Bab 1

Di dalam ruangan bernuansa hitam, dua sosok duduk saling memangku di sofa putih. Isakan tangis menjadi sumber suara utama yang ada di sana. Suara guntur menggelegar menciptakan guncangan pada hati setiap orang.

"Angkat wajahmu, Serena Blard."

Gadis bersurai coklat yang sedari tadi menunduk dengan tubuh duduk di atas pangkuan pria bersetelan hitam, mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya yang cantik.

Xavier Blard— adik laki-laki dari mendiang Ibunya. Memandang keponakan kecilnya yang begitu cantik dari tahun ke tahun, wajah bulatnya yang menawan berwarna kemerahan usai menangis ketakutan.

Ujung pisau kecil mengkilap memantulkan bayangan cahaya lampu di langit-langit dinding. Xavier menurunkan gaun yang di kenakan gadis kecilnya, memperlihatkan setengah dari belahan dada lembut kesukaannya, iris hitam pekat memikat menatap iris caramel yang ketakutan sekali lagi.

"Sebutkan kesalahan yang telah kau buat, Paman ingin dengar."

Suara berat dengan hembusan nafas maskulin bertiup di depan wajah Serena, gadis itu menutup mata, badannya semakin gemetar ketakutan. "Berbohong kepada Paman, bermain keluar dengan seorang pemuda, sengaja mematikan ponsel agar Paman tidak mengganggu Serena."

"Gadis kecil, kira-kira hukuman apa yang harus Paman berikan khusus untukmu?"

"Paman ... Maafkan aku."

"Kau sudah tahu Paman bukan orang lembut yang mudah memaafkan kesalahan orang lain."

"Aku berjanji tidak akan mengulangi tindakan itu. Aku—akh!"

Xavier tersenyum normal, berbanding terbalik dengan tangan kirinya tidak bersikap tidak bermoral. Pria tersebut menusuk kulit putih halus selembut untaian kapas menggunakan ujung pisaunya.

Menggambar goresan melintang tidak terlalu dalam, Xavier menurunkan kepalanya kemudian mencium aliran garis luka. Menusuk kulit lembut beraroma mawar dengan hidungnya yang mancung.

Xavier menggigit bibir bawahnya, hukuman kali ini masih bisa di bilang sangat ringan karena Xavier sepertinya sedang berada pada suasana hati yang baik. Sehingga menorehkan satu luka tidak terlalu dalam di dadanya.

"Sekarang saatnya tidur, mulai besok, jauhi pemuda tadi siang atau Paman akan membunuh dia hingga keluarganya tidak akan bisa mengenali sosoknya."

"Baik. Serena mematuhi Paman."

"Gadis kecilku sangat pintar."

****

Beberapa bulan kemudian.

Lampu mungil berkelap-kelip di dalam ruangan dengan warna-warni yang mencolok. Seorang anak gadis duduk sendirian di kursi yang terletak di balkon kamar pribadinya. Memegang secangkir coklat panas di kedua tangannya yang putih pucat.

Wajah oval cantiknya merileks kala menghirup aroma hangat berbau harum dari minuman kesukaannya. Sepasang mata kucingnya mendongak menatap langit malam luas yang sepi tanpa ada bintang, hanya ada Bulan.

Menggantung sendirian, terlihat kesepian.

Seperti dirinya.

Serena merasakan panas di kulit lehernya, keseluruhan jemari yang memegangi cangkir sedikit bergetar. Setelah itu deruan nafas berbau mint menyerang indra penciuman sensitifnya.

"Pegang cangkirmu dengan benar, gadis kecil."

Suara lembutnya mengalun membawa kehangatan yang panas.

"Paman, kapan Paman pulang? Kenapa aku tidak mendapat kabar atau melihat mobil yang datang memasuki rumah?" Gadis itu bertanya mengalihkan topik. Beringsut ke samping menghindari wajah pria menawan di belakang yang hendak menenggelamkan wajah di lekukan leher putihnya.

Xavier mengerutkan kening. Mata tajamnya berkilat dingin, dia bisa melihat gadis kecilnya berusaha menghindar dari sentuhannya. Dan dia tidak menyukai itu. "Mendekat kemari."

Serena meletakan cangkir berisi coklat panas ke atas meja besi di samping tempat duduk. Mengigit bibir bawahnya sebelum berdiri kemudian berjalan mendekati Xavier. Mengulurkan kedua lengan kurus yang terasa sangat lembut ketika di sentuh.

Xavier menarik sudut bibirnya bahagia, menarik uluran tangan gadis kecilnya. Lalu menggendong Serena dengan mudah, "Aku baru pergi selama dua minggu tapi tubuhmu menjadi sekurus ini, pelayan di rumah ini sepertinya tidak memperlakukan dirimu dengan baik selama aku tidak ada. Menurutmu, apa yang seharusnya aku lakukan untuk mendisiplinkan mereka semua, sayang?"

Serena bergetar di dalam pelukan Xavier. Rambut halusnya yang beraroma manis terlihat basah seolah dia kepanasan, menarik nafas dingin perlahan, dia mendongak memandang langsung pada wajah tampan Pamannya. "Itu bukan salah mereka, aku tidak berselera makan terlalu banyak Paman. Jangan hukum mereka."

Memegang erat pinggang kecil Serena, Xavier menjepit tubuh langsing gadis tersebut di bawah tubuhnya yang tinggi dan kuat seperti tembok. "Benarkah?" Wajahnya menurun, mendekat ke telinga kecil yang memerah, sengaja memberikan satu gigitan kecil. "Baik, kalau begitu, kau harus menerima hukuman atas nama mereka."

Mata Serena berkaca-kaca, "Paman... " Nada panggilannya mengandung ratusan keluhan menyedihkan.

Semenjak orang tuanya meninggal, mendiang Ibunya meminta Xavier agar merawat Serena dengan baik dan memastikan untuk mencarikan pasangan hidup yang baik bagi putrinya.

Namun semuanya tidak sesuai dengan permintaan terakhir Ibunya. Xavier bertindak tidak bermoral bahkan di umurnya yang masih kecil pada waktu, di usia muda, dia harus duduk di pangkuan Pamannya sembari menonton aksi pembunuhan di ruangan bawah tanah rumah besar ini.

Serena masih ingat jelas perasaan takut waktu itu. Dia menggigil, tubuh mungilnya yang halus dan putih ternoda darah para korban. Gaun merah muda indahnya kusut karena terlalu sering teremat oleh telapak tangan mungilnya. Wajah bayinya yang montok seperti boneka menatap horor pada sepotong manusia tanpa tubuh lengkap.

Dia masih ingat apa yang di lakukan Pamannya saat itu.

Hanya memangku dirinya dan memainkan rambutnya, tidak perduli ketakutan di wajah sang keponakan.

[Kilas Balik Dimulai]

"Paman, aku takut... "

Xavier tersenyum pada bocah kecil di pangkuannya. Gadis berstatus keponakan tercinta. "Paman ada di sini, mengapa harus takut?"

Serena kecil memegang gaun merah mudanya hingga kusut, iris caramelnya yang besar berair bagaikan anak kucing meminta perlindungan dan kasih sayang.

Melihat pemandangan itu, Xavier tertegun, sedetik kemudian seutas senyum menghiasi wajahnya. Sebuah senyum tidak mencapai mata yang membawa aura bahaya mendominasi. "Hm, keponakan kecil Paman sangat manis. Bukankah pemandangan di depan sangat indah?"

Serena kecil menggeleng bolak-balik. Wajah kecilnya memerah menahan tangis, bagaikan lotus putih murni yang baru tubuh dan mekar dengan malu-malu. "Paman... Nana takut..."

Sambil menopang dagu santai, Xavier mengangkat dagu mungil keponakannya menggunakan jari telunjuk, "Jadi? Ingin pergi dari sini?"

"I-iya..."

"Mudah, beri Paman hadiah dulu."

Mendengar permintaan aneh-aneh orang dewasa di depannya. Serena semakin bingung dan frustasi, "Ti-tidak ada hadiah."

Iris hitam pihak lain menajam seakan menemukan mangsa menggiurkan yang membuatnya bersemangat untuk menaklukan. Xavier menutup kedua mata keponakan kecilnya yang masih menggigil.

Ia menanam ciuman di bibir kecil semerah buah ceri.

Serena mengedipkan mata besarnya saat tangan besar yang menghalau telah pergi. Paman mencium dia? Bukankah Paman memang sering mencium dia sejak dia masih kecil?

Xavier tahu Serena bingung kenapa dia menutup mata anak itu hanya karena dia ingin mencium bibirnya.

Jika itu dulu, mungkin bukan masalah karena mendiang kakak dan kakak iparnya tahu seberapa besar kasih sayangnya pada gadis kecil cantik ini. Tetapi kali ini, pada pandangan mata kelamnya tidak ada kelembutan, melainkan kekejaman tidak berdasar yang menenggelamkan.

"Gadis kecil, mulai sekarang sampai di masa depan. Kamu milik Paman. Paham? Anggap ini hadiah yang Paman minta darimu. Jika kau berjanji, Paman akan membiarkan kamu pergi dari sini."

Tanpa pikir panjang, Serena mengangguk. Segera memeluk leher Pamannya kemudian bersembunyi ketakutan. Tidak pernah berpikir keputusan ini bisa meruntuhkan masa depannya yang cerah.

[Kilas Balik Selesai]

"Tidak... " Serena kembali tersadar dari kondisi linglung tentang masa lalu, tepat ketika dia berjanji menjadi milik Xavier hingga di masa depan nanti. Dia menyesali keputusan itu sekarang, hidupnya tidak mirip dengan kehidupan manusia, justru seperti kehidupan hewan peliharaan yang sering di kekang maupun di batasi.

Xavier menarik tangannya dari balik baju Serena. Ia membaringkan tubuh di sisi lain, menarik tubuh ramping yang masih menggigil masuk ke dalam pelukan hangatnya.

Samar-samar, aroma amis bau khas darah melayang di udara. Serena makin ketakutan, tidak berani bergerak atau membuat suara yang bisa merusak suasana hati Pamannya yang tidak menentu.

"Tidur, hukuman malam ini di tunda. Tubuhmu terlalu lemah, mulai besok, kau harus makan lebih banyak lagi dan aku akan mengawasinya langsung."

"Baik."

Xavier tersenyum lembut, tangan kirinya bermain dengan surai panjang Serena. Perasaan halus yang membuat hati serasa gatal. Pria itu mengusap punggung kecil di dalam rengkuhannya.

Lima belas menit berlalu, seruan nafas lembut bertempo teratur menandakan kucing kecil kesayangannya sudah tertidur lelap.

Xavier meletakan kepala Serena ke atas bantal hati-hati, bibir seksinya menipis tersenyum. Mengecup sekali kening gadis kecilnya lalu menekan tombol khusus di area tertentu pada jam tangan hitam di pergelangan tangannya.

Tak selang lama, pria berbadan tinggi terbalut jas hitam datang memasuki kamar. Terlihat pria tersebut menurunkan tubuhnya, "Menerima perintah, Tuan."

"Ganti semua pelayan wanita di rumah ini. Biarkan mereka melayani pengawal, cambuk sepuluh kali masing-masing, lalu jual ke tempat malam. Besok aku ingin melihat pelayan baru. Tidak menerima kecelakaan sekecil apapun."

"Perintah di terima. Saya undur diri."

Ruangan kamar kembali sunyi. Xavier menyandarkan punggung di atas kepala ranjang, jarinya yang menganggur bergerak membuka celah di antar bibir mungil Serena. Melesat masuk sesaat kemudian.

Kepuasan terlihat jelas di paras rupawannya yang memikat. "Bahkan bisa menggoda di kondisi tidur." Matanya berkilat geli, namun membiarkan lidah hangat si kecil menyentuh ujung jarinya. Sesekali dia menusuk lebih dalam untuk menyentuh lidah Serena atau menggesek langit-langit mulutnya.

Merasa di ganggu dalam tidur, Serena mengerutkan alis tipisnya. Bulu mata lentiknya yang panjang bergetar seperti sayap kupu-kupu tipis mengepak.

Siapapun yang berani mengejek, melukai, atau memarahi gadis kecilnya, tidak di ijinkan hidup nyaman. Karena hanya dia, Xavier Blard, yang bisa melakukan tigal hal itu pada Serena Blard.

Wanita muda di mansion ini terlalu lancang, begitu berani menindas keponakan kesayangannya saat dia tidak berada di rumah, bahkan berusaha menyakitinya. Mereka semua pantas hidup dalam penderitaan!

Bab 2

Pemuda berusia kisaran dua puluh tahun berjalan masuk melalui pintu depan. Sosoknya yang tinggi di balut kemeja putih rapi menampilkan ketampanannya yang lembut dengan sedikit senyuman nakal khas laki-laki yang sering mempermainkan banyak hati perempuan.

Serena mendongak menatap pendatang baru di pagi hari, alis tipisnya yang di beri sedikit polesan mengerut ringan, "Kakak Lie?"

Pemuda bernama Nangong Lie mengedipkan mata kirinya genit, menarik salah satu kursi di dekat gadis tersebut kemudian menyandarkan tubuh santai seolah berada di rumah sendiri. "Dimana tiran tua?"

Perlu beberapa detik sebelum Serena memahami arti kata 'tiran tua', apakah ini julukan baru lagi untuk Pamannya? Ia meletakan sendok ke atas piring, "Paman ada di kamar, mungkin baru selesai mandi. Kakak kemari ada perlu bisnis dengan Paman? Bukannya Kakak Lie harus kembali ke Cina menemui perempuan yang akan menjadi Kakak Iparku?"

Mendapatkan serangan pertanyaan bertubi-tubi, Nangong Lie menggaruk hidung mancungnya lalu batuk dengan canggung, mengalihkan pandangan karena tidak bisa berbohong ketika dia menatap wajah lugu gadis itu, "Hanya masalah pernikahan, lagipun aku masih muda, jadi pernikahan tidak perlu terburu-buru."

Padahal ketika dia di hubungi oleh 'calon istrinya' Nangong Lie sangat ketakutan setengah mati setelah mendengar kata-katanya. Mereka belum resmi sepakat menikah di masa depan, namun pihak perempuan telah berkata, “Aku sudah mempersiapkan sangkar indah bagi calon suamiku. Setelah kita menikah, kau akan hidup di dalam sangkar dengan kedua tanganmu akan aku rantai menggunakan rantai emas. Maka kita berdua bisa hidup bersama selamanya, Nangong Lie hanya bisa menjadi milikku.”

Sejak saat itu juga Nangong Lie hampir tersedak oleh rasa takut. Iblis wanita macam apa yang di temukan oleh keluarganya? Apakah mata Ibunya mengalami masalah untuk menemukan calon istri yang baik dan lucu seperti Serena Blard?

Dia rasa jika dia menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya, esok hari setelah menikah, dia bisa menjadi mayat yang mati misterius di kamar pengantin baru.

Xavier muncul dari kamarnya sendiri, hari ini dia mengenakan pakaian santai mengingat tidak ada urusan mendesak di perusahaan, seluruh urusan kecil dia serahkan kepada sekretaris utama.

Kedua matanya yang hitam menyipit tidak senang melihat tangan Nangong Lie mendarat di atas kepala gadis kecilnya. "Untuk apa kau kemari?"

Nangong Lie menarik tangannya secepat kilat, ketakutan hingga dia rasa dia akan mengompol di tempat setelah ketahuan menyentuh sesuatu yang sudah di beri label permanen, “Milik Xavier Blard.”

"A-aku ingin meminta bantuan darimu."

Xavier Blard duduk di kursi utama tempat kepala keluarga, alis kirinya yang tebal dan rapi terangkat, kemudian dia mendaratkan sikunya ke atas meja, menopang dagu malas. Nadanya acuh tak acuh saat dia bertanya, "Bantuan? Hadiah apa yang bisa aku dapatkan?"

Serena tidak bisa untuk tidak menatap fitur samping Pamannya yang dia akui sangat tampan, memancarkan aura maskulin yang memikat. Bibirnya menghela rendah, apakah Pamannya memiliki pengalaman buruk di masa kecil? Seperti tidak mendapat hadiah ketika ulang tahun selama beberapa tahun?

Mengapa Paman sangat suka meminta hadiah?

Mengetahui gadis kecilnya menatap dia diam-diam, Serena menoleh ke arahnya, "Makan lebih banyak, aku akan mengantarmu ke sekolah hari ini."

"Em."

Nangong Lie tertekan di kursi duduknya, dia melambaikan tangan, "Hei, hei, lihat aku, oke? Aku di sini ingin meminta bantuan, ada masalah mendesak yang sangat serius, ini mempengaruhi kehidupan sahabat tampanmu ini. Jika kau mau membantu, aku bisa mencarikan tiga gadis perawan yang menawan. Aku dengar salah satu tempat malam baru saja di buka di Distrik, mereka memiliki banyak gadis yang terlatih untuk melayani."

"Uhuk! Uhuk!" Serena membelai dadanya lembut, mencoba menelan sesuap nasi yang tersangkut di tenggorokannya begitu mendengarkan kalimat tidak senonoh dari pemuda di samping. Bisakah Nangong Lie melihat dia masih di sini? Kulitnya sangat tipis, hanya dalam dua detik, wajah cantiknya memerah cerah, sangat kontras dengan kulit putihnya.

Xavier berdiri dari kursi, berjalan mendekati keponakannya. Ia mengulurkan tangan mengusap leher belakang Serena yang justru menghantarkan perasaan dingin menakutkan hingga tubuh si kecil bergidik tanpa sadar, "Makan dengan hati-hati. Tinggalkan sarapan, masuk ke mobil sekarang. Jika kau masih lapar, makan saja di kantin, Paman akan menambah uang sakumu."

Serena mengangguk setuju penuh semangat, tidak ingin diam lebih lama di meja makan atau Nangong Lie bisa merubah topik pembicaraan menjadi edukasi tentang kedewasaan yang membuat dia sangat tidak nyaman.

Ruang makan tersisa dua orang. Xavier memasukan kedua tangannya ke saku celana training hitam yang dia pakai, sekali lagi, matanya menyipit berbahaya, "Kau tidak sibuk akhir-akhir ini?"

Nangong Lie bingung, namun dia tetap menjawab jujur, "Sejujurnya tidak ada urusan penting akhir-akhir ini. Induk Perusahaan di pegang oleh Ayah sepenuhnya, jadi aku hanya perlu mengurus anak cabang yang ada di sini di bantu Kakak perempuanku."

"Bayangan." Panggil Xavier tiba-tiba.

Pengawal yang berdiri di dekat ruang meja makan berjalan mendekat, membungkuk hormat, "Siap menerima perintah."

"Biarkan Nangong Lie mengurus urusan di perusahaan milikku, beritahu Marliana agar membiarkan semua pekerjaan di urus anak ingusan ini. Biarkan dia cuti."

"Perintah di terima."

Nangong Lie membuka mulutnya kaget, "Kau—"

"Karena kau sangat luang dan bisa mengunjungi rumahku di pagi hari, bahkan berani menempelkan tanganmu di atas milikku. Maka tidak ada alasan menolak pekerjaan yang aku berikan, tanganmu sehat jadi harus di gunakan, jangan malas seolah tanganmu catat. Anggap saja ini sebagai kompensasi karena aku mau membantumu kali ini." Usai berkata santai seakan dia sedang membahas pembagian harta warisan leluhur, Xavier melenggang pergi meninggalkan Nangong Lie sendirian.

Dosa masa lalu apa yang Nangong Lie lakukan sehingga dia bisa mempunyai sahabat tiran tua seperti Xavier! Dia hanya mampu menangis darah tanpa suara!

Belum selesai Nangong Lie meratapi kepedihan hidupnya. Suara dingin yang rendah terdengar dari kejauhan, "Ingat, jauhkan tanganmu dari pandangan mataku karena sekarang aku sedang menahan diri untuk tidak memotong lenganmu kemudian melemparkannya ke kandang anjing kakak perempuanmu."

Nangong Lie mendesis kesal, "Sial, andai aku bisa merubah tiran tua itu menjadi seekor babi lalu menjualnya ke sekte illuminati untuk di gunakan sebagai persembahan!"

Di dalam mobil, Serena mengeluarkan buku novel baru pemberian dari teman satu meja di sekolah. Jujur dia kurang menyukai membaca cerita fiksi, jika bukan karena paksaan dari temannya, dia tidak akan mau, dia lebih memilih tidur. Tapi terlalu banyak tidur bukan hal baik, jadi mencoba mencari hobi baru bukan masalah.

Xavier melirik buku di genggaman Serena, mengernyit sebentar, "Suka membaca buku?"

"Uh?" Kepala kecilnya menoleh, dia baru sadar Xavier sudah memasuki mobil. Dia tenggelam dalam suasana dari buku yang dia baca, "Tidak. Temanku bilang aku harus mencari hobi baru sebagai pengisi waktu luang, selama ini aku selalu makan dan tidur. Menurutku itu bukan kebiasaan baik."

"Kemarikan, aku ingin melihat isi buku itu."

Sontak Serena menarik buku novelnya ke belakang punggung, berusaha menolak, "Tidak bisa. Ini bukan cerita yang bagus, nanti Paman tidak suka."

"Bagaimana aku bisa tidak suka? Aku belum melihatnya, kemarikan buku itu."

"Paman... " Ia menggigit bibirnya, salah satu kebiasaan yang sering di lakukan ketika dia merasa takut atau gugup.

Satu tahun yang lalu, Serena sempat setres, hampir menangis karena kesulitan mengerjakan soal di buku paket matematika. Setelah Xavier tahu buku sialan telah membuat gadis kecilnya menangis dan sakit kepala, dia membakar buku itu langsung tanpa meminta persetujuan.

Jangan sampai novel ini di ketahui oleh Pamannya atau dia bisa di kuliahi sepanjang malam.

Sayangnya Xavier bisa merebut buku tersebut, pria itu membuka halaman buku secara acak, membaca deretan kalimat yang terpapar di lembaran kertas tipis bening, "Gadis kecil, aku baru tahu kau menyukai buku seperti ini." Kenakalan tersimpan di dalam kata-katanya.

Serena membuang muka, tidak sadar kalau telinganya memerah, "I-itu dari temanku, jadi aku tidak tahu apa-apa. Nana hanya membaca saja, memang salah jika membaca buku itu?"

Karena gadis kecilnya terlihat manis ketika marah. Xavier melempar buku ke jok belakang, menarik dagu mungil bertekstur lembut, memutarnya agar dia bisa melihat wajah cantiknya yang memerah, "Kenapa kau tidak bilang dari dulu? Aku bisa membeli banyak buku seperti itu untukmu. Atau kau mau melakukan hal seperti di buku denganku?"

Dua pengawal yang berdiri di kedua sisi mobil menulikan pendengaran mereka. Tubuh keduanya yang tinggi dan tegap mampu membuat anak kecil menangis ketakutan. Alasan mengapa Xavier memanggil mereka bayangan sebab pengawalnya selalu berpakaian gelap dan berkulit gelap.

Xavier memilih penjaga bukan secara sembarangan, dia harus memastikan penjaga yang dia pilih tidak tampan atau harus terlihat menakutkan, karena dia tidak ingin ada yang mencuri perhatian gadis kecilnya. Meskipun dia tahu, belum ada pria yang bisa menyaingi ketampanannya.

Novel berjudul, “Yab-Yum Raja Iblis.” Merupakan buku dewasa yang berisi hubungan erotis karena dasar dari cerita adalah membahas hubungan Penyihir Cantik dan Raja Iblis yang sering berhubungan seks untuk mencapai tingkat sihir terkuat melalui penyatuan tubuh sesering mungkin.

Kenapa Paman harus mendapatkan bagian itu di saat pertama kali membuka buku?!

Keberuntungan yang buruk membawa akhir yang sial bagi Serena. Gadis itu harus menerima tubuhnya di himpit, merelakan bibirnya di gigiti sampai bengkak.

Mata kucingnya memerah, terlapisi kabut samar air mata, otaknya mulai tidak bisa berpikir rasional mengubah dirinya menjadi linglung.

Xavier menutup matanya, mundur ke tempat semula walaupun merasa enggan berpisah. Ekspresi linglung terselimuti gairah pada sepasang mata caramel Serena adalah titik lemah seorang Xavier Blard.

Dia harus menahan diri, setidaknya satu tahun lagi, tunggu sampai gadis kecilnya berusia genap tujuh belas tahun!

Serena mengancingkan kancing seragam yang di lucuti paksa oleh tangan kurang ajar Xavier. Wajahnya masih meninggalkan bekas rona merah, bibir cerinya membengkak dengan bagian sudut terluka setelah di gigit ganas.

Hidungnya samar-samar bisa mencium sisa aroma mint bercampur aroma berat yang sangat maskulinitas dari mulut Xavier.

"Jangan menampilkan ekspresi itu kepada laki-laki lain."

Serena mengangguk tanpa repot, "Em."

Puas dengan jawaban dari gadisnya, Xavier menggigit telinga kecil Serena, tubuh di depannya bergetar jelas, senyuman di wajah rupawannya semakin dalam, "Tunggu setelah pulang sekolah, Paman akan mengajakmu bermain sebentar."

Bab 3

Bel istirahat berbunyi nyaring meriuhkan anak-anak yang sudah muak menerima materi pembelajaran yang terasa teramat membosankan, hampir memecahkan kepala mereka.

Serena berjalan lambat, tangan kirinya di genggam oleh Naya— teman satu bangku yang sangat baik dan juga ceria. Gadis tersebut terlihat cantik setiap hari, memiliki sepasang gigi kelinci menggemaskan yang menjadi daya tarik unik tersendiri.

Keduanya belum lama kenal karena Serena adalah murid pindahan di semester akhir kelas sepuluh. Alasan dia pindah karena Pamannya cemburu dia pergi bersama pemuda dari kelas lain tanpa meminta ijin, Xavier memilih memindahkan gadis kecilnya.

Dia tidak ingin mengambil resiko.

Siapa yang tahu jika di masa depan, pemuda ingusan itu akan merebut gadis kecil darinya?

Naya menunjuk tempat duduk paling pojok dekat dengan jendela besar kantin, "Kau ingin makan di sana? Hari ini akan ada permainan basket antara Maxime dan Prince, mereka berdua adalah pemuda populer di kalangan anak kelas sepuluh. Jika kita duduk di sana, kita bisa melihat permainan mereka."

Serena mengangguk tanpa rewel, berjalan di belakang tubuh Naya, berusaha menyembunyikan dirinya dari tatapan banyak orang.

Wajah cantiknya ini bisa mendatangkan masalah. Kepala sekolah di SMA lama bahkan menjuluki dia sebagai “Kecantikan Pembawa Bencana”.

Semua di sebabkan banyaknya anak laki-laki membolos hanya untuk mengintip Serena Blard di kelas secara diam-diam.

Tidakkah mereka berpikir jika di masa depan nanti mereka memerlukan otak cerdas untuk bertahan hidup?!

Kepala Sekolah sampai bosan menceramahi anak-anak yang kerap membolos dengan alasan tak masuk akal, yaitu karena kecantikan adik kelas baru. Kepala Sekolah menahan diri untuk tidak memukul kepala barisan bocah dungu!

Naya kembali ke meja setelah mengambil dua nampan berisi makanan favorit masing-masing. Ia meletakan nampan di tangan kiri ke dekat Serena, "Ini, makanlah."

"Terima kasih."

"Sama-sama, oh ya, bagaimana buku novel yang aku berikan kemarin? Indah, bukan? Aku masih punya banyak di rumah, kalau kau mau, bilang saja, aku bisa membawakan banyak untukmu. Kau harus memperbanyak membaca sekaligus menambah ilmu tentang hubungan."

Tak kuasa membayangkan bagaimana reaksi Pamannya andai dia mengoleksi buku seperti itu. Serena memijat sisi keningnya, "Tidak perlu, yang kemarin sudah cukup. Namun aku merasa buku tersebut tidak cocok dengan seleraku."

Mencebikkan bibirnya kesal, Nayamemeluk leher putih Serena erat-erat, tidak berpikir bahwa pelukannya bisa mencekik orang dalam waktu kurang dari lima menit. "Kau terlalu polos! Berapa umurmu? Apa kau tidak pernah punya kekasih?"

"Tidak ada, Pamanku melarang aku berpacaran, aku masih kecil." Balasnya enteng, mulai melakukan aktivitas makan dengan damai.

Mau tak mau Naya menyerah, mengangkat kedua bahunya acuh kemudian menyantap makanan kesukaannya. Mereka berdua terlibat percakapan menyenangkan meskipun Naya adalah pihak yang lebih aktif dan Serena sebagai pendengar yang baik.

"Ey! Lihat! Tim dari Maxime dan Prince sudah datang ke lapangan!" Naya berseru kegirangan, memeluk tubuhnya sendiri setelah melihat wajah tampan Prince. "Aiya! Ibuku pasti setuju jika aku menunjukkan foto Prince sebagai calon menantunya di masa depan!"

Menggeleng maklum, Serena melanjutkan makan, mendengar semua pekikan Naya serta anak perempuan lain di kantin dengan tabah dan sabar. Setampan apapun mereka, menurutnya, masih tampan Pamannya.

Paman tidak hanya tampan, tapi juga mempunyai aura dominasi yang kuat dengan pesona maskulinitas sempurna. Anak laki-laki di sekolah menjadi terlihat tidak terlalu tampan di mata Serena Blard.

Naya mengguncang bahu temannya, sungguh kewalahan akibat serangan visual ketampanan. "Prince lihat ke sini! Lihat ke sini! Aku mendukungmu, sayang!"

Serena mulai jengah, dia meletakan sumpit ke atas meja. Menopang dagunya malas, melihat pemandangan ramai orang-orang di halaman sekolah dimana lapangan basket berada. Saat ini dia berada di kantin lantai dua. Setidaknya dia bisa melihat secara jelas wajah tampan yang di sebutkan Naya.

Yang satu mempunyai ciri khas dengan kulit sedikit kecoklatan unik, sedangkan yang satunya lagi tampan menjorok pada kesan cantik seolah pemuda tersebut baru saja keluar dari komik-komik elektronik.

Oh? Ternyata cukup tampan, tapi masih belum setampan Xavier Blard.

Serena terus memandangi lapangan melalui kaca kantin, mata malasnya setengah tertutup, mulut kecilnya menguap lucu. Ia mengedipkan mata besarnya tiga kali, ketika titik fokusnya kembali, yang dia lihat adalah pemuda tampan berkulit putih yang dia sebut seperti pemuda komik, menatap dia?

Ataukah dia salah paham?

Namun jelas-jelas pemuda itu memandang tepat ke wajahnya?

Tidak mungkin. Mereka saja tidak kenal satu sama lain.

Di belakang, Naya meloncat senang, kedua tangannya terkepal ke atas menunjukan kemenangan mutlak yang baru saja dia dapatkan. "Dia memandang kemari! Dia melihat ke sini! Doaku langsung terjawab! Akh! Inikah tanda yang di berikan oleh takdir jika aku dan dia berjodoh di masa depan?"

Sudut mulut Serena berkedut, iris caramelnya melirik Naya miris, seolah sedang memandang anak anjing yang berusaha mendapatkan daging dari seekor anak harimau. Hampir mustahil untuk mendapatkan apa yang di impikan.

Pemuda bermata sipit dan manis berlari memeluk Prince dari belakang, dia adalah Liu Chen, salah satu siswa pertukaran antar negara di progam pertukaran siswa asing. "Yo! Kita menang!"

"Mm."

Liu Chen menaikan satu alisnya, bingung mendapatkan respon acuh seakan kemenangan mereka bukan apa-apa. "Apa yang salah?" Tanyanya heran.

Prince menggeleng, kepalanya mendongak sekali lagi, "Aku menemukan hal menakjubkan." Dia berkata lembut.

Mengikuti arah tatapan kawannya, Liu Chen mendongak menatap kaca yang menampilkan sorak-sorai anak perempuan dari kantin lantai dua. Sebagai playboy, mata sipitnya mengedip menggoda, "Kecantikan mana yang bisa membuatmu terpikat?"

"Dia baru saja pergi. Ada sesuatu yang menarik darinya."

"Menarik dalam hal apa? Selama ini kau selalu menolak semua perasaan dari anak perempuan, menggertak mereka ketika mulai merasa risih, aku sempat mengira kau menyukai sesama jenis. Untung saja dugaanku tidak benar, karena aku tidak mau kau menyukai aku."

Prince menatap Liu Chen tajam, dari tatapannya, orang-orang bisa menafsirkan sebuah tanda, “Anjing Tolol.”

Di tempat lain, Serena berjalan menyusuri lorong, istirahat kali ini cukup panjang di karenakan guru-guru sedang membahas rapat mengenai penetapan tanggal ujian semester akhir.

Anak perempuan di dalam kamar mandi menyapa Serena dengan senyuman ramah, di ikuti anak gadis lain yang kebetulan sedang berada di kamar mandi untuk mencuci muka sekalian membicarakan gosip seru yang sedang berkembang di sekolah.

Salah satu rumor yang masih populer saat ini adalah murid pindahan baru di kelas sepuluh, siapa lagi kalau bukan Serena Blard. Paras cantiknya memikat banyak kaum adam, di tambah proporsi tubuhnya yang sempurna, sifatnya lembut dan ramah walau terkadang acuh tak acuh.

"Hei, hei, lihat gadis Serena, sekarang banyak kakak kelas sangat membenci dia karena terlalu cantik." Ucap salah satu gadis berambut merah tua.

Gadis berambut hitam sebahu mengoleskan bedak di wajahnya, ikut terjun ke dalam topik, "Betul, tapi sesuatu yang aneh terjadi, entah ini benar atau tidak, tapi ketika ada kakak kelas yang berusaha menggertak gadis Blard, keesokan harinya kakak kelas itu langsung tidak masuk sekolah beberapa hari, tidak ada hujan tidak ada angin, langsung pindah dari sekolah ini begitu saja."

"Ah!" Si rambut coklat tua menimpali bersemangat, "Itu benar, bukan saja kakak kelas yang sempat menggertak itu keluar dari sekolah, bahkan mereka seperti orang gila yang terus meraung meminta di lepaskan dan berteriak kepada semua orang untuk menjauh seolah sedang melihat hantu."

Bisik-bisik orang lain di depan cermin tidak bisa menganggu Serena, dia sudah tahu siapa yang melakukan semua itu. Siapa lagi jika bukan Paman? Tidak orang lain yang sangat sensitif ketika dia di tindas di sekolah.

Telapak tangan mungilnya menadahi air bersih, kemudian membasuh muka sebentar sebelum mengeringkan kedua tangannya menggunakan tisu.

Ketika dia menarik gagang pintu, wajah cantiknya menoleh ke belakang, menatap tiga anak perempuan di depan cermin yang sibuk bergosip lagi. Dia tidak tahu kenapa, dia tiba-tiba berujar lembut, "Lebih baik kalian diam jika kalian tidak ingin menjadi yang selanjutnya."

Tiga anak perempuan yang asik berdandan sambil bergosip merinding seketika. Jantung mereka berdetak kencang, wajah cantik terpolesi riasan tidak mampu menutupi kecemasan yang terpampang jelas.

"Dia bilang apa tadi?"

"Tutup mulutmu! Aku sangat takut!"

"Lain kali jangan bergosip tentang dia! Kakak kelas yang sudah menggertaknya keseluruhan berakhir tidak menyenangkan! Jangan sampai kita menjadi yang selanjutnya!"

Serena belum beranjak pergi dari area kamar mandi, tubuh tingginya bersandar di dekat pintu besi. Dia hendak pergi meninggalkan area pintu, tetapi lengannya di tahan.

"Tunggu dulu."

"Kau—" Serena ingat wajah ini. Bukankah ini pemuda di lapangan basket? Prince kalau tidak salah?

"Siapa namamu?"

Menarik pergelangan tangannya, Serena menujuk peniti berisi nama siswa yang tercantum di jas sekolah, "Kamu bisa membaca ini, kan?"

"Serena Blard."

"Itu aku."

"Apa kau punya saudara perempuan?"

"Saudara perempuan?" Bibir tipisnya menggumam ragu. Ia melanjutkan dengan suara lembut namun acuh, "Tidak, aku putri tunggal dari mendiang orang tuaku. Mengapa kau bertanya seperti itu?"

Menatap lurus pada iris caramel lawan bicaranya, Prince menjawab setengah berbisik, "Bagaimana jika aku mengatakan ada satu perempuan berwajah sangat mirip denganmu... "

"... Di rumah sakit jiwa Lilac."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED