Bab 1

Fina Alvera menatap dirinya sendiri di kaca rias dengan ekspresi setengah malas, setengah bosan. Kacamata besar yang selalu menempel di hidungnya seakan menjadi perisai dari dunia luar. Rambutnya yang sebahu dibiarkan acak-acakan, tidak ada tatanan khusus, seperti refleksi hidupnya sendiri: sederhana, tanpa pamrih, dan sedikit acuh pada penampilan.

"Fina, modelnya sudah siap. Kau ikut makeup-an sekarang?" suara asisten studio terdengar di belakang.

Fina menghela napas panjang. Ia tahu hari ini akan panjang, penuh dengan tekanan. Meski ia seorang makeup artist yang andal, setiap peragaan busana selalu membuatnya merasa terjebak dalam dunia yang bukan miliknya. Dunia glamor, kamera, dan sorotan lampu panggung bukanlah tempat Fina merasa nyaman. Ia lebih suka berada di balik layar, melihat hasil karyanya menghiasi wajah orang lain, tanpa harus tampil di depan orang banyak.

Dengan langkah malas tapi pasti, ia mendekati kursi model. Tangan Fina cekatan menata foundation, eye shadow, dan lipstik dengan presisi yang membuat banyak orang terkagum. Namun, di balik kemampuan profesionalnya itu, ada sisi Fina yang selalu bertanya: "Apakah semua ini sepadan dengan energi yang kuberikan?"

Sejak ibunya meninggal saat Fina baru berusia lima belas tahun, hidupnya berubah drastis. Ayahnya menikah lagi tidak lama setelah itu, meninggalkan Fina dengan rasa sepi yang ia bungkus rapat-rapat. Sekolah, kerja paruh waktu, dan tanggung jawab rumah tangga menjadi teman sehari-hari Fina. Ia tumbuh mandiri, tapi juga menutup diri dari kehangatan yang terlalu dekat. Cinta dan perhatian? Itu adalah hal-hal yang ia pelajari dari jauh, melalui buku atau televisi.

Peragaan busana hari ini berbeda. Desainer ternama, Ibu Valeria, sedang mempersiapkan koleksi terbaru untuk debutnya di kota besar. Fina sudah bekerja dengannya selama tiga tahun terakhir, dan setiap kali Ibu Valeria meneleponnya, ada getaran tegang di dada Fina. Ibu Valeria bukan wanita biasa. Ia cerdas, tegas, dan punya cara sendiri untuk menilai seseorang-seringkali membuat Fina merasa kecil, meski dalam hal kemampuan makeup, Fina selalu di atas rata-rata.

Saat Fina selesai merapikan lipstik model terakhir, Ibu Valeria muncul di pintu studio, wajahnya serius tapi tenang. "Fina," panggilnya. Nada suara itu membuat jantung Fina berdebar. Tidak ada desainer yang pernah memanggilnya dengan nada seperti itu kecuali ketika ada hal penting, kadang menakutkan.

"Hari ini, aku ingin bicara sedikit di luar studio," lanjut Ibu Valeria. Fina menelan ludah, mengikuti langkah desainer itu ke ruang privat.

Begitu pintu tertutup, Ibu Valeria menatap Fina dengan mata tajam. "Fina, kau tahu aku menghargai bakatmu. Kau selalu profesional, cekatan, dan kreatif. Tapi aku di sini bukan untuk membicarakan pekerjaan. Aku ingin membicarakan sesuatu yang lebih... pribadi."

Fina menatapnya bingung. "Pribadi, Bu? Maksud Ibu?"

Ibu Valeria menghela napas. "Fina... aku ingin kau menikahi cucuku."

Kata-kata itu membuat Fina terdiam. Seolah dunia berhenti berputar sejenak. Ia menatap desainer itu, mencoba menangkap nada bercanda atau serius, tapi tidak ada celah untuk keraguan.

"Maaf, Bu... maksud Ibu?" Fina mencoba terdengar tenang, meski jantungnya berdegup kencang.

"Iya, kau tidak salah dengar. Cucu ku-Radion Ardhya. Aku ingin kau menjadi calon istrinya."

Fina menelan ludah lagi. Rasanya seluruh dunia seperti runtuh dalam hitungan detik. Bagaimana mungkin seorang wanita seperti dirinya-hidup sederhana, acuh pada penampilan, dan penuh luka masa lalu-diminta menikahi cucu seorang desainer ternama, yang tentu saja sosoknya sudah menjadi idola banyak wanita?

"Bu... ini serius?" Fina hampir berbisik.

Ibu Valeria mengangguk. "Sangat serius. Dan yang lebih penting, Radion juga setuju."

Fina menatap mata Ibu Valeria, mencoba mencerna informasi itu. Bagaimana mungkin? Ia bahkan belum pernah bertemu Radion secara langsung. Ia merasa dunia menertawakannya, menguji kesabarannya.

Keesokan harinya, pertemuan dengan Radion pun terjadi di rumah Ibu Valeria. Fina datang dengan kacamata besarnya, rambut acak-acakan, dan sikap defensif. Ia merasa canggung berada di ruangan mewah yang penuh furnitur antik, lukisan, dan aroma parfum mahal.

Radion, yang berdiri di depannya, tampak tenang tapi karismatik. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan mata yang tajam, tapi ada kesedihan tersembunyi yang membuatnya berbeda dari pria tampan lainnya. Ia tersenyum sekilas pada Fina.

"Fina, ya?" suara Radion rendah, tapi penuh perhatian. "Aku dengar banyak tentangmu dari nenek."

Fina membalas dengan anggukan hati-hati. "Iya... Radion."

Mereka duduk, berbicara, tapi percakapan terasa canggung. Radion sopan, tapi ada jarak yang jelas di antara mereka. Fina menyadari bahwa meski ia digadang-gadang menikahi pria tampan ini, cinta bukanlah dasar yang mengikat mereka.

"Kenapa nenek memilihmu untukku?" Radion tiba-tiba bertanya, matanya menatap jauh ke luar jendela. "Aku sudah terlalu tua untuk menunggu lagi. Kau... kau yang kedua puluh lima, Fina. Menurut nenek, kau cocok."

Fina terkejut. "Kedua puluh lima?"

Radion mengangguk. "Ya. Aku rasa ini hanya formalitas, tapi aku ingin kau tahu posisi kita dari awal. Tidak ada romantisme, tidak ada cinta. Hanya... perjodohan."

Fina menelan ludah. Perasaan campur aduk memenuhi dirinya. Antara takut, bingung, dan entah mengapa ada sedikit rasa penasaran tentang pria ini yang seakan memiliki dunia sendiri.

Hari-hari berikutnya, Fina mulai terbiasa dengan rutinitas baru. Setiap pertemuan dengan Radion terasa seperti latihan menghadapi dunia yang tidak familiar. Mereka makan bersama, berbincang sebentar, dan kadang hanya diam di ruang yang sama. Radion tetap menutup dirinya, sementara Fina berusaha tidak terlalu terlihat gugup.

Namun, ada satu hal yang Fina sadari: Radion bukan pria biasa. Ada trauma yang tersembunyi, luka yang belum sembuh, dan sebuah kerinduan pada hal yang hilang. Fina merasa tertantang untuk mengenal sisi lain dari pria itu, meski ia tahu batasan mereka jelas-perjodohan, formalitas, dan kesepakatan neneknya.

Sampai suatu malam, saat Fina tengah membersihkan kuas makeupnya, ponsel bergetar. Pesan dari Radion muncul: "Bisa kita bicara sebentar? Di balkon rumah nenek."

Fina menatap layar, hatinya berdegup kencang. Ia tahu ini bukan pesan biasa. Dengan ragu tapi penasaran, ia berjalan menuju balkon, dan melihat Radion berdiri di sana, menatap langit malam yang penuh bintang.

"Fina..." suara Radion lirih, hampir seperti bisikan. "Aku... tidak tahu kenapa, tapi aku ingin kau tetap di sini. Bukan hanya karena perjodohan. Aku... merasa nyaman denganmu."

Fina terdiam, tidak percaya. Kata-kata itu berbeda dari sikap formal yang selalu ditunjukkannya. Ada kehangatan yang tiba-tiba muncul, membuat dada Fina berdebar tak menentu.

Malam itu, mereka berdua berdiri diam di bawah sinar bulan, tidak berbicara banyak, hanya merasakan kehadiran satu sama lain. Fina tahu, perjodohan yang mereka jalani bisa saja berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit-atau mungkin, sesuatu yang bisa mereka sebut... awal dari cinta.

Tapi, apakah dua hati yang dipertemukan bukan karena pilihan sendiri, bisa bertahan menghadapi kenyataan dan luka masa lalu? Fina menatap Radion, mencoba menangkap sinyal dari pria yang terlihat begitu sempurna tapi penuh misteri itu. Dan ia sadar, perjalanan mereka baru saja dimulai.

Suara langkah kaki di atas marmer bergema di aula rumah besar keluarga Ardhya. Rumah itu terlalu mewah untuk ukuran siapa pun, bahkan untuk orang yang terbiasa dengan kemewahan. Setiap sudutnya dipenuhi pajangan kristal, lukisan berbingkai emas, dan bunga segar yang selalu berganti setiap hari. Namun bagi Fina, rumah itu terasa asing. Dingin.

Sudah tiga hari ia tinggal di rumah Ibu Valeria setelah kesepakatan pernikahan ditandatangani di hadapan notaris. Tiga hari pula ia berusaha menyesuaikan diri dengan suasana rumah yang penuh tata krama tapi minim kehangatan. Semua orang di rumah itu memperlakukannya dengan sopan-terlalu sopan, sampai-sampai terasa seperti jarak tak kasat mata yang membatasi setiap geraknya.

Pagi itu, Fina berdiri di depan cermin besar di kamar tamu yang kini menjadi kamarnya. Ia menatap bayangan dirinya yang tampak canggung dalam balutan gaun sederhana berwarna krem. Rambutnya kali ini diikat rapi atas permintaan Ibu Valeria. Kacamata besar masih bertengger di hidungnya-sesuatu yang tak akan ia lepaskan meski semua orang bilang itu membuatnya "kurang feminin".

Ketika bel berbunyi, ia hampir menjatuhkan sisir dari tangannya. Ia tahu siapa yang datang.

Radion.

Ia datang menjemput untuk sesi makan siang keluarga-pertemuan pertama mereka di depan para kerabat besar keluarga Ardhya.

Fina menegakkan tubuh. Ia tidak tahu kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu dalam diri pria itu-Radion-yang selalu membuatnya tidak nyaman sekaligus penasaran. Ia mengetuk pelan dadanya sendiri, mencoba menenangkan diri.

Pintu kamar diketuk. "Fina, kau siap?" suara dalam nada bariton terdengar dari balik pintu.

"Iya... sebentar."

Ketika pintu dibuka, Radion berdiri di sana dengan setelan jas abu-abu lembut, dasi hitam yang terikat sempurna, dan tatapan mata yang tenang tapi menusuk.

"Kau tidak harus terlihat gugup," ujarnya tanpa senyum. "Ini cuma makan siang keluarga."

"Kalimatmu barusan malah bikin aku tambah gugup," jawab Fina pelan, tapi jujur.

Sudut bibir Radion sedikit terangkat, entah mengejek atau tersenyum samar. "Ayo."

Mobil hitam mereka meluncur ke arah restoran hotel mewah tempat keluarga besar sudah menunggu. Di sepanjang perjalanan, Fina lebih banyak diam, menatap keluar jendela, sementara Radion sibuk dengan ponselnya. Hening yang kaku memenuhi kabin mobil.

Baru setelah sepuluh menit, Fina memberanikan diri bicara. "Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana nanti. Aku bukan orang yang terbiasa dengan acara formal seperti itu."

Radion menatapnya sekilas. "Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri."

"Itu mudah diucapkan, tapi tidak semudah dilakukan di depan orang-orang yang menilai dari cara duduk dan nada bicara," sahut Fina, lalu menunduk.

Radion menatapnya lebih lama kali ini, lalu meletakkan ponsel di pangkuannya. "Kalau mereka bertanya kenapa aku setuju menikah denganmu, jawab saja karena aku lelah menolak."

Fina mengerutkan kening. "Itu alasanmu?"

"Itu jawaban paling jujur yang bisa kutawarkan."

Ada jeda panjang setelah itu. Tidak ada yang berbicara lagi hingga mobil berhenti di depan pintu hotel.

Begitu mereka melangkah ke ruang makan VIP, semua kepala menoleh ke arah mereka. Fina bisa merasakan tatapan-tatapan menilai dari sepupu-sepupu Radion dan tante-tante elegan yang duduk berderet rapi di meja panjang. Ibu Valeria tersenyum ramah dari ujung meja, mempersilakan mereka duduk.

"Fina sayang, duduklah di sebelah Rai."

Fina mematuhi, menatap piring porselen di depannya dengan gugup. Sementara itu, suara bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara para tamu.

"Dia makeup artist itu, ya?"

"Cantik sih, tapi... agak terlalu polos untuk keluarga ini."

"Kasihan Rai, mungkin neneknya terlalu memaksa."

Fina pura-pura tidak mendengar, tapi pipinya mulai memanas.

Radion, di sisi lain, tampak tenang-tenang saja. Ia bahkan sempat menyesap air mineralnya dengan santai, seolah semua komentar itu tak berarti.

Namun, saat salah satu sepupunya-seorang wanita muda dengan gaun merah menyala-tersenyum sinis dan berkata, "Kau tahu, Fina, di keluarga ini biasanya calon istri diuji dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. Hanya untuk memastikan... dia benar-benar pantas," Fina hampir kehilangan kendali.

Tapi sebelum ia sempat menjawab, Radion menatap wanita itu dengan tajam. "Dan siapa yang memutuskan pantas atau tidak? Kau?"

Ruangan mendadak sunyi. Sepupunya hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk dengan serbet.

Fina menatap Radion, sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya, ia melihat pria itu membelanya tanpa ragu. Ada sesuatu yang aneh merambat di dadanya-campuran lega dan rasa hormat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Setelah makan siang usai, Fina keluar terlebih dahulu untuk menghirup udara segar di balkon hotel. Ia merasa perlu mengatur napas setelah jam panjang yang penuh tatapan dan komentar tersirat.

Langit mulai mendung. Angin sore berembus pelan, mengibaskan rambutnya yang lepas dari ikatan. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi suara langkah di belakang membuatnya menoleh.

Radion berdiri di sana, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Kau baik-baik saja?"

Fina tersenyum tipis. "Definisi 'baik-baik saja' agak luas, tapi... aku masih bernapas."

Radion mendekat, berhenti satu langkah darinya. "Kau tidak harus memikirkan omongan mereka."

"Aku tidak memikirkannya," jawab Fina cepat, lalu menatap langit lagi. "Aku hanya belum terbiasa berada di tengah orang yang menatapku seperti proyek gagal."

Radion diam beberapa detik sebelum berkata pelan, "Mereka menilai karena mereka tidak tahu apa-apa tentangmu."

Fina tertawa kecil, tapi getir. "Dan kau tahu banyak tentangku?"

"Belum," jawabnya jujur. "Tapi aku ingin tahu."

Fina terdiam. Untuk pertama kalinya, kata-kata pria itu terdengar bukan seperti formalitas, tapi keinginan nyata. Ia menoleh, menatap mata Radion, dan untuk sepersekian detik, waktu terasa melambat. Ada sesuatu di sana-tatapan yang tidak lagi datar dan dingin seperti biasanya.

Namun momen itu terputus ketika ponsel Radion bergetar. Ia menatap layar sejenak, lalu wajahnya berubah. "Aku harus pergi. Ada urusan kantor."

Begitu cepat. Tanpa penjelasan, tanpa janji.

Fina hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Ia tahu, pernikahan mereka nanti tidak akan mudah. Dan hari itu menjadi pengingat betapa jauh jarak antara kenyataan dan dongeng pernikahan yang sering ia lihat di film.

Malam harinya, Fina duduk sendirian di kamar, di depan meja rias yang sama sekali tidak ia sentuh hari ini. Di atas meja, ada amplop putih berisi undangan pernikahan yang baru saja dicetak. Nama mereka tertera di sana dengan tinta perak yang mengilap.

"Serafina Alvera & Radion Ardhya."

Ia menelusuri huruf-huruf itu dengan jari. Terasa dingin. Seperti hatinya sekarang.

Pernikahan ini bukan tentang cinta, pikirnya. Tapi tentang takdir yang dipaksa bertemu di titik yang salah.

Pintu kamar diketuk pelan. Ketika Fina membuka, Ibu Valeria berdiri di ambang pintu dengan senyum lembut yang berbeda dari biasanya.

"Boleh Ibu masuk?"

"Tentu, Bu."

Ibu Valeria duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Fina yang masih menggenggam amplop undangan. "Kau tampak ragu."

Fina tersenyum hambar. "Mungkin karena aku belum sepenuhnya mengerti mengapa semua ini harus terjadi secepat itu."

Ibu Valeria menatapnya dalam-dalam. "Rai sudah terlalu lama menutup diri. Aku tidak ingin dia menua sendirian. Dan ketika aku melihatmu bekerja, aku tahu... kau punya ketulusan yang bisa menyembuhkan seseorang tanpa harus bicara banyak."

Kata-kata itu menyentuh hati Fina, tapi juga membuatnya takut. Ia tidak ingin menjadi "obat" untuk luka orang lain. Ia sendiri masih belajar menyembuhkan luka dalam dirinya.

"Bu..." Fina ragu-ragu, "bagaimana kalau ternyata aku bukan orang yang tepat untuknya?"

Ibu Valeria tersenyum. "Tidak ada yang tepat di awal, Fina. Tapi dua orang bisa belajar untuk menjadi tepat... kalau mereka mau berjuang bersama."

Keesokan paginya, Fina bangun lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di depan jendela, menatap halaman luas yang diselimuti kabut pagi. Hari ini jadwal pemotretan prewedding mereka.

Ia mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, sementara Radion-yang datang setengah jam kemudian-tampak rapi dalam kemeja putih dan celana abu-abu muda.

Pemotretan berlangsung di taman rumah keluarga. Fotografer berulang kali meminta mereka untuk lebih "romantis", tapi semuanya terasa canggung.

"Coba lebih dekat, Pak Radion," kata fotografer. "Tangan di pinggang calon istri, mungkin bisa saling tatap."

Radion menatap Fina, tapi bukan tatapan yang hangat-lebih seperti tatapan bingung, tidak tahu bagaimana harus bersikap.

"Kalau aku menatapmu lebih lama, kau tidak akan kabur kan?" ucapnya tiba-tiba.

Fina tersenyum tipis. "Kalau aku kabur, siapa yang mau kau nikahi?"

Tawa kecil keluar dari bibir Radion, dan fotografer langsung mengabadikan momen itu. Klik kamera terdengar, dan entah bagaimana, senyum yang muncul di wajah mereka terlihat paling tulus sejak pertama kali mereka bertemu.

Saat sesi hampir selesai, awan mendung bergulung di langit. Tetes hujan pertama jatuh di bahu Fina, diikuti gerimis yang cepat berubah menjadi hujan deras. Semua orang berlarian mencari tempat berteduh.

Namun Fina tetap berdiri di tengah taman, membiarkan air hujan mengguyur wajahnya. Rasanya seperti cuci bersih dari segala kekakuan yang mengekangnya selama ini.

Radion yang sudah di bawah atap menatapnya dari kejauhan, lalu mendekat perlahan. Ia mengambil jasnya, lalu menyampirkannya di bahu Fina.

"Kau bisa sakit," katanya pelan.

"Aku baik-baik saja," jawab Fina, tapi suaranya bergetar.

Radion menatapnya lama, lalu berkata dengan nada yang nyaris tak terdengar di bawah deras hujan, "Aku tidak tahu kenapa... tapi setiap kali aku melihatmu, aku merasa seperti menemukan sesuatu yang dulu hilang."

Fina menatapnya, hujan menetes dari ujung rambutnya, dan tanpa sadar, ia tersenyum. "Mungkin karena aku juga sedang berusaha menemukan diriku sendiri."

Hujan terus turun, tapi untuk pertama kalinya sejak perjodohan itu dimulai, udara di antara mereka tidak lagi dingin.

Ada keheningan baru-keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan. Seolah dua hati yang terluka perlahan mulai belajar berdetak dalam irama yang sama.

Dan entah bagaimana, Fina tahu: pernikahan ini mungkin memang dimulai tanpa cinta, tapi bukan berarti cinta tidak bisa tumbuh di dalamnya.

Bab 2

Tiga hari setelah pemotretan prewedding, rumah besar keluarga Ardhya terasa lebih sunyi dari biasanya. Seolah seluruh dindingnya menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan. Fina bangun lebih pagi, seperti biasa, tapi kali ini bukan karena jadwal kerja atau tekanan dari Ibu Valeria. Ia hanya tidak bisa tidur.

Mimpi buruk menghantuinya semalaman-tentang dirinya berdiri sendirian di altar pernikahan, sementara semua orang menatap dengan wajah kecewa. Ia berkeringat ketika terbangun, lalu duduk diam di tepi tempat tidur, menatap cincin pertunangan di jarinya.

Sederhana, tapi berat.

Ia berjalan ke dapur, membuat secangkir teh chamomile. Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Suara itu ia kenali-langkah yang tenang, mantap, tapi tidak terburu-buru.

"Pagi," sapa suara bariton itu.

Radion muncul di ambang pintu, mengenakan kaus putih polos dan celana olahraga. Rambutnya sedikit berantakan, tapi entah kenapa, justru di saat paling sederhana seperti ini, ia terlihat lebih manusiawi.

"Pagi," jawab Fina pelan.

"Kau tidak tidur?"

"Tidak banyak."

Radion mengangguk, lalu mengambil cangkir dan menuang kopi hitam untuk dirinya sendiri. Tidak ada percakapan selama beberapa menit berikutnya. Hanya suara sendok yang beradu dengan cangkir dan hembusan angin pagi yang masuk melalui jendela.

Hening yang anehnya terasa nyaman.

Setelah beberapa waktu, Fina memberanikan diri membuka suara. "Rai... boleh aku tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kenapa kau... mau menerima perjodohan ini?"

Radion berhenti mengaduk kopinya. Matanya terarah ke cairan hitam itu, seolah di sana ada jawaban yang sulit diungkapkan. "Karena aku lelah," katanya pelan. "Lelah ditanya kapan menikah, lelah melihat nenek kecewa setiap kali aku menolak, lelah dengan ekspektasi orang."

Fina menatapnya, lalu berkata, "Tapi itu alasan untuk menyerah, bukan untuk memulai sesuatu."

Kalimat itu membuat Radion menatapnya balik. Ada sedikit kejutan di wajahnya, tapi juga rasa kagum yang samar. "Kau berani juga berbicara seperti itu padaku."

"Aku hanya jujur," jawab Fina, mengangkat bahu. "Aku tidak ingin jadi pelarian seseorang dari rasa lelah. Aku ingin... kalau kita menikah, setidaknya ada alasan yang lebih bermakna dari sekadar tuntutan keluarga."

Radion diam lama. "Kau benar," ucapnya akhirnya. "Tapi mungkin... aku belum tahu alasan itu sekarang. Aku hanya tahu, entah kenapa, aku tidak menyesal menerimamu."

Kata-kata itu menimbulkan keheningan baru di antara mereka. Bukan keheningan yang dingin seperti dulu, melainkan keheningan yang membuat dada Fina terasa sesak dengan perasaan yang belum bisa ia namai.

Hari itu, Fina memutuskan kembali bekerja. Ia mendapat tawaran untuk menjadi makeup artist tamu di salah satu studio pemotretan milik temannya. Walau Ibu Valeria sempat menegur karena khawatir Fina terlalu sibuk menjelang pernikahan, Fina bersikeras tetap bekerja.

"Kalau aku berhenti sekarang, aku akan kehilangan diriku sendiri, Bu," katanya waktu itu.

Dan benar, begitu tangannya kembali memegang kuas, Fina merasa seperti pulang. Di depan cermin, wajah-wajah model menjadi kanvas untuk seninya. Tidak ada gosip, tidak ada tekanan keluarga-hanya warna, cahaya, dan detail yang harus disempurnakan.

Tapi saat istirahat siang, ketika Fina mengambil air di pantry studio, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti.

"Eh, kau tahu, kan? Radion Ardhya itu dulu hampir menikah."

"Aku dengar calon istrinya kecelakaan sebelum hari H."

"Kasihan sih... tapi katanya setelah itu dia berubah total. Jadi dingin dan tertutup."

Fina berdiri di balik dinding, tubuhnya menegang. Kata "kecelakaan" terngiang di telinganya. Jadi itu alasannya.

Ia meneguk ludah, menahan napas, lalu perlahan mundur. Tidak ingin mendengar lebih jauh, tapi bayangan wajah Radion tadi pagi terus muncul di pikirannya. Tatapan kosongnya ketika bicara tentang "kelelahan"-mungkin ada sesuatu yang jauh lebih dalam di balik kata itu.

Malamnya, hujan turun lagi. Petir sesekali menyambar, membuat langit bergetar. Fina berdiri di balkon kamarnya, menatap kilatan cahaya di kejauhan. Pikirannya tak bisa lepas dari obrolan siang tadi.

Ia ingin bertanya langsung pada Radion, tapi bagaimana? Mereka bahkan belum benar-benar dekat.

Tiba-tiba, suara pintu balkon di sebelah terbuka. Rupanya balkon kamarnya dan balkon kamar Radion hanya dipisahkan oleh dinding batu setinggi pinggang.

"Tidak bisa tidur lagi?" suara Radion terdengar dari sisi lain.

Fina tersenyum kecil. "Kau juga?"

"Petirnya terlalu keras."

Mereka berbicara tanpa saling melihat. Hanya dua siluet di bawah hujan, dipisahkan oleh dinding, disatukan oleh malam.

"Rai," panggil Fina hati-hati. "Boleh aku tanya sesuatu lagi?"

"Tanya saja."

"Orang bilang... kau pernah hampir menikah."

Hening sesaat. Hanya suara hujan yang menjawab.

Lalu suara Radion pelan, seperti bisikan. "Iya. Namanya Alisya."

Fina menunduk, jemarinya meremas pagar balkon. "Maaf kalau aku terlalu jauh..."

"Tidak apa."

Suara itu terdengar serak, tapi tidak marah.

"Dia meninggal dua minggu sebelum pernikahan kami," lanjutnya. "Kecelakaan mobil. Aku seharusnya ikut malam itu, tapi aku batal karena rapat mendadak. Aku pikir aku menyelamatkan waktu... ternyata aku kehilangan segalanya."

Fina menahan napas. Hujan yang jatuh di wajahnya terasa seperti air mata yang tidak sempat ia keluarkan.

"Aku tidak pernah bicara tentang itu ke siapa pun," kata Radion lagi. "Bahkan ke nenek. Aku kira kalau aku diam, rasa sakitnya akan hilang. Tapi nyatanya, diam hanya membuatku tenggelam lebih dalam."

Fina memejamkan mata. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menghapus rasa bersalah seperti itu.

"Aku mengerti," ucapnya akhirnya, lembut. "Aku kehilangan ibuku saat SMA. Tidak sama, aku tahu. Tapi aku paham bagaimana rasanya bangun setiap hari dan menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak bisa kita ubah."

Di sisi lain dinding, Fina mendengar napas Radion tertahan. "Kau... benar-benar mengerti."

"Mungkin karena kita sama-sama rusak," jawab Fina setengah bercanda, tapi suaranya parau.

"Tapi rusak bukan berarti tidak bisa diperbaiki," balas Radion, kali ini dengan nada lebih hangat.

Fina menoleh. Di sisi lain, Radion menatapnya dari balik hujan, senyum tipis terukir di bibirnya.

Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak menyakitkan untuk dilihat.

Beberapa hari kemudian, keluarga Ardhya mengadakan acara makan malam dengan media untuk mengumumkan tanggal pernikahan resmi mereka. Restoran mewah di pusat kota didekorasi elegan dengan bunga putih dan lilin kristal.

Fina datang mengenakan gaun hitam sederhana, rambutnya disanggul setengah, riasannya natural tapi menonjolkan sorot matanya yang lembut. Semua orang menatapnya, kali ini bukan dengan sinis, tapi dengan rasa ingin tahu.

Radion, di sisi lain, tampak menawan dalam setelan biru tua. Ia menuntun Fina masuk ke ruangan dengan tenang, seperti pria yang tahu apa yang ia lakukan.

Flash kamera menyambar. Wartawan bertanya tentang cinta, tentang rencana, tentang kebahagiaan. Dan untuk pertama kalinya, Fina bisa menjawab tanpa ragu.

"Hubungan kami mungkin dimulai dengan perjodohan, tapi saya percaya cinta bisa tumbuh kalau dua orang mau saling menghormati."

Kalimat itu membuat suasana hening sejenak sebelum tepuk tangan kecil terdengar dari meja tamu. Ibu Valeria menatapnya dengan bangga, sementara Radion menoleh ke arahnya, menatap dalam diam.

"Bagus sekali kau menjawab itu," bisiknya pelan setelah sesi wawancara usai.

Fina tersenyum. "Aku belajar dari seseorang yang dulu takut bicara tentang masa lalunya."

Radion menatapnya lama, lalu menghela napas kecil. "Kau membuatku ingin memulai semuanya dari awal."

Malam semakin larut. Setelah acara selesai, mereka pulang ke rumah bersama. Di dalam mobil, suasana tidak lagi kaku. Musik lembut dari radio mengisi ruang, dan Fina bisa merasakan udara di antara mereka lebih ringan.

"Fina," kata Radion tiba-tiba. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk tidak menyerah padaku."

Fina tertawa kecil. "Aku belum sempat menyerah. Kita bahkan belum mulai."

Radion ikut tersenyum. "Kalau begitu, bisakah kita mulai sekarang?"

Fina menoleh, menatapnya. Tidak ada canda dalam nada suaranya. Hanya ketulusan yang perlahan menggantikan dingin yang dulu membalut setiap kata.

Ia mengangguk pelan. "Kita mulai dari nol, Rai."

Mobil berhenti di depan rumah. Hujan sudah reda. Bau tanah basah bercampur dengan udara malam yang segar.

Radion membuka pintu, lalu menunggu Fina keluar. Saat ia menutup pintu di belakangnya, Radion berkata pelan, "Kau tahu, sejak malam hujan itu di balkon... aku berhenti merasa sendirian."

Fina menatapnya, senyum tipis di bibirnya. "Dan aku berhenti merasa tidak cukup."

Mereka tidak berpelukan, tidak bergandengan tangan. Tapi langkah mereka masuk ke rumah malam itu terasa seperti dua jalan yang akhirnya bersinggungan setelah berbelok terlalu jauh.

Untuk pertama kalinya, rumah besar itu tidak terasa asing lagi. Lampunya hangat. Udara di dalamnya tidak lagi dingin.

Dan di hati Fina, ada bisikan lembut yang berkata bahwa mungkin, hanya mungkin, cinta benar-benar bisa tumbuh bahkan dari awal yang tidak sempurna.

Hujan turun deras sore itu. Butiran air memantul di kaca besar apartemen mewah milik Rai, membentuk irama yang anehnya menenangkan. Serafina duduk di lantai ruang tamu, bersandar di sofa sambil menatap jendela. Di depannya, secangkir cokelat panas yang sudah dingin dan buku catatan terbuka-namun pikirannya entah melayang ke mana.

Sudah seminggu sejak pernikahan mereka. Namun suasana di apartemen itu lebih mirip seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi atap. Tidak ada pertengkaran, tidak ada juga kehangatan. Semua berjalan datar-dingin, seperti warna dinding putih abu-abu yang mendominasi ruangan.

Rai hampir selalu pulang larut. Kadang tengah malam, kadang menjelang pagi. Alasannya selalu sama: pekerjaan. Dan Fina tidak pernah berani bertanya lebih. Ia tidak ingin terlihat seperti istri posesif yang menginterogasi suami, padahal ia sendiri bahkan belum tahu apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap pria itu.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Ibu Valeria muncul di layar.

"Besok pagi ada pemotretan khusus untuk majalah Harper Mode. Rai juga akan hadir untuk wawancara singkat. Pastikan kamu ikut dan bantu tim makeup, ya."

Fina menarik napas pelan. Wajahnya menegang sejenak. "Rai juga akan hadir?" gumamnya.

Ini akan jadi pertama kalinya mereka terlihat bersama di depan publik setelah pernikahan. Bukan sebagai klien dan makeup artist, tapi sebagai pasangan sah.

Fina tahu dunia mode tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk privasi. Sekali berita pernikahan mereka bocor, semua orang akan menguliti alasan di baliknya.

Ia menutup buku catatannya, berdiri, dan berjalan menuju kamar. Apartemen itu sepi sekali. Lampu-lampu gantung menyala lembut, menciptakan bayangan di dinding. Ia melangkah perlahan, membuka pintu kamar-kamar mereka. Tapi tempat tidur besar itu hanya berantakan di satu sisi. Sisi Rai.

Di sisi lainnya, bantal dan selimut Fina masih rapi.

Ia sudah terbiasa tidur di sofa.

Keesokan paginya, Fina datang lebih awal ke studio pemotretan. Ia sibuk menata alat-alat makeup, memeriksa pencahayaan, dan menyiapkan foundation yang cocok dengan warna kulit model utama. Ia berusaha sibuk agar pikirannya tidak berkelana pada satu sosok tertentu.

Namun takdir seperti ingin menggodanya. Ketika pintu studio terbuka, suara langkah berat bergema di lantai marmer.

"Pagi."

Nada suaranya dalam, datar, khas Radion Ardhya.

Fina terhenti, menatap pantulan Rai lewat cermin. Ia mengenakan setelan abu gelap yang membuatnya terlihat berwibawa, namun wajahnya dingin tanpa ekspresi.

"Pagi," jawab Fina pelan, cepat menunduk lagi.

Rai berjalan mendekat, berhenti di belakangnya. Ia menatap meja rias penuh alat kosmetik itu sejenak, lalu menatap refleksi mereka berdua di cermin. "Kamu tidur di rumah?"

Fina membeku. "Iya. Kenapa?"

"Karena aku pulang jam dua pagi, tapi nggak lihat kamu di kamar."

"...Aku tidur di sofa," jawabnya lirih, tangannya gemetar ringan saat mengaduk kuas di wadah air.

Rai tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dan berbalik pergi, meninggalkannya dengan perasaan campur aduk yang sulit diartikan. Dingin. Tapi ada sesuatu dalam tatapan matanya tadi yang tidak bisa Fina abaikan-seolah ia ingin bicara tapi menahan diri.

Pemotretan dimulai pukul sepuluh. Model-model cantik berbaris dengan busana dari koleksi terbaru Ibu Valeria. Lampu sorot menyala terang, kamera memotret cepat, dan semua orang tampak sibuk. Fina fokus pada pekerjaannya, memastikan setiap detail riasan sempurna.

Namun sesekali, matanya menangkap sosok Rai yang berdiri di sisi ruangan, berbicara dengan pewawancara majalah. Ia tampak tenang, karismatik, dan profesional. Seolah bukan pria yang setiap malam menatap langit-langit kamar tanpa bicara sepatah kata pun.

Saat sesi foto berakhir, wartawan mulai bergerak ke arah mereka.

Salah satu reporter mendekat, tersenyum ramah pada Fina.

"Permisi, Bu Serafina? Boleh foto berdua dengan suaminya sebentar untuk artikel keluarga Ibu Valeria?"

Fina membeku. Ia menatap Rai yang juga menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu-canggung, kaku, tapi tidak bisa dihindari.

Rai melangkah ke sampingnya.

Dengan satu gerakan ringan, ia merangkul bahu Fina.

Cahaya kamera menyala. Klik. Klik. Klik.

Sorot lampu memantul di wajah mereka yang tampak sempurna di luar, tapi berjarak di dalam.

"Sedikit lebih dekat, Pak Rai," pinta fotografer.

Rai menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Fina saat berbisik, "Kita harus kelihatan bahagia, kan?"

Nada suaranya datar tapi menusuk.

Fina tersenyum-senyum yang terasa seperti topeng. "Tentu. Ini bagian dari naskah hidup kita."

Klik. Klik. Foto terakhir diambil.

Begitu sesi berakhir, Fina langsung menjauh. Jantungnya berdegup cepat tanpa alasan.

Ia tidak menyangka hanya sekadar pelukan pura-pura bisa membuat tubuhnya begitu kaku.

Rai memandanginya sejenak sebelum berkata pelan, "Kamu kelihatan gugup."

"Aku cuma nggak suka difoto."

"Kamu makeup artist. Kamu setiap hari berhadapan dengan kamera."

"Beda," jawab Fina cepat, lalu berbalik sambil membereskan alatnya.

"Kalau di depan kamera, aku bukan aku."

Rai terdiam lama mendengar kalimat itu. Ada sesuatu di balik suara Fina yang membuatnya berpikir: mungkin mereka berdua sama-dua orang yang bersembunyi di balik peran masing-masing.

Sore menjelang ketika mereka akhirnya pulang bersama. Hujan sudah berhenti, langit berwarna jingga keemasan. Dalam mobil, hanya suara mesin yang terdengar. Fina duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela, sementara Rai fokus menyetir tanpa banyak bicara.

Namun di tengah jalan, tiba-tiba Rai menepi.

Ia mematikan mesin, lalu berkata tanpa menatap Fina, "Turun sebentar."

"Hah? Kenapa?"

"Udara sore bagus. Kita jalan sebentar."

Fina memandangnya ragu. Tapi kemudian, entah karena lelah menolak, ia membuka pintu dan keluar. Mereka berdiri di trotoar tepi taman kecil, pepohonan meneteskan sisa hujan. Suasana senja itu terasa aneh-damai tapi juga rapuh.

Rai memasukkan tangannya ke saku. "Aku tahu kamu nggak nyaman dengan situasi ini."

Fina menoleh cepat. "Situasi apa?"

"Pernikahan ini."

Kalimat itu meluncur tenang tapi berat.

Fina terdiam.

"Aku juga nggak tahu kenapa setuju waktu Oma menawarkannya," lanjut Rai, suaranya pelan. "Mungkin karena aku capek menolak. Atau mungkin karena aku pikir, menikah dengan seseorang yang tidak menuntut apa-apa justru lebih aman."

Fina menggigit bibir bawahnya. "Aku juga nggak tahu kenapa aku mau. Mungkin karena aku terbiasa kehilangan, jadi ketika seseorang menawarkan tempat untuk kembali... aku nggak punya alasan menolak."

Kata-kata itu menggantung di udara, lembut tapi menyesakkan.

Rai menatapnya lama. "Kamu nggak harus merasa terikat. Kalau nanti kamu ingin pergi, aku-"

"Jangan bicara seolah kamu ingin aku pergi," potong Fina pelan tapi tajam.

Ia menatap Rai lurus-lurus. "Kalau kamu memang nggak mau aku di sini, kenapa nggak bilang sejak awal?"

Rai tidak menjawab. Matanya menatap tanah, hujan kecil kembali turun membasahi rambut mereka.

"Kadang," Fina melanjutkan, suaranya bergetar, "orang yang paling ingin kita jauhi justru orang yang paling kita butuhkan untuk menyembuhkan bagian diri yang rusak."

Ia berbalik, berjalan kembali ke mobil tanpa menunggu jawaban.

Malam itu, apartemen terasa berbeda. Fina baru keluar dari kamar mandi ketika mendengar suara dentingan dari dapur. Ia berjalan pelan dan mendapati Rai sedang berdiri di sana, menggulung lengan kemejanya, menata dua mangkuk ramen instan di meja.

"Aku nggak bisa tidur," katanya tanpa menoleh. "Kupikir, masak sesuatu bisa bantu."

Fina berdiri di ambang pintu, setengah tak percaya. "Kamu... masak?"

"Kalau masak mie instan bisa disebut masak, ya."

Nada sarkastiknya berhasil membuat Fina tersenyum tipis. Ia mendekat, duduk di kursi bar. Uap panas dari mie naik, aroma gurihnya memenuhi dapur.

Rai mendorong satu mangkuk ke arahnya. "Makanlah sebelum dingin."

Fina menatapnya, lalu mengangkat sumpit. "Kamu tahu, ini pertama kalinya seseorang masak untukku sejak Mama meninggal."

Rai berhenti makan, pandangannya berubah lembut sejenak. "Serius?"

Fina mengangguk. "Aku biasanya makan sendirian. Dulu, di kosan, aku cuma makan roti atau sisa bekal kerja."

Rai menatapnya lama, lalu menunduk lagi. "Berarti aku sudah melakukan satu hal benar hari ini."

Keheningan itu tidak lagi terasa menekan. Untuk pertama kalinya, mereka makan tanpa kata, tapi juga tanpa jarak.

Setelah makan, Fina membereskan mangkuk, tapi Rai menahannya.

"Biar aku."

"Biasanya cowok nggak suka cuci piring."

"Aku bukan cowok biasanya," jawabnya pendek, membuat Fina terkekeh kecil.

Ia bersandar di meja, memperhatikan Rai mencuci piring. Cahaya lampu dapur menyorot wajahnya yang terlihat jauh lebih santai dari biasanya.

"Rai," panggil Fina pelan.

"Hm?"

"Kalau suatu hari kamu jatuh cinta lagi, apa kamu akan bilang padaku?"

Rai berhenti menggosok piring, bahunya menegang. Ia tidak menatap Fina. "Kenapa kamu tanya begitu?"

"Karena aku ingin tahu apakah aku harus siap untuk ditinggalkan."

Rai menatap air mengalir di wastafel. "Aku nggak janji bisa mencintai kamu sekarang," katanya akhirnya. "Tapi aku janji, kalau aku pergi, aku akan bilang jujur."

Fina tersenyum kecil, pahit tapi tulus. "Itu lebih dari cukup."

Malam itu mereka kembali ke kamar masing-masing-namun untuk pertama kalinya, keduanya tidur dengan perasaan yang tidak lagi kosong.

Di luar, hujan reda.

Langit malam menggantung tenang, dan di antara kesunyian itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh-pelan, ragu, tapi nyata.

Sebuah benih kecil bernama rasa percaya.

Bab 3

Hari Senin pagi itu terasa berbeda. Matahari menembus tirai jendela apartemen, menyinari meja makan yang kini tidak lagi sepi. Aroma roti panggang bercampur dengan kopi hitam memenuhi ruangan.

Serafina berdiri di dapur, mengenakan hoodie kebesaran milik Rai yang ia temukan tergantung di kursi. Ia tidak tahu kenapa memilih itu, mungkin karena hangatnya kain itu membuatnya merasa aman.

Rai keluar dari kamar dengan rambut sedikit berantakan, kemeja abu terbuka di bagian atas, dan ekspresi setengah ngantuk. Melihat pemandangan itu, ia sempat tertegun.

"...Kamu pakai bajuku?" tanyanya datar.

Fina berhenti mengoles selai ke roti. "Kebetulan nyaman."

"Nyaman karena lembut atau karena pemiliknya?" tanya Rai, kali ini dengan nada menggoda yang jarang sekali ia gunakan.

Fina pura-pura tidak dengar, tapi rona merah di pipinya menjawab sendiri. "Sarapan sudah siap. Kamu mau kopi atau teh?"

"Kopi. Tanpa gula," jawab Rai, duduk di kursi sambil menatapnya lekat. "Kamu bangun lebih pagi dari biasanya."

"Aku harus ke butik Ibu Valeria. Ada fitting mendadak untuk pagelaran busana minggu depan."

Rai mengangguk. "Aku antar."

Fina mendongak cepat. "Nggak usah. Aku bisa naik ojek."

"Serius?" Rai menaikkan alis. "Kamu istriku. Orang-orang di kantor nenek bakal pikir aku suami yang nggak tanggung jawab kalau biarin kamu naik ojek panas-panasan."

"Justru karena kamu suami yang terlalu sibuk, mereka nggak akan heran kalau aku datang sendiri," balas Fina, kali ini tersenyum kecil.

Rai terdiam, lalu menghela napas. "Kamu selalu punya jawaban, ya."

"Kalau nggak begitu, aku nggak akan bertahan hidup selama ini."

Ucapan itu membuat ruangan sejenak hening. Rai menatap gadis di depannya, wanita yang selama ini ia anggap lembut dan penurut ternyata menyimpan kekuatan yang bahkan dirinya pun sulit pahami.

Di butik milik Ibu Valeria, suasana seperti biasa sibuk. Para model berlalu-lalang, kain berwarna-warni memenuhi ruangan, dan suara mesin jahit bercampur dengan aroma parfum mewah.

Fina tengah memeriksa hasil riasan seorang model ketika suara lembut namun berwibawa menyapanya.

"Serafina, sayang."

Ia menoleh cepat. Ibu Valeria berdiri di ambang pintu, dengan gaun berwarna lavender dan senyum khas yang selalu mampu membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya.

"Selamat pagi, Bu." Fina segera menghampiri dan mencium tangan wanita itu.

"Bagaimana rumah tanggamu dengan Rai? Sudah mulai akrab, hm?" tanya Valeria, nada suaranya seolah sekadar basa-basi, tapi sorot matanya tajam, penuh penilaian.

Fina menelan ludah. "Kami berusaha, Bu."

"Berusaha," ulang Valeria pelan, senyum tipis di bibirnya. "Cinta memang butuh waktu. Tapi jangan lupa, pernikahan kalian bukan hanya urusan perasaan. Nama keluarga Devabrata ada di pundakmu juga."

Fina menunduk. "Saya paham, Bu."

"Bagus." Valeria menepuk lembut bahunya. "Kau gadis pintar, Fina. Tapi ingat, dunia mode ini keras. Kalau kau ingin tetap di sisinya, jangan cuma jadi bayangan."

Ucapan itu menusuk seperti jarum halus. Fina tahu maksudnya - jangan sampai Rai tampak sendiri di depan publik, sementara ia hanyalah 'istri di atas kertas'.

Siang harinya, saat istirahat, Fina duduk di taman belakang butik. Ia membuka bekal sederhana yang ia bawa dari rumah - nasi, telur dadar, dan sayur bening. Saat baru hendak menyuap, suara familiar menghentikannya.

"Masih suka bawa bekal?"

Fina menoleh cepat. Seorang pria berdiri di sana - tinggi, berkulit sawo matang, dengan senyum yang dulu pernah membuatnya jatuh hati.

"Rico?" gumamnya tak percaya.

"Masih inget." Rico duduk di bangku sebelahnya tanpa diundang. "Aku kira kamu udah lupa sama mantan yang pernah jadi korban ghosting kamu."

Fina terbatuk. "Jangan bercanda. Kita putus karena kamu yang pergi."

Rico tertawa kecil. "Waktu itu aku dapat tawaran kerja di luar kota. Aku pikir kamu terlalu sibuk buat hubungan jarak jauh."

"Dan kamu bahkan nggak pamit."

"Yah, aku salah." Rico mengangkat tangan seolah menyerah. "Tapi sekarang aku balik ke Jakarta. Jadi pengarah gaya di sini."

"Di butik ini?" Fina menatapnya terkejut.

"Yup. Valeria mau proyek baru, dan aku bagian koordinasi tim wardrobe. Dunia kecil, ya?"

Fina mengangguk pelan. Dunia ini memang kejam - terutama ketika mempertemukanmu dengan masa lalu yang belum sepenuhnya kau tutup.

Rico menatap wajahnya lama. "Kamu kelihatan beda sekarang."

"Dalam arti apa?"

"Dulu kamu ceria. Sekarang... lebih dingin."

Fina menunduk, berusaha tersenyum. "Mungkin karena hidup nggak lucu lagi."

Rico menatap cincin di jarinya, lalu berujar pelan, "Jadi kabar itu benar? Kamu nikah sama cucunya Ibu Valeria?"

Fina tidak menjawab.

"Kamu cinta dia?"

Pertanyaan itu seperti peluru yang menembus dada. Fina terdiam cukup lama sebelum berkata, "Aku bahkan belum tahu apakah aku bisa mencintai seseorang lagi."

Rico menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. "Kalau suatu hari kamu butuh teman bicara, aku masih sama kayak dulu - gampang diajak ngobrol, susah dilupakan."

Fina tertawa kecil. "Kamu nggak pernah berubah."

"Dan kamu... masih bikin aku pengen tinggal lebih lama."

Sore itu, Fina pulang dengan kepala penuh pikiran. Ia masuk ke apartemen, meletakkan tas, dan langsung menyalakan lampu ruang tamu. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sudah duduk di sofa - Rai.

Ia tidak menyangka pria itu sudah di rumah. Biasanya jam segini, Rai masih di kantor.

"Cepat pulang?" tanya Fina hati-hati.

"Ada yang perlu kita bicarakan." Rai menatapnya lurus, suaranya berat tapi tenang.

Fina menelan ludah. "Tentang apa?"

Rai melemparkan selembar foto ke meja. Di dalamnya, jelas terlihat Fina sedang duduk di taman butik... bersama Rico.

"Siapa dia?"

Fina menatap foto itu, lalu menatap Rai. "Teman lama."

"Teman?" Rai menyipitkan mata. "Dari cara dia menatap kamu, itu bukan teman."

Nada suaranya tidak marah - tapi dinginnya membuat jantung Fina berdebar tak karuan. "Kamu memata-matai aku?"

"Aku nggak perlu memata-matai siapa pun. Orang-orang di sekitar Valeria cukup loyal. Mereka tahu aku nggak suka kejutan."

"Dan kamu pikir ini pengkhianatan?" suara Fina meninggi sedikit. "Aku bahkan nggak tahu kalau dia kerja di sana!"

Rai bangkit dari sofa, mendekat perlahan. Tatapannya menusuk, membuat Fina refleks mundur satu langkah.

"Aku cuma pengen tahu," katanya pelan. "Kamu masih punya perasaan ke dia?"

Pertanyaan itu membuat udara di antara mereka membeku. Fina bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia tidak menyangka Rai akan cemburu - atau mungkin hanya merasa terganggu karena reputasinya terancam.

"Kalau aku bilang iya," jawab Fina akhirnya, "apa kamu akan peduli?"

Rai menatapnya lama, lalu menghela napas dan berjalan pergi tanpa menjawab.

Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan Fina berdiri sendirian dengan rasa sesak yang tak bisa dijelaskan.

Keesokan harinya, suasana di butik terasa tegang. Rumor tentang "istri cucu Devabrata yang makan siang dengan pria lain" sudah beredar cepat di kalangan staf. Fina berusaha tetap fokus, tapi bisik-bisik itu terus mengikuti langkahnya.

Saat ia sedang menata alat makeup, Rico muncul lagi. "Kamu oke?"

"Gosip cepat banget, ya?" Fina tersenyum miris.

"Dunia mode nggak pernah adil. Orang lebih suka cerita buruk daripada hasil kerja bagus," ucap Rico, menatapnya iba.

Fina menunduk, "Aku udah terbiasa jadi bahan omongan."

"Tapi kamu nggak sendirian." Rico menatapnya serius. "Kalau mereka nyakitin kamu, aku di sini."

Fina hendak menjawab, tapi tiba-tiba suara berat dari arah pintu membuat keduanya menoleh.

"Sepertinya aku datang di waktu yang menarik."

Rai berdiri di sana. Jas hitam, kemeja rapi, tapi mata dingin seperti salju. Para staf langsung berpura-pura sibuk, suasana berubah kaku seketika.

"Radion," panggil Rico, nada suaranya tegang tapi sopan.

"Rico Adnanta, bukan?" Rai menatapnya dengan senyum tipis yang tidak ramah. "Aku pernah dengar namamu."

"Ya. Kita belum sempat berkenalan." Rico mengulurkan tangan, tapi Rai tidak menggubrisnya.

"Fina, aku tunggu di mobil," katanya singkat sebelum berbalik dan pergi.

Rico menatap Fina, wajahnya penuh kekhawatiran. "Dia marah."

"Biarin." Fina menghela napas panjang. "Aku juga capek menjelaskan hal yang dia nggak mau dengar."

Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Hanya suara hujan tipis dan radio yang nyaris tak terdengar. Fina duduk menatap jendela, sementara Rai menyetir dengan wajah tegang.

Sesampainya di apartemen, Rai langsung melepas jas dan duduk di sofa, menatap langit-langit seolah mencari jawaban.

"Kamu tahu kenapa aku marah?" tanyanya pelan.

"Karena kamu takut orang lain tahu pernikahan ini cuma pura-pura?" balas Fina.

Rai menatapnya. "Bukan. Karena aku sadar aku nggak suka lihat kamu dengan orang lain."

Fina tertegun.

"Aku nggak tahu apa ini cinta atau cuma obsesi bodoh. Tapi setiap kali lihat dia di dekat kamu, aku ngerasa sesuatu yang nyakitin," lanjut Rai, suaranya pelan tapi jujur. "Dan aku benci ngerasa kayak gini."

Fina menatapnya lama, lalu berjalan mendekat. Ia berjongkok di depannya, menatap mata pria itu dari jarak sangat dekat.

"Mungkin itu bukan benci," katanya pelan. "Mungkin kamu cuma takut kehilangan sesuatu yang belum sempat kamu pahami."

Rai menatapnya tanpa kata. Tatapan itu berubah - lebih lembut, lebih jujur, tapi juga lebih berbahaya.

Tangan mereka bersentuhan, tanpa sengaja. Detik itu, keheningan menjadi lebih berat dari kata-kata.

Malam turun perlahan. Fina berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota. Angin membawa aroma hujan dan rasa yang belum punya nama.

Dari dalam, terdengar langkah kaki mendekat. Rai berdiri di belakangnya, membawa dua cangkir teh hangat.

"Masih marah?" tanyanya.

"Sedikit."

"Kalau begitu, aku minta maaf." Rai menyerahkan teh padanya. "Aku nggak punya hak buat ngatur hidupmu. Aku cuma... nggak suka cara dia lihat kamu."

Fina menatap teh di tangannya, lalu menatap Rai. "Kamu tahu nggak, Rai? Kadang aku bingung. Kamu bisa sangat dingin, tapi sekaligus bikin aku sulit bernapas."

Rai tersenyum samar. "Kamu pun begitu, Fina. Di satu sisi kamu lembut, di sisi lain kamu keras kepala. Mungkin itu alasan kenapa aku masih di sini."

Mereka berdiri dalam diam, menikmati teh masing-masing. Tapi di antara kepulan uap, ada sesuatu yang berubah - bukan cinta, bukan juga sekadar simpati.

Sebuah pengakuan diam-diam: mereka mulai saling peduli, tanpa berani mengatakannya.

Dan di bawah langit yang masih basah oleh sisa hujan,

dua hati yang sebelumnya hanya berpura-pura perlahan belajar bagaimana rasanya benar-benar hidup berdampingan.

Hujan sore itu turun dengan derasnya. Butiran air menari di atas atap kaca studio, memantulkan cahaya redup lampu yang menggantung di langit-langit. Fina menatap dari balik jendela besar, secangkir kopi hitam di tangannya sudah mendingin. Di meja kerja, kuas-kuas makeup berantakan bersama beberapa palet warna yang belum sempat dibersihkan.

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian di rumah keluarga Ardhya-sejak pertemuan memalukan itu di mana dirinya dan Rai harus berakting sebagai pasangan yang harmonis di hadapan Ibu Valeria. Namun, entah mengapa, sejak hari itu komunikasi mereka semakin aneh.

Rai, yang biasanya dingin, justru kini sering muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Seperti kemarin, ketika Fina sedang makan bakso di pinggir jalan, pria itu tiba-tiba muncul dan duduk di bangku sebelahnya, menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku cuma mau memastikan kamu makan," katanya datar waktu itu.

Dan sekarang, Fina mulai bingung apakah pria itu benar-benar peduli atau sekadar ingin mengawasinya.

Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu studio. Fina menoleh cepat, jantungnya langsung berdegup lebih kencang.

"Ngomong-ngomong soal iblisnya," gumamnya pelan.

Rai berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitam yang masih basah di bagian bahu. Rambutnya sedikit berantakan, ada titik-titik air hujan yang menetes dari ujung poni ke pipinya. Ia tampak seperti keluar dari iklan parfum mahal-tapi Fina tidak akan mengakui itu, bahkan di bawah ancaman sekalipun.

"Kamu basah-basahan lagi?" tanya Fina tanpa menatap.

Rai tidak menjawab, hanya berjalan pelan ke arahnya, menatap meja berantakan yang penuh alat rias.

"Kamu kerja sendirian?"

"Iya. Asistennya sakit."

"Harusnya kamu pulang. Udah malam."

"Dan siapa kamu sampai bisa nyuruh aku pulang?" balas Fina cepat.

Rai menatapnya sejenak sebelum menarik kursi dan duduk. "Suami kamu."

"Pernikahan ini cuma formalitas. Ingat?" Fina mendengus.

"Tetap aja. Formalitas juga sah di mata hukum."

Fina menghela napas berat, meneguk kopinya yang sudah dingin. "Kamu nggak capek pura-pura peduli?"

Rai tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri, berjalan ke arah rak kaca tempat Fina menyimpan foto-foto hasil riasan klien. "Aku nggak pura-pura," ucapnya tenang. "Aku cuma nggak tahu gimana caranya berhenti memperhatikan kamu."

Kata-kata itu membuat Fina spontan menoleh. "Apa?"

Namun Rai sudah berbalik, ekspresinya datar kembali. "Kamu punya payung?"

"Punya. Kenapa?"

"Aku antar pulang."

"Terima kasih, tapi aku bisa sendiri."

Rai menatapnya lama, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan keluar. Fina menatap punggungnya yang menjauh, dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, ada sesuatu yang terasa berat di dadanya.

Di mobil, Fina menatap jendela yang dipenuhi embun. Rai menyetir dalam diam. Radio menyala pelan, memainkan lagu lama dari Adele.

"Kenapa kamu tiba-tiba datang ke studionya?" tanya Fina akhirnya.

"Karena kamu belum pulang."

"Dari mana kamu tahu?"

"Ada pelacak di mobil kamu."

"Apa?!" Fina hampir menjerit. "Kamu masang pelacak?!"

"Tenang." Rai tetap tenang. "Oma yang nyuruh. Dia khawatir kamu sering lembur sendirian."

Fina mendengus keras. "Oma kamu terlalu banyak nonton sinetron."

Rai menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Mungkin. Tapi beliau sayang kamu."

"Kamu juga?" goda Fina spontan, tanpa berpikir.

Rai terdiam. Suasana di dalam mobil langsung hening.

Fina menatap ke luar lagi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai panas. "Lupakan."

Mobil berhenti di depan apartemen. Rai turun lebih dulu, membuka payung dan menunggu di sisi pintu. Fina ragu sejenak sebelum keluar. Hujan masih deras, dan langkah mereka di bawah payung terasa canggung-seolah-olah ada sesuatu di antara mereka yang sedang tumbuh tapi belum sempat diberi nama.

Sesampainya di depan pintu apartemen, Fina menoleh. "Mau mampir?" tanyanya setengah bercanda.

Rai menatapnya lama, hujan menetes di ujung dagunya. "Kalau aku bilang iya?"

Fina tersenyum miring. "Kamu nggak akan tahan lihat isi apartemenku yang kayak kapal pecah."

"Aku udah lihat yang lebih berantakan."

"Oh ya?"

"Hati aku."

Fina nyaris tersedak udara. Ia menatap Rai, tidak yakin apakah itu candaan atau serius. Tapi pria itu hanya menatap balik dengan wajah datar, lalu menunduk sedikit. "Selamat malam, Fina."

Dan tanpa menunggu balasan, ia pergi.

Fina masih berdiri di depan pintu selama beberapa menit, menatap punggung Rai yang semakin jauh. Entah kenapa, hatinya terasa aneh-hangat, tapi juga kacau.

Keesokan paginya, Fina terbangun karena suara ketukan di pintu. Ia membuka mata dengan malas, rambut acak-acakan, kaos lusuh, dan wajah tanpa riasan.

"Siapa pagi-pagi begini..." gumamnya sambil berjalan tertatih ke arah pintu.

Begitu pintu dibuka, Fina langsung menyesal.

Rai berdiri di sana, dengan jas abu-abu rapi, memegang sekotak makanan.

"Pagi," sapanya datar.

"Pagi?" Fina mengucek mata. "Kamu jam berapa bangun? Dunia aja belum siap ngelihat wajahku pagi-pagi."

"Makanya aku bawa sarapan."

"Untukku?"

"Untuk kita."

Fina menatapnya dengan bingung saat Rai masuk begitu saja, meletakkan kotak makanan di meja makan kecilnya.

"Ngapain kamu ke sini?"

"Ngisi waktu."

"Kamu nggak kerja?"

"Libur."

"Dan kamu milih datang ke sini?"

Rai mengangguk. "Aku pikir kita harus mulai belajar jadi pasangan sungguhan."

Kata-kata itu membuat Fina terdiam. Ia menatapnya lama, mencoba membaca ekspresi wajah pria itu. Tapi Rai tetap sama-tenang, sulit ditebak.

"Kenapa baru sekarang kamu ngomong kayak gitu?"

"Karena Oma mulai curiga. Katanya, kamu kelihatan nggak bahagia."

"Dan kamu peduli?"

"Lebih dari yang kamu kira."

Suara itu begitu lembut hingga Fina hampir tak bisa membalas. Hening melingkupi ruangan kecil itu. Rai membuka kotak makanan-nasi goreng buatan sendiri. Fina tertegun.

"Kamu masak?"

"Ya. Kenapa?"

"Kelihatannya kayak hasil percobaan kimia."

"Tapi enak."

"Kita lihat nanti."

Mereka makan dalam diam. Fina berusaha menahan senyum saat menyadari rasanya benar-benar enak, tapi tentu saja, ia tidak akan mengakuinya. Rai menatapnya, seolah tahu apa yang dipikirkannya.

"Gimana rasanya?"

"Bisa dimakan."

"Itu pujian?"

"Itu fakta."

Rai tertawa kecil. Suara tawanya dalam dan hangat, membuat Fina hampir melupakan bahwa mereka menikah tanpa cinta.

Hari berjalan lambat. Setelah makan, Rai membantu membereskan dapur, sementara Fina memandangi punggungnya dari jauh. Entah sejak kapan, perasaan asing itu mulai tumbuh di dadanya.

Malam sebelumnya, ia berpikir Rai hanyalah pria yang terlalu serius, tapi kini ia mulai melihat sisi lain-seseorang yang tenang, perhatian, dan diam-diam peduli.

Saat Rai pamit, Fina hanya bisa menatap punggungnya lagi, seperti semalam. Namun kali ini, sebelum menutup pintu, Rai menoleh dan berkata pelan,

"Fina, mulai besok aku bakal jemput kamu kerja."

"Untuk apa?"

"Supaya aku punya alasan buat lihat kamu tiap pagi."

Pintu tertutup perlahan. Fina berdiri mematung, lalu menepuk dadanya sendiri.

"Ya Tuhan... jangan bilang aku mulai jatuh cinta sama orang aneh itu."

Namun senyum yang muncul di wajahnya sulit ia sembunyikan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED