Bab 1

"Lepaskan saya, CEO. Saya sudah bersuami. Anda tidak patut berlaku seperti ini pada saya--" Sambil terisak-isak tangis, wanita itu berusaha bangkit seraya mendorong pria di atasnya. Lirih nada suaranya menegaskan, jika dia sedang sangat ketakutan.

"Diamlah dan nikmati saja. Sudah lama aku menunggu saat seperti ini, saat kamu menjadi milikku," bisik pria di atasnya. Tubuh mereka menyatu tanpa sehelai benang dan berada di tengah ranjang saat ini.

"Tidak! Hentikan--" Wanita itu menangis.

"Diamlah, Sayang. Ini begitu nikmat untuk disudahi," desis pria itu dengan smirk di wajahnya. Detik selanjutnya dia mendorong lebih kuat.

Wanita malang, dia hanya bisa menangis saat apa yang seharusnya hanya milik suaminya direnggut paksa darinya. Bengis, liar dan gila, pria itu memperlakukan dia. Hingga di ujung percintaan menyakitkan itu, satu hantaman benda tumpul di kepala membuatnya hilang kesadaran.

"Lakukan operasi bedah plastik segera. Rubah sebagian wajahnya. Ingat, hanya sebagian saja. Kalian paham?" Pria bertubuh tinggi kekar dengan stelan jas hitam bermerek yang bicara. Dia berdiri di tepi garis jendela dengan kedua tangan masing-masing berada di saku denimnya.

"Baik, CEO."

Tiga orang pria berpakaian layaknya para dokter yang menjawab. Mereka segera meninggalkan private room rumah sakit usai diberi perintah. Sementara, pria di tepi garis jendela hanya menunjukkan smirk licik menanggapi.

"Operasi berjalan lancar. Bagaimana dengan luka di kepalanya? Rupanya, wanita itu tidak mengalami amnesia," tukas satu orang dokter saat menemui CEO di private room rumah sakit.

Pria di tepi garis jendela mencengkeram kuat gelas wine dalam genggaman. "Lakukan apa saja. Aku ingin dia melupakan masa lalunya."

Para dokter saling pandang lebih dulu sebelum menjawab. "Baik, CEO." Mereka bergegas mundur lalu meninggalkan pria di tepi garis jendela seorang diri.

"Obat itu akan membuatnya kehilangan ingatan. Dia tidak akan mengingat apa pun dari masa lalunya."

"Bagus. Itu lebih baik."

CEO tersenyum penuh misteri setelah mendengar ucapan para dokter di belakangnya. Pria itu memutar tubuhnya dengan cepat. "Apa yang kalian inginkan sebagai hadiah? Kurasa, satu unit mansion dan mobil mewah masih kurang untuk menebus jasa kalian," ucapnya.

Tiga orang dokter saling pandang dengan wajah sumbringah. "Kami ingin memiliki rumah sakit sendiri. Apakah Anda bisa berikan?" Satu orang mewakili dua rekannya untuk menjawab CEO.

Pria berparas tampan dengan balutan stelan jas hitam itu tersenyum tipis. "Hanya itu?" tanyanya dengan enteng.

"Ya, hanya itu." Para dokter menjawab.

Esok hari, saat CEO kembali ke mansion miliknya. Dia terlihat berdiri di tepi pagar balkon lantai tiga. Ponsel pintar berada dalam genggaman di dekat telinga. CEO berbincang dengan seseorang lewat sambungan telepon.

"Habisi para dokter itu. Aku tak ingin mereka membuka mulut di kemudian hari. Tak boleh ada yang tahu tentang operasi bedah plastik itu. Kamu paham?" ucapnya terdengar penuh ancaman.

"Good," ucapnya setengah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Panggilan pun terputus. Pria itu menarik seringai tipis pada sudut bibirnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia kelihatan berbahaya.

*

"Mulai sekarang panggil dia dengan sebutan Camila Young. Nona Muda Young, dia tunanganku yang mengalami kecelakaan mobil satu bulan yang lalu." CEO bicara pada dua orang pelayan wanita.

Mereka berdiri di dalam sebuah kamar mewah. Semua mata tertuju pada wanita yang sedang terbaring di tengah ranjang quen size di sana. Siapa dia? Mari kita cari tahu bersama.

"Di mana aku? Siapa kalian?" Wanita di tengah ranjang mulai terjaga. Wajahnya begitu cantik bak boneka barbie. Dia menatap heran pada dua orang pelayan wanita yang sedang berdiri di hadapannya.

"Syukurlah Anda sudah sadar. Anda Nona Muda Young, putri tunggal keluarga bangsawan Arezt di San Mitero." Satu orang pelayan menjawab dengan sopan dan tenang.

"Apa? Putri bangsawan?" Manik cokelat hazel itu membulat penuh. Wanita di tengah ranjang tampak sangat terkejut mendengarnya.

"Camila, kamu sudah sadar?"

Suara itu mengejutkan semua orang, terutama wanita yang sedang terduduk di tengah ranjang.

Dia menolehkan kepala ke arah pintu dengan spontan. Matanya menyipit melihat sosok tinggi yang sedang berjalan menuju padanya. Siapa pria itu? Mengapa dia menyebutnya dengan nama Camila?

"Camila, aku senang melihatmu sudah bangun dari koma," ucap pria itu setelah mendaratkan bokongnya pada tepi ranjang. Bibirnya mengulas senyum manis, menunjukkan dua lesung pipinya yang menambah kharisma tersendiri.

"Camila?" Wanita itu masih tampak kebingungan.

"Ya, kamu Camila, tunanganku. Kita akan segera menikah." Pria itu menjawab seraya meraih jemari wanita di tengah ranjang. Lagi, dia menunjukkan kedua lesung pipinya.

"Apa? Menikah?" Si wanita menatap dengan tak percaya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia sampai koma dan kehilangan ingatan? Lalu, apakah pria tampan ini benar-benar tunangannya? Dia hanya bagai kertas yang kosong saat ini.

Di tempat lain, terlihat dua orang petugas polisi yang sedang berbicara pada satu orang pria di depan pintu sebuah unit apartemen.

"Dokter forensik sudah melakukan pemeriksaan. Jenazah itu benar-benar Nona Michele Crafson, istri Anda."

"Tidak mungkin! Aku tak percaya semua ini. Kalian pasti salah! Michele tak mungkin sudah tiada!"

"Kondisi jenazah memang sudah rusak karena ledakan mobil. Namun, semua hasil pemeriksaan menujukkan jika jenazah mengenaskan itu adalah istri Anda."

Leo, tampak sangat shock mendengar penuturan para petugas polisi yang menemuinya sore itu. Sudah dua bulan istrinya menghilang. Kabar jenazah mengenaskan itu benar-benar membuatnya sangat hancur karena kehilangan istri tercintanya.

"Dia pasti sangat terpukul melihat istrinya mati mengenaskan begitu."

"Ya, aku dengar mereka baru menikah tiga bulan."

Dua orang polisi hanya memandang iba pada Leo yang sedang menangisi jenazah istrinya di kamar mayat suatu rumah sakit. Pria itu meraung dan memaki dirinya atas kematian Michele yang mengenaskan.

"Aku turut berduka cita atas kematian istrimu. Dia wanita yang baik, Tuhan memanggilnya dengan cepat. Iklaskan dia."

Jose Alexander Gold, CEO perusahaan international terbesar di kota San Mitero. Dia datang menghadiri prosesi pemakaman Michele pagi itu. Leo merupakan junior bodyguard yang bekerja pada organisasi elit miliknya.

Sebagai bos yang baik, dia sudah menunda banyak jadwal hanya untuk berbela sungkawa.

"Terima kasih, CEO." Hanya itu yang Leo ucapkan. Wajahnya benar-benar sedih dan putus asa.

Jose hanya mengangguk pelan menanggapi. Ditepuk satu bahu Leo sebelum dia melenggang pergi meninggalkan pemakaman.

Payung hitam yang dipegang seorang bodyguard melindungi Jose dari gerimis yang mulai turun. Mereka berjalan menuju mobil Mercedes Benz C Class di sana.

"Istirahatlah, Michele." Leo berjongkok di samping makan. Dipandangi potret istrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia benar-benar tak percaya. Mengapa Michele begitu cepat meninggalkan dirinya. Bahkan di saat pernikahan mereka sedang hangat-hangatnya.

"Anda melakukan hal yang begitu luar biasa, CEO. Pria bodoh itu bahkan tak menyadarinya." Pria yang duduk di depan kemudi mobil yang bicara. Matanya menatap pada siluet pria di bangku tengah mobil.

Jose menoleh pada jendela mobil. Dipandangi sesaat Leo yang sedang berjongkok di samping makam Michele. "Dia cuma orang biasa, mana bisa melawan kekuasaan bangsawan Alexander Gold," ucapnya lalu tersenyum remeh.

Mobil mewah itu segera dilajukan meninggalkan area pemakaman. Hujan mulai turun. Leo tetap tinggal di samping makan Michele. Persetan semua orang sudah meninggalkan dia. Tubuhnya sudah basah kuyup karena curah hujan yang deras. Pria itu sedang menunjukkan pada istrinya, betapa dia sangat kehilangan.

Bab 2

Satu pekan berhasil Leo lewatkan dengan hampa tanpa istri tercintanya. Tak ada kopi panas di pagi hari, juga pakaian ganti di atas ranjang seperti biasa. Leo tertatih tanpa Michele, tapi dia harus tetap melanjutkan hidupnya.

"Pekan depan CEO akan melangsungkan pernikahan. Lakukan tugas kalian dengan baik. Pesta harus berjalan lancar tanpa kendala," ucap seorang pria yang sedang berdiri di depan beberapa orang bodyguard.

Mereka sedang berada di markas GM3 - organisasi khusus yang dibentuk oleh Group Miracle, perusahaan teknologi milik keluarga bangsawan Alexander Gold.

Para bodyguard terdiri dari pria muda berusia 27 - 35 tahun, mahir bela diri, memiliki postur tubuh ideal dan pertahanan yang kuat.

Leo Hillton merupakan junior bodyguard yang baru tiga bulan bergabung dengan organisasi elit tersebut.

Dia lolos dari masa pelatihan dengan nilai yang bagus. Dari postur tubuh, keahlian, pertahanan, dan paras yang tampan tak sulit baginya lolos dari seleksi ketat yang mereka adakan.

Masih dalam masa berkabung,

Leo berdiri di barisan kedua para bodyguard. Wajahnya tampak muram dengan pandangan kosong. Dia bahkan tak menyimak apa yang sedang disampaikan oleh kepala pimpinan organisasi pagi ini.

"Hei, kamu!"

Leo dibuat terkejut saat kepala pimpinan organisasi menunjuknya dengan wajah tegas. Dia buru-buru menegakkan tubuh dan fokus.

"Leo Hillton, junior bodyguard tingkat dua. Kamu dan tiga orang senior segeralah berangkat ke kediaman CEO. Perketat penjagaan di sana. Keluarga Alexander memiliki banyak musuh karena reputasi mereka. Lakukan yang terbaik!" perintah kepala pimpinan dengan tegas.

"Baik, Pak!" Leo menjawab dan menyanggupi dengan tegas pula.

Kepala pimpinan mengangguk puas.

Setelah diberi tugas, para bodyguard segera dibubarkan.

"Aku dengar, calon istri CEO sangat cantik. Dia berasal dari keluarga bangsawan."

"Ya, aku pernah melihatnya satu kali. Wajah dan bentuk tubuhnya benar-benar membuatku berfantasi liar! Dia sangat sempurna."

"Betuntung sekali CEO."

"Tentu saja, karena para Crazy Rich memiliki modal yang mumpuni untuk mendapatkan wanita cantik. Benar, bukan?"

"Begitulah. Apalah kita ini yang cuma alas kaki mereka."

Leo terpaksa harus mendengar perbincangan para bodyguard saat mereka sedang bertukar pakaian di kamar. Istri CEO teramat cantik? Entahlah, baginya tak ada wanita yang bisa dibilang cantik selain istrinya, Micel Crafson.

"Kenapa memasuki hutan? Apakah rumah CEO berada di hutan lindung San Mitero?" Leo bertanya pada senior bodyguard yang sedang mengemudikan mobil CRV di mana dirinya duduk saat ini.

"Ya, CEO memang tinggal di hutan seperti Tarzan." Senior bodyguard bernama Max menjawab seraya tersenyum tipis. Ekor matanya melirik pada Leo yang duduk di sampingnya. "Bahkan, yang kudengar. CEO sangat buas seperti singa jantan," lanjutnya lalu mengembalikan pandangan lurus ke depan.

Leo terdiam tak menimpali lagi. Seperti Tarzan dan buas seperti singa jantan? Entahlah, dia baru tiga bulan mengabdi pada Group Miracle. Tak banyak hal yang dirinya ketahui tentang CEO pemilik organisasi elit di mana dia bekerja. Bahkan, mereka baru tiga kali bertemu.

Dua kali saat mereka menghadiri peresmian anak perusahaan dan satu kali saat pemakaman Michele. CEO merupakan pria yang dingin dan berparas tampan, hanya itu saja yang dirinya ketahui pasal pewaris Group Miracle, Jose Alexander Gold.

Setelah melewati jalan di tengah hutan lindung, mobil-mobil para bodyguard tiba di depan gerbang sebuah mansion mewah. Leo sedikit tercengang. Di dalam hutan ada sebuah residence elit?

"Lupakan rasa haus dan lapar kalian. Cepatlah menyebar ke beberapa titik. Jaga wilayah pesta sebaik mungkin. Fokus melindungi CEO dan pengantinnya. Kalian paham?" Max memberi aba-aba setibanya mereka di pelataran mansion.

"Paham, Senior!"

Semua bodyguard menjawab dengan suara lantang. Kemudian mereka segera menyebar ke beberapa titik. Pistol di pinggang, Leo berdiri di sekitar altar yang sudah dihias begitu indah. Melihatnya, dia teringat saat menikahi istrinya tiga bulan yang lalu.

"Pemberkatan pernikahan akan segera dimulai. Di mana mempelai wanitanya?"

"Itu dia. Ya Tuhan, dia sangat cantik!"

"Benar-benar cantik! CEO sangat beruntung!"

Para tamu undangan terdengar ricuh. Mereka memuji kecantikan mempelai wanita yang sedang berjalan menuju altar.

Gaun besar pengantin warna putih membalut tubuh proporsionalnya, dengan buket bunga mawar putih dalam genggaman. Wajahnya tak kelihatan jelas karena tirai transparan menutupinya. Meski begitu, kecantikan wanita itu masih bisa digambarkan.

Leo memandangi saat kedua mempelai pengantin naik ke altar. Mereka harus memastikan, jika CEO dan calon istrinya tiba di sana dengan selamat.

Bernapas lega, Leo memalingkan pandangan ke atas atap mansion. Matanya membulat penuh. Apa dia tidak salah lihat? Seorang sniper sedang mengincar CEO dengan senapan laser?

Leo segera berlari meninggalkan area pesta. Dia menemukan sniper di atas gedung. Mereka terlibat perkelahian sengit di sana.

Sementara di bawah, mempelai wanita sedang gugup dan ragu saat pendeta bertanya padanya.

Dia melirik pada pria dengan tukedo pengantin yang berdiri di sampingnya saat ini. Apakah dia akan benar-benar menikahinya? Sementara dia tak mengingat apa pun tentang hubungan mereka.

"Camila, apa yang sedang kamu pikirkan? Cepat selesaikan ritualnya. Aku sudah tak tahan ingin menbopongmu ke kamar pengantin," ucap Jose setengah berbisik ke wajah mempelai wanita di sampingnya.

"Jose, aku ..." Mata wanita bernama Camila itu berkaca-kaca dan tampak kebingungan.

"Cepat lakukan, Camila. Apa kamu mau mempermalukan keluarga Alexander Gold?" Jose menatap dengan tajam kali ini.

Camila dan wajah gugupnya mulai ketakutan. Dia menoleh pada pendeta di depannya. Senyum tenang pria tua itu membuatnya sedikit relax. Ritual pemberkatan pernikahan pun segera dimulai.

"Katakan! Siapa yang menyuruhmu menghabisi CEO?!" gertak Leo seraya mencengkeram kerah jaket sniper yang berhasil dia lumpuhkan. Napasnya terengah-engah usai menghajar pria bertopi hitam itu habis-habisan.

"Sampai mati pun aku tidak akan beri tahu!" Sniper itu membalas tatapan mematikan Leo.

"Brengsek!" Leo mendengkus kesal. Kepalan tinjunya segera menghantam wajah sniper itu. Kemudian dia menyeretnya meninggalkan atap mansion.

"Dia berusaha menembak CEO."

"Apa?!"

Max dibuat terkejut saat Leo melempar seorang pria lemas ke hadapannya. Menembak CEO? Dengan wajah murka, dia segera memerintah para bodyguard mengamankan sniper itu dari wilayah pesta. Kemudian meminta Leo kembali berjaga-jaga.

Pesta masih berlangsung hingga malam hari. Jose dan Camila bersanding di pelaminan mewah. Kilat kamera tak henti menyoroti pasangan yang baru menikah itu.

Jose terlihat sangat bahagia. Tentu saja. Sementara Camila hanya berusaha tersenyum di depan semua orang. Demi martabat keluarga Alexander Gold, dia berusaha keras.

Hingga saat Camila meninggalkan pesta menuju kamarnya, tak sengaja dia berpapasan dengan Leo yang sedang berjalan bersama beberapa bodyguard lainnya.

"Selamat malam, Nyonya Camila." Para bodyguard menyapa istri bos mereka dengan sopan.

Camila hanya melempar senyum tipis pada para bodyguard. Wanita dengan balutan gaun pengantin itu segera berlalu bersama dua orang pelayan pribadinya. Leo tertegun di tempat. Apa dia tidak salah lihat? Wanita itu memiliki paras yang tak asing baginya.

"Michele?"

Tersentak Leo, ini tidak mungkin.

Dia pasti salah lihat! Leo mengusap kasar wajahnya lalu menggeleng tak percaya. Mustahil dia melihat istrinya di sini. Wanita itu Camila, istri bosnya. Bukan Michele, istrinya yang sudah tiada.

"Kamu lihat itu? Dia benar-benar cantik, bukan?"

Suara itu mengejutkan Leo yang sedang tertegun di tempat. Pria itu menoleh langsung pada pria di sampingnya. Jack tersenyum tipis padanya. Leo hanya mengangguk pelan. Mereka kembali melanjutkan langkah.

"Jack, sudah berapa lama kamu bergabung dengan Organisasi GM3?" tanya Leo sambil berjalan bersisian dengan Jack. Mereka berjalan di barisan belakang setelah para bodyguard senior.

"Sekitar satu tahun. Kenapa bertanya?" Jack menatap Leo dengan tatapan penyidik.

Leo menggeleng. "Bukan apa-apa," ucapnya lalu tersenyum tipis.

Sial! Rupanya Jack hanya senior bodyguard tingkat satu. Pria itu baru bergabung dengan Organisasi GM3 satu tahun. Artinya, tak banyak hal yang Jack ketahui. Mungkin Max yang jauh lebih tahu, karena pria itu senior bodyguard tingkat satu.

Leo masih berpikir, hingga tiba-tiba wajah istri CEO muncul di benaknya. Matanya dipejamkan. Ya Tuhan ... Tak bisa dipungkiri, Camila ada kemiripan dengan Michele.

Hanya saja, Michele berpenampilan sederhana, tak seperti Camila yang glamour. Juga hidung Camila yang mancung dan matanya yang sipit, jelas dia bukan Michele. Mungkin hanya mirip saja, Leo masih berkutat dengan pikirannya.

"Apa yang sedang kamu pandangi?"

Leo yang sedang memandangi Camila di tengah para tamu dibuat terkejut saat seorang pria menepuk satu bahunya dari arah samping. Dia menolehkan kepala dengan cepat. Jose sedang menatapnya saat ini.

Leo yang tersentak buru-buru menunduk.

"Maaf CEO."

Jose tersenyum miring. Dia tahu apa yang sedang junior bodyguard itu pandangi."Kamu sedang memandangi istriku?" tanyanya langsung.

Leo tersentak dibuatnya. Pria itu menggeleng cepat. "Bukan, CEO. Mana berani saya memandangi Nyonya Camila," jawabnya gugup. Dia tampak seperti pencuri yang sedang tertangkap basah.

Jose menyeringai tipis. Matanya menatap Camila yang sedang berbincang dengan para tamunya. Gaun malam warna biru tua itu membuat Camila tampak bersinar di antara wanita lainnya di pesta. Cantik sekali bak diamon di tengah kegelapan.

"Apa kamu berpikir jika Camila mirip dengan istrimu?" Jose bertanya pada Leo tanpa memalingkan pandangan dari Camila.

Leo kembali dikejutkan. Dia tak menyangka CEO bertanya seperti itu padanya."Tidak, CEO. Mereka tidak mirip. Michele bahkan tak pernah mengenakan gaun pendek yang mewah seperti yang dikenakan oleh Nyonya Camila." Tenggorokan Leo terasa tercekat saat mengucapkannya.

Jose mengepalkan buku-buku jemarinya. Jadi benar, jika junior bodyguard itu sedang memandangi istrinya? Dengan cepat disambar rahang Leo olehnya. Dia menatapnya tajam bak ingin memangsa pria itu hidup-hidup. Leo bergetar ketakutan melihat kemarahan Jose.

"Sekali lagi aku melihatmu menatap Camila, maka aku akan mencungkil matamu itu dengan jariku sendiri," desis Jose ke wajah Leo. Kemudian dilepaskan pria itu dengan kasar.

Leo hampir jatuh, terdorong. Dia buru-buru meminta maaf pada Jose. Seketika dirinya menjadi pusat perhatian para tamu. Camila yang merasa heran segera menemui Jose yang sedang menghajar Leo habis-habisan.

"Jose, hentikan! Ada apa ini? Apa kamu sudah gila?" Camila buru-buru menahan Jose yang masih belum puas menghajar Leo.

"Si bodoh itu berani menatapmu! Aku akan menghabisinya!" Jose dan emosinya sulit dihentikan. Ditendang Leo yang terkapar oleh tungkai panjangnya.

"Jose!" Camila segera menyusul suaminya yang pergi setelah melumpuhkan Leo. Ada apa dengan Jose? Dia benar-benar tak paham. Suaminya memukuli seorang bodyguard di depan para tamu. Ini benar-benar gila.

Leo berusaha bangkit. Pelipisnya berdarah, hidungnya juga berdarah. Wajar saja dirinya kalah, karena dia tak melawan saat Jose menghajarnya. Bagaimanapun pria arogan itu adalah big bosnya.

Mata Leo terangkat ke wajah pria yang sedang berdiri di hadapannya kini. Max dan dua orang senior bodyguard tingkat satu sedang menatapnya geram. Ya Tuhan ... Sepertinya dia dalam masalah besar.

Bab 3

Braakk!

Seorang pria berpakaian berupa stelan jas hitam menggebrak meja di depannya dengan tatapan berapi-api dan wajah merah dikuasai emosi. Dia, Jamesh Scoth kepala pimpinan Organisasi GM3 milik perusahaan teknologi Group Miracle.

Petang itu, Jamesh dibuat murka setelah mendengar penuturan Max tentang junior bodyguard tingkat empat yang kini duduk di depannya.

Leo, pria itu hanya diam seribu bahasa. Kemarahan kepala pimpinan organisasi cukup mengejutkan dirinya sore itu.

"Apa benar yang seniormu katakan? Beraninya kamu melirik istri CEO. Apa kamu sudah bosan hidup, hah?! Memalukan saja!" gertak Jamesh dengan kedua tangan menancap pada masing-masing sisi meja. Pria itu sudah bangkit, dan sedang mencondongkan wajahnya ke wajah Leo. Dia menatapnya tajam.

Perlahan Leo mengangkat sepasang matanya. "Saya tidak meliriknya, hanya kebetulan saja melihatnya. Lagi pula, itu terjadi di suatu pesta. Mungkin bukan mata saya saja yang melihatnya."

"Beraninya! Dasar brandal!" Jamesh semakin murka mendengar penuturan Leo.

Ini bukan tentang mata siapa saja yang melihat istri CEO, tetapi mereka dalam masalah besar karena kebodohan bocah sialan ini.

Kemarahan CEO melebihi singa jantan yang mengamuk, itu bukan rahasia lagi. Jose bisa saja menembak kepala orang yang membuatnya marah dengan satu kali bidik. Setelah itu mayat korbannya akan dipotong kecil-kecil lalu diberikan pada tiga harimau buas peliharaannya, atau dibuang ke laut begitu saja.

Max dan dua orang senior bodyguard tingkat dua hanya berdiri menyimak. Apa yang dikatakan Leo ada benarnya juga. Tak hanya pria itu, bahkan mereka pun sempat memperhatikan istri CEO yang teramat cantik.

Ah, tidak. Sebaiknya kepala pimpinan organisasi tak perlu tahu hal ini.

Jamesh menoleh pada Max dan dua bodyguard lainnya. Mereka yang tadinya lengah segera berdiri tegap dan siap menerima perintah dari sang atasan.

"Bocah ini membuatku pusing. Sebaiknya kalian saja yang putuskan, hukuman apa yang pantas untuknya. Aku tak mau melihatnya di sekitar sini," ucap Jamesh dengan wajah kesal.

Pria itu segera melenggang pergi setelah Max mengangguk paham.

"Astaga, sepertinya tensiku naik lagi. Kepalaku pusing sekali!" Jamesh meninggalkan ruangan itu sambil mengeluh.

Leo masih duduk di sana. Oh, shit! Kenapa dia berani sekali? Memandangi keindahan yang merupakan bukan miliknya. Bahkan istrinya CEO pemilik organisasi elit di mana dia bekerja. Ya Tuhan ... Dia benar-benar nekat.

"Junior bodyguard tingkat empat, ayo ikut aku sekarang!" Max memberi perintah pada Leo. Setelah pria itu mengangguk, dia segera melenggang pergi menuju pintu keluar.

"Sepertinya Senior bodyguard tingkat satu akan memberikan dia hukuman yang berat."

"Kurasa juga begitu. Ah, kamu ingat saat hari pertama kita dihukum?"

"Ya, aku ingat. Itu hukuman terkonyol yang pernah aku alami."

"Membersihkan kamar mandi dengan pasta gigi, itu benar-benar hukuman yang paling konyol!"

Leo hanya terdiam sambil berjalan mengekor di belakang Max. Ocehan para bodyguard itu membuatnya sedikit ngeri.

Membersihkan toilet dengan pasta gigi? Matanya terangkat ke punggung kekar dengan balutan jas hitam di depannya. Apa benar Max akan menghukumnya seperti itu? Pikirnya agak penasaran.

"Junior bodyguard tingkat empat, kamu lihat mobil-mobil dinas itu. Jumlahnya ada sepuluh mobil, cepat kamu cuci semuanya dan jangan kembali ke asrama sebelum semua mobil selesai dicuci. Paham?"

Mata Leo membulat penuh saat Max menunjuk pada mobil-mobil dinas yang berbaris di garasi. Benda dari bahan baja anti peluru itu terlihat sangat kotor. Seingatnya, beberapa senior bodyguard baru saja kembali dari Salvador.

Sial! Apakah mereka baru saja melakukan balapan di lumpur? Mobil-mobil itu bahkan tak kelihatan bentuk aslinya. Benar-benar kotor. Pasti memakan waktu untuk mencucinya.

"Beberapa senior bodyguard baru saja kembali dari masa pelatihan di markas pasukan khusus. Mereka dilatih cukup keras. Salah satunya, mengemudikan mobil di tengah jalan berlumpur," tukas Max seraya memandangi mobil-mobil dinas di depannya.

Leo menghela napas panjang. Lalu, sekarang dia harus membersihkan semua mobil itu, begitu? Ah, yang benar saja! Ini bahkan lebih buruk daripada membersihkan toilet dengan pasta gigi. Hh, keduanya sama buruk.

"Apa yang sedang kamu pikirkan? Cepat maju dan lakukan tugasmu!" Max menegaskan dengan wajah dibuat sangar.

"Baik, Senior!"

Leo segera maju. Buru-buru dia menghampiri mobil-mobil kotor itu. Diputar keram air di sekitar, dan ... Ah, sial! Ini benar-benar pekerjaan yang menjengkelkan.

Mobilnya kotor sekali! Dia seperti bukan sedang mencuci mobil, melainkan memandikan seekor kerbau yang baru naik dari kubangan lumpur.

Max hanya tersenyum tipis melihat Leo menggerutu sendiri. Pria itu tetap berdiri di sana memastikan Leo akan mencuci semua mobil-mobil itu sampai bersih.

"Apakah Junior bodyguard tingkat empat sudah selesai mencuci mobil?" tanya Jamesh pada Max saat senior bodyguard tingkat satu itu menemuinya di ruang kerjanya.

"Sudah, Pak. Sekarang dia sedang beristirahat di kamar. Sepertinya, hukuman itu terlalu berat cuma karena matanya jelalatan pada seorang wanita."

Max menjawab dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Bibirnya tersenyum tipis kemudian. Dia benar-benar geli melihat Leo kecapekan dan terus menggerutu saat mencuci mobil tadi.

"Baguslah. Eh, tapi asal kamu tahu saja. CEO ingin aku memecatnya loh! Namun, aku teringat saat Leo menyelamatkan istriku tempo hari dari insiden penembakan di mall. Aku berhutang padanya, bukan?" Jamesh bicara lagi. Tubuhnya yang semula menghadap jendela diputar sampai menghadap pada Max.

"Benar, Pak. Lagi pula, saya pun turut berada di pesta dan diam-diam melihat istrinya CEO."

"Dasar bocah tengik!" Jamesh meradang mendengar penuturan Max.

"Seharusnya, aku memecat kalian semua. Sial!" lanjut Jamesh lagi. Kali ini sambil menunjuk wajah Max yang sedang mengulum senyumnya.

"Sudahlah. Aku punya tugas untuk kalian."

"Kali ini Anda serius?" Max bertanya.

"Ya, ini serius. Besok malam tiga orang VIP akan tiba di Hotel Florida. CEO akan datang terlambat karena bulan madunya. Kamu dan para junior bodyguard segera awasi mereka. Para VIP harus tiba di kamar mereka dengan selamat," ringkas Jamesh.

"Baik, Pak!" Max menerima perintah itu. Kemudian dia meninggalkan ruangan Jamesh.

*

Sore hari saat Leo kembali ke unit apartemennya. Pria berkemeja putih sedang berdiri di tengah kamar. Leo sedang memandangi potret pernikahannya dengan Michele. Angle yang bagus. Potret yang sempurna! Michele tersenyum begitu manis dengan pipinya yang merah.

Leo mengulas senyum pahit melihat potret itu."Michele, kenapa Tuhan kejam sekali pada kita? Dia merenggut dirimu dariku di saat seharusnya kita berbahagia."

Sampai hari ini Leo masih tak bisa percaya jika istrinya telah tiada. Michele, tak mudah baginya bisa bersama dengan wanita itu apalagi menikahinya. Hubungan mereka penuh dengan konflik dan air mata, layaknya sebuah kisah yang tertulis dalam suatu novel.

Michele telah meninggalkan orang tuanya demi Leo. Sebagai seorang pejabat tinggi negara, orang tua Michele tak sudi merestui hubungan putri tunggal mereka dengan Leo yang merupakan seorang yatim-piatu, imigran dan miskin.

'Leo, ayo bawa aku pergi. Aku sudah kabur dari rumah--'

Terngiang ucapan lirih Michele malam dingin itu. Di bawah hujan salju yang memutih mereka berciuman. Michele datang menemui Leo dan meninggalkan keluarganya yang kaya dan terpandang.

'Kita hanya bisa menikah di catatan sipil, maafkan aku--'

'Tak apa. Selama denganmu aku bahagia, Leo.'

Punggung pria itu bergetar dalam tangis. Leo dibawa mengingat semua kenangannya bersama Michele. Air matanya berjatuhan dengan wajah menunduk. Leo sangat kehilangan sosok Michele dalam hidupnya.

'Kamu terpilih untuk tugas ini. Berangkatlah esok pagi dengan helikopter khusus.'

'Baik, Pak!'

Leo tak menyangka kepergiannya saat itu adalah akhir dari hubungannya dengan Michele. Dia yang merupakan junior bodyguard tingkat empat tiba-tiba terpilih untuk melindungi dan mengawal dua VIP di luar kota.

'Kamu akan pergi?'

'Ya, hanya satu bulan. Jangan cemas, kita akan tetap berhubungan lewat telepon. Dan, tugas ini benar-benar membuatku merasa keren! Aku sangat bahagia, Michele!'

'Syukurlah kalau kamu senang. Aku akan menunggumu pulang.'

Masih terasa olehnya saat Michele meraih bibirnya dengan ciuman hangat dan senyuman manis. Leo tak menyangka jika momen indah itu kini hanya menjadi kenangan baginya. Andaikan dia tidak pergi, mungkin Michele masih ada di sisinya kini.

'Tuan Hillton, istri Anda pergi dengan seorang pria dan berakhir dengan kecelakaan mobil di puncak. Mobilnya meledak, mereka tewas di tempat.'

'Tidak! Michele tak bisa mengemudikan mobil. Kalian pasti salah!'

Leo sangat hancur saat dua orang polisi memberinya kabar buruk tentang Michele. Entah siapa pria yang mengalami kecelakaan bersama istrinya. Mustahil jika Michele telah berselingkuh. Leo tak bisa percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh pihak kepolisian.

"Michele, aku tahu sesuatu yang buruk telah terjadi padamu. Aku akan mengungkap semuanya, kecelakaan itu, pria itu dan alasan kenapa kamu tiada. Aku pasti akan mengungkapnya!" Leo menjatuhkan kedua lututnya pada lantai putih di sana. Tangannya mengepal kuat.

Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Michele? Dengan rahang menggeletuk dan mata berapi-api, Leo bersumpah akan menemukan orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan yang telah merenggut nyawa istrinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED