rasyid terpilih menjadi anggota legislatif.
Semuanya sudah terhidang di meja. Ada capcay, gurami bakar, tahu goreng sambal teri juga tumis kangkung. Semua itu adalah makanan kegemaran Rasyid. Selama ini bila pergi ke mana-mana, Rasyid selalu memilih makanan tersebut. Rasanya dia tidak akan pernah melewatkan jika ada restoran yang menawarkan menu masakan tersebut pasti Rasyid akan lebih dahulu memilihnya. Itu sebabnya malam ini Gava mempersiapkan semuanya untuk suaminya.
Gava mencoba duduk santai di sofa besar di ruang keluarga sambil 1 kakinya mempermainkan karpet bulu yang ada di bawah kursi tersebut. Dia sedang bermalas-malasan sambil menikmati acara yang ada di televisi. Sebenarnya tidak satu acara pun yang menarik dirinya tetapi itu dia lakukan semata-mata agar dia tidak merasa jenuh menunggu.
Gava sudah shalat Maghrib tinggal menunggu adzan Isya sebentar lagi. Dia akan shalat Isya dan memperbaiki riasannya.
Hingga adzan Isya terdengar.
Gava kemudian bergegas untuk shalat. Cepat-cepat mengakhiri shalatnya. Dia lanjut dengan memperbaiki riasannya. Dia tidak ingin tampak jelek di hadapan Rasyid.
Selama ini Rasyid selalu memuji ketika dirinya berdandan cantik.
Memang begitulah laki-laki. Sejelek apapun dia, pasti tetap mencari perempuan yang cantik. Tidak ada laki-laki yang memilih perempuan jelek terlebih jika laki-laki itu adalah laki-laki pesolek.
Gava sudah membubuhkan lipstik tipis di bibirnya juga mengoleskan bedak di wajahnya. Ada sedikit maskara dan eyeliner di mata indahnya. Dia merasa sudah sangat sempurna untuk acara makan malam bersama suaminya kali ini.
Namun entah mengapa sampai pukul 07.30 malam tidak ada tanda-tanda bahwa Rasyid akan datang. Gava berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Dia merasa gelisah, ke khawatiran dalam hatinya memuncak. Bukan karena Rasyid tadi berjanji bahwa dia akan datang lebih cepat malam ini.
Malam ini memang sedang ada acara rapat di luar seperti juga kebiasaan Rasyid. Dia memang selalu pulang malam, tapi bukankah hari ini dia sudah berjanji dan bukan memberikan garansi. Setahu Gava bahwa janji itu tidak boleh untuk di ingkari tetapi mengapa sampai malam larut begini dia juga belum pulang.
Gava menimang-nimang ponselnya. Dia ingin sekali menghubungi suaminya tetapi bukan watak nya seperti itu.
Dia pasti akan menunggu sampai pada batas tertentu sampai dia tidak bisa lagi menunggu.
Gava tidak ingin dituduh sebagai perempuan yang over protective. Itu sebabnya dia membebaskan Rasyid dengan kegiatannya. Selama kegiatan itu wajar, pasti Gava akan mengijinkan nya.
Malam semakin larut. Makanan di meja juga sudah dingin. Berkali-kali dilihatnya nasi dan masakan yang sudah dibuat bersama dengan Gava tadi.
Lilin yang ada di sana juga sudah mengecil, cahayanya juga sudah mulai redup tapi Rasyid tidak juga datang.
"Mbak Tin," panggil Gava kepada pembantunya.
"Iya Bu, ada yang bisa Mbak Tin bantu?."
"Tolong, makanan yang ada di meja dibersihkan saja, Mbak Tin. Mungkin Bapak datangnya agak larut, makanannya juga pasti sudah dingin kan?"kata Gava kepada Mbak Tin.
"Iya Ibu, akan Mbak Tin bersihkan," ucap Mbak Tin menjawab apa yang disampaikan oleh Daffa dengan sigap
Mbak Tin membersihkan makanan yang ada di meja makan. Sesekali matanya melihat ke arah Gava, ada keresahan di dalam hati.
Mbak Tin melihat majikannya itu berjalan mondar-mandir di dalam batinnya Mbak berkata,
"Kenapa Ibu tidak telepon saja kepada Bapak dan bertanya bapak sedang ada di mana?. Kenapa itu justru diam saja menunggu. Kalau aku yang menghadapi permasalahan seperti ini , aku pasti akan menelpon Bapak."
Mbak Tin membersihkan meja makan tersebut sampai benar-benar bersih.
Dia tidak ingin ada kotoran yang tersisa sedikitpun di meja itu. Saat ini kondisi majikan sedang tidak baik. Jika perasaannya tidak sedang baik seperti ini lalu Mbak Tin melakukan kesalahan maka Mbak Tin khawatir justru dirinya akan kena marah. Meskipun selama dia ikut dalam rumah tangga Gava dan Rasyid, dia sama sekali tidak pernah terkena marah oleh majikan tersebut. Majikannya itu termasuk orang-orang yang baik. Bila Mbak Tin melakukan kesalahan atau sedikit kecerobohan mereka pasti akan mengingatkan dengan baik.
Tak jarang juga mereka ikut membantu Mbak Tin melakukan tugas-tugas yang tidak bisa Mbak Tin kerjakan.
Kalau urusan uang, mereka itu adalah orang-orang yang paling peduli terhadap Mbak Tin meskipun Mbak Tin hanyalah seorang pembantu.
Itu sebabnya melihat kegelisahan yang ada di wajah Gava Mbak Tin merasa sangat bersedih.
Gava masih mondar-mandir di ruang keluarga. ia belum juga menghubungi Rasyid. Sepertinya dia sengaja melakukannya. Butir-butir tasbih yang ada di tangannya terus bergerak dan berputar. Bibirnya berkomat-kamit. Hanya kepada Tuhan dia menyerahkan segala urusan. Bukankah Tuhan itu Maha Baik, jadi tidak ada salahnya bila kita menggantungkan semua permasalahan kepadaNya.
Hingga kemudian Gava terlelap tidur di sofa besar yang ada di ruang keluarga. Sofa itu mereka beli memang gunanya untuk mereka beristirahat sambil menonton televisi dan memanjakan diri mereka. Biasanya mereka berdua selalu tiduran bersama di sofa itu. Namun belakangan ini sejak Rasyid menjadi sibuk, Gava dan Rasyid jarang sekali menghabiskan waktu mereka untuk sekedar duduk-duduk di sofa kebanggaan mereka itu.
"Mbak Tin terbangun saat mendengar ada suara seseorang memasuki rumah. Mbak Tin yakin itu adalah Rasyid majikannya.
Dan benar memang. Ternyata Rasyid yang datang sudah pukul 12 malam lebih.
Rasyid pasti lupa dengan janjinya. Mbak Tin hanya menggelengkan kepalanya saja.
Laki-laki suka sekali mengingkari janji. Mereka tidak tahu bahwa istrinya sejak tadi menunggu.
"Baru pulang Pak?" tanya Mbak Tin kepada Rasyid saat Mbak Tin membukakan pintu rumah mereka.
Sebenarnya, Rasyid membawa kunci sendiri tetapi entah mengapa hari ini dia menghubungi Mbak Tin. Dia meminta untuk dibukakan pintu karena kuncinya tertinggal di laci meja kerjanya.
"Iya Mbak Tin, tadi ada acara rapat. Kemudian pimpinan mengajak untuk makan malam bersama. Saya tidak enak mau pulang. Jadi saya akhirnya mengikuti apa yang sudah diikuti oleh teman-teman."
"Kasihan Ibu, Pak. Dari tadi Ibu menunggu. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan Bapak sampai makanannya dingin," Mbak Tin mencoba memberikan keterangan kepada Rasyid dan berharap Rasyid menjadi iba kepada istrinya.
"Iya, saya memang ada janji makan malam tadi. Tapi tidak apa-apa. Nanti saya akan bilang kepada Gava. Dia pasti akan mengerti."
"Jangan dibangunkan dulu. Saya mau ganti baju. Nanti setelah itu biar saya saja yang membangunkan Ibu."
"Baik Pak kalau begitu, Mbak Tin masuk dulu ya pak."
"Iya, silakan. Terima kasih ya untuk semuanya."
Mbak Tin lantas berlalu pergi. Dia meninggalkan Rasyid seorang diri. Rasyid masuk kedalam kamarnya mengganti pakaiannya dengan pakaian santai di rumah. Dia juga mencuci kaki dan tangannya di kamar mandi. Usai itu, dia menuju ke ruang keluarga. Dia langsung ke sofa besar yang saat ini sedang digunakan untuk tidur oleh istri tercintanya Gava.