Bab 1

Baru saja menjejaki gedung 57 lantai itu, Erin sudah dihampiri oleh teman-teman sejawatnya. Dia cukup canggung ketika disinggung mengenai pernikahan yang baru dilangsungkan kemarin. Berita memang cepat menyebar.

“Erin! Kau sangat jahat karena tidak mengundang kami!”

“Maafkan aku. Kami sudah sepakat untuk menyelenggarakan pernikahan secara tertutup,” ucap Erin, menunjukkan raut penyesalannya.

“Tapi bukankah sangat keterlaluan jika tidak mengundang kami? Apa Kau tidak menganggap kami sebagai temanmu selama ini?”

“Bu—bukan begitu ... aku—“

Percakapan langsung terhenti kala pemilik perusahaan berjalan melewati mereka, menarik diri masing-masing untuk segera memberi hormat. Berbeda dengan Erin yang tidak begitu menundukkan kepala, sempat melirik sebentar ke arah pria yang ditemukan sedang menatapnya dengan tajam.

Sesudah jejak pria berkarisma itu, semua teman-temannya berekspresi tidak berdaya seolah baru saja diberikan santapan luar biasa di pagi hari. Orang yang berhasil meluluhkan hati mereka adalah Hansel Mescach, atasannya sekaligus pria yang telah menikahinya.

***

Erin berhasil mendapatkan kartu aksesnya setelah mencari cukup lama di depan pintu apartemen. Baru akan menggunakannya, seseorang sudah lebih dulu melanjutkan niatnya.

Seketika Erin terpekik, langsung memperhatikan sekeliling yang leganya terbilang aman untuk mereka berinteraksi.

“Kau mengagetkanku, Hans,” ucap Erin dengan nada rendah, tidak lagi khawatir.

Sementara Hansel tidak mengatakan apa-apa, berlalu masuk ke apartemen. Sebenarnya, bersandiwara seperti tidak mengenal adalah sesuatu yang begitu melelahkan, baik bagi Hansel mau pun Erin.

Namun, apa yang dapat dilakukan? Erin harus memikirkan nasib pekerjaannya. Dia tidak ingin hidup dengan hanya memanfaatkan apa yang dimiliki Hansel. Terlebih tidak ingin lagi ada perbedaan sikap jika banyak yang tahu kalau dia adalah istri dari pemilik perusahaan itu sendiri.

Lebih baik bagi mereka hanya mengenal sebatas atasan dan bawahan saja agar kehidupannya berjalan dengan normal. Bukan berarti Erin menyesali pernikahan mereka. Dia hanya belum siap dengan status barunya.

Sedangkan Hansel berada dalam suasana hati yang buruk. Dia tidak menatap ke arah Erin, apalagi berbicara. Wajar saja, karena pembahasan semalam telah memicu pertengkaran pertama mereka sebagai sepasang suami istri.

Hansel tidak masalah jika hubungan mereka harus disembunyikan. Dia mengerti posisi dan juga ambisi yang dimiliki Erin. Tetapi jika tidak memiliki anak, bagaimana dia bisa terima?

Erin mengambil kesempatan ketika suaminya mengeringkan rambut. Dia memberanikan diri untuk mengambil alih handuk kecil itu. Keberaniannya semakin bertambah kala Hansel tidak menolaknya.

“Kita baru saja pindah ke apartemen ini dan belum sempat merapikan barang-barang yang ada di sisa kardus lainnya. Aku rasa kita hanya memiliki waktu membongkarnya sepulang bekerja. Mungkin aku akan mencicilnya sedikit demi sedikit selagi Kau beristirahat, karena aku masih punya banyak tenaga lebih.”

“Kita akan merapikannya sekarang.”

Meskipun suara itu terkesan dingin, tetapi berhasil membuat Erin tersenyum. Ternyata suaminya tidak begitu marah seperti yang dibayangkan karena mau berbicara dengannya.

Alhasil, mereka turun ke lantai bawah untuk membongkar isi kardus dan merapikannya. Di sana suasana kembali canggung dengan tidak adanya percakapan di antara mereka. Sekali lagi membuat Erin dilanda dilema tidak berkesudahan.

“Hans, aku rasa diffuser itu lebih baik diletakkan di kamar kita. Umurnya memang sudah cukup tua, tapi masih bagus dan masih bisa dipakai,” ucap Erin, berusaha mencairkan suasana.

Hansel menatap alat pelembab udara yang dipegangnya. Dia yang membelikan karena pada saat itu Erin mengalami masalah sulit tidur. Tidak banyak yang berubah dan dia mengakui kalau Erin memang sangat pandai merawat barang.

“Kau bisa menjualnya secara online, karena kamar kita sudah memiliki diffuser yang lebih bagus daripada ini.”

Erin meraih benda yang akan disimpan ke dalam kardus kembali, lalu memeluknya dengan sayang. “Tidak. Aku tidak akan menjualnya. Benda ini sangat berharga karena telah membantu mengatasi permasalahan tidurku. Kau tahu, kalau aku kesulitan tidur karena tinggal seorang diri. Diffuser ini sudah seperti teman baik bagiku.”

Erin datang ke kota yang sekarang untuk bersekolah. Kebetulan dia adalah gadis yang begitu semangat menimba ilmu. Dia mendapatkan beasiswa untuk masuk ke salah satu universitas ternama.

Pada waktu itu pula dia bertemu dengan Hansel, pria populer yang tidak disangka akan menjalin hubungan asmara dengannya. Hingga kisah cinta membawa mereka ke jenjang pernikahan.

Erin yang melamunkan masa lalu berubah terkejut ketika sang suami mendesaknya ke belakang, memerangkapnya hingga tidak bisa membuat jarak lagi. Hanya ada diffuser di antara mereka.

“Jangan bergurau, Sakya Erina. Kau tidak butuh benda tua itu lagi sekarang karena sudah ada suamimu yang akan menemani, bahkan membuatmu kelelahan hingga akhirnya terlelap di pelukanku. Bukan hanya itu, Kau juga akan mendapatkan fasilitas kehangatan. Aku adalah obat yang paling mujarab untuk membuatmu tertidur. Lalu, apa lagi yang Kau butuh dari diffuser ini?”

Erin sudah merah seluruh wajahnya. Perkataan tadi terdengar erotis di telinga. Tetapi bukan hal yang baru untuknya mendengar kejujuran Hansel karena mereka sudah mengenal cukup lama.

“Tapi aku tetap tidak ingin menjualnya atau membuangnya. Benda yang sangat mahal dulunya ini memiliki kenangan berharga. Kau sendiri yang menghadiahkannya, bukan?”

“Aku akan menghadiahkan banyak diffuser untukmu. Tidak perlu terbawa perasaan hanya karena benda satu itu. Kau tidak bisa menyimpan semuanya di dalam kardus-kardusmu hanya karena alasan kenangan. Bila perlu kita bisa menyumbangkannya pada orang yang sekiranya membutuhkan. Itu akan jauh lebih baik.”

Erin mencebik, tidak membantah kebenaran dari kata-kata itu. “Baiklah. Aku akan mempertimbangkan saranmu.”

Hansel tersenyum tipis melihat tingkah istrinya. Jujur saja, dia merasa senang karena Erin sangat menghargai barang pemberiannya. Tetapi mereka tidak bisa membiarkan benda tidak terpakai menumpuk.

Senyuman langsung lenyap ketika Erin menatapnya. Hansel berekspresi dingin kembali karena pada saat ini dia seharusnya sangat marah pada keputusan sang istri yang begitu mengecewakan.

“Kau masih marah padaku?”

Hansel melirik ke arah kardus-kardus di bawah mereka, lalu mengambil beberapa buku untuk dibawa. “Aku akan menyimpan ini di rak,” ucapnya.

Erin mencegah, memegang tangan suaminya. Dari mata itu terlukis kekhawatiran, berhasil membuat Hansel akhirnya luluh untuk tidak beranjak.

Hansel berpikir bahwa mereka memang harus membicarakan masalah tadi malam, karena dia pun tidak betah mendiamkan istrinya terlalu lama.

“Menurutmu, apa kemarahanku adalah sesuatu yang tidak wajar?”

Erin menjauhkan tangannya, lalu menundukkan kepala. “Maaf. Aku masih ingin menikmati waktuku terlebih dahulu sebelum menjadi seorang ibu. Aku bukan benar-benar tidak ingin memiliki anak, hanya butuh waktu untuk mempersiapkan diri.”

“Jika belum siap, kenapa memilih untuk menerima pernikahan kita?”

“Karena aku mencintaimu, Hansel. Aku tidak ingin Kau hidup bersama wanita lain. Kau begitu populer, sedangkan kita harus menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Ada banyak wanita yang mungkin saja akan merebutmu dariku.”

“Kalau begitu, Kau seharusnya menyetujui agar hubungan kita ditunjukkan pada mereka.”

Erin menggelengkan kepala. “Aku masih ingin bekerja sebagai Sakya Erina, bukan sebagai istri dari seorang pria kaya yang dapat melakukan apa pun.”

“Kau tahu bahwa pemikiranmu begitu egois, bukan?”

“Aku tahu. Maka dari itu, tunggulah sebentar lagi sampai aku benar-benar siap.” Erin memandang dengan penuh harapan di matanya.

Hansel mengembuskan napas panjang seraya meletakkan buku ke dalam kardus dan juga diffuser yang ada dalam pelukan istrinya ke atas meja. Entah mengapa melihat kelinci kecilnya yang tidak berdaya membuat dia tidak tega.

“Sikapmu sungguh tidak berperikemanusiaan. Tidak tahukah Kau bahwa aku sangat menanti kebahagiaan kita menjadi satu keluarga yang utuh?”

Hansel menangkup kedua pipi Erin dengan tangan lebarnya. “Tapi aku terlalu mencintaimu.” Dia langsung melumat bibir yang tadinya tercengang.

Erin yang sudah terperdaya menggenggam jubah mandi suaminya yang longgar, tidak menolak ciuman yang begitu lembut, melahap jiwanya perlahan ke dalam kenikmatan yang indah.

Erin tidak hanya pasif. Dia membalas perlakuan itu dengan yang sama. Bisa dikatakan kalau dia juga sangat rindu dengan sentuhan Hansel setelah cukup lama tidak saling memuaskan hasrat.

Ini bukan kali pertama mereka melakukan hubungan intim. Awal sekali ketika berada dalam naik turunnya hubungan asmara, mereka seperti anak muda yang sering bertengkar dan mengucapkan kata-kata manis.

Tentu saja mereka pernah melalui masa itu, di mana darah muda yang begitu rawan melakukan hal di luar batas. Beruntung bagi Erin mendapatkan pria seperti Hansel, bukan pria hidung belang yang suka bermain dengan banyak wanita, mampu menepati janji untuk menikahinya dan melindunginya.

Hansel sudah menyusupkan tangannya ke bawah gaun, singgah ke perut istrinya sebelum berlalu ke atas. Pada saat yang sama, Erin mendorong kedekatan mereka secepat mungkin.

“Hansel ... aku rasa ... kita harus ke kamar.” Erin sendiri sudah hampir tenggelam dalam kabut hasrat. Dia sulit berkata-kata, di samping tubuh yang sudah berhasil dilemahkan.

Hansel mengembuskan napas panasnya di bibir sang istri. “Hanya ada dua orang yang dapat mengakses apartemen ini. Jadi, kenapa harus malu jika kita melakukannya di sini?”

Erin menggigit bibir, menahan hasrat sekaligus menyeimbangkan logika secara bersamaan. “Kita ... tidak bisa melakukan malam pertama kita di ruang tamu.”

“Kenapa tidak? Suatu saat aku berpikir untuk melakukannya bersamamu di ruang tamu.”

“Hansel!”

Hansel tersenyum jahil dan hal itu membuat Erin semakin naik saja hasratnya. Senyuman yang selalu menawan hati dan memaksanya untuk merelakan diri tenggelam dalam mata terpejam, melanjutkan ciuman mereka yang sempat terhenti dengan gairah membara.

Bab 2

Hansel membuka kedua mata ketika suara alarm membangunkan. Pada saat ini, Erin masih pulas dalam pelukan. Takut sang istri terbangun, dia segera mematikan suara nyaring yang sejajar di kepalanya.

Tidak berniat untuk turun dari ranjang, dia mengecup dahi istrinya dan memandangi wajah yang begitu cerah itu sedikit lebih lama. Jantungnya tidak dipungkiri berdegup kencang, sadar bahwa dia telah jatuh cinta sekali lagi pada Sakya Erina.

“Hans, hmmm ....”

Erin melenguh tiba-tiba, membuat Hansel menipiskan bibir. Dia membawa jarinya untuk mengusap bibir lembut itu perlahan, menciptakan suara lenguh lainnya.

Kedua mata Erin terbuka lambat-lambat, mendapati sang suami yang tersenyum. Terutama jari yang menyentuh bibir dapat dirasakan basah.

“A—apa yang Kau lakukan?” Erin segera mengusap bibirnya.

Hansel tergelitik untuk menjawab, “Apa Kau belum puas sampai harus memimpikan aku? Kita bisa menambah satu putaran lagi jika Kau menginginkannya.”

Erin membalikkan tubuhnya dan tidak sengaja melihat kemasan di meja nakas yang beberapa sudah terbuka. Mereka tidak memakai obat-obatan untuk mencegah kehamilan, tetapi alat kontrasepsi dalam bentuk lain karena Hansel tidak ingin jika tubuhnya menjadi rusak jika mereka memilih obat sebagai upaya pencegahan.

“Maafkan aku harus membuatmu menunggu."

Erin tahu kalau suaminya ingin memiliki anak dan dia juga tahu kalau suaminya ingin melakukan sesuatu yang lebih dari hubungan intim mereka. Namun, karena keegoisannya membuat Hansel harus menderita.

Hansel memeluk istrinya, menyingkirkan helai rambut yang menghalangi tengkuk sebelum menghadiahkan sebuah kecupan kecil di sana. "Aku sudah melupakannya. Aku akan menunggumu sampai benar-benar siap.”

***

Jadi, Hansel sudah menerima keputusan terbesar di dalam rumah tangga mereka?

Erin sangat senang dan tidak bisa melupakan hari yang begitu berkesan baginya. Perkataan Hansel tadi pagi terus terngiang meski dia sudah berada di kantor cukup lama dan membuat dia tersenyum sendiri tanpa henti.

Mereka yang melihat cukup bertanya-tanya akan penyebabnya. Perubahan Erin sangat signifikan dibandingkan hari kemarin, terutama pada bagian wajah yang begitu cerah.

“Apa tadi malam sangat menyenangkan?”

Erin yang sedang menikmati capuccino hangatnya sedikit terkejut. “Oh, apa maksudmu?”

Gina menyipitkan mata, menilai dari atas sampai bawah. “Hari pertama pernikahan pasti sangat melelahkan. Malam kedua mana mungkin dibiarkan lolos. Wajahmu sangat cerah sampai membuat seluruh isi ruangan menjadi pangling. Aura pengantin baru memang sangat berbeda.”

Erin tersenyum tipis. Setidaknya dia mengerti akan perkataan barusan. Setelah kemarin menyinggung pernikahan, sekarang dia disinggung mengenai malam pernikahan.

“Bagaimana rasanya?” Gina mendadak sangat penasaran.

Erin sangat bingung bagaimana menjawabnya karena tadi malam bukan pertama bagi mereka. Jadi, dia hanya tergelak dan beranjak meninggalkan dapur karyawan.

Sayangnya, Gina tidak berhenti sampai di situ saja. Makhluk yang dinamakan dengan teman itu terus mengikuti dan menanyakan hal yang bersifat pribadi. Jika tidak memberikan jawaban, maka Gina pasti akan terus mengusik dengan pertanyaan yang sama.

Erin memperhatikan sekeliling. Semua orang begitu sibuk bekerja. Tidak akan ada yang mendengar jika dia berbicara dengan nada suara rendah karena kantor terbilang ramai saat ini.

“Bagaimana?” tanya Gina sekali lagi.

“Menyenangkan,” ucap Erin, hampir hilang suaranya saat berkata.

“Itu saja? Tidak bisakah mengatakannya lebih spesifik lagi?” Gina merengek.

Erin menepikan diri agar suaranya tidak memiliki celah untuk didengar oleh orang lain. “Saat tubuhmu disentuh, rasanya sangat menyenangkan, hangat, dan juga nyaman.”

Gina seperti terhanyut dalam imajinasi yang tercipta dari rangkaian kata-kata itu. “Bagian mana yang disentuh?”

“Seluruhnya, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Rasanya jika tidak mendapatkan sentuhannya akan membuatmu sangat gila.”

“Ya, ampun! Benarkah?! Sampai seperti itu?!”

“Ssstt ....” Erin berusaha menenangkan respons berlebihan yang dapat mengundang perhatian itu.

Namun, mereka harus terkejut karena baru sadar kalau ternyata ada yang memperhatikan dari belakang. Langsung saja dua orang wanita yang telah merah rona mukanya menunduk hormat.

"M—mister Hansel." Gina berucap.

“Kalian berdua dapat mengikuti saya ke ruangan.” Setelah berkata, Hansel berlalu pergi bersama sang sekretaris.

Gina berekspresi takut, terlebih Erin begitu gelisah. Sejak kapan sang suami ada di belakang mereka?

“Kau pasti lihat bagaimana raut wajah seramnya tadi. Apa kita akan dipecat?”

Wajar saja Gina sampai berpikir tentang pemecatan karena baru kali ini dipanggil ke ruangan atasannya dan sungguh sangat berharap kalau itu bukan karena dirinya yang akan dipecat.

“Tidak mungkin. Apa yang terjadi tidak separah itu.”

Bahkan jika benar, Erin tidak akan membiarkan suaminya memecat karyawan hanya karena alasan sepele. Apalagi kesalahan hampir sepenuhnya dia yang melakukan.

Mereka sudah seperti murid yang dipanggil ke ruangan kepala sekolah, setibanya di sana hanya bisa menunduk sambil memasang tampang bersalah.

“Anda sudah bisa keluar,” ucap Hansel, menunjuk salah seorang dari dua orang wanita di hadapannya.

“Saya?” Gina tercengang. Dia baru beberapa menit di ruangan itu.

“Kenapa? Apa Anda ingin lebih lama tinggal di ruangan ini?”

Gina langsung menyeret sepuluh jarinya ke depan. Tidak mungkin. Dia seharusnya senang karena ternyata ketakutannya tidak terjadi.

“Saya akan keluar seperti apa yang diperintahkan.” Gina membalikkan badan, lalu menyemangati Erin melalui ekspresinya sebelum benar-benar hilang dari peredaran.

Tidak lama setelah pintu ditutup, tersisa dua orang saja di dalam ruangan. Hansel memijat pangkal hidungnya dengan tidak berdaya. Reaksi itu berhasil membuat kegelisahan Erin meningkat.

“Kenapa?”

“Aku tidak mengira akan mendengar cerita panas di perusahaanku sendiri.”

“Sampai mana Kau mendengarnya?”

Hansel mendekat, sedekat wajah dengan wajah. Dia juga melingkarkan tangan di pinggang Erin. “Rasanya jika tidak mendapatkan sentuhannya akan membuatmu sangat gila.”

Erin menggigit bibir. Percakapan mereka sama sekali tidak menghilangkan rona merah yang menjalari mukanya.

“Tadi Gina—“

Hansel berdecak sebelum kalimat istrinya selesai. “Aku sudah katakan padamu kalau kita bisa menambah satu putaran lagi jika Kau benar menginginkannya. Kau menolaknya dan sekarang membahas hal yang begitu privasi dengan orang luar.”

“Kau sudah salah paham.”

“Salah paham? Di saat dirimu menggumamkan namaku di pagi hari? Kau juga tahu bahwa bukan hanya bibirmu yang basah.”

Erin tidak membantah kenyataan. Sial sekali dia harus bermimpi tentang suaminya tadi pagi. Sekarang dia terlihat seolah menjadi wanita yang belum terpuaskan.

Sementara Hansel saat ini meletakkan telapak tangannya di leher yang hawanya panas terasa, membuat Erin langsung menatap terkejut. Apalagi ketika tangan itu bergeser hingga mencapai tali yang menggantung di bahu.

Tidak berhenti di situ saja, Hansel terus menggeser tangannya dan membuat tali tersebut jatuh ke samping dalam keadaan masih rapi pakaiannya.

Erin dapat merasakan hangatnya jemari mengusap bahu dengan lembut, menciptakan sensasi yang menggelitik. Jeritannya tertahan menjadi desahan kecil.

“Ki—kita sedang ada di perusahaan sekarang,” ucap Erin, menahan gerakan tangan yang semakin turun hampir menyentuh dadanya.

Hansel tidak menggubris, justru menjejaki leher putih itu dengan bibirnya, mengisapnya hingga meninggalkan bekas.

"Oh, Hansel ...."

Erin segera mendorong sang suami sebelum logikanya hilang semua. Dia merapikan pakaian dalamnya kembali, bertepatan dengan suara ketukan pintu.

Tidak berkata apa-apa lagi, Erin bergegas meninggalkan ruangan. Dia tidak menaikkan pandangan, berharap dapat menyembunyikan rasa malu pada banyak orang yang didapati sedang berdiri di depan pintu.

Hansel sendiri hanya tersenyum, membiarkan mereka yang memiliki kepentingan masuk ke ruangan. Sebelum melanjutkan pekerjaannya, dia membaca pesan masuk yang baru saja diterima.

Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Erin yang marah atas sikapnya tadi. Lantas, dia hanya tertawa mengejeknya.

[Erin: Sikapmu sungguh tidak berperikemanusiaan!]

Bab 3

Erin mendengus kasar. Padahal mereka sudah sepakat untuk merahasiakan hubungan satu kantor, tetapi Hansel melakukan sesuatu yang dapat membongkarnya. Pertemuan mereka sudah jelas harus dihindari ketika berada di kantor.

Saat ini Gina terlihat sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang karyawan bagaikan sekelompok manusia dengan hobi yang sama—bergosip. Terlepas dari itu semua, satu hal yang wajib dilakukannya yaitu memastikan kalau Gina tidak curiga dengan kejadian di mana dia berurusan dengan pemilik perusahaan.

Maka dari itu, Erin ikut bercengkerama dengan mereka. Niat awalnya begitu, tetapi baru beberapa langkah, formasi satu kelompok langsung bubar sehingga dia hanya bisa terpaku di tempat.

Gina yang sadar akan kehadiran temannya pun berkata, “E—erin, apa Kau baik-baik saja?”

“Ya. Tentu.” Erin berkata sembari menilai ekspresi wajah temannya yang tidak biasa.

Apa Gina telah mencurigai sesuatu?

“Syukurlah. Aku sangat khawatir. Lalu, apa yang Mister Hansel katakan padamu?”

Ditinjau dari pertanyaan, seperti Gina tidak mencurigai apa pun. Jika benar begitu, maka Erin bisa tenang hati dan pikirannya.

“Oh, itu ... tidak apa-apa. Bukan masalah besar. Hanya ... membicarakan mengenai pekerjaan.”

Perhatian semuanya teralih kala beberapa orang datang, termasuk Hansel yang didapati memimpin pergerakan. Kali ini kedua pasangan rahasia melakukannya dengan sangat baik. Tidak ada yang dapat mengundang kecurigaan seperti tadi. Hanya tatapan sekilas yang begitu tajam pada Erin.

Hansel memperkenalkan penghuni baru perusahaannya pada semua orang. Sebentar saja perannya di sana sebelum pergi menyerahkan urusan interaksi ditangani bawahannya.

“Tadi itu sangat menegangkan! Kau yakin tidak ada masalah besar dengan Mister Hansel? Dia menatapmu begitu tajam tadi,” ucap Gina, satu-satunya yang sadar.

“Bukankah dia selalu seperti itu?”

“Ah, Kau benar! Tidak ada yang bisa mengalahkan kekakuan Mister Hansel, bahkan ketika mengikuti acara makan bersama karyawan, dia membuat suasana menjadi sangat buruk. Untung saja tampan, maka semua tindakannya bisa dimaafkan.”

Erin terkekeh. “Lebih baik kita kembali ke meja kerja.”

Saat akan melaksanakan niatnya, mereka langsung terhenti saat seorang pria memegangi tangan Erin. Pria itu begitu tampan dan juga menyegarkan meski dalam keadaan bingung. Siapa pun yang melihat pasti akan terpesona menyaksikan kepolosan rupa dari pria jangkung ini.

“Maafkan saya.” Pegangan di tangan itu terlepas.

Kecuali Erin yang membelalakkan mata ketika melihat siapa yang ada di hadapannya. Seketika gemuruh di dada memuncak dalam satu waktu. Betapa dia ingin segera pergi dari sana, akan tetapi seluruh tubuh yang terasa kaku tidak mau diajak kerja sama.

“Perkenalkan. Saya Calvin Taner, pemagang baru di Kya Corporation.”

Erin segera menarik dirinya yang tadi tenggelam dalam sebuah kenangan pahit. Dia harus tetap tegar, menampakkan dirinya yang baik-baik saja. Itu adalah apa yang dilakukan seseorang yang patah hati akan cinta pertamanya ketika bertemu, bukan?

“Lalu?”

Calvin terbengong. “La—lu?”

Erin meletakkan kedua belah tangannya di dada. “Apa yang pemagang baru ini inginkan dariku?”

Semakin berbicara, Erin semakin sadar bahwa apa pun yang ada di antara mereka adalah masa lalu. Dia bukan anak perempuan yang mudah terbawa perasaan lagi sekarang.

Gina mencolek temannya yang bersikap dingin itu. “Tidakkah Kau terlalu bersemangat mendalami peranmu sebagai wanita karier? Dia adalah orang baru di sini dan sikapmu membuat dia menjadi kebingungan,” bisiknya.

Memperbaiki suasana yang begitu tegang, Gina melangkah maju ke depan. “Selamat datang di Kya Corporation, Calvin Taner. Kau bisa memanggilku Gina, salah satu staf divisi keuangan. Dan wanita ini,”—dia menyentuh lengan Erin—“adalah ketua divisi kita, Sakya Erina. Dia memang tidak berperasaan ketika sudah bersinggungan dengan yang namanya pekerjaan. Jadi, harap dimaklumi sikapnya.”

Calvin menunduk dengan hormat. “Mohon bimbingannya!” serunya dengan semangat.

Erin sendiri tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dia menolak kehadiran orang baru yang menurutnya hanya akan merepotkan, apalagi orang itu adalah lelaki yang membuat dia patah hati belasan kali. Namun, dia juga tidak bisa menolak jika memang itu keinginan perusahaan. Dia harus bersikap profesional.

Tidak seperti Erin yang berlalu pergi begitu saja, justru Gina bersikap ramah dengan menuntun anggota baru ke divisi mereka. Bisa dikatakan kalau dia berinisiatif menggantikan pekerjaan Erin untuk membimbing pemagang baru.

***

Langit mulai berubah warnanya ketika jam sibuk telah usai. Masing-masing meja kerja berubah kosong, begitu pula untuk ruangan divisi keuangan. Kini satu tim yang terdiri dari beberapa orang itu menggunakan lift yang sama untuk turun menuju lobi.

“Calvin, apa Kau sudah punya kekasih?”

Pertanyaan mendadak Gina berhasil mengejutkan semua penghuni lift. Calvin sendiri cukup canggung untuk memberikan jawaban, tetapi pemagang baru di perusahaan pasti akan mengalami hal yang sama, bukan? Mereka harus mampu menghadapi segala situasi agar posisi pekerjaan tetap aman terkendali. Lagi pula, itu hanya sebuah pertanyaan kecil.

“Itu ... saya—“

“Jangan membuat pemagang baru kita menjadi tidak nyaman karena pertanyaanmu.” Kata Erin.

Gina mencebik. “Padahal sekarang bukan lagi jam kerja.”

“Maka dari itu, jangan lontarkan pertanyaan yang bersifat pribadi di tempat umum.”

Suasana mendadak tegang setelah Gina tidak dapat lagi membantah. Dia memang dekat dengan Erin, tetapi bukan berarti dapat menentang seseorang yang sangat dihormati. Dia harus tahu tentang batasan.

Pintu lift terbuka, semuanya kembali ke jalan masing-masing. Gina memiliki janji sehingga harus berpisah lebih cepat, sedangkan Erin dan Calvin berpikir untuk pulang menaiki bus.

Tidak ada kursi yang kosong. Jadi, mereka terpaksa berdiri berdampingan. Sebenarnya bisa saja Erin membuat jarak pada pemagang baru yang tidak diharapkannya untuk ada, akan tetapi dia selalu diikuti dari belakang seperti seekor ayam.

“Terima kasih, karena sudah membantu di dalam lift.”

Sejujurnya Erin hanya ingin memberi peringatan pada Gina yang selalu memiliki tingkat penasaran yang tinggi agar sadar bahwa segala sesuatu memiliki ruang dan waktu.

“Setelah jam kerja selesai, maka Kau bukan lagi seorang pemagang. Kau bisa menolak pertanyaan yang membuatmu tidak nyaman,”—Erin mengoceh kesal—“bahkan, pertanyaan itu tidak seharusnya dilontarkan pada para pemagang baru. Sepertinya Gina berencana untuk mendekatimu. Jadi, berhati-hatilah.”

Suara tawa kecil terdengar, membuat Erin mendongak lagi. Dia mengernyitkan alis seolah tertulis kata ‘kesal’ di dahinya. “Kenapa Kau tertawa?”

“Tidak. Saya hanya merasa lucu saat mendengarnya. Ketua Tim terlihat seperti seorang detektif.”

Erin memperhatikan sekeliling di mana kini mereka menjadi pusat perhatian. “Tertawa lagi, maka aku akan membuat tugasmu menjadi berat,” ucapnya dengan nada suara rendah.

Justru hal itu membuat Calvin semakin tergelitik. Dia berkata dengan nada suara rendah pula, “Sekarang bukan lagi jam kerja. Kau tahu itu, Erin.”

Erin melebarkan mata. Sikap informal itu membuat dia naik darah. Hanya saja, perkataan Calvin tidak salah kalau mereka bukan lagi rekan kerja sekarang. Jadi, dia hanya bisa melemparkan muka ke arah lain agar kekesalannya teratasi.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik-baik saja.” Erin mencengkeram lengannya, masih belum terbiasa dengan pertemuan mereka.

“Aku tidak tahu kalau ternyata akan satu tempat kerja denganmu. Kau juga berpikir begitu, bukan, Ketua Tim?”

Erin berpikir sesaat sebelum menolehkan kepala. Tatapannya lantang dan penuh keyakinan. “Lebih baik kita tetap mengenal sebagai rekan satu tim. Apa yang terjadi di masa lalu, tidak perlu memikirkannya lagi di masa sekarang. Anggap saja semua itu sebagai sebuah mimpi yang mana setelah terbangun, maka semuanya akan sirna.”

Calvin tersenyum pahit. “Apa pertemuan kita begitu menyakitkan bagimu, Erin?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED