Bab 2

Kasih memberontak, sekuat tenaga dia mendorong tubuh pria itu, tapi tetap saja hasilnya nihil.

"Kautahu, Kasih, semakin kamu memberontak, jiwa kelakianku semakin menjadi-jadi, semakin bergairah. Atau ... kamu sudah tidak sabar untuk memulainya, hem?" tanya pria itu dengan suara serak.

"A--aku mohon, tolong lepaskan aku," rintih wanita itu.

"Bagaimana? Melepaskan? Kamu gila, mana mungkin aku melepaskan begitu saja. Asal kamu tahu, uangku sudah melayang banyak," kata pria itu disertai kekehan halus.

"Aku janji, aku akan mengembalikan uang itu padamu, iya ... aku janji."

Pria itu tak mendengar ucapan Kasih, matanya malah tertuju pada bibir wanita itu. Rasanya tidak sabar untuk mengecupnya.

Kepala pria itu akhirnya mendekat, semakin dekat, sampai akhirnya kini bibir mereka saling bersentuhan.

Kasih mencoba untuk menggelengkan kepalanya agar tautan bibir itu terlepas, hal itu membuat pria itu menggeram kesal.

Pria itu menarik tengkuk Kasih, lalu menciumnya begitu agresif.

"Jangan--"

Pria itu tak peduli dengan berontakan Kasih, dia menyapu bibir Kasih yang setengah terbuka, mustahil jika Kasih bisa melawan serangan gencar itu. Ciuman itu cepat dan kuat, memaksa bibir Kasih menyambut serbuan lidahnya.

Pria itu tersenyum menyeringai ketika Kasih tidak lagi menolaknya, dia merasa jika Kasih juga ikut menikmatinya.

Pria itu mengangkat wajahnya, menatap Kasih dengan pandangan sayu.

"Aku tahu, bibir ini sepertinya membutuhkan ciuman, bukan begitu?"

Kasih tak menjawab, wanita itu malah membuang pandangannya ke sembarang arah. Kasih meyakinkan diri bahwa dia menolak sentuhan-sentuhan lembut dari pria itu, sayangnya dia gagal. Kasih berbohong pada dirinya sendiri. Nyatanya, wanita itu pun merasakan hal yang sama. Mereka saling merasakan gairah yang begitu membara.

"Tolong lepaskan aku," pinta Kasih.

Pria itu tertawa keras. "Hei, wajahmu sudah memerah, dan ingin yang lebih dari sekadar ciuman. Untuk apa kamu membohongi diri kamu sendiri, Kasih. Kita sudah dewasa, tidak perlu malu-malu lagi. Aku tahu kamu juga membutuhkan pelepasan, kan?"

Kasih bangkit dari ranjang itu, dia menatap pria itu dengan nyalang.

"Jangan mentang-mentang Anda orang kaya, seenaknya saja menghina orang susah seperti saya. Saya memang tidak mempunyai apa-apa, tapi jangan pernah Anda berpikir jika saya akan tertarik tidur dengan Anda. Perlu Anda ketahui, saya sudah menikah, saya telah memiliki suami, jika Anda ingin melampiaskan nafsu, silakan cari wanita lain. Permisi," ucap Kasih, wanita itu berjalan mendekat ke arah pintu.

Kasih menggeram kesal ketika kenop pintu itu tak bisa dibuka, ternyata pintu itu sudah dikunci oleh pria itu.

"Tolong bukakan pintunya, saya ingin pulang." Kasih berkata dengan suara tegas.

Bukannya mengikuti perintah Kasih, pria itu malah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, tidur terlentang sambil menatap Kasih dengan tatapan dingin.

"Yakin ingin pulang?" tanya pria itu.

"Ya," sahut Kasih singkat.

"Baiklah, kuncinya ada di atas meja, silakan pergi dari sini."

Mata Kasih mengedar, dan ucapan pria itu ternyata benar, tanpa berpikir lama Kasih mengambil kunci itu, dia cepat-cepat memasukkan kunci itu, dan tersenyum lega karena pintunya berhasil dibuka.

Namun, ketika Kasih ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja dia mendengar ucapan pria itu yang membuatnya mengurungkan niatnya.

"Kamu tidak memikirkan bagaimana nasib ibumu, Kasih?"

Kasih kembali menghampiri pria itu. "Apa maksudmu?"

"Sebelum temanmu menjualmu kepadaku, aku sudah mencari tahu tentang siapa dirimu, di mana dirimu tinggal, dan seluk-beluk keluargamu," jelas pria itu, saat ini dia sudah terduduk sambil menatap Kasih dengan senyuman menyeringai.

"Temanku tidak mungkin menjualku, dia sangat baik padaku, jadi jangan pernah fitnah dia seperti itu!" bantah Kasih tak terima.

"Dia tidak sebaik yang kamu kira, kamu pikir dengan dia selalu meminjamkan kamu uang, itu sudah kamu anggap baik? Tidak, pikiranmu terlalu polos, Kasih. Dia itu menjebakmu."

Kasih terus menggeleng, tak percaya dengan ucapan pria itu.

Kasih memutar tubuhnya, membelakangi pria itu, lalu kembali berjalan ke arah pintu.

"Aku tahu saat ini kamu sedang membutuhkan banyak uang, karena ibumu sakit, bukankah begitu? Dan juga, suami kamu yang kamu bangga-banggakan itu tidak pernah mengirimi uang. Ah, sungguh miris sekali hidupmu."

"Sebenarnya apa yang kamu mau?" tanya Kasih sambil mengepalkan tangannya.

"Mari kita bekerja sama."

Kasih mengerutkan keningnya, kemudian tertawa sinis.

"Bekerja sama? Lelucon macam apa ini, bukankah kamu orang kaya? Salah besar jika kamu mengajakku bekerja sama."

"Sangat penting, dan aku yakin kalau kerjasama ini saling menguntungkan," kata pria itu serius.

"Oh, ya. Apa itu?" tanya Kasih dengan tangan melipat di depan dada.

"Kamu butuh uang, kan?"

"Ya, semua orang membutuhkan uang," sahut Kasih cepat. "Hanya orang munafik yang bicara tidak butuh."

Pria itu mengangguk. "Sebelumnya, perkenalkan dulu, nama aku Gilang Jafran," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya di depan Kasih.

Kasih tak menerima uluran tangan itu, dia hanya melihat sebentar, setelah itu membuang pandangannya ke sembarang arah.

Gilang tersenyum sinis.

'Tak apa, sebentar lagi akan aku pastikan, kamu akan berada di bawah kungkunganku, kita lihat saja nanti,' batin pria itu.

"Langsung to the poin saja, sebenarnya apa yang kamu mau," sela Kasih. Sepertinya wanita itu tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu, apalagi jika berduaan dengan pria asing.

"Partner di atas ranjang."

Mata Kasih membulat, dia menatap Gilang dengan tatapan mematikan.

"Apa kamu bilang?!" tanya wanita itu dengan suara yang cukup nyaring.

"Ya, aku rasa telinga kamu tidak salah dengar. Dan ya, aku menawarkan kerja sama itu, gimana? Sebuah tawaran yang menarik, bukan?"

Kasih menggeleng tak percaya, kentara sekali jika wanita itu tengah menahan emosi.

"Dengar, aku memang membutuhkan uang, tapi untuk jadi jalangmu, maaf, aku tidak sudi. Permisi," ujar Kasih dengan sengit.

Selepas mengatakan hal seperti itu, Kasih membalikkan badannya, lalu melangkah cepat menuju pintu.

Sungguh menyesal karena sudah berlama-lama berada di tempat seperti ini.

"Ingat! Kamu sangat membutuhkan uang, ibumu yang saat ini berada di rumah sakit, dan pihak rumah sakit tidak ingin menanganinya karena kamu belum membayarnya. Oh, Tuhan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang ibumu derita."

Kasih kembali menghentikan langkahnya, tiba-tiba saja wajah kesakitan ibunya terbayang jelas di kepalanya.

Tanpa sadar Kasih mengepalkan tangannya. Tidak! Dia tidak mau melihat ibunya menderita lagi, tapi di sisi lain juga dia tidak mau dengan tawaran yang Gilang berikan. Perlu digaris bawahi, Kasih sudah mempunyai suami, tidak mungkin jika dia berkhianat.

Mereka berdua sudah saling berjanji, tidak akan membuka pintu untuk orang ketiga.

"Aku hanya memberikan satu kesempatan padamu, Kasih. Sekali lagi aku bertanya, apakah kamu mau melakukan kerja sama ini? Kamu mendapatkan uangku, dan aku mendapatkan tubuhmu. Apa pun yang kamu inginkan selalu terpenuhi. Kamu ingin membeli rumah, mobil, membahagiakan ibumu, semuanya bisa. Semua keputusan ada di tanganmu, jika kamu memilih untuk pergi, maka kesempatan itu sudah tidak ada."

Ucapan Gilang sungguh membuat Kasih bimbang, selama ini dia memang berniat ingin membahagiakan ibunya, dengan cara membelikan rumah, tapi apalah daya. Semua hanya angan belaka.

Dan ketika mendapat tawaran seperti itu, apakah Kasih yakin akan melepaskannya begitu saja?

"Berapa?" tanya wanita itu lirih.

Gilang tersenyum menyeringai. "Apa?"

"Kerja samanya berapa lama?"

"Tunggu! Apakah ini sebuah persetujuan?"

"Ya, bisa dibilang begitu. Aku terima tawaran itu."

"Kamu yakin dengan jawabanmu? Jika sudah masuk ke dalam genggamanku, sulit sekali untuk lepas. Sekali lagi aku bertanya, apakah kamu yakin?"

Kasih tahu, jika ucapan Gilang sebuah ancaman, tapi sialnya kepalanya mengangguk begitu saja tanpa berpikir panjang.

"Baiklah, aku akan membuatkan surat perjanjian di antara kita, takut kalau suatu saat nanti kamu akan berubah pikiran, lebih tepatnya tidak konsisten dengan kerjasama ini," ucap Gilang sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Aku rasa tidak perlu."

"No! Ini sangat perlu. Kita tidak tahu masalah apa yang akan terjadi ke depannya, bukan?"

"Aku tanya, kerja sama ini berlangsung berapa hari?" tanya Kasih mengalihkan pembicaraan.

"Hari? Apakah aku tidak salah dengar? Dengar, Kasih. Paling cepat 6 bulan, paham?"

"Hah, 6 bulan? Kamu gila, ya?!" tanya Kasih dengan mata terbelalak.

Bab 3

Kasih membaca kata demi kata itu dengan seksama. Sesekali dahinya mengernyit ketika ada yang mengganjal dalam pikirannya.

Menurutnya, Gilang membuat surat perjanjian itu seenak jidat, hanya menguntungkan dirinya sendiri saja, bukan kedua belah pihak.

"Ini serius perjanjiannya seperti ini?" tanya Kasih dengan kedua alis bertaut.

"Ya, ada yang salah?" tanya pria itu.

"Untuk poin pertama. Tidak boleh mencampuri urusan pribadi. Oke, itu masih bisa diterima. Kedua, pihak kedua harus menuruti semua keinginan pihak pertama. Ini maksudnya pihak pertama siapa, dan pihak kedua siapa?"

Gilang mendengkus pelan. Pria itu menunjuk surat perjanjian itu dari atas, menyuruh Kasih agar membacanya dari atas.

"Makanya, kalau baca itu mulai dari atas, jangan langsung lihat nomor," decak Gilang.

Kasih meringis pelan. "Oh, sorry," kata wanita itu pelan.

Sesuai perintah Gilang, Kasih pun membaca surat perjanjian itu dari awal. Wanita itu pun manggut-manggut ketika sudah tahu apa maksud isi dari perjanjian itu.

"Aku keberatan," ungkap Kasih seraya menaruh kertas itu di atas meja.

Gilang mengerutkan keningnya. "Kenapa?"

"Semua perjanjian itu sangat menguntungkan bagimu, dan memberatkan bagiku. Ya, aku memang membutuhkan banyak uang, tapi di sini sama saja kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu memperalat aku," desis Kasih.

Gilang tersenyum samar. "Oke, bagian mana yang memberatkan untukmu? Kamu bisa saja menambahkan atau mengurangi, ini hanya pendapatku saja, toh kamu juga berhak atas perjanjian itu. Silakan," ujar Gilang, pria itu kembali menyodorkan surat itu beserta pulpennya. "Kamu bebas menulis apa pun, selagi itu menguntungkan untuk kita berdua."

Kasih memijat kepalanya dengan pelan, jelas saja dia ragu dengan perjanjian itu.

"Boleh kasih aku waktu untuk berpikir?" tawar Kasih.

Gilang tersenyum masam, membuat Kasih berdecak pelan.

"Apa lagi yang kamu pikirkan, bukankah kamu sangat membutuhkan uang? Hei, ibu kamu sedang sekarat di rumah sakit," tandas pria itu.

Kasih mengepalkan tangannya, jelas saja dia tidak terima karena Gilang mengatakan jika ibunya sedang 'sekarat'.

"Tutup mulutmu, ibuku masih hidup!" pekik wanita itu.

Gilang mengedikkan bahunya acuh.

"Kenyataannya memang seperti itu."

Kasih menggebrak meja itu dengan keras, dia berdiri dari duduknya, matanya menatap nyalang.

"Sepertinya aku telah salah mengiyakan permintaan kamu tentang perjanjian konyol ini. Jadi, selagi belum terlalu jauh. Lebih baik aku urungkan saja niatku, kamu bisa mencari wanita lain, atau kalau tidak dengan Diana saja, lagi pula dia sudah membawa uangmu, kan? Kalau begitu aku permisi."

Selepas berkata seperti itu, Kasih melangkahkan kakinya menuju keluar, tanpa menunggu persetujuan dari Gilang. Bahkan beberapa kali pria itu memanggil, Kasih mengacuhkannya.

"Hei, tunggu dulu."

Tiba-tiba saja Gilang sudah berada di hadapan Kasih, membuat wanita itu mengerutkan keningnya.

"Apa lagi?" tanya wanita itu ketus.

"Oke, aku tidak akan memaksamu, aku ngerti kalau kamu sedang membutuhkan waktu. Bawa surat ini, siapa tahu suatu saat kamu butuh, pintu hatiku selalu terbuka lebar jika kamu membutuhkan bantuanku."

Kasih menatap surat perjanjian itu dengan ragu. Karena terlalu lama mendapat respon dari Kasih, Gilang pun langsung mengambil tangan Kasih, lalu menaruh surat itu tepat di tangan wanita itu.

"Aku selalu menunggu," bisik pria itu tepat di telinga Kasih, membuat bulu kuduk Kasih seketika merinding.

Pria itu pun meninggalkan Kasih seorang diri. Kasih sendiri tak menyadari jika saat ini dirinya berdiri dengan linglung.

***

"Tega kamu, Di. Aku ini teman kamu loh, kenapa kamu jual aku ke orang asing?" tanya Kasih dengan emosi.

Setelah kejadian pertemuan antara Kasih dan Gilang, wanita itu memutuskan untuk menemui Diana.

Kasih harus memastikan apakah yang pria ucapkan benar atau tidak. Dia sangat berharap jika ucapan pria itu hanya bualan saja. Nyatanya, Kasih harus menelan kekecewaan ketika melihat Diana diam saja usai dia bertanya tentang hal itu.

Diana malah tersenyum sinis, menatap Kasih dengan muak.

"Nggak usah munafik gitulah, Kasih. Aku tahu kalau kamu itu butuh uang, dan juga pastinya butuh belaian juga, kan? Harusnya kamu berterima kasih sama aku karena aku sudah membantumu. Langsung mendapat dua keuntungan sekaligus."

Kasih tak bisa lagi untuk menahan kekesalannya pada wanita itu.

"Kamu benar-benar teman yang jahat. Sekarang uang itu mana, kamu harus kembalikan uang itu pada pemiliknya, karena aku menolak."

Diana tertawa ketika mendengarnya.

"Mengembalikan? Yang benar saja. Dengar, Kasih, kamu itu sama sekali belum bayar utang ke aku. Jadi, anggap saja uang itu imbalannya."

Mulut Kasih menganga, dia tidak salah dengar, kan? Benarkah yang saat ini ada di hadapannya adalah temannya? Kenapa sifatnya sangat berbeda sekali dari biasanya?

"Diana, kamu ...."

Kasih tak melanjutkan ucapannya, ketika melihat Diana menatapnya dengan bengis.

"Kenapa? Aku itu muak sama kamu, Kasih. Jujur, ya, nyesal banget aku berteman sama kamu, udah hidup pas-pasan, tukang ngutang lagi. Iya kalau langsung dibayar, ini selalu ngaret banget, selalu banyak alasan kalau ditagih. Biar seperti itu kamu masih ingin pinjam uang lagi? Gila nggak tuh."

"Diana, aku pikir kamu ikhlas membantuku, tapi ternyata--"

"Kalau kamu ingin aku mengembalikan uang itu, sekarang bayar dulu utangmu, totalnya 15 juta, aku maunya sekarang."

Kasih menundukkan kepalanya. Mustahil jika dia akan memberikan uang pada Diana sekarang, sementara uang yang saat ini dia pegang hanya sekitar 100 ribu.

'Apa yang harus aku lakukan,' batin Kasih.

"Nggak bisa bayar, kan? Ya udah deh, nggak usah sok jual mahal buat nyuruh kembalikan uang itu. Tinggal kamu ikutin aja saran dari laki-laki itu," cibir Diana.

"Aku udah punya suami, Diana. Itu sama saja aku berkhianat," sela wanita itu. Kasih berusaha berbicara dengan tenang, padahal kentara sekali jika saat ini dia tengah menahan emosi.

"Jangan terlalu berpikir positif pada suami kamu, Kasih. Coba kamu pikir, akhir-akhir ini suami kamu susah dihubungi, kan? Setiap kamu minta uang juga nggak pernah ditanggapi. Jika orang lain, pasti mereka akan berpikir jika suami kamu pasti selingkuh di sana. Iya kalau hanya sekadar jajan, kalau seandainya dia punya istri baru di sana bagaimana? Kamu terlalu bodoh untuk ditipu, Kasih."

Kali ini Kasih tak bisa lagi untuk membendung emosinya, dia menatap Diana dengan sorot mata tajam.

"Tidak usah mencampuri urusan rumah tanggaku, Diana! Masalahnya di sini hanya utang, nggak usah melebar ke mana-mana. Dan untuk suami aku, tahu apa kamu tentang kehidupan kami, hah?!"

Diana mengedikkan bahunya, wanita itu berdiri dari duduknya.

"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini, urusan kita sudah selesai. Aku menganggap bayaran dari lelaki itu sebagai pelunasan utangmu, silakan pergi," usir wanita itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED