Bab 2

Bab 002 Pemakaman

Mereka semua menunduk mendengar Kakek Wawan berseru dengan ekspresi marah. Hanya Kakek Marwan dan Nenek Sundari yang menatap Kakek Wawan, mereka kesal karena merasa mereka berdua lebih tua darinya, tapi seolah ikut tersindir dengan kata-kata Kakek Wawan.

Marwan adalah anak tertua dari tiga bersaudara dan Wawan adalah yang terkecil adik dari Wawang ayah Ardan dan Pak Arga. Tapi, Marwan hanya bisa memendam kekesalannya di dalam hati, karena dia juga tahu apa yang dikatakan Wawan ada benarnya. Saat ini tidak tepat untuk membahas masalah harta dan sebagainya, sedangkan tahlil pun belum lewat tujuh hari.

''Gavin, Lu capek kan?!... Udah gih sono, lu tidur, udah malem!'' seru Kakek Wawan sambil menepuk lembut kepala Gavin.

''Iya kek... Kek, makasih ya,'' jawab Gavin dengan senyum lega di wajahnya.

Hampir saja dia meledak karena tidak sanggup menahan emosinya, beruntung kakek Wawan menyelamatkannya.

''Buat apa? Udah gih, tidur, kunci aja pintunya!... Udah malem, si Runa di rumah sakit 'kan?!'' sahut Kakek Wawan.

''Iya kek...'' jawab Gavin sambil mengangguk.

''Kasihan tuh anak, udah empat hari dia nungguin si kembar di rumah sakit, enggak ada yang gantiin...'' ujar nenek Halimah dengan suara yang lirih.

''Abis gimana nek, Gavin juga masih sibuk ngurus di sini...'' jawab Gavin dengan nada menyesal.

''Udah makan belom tuh bocah?'' tanya nenek Halimah lagi, dia tulus memperhatikan keadaan Aruna.

''Insyaallah, dia bisa jaga dirinya sendiri nek. Lagian ada Om Ardan yang juga rajin nemenin dia di Rumah sakit'' jawab Gavin, tapi dia tidak sadar kalau jawabannya menyentil rasa ingin tahu dari Kakek Wawan.

''Owh... Itu makanya Ardan kalo malem pulang cuma sekelebatan doang,'' ujar Kakek Wawan menyahut.

''Iya, Aruna kan perempuan. Om Ardan nggak bisa ngebiarin Aruna sendirian tidur ngegeletak di tempat umum begitu,'' jawab Gavin masih dengan sikap polosnya.

''Iya. Ya udah, mudah-mudahan si kembar bisa cepet pulang,'' ujar Kakek Wawan mendoakan, memberi semangat pada Gavin yang sudah terlihat sangat lelah.

''Amin...'' Gavin menjawab doa Kakek Wawan dengan senyum di wajahnya.

Kakek Wawan dan Nenek Halimah kemudian membawa istrinya pergi meninggalkan rumah Gavin setelah berpamitan. Ada beberapa hal yang mengganjal di benak Kakek Wawan selama empat hari terakhir, dia merasa janggal dengan Aruna dan Ardan, tapi tidak sampai hati menanyakannya pada Gavin yang sudah terlihat sangat lelah, raut depresi juga terpampang jelas di wajah remaja muda yang baru saja menyelesaikan ujian akhir SMA nya. Wajah Gavin sudah terlihat pucat dengan lingkar mata yang menghitam, bukan hanya kurang tidur tapi pola makannya juga sudah kacau karena tidak ada yang mengurusnya selama di rumah.

**

Bersamaan dengan jenazah Ibu Aisyah dan Pak Arga. Gavin dan Aruna pulang dari Rumah Sakit kemudian segera mempersiapkan proses penguburan jenazah. Karena Pak RT dan yang lainnya sudah lebih dulu pulang dan sudah mengkoordinir semuanya, segala sesuatunya sudah siap saat jenazah tiba di rumah. Sanak saudara dari Pak Arga juga sudah berkumpul dan sudah siap menyelesaikan seluruh proses pemakaman.

Aruna tidak bisa berlama-lama di rumah karena harus kembali ke rumah sakit untuk menunggui Syaffa dan Raffa di ruang NICU. Keadaan si kembar masih harus dipantau karena mereka lahir di saat situasi darurat di mana mereka belum cukup waktu untuk lahir ke dunia. Tapi, dengan kehendak Allah diperantarai kemajuan teknologi. Harapan besar untuk mereka berdua bisa selamat menjadi lebih besar.

Sebelum magrib semua proses pemakaman telah terselesaikan. Hanya ada sedikit masalah saat hendak menguburkan jenazah Ibu Aisyah. Karena makam yang digunakan adalah wakaf keluarga dari keluarga Pak Arga. Secara halus mereka sempat menolak jenazah Ibu Aisyah di kubur di sana. Tapi, Ardan dan Gavin tetap bersikukuh agar Bu Aisyah dimakamkan bersebelahan dengan Pak Arga. Atau kalau tidak, maka Ardan dan Gavin memilih untuk memakamkan Pak Arga dan ibu Aisyah di pemakaman umum. Dengan kebijaksanaan Ardan sebagai seorang yang sudah dewasa dan kerja sama dari Gavin. Mereka menyelesaikan masalah ini diam-diam tanpa sepengetahuan Aruna.

***

Segera setelah proses penguburan Pak Arga dan Ibu Aisyah, Aruna segera mengepak beberapa barang. Nenek Halimah, adik dari Almarhum nenek Gavin (Nenek Bibi) yang melihat Aruna membereskan beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas ransel kecil segera menegurnya.

''Run, elu ngapain neng?'' tanya Nenek Halimah, ''Kok beberes baju. Bapak ama emak lu barusan doang di kubur...'' tambah Nenek Halimah dengan ekspresi cemas.

''Ini?!'' seru Aruna terpekik, dia terkejut melihat ekspresi cemas Nenek Halimah, ''Bukan begitu... Enggak kok nek. Runa cuma mau rapihin dikit aja biar nggak bolak-balik nantinya,'' ujar Aruna menjawab dengan lemah lembut, dia menjelaskan pada Nenek Halimah yang salah paham mengira kalau Aruna akan pergi dari rumah hanya karena ibunya sudah meninggal.

''Biarin aja lagi mak... Kalau dia mau pergi, 'kan malah bagus,'' ujar Karsih dengan nada ketus menimpali perbincangan Aruna dan Nenek Halimah.

''Apaan sih lu?! Tuh mulut kalo ngomong asal jeplak aja lu...'' sahut Nenek Halimah menegur menantunya.

''Lah! 'Pan, dia sendiri yang mau pergi. Ya biarin aja, ngapain juga di alang-alangin...'' sahut Karsih masih tidak mau kalah.

''Karsih, lu diem!... Kebiasaan banget tu mulut. Tar gua lakban, baru tahu rasa lu...'' seru Darman menghardik Karsih istrinya saat dia baru saja masuk setelah menyelesaikan semua urusan penguburan.

''Mak, Man, pulang dulu yah...'' ujar Darman berpamitan pada Nenek Halimah, ''Run, mamang tinggal dulu'' segera setelahnya dia juga berpamitan pada Aruna sambil menyeret Karsih istrinya.

Aruna mengangguk sambil mencium punggung tangan Darman dan Karsih yang pamit hendak pulang.

''Neng, jangan dia ambil ati yah! Lu pan tahu gimana encing lu, si Karsih, kalau ngomong...'' ujar Nenek Halimah berusaha menghibur Aruna.

''Iya nek. Enggak apa-apa. Lagian Runa sekarang nggak punya waktu buat mikirin yang kek gitu,'' jawab Aruna sambil tersenyum.

''Iya. Terus ini elu ngepak baju, mau ke mana?'' tanya Nenek Halimah dengan wajah cemas.

''Mau ke rumah sakit nek. Pan si kembar masih di rawat, nggak ada yang nungguin''

''Astagfirullah! Ya Allah, nenek bener-bener lupa... Iya, anak si Arga ya,'' ujar Nenek Halimah, seketika itu juga dia kembali mengucurkan air mata.

Lagi-lagi dia bersedih mengingat keponakan sulungnya yang telah pergi menghadap ilahi terlebih dahulu. Sepeninggal kakak iparnya, ibu Pak Arga. Nenek Halimah yang paling sering memperhatikan Arga dan Ardan saat itu. Dia sering membawakan makanan untuk mereka berdua apalagi semenjak ayah Pak Arga yang menyusul istrinya meninggal delapan tahun kemudian.

''Udah dong nek, kasian bapak kalo nenek nangis melulu...'' ujar Aruna berusaha menenangkan Nenek Halimah.

Lumayan lama menenangkan wanita renta yang tidak bisa menahan kesedihannya karena ditinggalkan keponakan yang selama ini sudah seperti anaknya sendiri. Nenek Halimah dan Kakek Wawan Wiryawan. Adalah adik dan adik ipar orang tua Pak Arga, Wawang Wiryawan.

Kakek Wawang, Kakek Wawan, dan Kakek Marwan. Mereka adalah tiga bersaudara yang hanya seorang petani dengan petak sawah yang luas peninggalan orang tuanya dulu. Tapi, seiring waktu. Penggusuran karena pengembangan kota menghilangkan mata pencahariannya sebagai petani. Sedikit demi sedikit tanah mereka di jual untuk berbagai keperluan dan hanya menyisakan beberapa saja yang kini di tinggali oleh anak-anak mereka dan juga untuk dirinya sendiri.

Di antara semua anak-anak mereka. Pak Arga yang paling rajin dan sangat mandiri. Karenanya tanah sepetak yang lumayan luas pemberian Kakek Wawang dikelola dengan baik oleh Pak Arga sampai bisa membangun rumah kontrakan sebanyak 20 pintu. Karena Pak Arga hanya dua bersaudara dengan Ardan, tanah miliknya lumayan besar jika dibanding saudara-saudara sepupunya yang lain. Apa lagi kedua orang tua Pak Arga juga sudah meninggal. Berbeda dengan Pak Arga yang punya beberapa rumah kontrakan. Saudara sepupunya yang lain hanya mengandalkan gaji bulanan dari pabrik tempat mereka bekerja.

Sejak kecil Ardan sangat dekat dengan Pak Arga, karena hal itu juga, Pak Arga tampak seperti punya dua anak. Ardan dan Gavin, Ardan juga sangat dekat dengan Gavin seperti dua kakak beradik. Di antara ke sepuluh saudara sepupu, hanya Ardan yang menikmati bangku kuliah. Bahkan dia telah mendapatkan ijazah S3, dengan dorongan dan dukungan Pak Arga. Ardan dulu sangat sibuk dengan kuliah kemudian pekerjaannya. Karenanya dia terus tinggal bersama Pak Arga, dan tanah jatah pemberian orang tuanya belum tergarap apapun hingga hari ini.

**

''Limah, lu kenapa lagi?... Malu ama si Runa, ini udah nenek-nenek masih doyan nangis aja,'' tanya Kakek Wawan yang datang bersama dengan Ardan dan Gavin setelah tuntas semua urusan penguburan.

''Run, di apain nenek, kok nangis?!'' seru Gavin bertanya dengan nada kesal yang di buat-buat.

''Kok Gue sih?!'' seru Aruna mengernyitkan dahi menjawab Gavin, ''Tapi... Iya sih, dikit...'' ujar Aruna menambahkan dengan ekspresi sedih karena merasa bersalah.

''Tuh kan bener. Ama elo...'' sahut Gavin dengan mata melirik pada Aruna.

''Maaf, nggak sengaja. Emang gegara Runa, nenek sedih keinget bapak lagi...'' ujar Runa dengan wajah setengah menunduk dengan ekspresi menyesal.

''Kagak... Kagak... Runa nggak ngapa-ngapain nenek... Cuma nenek aja yang masih belom bisa ngelepas kepergian bapak lu,'' ujar Nenek Halimah membela Aruna.

''Biarin aja deh... Encing biar puas dulu nangisnya. Tapi, Cing. Besok jangan disambung lagi. Cukup sekarang aja encing nangisnya ya...'' ujar Ardan sambil memeluk bibi yang sudah membantu mengurusnya sejak dia masih kecil.

''Nih anak, masih aja demen ngebecandain orang tua. Ke mana aja lu. Baru ini gua bisa ngeliat lu lama-lama anteng diem di rumah...'' ujar Nenek Halimah tangis air matanya langsung berubah jadi rasa kesal bercampur haru.

Bab 3

Nenek Halimah yang sudah tidak lagi bisa memendam emosinya, berulang kali marah pada Ardan sambil memukul-mukul Ardan melampiaskan emosi yang sudah bertahun-tahun di tahan olehnya.

''Lah. Nangisnya udahan cing?!'' ujar Ardan menggoda bibinya sambil menerima dengan tulus pukulan sayang darinya.

''Udah!... Ilang sedih gue, gegara liat tampang lu. Tega banget lu sama orang tua. Lebaran aja lu kagak balik. Giliran lagi begini aja. Baru lu balik. Masa nunggu abang lu mati dulu baru lu nongol Dan...'' ujar Halimah malah semakin emosi sampai tidak bisa menahan kata-katanya.

Air mata Nenek Halimah kembali berurai, mengingat Ardan yang sudah bertahun-tahun tidak jelas apa yang dia lakukan dan bagaimana keadaannya selama ini. Sekarang dia juga kehilangan keponakan sulung yang bijaksana. Kesedihan wanita tua ini sudah bertumpuk-tumpuk membuatnya kehilangan kontrol untuk mengendalikan dirinya.

''Cing... Cing... Ampun cing... Udah... Ardan minta jangan di terusin lagi tuh omongan. Jangan... Iya, Ardan minta maaf'' ujar Ardan langsung sujud, bersimpuh di kaki perempuan tua yang sudah renta itu.

''Astagfirullahal adzim... Astagfirullah... Tuh 'kan! Elu sih... Mancing emosi gue, ampir aja gue ketelepasan...'' ujar Halimah beristigfar ketika tangannya di pegang oleh suaminya.

Kakek Wawan mengingatkan Nenek Halimah agar tidak terbawa emosi yang bisa menyebabkannya malah berkata-kata buruk apa lagi tidak pantas. Karena walau dia bukan ibu yang melahirkannya tapi kata-kata bisa menjadi doa, karenanya lisan harus di jaga.

**

Jabir Ibmu Abdullah Ra, telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,

“Janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap diri kalian, janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan kemusnahan terhadap harta benda kalian agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat Allah yang di dalamnya semua permintaan diberi, kemudian (doa) kalian diperkenankan.” (Muslim Kitabuz Zuhd Raqaaiq 5328 dan Abu Dawud, Kitabush Shalat 1309).

Jamaal mengatakan adakalanya Ayah atau Bunda yang terganggu dengan ulah anaknya malah mendoakan keburukan untuk anaknya. Ini sangat berbahaya karena doa tersebut bisa saja dikabulkan.

“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi pasti diterima, yaitu doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (Tirmidzi, Kitabul Birri Wash Shilah 1828).

**

Nenek Halimah memang bukan wanita yang melahirkan Ardan tapi dia adalah adik ipar dari ayah dan ibunya, yang menyayanginya dan merawatnya seperti ibunya sendiri. Ardan yang kehilangan ibunya saat dia di lahirkan, saat itu juga posisi untuk mengasuh Ardan di tempati oleh Nenek Halimah.

Karena satu dan lain hal itu juga, Ardan cukup takut dengan marahnya Halimah padanya. Sebagai seorang muslim tentu dia sangat menghormati wanita yang sudah merawatnya sejak masih bayi.

**

Beberapa waktu tadi mereka semua masih berduka dengan kepergian Pak Arga dan Ibu Aisyah. Tapi, walau hanya sedikit setidaknya kehadiran Ardan cukup menenangkan kedua orang tua yang sudah renta. Nenek Halimah dan juga Kakek Wawan jadi sedikit terhibur dengan bujuk rayu Ardan. Begitu pun Gavin, dia yang tadinya resah dan bingung memikirkan bagaimana harus menggantikan posisi ayahnya karena dia sekarang adalah pria yang tertua di keluarganya sekarang. Dia sekarang bisa sedikit lega dan tenang dengan kehadiran paman yang sudah seperti kakak sekaligus sahabat baginya.

"Runa udah siapin semua barangnya?" tanya Ardan pada Aruna yang kembali melanjutkan mengepak pakaian ke dalam tas setelah mengantar Nenek Halimah dan Kekek Wawan pulang.

"Udah mang..." jawab Aruna.

"Bentar ya, mandi dulu... Entar di anterin ke rumah sakit" ujar Ardan.

"Runa berangkat sendiri aja enggak apa-apa kok... Mamang capek, istirahat aja dulu" ujar Aruna menanggapi Ardan.

"Enggak apa-apa kok... Lagian harus ada yang di urus" jawab Ardan sambil menepuk lembut kepala Aruna yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur kemudian melangkah pergi menuju kamar mandi.

Gavin menatap mereka berdua dengan tatapan aneh dengan wajah bingungnya. Dia ragu-ragu untuk menghampiri Aruna dan sempat megurungkan niatnya, tapi, akhirnya dia kemudian kembali lagi dan bicara dengan Aruna.

''Run...'' panggil Gavin, tapi dia kemudian sempat terdiam menatap Aruna sesaat setelah memanggilnya.

Gavin terlihat ragu saat ingin mengucapkan sesuatu sambil terus berdiri memandang Aruna, dia berdiri di kusen pintu kamar Aruna menatapnya dengan sorot mata yang menunjukkan kalau dia sedang mengasihaninya.

''Kenapa?'' tanya Aruna sambil mengernyitkan dahi, dia heran dengan kelakuan Gavin.

''Elo...'' ujar Gavin menjawab, tapi lagi-lagi, kata-katanya terhenti.

''Ish!... Apaan sih?! Ngomong buruan! Kek Sapi mau di potong lu...''

''Sialan... Lebaran haji masih jauh''

''Nah elo... Kelipak-kelipuk, kagak puguh... Bikin gue jadi tambah penasaran...''

''Elo, beneran?''

''Apanya Gavin?... Yang jelas kalau ngomong tuh...''

''Mau nikah ama om gue...''

''Kan udah... Pe' A!'' seru Aruna menyahut ketus.

''Hah?!'' seru Gavin dengan wajah melongo, dia jadi tambah heran.

''Lah... Udah Gavin. Mang Ardan udah ijab kabul di Rumah Sakit di depan bapak'' ujar Aruna dengan dahi mengernyit menatap tajam ke arah Gavin.

Gavin tersentak kaget dengan wajah anehnya yang terlihat semakin bodoh, otaknya masih belum mau mempercayai apa yang di dengarnya barusan dari Aruna. Gavin memikirkan nasib perempuan yang telah menjadi adiknya empat tahun yang lalu, sekarang harus mengalami semua masalah ini karena kedua orang tua mereka mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu.

**

Ramai riuh gemuruh orang yang mendengar suara keras dari decitan Rem mendadak yang kemudian di sambung dengan suara hantaman mobil yang menabrak. Jeritan histeris dari beberapa orang yang melihat langsung kejadian bergema di sekeliling tempat kejadian perkara. Seketika itu juga TKP menjadi macet, beruntung ada petugas polisi lalu lintas di situ yang dengan segera datang mengamankan area lokasi kecelakaan.

Petugas Polisi lalu lintas segera memanggil pusat komando untuk dimintai bantuan, karena tidak mungkin dia sendirian bisa mengendalikan situasi yang dengan cepat memancing kerumunan orang. Petugas itu juga dengan cepat dan sigap segera menghubungi Rumah Sakit untuk segera mengirim Ambulans.

Suara Sirene ambulans meraung-raung meninggalkan tempatnya di parkir sebelumnya segera melaju ke tempat di mana dia dibutuhkan. Karena kondisi jalanan yang memang di kenal ramai dan pengendara yang tidak ramah terhadap keadaan darurat sulit bagi mobil Ambulans untuk melaju menerobos ramainya kendaraan yang lalu lalang di jam sibuk. Butuh waktu cukup lama untuk Ambulans bisa segera tiba di lokasi kecelakaan.

Suara rem Ambulans berdecit terdengar setelah sampai di lokasi kejadian kecelakaan.

Suara pintu Ambulans di tutup setelah petugas turun dari mobil dan menghampiri petugas yang sedang berjaga di lokasi.

''Bagaimana situasinya pak?'' tanya seorang Petugas Ambulans saat dia turun dari mobil dan segera menghampiri petugas.

''Kejadian beberapa waktu yang lalu. Korban, dua orang. Mereka terhimpit di kursi pengemudi dan kursi penumpang di depan. Sepertinya keduanya suami istri. Karena wanitanya dalam kondisi hamil besar'' jawab POLANTAS yang bertugas.

''Baik kita akan periksa dulu. Pak sudah panggil DAMKAR?'' tanya Petugas Ambulans itu lagi.

''Sudah!'' seru Petugas POLANTAS itu menjawab.

''Nah itu mereka datang'' ujar petugas lalu lintas itu ketika mendengar suara sirene Blangwir semakin nyaring meraung-raung mendekati lokasi.

''Baik, kami akan terlebih dahulu memeriksa kondisi pasien dan kita akan segera bekerja sama mengeluarkan pasien yang terjepit'' ujar Petugas Ambulans menjawab.

Dua Petugas Ambulans itu dengan sigap dan cekatan mengeluarkan semua peralatan yang dibutuhkan. Melihat salah satu korban adalah seorang wanita yang sedang hamil besar mereka segera memeriksa kondisinya terlebih dahulu.

Petugas Ambulans segera mengeluarkan AED (automated external defibrillator) Nafasnya tipis berhembus tidak teratur. Degup jantungnya juga semakin lambat. Tidak lama setelah itu bunyi panjang keluar dari mesin. Kedua petugas itu saling lirik kemudian menggelengkan kepala.

Mereka segera membagi tugas. Salah satu menolong pria paruh baya di kursi pengemudi yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Salah satu petugas lagi bicara dengan petugas DAMKAR.

''Pasien wanita baru saja meninggal. Karena tubuhnya dalam keadaan terjepit sulit bagi kami melakukan CPR. Tapi, bayi di dalam perutnya kemungkinan besar masih bisa di selamatkan. Bantu kami untuk segera mengeluarkan tubuhnya dari mobil agar bisa segera menyelamatkan bayi dalam kandungannya'' ujar Petugas Ambulans itu menjelaskan situasi pada para Petugas DAMKAR.

''Baik. Segera kami laksanakan. Mohon bimbingannya agar kami tidak melakukan kesalahan saat evakuasi'' ujar komandan petugas DAMKAR itu menjawab.

''Tentu. Kita akan bekerja sama'' jawab petugas ambulans percaya diri.

Para Petugas dari Kepolisian lalu lintas, Petugas Ambulans dari Rumah Sakit, dan para Petugas dari Dinas pemadam Kebakaran saling bantu menangani situasi agar bisa segera di tangani dan jumlah korban tidak bertambah lebih banyak lagi.

Setelah beberapa waktu kedua korban berhasil di keluarkan dari mobil yang sudah ringsek keadaannya. Dengan segera keduanya di bawa ke Rumah Sakit terdekat untuk segera melakukan segala perawatan yang dibutuhkan.

''Ada keluarga korban yang bisa di hubungi?'' tanya seorang Petugas UGD pada tim yang membawa korban kecelakaan.

''Sedang di cari. Tapi, dari KTP yang di temukan korban memang sepasang suami istri'' ujar salah satu petugas.

''Tersambung. Ada nomor yang menjawab'' ujar POLANTAS dengan wajah semringah.

Dia, sejak dalam perjalanan tadi sibuk mencari-cari nomor telfon yang bisa di hubungi dari gawai yang tergeletak yang di duga milik Korban. Saat melihat ada nomor yang tertulis ''Jagoan kecilku'' segera petugas itu menghubungi. Setelah dia yakin melihat dari riwayat percakapan Whatsapp keduanya.

''Halo selamat siang''

''Ya, selamat siang''

''Maaf, kami petugas kepolisian. Ingin memberi tahu keadaan darurat. Apa benar Anda mengenal pemilik telefon ini?''

''Ya. Ini nomor milik kakak saya''

''Bisa tolong sebutkan nama kakak Anda!''

''Arga Wiryawan usia 45 tahun''

''Baik. Mohon maaf kami harus menyampaikan berita duka ini. Korban atas nama Bapak Arga Wiryawan sekarang kritis di Rumah Sakit setelah mengalami kecelakaan. Kami harap Anda bisa secepatnya kemari untuk mengurus tindakan selanjutnya''

''Kecelakaan?! Baik saya segera ke sana. Pak, tolong lakukan apa saja tindakan yang di perlukan untuk menyelamatkan kakak saya. Jangan khawatir masalah biaya akan saya urus semuanya'' ujar pria itu dengan nada suara yang terdengar cemas dan gugup.

''Baik. Kami sudah berupaya melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan. Sebaiknya Anda segera kemari agar lebih jelas!''

''Baik. Saya segera meluncur ke sana''

**

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED