Bab 1

Permana Brata meninggalkan Hutan Titir yang penuh kenangan baginya. Ada kenangan buruk, ada kenangan baik, dan ada kenangan yang tidak mungkin terpisahkan dari kehidupannya sebagai seorang anak manusia. Permana, si Pendekar Budiman itu memang ingin melupakan masa lalu. Masa yang sebagian merupakan masa kelam. Masa-masa yang sebagian penuh kisah hitam.

Karena dirinya memang berasal dari sebuah hubungan gelap. Sehingga menyebabkan sebagian dari jiwanya berada dalam kegelapan. Apalagi masa kecilnya dididik oleh mendiang Padaswaja yang penuh watak angkara murka.

"Kau hidup tanpa diharapkan dari kedua orang tuamu!” kata Padaswaja semasa masih hidup. Saat itu Padaswaja telah mewariskan segala ilmu sesatnya kepada Permana. “Kamu lahir dari hubungan gelap. Kamu dibuang di tengah Hutan Titir. Kamu sekarang telah menjadi manusia kuat, pendekar hebat yang kebal dari senjata apa pun. Kamu memiliki ajian worowojo yang bisa membakar apa saja. Maka binasakan semua orang yang membuatmu tersia-siakan sejak lahir!”

Setelah kematian Padaswaja, Permana mengembara untuk mencari kedua orang tuanya. Siapa pun yang tidak bisa menunjukkan keberadaan kedua orang tuanya, akan dia binasakan.

Untunglah masa kelam itu tidak berlangsung selama hidup Permana. Ada tiga orang yang membimbing Permana menuju jalan kebenaran: Wacoko, Ki Sasmaya, dan Bendu.

Mendiang Wacoko keturunan keenam Ki Angeb. Wacoko pemilik pusaka sakti Pedang Biru. Pada masa mudanya, Ki Angeb prajurit Kerajaan Majapahit, salah satu anak buah kepercayaan Mahapatih Gajah Mada. Ki Angeb merupakan salah satu prajurit setia andalan Gajah Mada di medan perang.

Wacoko mewarisi Pedang Biru alias Pedang Kebenaran Sejati dari Ki Angeb. Saat bertarung melawan Permana demi membela harga diri keluarga, Wacoko kalah. Sebelum ajal, Wacoko mewariskan Pedang Biru kepada Permana dengan pesan sama seperti yang diucapkan Gajah Mada kepada Ki Angeb, “Gunakan Pedang Biru untuk menumpas segala angkara murka di muka bumi!”

Peristiwa itu menyadarkan Permana dari perbuatan jahatnya dimasa lalu. Sejak saat itu, Permana ingin membinasakan diri dengan menggunakan Pedang Biru. Waktu itu Permana menyadari bahwa dirinya adalah jelmaan angkara murka yang harus binasa. Dia ingin menggunakan Pedang Biru di tangan untuk menghabisi diri sendiri.

Pada saat itulah muncul orang kedua dalam lintasan hidup Permana. Orang itu bernama Ki Sasmaya, yang menyadarkan Permana dari masa kelamnya.

“Kamu akan lebih berguna bagi sesama manusia kalau masih hidup, bukan setelah mati,” begitu kata Ki Sasmaya. Ki Sasmaya menjadi guru Permana. Ki Sasmaya termasuk pendekar dari golongan putih. Berkat didikan Ki Sasmaya, Permana menjadi Pendekar Budiman, pendekar yang punya budi pekerti terpuji.

Ki Sasmaya memberikan segala ilmu yang dimilikinya kepada Permana. Ilmu tentang budi pekerti, ilmu tentang kehidupan dan pergaulan hidup, ilmu kepekaan batin, ilmu ketajaman pikir, dan sepuluh jurus ilmu silat yang aneh. Aneh, tapi dahsyat.

“Sepuluh jurus silat itu merupakan sepuluh jurus utama. Tiap jurus dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi. Sepuluh syair dijabarkan menjadi sepuluh jurus utama. Tiap satu jurus utama merupakan hasil pendalaman dan penja¬baran dari satu syair. Tiap satu jurus utama bisa kamu kembangkan sesuai kemampuanmu,” Ki Sasmaya memberikan penjelasan.

Setelah mendapatkan ilmu dari Ki Sasmaya, Permana ingin mencari kedua orang tuanya. Untuk tujuan itu, Permana bertemu dengan Bendu. Pendekar bertubuh pendek yang baik hatinya. Dia tahu tentang masa lalu, termasuk tentang kedua orang tua Permana.

“Ibumu bernama Prabasari. Ayahmu bernama Baron Smith,” Bendu menjelaskan tentang orang tua Permana. “Dulu Prabasari adalah permaisuri di Kerajaan Pulungwarih. Sekarang beliau menjadi raja di Pulungwarih menggantikan mendiang Raja Jarabas yang telah mangkat. Baron Smith ahli obat. Dia datang dari suatu tempat yang sangat jauh. Orang menyebutnya Tanah Hijau. Untuk sampai di Tanah Jawa dibutuhkan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu naik kapal layar.”

Permana merasa bangga dalam hati saat mendengar cerita Bendu tentang kedua orang tuanya. Bendu mengatakan bahwa ibunya sangat cantik dan ayahnya sangat tampan. Kini langkah kaki Permana lebih tegap dan tegar. Apalagi kini Permana menyandang Pedang Biru di punggungnya.

Pedang Biru pusaka berbentuk pedang. Pedang itu memancarkan sinar biru menyilaukan bila dicabut dari sarungnya. Sebuah pusaka sakti peninggalan dari kakek moyang Wacoko.

Wacoko, pewaris keenam dari Ki Angeb. Wacoko memberikan pesan terakhir yang tidak akan dilupakan Permana selama hidup. Permana harus menggunakan Pedang Biru untuk menumpas segala bentuk angkara murka di muka bumi, tanpa pandang bulu.

Tentu saja Permana merasa bangga mendapatkan kepercayaan itu. Dia merasa bangga, juga karena tahu bahwa Pedang Biru itu dulunya pemberian Mahapatih Gajah Mada kepada Ki Angeb. Ki Angeb merupakan salah satu prajurit setia andalan Gajah Mada di medan laga.

Dia menerima pedang pusaka itu juga dengan pesan yang sama, seperti yang dikatakan Ki Angeb kepada anak cucunya secara turun-temurun: Gunakan Pedang Biru untuk menumpas segala angkara murka di muka bumi!

Dengan demikian, secara tidak langsung, Permana mendapatkan pesan. Atau perintah. Perintah dari mendiang Sang Mahapatih Gajah Mada…!

Dengan pemikiran seperti itu membuat Permana tidak ingin mengkhianati si pemberi perintah. Dia selalu mengeraskan tekad. Membajakan keinginan untuk melaksanakan perintah itu.

Permana berjanji dalam hati untuk menggunakan Pedang Biru sebagaimana mestinya. Dia tidak ingin menyelewengkan kekuasaan atas pusaka sakti itu. Sebab kalau sampai dia selewengkan kekuasaannya atas pusaka itu, maka justru akan makin runyam dunia persilatan.

Mengapa bisa begitu? Karena Permana mempunyai ilmu silat tinggi dengan jurus-jurus aneh nan dahsyat dari Ki Sasmaya. Ki Sasmaya, sosok pendekar dari aliran putih yang mempunyai sepuluh jurus utama dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi. Satu dari kesepuluh jurus tersebut telah digunakan Permana pada saat menghadapi Bendu dan Ganggarati. Permana berhasil mengalahkan mereka tanpa mengalami kesulitan yang berarti.

“Tugas yang kamu sandang itu tidak ringan,” terngiang pesan Ki Sasmaya dalam benak Permana. “Tugasmu berat, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Saat ini angkara murka makin merajalela di dunia persilatan.”

“Manusia-manusia jahat makin ganas dalam melakukan kejahatannya,” kata Ki Sasmaya. “Manusia-manusia laknat makin menjadi-jadi dalam mengumbar tindakan keji. Permana… kamu harus memusnahkan semuanya! Apakah kamu sanggup melakukannya? Aku yakin kamu bisa melaksanakan tugasmu dengan sebaik-baiknya.”

Pesan dan dorongan semangat dari Ki Sasmaya membuat Permana merasa lebih percaya diri. Dirinya bisa melangkah dengan pasti menapaki jalan menuju Pulungwarih.

Dalam perjalanannya menuju Kerajaan Pulungwarih, Permana menempuh waktu berhari-hari. Waktu pagi dan siang, Permana selalu berjalan menuju ke arah timur.

Malam harinya, menginap di desa yang dia lewati. Atau kadang-kadang tidur di sebuah gubuk tengah sawah yang biasa digunakan oleh petani untuk beristirahat waktu siang hari.

Suatu malam dia singgah di sebuah rumah penduduk Dukuh Genturan. Sebuah desa pelosok yang masih termasuk wilayah Kadipaten Moncer, masih berada dalam wilayah kekuasaan Pulungwarih.

Soma, nama pemilik rumah yang disinggahi Permana merasa beruntung. Karena ada orang yang bisa dia ajak bicara tentang keadaan Dukuh Genturan. Sebuah dukuh yang terletak di kaki sebuah perbukitan berbatu-batu terjal.

Dukuh itu semakin tidak aman sejak kedatangan Srenggoloyo, anak Adipati Ardalapa, penguasa Kadipaten Moncer.

***

Bab 2

Srenggoloyo akhir-akhir ini sering datang ke Genturan untuk mencari mangsa. Siapa lagi yang dia mangsa kalau bukan gadis-gadis desa yang lugu. Gadis-gadis Genturan tidak berani menolak keinginan Srenggoloyo. Berani menolak keinginan Srenggoloyo, sama saja dengan berhadapan dengan Ardalapa secara langsung!

“Jadi sekarang ini Genturan mulai tidak aman lagi ya, Pak?” tanya Permana ketika keduanya berbincang-bincang di emper rumah Soma. Sebuah rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Terletak di tepi dukuh, yang dilintasi jalan ke timur menuju Pulungwarih.

“Benar, Nak. Makin hari, kami sekeluarga makin resah saja dibuatnya,” kata Soma dengan nada prihatin dan sedih.

“Memangnya di dukuh ini tidak ada yang bisa melawan Srenggoloyo?”

“Sebenarnya ada, tapi sudah tak ada gunanya. Paling sedikit ada satu keluarga ditumpas dan enam pemuda dibantai secara keji oleh anak buah Srenggoloyo. Perlu Nak Permana ketahui bahwa anak buah Srenggoloyo tak lain dan tak bukan adalah para prajurit Kadipaten Muncar.”

“Itu artinya, para prajurit kadipaten itu malah diperalat oleh Srenggoloyo?”

“Benar, Nak. Melihat kenyataan ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apalah daya seorang petani dusun macam aku ini, Nak. Hanya tinggal pasrah menunggu nasib saja. Orang-orang yang duduk di atas singgasana Kadipaten Muncar dan para punggawanya yang berkuasa. Yang sangat kuasa menentukan nasib orang-orang kecil macam aku ini.”

“Seharusnya jangan mudah mupus seperti itu, Pak Soma!”

“Lantas, apa yang bisa kulakukan? Melawan kekuatan mereka yang begitu besar itu? Tidak mungkin kulakukan. Karena hal itu sama saja dengan bunuh diri, Nak. Sama saja dengan mati konyol akibat keberingasan para prajurit-prajurit yang diperalat Srenggoloyo.”

“Memang…, kalau Pak Soma melawan sendiri-sendiri, maka akan habis disikat mereka. Tetapi kalau Pak Soma dan penduduk sedukuh sini bersatu, nyali mereka akan ciut. Srenggoloyo dan para prajuritnya pasti akan berhitung kalau ingin menindas kalian.”

Soma terdiam. Petani tua yang usianya lebih dari setengah abad itu merasa sulit melaksanakan pendapat Permana. Mungkin anak muda yang ada di sampingnya itu bisa melawan mereka sendirian karena dia sosok pendekar yang memiliki ilmu silat.

Permana juga memiliki senjata ampuh berupa Pedang Biru. Tapi dirinya dan para penduduk Genturan ini? Paling-paling mereka hanya memiliki ilmu bertani, itu pun hanya berdasarkan naluri para leluhur jaman dulu.

Malam terus berlalu. Mereka segera berangkat tidur karena besok pagi masih banyak yang mereka kerjakan. Besok pagi, seperti kebiasaannya, Soma akan ke sawah seperti bersama istrinya, Rinten. Sedangkan Permana, akan meneruskan perjalanan hidupnya menuju Pulungwarih. Permana ingin secepatnya bertemu ibundanya, Prabasari.

Malam semakin larut. Soma dan Permana terlelap tidur. Keduanya terbangun ketika mendengar suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan.

Permana, Soma, Rinten dan Raras Arum berada di halaman rumah bambu milik keluarga Soma. Permana siap meneruskan perjalanannya, sedangkan Soma dan Rinten akan ke sawah dengan membawa peralatan tani mereka. Sedangkan Raras Arum akan meneruskan masak untuk orang tuanya. Gadis cantik itu hanya bisa merelakan kepergian Permana.

Sosok Pendekar Budiman yang sejak kemarin menjadi pembicaraan gadis-gadis sedukuhnya. Teman-temannya menduga Permana adalah calon suami Raras.

Padahal tidak demikian kenyataannya. Permana hanyalah seorang petualang yang sedang dalam perjalanan. Karena berhari-hari berjalan, maka kelelahan. Sesuatu yang wajar kalau Pendekar Pedang Biru itu kelelahan. Karena sejak pertama bertualang, belum pernah beristirahat.

Baru kemarin dia merasa sangat kelelahan dan memutuskan untuk menginap di rumah seorang penduduk. Penduduk itu kebetulan memiliki seorang anak gadis bernama Raras.

Dalam benaknya, Permana merasa terpikat oleh kecantikan Raras. Tapi dirinya tahu diri. Dia harus menghilangkan segala godaan di hatinya. Pendekar Budiman itu tidak ingin keinginannya untuk segera bertemu ibundanya terhalang oleh urusan cinta.

Pendekar muda yang berwajah tampan itu memang sudah bertekad untuk segera menemui Prabasari. Halangan apa pun akan dia hindari demi mencapai keinginan kuat di hati untuk secepatnya bertemu Ratu Pulungwarih tersebut.

Aku harus tabah menghadapi godaan ini. Begitu kata hati Permana. Walau hati ini tertarik pada Raras, tapi aku menahan diri. Aku harus menahan kesedihan karena harus berpisah dengan Raras. Gadis cantik yang jauh di lubuk hati, mulai memikat hatiku.

Permana segera pamit kepada tiga orang yang telah berbaik hati dengan memberinya tumpangan menginap, walau hanya semalam. Memang hanya ingin menginap semalam, sesuai rencana Permana. Dia tidak ingin terlalu lama tinggal di Genturan.

Pulungwarih adalah tempat utama yang harus dia capai secepatnya. Kalau perlu, pada waktu matahari berada di ufuk barat nanti dirinya sudah sampai tujuan. Rencananya, Permana nanti akan menginap lagi di kota Kerajaan Pulungwarih. Sedangkan pagi berikutnya ingin menghadap ibundanya, Prabasari. Sekarang telah menjadi raja, sehingga panggilannya ‘Ratu Prabasari’.

Permana memandang cukup lama kepada tiga orang baik hati itu. Terutama sekali, sudut matanya memandang ke arah Raras Arum. Setelah itu, dia segera membalikkan tubuhnya. Menyongsong sinar matahari yang mulai terbit di ufuk timur. Berjalan mantap menentang sinar matahari memerah jingga yang hangat.

Raras merasa cemas ketika Permana meninggalkannya. Meninggalkan Genturan. Sepertinya ada sesuatu yang membahayakan bila sampai Genturan ditinggalkan Pendekar Budiman itu.

Namun karena Permana mengatakan ada urusan pribadi dan sangat penting harus dikerjakan, maka Raras tidak bisa berbuat banyak. Selain itu, Raras tak mungkin bisa mencegah kepergian Permana. Pemuda tampan itu memang bukan apa-apanya.

Tidak ada hak bagi Raras untuk mencegah kepergian Permana. Tidak ada yang bisa mencegah Permana untuk secepatnya meneruskan perjalanan menuju Pulungwarih. Tanpa sepengetahuan ketiga penduduk Genturan itu, Permana secepatnya ingin melacak kebenaran atas kisah hidupnya yang pernah diceritakan oleh Bendu.

Rupanya yang dicemaskan Raras ada benarnya juga. Baru beberapa langkah Permana meninggalkan rumah Soma, mendadak dari arah selatan terlihat gerombolan berkuda bersenjata lengkap dipimpin oleh seorang muda berwajah rupawan.

Soma, Rinten, dan Raras Arum tahu mereka yang datang itu. Wajah ketiga penduduk Genturan tersebut memucat. Mereka buru-buru hendak bersembunyi ke dalam rumah.

Namun gerombolan manusia yang terdiri dari tujuh orang itu telah dekat mereka. Ketujuh orang berpakaian mewah, menunjukkan kalau mereka berasal dari kota Kadipaten Moncer, langsung mencegah Soma dan anak-istrinya yang ingin masuk ke rumah.

Mereka melalui Permana dengan sikap dingin saja. Melewati Permana dengan anggapan bahwa sosok pemuda itu tidak ada di situ. Ketujuh orang dari Kadipaten Moncer itu menganggap Permana sepi. Tidak ada.

Mati.

Sesial-sialnya hidup adalah dianggap mati padahal masih hidup. Semalang-malangnya nasib adalah ada dianggap tiada. Hidup dianggap mati. Hidup dimatikan. Masih hidup telah dimatikan. Seburuk-buruknya nasib bila masih ada dianggap tiada. Ada dianggap tidak ada. Ada atau tidak ada dianggap sama, tidak ada.

Mati.

“Hei Soma Kancil!” teriak si tampan dan bersih wajahnya dari atas kuda. Keenam prajurit Moncer yang berada di bawah kendalinya juga berhenti. Tiga di samping kiri, tiga di samping kanannya. “Mau masuk rumah ya?”

***

Bab 3

“I-iya…, Den,” jawab Soma tergagap. Pucat wajahnya. Tak beda dengan Rinten dan Raras. Ketiganya pucat. Pucat pasi seperti mayat. Seperti tidak bernyawa. Seperti tidak hidup.

Mati.

“Kenapa mau masuk rumah?”

Soma tidak menjawab. Bibirnya gemetar. Rinten dan Raras memeluk Soma, juga gemetar.

“O…, rupanya kalian ingin menghindariku ya?” kata si tampan rupawan yang bernama Srenggoloyo itu. “Kalian jijik melihat kedatanganku? Kalian mau menolak keinginanku untuk mengambil Raras jadi gundikku di kadipaten?”

“Bukan begitu, Den. Raras bukan jijik dengan Raden. Hanya…, Raras tidak mau jadi gundik Raden di kadipaten….”

“Kalau begitu maunya jadi apa? Jadi istriku yang utama sebagai calon permaisuriku? Boleh…, boleh saja kalau itu keinginanmu, Soma. Asalkan Raras mau jadi istriku, maka segala keinginannya akan kuturuti!”

Soma hanya diam. Tidak mau berkata-kata lagi. Janji-janji yang muluk-muluk seperti yang diucapkan Srenggoloyo itu selalu diucapkan bajul buntung ketika merayu calon mangsanya. Namun kalau sudah dapat, di kadipaten sana, cuma dijadikan gundik saja! Setelah bosan, dibuang seperti sampah. Habis manisnya, maka ampasnya dibuang ke sembarang tempat!

Sering Soma mendengar cerita gadis-gadis malang dari Genturan ini yang kena bujuk rayu Srenggoloyo. Pada awalnya Srenggoloyo pasti akan sangat baik dan lembut memperlakukan gadis dari Genturan ini di Kadipaten Moncer sana.

Tapi selang waktu tidak lama, atau asalkan sudah bosan, Srenggoloyo dengan teganya membuang gadis-gadis itu semaunya! Ada yang disuruh kembali ke Genturan dengan jalan kaki, ada yang disuruh meninggalkan Kadipaten Moncer tanpa boleh menginjak kota kadipaten itu. Bahkan kabarnya ada yang dibunuh oleh Srenggoloyo secara kejam karena si gadis tidak mau meninggalkan kadipaten!

Cerita-cerita yang seram-seram begitu membuat hati Soma merasa miris juga. Maka dengan sekuat tenaga dia ingin menghindarkan Raras dari kekejaman macam begitu. Soma tidak ingin anak gadisnya yang semata wayang itu cuma dijadikan gundik –lebih rendah dari selir—dari Srenggoloyo.

Srenggoloyo adalah pangeran pati, calon pengganti Ardawalpa, Adipati Moncer. Sebagai orang tua, wajar-wajar saja kalau Soma berkeinginan begitu. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya sengsara hidupnya. Begitu pula dengan Soma.

Maka segala upaya telah dia lakukan untuk menghindarkan Raras dari Srenggoloyo. Di antaranya, membatasi Raras keluar dari rumah. Maksudnya, supaya Raras jangan sampai ketahuan Srenggoloyo.

Soma menyadari bahwa anaknya itu cantik. Bahkan sangat cantik. Banyak orang mengatakan, Raras adalah kembang Dukuh Genturan! Soma –dan juga Rinten—sangat hati-hati menjaga Raras. Agar jangan sampai jadi korban si bajul buntung semacam anak Ardawalpa itu!

Namun agaknya Srenggoloyo mempunyai mata telinga di seluruh wilayah Kadipaten Moncer, termasuk di Genturan ini. Walaupun Genturan termasuk wilayah pelosok dan terpencil, rupanya Srenggoloyo tahu juga bahwa di sini ada gadis cantik bernama Raras. Entah bagaimana caranya, yang jelas Srenggoloyo bisa tahu keberadaan gadis paling cantik di Genturan itu!

Kini malah Srenggoloyo sudah datang ke rumah Soma. Itu berarti Soma sekeluarga berada dalam bahaya. Mereka tidak mungkin bisa menghindari desakan dan paksaan dari Srenggoloyo.

Kalau sampai mereka menolak keinginan Srenggoloyo, maka bahaya ada di depan mata! Maut sewaktu-waktu siap menjemput kalau sampai mereka tidak menuruti keinginan Srenggoloyo yang tadi telah diucapkan walau secara tidak langsung…!

“Raras…, ehm…, siapa nama lengkapmu cah ayu?” tanya Srenggoloyo, langsung kepada Raras Arum.

“Raras Arum, Den,” Soma yang menjawab pertanyaan Srenggoloyo. Soma sudah tahu watak anaknya. Kalau tidak suka pada seseorang, Raras tidak mau berbicara walau hanya sepatah kata pun!

“Aku bukan berkata denganmu, Soma! Aku ingin jawaban Raras secara langsung!”

“Hamba tahu maksud Raden, tapi Raras tidak mau berbicara bila dia merasa tidak suka pada seseorang. Jadi hamba berani menjawab walaupun tidak ditanya Raden karena….”

“Hei jangan banyak bacot! Nih terimalah hadiahku untuk kelancangan mulutmu, hiaaa!” teriak Srenggoloyo sambil melompat dari atas pelana kudanya!

Srenggoloyo mencabut goloknya yang bergagang emas. Golok Saraju namanya. Pusaka sakti pemberian Ardawalpa. Ada senjata sakti sejenis Golok Saraju, yaitu Golok Seroja yang sekarang masih di tangan Ardawalpa sebagai senjata andalan. Orang dunia persilatan kenal kesaktian kedua golok itu. Golok Saraju hebat dan sangat mematikan, tapi Golok Seroja lebih mematikan lagi!

Ada hawa panas memancar dari Golok Saraju sewaktu dicabut Srenggoloyo dari sarungnya. Tubuh pendekar tampan itu masih melesat di udara waktu mencabut dan siap menebas kepala Soma!

Gerakan Srenggoloyo sangat cepat, sehingga tidak ada kesempatan bagi Soma untuk menghindar! Kelihatannya Soma sendiri merasa panik dan sulit bertindak cepat pada situasi tak terduga itu.

Soma benar-benar tidak menduga kalau Srenggoloyo akan berbuat kejam secepat itu! Soma hanya membelalakkan mata lebar-lebar sewaktu Golok Saraju di tangan Srenggoloyo terayun dari atas untuk ditebaskan ke kepalanya!

Sreeek…wet! Golok tercabut dari sarung dengan cepat. Dengan cepat pula golok itu terayun. Hanya berlangsung beberapa kejapan mata saja kejadian itu. Sulit diikuti oleh gerakan mata, saking cepatnya gerakan yang dilakukan oleh Srenggoloyo terhadap Soma itu!

Rinten dan Raras hanya bisa menjerit sambil menutup mata ketika kejadian cepat itu akan menimpa Soma. Kedua wanita itu tidak bisa berbuat apa pun juga selain hanya menjerit panik. Mereka merasa seolah-olah akan kehilangan orang tercinta. Yang satu akan kehilangan suami, sedang satunya akan kehilangan ayah.

Pada saat bersamaan, secara tak terlihat ada tenaga dalam terkirim dari jarak puluhan tombak. Tenaga dalam itu dikirim untuk mendorong tubuh Soma dan anak-istrinya. Sehingga ketiganya terpental beberapa tombak ke samping kanan dan kiri.

Menyebar dengan formasi segi tiga, sehingga antara yang satu dengan lainnya tidak saling bertumpang tindih tapi memisah. Tenaga dalam jarak jauh yang dikirimkan itu bukan tenaga dalam yang mematikan, sehingga ketiganya bisa tersingkir dari tempat masing-masing dan jatuh di tanah tanpa menderita luka yang berarti.

Mereka bergeser tempat secara cepat dan masih dalam posisi berdiri. Cuma sedikit terhuyung karena kagetnya. Ketiganya merasa heran atas kenyataan itu.

Lebih heran lagi Srenggoloyo dan keenam prajuritnya. Srenggoloyo hanya bisa melongo ketika menyadari bahwa golok saktinya hanya menyabet angin. Menyabet tempat kosong. Padahal yang dia inginkan adalah kepala Soma. Karena Soma dia anggap terlalu lancang dan berani menentang kata-katanya.

“Bajingan…, mengapa aku gagal membantai mereka?” kata-kata serapah muntah dari mulut Srenggoloyo. “Setan mana yang menghalangi aku untuk membungkam manusia-manusia coro itu untuk selama-lamanya?”

Srenggoloyo memang suka membungkam seluruh rakyatnya. Seluruh rakyat Kadipaten Moncer tidak boleh menentang setiap keinginannya. Prinsip ini diterapkan Srenggoloyo karena meniru Ardawalpa, sang ayahanda.

Keduanya memang tidak ingin rakyat Moncer berani berbicara untuk menyatakan kebenaran. Soma tadi sebenarnya berkata benar. Berkata apa adanya.

Raras memang tidak ingin berbicara kepada siapa pun yang dia benci. Tidak pandang bulu, walaupun yang dia benci itu adalah Srenggoloyo. Raras benci Srenggoloyo, maka dia tidak mau berbicara dengan Srenggoloyo. Daripada Srenggoloyo tersinggung atas perlakuan Raras, maka Soma yang menjawab setiap pertanyaan Srenggoloyo.

Rupanya Srenggoloyo tersinggung diperlakukan seperti itu oleh Raras. Sebagai tindakannya untuk melampiaskan kemarahannya yang muncul dengan cepat, adalah membunuh! Mematikan yang berani bicara. Mematikan bukan hanya dalam arti kias. Tapi mematikan dalam arti yang sebenar-sebenarnya, yakni menghilangkan nyawa si pemberani berbicara itu!

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED