PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA
Bab 2
"Maafkan Roni, Pak," kata mas Roni dengan semakin mengeratkan genggaman tangan kami.
"Maafkan Roni tak bisa menerima jodoh yang Bapak pilihkan buat Roni. Buat Roni, menikah cukup sekali seumur hidup, dan itu harus dengan orang yang Roni cintai." Bapak mendengus mendengar perkataan mas Roni.
"Bapak, mau apalagi? Bapak memang kecewa, kamu tak mau menurut perkataan Bapak. Tapi demi Ibumu, yang merengek setiap hari. Terpaksa Bapak menerima kalian," kata Bapak dengan angkuh.
"Kalau Bapak belum bisa menerima Dewi sebagai istri Roni. Roni akan pergi dari sini. Roni tak butuh kekayaan ini, Roni hanya ingin menjalani sisa hidup Roni dengan istri yang Roni cintai."
Aku menatap mas Roni setelah mendengar perkataannya. Sebegitu besar cintanya padaku, hingga dia rela meninggalkan segala kemewahan, hanya demi aku, si gadis yatim piatu.
"Hhh, sombong kamu!" Bapak mencebikkan bibirnya, seolah mengejek.
"Pak, sudahlah. Bapak kan, sudah janji sama Ibu, gak akan lagi mempermasalahkan status istri Roni. Dewi sudah jadi anak mantu kita Pak. Ibuk gak mau, Roni pergi lagi. Rumah ini sepi sekali, cuma ada kita disini." Ibuk mulai merengek ke Bapak.
Bagaimanapun, cinta seorang Ibu memang mampu menghancurkan batu sekeras karang. Seperti Bapak, yang akhirnya melunak. Meskipun sikapnya masih dingin.
"Kamu dengarkan Roni. Segitu sayang Ibumu denganmu, sampai dia rela membantah Bapak."
Bapak langsung berlalu meninggalkan kami yang masih terpaku.
"Jangan diambil hati perkataan Bapak. Biarpun begitu, setiap hari Bapak memikirkan kamu Ron. Kadang sampai mengigau, kamu ingatkan, sejak kecil Bapak yang paling menyayangi kamu. Bapak seperti itu, karena malu saja dengan temannya. Karena kamu menolak untuk dijodohkan," jelas Ibuk panjang lebar.
Sepertinya Ibuk berusaha meredam emosi mas Roni. Yang sepertinya juga keras hati. Ibuk sangat takut kami pergi lagi dari rumah ini.
"Buk, makan siang sudah siap," kata Bik Jum yang baru datang.
"Iya, Bik. Sebentar lagi kami turun," sahut Ibuk.
"Roni, akan berusaha Buk. Tapi kalau beberapa hari ini Bapak tetap tak bisa menerima pernikahan Roni. Kami akan pergi dari rumah ini!"
"Mas …." Aku menggelengkan kepala begitu mas Roni menatapku.
Aku ingin bilang, tak usah lagi di permasalahkan kata-kata Bapak. Sepertinya bang Roni mengerti, dia mengangguk pelan.
"Ya sudah, kita makan dulu. Pasti kalian juga capek, siap makan langsung istirahat."
Kami mengikuti Ibuk yang berjalan duluan menuruni anak tangga. Ibuk terlihat cantik dan tubuhnya masih bugar. Di usianya yang tak lagi muda. Aku mengaguminya, saat pertama tadi melihatnya. Kalau boleh aku samakan, Ibuk agak mirip artis Minati Atmanegara.
Ternyata Bapak sudah lebih dulu duduk di meja makan. Wajahnya masih terlihat dingin, tanpa ekspresi. Kami makan tanpa obrolan, senyap. Rumah yang besar ini, jadi terasa sepi. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca.
Selesai makan, Bapak langsung bangkit, berlalu ke arah luar rumah. Tak tau kemana. Aku masih merasa kikuk. Aku bantu bik Jum mengangkat piring dan gelas bekas makan.
"Sudah Mbak, biar bibik saja." Bik Jum berusaha mencegahku membantunya.
"Gak papa Bik." Aku tetap membantunya.
"Biarin aja Bik, biar Dewi gak merasa kaku disini. Anggap saja rumah sendiri ya Nak," kata Ibu lembut.
"Habis itu istirahat saja dulu. Ibuk tinggal dulu ya, Ibuk mau lihat Bapak ke depan."
Ibuk langsung berlalu ke depan rumah.
★★★KARTIKA DEKA★★★
Kamar ini cukup besar, bahkan lebih besar dari rumah kontrakan kami. Jendelanya langsung mengarah ke arah samping rumah. Pandanganku leluasa melihat keluar.
Aku melihat dari balik tirai jendela, Bapak dan Ibu ada disana. Disamping rumah terdapat beberapa tanaman bunga hias yang lumayan mahal harganya. Ngapain ya Bapak dan Ibuk disitu?
Bapak dan Ibuk seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius, terlihat raut wajah mereka yang tegang. Mudah-mudahan mereka tak melihatku, jendela ini tertutup tirai. Namun aku bisa melihat mereka dari sini.
Aku sontak menyembunyikan tubuhku, saat Bapak tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah jendela ini. Jantungku berdebar, berharap Bapak tak melihatku yang mengintip mereka.
"Kenapa Sayang." Mas Roni yang baru keluar dari kamar mandi, merasa heran melihatku, yang masih kaku bersandar di dinding dekat jendela.
"Ng-nggak papa, Mas," ucapku, langsung berjalan ke arah kamar mandi. Malu juga, kalau aku ketahuan mengintip.
Kulihat mas Roni seperti keheranan melihatku. Tak kuhiraukan, aku ingin mandi. Kami menaiki angkutan umum tadi, berjejalan di dalamnya membuat tubuhku terasa lengket. Setelah sampai di terminal, baru pak Agus, supir Bapak menjemput kami.
Aku masih tak percaya, ternyata suamiku anak orang paling kaya di kampung ini. Selama ini mas Roni tak bercerita banyak tentang keluarganya. Aku mengenalnya, karena dia menjadi donatur tetap di panti asuhan tempatku tinggal.
Setelah aku dewasa, aku ikut mengasuh adik-adik yang senasib denganku. Saat aku kecil, ada beberapa orangtua yang ingin mengadopsiku. Tapi menurut bu Yanti, aku tak pernah mau. Selalu sembunyi, setiap ada orangtua yang ingin bertemu denganku. Kalaupun aku mau, aku akan sakit. Dan akhirnya dikembalikan lagi ke panti.
Kulitku yang putih dan wajahku yang menurut orang-orang terbilang manis, membuat banyak orangtua yang jatuh hati. Ingin aku jadi anak mereka. Tapi entah kenapa, hatiku tak ingin memiliki keluarga yang utuh. Bagiku bu Yanti adalah ibuku, dan semua yang ada di panti adalah keluargaku.
"Sayang …." panggil mas Roni dari luar kamar mandi, menyadarkanku dari lamunan.
"Ya, Mas!" sahutku agak keras. Suaraku beradu dengan suara air dari shower.
"Kok lama banget, kamu gak papa?" Dia mungkin khawatir, melihatku tak kunjung keluar kamar mandi.
"Gak papa Mas!" sahutku. Kupercepat mandiku.
"Lama banget, Mas mau ajak kamu jalan-jalan ke rumah teman Mas," kata suamiku itu, begitu aku keluar dari kamar mandi.
"Besok aja, Mas. Dewi ngantuk." Aku memang merasa sangat lelah.
"Ya sudah, kamu tidur duluan ya. Mas, mau ke rumah teman Mas," katanya.
"Mas ... Dewi takut sendirian," kataku, kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar.
Entah kenapa, aku merasakan tak nyaman, seperti ada yang mengawasi.
"Takut … kenapa?" Matanya menyelidik.
"Gak tau … Dewi merasa, kayak ada yang merhatiin," kataku agak berbisik. Seakan-akan ada yang ikut mendengar pembicaraan kamu.
"Hanya perasaan kamu aja Sayang, sudah tidur gih. Apa perlu, Mas keloni." Dia malah menggodaku.
"Ih Mas …." Aku mencubit pinggangnya, untuk menutupi perasaanku yang sedang salah tingkah.
★★★KARTIKA DEKA★★★
PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA
Bab 3
Mungkin saat ini wajahku sedang memerah, mas Roni memang pandai membuatku tersipu malu.
"Ya udah, Mas temeni sampai kamu tidur."
Aku naik ke pembaringan yang sangat empuk. Baru kali ini aku tidur di ranjang sebagus ini. Tempat tidur yang kami miliki di rumah kontrakan, hanya berupa kasur kapuk saja tanpa ranjang. Hmm, nyaman sekali rasanya, ditambah udaranya sejuk, karena kamar ini menggunakan ac.
"Hei, siapa kamu!" Aku terlonjak melihat seorang anak kecil lelaki, kisaran usia sepuluh tahun, sedang berdiri di dekat jendela.
Dia hanya mematung menatapku, bulu kudukku meremang melihatnya.
"Kenapa kau masuk kesini, pergi dari sini!" Aku mengusirnya, dia tak bergeming. Pandangannya kosong ke arahku.
Aku semakin takut melihatnya, keringat mengalir dari pelipisku, padahal disini dingin. Siapa anak ini? Kenapa dia bisa masuk? Kemana mas Roni? Bukankah katanya akan menemaniku? Dia tak pamit denganku kalau ingin keluar kamar.
Gegas aku bangkit menuju pintu kamar, aku berusaha menarik handle pintu, tapi tak bisa. Pintu terkunci. Bagaimana ini?
Anak itu terus saja menatapku dengan pandangannya yang beku. Menjalarkan hawa dingin ke sekujur tubuhku, aku menggigil, namun berkeringat. Aku meringkuk ketakutan di balik pintu.
"PERGIIII!" Tiba-tiba dia berteriak. Suaranya begitu nyaring melengking, membuat gendang telingaku seakan mau pecah.
"TIDAAAK!" Aku spontan teriak juga dengan menutup kedua telingaku.
"Dewi, Sayang, kenapa kamu." Seperti ada yang menepuk-nepuk pipiku.
"Hos hos hos." Nafasku memburu. Keringat membanjiri wajah dan tubuhku.
"Kamu mimpi?!" tanya mas Roni, terlihat khawatir. Dia memberikan segelas air putih kepadaku.
Aku meminum tuntas air yang diberikan mas Roni. Aku merasa sangat kelelahan dan ketakutan. Mimpi itu begitu nyata. Aku melihat ke arah jendela, kosong. Tak ada siapa pun disana.
"Mas … aku takut." Aku langsung merangsek ke pelukan suamiku. Jantungku berdetak sangat kencang.
"Kamu cuma kecapekan." Dia membelai lembut rambutku.
"Kita keluar saja, biar bisa menghirup udara segar," ajak mas Roni. Aku mengikutinya, tak berani ditinggal sendirian.
Begitu keluar kamar, kami melihat Ibuk yang akan masuk ke kamarnya.
Kamar Ibuk dan kamar kami bersebrangan, hanya terhalang oleh sofa-sofa mewah yang tersusun sedemikian rupa. Disini biasanya Bapak dan Ibuk mengobrol dengan tamu-tamunya, kata mas Roni.
"Buk, motor Roni masih ada?" tanya mas Roni ke Ibuk.
"Masih, kuncinya di laci lemari yang di dapur," jawab Ibuk. Mas Roni, langsung ke dapur mengambil kunci motor.
"Udah sore begini, mau kemana?" tanya Ibuk lagi.
"Roni mau keluar, ngajak Dewi ke rumah Iwan."
"Ya sudah. Jangan malam-malam pulangnya," pesan Ibuk setelah kami mencium tangannya.
Sepanjang jalan, mas Roni menyapa beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Tak ada yang spesial dikampung ini. Hanya ada perkebunan sawit di setiap sisi jalannya.
"Kita ke rumah teman Mas ya," ajak mas Roni.
"Terserah Mas aja." Aku hanya mengikuti kemana suamiku pergi.
Kami tiba di sebuah rumah sederhana, dindingnya pun masih terbuat dari papan, tapi tampak terawat. Banyak bunga yang menghiasi di depan rumah itu. Menambah kesan asri.
Tok tok tok
Mas Roni mengetuk pintu rumah itu.
Tak lama terdengar suara pintu yang berderit. Tanda pintu sedang dibuka.
"Assalamualaikum," sapa mas Roni, memberi kejutan pada si empunya rumah.
"Waalaikum salam, Roniii." Mas Roni dan temannya saling berpelukan. Seperti sudah sangat lama tak bertemu.
"Apa kabar Bung," kata teman mas Roni, dia memegang bahu mas Roni. Senyum lepas terus menghiasi bibirnya.
"Alhamdulillah baik. Perkenalkan istriku." Mas Roni memperkenalkan aku ke temannya.
"Nama saya Iwan, Mbak." Dia tak menjabat tanganku. Hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Saya Dewi." Aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
Dari pakaiannya aku tau, dia seorang yang sepertinya sangat agamis. Entahlah ... kadang kita tak bisa menilai hanya dari pakaian saja, bukan?
Dia memandangku cukup lama, membuatku agak risih dan salah tingkah.
"Ma–maaf Mbak, astaghfirullah," katanya sepertinya menyadari kekhilafannya.
"Napa, lu naksir sama istriku," celetuk mas Roni.
"Jangan salah faham Bung. Aku gak suka nikung sahabatku sendiri hahaha," ujarnya berkelakar. Sepertinya mas Roni sangat akrab dengannya.
"Bagaimana denganmu, apa sudah punya istri? Jangan sampai jadi panglatu," tanya mas Roni.
"Apa itu panglatu?" Bang Iwan tampak bingung dengan perkataan mas Roni.
"PANGlima LAjang TUa hahaha," tawa mas Roni begitu renyah.
"Ah kau ini, aku belum menemukan yang pas. Lebih tepatnya yang mau denganku hahaha. Kau kan tau, aku cuma buruh bangunan. Tampang juga pas-pasan, siapa yang mau? hahahaha," canda bang Iwan.
Aku ikut tertawa kecil, mendengar candaan dan celotehan bang Iwan dan suamiku. Bang Iwan itu ternyata orang yang menyenangkan, jarang aku melihat mas Roni bisa tertawa lepas seperti ini.
"Kamu yang terlalu banyak milih kawan. Tampangmu memang pas pasan, pas kayak artis. Artis siapa itu namanya?" Mas Roni seperti mengingat-ingat.
"Dude herlino, Mas," celetukku. Memang sejak awal melihat bang Iwan, aku merasa familiar melihat wajahnya. Setelah kuingat-ingat dia agak mirip dengan artis Dude Herlino. Agak sih.
"Hmm iya, betul itu kata istriku. Jangan terlalu banyak milih lah, Wan. Soal rezeki, sudah ada yang atur. Ini kata-katamu waktu aku akan meninggalkan rumah Bapakku dulu, ingat kan?"
Bang Iwan tersenyum mendengar kalimat yang terucap dari bibir mas Roni.
"Baru merantau beberapa waktu saja, kau sudah jadi dewasa sekarang," ujar bang Iwan menepuk-nepuk bahu mas Roni.
"Ya, nanti Allah pasti kasih petunjuk." Sangat bijak kata-kata bang Iwan.
"Kau, pulang kesini hanya sekedar pulang, atau akan menetap?" tanya bang Iwan.
"Belum tau Wan. Bapak Ibuk, menginginkan aku tetap tinggal disini. Tapi Bapak sepertinya belum menerima pernikahanku dan Dewi." Mas Roni bercerita dengan mata yang menerawang.
"Sabar, banyak berdoa semoga orangtuamu mendapat hidayah," kata bang Iwan.
"Hidayah? Apa maksudnya?" tanya mas Roni heran.
"Emmm, itu hidayah, biar dibukakan hatinya menerima istrimu." Bang Iwan kelihatan agak bingung menjawab pertanyaan mas Roni.
Aku agak curiga dengan jawaban bang Iwan. Seperti ada yang disembunyikan.
"Sudah mau Magrib, kami pulang dulu," ucap mas Roni berpamitan.
"Cepat sekali, sholat Magrib disini saja," tawar bang Iwan.
"Laen kali aku maen kesini lagi, asal kau tak bosan menerimaku hehehe," kelakar suamiku.
"Pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Aku bisa minta nomor kontakmu?"
"Bisa." Mereka saling bertukar nomor kontak.
"Jaga istrimu baik-baik," pesan bang Iwan, sebelum kami naik ke atas motor.
Cukup membuat tanya di hatiku. Apa maksud bang Iwan bicara seperti itu? Sepertinya mas Roni juga merasa heran, terlihat dari raut wajahnya.
★★★KARTIKA DEKA★★★