Di suatu siang, di sebuah sekolah dasar negeri yang berada di sebuah desa kecil di pelosok pulau Jawa.
Anak-anak baru saja keluar dari lingkungan sekolah, ada yang berlarian dan ada yang berjalan pelan menyusuri jalanan berbatu.
Wajah-wajah polos dengan senyum dan tawa canda mengiringi langkah-langkah kecil mereka.
"Satya, nanti habis ganti baju kita kumpul di TPK ya," ajak seorang anak yang tubuhnya kerempeng dan berkulit agak hitam, Bambang namanya dan kawan-kawannya memanggilnya Bambang atau Mbang.
TPK adalah tempat penimbunan kayu milik Perum Perhutani yang ada di desa itu.
TPK ini di gunakan sebagai tempat menimbun kayu-kayu Jati ataupun kayu jenis lainnya seperti Sonokeling dan Mahoni setelah di tebang dari hutan yang ada di area tersebut.
"Baik, nanti aku yang bawa bola," jawab seorang anak lain yang bertubuh agak pendek tapi berisi, wajahnya bulat dan agak bersih kulitnya. Dia adalah anak dari kepala TPK, Ardian namanya.
"kita kumpul di TPK lor ya , dibawah pohon sawo," kata anak yang di panggil Satya tersebut, yang tampaknya memang sebagai pemimpin dari rombongan anak-anak kecil itu.
Satya ini bertubuh agak berisi dengan kulit sawo matang, wajahnya memancarkan aura ceria dan penuh semangat. tatapannya sangat tajam walaupun dia masih kecil.
Tempat penimbunan kayu ini cukup luas dan terbagi menjadi dua lokasi. TPK lor (utara) dan TPK kidul (selatan).
Luas tempat penimbunan kayu ini kira-kira empat sampai lima hektar, terpisah menjadi dua karena dibelah oleh jalanan desa yang menghubungkan antara Desa Landoh dengan desa dan padukuhan lainnya.
Dalam lingkungan TPK sendiri terdapat pohon-pohon Mindik (Munggur) yang berukuran sangat besar yang menurut orang orang tua di sekitar tempat ini di tanam pada masa penjajahan Belanda, jadi umurnya pasti sudah ratusan tahun.
Ukuran pohon-pohon di dalam area tempat penimbunan kayu hasil hutan ini mencapai diameter dua sampai tiga meter dengan ketinggian mencapai kurang lebih tiga puluh meter, sehingga tempat ini menjadi teduh dan nyaman untuk beraktivitas.
Jumlah pohon-pohon yang sangat besar cukup banyak , ada puluhan dengan diameter yang rata-rata sangat besar lebih dari satu meter, sehingga hampir setiap sudut tempat ini sangat teduh dan rindang.
Anak-anak yang lain segera menyanggupinya untuk berkumpul sehabis berganti baju dan makan siang.
Mereka berjalan sambil bersenda gurau, dan tanpa terasa sampailah di jalan raya beraspal yang melintasi desa tersebut. Itu adalah sebuah perempatan besar.
Jalan beraspal menghubungkan antara dua kabupaten. Kabupaten Rembang dan Blora.
Sedang jalanan yang belum beraspal menghubungkan antar desa yang satu dengan desa yang lainnya.
Dijalan ini rombongan anak-anak mulai terpisah, sebagian berbelok kekanan menyusuri jalan raya.
Diantara yang belok kekanan adalah Bambang, Yon, To, Andri dan masih banyak lagi.
Sebagian berbelok ke kiri juga menyusuri jalan raya menuju ke dukuh Jangglengan diantaranya Tris dan Sutar.
Adapula yang rumahnya tepat di perempatan desa tersebut , Likin namanya, anak Pak Salim. Seorang Kyai di Desa Landoh.
Satya dan sebagian anak menyeberang jalan raya tersebut dan berjalan lurus menuju dusun lainnya lagi.
Rumah Satya sendiri terletak tidak jauh dari perempatan jalan tersebut dan berjarak lima puluhan meter saja dari TPK.
Salah satu sahabat Satya rumahnya di dalam komplek TPK dan berdekatan dengan rumah Satya, hanya berjarak lima puluh meteran saja. Hartono namanya, anaknya putih bersih dan agak kecil mungil.
Ketika Satya sampai di depan rumah yang sangat sederhana dan berdinding anyaman bambu (gedeg, bahasa Jawa) Satya segera pamit pada kawan-kawannya.
"Duluan ya !" seru Satya sambil melambaikan tangan pada kawan-kawannya.
Ardian, Hartono, Masruf , Ngali dan lainnya segera melanjutkan perjalanan nya bersama kawan-kawan yang lain yang rumah nya di dukuh paling jauh yaitu Dukuh Kedung Lawa.
Baru beberapa langkah kedepan, Hartono juga sudah sampai di depan rumahnya yang berada di dalam komplek tepeka.
Antara rumah Satya dengan tepeka sendiri terpisahkan oleh rel kereta api yang menghubungkan Kota Rembang dan Kota Blora.
Rumah Ardian ada di sebelah barat TPK, masih masuk komplek TPK dan merupakan rumah dinas milik Perhutani. Karena Ayahnya seorang Sinder atau Asper (asisten perhutani) yang mengepalai TPK.
Satya segera mengucap salam, akan tapi tidak terdengar sahutan dari dalam rumah. Dia segera mendorong pintu dengan tangannya yang kecil.
Ditaruhnya tas sekolahnya dan di gantinya seragam merah putih yang di kenakannya dengan kaus dan celana hariannya yang telah usang.
Setelah usai berganti baju dia kebelakang ke kiwan (kamar mandi) untuk membersihkan diri.
Jangan bayangkan kamar mandi nya tertutup rapat dan ada airnya melimpah ruah seperti sekarang ini.
Kamar mandi ini hanyalah terlindungi dari gedeg yang sudah tua dan rapuh tanpa ada atapnya.
Di dalamnya pun tidak ada wastafel, bak mandi ataupun bathup, yang ada hanyalah sebuah gentong dari tanah liat sebagai tempat air untuk kepentingan mandi dan lain sebagainya.
Setelah membersihkan dirinya, Satya kembali ke dalam rumah, di carinya makanan di lemari makanan.
Ternyata memang ibu sudah menyiapkan nasi beserta sambal kesukaannya tanpa lauk apapun, karena memang hanya inilah yang mampu di makan oleh keluarga ini.
Satya makan dengan lahapnya walaupun hanya nasi dan sambal belaka. Usai makan Satya mengambil perlengkapan mainnya.
Sebuah ketapel ataupun plinteng (blandring) dikalungkan di lehernya.
Satya adalah seorang anak yang mandiri, segala mainan bisa di buatnya dengan tangan-tangan kecilnya yang terampil.
Dia segera menutup pintu tanpa di kunci dan berlari-lari kecil ke tepeka tempat janjian dengan teman-teman kecilnya.
Dan siang itu, di tempat nyang agak lapang dalam naungan pohon Mindik yang sangat besar dengan daun-daun yang rindang melindungi badan anak-anak kecil itu dari sinar matahari terik yang menyengat.
Dengan teriakan-teriakan kas anak-anak kecil dengan serunya bermain bola.
Dua kelompok berhadap hadapan saling memperebutkan bola.
Ardian dengan tubuh mungilnya meliuk-liuk melewati lawan-lawannya dengan lincahnya.
Walaupun bertubuh kecil mungil Ardian sangat lincah menghadapi kawan-kawannya yang bertubuh lebih besar.
Tiap ada pertandingan melawan anak-anak dari dukuh lain, Ardian selalu menjadi momok bagi lawan-lawannya, tak ada yang bisa menghentikannya. dia adalah penyerang tangguh.
Ketika siang sudah berganti sore hari dan permainan bola sudah usai anak-anak kecil tersebut berjalan keluar komplek tepeka dan berlarian di pematang sawah menuju sungai yang jaraknya kurang lebih satu kilometer.
Mereka berlari dengan riang gembira diselingi tawa canda khas anak-anak.
"Ayo kita ke Watu Gajah saja!" Ajak Satya pada kawan-kawannya ini.
Ada beberapa lokasi sungai yang menjadi favorit anak-anak buat mandi dan bermain di sungai. Salah satunya adalah Watu Gajah, karena ada batu yang cukup besar menjorok ke sungai sehingga dinamakan Watu Gajah.
Tempat lain yang jadi favorit untuk bermain adalah di bawah jembatan dan juga kedung (bagian sungai yang dalam).
Lokasinya dekat sawah milik pak Mo'in, sehingga di beri nama kedung Pak Mo'in.
Setelah sampai di pinggiran sungai, anak-anak kecil tersebut segera melepas semua pakaian yang di kenakan, mereka telanjang bulat.
Mereka berlomba-lomba meloncat dari ketinggian batu yang menonjol tersebut
"Byur, byur, byur!" tiga anak sekaligus melompat terjun ke sungai yang beraliran cukup deras.
Sore itu mereka bermain di sungai dengan riangnya. Mereka tidak takut akan tenggelam karena mereka adalah perenang-perenang otodidak.
Begitulah dalam keterbatasannya Satya tumbuh menjadi anak yang kuat dan mandiri.
Ketika malam telah tiba, Satya akan di jemput oleh kakek buyutnya yang bernama Mbah Wiguno, seorang kakek yang sudah sangat tua, usianya sudah mendekati seratusan tahun, tapi masih terlihat kuat dan cekatan.
Ayah Satya sendiri jarang pulang kerumah, entahlah apa yang dikerjakan di luaran, Satya tidak mengetahuinya.
Ketika Satya di jemput oleh kakek buyutnya, ibunya Satya pun mengijinkannya.
Kakek buyut Satya ini adalah ayah dari kakeknya yang sudah tiada, meninggal karena sakit.
Malam ini Satya diajak oleh Mbah Wiguno kearah sungai di bawah jembatan kereta.
Daerah ini di kenal oleh penduduk desa tersebut dengan nama Klamping, itu merupakan sebuah lembah kecil dimana aliran sungai nya cukup dalam dan dipercaya di daerah tersebut sangat angker dan wingit.
Diatas Klamping ini ada gumuk (bukit) kecil yang di tumbuhi tanaman perdu dan semak-semak belukar, tampak seperti hutan kecil.
Dan di gumuk kecil ini masih banyak di jumpai ayam hutan dan juga landak.
Klamping ini sebenarnya adalah dasar dari bukit kapur kecil dan orang-orang disana menyebut kapur dengan Gamping sehingga lama kelamaan daerah ini sebagai Glamping dan berubah menjadi Klamping.
Pada awalnya memang Satya Wiguna sangat takut ketika di ajak oleh eyang buyutnya ketempat ini, akan tetapi lama kelamaan Satya menjadi terbiasa bahkan sangat menyukai tempat ini.
Mbah Wiguno mengajak menyeberangi sungai dengan melompati bebatuan sungai yang menonjol dengan di ikuti Satya kecil.
Dengan lincahnya keduanya berlompatan menuju ke arah dasar tebing Klamping.
Kemampuan Satya sendiri sudah sangat lincah di bandingkan dengan anak-anak kecil seusianya. Dan bahkan mungkin kekuatan dan kelincahannya sebanding dengan seorang pemuda.
Lembah Klamping sendiri merupakan bantaran sungai yang tidak banyak di manfaatkan oleh penduduk desa karena di anggap angker dan wingit, luasnya kira-kira sebahu menurut ukuran orang-orang desa.
Penduduk sekitar percaya bahwa tempat ini adalah tempat berdiamnya banyak makhluk-makhluk ghaib seperti siluman dan demit.
Disini ada juga sebatang kayu yang sudah sangat tua yang terletak di pinggiran sungai yang sudah ada entah sejak kapan yang di percaya penduduk secara turun-temurun sebagai badan dari ular yang terpotong yang dapat keluar darahnya jika dilukai.
Dan memang keberadaan kayu tua ini yang panjangnya kurang lebih lima meter dan berdiameter tujuh puluhan centimeter memang benar adanya.
Penduduk desa Landoh menyebutnya "Kayu Ulo" atau "Kayu Ular" dan memang kayu ini tidak pernah berpindah dari tempatnya walaupun di terjang banjir besar sekalipun. Hal ini benar-benar di luar logika penduduk desa.
Dan suatu ketika, Mbah Wiguno yang melintas dekat batang kayu ini mendadak ditegur oleh suara yang berat dan dalam.
"Sudah beberapa kali kamu melewati tempat ini, tapi kau tak menghiraukan aku Guno!" suara yang sangat dalam dan berat menegur Mbah Guno.
Mbah Wiguno segera menghentikan langkahnya!
"Oh, Naga Landoh! Maaf... Maaf," kata Mbah Guno seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di dada sambil menghadap batang kayu tua itu.
Dan tiba-tiba batang kayu ini sudah berdiri tegak! sehingga terlihat menjulang tinggi dan kini di ujung nya muncul sebuah kepala ular yang sangat besar.
Satya yang menyaksikan ini sangat takutnya, dia segera bersembunyi di balik tubuh Mbah Wiguna.
"Maaf Naga Landoh! Aku kira dirimu masih bertapa, sehingga aku tidak ingin menggangu tapa bratamu," kata Mbah Wiguna.
"Sebenarnya aku hanya penasaran saja dengan anak kecil yang selalu kamu ajak kemari Guno," kata ular naga raksasa ini.
"Aura bocah ini lain dari yang lain," lanjut si ular naga raksasa.
"Memang benar Naga Landoh, dia adalah cucuku yang sedang aku didik dan kelak jika sudah dewasa dia akan menggantikan kedudukanku di alam Sukma," jawab Mbah Wiguno.
Selanjutnya mereka berbincang tentang hal-hal yang tidak di pahami oleh Satya Wiguna.
Dan beberapa saat kemudian Mbah Wiguno mengajak Satya menuju sebuah goa yang terletak tidak jauh dari tempat itu, sedang-kan si ular raksasa telah kembali ke wujudnya semula! Sebatang kayu besar dan seperti sudah lapuk yang teronggok di pinggir sungai.
Sewaktu pertama kali ke tempat ini pada malam hari, Satya Wiguna sangatlah takut, sehingga selalu berada di belakang Mbah Guno dan memegang celana pendek selutut yang dikenakan Mbah Guno.
Apalagi ketika dilihatnya ada seonggok bayangan seperti orang berjongkok di kegelapan ketakutannya semakin bertambah.
"Ini pasti Genderuwo," pikir Satya , seperti cerita-cerita kawannya.
Akan tetapi Mbah Guno tampak tidak pernah takut akan apapun jua.
Dia berkata pada cucu buyutnya.
"Jangan takut Tole, ketakutanmu hanyalah karena bayangan-bayangan dari bentuk-bentuk pikiranmu saja, coba pikirkan menjadi bentuk-bentuk yang lucu saja atau hal-hal yang menarik," kata Mbah Wiguno.
"Jika Tole ( sebutan orang Jawa kepada anak atau cucu) menjumpai hal-hal ghaib anggaplah seperti itu juga.
Dan jika Tole suatu saat bertemu dengan sosok menakutkan seperti Genderuwo atau Banaspati, mereka sebenarnya juga sama seperti kita sebagai makhluk ciptaan Gusti Allah, Gusti Kang Murbeng Dumadi yang menciptakan semua alam semesta dan seisinya."
Mbah Wiguno memberikan wejangan-wejangan pada cucu buyutnya ini.
Dan ketika mereka sudah dekat dengan bentuk orang berjongkok tadi, dia segera sedikit membuka matanya dan melirik dari sudut matanya, karena sejak tadi dia memejamkan matanya sambil di seret oleh Mbah Wiguno, mbah buyutnya ini.
Segera di lihatnya kenyataan bahwa itu hanyalah pohon perdu saja.
Hatinya menjadi lega dan sudah berani berjalan sendiri tanpa menarik celana mbah buyutnya.
Begitulah sejak saat itu dia akan memandang hal-hal yang menakutkan menjadi hal-hal yang menggembirakan menurut pikirannya sendiri.
Ketika mereka sampai di bawah tebing berbatu kapur yang menjulang keatas setinggi puluhan meter.
Mbah Wiguno pun menghentikan langkahnya, kemudian menyibak gerumbul semak-semak belukar, sehingga tampaklah sebuah mulut goa yang hanya setinggi dada orang dewasa.
Mbah Wiguno segera mengeluarkan senter dan mengajak cucu buyutnya merangkak memasuki lorong gua yang sempit dan pengap.
Setelah merangkak lebih kurang lima belasan meter terdapat satu ruangan agak lebar yang berukuran kurang lebih dua kali dua meter.
Akan tetapi juga orang dewasa tidak bisa berdiri di ruangan ini.
Disudut ruangan ini terdapat sebuah pintu kayu yang kelihatannya sudah sangat kuno dan tua tapi masih terlihat kokoh dan kuat dengan terpasang sebuah gembok tua.
Mbah Wiguno segera mengeluarkan anak kunci yang juga terlihat sudah agak berkarat dan kuno.
Dibukanya pintu itu, Mbah Wiguno mengajak Satya untuk merangkak memasukinya.
Mbah Guno segera menutup kembali pintu dan menyelaraknya dari dalam.
"Ayo Tole kita bersemedi disini," ajak Mbah Wiguno pada cucu buyut kesayangannya ini.
"Akan aku ajak Tole ke tempat lain," kata Mbah Wiguno.
"Kemana Mbah?" Tanya sang cucu kepada eyang buyutnya ini.
"Nanti kamu juga akan mengetahuinya Le!" Jawab Mbah Wiguno.
Keduanya segera duduk bersemedi saling berhadapan. Setelah beberapa saat bersemedi dari tubuh Mbah Guno keluar cahaya kemerah-merahan melingkupi tubuh rentanya dan selanjutnya cahaya tersebut juga menjalari tubuh Satya yang bersemedi di depan eyang buyutnya tersebut.
Perlahan-lahan tubuh keduanya seperti bayangan dan secara bertahap berubah jadi cahaya sepenuhnya dan menghilang dari pandangan
Satya merasa mimpi melayang- layang di angkasa dan suatu saat jatuh cukup keras di bumi.
Ketika di bukanya kedua matanya, Satya Wiguna segera mendapati dirinya tengah duduk bersila di sebuah pendopo terbuka besar seperti pendopo di keraton.
Dan ternyata eyang buyutnya juga sedang duduk bersila di sampingnya, dan tampaknya sedang berbicara dengan seseorang yang duduk di sebuah kursi singgasana seperti pernah di lihatnya di pertunjukan ketoprak.
Selain Satya dan Mbah Wiguno, tampak di situ juga hadir beberapa orang yang semuanya duduk di depan orang yang berpakaian layaknya raja di ketoprak saja.
Satya memandang sekeliling dengan kaget, dia berpikir apakah dia diajak oleh eyang buyutnya ini nonton ketoprak?
Tapi kalo nonton ketoprak kok dirinya dan Eyang buyutnya berada di dalam nya? pikiran kecilnya pun berpikir begitu saja.
Nonton ketoprak! ya pasti dirinya sedang diajak nonton ketoprak bersama eyang buyutnya.
"Hamba sowan Kanjeng Surodilogo!" Mbah Wiguno menelangkupkan kedua telapak tangannya menyembah orang yang duduk di singgasana seperti singgasana ketoprak tersebut yang nampaknya bernama "Surodilogo!"
Ternyata itu adalah Pisowanan (pertemuan) Agung yang di lakukan di sebuah kerajaan antah berantah yang tidak di ketahui oleh Satya Wiguna.
"Ini adalah cucu buyut hamba kanjeng dan selanjutnya dialah yang akan meneruskan ilmu-ilmu hamba dan akan meneruskan posisi hamba di keraton ini, apabila Kanjeng Ratu Surodilogo merestuinya."
"Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka Guno, akan tetapi nanti nya harus tetap diadakan ujian bagi cucu buyutmu itu jika waktunya telah tiba. Maka dari itu didiklah cucumu itu baik-baik," kata sang Ratu Surodilogo
Begitulah Pisowanan Agung itu berjalan cukup lama karena Sang Ratu Surodilogo mendengarkan juga laporan-laporan dari para pengikut setianya yang lain.
Satya Wiguna sudah tertidur dengan lelapnya dengan kepala bertelekan di paha Mbah Wiguno yang sedang duduk bersila.
Ketika Satya membuka matanya, tampak di sekitarnya gelap sekali, sehingga dia kaget dan takut dan spontan berteriak.
"Mbah, Mbah, Mbah dimana ini?" Tanya Satya ketakutan.
"Mbah disini Tole," Mbah Guno menepuk-nepuk bahu Satya untuk menenangkannya! Satya segera tenang ketika mendengan suara Mbah Guno.
Begitulah setiap malam selepas Isya, Satya selalu diajak Mbah Guno ke Klamping untuk diajarkannya dasar-dasar ilmu kanuragan.
***
Waktu berjalan dengan cepatnya, tanpa terasa hari-hari ujian akhir yang menentukan kelulusan dari sekolah dasar sudah hampir tiba, ibu sudah memperingatkan Satya untuk mengurangi bermainnya agar nanti ketika lulus bisa masuk ke SMP favorit sesuai keinginan sang ibu.
Tapi namanya anak laki-laki, pasti tidak akan betah belajar, hal ini juga terjadi pada Satya.
Dia jarang sekali belajar, kalau belajarpun hanya membolak-balik buku tanpa tahu apa yang di baca dan tanpa tahu apa yang harus dipelajari.
Walaupun begitu, selalu saja peringkat satu atau dua selalu saja bisa diraih.
Satya termasuk anak yang cukup pandai dan disayang para guru, di sekolah dasar ini selalu saja menjadi juara kelas, atau kadang di peringkat dua, dan itu menjadi siklus, kalo tidak peringkat satu ya dua.
Anak yang menjadi pesaing berat dalam hal kepandaian adalah teman perempuannya yang bernama Minarni.
Seorang gadis cilik yang beranjak dewasa dan banyak di idolakan teman-teman sekelasnya, termasuk Satya.
Walau bandel, Satya suka mengaji di mushola kepunyaan Pak Salim yang dekat rumahnya, mushola ini berada di perempatan jalan raya.
Setiap habis magrib dia pasti ikut mengaji di sana, dengan otak yang encer, ilmu agama yang di ajarkan cepat sekali mampir di otaknya.
Hari-hari terakhir mendekati ujian, Mbah Wiguno sudah tidak menghampiri Satya, karena sudah di beritahu oleh Ibu supaya jangan mengajak Satya lebih dahulu.
Dan Mbah Wiguno mengiyakannya.
Setelah masuk waktu Isya hari itu, Satya yang disuruh ibunya hanya membolak-balikkan bukunya saja tanpa tahu harus belajar apa.
Dia jadi jenuh, akhirnya dia menyelinap keluar rumah dan langkahnya pertama kali adalah ke rumah Hartono yang paling dekat dengan rumahnya, hanya berjarak kurang lebih lima puluhan meter terpisahkan oleh rel kereta api.
Bab 3
"Ton!" bisik Satya pelan.
Hartono yang sedang membuka buku, celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya,
"Siapa?" bisiknya juga pelan, khawatir dengan ibunya yang judes dan galak. Ya Ibunya Hartono ini sangat judes dan galak, Hartono ini agak terkekang karenanya, jadi dia agak kuper.
"Aku...! Satya!" bisik Satya pelan dari sela-sela dinding kayu rumahnya Hartono.
"Ayo kita main!" bisik Satya lagi.
Hartono tampaknya agak-agak takut kalau ketahuan Ibunya, karena Ibunya terobsesi anaknya ini bisa melampaui Satya dalam kepandaian dan segalanya, tapi Hartono sendiri sangat mengagumi dan patuh pada Satya sahabatnya.
"Aku takut ketahuan ibu," jawab Hartono lirih.
Dan kelihatannya kali ini Satya tidak berhasil merayu Hartono untuk di ajaknya main.
Satya akhirnya menyerah merayu Hartono.
Langkahnya kemudian di arahkan ke padukuhan lain yang berdekatan dengan rumahnya.
Ya dia menuju ke rumah Bambang, karena anak ini mudah dirayu untuk mengikutinya, apalagi orang tuanya juga tidak terlalu mengekang, bahkan cenderung membebaskannya dalam bermain.
Dan benar saja, Bambang terlihat bersama Satya berjalan di pematang sawah yang gelap, hanya sebatang obor yang dibawa mereka.
Waktu-waktu mendekati musim kemarau seperti ini adalah masanya anak-anak bermain aduan jangkrik.
Malam itu Satya dan Bambang menyusuri pematang di sawah yang di tanami kacang tanah dan Jagung.
Setelah padi di tuai, memang petani di desa ini memilih kacang tanah, kacang hijau, juga jenis kacang yang lain.
Ketika sudah memasuki areal persawahan terdengar banyak sekali suara jangkrik. Memang ini baru musimnya jangkrik.
"Mbang, hari ini kita dapat jangkrik banyak nih!" Kata Satya sambil menunjukkan toples yang di bawanya yang sudah terisi jangkrik berbagai jenis.
Ada Jlitheng (hitam legam) Jerabang ( merah) juga Pilo (agak kekuningan).
"Bener Sat, besok bisa kita adu setelah pulang sekolah sama temen-temen," sahut Bambang.
Dalam mencari jangkrik ini Satya yang bertugas menangkap dan Bambang yang bertugas membawa obor, sedangkan toples tempat jangkerik di cangklongkan di bahu Satya.
Malam itu mereka mendapatkan jangkerik yang cukup banyak dan mereka segera berjalan pulang.
Dalam perjalanan, mereka melewati gerumbul bambu yang besar-besar dan rimbun, banyak anak-anak yang sangat takut jika lewat jalanan ini, bahkan orang tua pun banyak yang takut, karena di dipercaya sebagai sarangnya lelembut seperti Genderuwo, Banaspati atau jenis makhluk halus lain.
Genderuwo sendiri di lukiskan oleh penduduk seperti sosok berbulu lebat hitam seperti kingkong, tinggi dan besar terbiasa bertempat di pohon besar juga bambu yang rimbun.
Sedangkan Banaspati di lukiskan sebagai bola api yang bisa bergerak sendiri dan suka menyedot darah manusia.
"Aku takut lewat sini hii ." Kata Bambang mulai ketakutan. Dia memegangi ujung bajunya Satya saking takutnya
Bamb tidak berani melihat gerumbul-gerumbul bambu yang melambai-lambai tertiup angin malam, seperti bayangan-bayangan setan yang sedang melambai pada mereka.
Satya sebenarnya juga takut, tapi berhubung ada kawannya jadi hatinya di kuat-kuatkan.
Ketika mereka sudah dekat dengan batang-batang bambu yang rimbun mendadak terlihat ada bola api berwarna merah menyala- nyala melayang di udara seperti layaknya permainan bola api saja.
Satya sebenarnya juga sangat takut apalagi Bambang yang segera bersembunyi di belakangnya.
Satya segera teringat kata-kata Mbah Wiguno, bahwa manusia diciptakan dengan derajat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya seperti jin dan setan.
Apalagi akhir-akhir ini dia juga sering menghadapi hal- hal aneh bersama Mbah Wiguno!
Dia sudah di beri pesan Mbah Wiguno supaya jangan takut menghadapi makhluk halus, anggap saja seperti hal-hal yang lucu atau menarik.
Hilang sudah rasa takut di hati Satya. Dia berpikir ini adalah bola api mainan yang sering di mainkan anak-anak dalam mengisi tujuh belasan memperingati kemerdekaan Republik Indonesia.
Kini dia berjalan semakin dekat, bola apipun tampaknya masih menunggu di tempatnya.
Satya berjongkok dan mengambil segenggam tanah halus seperti pasir yang halus.
Ketika sudah berjarak dekat dengan bola itu, Satya segera berkata, "kamu ini hewan apakah, mengganggu aku saja!"
Dan dia kemudian telah melontarkan tanah yang di genggamnya kearah bola api itu.