Bab 1

"Cepat, Istriku, kapal sudah hendak berlayar!" seru seorang lelaki berparas tampan berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Di pundaknya tergantung sebilah pedang dan di tangannya sebuah kotak kayu berukuran sedang dibawanya sambil berlari.

Di sampingnya, sesosok wanita cantik berambut panjang sepunggung dan kurang lebih baru berusia dua puluh tiga tahun, tampak berlari ketakutan sambil menggendong seorang bayi mungil yang baru beberapa bulan terlahir ke dunia.

Keduanya tampak panik dan berekspresi sama seperti penumpang lain yang berlarian ketika kapal hendak berlayar. Sesekali si suami menoleh ke belakang ketakutan. Tidak ada satupun yang peduli dengan kepanikan keduanya, sebab kepanikan seperti itu adalah sesuatu yang biasa terlihat.

Dalam jarak cukup jauh di belakang, puluhan prajurit bergerak memasuki wilayah pelabuhan yang hari itu cukup ramai. Sorot mata mereka semua tertuju tajam kepada seluruh orang yang ada di pelabuhan.

"Itu mereka berdua! Cepat kejar dan tangkap atau kalian yang akan mendapat hukuman jika gagal!" teriak seorang prajurit kepala yang terlihat berat menggerakkan badannya untuk berlari.

Geladak kayu yang digunakan untuk naik ke badan kapal sudah mulai diangkat pekerja pelabuhan. Melihat itu sang suami pun berteriak sekeras mungkin agar para pekerja itu menunggu mereka berdua naik terlebih dahulu, Tunggu, kami ikut!"

"Cepat, Kisanak, Nisanak, kapal sudah harus berangkat!" seru pekerja yang melihat  sepasang suami istri tersebut.

"Nilam, ayo cepat naiklah ke atas!" kata lelaki berwajah tampan itu kepada Istrinya.

Tanpa berpikir panjang wanita berwajah cantik jelita itu meniti geladak diikuti si suami dari belakang. Setelah mereka berdua sudah berada di atas kapal, si suami meletakkan peti yang dibawanya. Dilihatnya prajurit sudah berjarak kurang dari seratus meter.

Pekerja pelabuhan langsung menarik geladak ke atas kapal dan perlahan kapal pun mulai bergerak.

"Berhenti!" teriak para prajurit yang melihat kapal tersebut mulai meninggalkan pelabuhan. Kepanikan turut melanda pikiran mereka yang jika gagal menangkap sepasang suami istri tersebut bakal mendapat hukuman.

"Sialan, jaraknya terlalu dekat!" keluh lelaki tampan itu dalam hati. Lirikan matanya tertuju kepada Istrinya yang duduk bersandar dengan mata terpejam menahan lelah.

"Duh, Gusti Maha Agung, berilah keselamatan kepada kami berdua dari kejaran para prajurit itu." Wanita cantik yang matanya terpejam itu tak berhenti untuk terus berdoa di dalam hati

Sekitar tiga puluh meter kapal meninggalkan pelabuhan, puluhan prajurit tersebut baru tiba di pinggir pantai.

"Sial, kita gagal lagi menangkap mereka berdua! Kalian memang tidak bisa diandalkan!" teriak keras prajurit kepala penuh emosi kepada bawahannya.

"Kita kejar saja mereka, Tuan!" Seorang prajurit memberi usulan.

Mendengar usulan tersebut, Prajurit kepala mendekati prajurit yang baru saja berbicara, tanpa banyak kata prajurit tersebut langsung dipegangnya dan dilemparkan  ke laut. "Cepat kejar mereka dengan berenang!"

Para prajurit hanya bisa mengulum senyum geli melihat temannya diceburkan ke laut. Sementara belasan prajurit lainnya bahkan sampai mengeluarkan suara tawa.

"Apa yang kalian tertawakan? Sudah gagal melaksanakan tugas masih saja kalian bisa tertawa!" bentak prajurit kepala penuh emosi. Pandangannya tajam mengintimidasi puluhan bawahannya

Seketika puluhan prajurit itu menutup mulutnya rapat-rapat, mereka tak berani sedikitpun bersuara dan hanya bisa menunduk ketakutan.

Prajurit kepala itu membalikkan badannya dan menatap kapal yang perlahan menjauh mengarungi lautan. Setelah itu dia berjalan mendekati pekerja pelabuhan yang sedang menggulung tali tambang seukuran lengan terbuat dari serat pohon Sisal.

"Kisanak, kemana kapal itu akan berlayar?"

Pekerja pelabuhan itu menghentikan kegiatannya menggulung tali tambang. "Menurut jadwal kapal ini akan menuju daratan Jawadwipa, Tuan Prajurit."  

Prajurit kepala itu hanya bisa mengangguk kecil seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selama empat puluh tahun hidup di dunia, tidak sekalipun dia meninggalkan Daratan Swarnadwipa. Kalaupun dia tahu, itu hanya sebatas mendengar saja.

"Terima kasih atas informasinya, Kisanak."

"Sama-sama, Tuan Prajurit," jawab pekerja pelabuhan sebelum melanjutkan aktifitasnya menggulung tali tambang yang biasa digunakan untuk mengikat kapal ketika sedang bersandar.

Prajurit kepala itu bergegas kembali kepada anak buahnya yang masih tetap di posisinya semula.

"Kapal itu menuju Daratan Swarnadwipa. Nanti aku akan meminta ijin kepada paduka raja untuk mengejar mereka. Panji harus ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!"

Puluhan prajurit itu hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa. Terbersit di dalam benak mereka tentang kisah cinta sepasang suami istri yang saat ini sedang dalam pengejaran itu sungguh berliku.

Sementara itu di atas kapal yang sudah menjauh ratusan meter dari pelabuhan, Panji_ suami Nilam_ mendapatkan informasi dari kru kapal bahwa perjalanan melalui laut dari daratan Swarnadwipa menuju  Jawadwipa diperkirakan kurang lebih tujuh hari lamanya, itupun jika tidak ada kendala di tengah perjalanan seperti badai yang sering terjadi di musim penghujan. Untuk itu Panji memutuskan menyewa kamar yang disediakan karena tidak mungkin istri dan anaknya tidur di luar selama perjalanan.

Memasuki hari ke empat perjalanan,  nahkoda yang sedang mengendalikan laju kapal agar tetap berada pada rutenya menuju daratan Swarnadwipa, dikejutkan dengan laporan dari pekerja yang mengatakan jika melihat dua buah kapal lain yang berada di belakang.

"Kau pegang kemudinya. Tetap arahkan lurus ke depan!" perintah Nahkoda sebelum berjalan cepat menuju bagian belakang kapal.

Sepasang mata juru mudi berusia empat puluh tahunan itu menyipit ketika memastikan bahwa laporan anak buahnya tadi benar adanya. Namun yang membuatnya terguncang dan panik, dia bisa memastikan jika dua kapal yang ukurannya lebih kecil dari kapalnya itu adalah para perompak Hantu Laut yang biasanya melakukan perampokan di tengah laut.

Lebih sialnya lagi, perompak yang sedang mengejar kapalnya saat ini terkenal kejam dan tak segan menghabisi para korbannya.

"Turunkan layar!" teriaknya kepada pekerja yang berada tidak jauh darinya.

Seketika nahkoda itu berlari ke depan dan mengambil alih kemudi. "Cepat beritahu para penumpang jika saat ini kita dalam bahaya! Bilang juga kepada pekerja lainnya untuk mendayung lebih cepat."

Terlihat jelas kepanikan dirasakannya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Perasaannya sudah tidak setenang seperti sebelumnya.

Sementara itu di dalam kamar, Panji dan Nilam tampak berbicara sambil duduk di bibir ranjang. Sesekali mata keduanya tertuju kepada putra mereka yang tidur lelap.

"Perjuangan kita sudah sejauh ini, Nilam. Kalaupun kita harus terpisah, aku harap hanya maut yang akan memisahkan kita," ujar Panji lirih sebelum memeluk istrinya dengan erat.

"Aku juga begitu, Kakang. Kita besarkan Jalu di daratan jawadwipa saja. Tidak perlu kita kita ke tempat asal kita. Aku sudah mengubur semua masa laluku dan ingin membuka lembaran baru di tanah yang baru," balas Nilam seraya menitikkan air mata.

Tiba-tiba suara pintu yang diketuk dari luar mengagetkan keduanya. Panji melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Seorang laki-laki pekerja kapal tampak berdiri di depan pintu kamar dengan raut wajah tegang.

"Ada apa, Kang?" tanya Panji penasaran setelah melihat raut wajah pekerja kapal yang menunjukkan kekuatiran teramat sangat.

Bab 2

"Tolong jangan panik. Ada perompak Hantu Laut yang sedang mengejar kapal kita."

"Baik, Kang. Terima kasih informasinya," jawab Panji. Perasaannya mulai dihinggapi kekuatiran yang teramat besar. Kuatir terhadap keselamatan anak dan istrinya.

Lelaki tampan berusia dua puluh tujuh tahun itu menutup kembali pintu kamar selepas kepergian pekerja kapal. Dia berjalan mendekati Nilam yang sedang menatapnya.

"Ada apa?"

"Ada perompak yang hendak merampok kapal kita. Kau tidak perlu takut, ada aku yang akan menjaga kalian berdua," jawab Panji sambil menahan ekspresinya agar istrinya tidak ketakutan.

Bola mata Nilam berkaca-kaca mendengar berita buruk dari suaminya. Sungguh sulit dipercaya jika pertama kali naik kapal harus menghadapi masalah yang begitu berat. Apakah ucapan suaminya tadi menjadi sebuah kenyataan bahwa maut yang akan memisahkan mereka berdua?

Panji berdiri dan meraih pedang yang diletakkannya di samping putranya. Ditatapnya wajah putranya yang begitu polos tanpa dosa.

"Kakang mau kemana?" Nilam memandang suaminya dengan tatapan sayu.

"Aku harus melawan mereka, Nilam. Keselamatan kalian berdua adalah yang utama. Kita tidak akan selamat jika aku hanya berdiam diri saja," jawab Panji lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.

Sebelum keluar dia menoleh kepada istrinya, "Kunci pintunya. Jika terjadi apa-apa padaku, carilah cara untuk menyelamatkan putra kita." Panji melangkah keluar dan menutup kembali pintu kamar.

Suasana di luar sudah begitu ramai. Para penumpang kapal berteriak ketakutan setelah mendapat kabar bahwa kapal yang  mereka tumpangi akan dirampok.

Panji berjalan mendekati salah seorang pekerja kapal, "Kita lawan mereka, Kang!" ucapnya seraya menatap dua kapal kecil yang masing-masing berisi sekitar dua belas orang lelaki berperawakan sangar.

"Mereka terkenal kejam, Kisanak, kita tidak akan mampu melawan mereka."

Jawaban yang diberikan pekerja kapal tersebut membuat Panji merasa kesal. Dia sangat benci dengan manusia yang sudah  menyerah terlebih dahulu sebelum mencoba.

Dua kapal yang ditumpangi perompak Hantu Laut sudah mendekat. Beberapa tali tambang yang diberi pengait besi di ujungnya sudah dilemparkan ke badan kapal.

"Cepat naik ke atas. Bunuh semuanya tanpa terkecuali dan ambil harta bendanya!" teriak seorang lelaki bertubuh tinggi besar berambut ikal yang membawa pedang besar di tangannya.

Masing-masing sepuluh anggota perompak Hantu Laut dengan cekatan naik ke atas kapal hanya bermodalkan tali tambang saja. Dua anggota perampok sisanya bertahan di kapal mereka untuk menjaga keseimbangan. Terlihat jelas jika mereka sudah sangat berpengalaman di bidangnya, terbukti kapal kecil yang mereka gunakan tidak sampai miring ataupun bergeser menjauh.

Panji menghunus pedangnya dan berlari menuju salah satu tali tambang yang digunakan anggota perompak untuk memutusnya. Namun ketika dia menebaskan pedangnya, tali tambang itu tidak bisa diputuskan meski Panji sudah melakukannya dengan sekuat tenaga. 

Usut punya usut, di dalam tali tambang tersebut rupanya terdapat besi kecil khusus yang cukup lentur.

"Sialan!" umpat Panji sebelum menebaskan pedangnya kepada salah satu anggota perompak yang hampir berhasil mencapai buritan kapal.

Aaakh!

Tebasan itu tepat mengenai leher perompak tersebut hingga tubuhnya jatuh dan tenggelam ke dasar laut. Mungkin tak lama lagi tubuhnya akan dijadikan santapan oleh ikan buas karena darah terus mengucur keluar dari luka di lehernya.

Panji bergerak mundur ketika beberapa perompak lain berhasil naik ke atas kapal melalui tali tambang lainnya. Raut wajah mereka dipenuhi kemarahan dengan pandangan tajam seakan hendak menguliti hidup-hidup lelaki yang telah membunuh salah satu teman mereka.

Pertarungan pun tak terelakkan. Delapan orang anggota perompak Hantu Laut menyerang Panji secara bersama-sama. Pedang di tangan mereka berkelebatan mencecar tubuh Panji untuk membalas dendam kematian teman mereka.

Meski terlihat kesulitan, suami Nilam itu masih bisa bertahan dengan dasar ilmu kanuragan yang dipelajarinya. Bahkan satu lagi anggota perompak bisa ditebasnya hingga tewas. Darah yang keluar dari luka terbuka di bagian perut langsung menggenang di lantai kapal.

Melihat salah satu penumpang melakukan perlawanan membuat penumpang lain pun tergerak. Begitu juga pekerja kapal yang akhirnya berpikir untuk ikut melawan.

Dengan senjata seadanya yang bisa digunakan, sekitar tiga puluh penumpang laki-laki dan pekerja kapal turut membantu Panji yang tubuhnya sudah mulai terukir luka sayatan.

Lelaki bertubuh tinggi besar dan berambut ikal yang merupakan pemimpin dari perompak Hantu Laut dibuat gusar dengan perlawanan yang dilakukan terhadap anggotanya. Dia pun berpikir untuk turun tangan secara langsung dan kemudian melompat ringan ke atas kapal.

Dalam waktu singkat situasi pun berubah. Perlawanan yang diberikan penumpang dan pekerja kapal pun berakhir sia-sia. Tidak adanya dasar ilmu kanuragan yang mereka pelajari membuat tubuh mereka menjadi sasaran empuk tebasan dan tusukan pedang para perompak.

Sudah tujuh anggota perompak yang tewas di tangan Panji. Namun luka-luka di tubuhnya juga semakin bertambah banyak. Darah yang terus mengucur keluar dari luka di tubuhnya secara perlahan menjadikan fisik lelaki tampan berusia dua puluh tujuh tahun itupun semakin melemah.

Sementara itu di dalam kamar, firasat buruk yang dirasakan Nilam semakin menguat. Wanita cantik itupun mencoba mengintip melalui sela pintu yang dibukanya sedikit.

"Suamiku ...," suara wanita cantik itu tertahan melihat Panji yang harus bertahan dengan tubuh bersimbah darah menghadapi lelaki bertubuh tinggi besar berambut ikal.

Nilam kemudian teringat dengan ucapan suaminya yang mana dia harus menyelamatkan putra mereka jika terjadi apa-apa nantinya.

Dengan air mata bercucuran wanita cantik itu menutup kembali pintu kamar. Dia berjalan menuju peti kayu yang berada di samping ranjang lantas membukanya. Sebagian pakaian dia dan suaminya dikeluarkan.

"Jalu, Putraku, ibu tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan kita berdua. Semoga Dewata paling tidak memberimu keselamatan," ucapnya lirih.

Nilam meraih tubuh putranya dan memasukkannya ke dalam peti lalu menutupnya. Tidak lupa bagian atas peti dilubanginya sedikit menggunakan pisau kecil agar udara bisa masuk masuk. Selain itu dia juga menuliskan nama putranya sebagai penanda apabila ada orang yang nanti menemukannya. Jalu Satria Dewangga.

Wanita cantik itu lalu berdiri dan mengangkat peti kayu tersebut kemudian berjalan keluar. Dilihatnya pertarungan masih terjadi antara Panji melawan pemimpin perompak.

Bergegas Nilam berjalan menuju pinggir kapal dan melemparkan peti kayu yang berisi putranya ke laut. Berikutnya dia menyusul melompat dan sebisa mungkin meraih peti lalu memeluknya erat. Kakinya terus digerakkan sebagai dayung untuk mendorong menjauhi kapal.

Aaaakh!

Tebasan kuat yang dilepaskan pemimpin perompak mendarat telak di dada Panji. Lelaki tampan itu akhirnya harus menerima nasib buruk mati dengan cara yang mengenaskan.

Salah satu anggota perompak melihat tubuh Nilam yang mengapung di laut. Ditunjuknya tubuh wanita cantik itu seraya berseru kencang, "Ada yang berusaha kabur!"

Pemimpin perompak yang berhasil menghabisi Panji bergegas menuju sisi lain kapal dan melihat seusai arah jari telunjuk anggotanya. "Cepat kejar dia!" teriaknya lantang memberi perintah

Bab 3

Dua anggota perompak yang masih berada di salah satu kapal kecil bergegas melepaskan tali tambang dan berusaha mengejar. Tapi baru beberapa meter bergerak, terdengar petir menggelegar di angkasa. Mending tebal bergulung-gulung menghitam begitu cepat dan angin berhembus sangat kencang.

"Tidak perlu dikejar, cepat kembali!" teriak pemimpin perompak begitu menyadari badai datang secara tiba-tiba.

Hujan deras yang disertai badai dan petir tak henti menyambar pun akhirnya melanda. Tubuh Nilam dan peti kayu yang dipeluknya erat terombang-ambing di lautan lepas. Jarak dengan kapal yang sudah dikuasai perompak Hantu Laut semakin jauh dan akhirnya tak terlihat.

***

Di sebuah pantai berpasir putih, seorang lelaki tua yang tubuhnya tidak terawat dengan pakaian penuh koyakan berjalan sambil terus mengucap sumpah serapah.

Ayunan langkahnya seketika terhenti. Bola matanya menyipit menyaksikan sesosok tubuh yang sedang memeluk peti terdampar di bibir pantai. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, lelaki tua itupun berjalan cepat mendekat.

"Seorang wanita?" Dahi lelaki tua yang dipenuhi keriput itupun terlihat semakin tebal. Dia berjongkok untuk memastikan kondisi wanita tersebut.

"Rupanya dia sudah meninggal," ucapnya pelan seraya melepaskan tangan wanita yang masih dalam keadaan memeluk peti.

Begitu tangan wanita muda nan cantik itu terlepas dari peti, samar-samar telinga lelaki tua yang penampilannya seperti gelandangan itu mendengar suara dari dalam peti.

Terdorong dari rasa penasaran yang besar, lelaki tua itu membuka peti dan bola matanya pun melebar seketika. Dilihatnya sesosok bayi yang masih berusia beberapa bulan terdapat di dalamnya.

"Berarti wanita ini mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan putranya," ucapnya lagi dengan suara yang pelan.

Tiba-tiba senyumnya pun melebar. Diraihnya tubuh bayi mungil itu lalu diangkatnya ke atas dengan kedua tangannya.

"Wahai Dewata sialan, buka mata kalian dan saksikanlah! Hari ini aku bersumpah, aku akan menjadikan bocah ini sebagai penerusku. Kalian boleh menyegelku di Pulau Tengkorak yang terkutuk ini, tapi kalian tidak akan bisa menahan bocah ini yang akan meneruskan usahaku menguasai dunia ini, hahahaha!"

Blaaar

Suara petir tiba-tiba terdengar menggelegar sesuai lelaki tua itu bersumpah. Sebuah pohon kelapa yang tumbuh tinggi di pantai tersambar hingga terbakar dan kemudian tumbang. 

Lelaki tua itu menoleh ke belakang menyaksikan kelapa yang tumbang dan terbakar setelah terkena sambaran petir. Tawa lantangnya kembali terdengar hingga bayi yang diangkatnya itu turut bergoyang-goyang.

"Hahahaha ..., Sambaran petir kalian tidak mengenaliku, Dewa sialan! Kalian tidak akan bisa membunuh Caraka semudah itu!" teriaknya keras seraya menyebut namanya sendiri sebelum kembali memasukkan bayi mungil itu ke dalam peti lalu ditutupnya.

Bola matanya kemudian menyipit begitu tahu ada tulisan yang terdapat di penutup peti. "Jalu Satria Dewangga ...?"

Lelaki tua itu kemudian berpikir jika bisa jadi yang tertulis di penutup peti itu adalah nama bayi mungil tersebut.

"Hahaha, kalau begitu aku akan memanggilmu Jalu!" teriaknya penuh kegembiraan.

Selain bakal memiliki penerus yang akan mewujudkan keinginannya menguasai dunia persilatan, lelaki tua itu juga gembira karena hidupnya yang ditemani rasa sepi selama puluhan tahun akhirnya menjadi lebih berwarna dengan hadirnya Jalu.

***

Delapan belas tahun kemudian ...

Jalu kecil kini telah menjadi sosok pemuda yang tampan. Berhidung mancung serta memiliki rahang yang kokoh. Sorot matanya tajam selayaknya mata elang yang terbiasa mengintai mangsa.

"Jalu, bawa buah kelapa muda itu ke pondok!" teriak Caraka yang sedang berada di atas pohon kelapa untuk memetik buahnya.

Jalu yang sedang mencari ikan di pantai menolehkan pandangannya. Seketika dia berlari menuju batang pohon kelapa yang dinaiki Caraka. Diambilnya buah kelapa muda yang bergeletakan di pasir lalu dibawanya menuju pondok sesuai perintah kakeknya.

Ya. Jalu selama ini beranggapan jika Caraka adalah kakek kandungnya sendiri.

Selepas meletakkan kelapa muda di dalam pondok kayu yang selama ini didiaminya bersama Caraka, Jalu keluar dan berjalan menuju hutan kecil untuk mencari kayu bakar.

Bermodalkan pisau kecil yang diberikan kakeknya sejak dia masih kecil, Jalu menerobos hutan yang selama ini hanya dia jamah bersama kakeknya. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika melihat seekor ayam hutan masuk ke dalam semak belukar yang lebat.

Jalu berjalan mengendap-endap mendekati target. Pisau kecil di tangannya tergenggam erat dan siap dilesatkannya untuk menghabisi ayam hutan yang baru saja dilihatnya.

Setelah dirasa posisinya sudah strategis untuk melesatkan pisau kecil di tangannya, Jalu pun mulai membidik ayam hutan yang kini hanya terlihat ekornya menjuntai.

Pisau kecil itupun melesat dengan kecepatan tinggi menembus semak belukar. Tapi sayang bidikan Jalu meleset, ayam hutan itupun berhasil kabur menyelamatkan diri.

Sialan! Seumur-umur baru kali ini bidikanku meleset," umpatnya kesal.

Namun yang membuat pemuda berwajah tampan itu heran, dia mendengar pisau kecilnya seperti menghantam bebatuan yang berada di dalam semak belukar tersebut. Rasa penasaran mendorongnya untuk melihat langsung dari pada hanya sekedar membayangkan. Sekalian untuk mengambil pisau, pikirnya.

"Ternyata benar ada batu," ucapnya pelan setelah tangannya menyentuh batu yang seperti tertata rapi.

Rasa penasaran pemuda tampan itupun semakin membesar. Jalu mencabut paksa semak belukar yang lebat itu untuk mengetahui bentuk tatanan baru yang tersembunyi di dalamnya. Dia tidak mempedulikan goresan duri kecil yang membuat kulitnya mengeluarkan titik-titik darah.

Luka kecil seperti itu sudah biasa didapatkannya. Rasa sakit akibat pelatihan ilmu kanuragan yang diajarkan kakeknya malah jauh lebih berat dari sekedar goresan saja.

Tak lama semak belukar itupun sudah tercabut seluruhnya. Sekarang yang terlihat oleh matanya adalah tatanan batu memanjang kurang lebih satu setengah meter.

"Apa Kakek yang menata bebatuan ini?" ujarnya bertanya-tanya dalam hati seraya mengambil pisau kecil miliknya yang tergeletak di tanah.

Sebagai sosok yang tidak pernah melihat dunia luar, Jalu terdidik menjadi sosok pemuda tertutup tapi suka merasa penasaran dengan hal baru. Didikan ilmu kanuragan dari kakeknya tidak tahu harus digunakanya untuk apa. Ilmu meringankan tubuhnya yang sudah berada di atas rata-rata pendekar dan mampu berlari di atas permukaan air bahkan tidak pernah dia gunakan. Pada intinya dia tidak tahu apa tujuan dari kakeknya mengajari ilmu kanuragan dengan sangat keras sejak dia kecil.

Pemuda yang memiliki ketampanan khas bangsawan itu berjalan cepat meninggalkan tumpukan batu untuk menemui kakeknya.

"Kakek! Kakek!" teriaknya keras sesampainya di luar pondok.

Caraka berjalan keluar dari pondok kayu sambil membawa sebiji kelapa muda yang sudah berlubang bagian atasnya. "Ada apa kau teriak-teriak?"

Lelaki tua itu kemudian duduk bersimpuh di tanah, lalu menenggak air kelapa muda untuk menyegarkan tenggorokannya.

Jika dilihat-lihat ada yang berbeda dari penampilan Caraka, pakaiannya tidak lagi compang-camping seperti pertama kali menemukan Jalu terdampar di pantai. Dia menggunakan pakaian Panji yang terdapat di dalam peti, begitu juga Jalu yang setiap harinya menggunakan pakaian mendiang ayahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED