Apartemen, 16 Februari 2019
Hai, namaku Vianni Gracella, kalian boleh memanggilku Vianni dan ini adalah pertama kalinya aku menulis sebuah diary. Sangat aneh untukku menulis di diary ini karena aku benar-benar bingung harus menuliskan apa, aku tidak mengingat apapun. Hal terakhir yang aku ingat adalah tadi pagi aku tersadar di sebuah kamar rumah sakit dengan seseorang yang tidak aku kenali menunggu di sampingku.
Setelah itu aku hanya berbicara dengan dokter yang katanya menanganiku selama aku terbaring di rumah sakit dan yang membuat aku syok adalah aku sudah tertidur di sana selama dua hari. Dokter itu menanyakan kepadaku beberapa hal dan yang bisa aku jawab hanyalah tidak tahu karena memang aku tidak mengingat apapun yang terjadi kepadaku. Bahkan ketika mereka menanyakan tentang keluargaku, aku sendiri juga tidak mengingatnya.
Aku hanya ingat namaku dan sebuah kejadian buruk dimana seorang laki-laki berusaha menyiksaku, aku bersumpah itu adalah kejadian yang ingin sekali aku lupakan namun nyatanya kejadian itu melekat di ingatanku.
Setelah menanyakan beberapa pertanyaan, dokter itu mendiagnosa kalau aku menderita Amnesia Anterograde, amnesia yang membuat penderitanya tidak bisa mengingat kejadian yang baru. Penyakit ini mengakibatkan penderitanya akan melupakan kejadian itu setelah dia terbangun dari tidur dan itulah yang mungkin terjadi padaku yang tidak ingat kenapa aku bisa berakhir di rumah sakit itu. Aku mungkin mengidap penyakit itu setelah kenangan menyakitkan yang melekat di otakku bukan karena kejadian baru-baru ini, setidaknya itu yang dikatakan dokter.
Aku mulai menyadari kalau laki-laki yang menungguku sampai aku sadar juga mendengarkan semua perkataan dokter tentang penyakitku, menurut dokter dia adalah waliku selama beberapa hari aku tinggal di rumah sakit. Nyatanya laki-laki ini baru mengenaliku saat dia membawaku ke rumah sakit ini yang berarti dia bukan keluargaku dan dia juga tidak bisa menjelaskan asal-usulku.
Sejujurnya aku tertarik dengan laki-laki ini saat pertama kali dia menanyakan keadaanku ketika aku tersadar dan mulai panik memanggil dokter. Saat berada di rumah sakit, dia selalu memakai masker jadi yang ditangkap oleh mataku adalah matanya yang teduh dan menyimpan kekhawatiran apalagi setelah dia mengetahui penyakitku. Hal yang membuat aku bingung adalah dia memaksaku untuk tinggal di apartemennya sampai aku sembuh dari penyakit ini atau sampai aku menemukan keluargaku padahal aku adalah orang asing untuknya.
Namanya Niscala Ardhi Nata, dia memintaku untuk memanggilnya dengan nama Niscala saja dan ketika memasuki apartemen ini walau dia tidak menceritakan apa-apa kepadaku tapi aku mengerti dari semua piala penghargaan itu, dia adalah seorang artis terkenal. Aku semakin deg-degan, apakah tidak menimbulkan masalah kalau aku tinggal di rumahnya? Aku harus terbiasa menjaga kelakuanku dan sebisa mungkin tidak memunculkan wajahku ke tetangga dekat rumahnya.
Oh iya, Niscala juga yang memberikan aku diary ini karena menurutnya aku bisa menuliskan segala kejadian hari ini di diary ini agar besok ketika aku terbangun aku masih bisa membaca semua yang aku lewati kemarin dan mulai mengingatnya. Hanya saja saat ini menuliskan segala hal tentang Niscala adalah hal yang paling penting buatku, aku tidak mau melupakan seseorang yang sudah berjasa menyelamatkan kehidupanku.
Niscala, sikapnya sangat lembut tapi juga tegas, tubuhnya sangat proporsional mungkin itulah yang menjadikan dia seorang artis. Niscala juga mempunyai lesung pipi yang sangat manis, aku mungkin tidak mengingat kalau aku mungkin pernah bertemu dengan orang lain yang punya lesung pipi yang manis seperti dia tapi karena saat ini aku hanya bertemu dia maka dialah seseorang berlesung pipi yang paling tampan menurutku.
Aku tidak tau harus sampai kapan aku mengidap penyakit seperti ini, apakah aku akan sembuh atau harus terus hidup seperti ini? Hanya saja jika aku diijinkan mengingat satu hal saja maka aku ingin mengingat tentang segala hal tentang Niscala Ardhi Nata. Aku berharap aku tidak memberikan masalah padanya sampai aku bertemu dengan keluargaku atau orang yang mengenalku.
***
Suara bunyi bel mengagetkan Vianni, kegiatan membersihkan rumahnya terhenti dan dia langsung berlari ke samping Niscala yang tengah duduk santai menonton TV. Niscala memandang Vianni heran, “Ada apa Vianni, kok pintunya malah nggak dibuka?” Vianni malah memandang wajah Niscala dengan penuh kekhawatiran dan sepertinya Niscala mengerti perasaan Vianni.
“Nggak usah takut Vianni, orang yang datang ke rumahku adalah orang-orang yang sangat akrab denganku jadi sudah pasti mereka adalah orang-orang yang baik. Nanti aku akan mengenalkan kamu pada mereka dan mudah-mudahan kalian bisa menjadi akrab supaya mereka juga dapat membantumu.” Niscala kemudian membuka pintu itu dengan Vianni yang masih setia bersembunyi di belakangnya.
“Lama sekali sih bukan pintunya, jarak dari ruang menontonmu ke pintu kan nggak terlalu jauh!” Ternyata seorang perempuan yang sedari tadi mengetuk pintu apartemen Niscala, dia masuk sambil terus mengomel. Hal itu membuat Niscala berbalik ke Vianni, dia pasti mengerti kalau Vianni semakin ketakutan karena ketidakramahan perempuan itu.
“Pelankan suaramu Jasmine, kau sangat menakutkan kalau marah-marah seperti itu.” Niscala kembali membalikkan wajahnya ke Vianni membuat perempuan itu juga memperhatikannya.
Perempuan itu menatap Vianni intens, “Dia siapa, Niscala?!”
“Ehm … Jasmine, kenalin ini Vianni Gracella, panggil aja Vianni, dia bakalan tinggal di apartemen untuk sementara ini. Vianni, kenalin ini manajer aku sekaligus sahabat dekat aku namanya Jasmine Patricia, panggil saja Jasmine. Aku harap kalian bisa ngobrol banyak dan bisa saling membantu.” Mata Jasmine justru membulat karena kaget.
“Ini kan cewek itu?! Kamu nggak gila kan Niscala sampai membawa cewek ini ke sini!” Niscala berusaha mengkode Jasmine agar tetap diam, ini bukan saatnya berbicara jelek tentang orang lain saat dia masih ada di sini, kan?
“Vianni, bisa tinggalin kita berdua sebentar, ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan Jasmine.” Vianni mengangguk dan meninggalkan mereka, Niscala tau kalau Vianni bukan orang bodoh, dia hanya kehilangan ingatannya bukan perasaannya. Sudah pasti hatinya merasa sakit dengan perkataan dan penolakan kasar dari Jasmine tadi.
Niscala langsung saja menumpahkan kekesalannya kepada Jasmine, “Kamu gila yah, Jasmine?! Orang yang kamu bicarakan dengan kasar itu masih ada di dekat kamu bahkan dia mendengarkan semua perkataan kasar kamu. Kamu nggak bisa apa menghargai perasaan orang, dia itu lagi sakit, Jasmine!”
“Kamu yang gila Niscala, ngapain juga sih kamu pakai bawa perempuan itu ke sini?! Emangnya dia nggak punya teman atau keluarga apa? Kalau sampai media tau kamu nyembunyiin perempuan di apartemen kamu, agensi nggak akan memperpanjang kontrak kamu dan fans kamu akan menyerang kamu habis-habisan tau nggak!” Jasmine juga tak kalah marahnya.
“Kamu nggak tau Jasmine, dia nggak ingat keluarga dan rumahnya sendiri karena dia menderita amnesia. Lagipula aku juga bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama dia kemarin.” Niscala memasang wajah sendu, dia juga takut kalau sampai Vianni tertangkap oleh media tapi dia tidak mungkin meninggalkan Vianni di rumah sakit jiwa sesuai anjuran dokter itu.
Vianni sudah menderita dengan penyakit yang dialaminya, dia tidak bisa mengingat apapun saat dia terbangun. Masa harus ditambah dengan dia berkumpul dengan orang-orang yang kesehatan mentalnya terganggu, itu malah akan menambah parah penyakit Vianni.
“Bertanggung jawab apa sih Niscala, dia masih hidup sampai sekarang itu sudah menjadi suatu bentuk tanggung jawab dari kamu buat dia. Sekarang aku bakalan cariin keluarga dia, dia boleh tinggal di apartemen ini sampai menemukan keluarganya tapi jangan sampai ada media atau tetangga kamu yang ngelihat dia keluar dari apartemen kamu! Kalau sampai dia ditemukan oleh media atau kalau sampai dia menghambat karir kamu, aku nggak akan segan-segan untuk melenyapkan dia dari kehidupan kamu!” Jasmine tidak main-main dengan perkataannya. Niscala tau itu maka dari itulah dia mengangkat Jasmine jadi manajernya karena dia sangat tegas dan bersungguh-sungguh.
Sekarang yang harus dipikirkan olehnya adalah bagaimana caranya menyembunyikan Vianni dari khalayak ramai sampai Vianni menemukan keluarganya.
***
Perdebatan yang sengit antara Niscala dan Jasmine jujur membuat Niscala lelah, dia sebenarnya tidak bisa melawan Jasmine seperti yang selama ini dia lakukan tapi ini semua demi kebaikan Vianni. Vianni adalah perempuan yang baik, setidaknya itu yang ada di mata Niscala saat pertama kali menemukannya. Meninggalkan dia sendirian dengan semua penyakit itu membuat Niscala tidak tega.
Niscala melewati kamar Vianni dan mengintip, sepertinya Vianni habis menuliskan sesuatu di diary yang dia berikan. Pandangan Vianni kosong dan itu membuat Niscala merasa sedih, “Apa yang kamu lamunkan?” Vianni sedikit kaget dengan kemunculan Niscala di kamarnya.
Vianni terdiam sebentar, “Tidak ada apa-apa.” Singkat dan jelas tapi tidak dapat menenangkan hati Niscala.
“Kalau ini tentang masalah yang tadi, aku rasa kamu tidak perlu khawatir dengan Jasmine. Dia memang sangat tegas dan cerewet tapi setelah lama mengenalnya kamu akan tau kalau Jasmine adalah seseorang yang sangat lembut dan pengertian. Aku yakin besok-besok dia akan mulai bersikap baik kepadamu dan mengajakmu untuk mengobrol.” Mereka berdua kembali terdiam.
“Niscala …” Wajah Niscala terangkat memandang Vianni serius.
“Apa nanti aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu? Jasmine benar, agensi dan fansmu akan marah kalau tahu kamu selama ini menyembunyikanku.” Niscala menarik tangan Vianni pelan dan mengelus punggung tangannya untuk menenangkannya.
“Itu tidak akan terjadi selama kau berada disampingku dan mau mendengarkan setiap ucapanku.” Vianni mengerti, dia tidak akan pernah menentang Niscala. Apa arti hidupnya tanpa Niscala yang menolongnya, sudah seharusnya dia patuh dengan perkataan Niscala bukan?
Niscala memperhatikan diary yang terbuka lebar di meja Vianni, “Apa yang pertama kali kau tulis di buku ini, apa ada tentang aku?” Vianni tertunduk malu.
“Sudah seharusnya kan kamu ada disetiap halaman diary yang aku tulis ini karena aku tahu kalau aku tidak boleh sedikit pun melupakanmu.” Perkataan jujur Vianni membuat Niscala tersenyum.
“Tulislah semua yang kau pikirkan tentang aku, semua yang menurutmu penting bahkan seluruh kehidupan yang kau jalani selanjutnya. Aku tidak akan membacanya sampai kau sembuh nanti, aku berharap saat nanti aku membacanya aku tidak terlalu banyak menemukan tulisan-tulisan yang memperlihatkan kekecewaan atau kesedihanmu tentang aku. Aku mohon jangan terlalu banyak sedih atau kecewa karena aku, aku tidak mau diarymu penuh dengan kesedihan apalagi tentang aku.” Niscala kembali tersenyum dan lagi-lagi Vianni terpesona akan senyuman itu, lelaki berlesung pipi yang akan selalu dia coba untuk ingat lagi dan lagi.
Niscala bangun cepat pagi itu, dia ada syuting pagi ini dan mungkin akan pulang malam, itulah kenapa dia sibuk membuat memo sepagi itu untuk mengingatkan gadis manis yang masih terlelap di kamarnya. Tak lupa dia juga membuat sarapan untuk mereka berdua yang walaupun sederhana setidaknya itulah sarapan terbaik yang bisa di buat. Setelah semuanya selesai, dia bermaksud ke kamar Vianni untuk membangunkannya tapi nyatanya saat dia memasuki kamar itu dia hanya terus memandang Vianni yang tertidur lelap, tidak tega membangunkannya.
Badan Vianni bergerak dan dia mulai membuka matanya malah memandang bingung ke Niscala, “Kamu siapa?” Pertanyaan itu awalnya mengagetkan Niscala tapi akhirnya Niscala mengerti.
Dia begerak mengambil buku harian Vianni, “Jawaban tentang siapa aku ada di buku diary ini, kamu baca saja. Aku tinggal mandi dulu, nanti kalau kamu sudah ingat langsung saja ke dapur, aku udah siapin sarapan.” Niscala mengelus kepala Vianni yang masih menatapnya bingung.
Setelah membaca semua tulisan yang dia buat sendiri ingatan Vianni kembali, dia sedikit merasa bersalah karena telah melupakan Niscala seperti itu. Dia langsung ke meja makan seperti yang disuruhkan Niscala, sudah tersedia sarapan bikinan Niscala. Vianni mengambil sedikit makanan itu untuk dirasanya dan ternyata makanan itu agak sedikit asin bagi Vianni.
“Bagaimana? Maafkan aku kalau rasanya tidak enak.” Niscala ternyata sudah berdiri dibelakangnya memakai pakaian casual yang menanbah ketampanannya, setidaknya begitu di mata Vianni.
Niscala menggaruk kepalanya malu, dia tersenyum yang memperlihatkan lesung pipinya membuat Vianni tambah gemas, “Kamu mau pergi?” Vianni tidak mau membahas makanan itu, Niscala sudah berusaha membuatnya dan dia harus menghargainya.
“Ah iya, aku ada kerjaan dan mungkin sampai larut malam jadi kamu tidak usah menungguku langsung tidur saja kalau sudah ngantuk.” Vianni mengangguk mengerti kemudian lanjut memakan sarapan itu. Niscala juga ikut makan bersamanya dan sesekali tertawa kikuk ke Vianni karena sadar makanan yang dia buat keasinan.
Suara bel membuat acara makan Vianni dan Niscala terhenti, Niscala menuju pintu, dia yakin itu Jasmine yang menjemputnya. Anehnya Vianni masih terus bersembunyi di belakangnya padahal seingatnya dia sudah memberitahukan Vianni untuk tidak takut dengan tamu-tamunya, “Kamu udah siap-siap kan, kita harus berangkat sekarang sebelum terlambat.” Jasmine masuk dengan memperlihatkan wajah masamnya, sangat aneh sepagi itu wajahnya sudah masam.
“Iya aku sudah siap, kita bicarakan schedulenya di mobil saja.” Wajah masam Jasmine menangkap Vianni yang berada di belakang Niscala terus menarik kaos Niscala.
“Dia nggak bakalan ikut dengan kita, kan?” Niscala berbalik ke Vianni, merasa heran dengan tatapan bingung Vianni ketika melihat Jasmine. Seharusnya kalau Vianni sudah mengingat Niscala maka dia juga ingat dengan Jasmine atau jangan-jangan dia tidak menuliskan tentang Jasmine di buku diary nya?
“Kamu duluan saja ke mobil, masih ada yang mau aku ingatkan ke Vianni.” Wajah Jasmine semakin masam, dia sangat benci menunggu.
Sepeninggal Jasmine, Niscala langsung bicara serius ke Vianni, “Vianni, dia Jasmine, manajer sekaligus sahabat dekatku, dia sangat baik dan akan membantumu apabila ada kesulitan. Jadi setelah ini kau harus mencatat namanya dan mulai mengingat tentang dia, okey.”
“Niscala …” Vianni kembali menarik tangan Niscala membuat Niscala harus menatapnya lagi.
“Apa dia akan baik padaku? Apa nanti dia tidak akan bepikir kalau aku akan menghambat karirmu?” Pertanyaan yang sama kembali dilontarkan Vianni seolah kemarin dia tidak mendapatkan jawaban apapun.
“Dia akan baik padamu dan ingat juga hal ini kalau kamu tidak pernah menganggu karirku. Bersenang-senanglah di rumah dan hubungi aku kalau kamu ada dalam kesulitan.” Niscala kembali mengelus kepala Vianni kamudian meninggalkannya.
“Apakah harus aku tulis tentang dia dan semua kejadian ini?” pikir Vianni setelah melepas Niscala pergi.
***
Jam menunjukkan tepat jam 12 siang, Vianni sudah membersihkan rumah dan mandi, dia melangkah ke depan kulkas dan membaca semua memo yang dipajang Niscala. Vianni tersenyum membaca semua memo itu, Niscala sangat perfeksionis, dia memasang memo alamat dan nomot telepen tempat makanan yang biasa dia pesan, cara untuk menyalakan kompor listrik dan ovennya bahkan alamat supermarket dan perlengkapan apa saja yang harus Vianni pakai dan bawa ke supermarket itu. Vianni harus memakluminya karena Niscala adalah public figure dan Vianni keluar dari apartemenennya. Kalau Vianni tidak memakai semua yang disuruhkan Niscala maka akan menimbulkan masalah.
Vianni mengambil memo yang selalu berada di dekat kulkas dan menuliskan seuatu kemudian menempelnya, “Kamu memang pintar dan perfeksionis tapi satu kekurangan kamu yaitu tidak bisa masak dan itu sangat lucu untukku.” Senyum manis Vianni kembali terlihat, dia sangat tertarik dengan sifat laki-laki penolongnya itu.
Untuk mengusir kebosanan, dia menyalakan TV dan mencari acara TV yang pas untuknya sampai dia berhenti di satu siaran TV yang menampilkan wajah seseorang yang sangat dikenalinya, “Kembali beredar foto dan video kebersamaan dari dua artis terkenal yang namanya tengah naik daun, Niscala Adhi Nata dan Puspamaya Selma Kirana. Foto dan video keduanya memperlihatkan mereka berdua yang tengah jalan disebuah pusat perbelanjaan dan terlihat mereka tengah memilih baju disebuah toko.”
Vianni semakin intens menonton berita gosip itu, “Setelah heboh di dunia maya akhirnya mereka berdua memberikan klarifikasi bahwa foto dan video itu memang benar mereka berdua tapi mereka membantah kalau mereka tengah menjalin hubungan. Apakah benar bahwa mereka selama ini telah menjalani hubungan diam-diam atau mereka melakukan hal ini hanya untuk menaikkan film mereka yang sementara digarap? Kita tunggu saja terus berita update terbaru dari dua artis yang sedang hot ini.” Gambar TV itu menunjukkan Niscala yang tengah berdiri dihadapan kamera dengan menggandeng seorang waita cantik disebelahnya.
Entah kenapa wajah ceria Vianni langsung berubah muram, “Dia … sangat cantik.” Begitu saja kata-kata yang keluar dari mulut Vianni.
***
Apartemen, 23 Februari 2019
Niscala tidak pandai memasak! Hal itu yang sangat ingin aku tulis pertama kali di diary ini. Akhirnya aku bisa menemukan kelemahan Niscala walau sebenarnya hampir putus asa karena aku pikir dia tidak akan mungkin punya kelemahan. Dia pintar dan sangat perfeksionis jadi sulit menemukan kelemahannya dan membuat aku yakin kalau dia sebenarnya tidak membutuhkanku, aku jadi terlihat tidak berguna. Ternyata dia tidak pandai memasak dan itu membuatku senang sekaligus merasa sangat lucu.
Setelah melihat pemberitaan tadi pagi, aku jadi sadar kalau tidak mungkin orang seperfect Niscala tidak mempunyai seorang kekasih. Seorang wanita cantik bernama Puspamaya, dia memliki wajah dan sepertinya kepribadian yang menakjubkan, dia seorang artis terkenal dan pantas bersanding dengan Niscala. Aku akhirnya semakin takut untuk tinggal lama di rumah ini, aku takut kalau Puspamaya tahu dan akan terjadi salah paham. Apalagi tadi aku juga bertemu dengan sahabat sekaligus manajer Niscala, Jasmine, dia kelihatannya tidak suka dengan keberadaanku di sini. Dia pasti takut kalau aku akan mengancam karir Niscala dan merusaknya karena keberadaanku yang akhirnya diketahui orang-orang.
Tuhan, ijinkan aku ingat dengan keluargaku dan bawa aku cepat keluar dari apartemen ini. Jangan pertemukan aku dengan orang jahat yang membuat Niscala masuk dalam masalah dan membuat dia khawatir denganku. Aku tidak mau orang yang menyelamatkanku harus bertanggung jawab bahkan bertaruh nyawa hanya untuk melindungiku. Buat aku berguna untuk Niscala bukan hanya jadi bebannya saja Tuhan.
***
Vianni menyelesaikan acara berkutatnya dengan buku diarynya, dia mersa haus dan berjalan ke dapur, “Hei, siapa kamu?!” Terdengar suara dari belakang Vianni.
“Prangg!!!” Gelas yang dipegang Vianni jatuh dan pecah. Dia tadi menulis sambil mendengarkan lagu jadi tidak mendengar kalau ada orang yang masuk ke apartemen itu dan itu bukan Niscala melainkan seorang pemuda tinggi dan tampan yang menatapnya tajam.
“Aku tanya sekali lagi, kamu siapa?!” tanya orang itu lagi.
Beberapa jam berlalu setelah kejadian itu, Niscala terburu-buru memasuki apartemennya, “Kak Conan!” Dia langsung mencari kakaknya itu setelah mendapat pesan kalau kakaknya sedang ada di apartemennya.
“Dia sedang tidur di kamarnya, aku yakin bukan aku yang kamu cari tapi gadis itu.” Conan berjalan dari kamar Niscala.
“Dia tidak apa-apa, kan? Tidak takut atau menangis?” tanya Niscala khawatir.
“Awalnya dia takut sampai memecahkan gelas tapi setelahnya dia bersikap biasa saja. Apa kau tidak mersa kalau kau berhutang penjelasan kepadaku, Niscala?!” Niscala menghembuskan napas lega.
Dia berjalan ke kulkas untuk mengambil air dingin dan menyadari ada sebuah memo bertambah dengan tulisan yang cantik, “Jangan ragu untuk membangunkanku buat memasak apalagi untuk sarapan pagi.” Sekiranya itu tulisan yang Vianni buat di memonya.
“Aku akan menjelaskan padamu besok pagi karena keajaiban terjadi setelah sehari terlewati.” Niscala memberikan senyum jahil ke kakaknya.
Alarm HP Vianni berbunyi, alarm yang dia pasang sebagai pengingat agar dirinya bisa bangun pagi untuk mempersiapkan sarapan Niscala dan juga sebagai pengingat agar dia membaca diary-nya lebih dahulu sebelum memulai aktivitasnya. Setelah selesai membaca diary-nya, Vianni sudah siap dengan segala aktivitas dan rencananya hari ini termasuk dia yang tidak sabar untuk memasakkan sarapan buat Niscala.
“Kamu sudah bangun?” Suara itu hampir membuat Vianni memecahkan piring saking kagetnya.
Vianni memandang bingung ke lelaki itu begitu pun juga dengan lelaki itu yang tidak kalah bingungnya, “Wow tenang, kita kan sudah bertemu semalam jadi seharusnya kamu sudah terbiasa dengan keberadaanku di sini.” Vianni semakin bingung, kalau mereka sudah bertemu semalam lalu kenapa nama lelaki ini sepertinya tidak ada di buku harian Vianni?
“Niscala …” Itu adalah pertanyaan sekaligus panggilan pertolongan dari Vianni karena tidak melihat wujud Niscala di apartemen itu.
“Niscala keluar lari pagi, sebentar lagi dia pasti kembali.” Laki-laki itu menatap intens Vianni yang masih ragu dengannya.
Dia mulai sadar kalau ada yang tidak beres dengan Vianni, “Okey aku tinggal kamu dulu, lanjutin aja kegiatannya. Aku ada di ruang nonton nungguin Niscala, kalau ada apa-apa jangan segan-segan minta tolong sama aku.” Kesungguhan di mata laki-laki itu membuat Vianni sedikit lebih rileks, dia menganggukkan kepalanya.
Sekitar satu jam Niscala selesai dari aktivitas lari paginya, dia mendapati kakaknya yang tengah bersantai di ruang menonton, “Kak Conan, kau sudah memasak? Aku sudah lapar sekali.” Kakaknya menggeleng.
“Bukan aku yang memasak tapi putri pelupamu itu,” jawab Conan agak kesal.
“Ah benarkah?! Jadi Vianni sudah bangun?” Niscala ingin buru-buru mengecek Vianni.
“Eh tunggu dulu! Berikan aku penjelasan selengkap-lengkapnya tentang dia! Aku sangat bingung dengan tingkahya pagi ini, dia seperti tidak pernah melihatku padahal kita sudah berkenalan semalam.” Niscala tersenyum mendengar penuturan kakaknya.
“Jadi kau sudah merasakan keajaiban itu pagi ini? Kalau dia tidak mengingatmu berarti dia belum sempat menuliskan namamu di diary-nya atau dia sudah menulis diary terlebih dahulu lalu kau datang. Menurut dokter, Vianni mengidap Amnesia Retrogade di mana dia tidak dapat mengingat kejadian yang baru. Uniknya, dia akan melupakan kejadian itu sehari setelah semuanya berlalu. Kejadian masa lalu yang dia ingat hanya namanya, dia lupa dengan keluarganya dan hal penting lainnya. Itulah kenapa aku membawanya ke sini karena aku merasa kasihan dan merasa bertanggung jawab padanya.” Conan sangat prihatin dengan nasib Vianni, pantas saja saat pertama kali melihatnya dia sangat ketakutan seperti itu.
“Memangnya apa yang terjadi sampai kamu bisa bertemu dan bertanggung jawab sama dia?” tanya Conan lagi.
“Aku dalam perjalan pulang dari perayaan kemenangan laguku di awards dan aku akui aku sedikit mabuk. Aku benar-benar nggak sengaja nabrak Vianni dan karena itu aku merasa bertanggung jawab padanya. Walau sebenarnya dokter sudah bilang sama aku kalau amnesia yang diderita Vianni bukan karena penyebab tabrakan itu tapi tetap saja itu menimbulkan trauma yang mungkin memperburuk keadaannya,” jelas Niscala panjang lebar dibalas anggukan oleh Conan.
“Jasmine sudah sangat marah karena aku mambawa Vianni ke sini karena takut dengan karir aku yang bakalan terancam tapi aku nggak bisa ninggalin Vianni dalam keadaan seperti itu, maafkan aku.” Niscala menundukkan kepalanya, selintas Conan tahu kalau Niscala merasa sangat bersalah, dia sangat mengenali adiknya itu.
“Kenapa harus minta maaf sih, keputusan kamu untuk membawa Vianni ke sini itu sudah tepat jadi jangan merasa bersalah lagi. Masalah karirmu nanti kita pikirkan bersama bagaimana cara menjauhkan Vianni dari kerumunan fans dan media.” Conan menepuk pundak Niscala untuk memberikannya semangat.
***
Mereka makan dengan khidmat, masakan Vianni sangat enak sampai Conan memuji masakannya. Vianni akhirnya bisa tertawa lepas dengan lelaki itu walau masih sedikit bingung dengan identitasnya. Setelah selesai makan Vianni merapikan piring kotor di meja dan bersiap mencucinya, “Vianni, ada yang mau aku bicarakan sama kamu.” Vianni duduk disamping Niscala setelah mengikuti permintaannya.
“Vianni, ini adalah kakakku, Conan Apuila Ivander, panggil saja Conan. Semalam kalian sudah bertemu tapi mungkin kamu lupa menuliskannya di buku harianmu. Sebentar kau ada jadwal check up dengan doktermu tapi mungkin aku tidak menemanimu karena aku ada kegiatan syuting jadi kalau kak Conan yang menemanimu tidak masalah, kan? Aku janji bakal jemput kamu pulang nanti setelah dari syuting.” Vianni mengiyakan, menurutnya segala permintaan Niscala harus dia ikuti sebagai bukti rasa terima kasihnya ke Niscala.
“Tenang saja Vianni, aku juga adalah seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang mau kau kunjungi hari ini. Aku bisa mengerti kalau kau sedang tidak baik-baik saja jadi kau aman bersamaku dan Niscala pasti lebih lega kalau kau pergi bersamaku.” Vianni menatap yakin lelaki dihadapannya ini, dia sangat mirip dengan Niscala walau tetap saja senyumannya tidak bisa disamakan, dia tidak punya lesung pipi seperti Niscala.
“Aku siap-siap dulu kalau begitu.” Niscala menuju kamarnya sementara Vianni kembali dengan aktivitas membersihkannya.
Sebeanrnya sedari tadi ada hal yang menganggu Conan, “Vianni, kenapa kau sangat patuh pada Niscala? Aku yakin dia tidak masalah apabila terlambat ke tempat syuting kalau tadi kamu menolak pergi bersamaku.” Lama Vianni dan Conan terdiam.
Vianni berbalik kemudian menyenderkan badannya di dinding sambil menatap Conan serius, “Dia sudah melewati banyak pro dan kontra juga pergulatan batin dengan hanya membawaku ke sini. Aku tau dia sangat mencintai pekerjaannya dan aku tidak mau karena keegoisanku membuat karirnya terancam. Dia adalah penyelamat hidupku dan aku tidak punya apa-apa untuk berterima kasih padanya selain patuh terhadap permintannya.” Conan memandang takjub gadis ini.
Conan tidak tau trauma apa yang menimpa gadis ini di masa lalu tapi sudah pasti itu menimbulkan akibat yang sangat fatal. Conan harus mengingatkan Niscala untuk tidak menghancurkan perasaan gadis ini, setidaknya itu saran Conan agar Vianni bisa sembuh. Terjadi keadaan yang hening kembali diantara Conan dan Vianni, “Aku udah siap, kalian siap-siap juga gih.” Niscala memecah keheningan yang dia rasa sangat aneh itu.
***
Vianni dan Conan sampai di depan ruangan yang diinfokan oleh Niscala, mereka berpisah di depan rumah sakit setelah Niscala mengikuti mobil kakaknya untuk memastikan Vianni pergi ke rumah sakit dengan tenang, “Ayo masuk, aku antar sampai selesai, kebetulan aku tidak sibuk hari ini.” Vianni tersenyum senang, setidaknya dia tidak sendirian menemui dokternya.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang lumayan rapi dan Vianni melihat seorang lelaki dengan pakaian jas putih tengah sibuk membelakangi mereka, “Kau kelihatan sangat sibuk, Winola.” Vianni memandang Conan bingung, sepertinya Conan mengenal dokternya.
“Oh kak Conan, tumben sekali bermain ke depertamenku? Apa di depertemenmu sendiri tidak sibuk?” Dokter itu langsung memeluk Conan seperti sudah lama tidak bertemu.
“Aku sedang off, aku ke sini ingin mengantar pasienmu dan kebetulan juga aku rindu bercakap-cakap dengamu.” Conan menarik kursi agar Vianni bisa duduk begitu dengan dirinya.
“Aku sangat yakin kalau kau sedang berbohong kalau merindukanku. Hai Vianni, bagaimana kalian bisa bertemu? Apa kau tersesat menemukan ruanganku?” Vianni menatap dokternya senang, ternyata dokternya sangat ramah dan pandai mencairkan suasana.
“Tidak, dia datang bersamaku hari ini dan ke depannya dia mungkin lebih sering bersamaku ke sini. Walinya sangat sibuk dan kebetulan aku mengenal walinya jadi dia mempercayakan Vianni kepadaku.” Vianni mengerti kenapa Conan tidak mengatakan tentang Niscala, lagi-lagi ini demi kepentingan karir Niscala.
Dokter itu mengangguk mengerti seperti mengetahui dengan benar kalau wali Vianni adalah Niscala sang artis terkenal itu, “Okey Vianni, namaku Winola Conary Arkwight, kau bisa memanggilku Winola. Sebenarnya hari ini aku belum melakukan banyak treatment padamu, aku baru mau memulai sesi pengenalan denganmu agar nanti kau bisa nyaman melakukan sesi treatment bersamaku. Jadi apa saja kegiatanmu semenjak keluar dari rumah sakit ini dan bagaimana kau bertemu dengan orang-orang?”
“Ehm … aku hanya melakukan aktivitas normal biasa yang seingatku sering aku lakukan waktu dulu, seperti memasak dan membersihkan. Aku sebenarnya belum bertemu dengan banyak orang tapi setiap aku bertemu dengan orang baru, aku selalu berusaha menuliskannya di diary-ku yah walaupun banyak juga yang aku lupa tuliskan di sana.” Dokter itu tersenyum ke Vianni.
“Itu sudah sangat bagus, kau tidak harus menuliskan semua hal cukup tulis saja yang menurutmu sangat penting. Seperti yang aku bilang kalau hari ini pertemuan sesi pengenalan saja jadi minggu depan kau harus datang dua kali dalam seminggu dan ingat untuk menuliskan hal itu di diary-mu.” Vianni tersenyum dan ingin beranjak dari sana tapi dia mengurungkannya.
“Dokter … apakah aku akan sembuh?” Pertanyaan itu sukses mengagetkan Winola dan Conan.
“Aku ingin terus mengingat semua orang khususnya orang yang aku cintai. Setiap aku bangun tidur dan melupakan segalanya kemudian membaca buku harian itu lagi aku merasa sangat bersalah karena sudah melupakan mereka semua.” Air mata Vianni menetes.
“Kau akan sembuh Vianni, kau harus percaya padaku karena aku akan mengusahakan yang terbaik buat kamu.” Winola memnggenggam tangan Vianni untuk menenangkannya.
Setelah dirasa agak tenang, Conan memutuskan untuk Vianni mencari udara segar di luar ruangan Winola, “Vianni, kamu tunggu aku di luar dulu yah, ada yang harus aku bicarakan dengan dokter Winola.” Vianni kembali mengangguk saja.
Sepeninggal Vianni, Conan memulai pembicaraan empat matanya dengan Winola, “Ada apa sebenarnya dengan dia? Apa dia akan benar-benar sembuh?”
“Dokter yang pertama kali menangani Vianni bilang kalau dia trauma akan suatu hal sehingga dia menjadi pelupa seperti itu. Tapi saat melihat dia pertama kali terbaring di rumah sakit, aku mulai curiga dengan isi otaknya. Kalau kau masih ragu aku bisa melakukan CT Scan untuk kepala Vianni minggu depan setelah dia selesai treatment denganku.” Conan menganggukkan kepalanya setuju.
“Aku setuju dengan saranmu, hal yang terpenting sekarang adalah membuat Vianni sembuh dan mengetahui apa yang selama ini membuat dia tersiksa.”
***
Rumah sakit, 24 Februari 2019
Aku sangat senang karena hari ini banyak diisi dengan orang yang sangat baik padaku. Kak Conan, dia sangat mirip dengan Niscala, sangat baik dan ceria tapi ada sedikit perbedaan dengan Niscala. Kak Conan sangat pandai memasak dan dia adalah seorang dokter, siapapun yang nanti akan menjadi istri kak Conan pasti akan sangat bahagia. Kak Conan pasti salah satu dokter idaman di rumah sakit yang dia tempati bekerja karena dia sangat ramah, baru mengenalnya pertama kali aku langsung merasa sangat akrab dengannya. Dia sangat bertanggung jawab dan tentu saja sangat menyayangi Niscala dan anehnya aku juga merasakan seperti disayangi oleh kakakku sendiri.
Oh iya, aku juga akhirnya bertemu dengan dokter yang selama hari-hari ke depan akan membantuku menyembuhkan penyakit anehku ini, namanya dokter Winola. Aku pikir semua dokter itu cenderung tegas dan membosankan tapi ternyata sebuah pengecualian bagi dokter Winola. Dia sangat ramah, ceria dan mampu mencairkan suasana agar pasiennya tidak tegang, dia mampu menenangkan hatiku seolah-olah semuanya akan baik-baik saja kalau aku bersama dengan dia.
Sesuai dengan keinginannya agar aku terus ingat dengan perjanjian pertemuan sesi treatmentku dengannya makanya aku menuliskan janji ini kalau aku akan rajin bertemu dengannya seminggu dua kali agar aku sembuh. Aku sangat yakin kalau dokter Winola pasti bisa menyembuhkanku karena keyakinan seorang pasien pasti mempengaruhi kinerja seorang dokter bukan.
Aku ingin sembuh, aku tidak mau terbangun dan melupakan semua orang kemudian harus memulai semuanya dari awal lagi. Terlebih aku tidak mau melupakan Niscala, aku tidak mau terus-menerus merasa bersalah setiap terbangun dari tidurku kemudian melupakannya lagi dan harus mengingatnya lewat diary. Ini terdengar sangat egois tapi jika aku hanya bisa sembuh dengan mengingat satu orang saja maka aku tetap bersyukur dan memilih untuk terus mengingat Niscala.
Aku ingin ingat wajah bahagianya saat menyantap masakanku yang baru aku buatkan hari ini, dia mengatakan dia sangat menyukainya. Aku ingin mengingat kebiasaanya bangun pagi untuk berlari pagi dan menyukai aktivitasnya itu yang sebenarnya sangat terbatas karena harus bangun pagi buta agar menghindari serangan fans.
Aku ingin mengingat semua yang dia sukai dan juga mengingat semua yang tidak dia sukai. Aku ingin sembuh agar tidak merepotkannya lagi sampai membuat dia harus memilih antara mengurusku atau melakukan pekerjaannya. Maafkan aku yang akan terus membuat kau khawatir Niscala, aku mohon bersabarlah sampai aku sembuh dan aku mohon tetaplah di sampingku sampai semua ini berakhir.
***
Conan memandang Vianni yang tertidur di meja kerjanya, buku hariannya terbuka lebar dihadapannya sepertinya dia habis menuliskan sesuatu di sana. Sebenarnya dia sudah berpesan kepada Vianni untuk sementara tinggal dulu di rumah sahabat kecilnya sampai Niscala selesai bekerja kemudian menjemputnya di sana tapi Vianni menolak dengan alasan dia takut kalau Niscala mencarinya di rumah sakit karena tadi Niscala berpesan kalau dia akan menjemput Vianni di sini.
Tak lama terdengar suara orang berlari menuju ruangannya, sudah dipastikan itu Niscala yang masuk ke dengan napas ngos-ngosan, “Dia sudah lama tertidur seperti itu?” ucap Niscala yang kasihan melihat Vianni karena tertidur dalam posisi yang tidak nyaman.
“Sepertinya, aku tadi meninggalkan dia agak lama karena memeriksa pasien yang harus aku operasi besok dan baru kembali sekitar sejaman tadi.” Niscala segera membereskan barang Vianni dan cepat-cepat menutup buku hariannya seolah-olah tidak ingin melihat isinya, setidaknya itu yang ada di pikiran Conan.
“Besok-besok jangan membuat janji supaya dia menunggumu di sini, kau kan tahu kalau ruanganku tidak ada sofa dan aku tidak mungkin menyuruhnya tidur di kamar anak koas. Kasihan dia kalau harus menunggumu lama dan tertidur seperti tadi, ijinkan saja dia besok menunggu di rumah Lakeisha.” Niscala mengiyakan saja.
Dia menggendong Vianni dan agaknya itu menganggu tidur Vianni, “Niscala …” Suara lembut Vianni yang terbangun membuat Niscala menatap manik matanya.
“Tidurlah Vianni, kita akan segera pulang ke rumah.” Entah sadar atau tidak, Vianni hanya mengangguk lalu tertidur kembali.