“Ingat ya say, kau harus memuaskan pelanggan kita karena Dia sudah membayar kontan pada bapakmu,” ucap Wanita berpakaian seronok pada gadis muda yang bertampang lugu itu.
Gadis itu mengangguk patuh tapi tampak gelisah. Dia merasa tak nyaman bahkan sesekali menutupi kedua lututnya yang menggunakan rok mini itu. Gadis itu menarik ujung rok menutupi kedua kaki jenjang yang putih itu.
“Jawab kalau mengerti!” Bentak Wanita dengan riasan tebal itu pada si Gadis itu.
“Iya, Madam,” sahut Gadis itu.
“Gih, ke kamar soalnya tuan itu sudah sampai di kamar pesanannya,” suruh Wanita paruh baya itu.
Gadis muda bermata cokelat terang itu berjalan dengan gugup menuju sebuah kamar VVIP yang dijaga oleh dua penjaga berjas hitam. Dia memegang gagang pintu kemudian mendorong pintunya. Di sana sudah ada seorang Pria yang duduk bersandar di sebuah sofa. Kepalanya bersandar di ujung sofa kemudian wajahnya menegadah menatap langit-langit kamar hotel.
“Cepat, puaskan aku,” perintah Pria itu.
“B-baik, Tuan.” Gadis itu berjalan kaku mendekati Pria itu. Dia duduk berlutut di depan sang Pria. Gadis itu hanya memandanginya karena tidak memiliki pengalaman. Gadis muda berambut hitam ini bahkan terpaksa menjual dirinya karena bapaknya.
“Apa-apaan ini! Kenapa kau diam saja!” bentak Pria itu.
“Kumohon, Tuan, aku akan mencobanya lagi.”
“Ya, seharusnya memang begitu karena aku sudah membayarmu dengan mahal.”
Sang gadis yang duduk berlutut di depan Pria yang tengah duduk di sofa mahal itu. Wajahnya memerah malu, belum lagi kedua matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis. Dia menyelipkan helaian rambut yang jatuh mengenai wajahnya ke daun telinga. Kedua tangannya gemetar ketika menyentuh kedua kaki Pria itu. Perlahan-lahan mendekati Pria berambut Pirang itu.
“Kau benar-benar,” decak Pria itu sembari meraih rambut hitam panjang Gadis itu dengan kasar. “Jangan bersikap seolah kau gadis perawan!” bentak Pria itu.
“Ampun, Tuan,” ringgis sang Gadis seraya memengangi tangan kanan Pria itu yang tengah meremat seluruh rambutnya. Gadis itu nyaris saja menangis tapi dia berusaha menahannya.
Sang pria bermata biru menatapnya dengan tajam. Dia melepaskan rambut Gadis itu tapi menggantinya dengan mengangkat tubuh Gadis muda itu kemudian melemparnya ke atas ranjang kasur. “Jangan harap untuk merengek seperti gadis baik-baik, ingatlah, aku sudah membayarmu untuk malam ini.” Pria itu berbisik di daun telinganya.
Sang gadis tak berdaya berada dalam kungkungan Pria itu. Dia hanya terisak dalam diam membiarkan Pria itu menggerayangi dirinya. Pria itu tak melewatkan bagian darinya justru melahap setiap inci dari Gadis itu. Sang gadis hanya bisa terus berharap jika pagi segera tiba agar semua malam penderitaannya berakhir.
Pagi pun tiba bahkan mentari masih malu-malu menyapa hari. Sang gadis terbangun kemudian menatap ranjang kasur yang sudah berantakan. Dia juga melihat sprei putih yang terdapat noda kemerahan. Gadis itu kini melirik Pria bertubuh kekar bertelanjang dada yang masih pulas terlelap dalam tidurnya. Gadis itu beranjak pelan-pelan dari kasur karena tak mau membangunkan Pria itu kemudian memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia berjalan tertatih-tatih kemudian buru-buru keluar dari kamar ini.
Matahari yang baru terbit bahkan udara masih dingin. Lalu lalang kendaraan masih sepi di jalan raya. Sang gadis tertatih berjalan dipinggiran trotoar. Dia memberhentikan sebuah taxi kemudian membawanya pulang ke rumah. Raut wajahnya berantakan sama seperti tubuhnya. Dia tiba di sebuah rumah kontrakan. Gadis itu buru-buru masuk ke rumah kemudian langsung berjalan ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya.
Air dingin yang mengguyurnya tak Ia perdulikan. Dia menggosok tubuhnya dengan kasar berulang kali berharap semua sentuhan Pria itu akan bersih darinya. Berkas kemerahan menjadi corak pada kulit putih bersihnya. Gadis itu terisak karena melepaskan kesuciannya dengan cara seperti ini. Dia pun sembari meruntuki nasibnya. Lima belas menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan raut wajah kusut. Gadis sudah memakai pakaian barunya.
“Alessa, untung saja, berkat dirimu hutangku terbayarkan,” ucap Pria paruh baya sembari menepuk pundak Gadis itu. “Lain kali, hiburlah pria-pria kaya seperti itu dengan baik, tadi malam Kamu sempat diprotes tapi untung saja uangnya sudah masuk ke rekeningku.” Pria itu berucap sambil duduk di kursi kayu kemudian menghidupkan televisi.
“Alessa, buatkan Bapak kopi,” suruh Pria itu tanpa memerdulikan keadaan Alessa.
“Baik, Pak.” Alessa mengangguk patuh. Dia pergi ke dapur untuk merebus air dan membuatkan kopi seperti yang ayahnya inginkan.
Pranggg! Ketika membawa secangkir kopi panas. Alessa tak sengaja menjatuhkan cangkir itu sampai membuatnya pecah dan berserakan di lantai. Alessa buru-buru membersihkan pecahan kaca dari cangkir itu. Saat Ia sedang membereskan pecahan kaca. Seorang Wanita paruh baya baru tiba di dapur.
“Alessa, dasar bodoh!” Wanita itu membentak Alessa sembari melayangkan pukulan pada wajah manis Alessa. “Kau memecahkan cangkir mahalku, dasar anak tidak berguna!” hardik Wanita itu.
“Aduh, ampun Bi, Alessa tidak sengaja,” ucap Alessa sembari melindungi kepalanya.
“Tidak berguna, bapakmu, dan kau, sama-sama benalu di rumahku!” omel sang Bibi sambil memukuli Alessa dengan ujung penyapu. Puas melampiaskan amarahnya dia malah menyuruh Alessa lagi.
“Hey, apa kau mau diam saja!” bentak Seorang Wanita paruh baya. “Cepat jual dagangan itu, dasar pemalas,” perintah Wanita itu sembari beranjak pergi meninggalkan Alessa sendiri di dapur.
“Baik, Bi.” Alessa mengangguk sembari memengangi kedua kakinya yang sudah penuh dengan lebam. Alessa berdiri dengan perlahan sembari memengangi dinding. Alessa membuatkan kembali kopi untuk bapaknya. Setelah itu Alessa pun mengangkat dua buah keranjang berisi makanan camilan yang dibuat oleh bibinya. Alessa setiap hari menjual camilan itu ke kampusnya sembari berkuliah.
Alessa mengangkat keranjang makanan yang berat itu menuju halaman rumah. Alessa berjalan dengan pincang karena semasa remaja mengalami cedera pada kedua kakinya. Dia meletakkan dua keranjang ke motor maticnya. “Tidak apa-apa, hari ini pasti laku,” ucap Alessa menghibur dirinya sendiri.
“Oh, iya, aku lupa membawa hasil revisian skripsi di kamar,” ucap Alessa sembari kembali ke dalam rumahnya.
Dia sempat berjalan melintasi ruang tamu. Kedua mata cokelat Alessa membelalak kala Ia mendapati bapaknya yang sudah mengambil mendali emas milik Alessa dari lemari pajangan. “Bapak, mau dibawa kemana mendaliku?” tanya Alessa.
Bapaknya itu tidak memerdulikan pertanyaan Alessa. “Banyak bicara saja kau, uangmu semalam kurang jadi bapak akan jual mendalimu ini,” ketus bapaknya.
Alessa meletakkan keranjang makanan kemudian menghadang bapaknya yang hendak ke luar rumah. “Jangan, Pak, Alessa mohon, itu satu-satunya prestasi Alessa pak,” mohonnya. “Pak, Alessa tidak bisa bermain skating lagi, hanya itu satu-satunya kenangan yang Alessa miliki Pak.” Alessa berucap sembari terisak. Dia menarik lengan bapaknya yang hendak keluar dari rumah itu. Alessa tak rela mendalinya akan dikorbankan juga demi uang seperti dirinya ini.
Pria itu mendorong tubuh Alessa sampai Ia terjatuh. “Kau anak pembangkang!” Pria itu mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Alessa.
“Kau sudah cacat, lagi pula mendali emas ini tidak ada gunanya jika jadi pajangan saja, lebih baik dijual untuk membayar hutang bapakmu ini,” ketus Pria itu sembari pergi meninggalkan rumah. Dia membawa mendali emas milik Alessa untuk dijual, tak lain agar melunasi hutang-hutangnya bermain judi.
“Apapun Pak, asal jangan jual mendali yang Alessa susah payah dapatkan.” Alessa memengangi kedua kaki bapaknya agar mencegah Pria itu beranjak pergi membawa mendali yang Ia menangkan dulu dalam kejuaraan olimpiade grand prix lima tahun lalu. Mendali itu sangat berarti bagi Alessa yang mengingatkannya akan perjuangannya.
“Kalau begitu malam ini kau harus mau melayani Tuan Kaya itu lagi.”
“Kalau begitu malam ini kau harus mau melayani Tuan Kaya itu lagi.”
Bagai disambar petir di tengah hari. Alessa tentu tak sudi harus melalui malam yang sama seperti kemarin. Alessa segera menggeleng karena pilihannya hanya dua, yaitu mengorbankan dirinya lagi atau mendalinya. "Bapak boleh jual mendaliku,” putus Alessa yang tak berdaya.
“Nah, gitu dong, jadi anak harus tahu diri.” Bapak pergi menaiki motor supranya. Dia tidak memerdulikan anak perempuannya yang tertunduk dengan isak tangisnya.
Alessa harus tetap bangkit dari keterpurukannya. Dia pun mengemasi dagangannya serta bersiap untuk pergi ke kampus seperti biasanya. Alessa harus memenuhi keinginan Bapaknya dan menuruti perintah Bibinya di rumah. Hal seperti ini sudah bertahun-tahun Alessa rasakan. Ibunya pergi meninggalkannya saat masih remaja karena perilaku kasar Bapaknya karena terjerat hutang-hutang yang besar. Masa jaya Alessa sebagai atlit muda peselancar es pun pupus karena Bapaknya yang sering memukuli kedua kakinya sampai cedera namun sayangnya tidak dibawa berobat. Alessa menanggung akibat yang membuat sebelah kakinya pincang dan kesulitan berjalan.
“Alessa Camelia Amarei, masa tenggat biaya kuliahmu sampai bulan depan ya, Nak,” ucap seorang wanita yang membuyarkan lamunan Alessa.
Alessa kala itu sedang duduk sendirian di kantin sembari menunggu orang membeli dagangannya. Dia malah dihampiri oleh staff tata usaha yang mengingatkan hutang biaya kuliahnya. Alessa tersenyum hambar. “Maaf, Bu, nanti Alessa lunasi,” ujar Alessa.
“Kalau tidak,nanti kamu tidak bisa wisuda bulan depan.” Wanita itu berucap sembari memilih dagangan di keranjang. “Ibu beli satu ya, keripik ketelanya.” Wanita paruh baya itu berucap sembari memberikan uang pecahan sepuluh ribu pada Alessa.
“Terima kasih, Bu, tunggu kembaliannya.” Alessa tampak kebingungan mencari uang ditasnya karena dagangannya belum dibeli siapapun. Alessa juga tidak memiliki uang kembalian untuk dagangannya.
“Tidak apa, ambil kembaliannya,” ucap Wanita itu sembari beranjak pergi.
Alessa tersenyum haru. Setidaknya hari ini dia mendapatkan uang meski nanti semuanya harus diberikan ke Bibinya. Alessa membawa keranjang berisi dagangannya itu ke taman. Alessa memang sudah selesai menyelesaikan tugas akhir. Seharusnya Alessa jadi mahasiswa lain yang menikmati masa-masa euforia kelulusan yang ada di depan mata.
“Seharusnya uang beasiswaku cukup untuk biaya kuliah tapi Bapak mengambilya lagi,” gumam Alessa diiringi helaan napas yang panjang.
Alessa baru selesai memberikan hasil revisiannya di kantor para dosen. Alessa sebenarnya anak yang cerdas. Dia menyelesaikan skripsi jauh lebih cepat dibandingkan teman-temannya. Alessa pulang ke rumah saat hari menjelang sore. Dia menyisakan beberapa bungkus dagangan yang tidak laku.
“Apa cuman segini!” Bentak Bibinya melihat uang yang Alessa berikan.
“Maaf, Bi, hari ini sepi karena sebentar lagi liburan semester jadi yang beli hanya beberapa,” jelas Alessa.
Plak!
Tangan Wanita itu melayang menampar wajah Alessa. Kedua matanya melotot sampai dadanya naik turun karena amarahnya membumbung tinggi. “Halah, itu semua pasti alasanmu, dasar pemalas!” jari telunjuk Wanita itu mengarah pada Alessa.
“Tidak, Bi, Alessa benar-benar tidak berbohong,” ucap Alessa.
Alessa langsung dipukuli oleh Wanita itu. “Sudah pincang, tidak berguna dan sekarang berani melawan,” omel Bibinya sembari menghajar wajah cantik Alessa yang sudah terdapat lebam tapi ketika Bibinya hendak kembali memukulinya Alessa melindungi perutnya sendiri.
“Bi Marsella, tolong hentikan karena perutku jadi sakit,” ucap Alessa tiba-tiba merasakan perutnya kram.
Alessa melanjutkan hidup penuh penderitaan ini. Suatu ketika Alessa sedang menyikat lantai di rumah. Dia senantiasa diberikan perkerjaan berat oleh Bibinya. Marsella jadi bibi yang kejam untuk Alessa belum lagi ayahnya Alessa sering memaksa Alessa untuk memberi uang dengan segala cara.
“Andai, aku bisa pergi dari rumah ini,” gumam Alessa dengan derai air mata mengalir di pipinya. Alessa masih menyikat lantai. “Kenapa Ibu tidak pergi membawaku,” ucap Alessa disela-sela isak tangisannya.
Perut Alessa terasa nyeri belum lagi tiba-tiba Ia merasa mual. Alessa buru-buru ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Alessa terduduk lemas di sana. “Apa karena aku belum sarapan ya?” tanya Alessa seorang diri.
Hampir tiga minggu sudah berlalu sejak Alessa dipaksa menjual dirinya pada Pria asing itu. Ayahnya juga tak kunjung pulang yang memaksa Alessa membantu pekerjaan Marsella, Bibinya.
“Kenapa rasa mualnya tidak kunjung hilang,” ucap Alessa. Dia kini merasakan tubuhnya jauh lebih lemas dari biasanya. Alessa bahkan memaksakan diri pergi ke kampus untuk menyelesaikan artikel yang jadi salah satu syarat kelulusan akhirnya.
Alessa jalan terhuyung-huyung di koridor kampus. Kepalanya terasa berputar belum lagi tatapannya jadi berkunang-kunang. Ia yakin jika tubuhnya tak bisa menompang untuk tegap berdiri kemudian Alessa pun pingsan tak sadarkan diri.
Alessa terbangun ketika hari menjelang petang. Ia mendapati diri berada di ruang perawatan. Alessa berbaring di atas ranjang kasur putih dengan aroma antiseptik yang menyengat hidungnya. Alessa berusaha untuk duduk tapi rasa mual dan kram diperutnya belum kunjung reda.
“Berbaringlah, aku tak sengaja menemukanmu di lorong koridor karena kamu pingsan,” ucap Seorang wanita.
“Jangan memaksakan kondisimu ya.” Wanita itu berucap sembari berjalan mendekati Alessa kemudian menarik kursi bundar untuk duduk disamping Alessa. “Gimana perasaanmu sekarang?” tanya Wanita itu.
Alessa bungkam sesaat. Dia tahu tengah berada di Rumah Sakit pendidikan yang terletak tepat di sebelah gedung kampusnya. Wanita ini juga salah satu dokter jaga. Alessa bisa melihat nama dan gelarnya dari name tag di jas putih yang Wanita itu kenakan.
“Perasaanku baik, apa boleh aku kembali ke kampus, Dok?” tanya Alessa. Dia tak punya uang untuk membayar biaya pengobatan rumah sakit. Alessa memutuskan menguatkan diri untuk menduduki dirinya.
“Tenanglah Alessa, sebaiknya kamu istirahat saja dulu,” ucap Wanita itu.
Alessa mengeryit heran. Dia merasa keluhan saat ini diakibatkan dari sering absen makan. “Aku sakit mag aja, bukan sakit kronis,” sangkal Alessa pada Dokter itu.
“Kalau begitu apa kamu ingat hari pertama haid terakhir?” tanya Dokter dengan nada lembut.
Alessa termangun sejenak. Bulan ini dia belum datang bulan. Tiga minggu sudah berlalu tapi seharusnya Alessa mengalami datang bulan di tanggal yang awal. Alessa melirik pintu ruangan dengan tulisan PONEK. Gadis itu membelalakkan kedua matanya ketika menyadari sesuatu yang tengah Ia alami. “Oh, Tuhan!” Jerit Alessa.
Dokter menenangkan Alessa yang tampak terkejut itu. Ruanga pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif (PONEK) tempatnya bekerja merupakan pelayanan untuk ibu dan anak. Alessa ditemukan pertama kali karena dehidrasi berat dengan keadaan hamil muda. “Tenanglah ... apa kamu mau mengabari keluargamu?” tanya Dokter itu.
Alessa masih menyangkal situasi yang Ia alami meskipun Alessa sudah menduga kondisinya saat ini. “Dokter apakah aku benaran sedang hamil?”
"Dokter apakah aku benaran sedang hamil?”
Alessa menunggu Dokter menjawab pertanyaannya dengan cemas. Dia mengigit bibir bawahnya bahkan tak berani menatap kedua mata Dokter. Alessa sebenarnya sudah menduga hal yang terjadi padanya saat ini.
"Iya, kamu sedang hamil dua minggu,” jawab Dokter.
Alessa merasakan dunianya hancur. Alessa tak pernah menduga jika Ia harus mengandung hasil benih Pria yang tak Ia kenali. Alessa tahu tidak ada Pria lain yang tidur bersamanya selain Pria yang sudah membelinya dalam semalam itu. Satu malam cukup membuat dunia Alessa berantakan.
“Kamu mau mengabari keluargamu?” tanya Dokter dengan lembut.
Alessa langsung menggeleng. Keputusan Alessa untuk segera beristirahat di rumah. Dia pun keluar dari Rumah Sakit ketika hari sudah petang. Alessa juga menebus beberapa vitamin dengan uang simpanannya yang tak seberapa. Alessa memang hancur tapi Ia tak mau bayi yang dikandungnya menderita. Alessa sampai tak menyadari jika disepanjang perjalanan pulang Ia mengelus perutnya yang masih rata itu.
“Lihatlah anakmu, Mas, kenapa sih kalian jadi bebanku saja?” omel Marsella ketika Alessa baru saja tiba di rumah.
Bapak hanya duduk di depan televisi sedang menonton siaran pertandingan sepak bola. Dia bahkan tak acuh jika Alessa baru tiba. “Dikit lagi, ayo pasti bisa Arsenal!” Teriak Bapak yang sibuk meneriaki tim sepak bola kesukaannya.
“Mana uang simpananmu?” ketus Marsella seraya mengulurkan tangannya pada Alessa. “Bapakmu tidak pernah kerja, mana mungkin aku memberi makan kalian gratis, tahu diri sudah menumpang di rumahku ... masih bagus aku mau menampung kakakku dan anaknya yang tak berguna ini,” ucap Marsella.
Alessa sebenarnya punya sedikit uang simpanan dari sisa beasiswanya yang sebentar lagi akan berakhir. Alessa akan lulus tapi Ia tak punya tabungan karena bibinya ini. Alessa memberikan satu lembar uang lima puluh ribu pada bibinya. “Alessa cuman punya segini karena tadi harus membeli obat,” ucap Alessa.
“Segini saja!” bentak Marsella.
Alessa mengangguk sambil menunduk. “Iya, Bi, uang Alessa tinggal sedikit,” sahut Alessa.
Marsella mendecih tapi pergi meninggalkan Alessa. Dia menuju pintu kemudian berjalan ke luar rumah meninggalkan Alessa dengan bapaknya yang masih fokus menonton televisi itu. “Pak, Alessa mau bicara sesuatu,” ujar Alessa.
Alessa hendak mengatakan perihal kehamilannya. Alessa sedang bingung karena Ia hamil dari Pria yang menikmati satu malam bersamanya. Alessa dipaksa karena bapaknya. “Bapak tiga minggu lalu, bapak memintaku bekerja di tempat Madam Suri,” ucap Alessa.
“Yes, menang!” Teriak Bapak mengabaikan ucapan Alessa karena berseru dengan tim sepak bola yang Ia tonton itu.
“Bapak, Alessa hamil, Pak,” ucap Alessa.
Bapak segera menatap Alessa yang sejak tadi berdiri disebelahnya. Suara gol dari televisi seolah meredam usai anak perempuannya itu berucap. Bapak langsung memerdulikan ucapan Alessa. “Apa katamu?” tanya Bapak.
“Aku hamil Pak, tidak ada Pria lain yang bersamaku selain Tuan itu,” ulang Alessa.
“Kau mau menuduhku karena kehamilanmu itu!” Bentak Bapak tak diduga-duga.
Alessa menahan isak tangis yang nyaris keluar dikedua mata cokelat madunya itu. “Memang iya, Bapak menjualku para Pria kaya untuk ditiduri setelah itu aku tak pernah melakukannya dengan Pria lain.” Alessa menyahuti bentakan bapaknya itu. Alessa tak mau bapaknya menyalahkan kondisinya saat ini.
Plak!
Bapak melayangkan tangannya pada Alessa. “Bisa-bisanya kau malah menyalahkanku, kau pasti punya pacar kemudian menjadikan alasan Pria kaya yang membayarmu itu, bukan?” tuduh Bapak. Pria itu seolah lupa pada tindakannya sendiri yang memaksa anak perempuannya menjual diri untuk mendapatkan uang banyak dengan cara pintas. Dia mengabaikan akibat yang menimpa Alessa pada saat ini.
“Alessa tidak melakukannya pada siapapun,” tegas Alessa.
Pertengkaran Alessa dan kakaknya itu terdengar oleh Marsella yang baru tiba dari warung. Marsella mendengar pengakuan Alessa yang tengah hamil tapi sama seperti kakaknya Marsella ikut menghakimi Alessa. “Dasar anak tidak tahu diri!” Bentak Marsella.
“Bibi, Alessa terpaksa karena ulah Bapak juga yang menjual Alessa pada Pria itu,” tukas Alessa yang membela dirinya. Alessa rela dinodai demi bapaknya tapi dia malah disalahi. “Demi siapa juga Alessa jadi begini,” geram Alessa. Sejak lama memendam dengan sabar perasaannya tapi kehamilan yang tak direncanakan ini jadi puncak Alessa melawan Bapak dan bibinya.
“Anak ini!” bentak Marsella yang terlanjur murka. “Keluar kau dari rumahku!” usir Marsella.
Alessa terdiam. Dia tahu tak punya tempat lain untuk bernaung. Alessa kini juga tengah hamil. “Bi, aku mohon jangan usir aku,” ucap Alessa memelas.
Marsella semakin diselimuti amarah. Dia tak mau membiarkan Alessa masih dirumahnya karena takut jadi bahan gunjingan tetangga. “Kau harus pergi dari sini,” usir Marsella sembari menyeret Alessa keluar dari rumahnya. “Aku tak sudi menerima ejekan tetangga karena kau hamil anak haram yang tidak jelas asal-usulnya!” Marsella mendorong Alessa ke luar dari rumahnya. Dia dengan keji menutup rapat kembali rumahnya itu.
“Bi, tolong, Alessa tidak punya tempat tinggal lagi,” ucap Alessa sembari menggedor pintu rumah itu. Alessa diabaikan karena tidak ada tanda-tanda Marsella akan membukakan pintu sementara bapaknya malah bungkam tanpa membela anak perempuan satu-satunya ini.
Perasaan Alessa pilu seketika. Dia terpaksa keluar dari rumah. Alessa tidak tahu tempat untuk bernaung jadi dia hanya berjalan dipinggiran koridor dengan wajah pucat pasinya. “Kumohon, aku harus kuat,” ucap Alessa menghibur dirinya.
Sebuah mobil aston martin merah berhenti di pinggir jalan. Pemilik mobil itu keluar dari mobil kemudian menghampiri Alessa. “Nak, kamu mau kemana?” tanya Wanita asing. Dia tiba-tiba saja menghampiri Alessa.
Alessa menatap wanita berjas merah senada dengan mobilnya itu. Wanita paruh baya yang tampak kaya ini mengelus pundak Alessa dengan lembut. Alessa yang sedang sedih dan tak berdaya pun mengangguk.
“Aku tidak tahu harus kemana,” jawab Alessa.
“Oh malang sekali,” sahut Wanita itu berempati. “Bagaimana jika istirahat di rumah Tante?” tawar Wanita itu.
Alessa diam sejenak. Dia tak bisa menerima tawaran orang asing yang tak Ia kenal ini. Wanita itu bahkan tiba-tiba mendatanginya setelah sesaat Alessa diusir dari rumahnya. Alessa juga bimbang karena dia tak memiliki tempat untuk beristirahat dan perutnya lapar karena sejak pagi belum makan apa pun. Perut keroncongan Alessa berbunyi nyaring.
“Lihat perutmu keroncongan, ayo, Nak, kamu bisa makan di rumah Tante,” bujuk Wanita itu.
Alessa mengangguk setuju. “Maafkan aku, Tante.” Alessa menunduk karena malu.
Sang wanita tersenyum penuh arti ketika Alessa menyetujui ajakannya. Dia segera menggandeng lengan Alessa agar segera memasuki mobil mahalnya itu. “Robert, ayo kita pulang ke rumah,” suruh Wanita itu ketika sudah berada di dalam mobil pada supirnya.
“Baik, Nyonya,” sahut Pria itu.
“Kita mau kemana Tante?” tanya Alessa.
“Kita akan ke rumahku, kamu harus makan yang banyak untuk dirimu dan bayimu juga,” jawab Wanita itu.
“Bagaimana Tante tahu jika aku sedang hamil?”