Bab 1

Lembayung senja menghias jagat raya, membangkitkan seluruh manusia dari segala keluh kesah yang membahana.

Menggelar sajadah dan bersujud tunduk, patuh, taat juga tawadhu pada ketentuan TuhanNya.

Rania menginjakkan kaki di bandara Samsoedin Noor dengan bahagia. Kerinduannya pada kota kelahiran abah demikian menyelusup pori-pori hatinya dan membuatnya tak berdaya.

Rania di terima menjadi salah satu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota itu.

Banjarmasin, kota seribu sungai dengan ribuan mimpi, harapan, cita-cita juga kenangan. Banjarmasin yang masyarakatnya agamis namun tak ekstrim terhadap agama lain.

Banjarmasin adalah kota paling familiar menurut Rania.

Ia bangga, mimpinya menjadi salah satu mahasiswi universitas itu tercapai kini.

Menjadi mahasiswi fakultas hukum strata 1, lucu memang, sedang ia sendiri sudah menempuh S2 ekonomi di kotanya.

Tapi apapun alasannya mimpi adalah cita-cita yang didekap hingga menembus alam bawah sadar.

Bukan hanya untuk sekedar memahami ilmu hukum agar dirinya tak buta hukum. Namun lebih dari itu. Ada 'hope' yang sedang ia gambar dalam perjalanannya.

Harapan tentang kesuksesan, harapan tentang pembuktian, harapan tentang mewujudkan kerinduan dan harapan tentang terwujudnya pembalasan.

Rania dengan tegap mendorong trolli menuju taxi yang telah ia pesan. Ringan langkahnya menuju sebuah rumah yang di kontraknya melalui media online.

Sebuah rumah mewah dengan perabotan mewah.

Rania sengaja memilih rumah itu bukan hanya sekedar untuk sebuah kenyamanan namun lebih dari itu.

Rania ingin merasa nyaman di rumah yang ia sewa. Merasa nyaman saat menulis dan nyaman saat menjamu kawan.

Rania ingin benar-benar berhasil dengan cita-citanya.

Memasuki perumahan elite di jalan A. Yani membuat Rania merasa perlu membawa pandangannya mengawasi sekeliling. Rumah-rumah bertingkat nan megah.

Dinding putih dan gerbang berpagar tinggi, ornamen minimalis ditambah dengan hiasan sebuah mobil mewah yang sedang dibersihkan oleh sopir pribadi.

Gambaran sorga dunia yang disulam demikian indah.

Rania turun tepat disebuah rumah bertuliskan A. 36.

Seorang wanita bergaun indah disamping sebuah toyota nampak anggun tersenyum ke arahnya.

Rania membalas senyum renyah wanita itu.

"Saya ibu Rumi pemilik rumah ini."

"Oh, saya Rania bu, " suara Rania renyah.

Wanita tersebut membimbing Rania masuk rumah berornamen bunga matahari tersebut. Ruang tamunya sedikit nampak naik dibanding ruangan yang lain. Di ruang keluarga sebuah sofa tanpa sandaran di hamparkan begitu saja di tengah ruangan. Ada karpet berbulu tebal berwarna hijau muda, menutupi sedikit saja kaca lebar yang terhampar dilantai. Ada hiasan tiga dimensi bernuansa kolam ikan di bawahnya.

Rania bangga dengan rumahnya. Setara dengan uang dua puluh juta yang ia berikan satu hari yang lalu untuk sewa rumah ini selama satu tahun.

Rania tidak lagi perduli dengan harga. Honor menulisnya terlalu besar bila hanya untuk bilangan dua puluh juta saja.

Dalam sebulan ia bisa tuntas menulis 10 judul novel. Bila satu novel berharga 200 USD belum termasuk bonus harian, royalti dan koin dari pembaca maka dalam sebulan ia bisa dapatkan lebih dari empat puluh juta hanya dengan menulis novel.

Rania tak perduli dengan letih yang kadang mengoyak-ngoyak dirinya, yang ia tahu ia harus kuat berjuang demi nama baik dan kesetaraan kehormatan di mata masyarakat.

Ia habiskan kesehariannya untuk menulis dan memintal doa pada Tuhan, ia yakin suatu hari apa yang ia pintal akan berbentuk. Dan inilah saatnya.

Inilah saat dimana dirinya merasa punya waktu membuktikan bahwa ia berharga dan layak dihormati.

Ia layak diperebutkan dan diperjuangkan. Ia layak dibanggakan dan dihargai.

Bila hari kemarin ia meminta karena memang ia sedang tak memiliki apapun untuk digunakan. Rania lelah berkejaran dengan hutang dan riba, maka meminta adalah jalan yang ia tempuh. Demi hidupnya, demi anak yang diasuhnya.

Tak malukah dirinya? Malu... pasti. Namun akan lebih malu lagi bila dunia mencatat namanya sebagai wanita tuna susila yang menggadaikan harga diri demi rupiah.

Hari ini, ketika ia berada di bulan ke tiganya melalui kontrak eksclusive bersama sebuah media online. Hari ini adalah hari kemenangan dimana dirinya benar-benar berjaya.

Ia telah memiliki sebuah mobil mewah, memiliki tas bermerk, kosmetik para artis dan perawatan tubuh yang intensive.

Hidup telah ia menangkan.

Hidup telah ia genggam.

"Kalau begitu saya pulang dulu ya mbak.."

"Rania, "

"Oh iya mbak Rania. Ini surat perjanjiannya, semoga saja betah."

"InsyaAllah betah, bu." jawab Rania lugas.

Ia mengantar ibu Rumi keluar dari rumah yang ia sewa. Kemudian Rania berkemas membereskan pakaian yang di bawanya. Sambil sesekali ia benamkan wajahnya diantara ranjang empuk kamar barunya.

Dua kakinya terjuntai di ujung ranjang, ia menghubungi satu nomor di ponselnya.

"Hallo, saya Rania, yang kemarin sempat buat janji."

"Saya butuh dua orang asisten rumah tangga,"

"Iya jadi..."

"Bisa kan ?"

"Oke, terimakasih."

Rania menghela nafas panjang kemudian mendekap bantal harum, merapatkannya di dadanya. Menekan tombol on pada remote AC yang tergeletak di ujung ranjang.

Sebelum tidur ia berujar, tak ada yang tidak mungkin bila Allah mengijinkan.

Keyakinan pada kekuatan Tuhan harus melekat kuat, hingga dalam kondisi apapun seorang hamba tidak akan kehilangan pegangan.

Lamat-lamat, dingin AC dan harum pewangi ruangan menyeruak seluruh sisi kamar. Mata indah Rania terpejam, bulu mata lentiknya pun mengatup, rapat.

Bayangan tentang hari esok berkejaran di mimpinya, bayangan tentang kemenangan dan tantangan baru, Rania sadar, ia harus mempersiapkan diri dengan matang. Ia tidak boleh rebah apa lagi tergelincir.

Titian itu harus ia lewati dengan hati-hati, bersahaja dan meninggalkan kesan sombong. Berguna namun tidak mudah di guna-guna, bermanfaat namun tidak mudah di manfaatkan.

Sepiring soto banjar dengan sesendok penuh sambal terhidang di piring tebalnya.

Dalam tidurnya ia telah berkelana, menghirup aroma segar soto banjar yang nikmat nian.

Rania tersenyum, mengenang orang pertama yang memperkenalkan dirinya pada soto banjar di anjungan pasar.

********

"Hey, tumben jalanan di Banjarmasin ini menjadi macet, mungkin karena sekarang warganya menjadi makmur dan berkecukupan. Hingga jumlah mobil semakin bertambah. Jumlah motor makin banyak dan jalanan menjadi sesak."

Dulu Banjarmasin tidak macet seperti ini. Macet memang seringkali menjengkelkan namun macet juga bisa dikaitkan dengan kehidupan masyarakat yang mulai mapan atau juga tata kota yang kurang baik berjalan.Entahlah.

Macet yang menggoda membuat beberapa caci maki muncul, untung saja hari hujan hingga terik matahari tak menimbulkan keresahan. Diantara macet Rania menyempatkan diri menghafal beberapa surah yang belum ia tuntaskan.

Rania menuju kampus tempat ia diterima bersekolah kembali. Kuliah di fakultas hukum. Universitas swasta ternama di kota ini. Universitas yang menjadi mimpi jutaan anak di luar sana. Universitas berkelas, begitu Rania selalu menyebutnya dengan bangga.

Wuih... mimpi-mimpi dirancang indah olehnya. Mimpi yang sudah dirajut ribuan menit yang lampau baru kini diijinkan terjadi.

Rencana manusia tidak akan pernah lebih baik dari rencana taqdir Tuhan. Memang demikianlah kenyataannya.

Dan beberapa bulan terakhir ini Rania memang disibukkan untuk menjelajah rencana Tuhan yang sudah dipahami, selalu tidak terduga.

Termasuk dengan jadwal kuliahnya tahun ini, ia adalah bagian dari tidak terduga nya rencana Tuhan.

Rencana untuk kuliah di fakultas hukum sudah Rania gagas lima tahun yang lalu,dengan segala tatanan kesempurnaan namun tidak berhasil, Tuhan berkata lain.. saat itu ia tidak ditaqdirkan untuk kuliah di fakultas hukum seperti inginnya,ia tidak ditaqdirkan membalas siapapun meski ia sangat ingin, ia hanya diijinkan menatap perjalanan itu dari jauh meski ia sangat sakit. Hari itu dalam ketidak mengertian nya tentang taqdir dan keniscayaan Tuhan ia sempat protes pada cita-cita yang tidak diijinkan terjadi. Dan hari ini ia didatangkan kembali dalam keadaan yang telah benar-benar siap. Dalam keadaan dimana seluruh komponen kekuatan itu telah bersatu, lahir dan batin. Secara materi Rania telah mampu mencukupi dirinya dan secara batin pun Rania telah benar-benar kuat. Tuhan memang luar biasa.

Rania tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan dikirim Tuhan hari ini, taqdir nya kali ini memaksa dirinya untuk mengesampingkan segala aktivitasnya dan hanya memusatkan pada tujuannya untuk datang kemari.

Memenuhi keniscayaan Tuhan, Tuhan memang serba artistik, banyak hal tidak terduga yang sangat erat dengan sebuah keniscayaan. Sebagai seorang hamba sekali lagi, tugas kita hanya tunduk, taat dan patuh saja. Andai hari itu Rania membalas, mungkin ia tidak akan berada di kata 'menang' karena saat itu ia tidak punya amunisi apapun selain hanya modal nekat dan rasa sakit. Berperang tanpa amunisi sama halnya dengan bunuh diri.

Namun hari ini Tuhan membuktikan bahwa Ia begitu Maha Pengasih.

Kita tidak bisa memaksa bunga untuk mekar sesuai hitungan dan ilmu kita namun kita bisa saja menemuinya tumbuh mekar di luar dugaan. Saat itulah keniscayaan Tuhan sedang berjalan.

Rania, tersenyum mantap dari belakang kemudinya.

Kampus megah yang sering didatanginya beberapa tahun yang lalu itu berdiri menjulang.

Ia menatap atapnya dengan sebuah harapan, ia akan berhasil, berhasil mengambil ilmunya dan berhasil memangsa sasarannya.

Singa yang kemarin tidur itu hari ini telah terbangun serta siap memangsa siapapun yang main-main dengan hidupnya.

Rania turun dari mobil mewahnya, ia tegap menggamit tas branded dan sepatu Natasya, langkahnya ringan, tubuh rampingnya bergoyang.

Sesekali ia tundukkan wajahnya ketika melewati gerombolan mahasiswa yang melihatnya.

Usianya kini sudah tidak muda lagi namun jangan disangka, kemapanan wanita cantik yang mungkin berusia tidak muda, sangat menggoda dibandingkan wanita cantik yang baru bisa bernafas dan menatap dunia. Rania menjanjikan kemapanan itu untuk semua yang mendekatinya.

"Ruang mahasiswa baru dimana ya mbak ?"

"Oh, disana kak." ucap gadis kecil itu menunjuk satu ruangan yang berjajar dengan ruang lainnya.

"Terimakasih, " kemudian Rania melangkah pergi.

Teduh yang tercipta karena hujan yang hanya turun sesaat kemudian reda telah menciptakan sebuah dialektika indah.

Di kampus ini dulu ia menunggu cintanya berbalas, di kampus ini dulu ia meratapi nasibnya, dikampus ini juga ia memilah antara kata setius dan berpura-pura serius.

Kali ini ia kembali datang dengan keteguhan hati dan kemantapan diri.

Perjalanannya menuju kampus baru tempat ia menimba ilmu telah sampai di tempatnya. Hari pertama dimana ia akan minta penjelasan pada panitia penerima mahasiswa baru.

Rania menarik nafas panjang, menahan kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.

Berat memang namun harus ia jalani.

Gadis itu telah melewati ribuan perjalanan

ia mengayunkan langkahnya bukan hanya dengan kakinya, ia melangkah dengan tangannya, dengan perasaannya juga dengan fikirannya.

Ia menembus semua batas yang tak pernah bisa ditembus oleh hati-hati yang kosong dan terapung-apung

Ribuan belantara telah ia lewati

Ribuan derita telah ia lalui

Dan ia telah berhasil

Menjadi peri tanpa tongkat bintang

Menjadi peri tanpa mahkota.

Gadis itu, Rania namanya. Kemunculannya mungkin akan menakutkan mereka yang pernah menggunakan hidupnya sebagai permainan.

akan menyeramkan bagi mereka yang pernah bermain-main dengan dosa.

Meskipun Rania datang hanya untuk menuntaskan rindu nya.

Rindu pada dosen baik bermata teduh yang dulu sering menolongnya.

Kedatangannya hanya untuk menuntaskan dendamnya, dendam pada dosen yang pernah melingkarkan cincin kecil di jari manisnya lalu kemudian memangkas bukan hanya jemarinya tapi sekaligus dengan pergelangan tangannya.

Rasa sakit yang hanya bisa Rania ceritakan pada Tuhan.

Rania hari ini datang menuju kampus dengan pilihan menjadi baik atau menjadi busuk.

Bersahabat saja dengannya bila kalian merasa bukan musuhnya.

Desis suara angin ..... di telinga-telinga yang dingin.

#cerita ini hanya fiksi belaka bila ada kesamaan nama dan tempat semua diluar kesengajaan penulis.

Bab 2

Masa orientasi mahasiswa baru hari ini telah memasuki hari ketiga, lucu juga ia harus mengulangi kejadian sepuluh tahun yang lalu, saat Rania masih muda dengan jilbab di kuncir.

Saat ini di masa pandemi ini, mahasiswa tidak harus hadir di kampus, pengenalan kampus, pengenalan fasilitas, pengenalan mata kuliah semua dilakukan dengan zoom video.

Hari pertama dan hari kedua berjalan biasa-biasa saja.

Menginjak hari ketiga, mahasiswa baru boleh hadir dengan memperhatikan protokol kesehatan, bermasker dan duduk berjarak.

Mungkin Rania datang terlalu pagi hingga ia harus menunggu di tepian kolam kecil, bersandar di ujung gazebo yang berdiri tunggal.

Hingga kemudian ia melihat segerombolan mahasiswi dengan baju atasan hitam dan bawahan putih.

Rania melangkah menuju ruangan yang telah disiapkan. Ia ikuti langkah gerombolan mahasiswi tadi. Deretan bangku berjajar dengan jarak kurang lebih setengah meter.

Ada meja panjang menghadap tepat di barisan bangku untuk para mahasiswa baru.

Meja itu diberi alas berwarna merah hati. Ada ornamen vas bunga kristal juga bunga mawar putih mekar. Dua yang mekar berada di kanan kiri, ditengahnya yang masih kuncup. Ornamen tersebut menambah indah suasana.

Hingga mata bulat Rania tertuju pada sebuah sosok yang sangat dikenalnya.

Rania menuju sosok tersebut dengan tatap mantap.

"Selamat pagi Bapak, " Suara Rania ketika matanya bertabrakan dengan mata dosen tampan yang sudah ia kenal sejak lima tahun yang lalu. Dosen ini yang dulu menyuruh Rania untuk kuliah tanpa biaya. Dosen ini yang dulu iba dengan nasibnya, meski ia juga berniat untuk mencicipi manisnya asmara yang menggeliat di tenda lelakinya.

Dosen ganteng yang usianya hampir purna itu terkejut.

"Kamu, ?"

"Inggih,"

"Rani kan ?"

"Betul, "

Rania tersenyum, manis semanis gula Jawa.

"Iya, ini Rania, pak. Rania yang dulu kumal dan dekil."

"Sekarang lebih matang, cantik dan dewasa.'

Suara dosen tersebut memuji. Mungkin ia tidak menyangka akan bertemu Rania disini, di tempat ini.

Mungkin juga ia merasa ada memori yang datang dan pergi menyapa ingatannya, membuatnya tersenyum sendiri sambil sesekali menatap mahasiswa baru yang lalu lalang memenuhi ruangan. Juga beberapa panitia yang sedang sibuk mempersiapkan tempat berlangsungnya masa orientasi mahasiswa baru.

Nampak beliau mendekati tempat duduk Rania. "Nanti temui aku ya, " suaranya memastikan.

"InsyaAllah, "

"Ini nomer Wa ku,"

"Rania sudah punya, pak."

"Oh ya ?"

"Iya pak,"

"Okelah "

Dosen itu berlalu. Meninggalkan ruang orientasi mahasiswa baru sambil bersenandung tembang kenangan. Langkah ringannya menyusuri tangga biru menuju ruangan para dosen terlihat sangat tegap, sambil ia sesekali membenahi letak jasnya yang tidak rata.

"Tenang saja pak, bapak masih tampan dan berwibawa meski berpakaian seadanya. " suara itu pernah membuat jiwa lelakinya terusik.

Lima tahun yang lalu. Dan kini pemilik suara yang sempat mengusik itu berada di dekatnya.

Ia sangat terpesona, tidak menyangka taqdir akan bermain-main dengan dirinya.

Dosen itu, pak Yuda, ia tahu misi Rania datang kemari.

Bukan dirinya target yang dimaksud Rania. Ada yang lain, ada yang sedang diincar oleh Rania, dan boleh jadi ini adalah bagian dari pembalasan dendam.

Ia yakin, insting hukum yang ia asah setiap hari bermain-main lincah di telinganya.

Ia tahu kemana arah Rania menuju dan ia hanya akan jadi pemirsa dalam permainan ini, boleh jadi dirinya akan jadi figuran atau bahkan jadi pemeran protagonis yang bersahabat dengan pemeran utama. Entahlah.

Acara penutupan masa orientasi pun berlangsung. Rangkaian acara yang sudah ditata rapi terlewati.

Panitia begitu pandai mengemas acara hingga membuat para mahasiswa baru terkesan.

Rania duduk dibarisan paling depan namun memilih tempat di ujung agar dirinya bisa memantau keadaan dan mengikuti jalannya kegiatan hingga tuntas tanpa perlu takut berjumpa wajah-wajah yang mengenalnya.

Rania, menatap satu persatu wajah panitia dan beberapa dosen muda yang duduk di hadapannya.

Rupanya memang sudah dipersiapkan bahwa acara penampilan dosen ini di lalui dengan menampilkan dosen ganteng dan cantik untuk memunculkan minat dan semangat mahasiswa baru.

Ini bagian dari trik sebuah pelayanan dan diakui oleh Rania trik mereka berhasil.

Rania yang menikmati sajian mereka kadang tertawa lepas, kadang tersenyum kadang juga terbelalak. Mereka demikian atraktif. Seperti sudah terlatih.

"Oke, kita tutup acara orientasi mahasiswa baru ini dengan doa."

Rania terkejut, ia melihat jam tangan merk rolex yang melingkar di pergelangan tangan mungilnya.

Pukul 14.00 WITA

Ia ingat akan janjinya pada pak Yuda. Dosen tampan yang tadi mendekatinya.

Usai acara ditutup, Rania pun menuju ruangan pak Yuda.

Masih yang dulu kah ? atau sudah berubah. Rania melangkah saja. Toh. nanti bisa tanya bila telah sampai disana.

Rania tersenyum manis, sangat manis sambil menunggu episode selanjutnya.

******

Pagi itu di kampus nya,

Usai acara panjang dan pertunjukan beberapa dosen tampan juga cantik yang ditampilkan acara ditutup. Rapi dan bagus sekali panitia mengemas acara tersebut.

Rania menuju ruangan yang dulu pernah ia lewati, ia melewati jalan panjang beraspal, memasuki pintu lebar dan ruangan besar. Ada ruangan penerima tamu disana, semacam customer care atau customer servis, Rania tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. Ia seperti terbang pada peristiwa menyakitkan lima tahun yang lalu.

Di ruangan ini ia pernah meminta belas kasih dari seseorang yang pernah ia anggap suami. Di ruangan ini ia pernah mengemis demi kesamaan hak yang ia sandang dan di ruangan itu ia pernah menjadi pembohong demi rasa iri dan dengki nya.

Ia pernah harus melewati tangga biru yang masih saja bercat biru ini dengan hati yang sangat hancur.

Ketika kedatangannya malah menemui jalan buntu.

Padahal saat itu ia dalam keadaan haus dan lapar. Ia ditinggal sembunyi entah dengan maksud apa.

Saat itu Rania menikah dengan salah satu dosen di kampus ini. Menikah dan disembunyikan. Rania mau saja karena ia berharap hidupnya akan tertolong.

Tapi ternyata tidak. Lelaki itu menikahinya bukan untuk membangun keluarga sakinah melewati jalan Tuhan dengan kebenaran namun hanya karena ingin dianggap jantan dan berhasil, itu saja.

Hal itu terbukti dari perilaku buruk sang dosen. Rania tahu, tidak semua dosen di kampus ini berbuat tidak baik seperti lelaki yang pernah jadi suaminya. Seandainya pun ada itu tak lebih dari oknum saja.

Hari itu Rania menangis di ruangan pak Yuda. Tubuhnya bergetar dan ia pun terisak-isak.

"Sudahlah Ran, jangan menangis. Biar Tuhan yang membalas semua tingkah laku buruknya."

Rania masih terisak ketika ia menerima genggaman pak Yuda. Uang kertas berwarna merah terlipat diantara jemarinya.

"Ini untuk apa?" suara Rania parau.

"Kamu membutuhkannya,"

"Bukan hanya ini," Rania terisak lagi.

"Aku tahu, tapi lawan mu itu orang kuat. Kamu harus jadi kuat dulu baru melawan."

Rania mulai faham.

"Rani butuh sikap tegas dan tanggung jawab mas,"

"Aku tahu, tapi saat ini keinginanmu hanya akan jadi sampah Rania."

"Apapun alasannya kamu telah sepakat nikah di bawah tangan, iya kan ?"

Rania mengangguk-angguk.

"Kesepakatan itu adalah dasar dari terbentuknya sebuah kejadian dengan asas suka sama suka. Kamu tidak bisa menuntut lebih karena dari awal kamu telah sepakat. Pulanglah, tenangkan dirimu, fikirkan langkah selanjutnya. Semoga uang di tangan mu cukup."

Kenangan itu kembali tergores dari tinta kecil ingatan Rania dalam kanvas kehidupannya.

Ia tepiskan kenangan buruk itu, ia usap seluruh peluh yang menggantung di hatinya. ia bereskan duka yang bersemayam dilantai-lantai fikirannya. Ia harus hadir sebagai wanita bersih.

Masa lalu itu tidak boleh terungkap hari ini, masih terlalu dini, episodenya belum tuntas, belum selesai.

Ia ingin menikmati rasa sakitnya sedikit demi sedikit. Ia ingin merasakan perihnya luka itu sedikit demi sedikit.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar dan ia ingin berbagi kepedihan itu. Ia ingin membaginya, ia ingin menghabiskannya selama masa kuliah nya berlangsung. Ia ingin lelaki yang pernah menikahinya kemudian mencampakkan nya merasakan deritanya, derita yang sama yang dirasakan Rania.

Bukan hari ini terlalu dini.

Highills nya menapaki tangga biru itu, melangkah ia, sesekali matanya bersirobok pandang dengan beberapa dosen yang lalu lalang. Ia hanya mengulum senyum.

Rania Maya sari.

Begitu nama nya pernah terkenal di sini.

Di tikungan tangga pertama, wajah itu, kacamata minus dan rambut ikal itu. Ia pernah mengenalinya. Mereka berpandangan sesaat.

Kemudian Rania meninggalkan wajah itu terbengong, entah karena ingat atau karena terpana pada wajah cantik Rania.

"Rani kah ?" tanya suara itu, namun Rania melenggang begitu saja. Ia tinggalkan lelaki itu dengan berbagai pertanyaan dan kenangan.

'Mungkinkah itu Rania, wanita yang dulu pernah jadi istrinya. Wajahnya memang lebih halus namun guratnya terasa sama. Cara menatapnya, cara berjalannya semua sama. Meskipun kulit wajahnya jauh lebih halus dari kulit wajah yang ia kenal dulu. Rania mantan istrinya, wajahnya sama persis dengan wajah yang tadi melintas.

Dulu kah ? mantan istri kah ? bukankah ia sama sekali tidak pernah mengucapkan kalimat talak pada wanita itu. Wanita ke dua yang sungguh pernah mengoyak lazuardi lelakinya.

Bila benar itu Rania yang dulu pernah menjadi istrinya maka ia masih punya hak penuh atas diri wanita itu, suara batin pak dosen menggumam. Menggelitik boneka kayu hingga menimbulkan keajaiban tercipta, boneka kayu itu bisa tertawa. Saking lucunya kalimat yang baru saja ia dengar.

Dan sebagai lelaki mapan ia punya ambisi untuk menjadi menang apapun cara dan hasilnya, ia tidak akan mau kalah.

'Tapi mungkinkah itu Rania ?'

'Mungkin ia hanya bermimpi' bukankah Rania jauh sekali, Rania tidak disini dan tidak mungkin itu Rania, wanitanya dulu. Wanita itu terlalu sempurna, tak sebanding dengan Rania nya.

'Mungkin hanya sedikit sama' lelaki itu menepis rasa ingin tahunya.

Ia pun pergi meninggalkan tangga biru itu dengan kenangan. Tangga biru ini pernah jadi saksi jutaan cinta yang menempel di sana. Tangga biru yang hari ini masih biru.

Sebiru rindu yang sebenarnya demikian besar pada Ranianya, hanya saja rindu itu menjadi bersekat-sekat karena kebodohannya. Pak dosen kembali menggerutu. Pertemuan yang baru saja terjadi demikian meresahkan hatinya.

LAGU UNTUK SEBUAH NAMA

Ebiet G Ade

Mengapa jiwaku mesti bergetar

Sedang musikpun manis kudengar

Mungkin karena kulihat lagi

Lentik bulu matamu, bibirmu

Dan rambutmu yang kau biarkan

Jatuh bergerai di keningmu

Makin mengajakku terpana

Kau goreskan gita cinta

Mengapa aku mesti duduk di sini

Sedang kau tepat di depanku

Mestinya aku berdiri berjalan ke depanmu

Kusapa, dan kunikmati wajahmu

Atau kuisyaratkan cinta

Tapi semua tak kulakukan

Kata orang cinta mesti berkorban

Mengapa dadaku mesti bergoncang

Bila kusebutkan namamu

Sedang kau diciptakan bukanlah untukku

Itu pasti tapi aku tak mau perduli

Sebab cinta bukan mesti bersatu

Biar kucumbui bayanganmu

Dan kusandarkan harapanku

Jatuh berderai dikeningmu

Bab 3

Angin masih saja semilir ketika Rania menjejakkan kakinya di kampus pilihannya. Rania memarkir cantik mobilnya di bawah pohon rindang. Pohon besar ini letaknya hampir berhadapan dengan ruangan para dosen yang berdiri dua lantai.

Rania terdiam sejenak.

Ingatannya berputar pada kisah yang lalu saat dia bersembunyi di balik mobil yang kebetulan di parkir di tempat yang sama dengannya saat ini.

Hari itu ia begitu rindu pada Leo suaminya, tujuh hari tidak berjumpa sejak mereka berdebat keras di rumah kontrakan Rania.

Rania datang karena rindunya berlipat-lipat, Rania datang hari itu bukan untuk minta uang pada suaminya. Ia hanya rindu.

Sekali lagi suaminya menghindar. Begitu rupa ia ditinggalkan bersembunyi. Padahal hari itu panas demikian menyengat.

Saat Rania menunggu di ruang tunggu dalam ruangan itu, ia melihat suaminya Leo sedang berjalan di tangga itu bersama istrinya yang lain. Di pesan whatsAppnya tadi ia bilang ia sedang berada di rumah.

Melihat itu Rania bersembunyi dibalik mobil tempat ia parkir saat ini. Bukan karena takut pada mereka berdua namun karena Rania ingin mengambil gambar mereka dari jauh dan menggunakannya sebagai bukti bahwa ia telah dibohongi.

Hari itu Rania demikian sedih, namun hari ini di tempat yang sama dalam kondisi yang berbeda.

Hari ini Rania datang bukan lagi sebagai pengemis uang dan cinta namun hari ini Rania datang sebagai mahasiswa baru yang berkuliah dengan membayar sendiri uang kuliahnya, tanpa bantuan siapapun.

Rania datang dengan wajah baru dan semua ornamen mahal yang bertengger di tubuhnya. Semua yang berpapasan pasti melihat. Betapa penampilan Rania saat ini demikian istimewa.

Rania berjalan ringan, menyusuri jalanan beraspal menuju satu gedung tempat para mahasiswa baru berkumpul. Ia berjalan sendirian karena memang ia belum berkenalan dengan siapapun. Tak jadi masalah baginya, yang penting ia berhasil kuliah di fakultas hukum.

Seorang dosen tampan memasuki ruangan, masih muda belia nampaknya, beliau berkelakar sebagai pembuka suasana. Kelakarnya sebenarnya tak lucu tapi penampilannya cukup menggoda hingga puluhan mahasiswi yang ada di ruangan itu terpana.

Beliau memberikan kuliah tentang Pengantar Ilmu Hukum.

Dalam keterangannya beliau menulis,

Pengantar ilmu hukum (PIH) yaitu mata kuliah dasar yang merupakan pengantar atau introduction atau inleiding dalam mempelajari ilmu hukum, sering dikatakan pula bahwa PIH merupakan dasar untuk pelajaran lebih lanjut dalam studi hukum yang mempelajari pengertian-pengertian dasar, gambaran dan penjelasan tentang ilmu hukum.

Beliau memaparkan banyak contoh-contoh, hingga menutup lima belas menit terakhirnya dengan tanya jawab.

Banyak sekali yang ingin bertanya namun hanya dibatasi beberapa orang saja sebab waktu hanya tersisa lima belas menit.

Semangat para mahasiswa baru berhasil dibakar oleh pak dosen ganteng tadi. Pak dosen yang bicaranya banyak tapi tidak membosankan. Pak dosen yang baik dan rupawan sehingga membuat banyak mahasiswi mencari perhatian.

Memang benar, memiliki wajah ganteng adalah sebuah anugerah dari Tuhan sebagai pintu pembuka keberhasilan bila kita memanfaatkannya dengan baik. Karena bagaimanapun juga wajah ganteng dan cantik akan menarik minat setiap orang yang melihat untuk banyak berbincang sehingga komunikasipun menjadi panjang.

Disanalah awal mula keberhasilan di raih. Seharusnya mereka yang memiliki wajah tampan berbangga diri dan mensyukuri kelebihan itu lalu menempatkannya di tempat yang benar.

Sayangnya sebagian dari mereka yang merasa cantik atau tampan terkadang justru terjebak pada keinginan untuk di puji dan dibanggakan. Terkadang juga kecantikan dan ketampanan digunakan sebagai alat untuk memuaskan nafsu pribadinya saja.

Acara tanya jawab berakhir, mata kuliah pertama bagi mahasiswa baru pun selesai.

"Namanya siapa kak ?" ujar gadis cantik yang duduk berjarak dengan Rania.

"Oh aku Rani," Rania menjawab tanya tersebut.

"Asli mana kak ?"

"Aku asli Banjar juga *ding"

"Ulun Septia* ,kak."

Mereka pun asik berbincang sambil berjalan bersisihan. Sesekali beberapa orang menyapa mereka dengan senyum tersungging.

Septia gadis Bandung yang ikut belajar disini karena ada rumah kakaknya di Banjarmasin ini. Kakaknya baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah instansi swasta di kota ini.

Rania dan Septia berjalan sejajar, Septia dengan jins dan atasan lengan panjang longgar berwarna navy dan jilbab senada nampak anggun saat wajahnya diterpa mentari siang. Begitupun Rania, dengan gamis merah hati dan jilbab pink yang berkibar, pipi putihnya ikut berwarna pink saat garangnya mentari menyapa.

Mereka berdua seperti dua orang kakak beradik. Kakak beradik yang dipertemukan oleh Tuhan dengan cinta dan kasih sayang. Mereka memang baru saling mengenal namun cara mereka saling memanjakan membuat mereka tampak membahagiakan.

Tampak anggun dan mempesona.

Rania mengajak serta Septia naik di mobilnya, ia berjanji akan mengantar sampai di rumah. Saat ini Rania butuh banyak kawan untuk memperluas jaringan. Itu juga yang menjadi sebab Rania membangun komunikasi seluas-luasnya.

Ac mobil mulai mengeluarkan hawa dingin, memberi kesejukan bagi mereka berdua. Rania mengendarai mobilnya dengan berhati-hati menuju rumah Septia di Handil. Rania dengan usia dan pengalamannya yang luar biasa di samping Septia tidak lantas membuatnya congkak dan sok dewasa tetapi lebih pada sikap mengayomi, menyayangi juga menghormati Septia. Hal itulah yang membuat Septia merasa nyaman bersama Rania.

Mereka menyusuri jalanan menuju rumah Septia sambil bercerita panjang lebar.

"Jadi kamu tinggal disini dengan kakak mu saja ?"

"Inggih"

"Kak Ran, kakak sudah punya suami ?" Rania tersenyum lalu menggeleng.

"Apakah itu artinya tidak punya siami ?" Septia bingung melihat Rania menggeleng.

"Kakak tidak menikah berarti belum punya anak dong." Ucap Septia lucu sekali.

"Kakak sudah punya anak."Rania menjawab lagi.

"Apaaaa ?, tidak menikah tapi kakak punya anak ? Astaghfirullah kak."

Rania tertawa keras di dalam mobilnya, Septia justru bengong mendengar tawa itu.

"Kok kakak tertawa sih, kakak bangga ya hamil di luar nikah ?"

"Ya Allah Septia kamu bikin aku tertawa saja."

"Emangnya kenapa kakak tertawa ?"

"Aku punya anak tapi bukan berari aku hamil di luar nikah, aku pernah menikah tetapi suamiku ada yang meninggal, ada yang bercerai." Panjang lebar Rania menjelaskan berharap Septia mengerti penjelasannya namun sayang Septia justru bertanya lagi.

"Emang suami kakak berapa banyak, Kak?"

Septia masih juga tidak mengerti, ya, meskipun Rania dan Septia satu angkatan tetapi dirinya memang masih terlalu muda unuk mengeri perjalanan hidup Rania yang sungguh rumit. Rania memiliki banyak kisah dimana untuk memahaminya memang bukan hal yang mudah. Itu sebabnya Septia tidak terlalu mengerti dengan penjelasan yang disampaikan Rania.

"Kalau kamu ingin tahu cerita masa lalu kakak nanti deh

kakak kasih cerita."

"Janji ya. . ." Ucap Rania penuh harap.

"InsyaAllah." Rania menjawab sambil tersenyujm.

Kemudian mereka berheni di depan sebuah rumah yang asri sekali, Septia meminta diturunkan disana. Dan Rania pun melanjutkan perjalanan menuju pulang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED