Tok.. tok.. tok..
bunyi ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Nada, dia bergegas membuka pintu kamarnya meskipun enggan.
"Eh Mitha, ada apa mit?".
Yang datang adalah teman satu jurusan dengan Nada namanya Mita
"Tadi pas aku mau masuk kos, di bawah ada bapak nganter makanan, katanya buat kamu" sambil menyodorkan kresek yang lumayan besar pada Nada.
"Tapi aku gak pesen, ini merek ayam terkenal lagi, mana ada uang aku Mit". Kata Nada saat melihat kresek berlogo orang tua berbaju merah dan berambut putih.
"Katanya buat kamu kok, lagian udah dibayar, masa dikembalikan?. Udah ambil aja. Aku ke kamar ya udah ngantuk". Mita kemudian berbalik dan meninggalkan Nada yang masih kaget.
Kresek itupun terpaksa dibawa masuk dan diletakkan di meja. Dibukanya satu persatu makanan dalam kerdus itu. Ada nasi, ayam, burger, kentang goreng, puding dan masih ada 2 minuman Cola dan susu coklat.
Alis Nada mengkerut bagi dia makanan ini cukup banyak tentunya tidak murah juga, dia tidak berani makan, kalau bapak pengantar makanan itu kembali lagi dan bilang salah alamat gimana nasibnya. Saat akan memasukkan bungkusan itu ke kresek lagi Nada menemukan sebuah surat didalam kresek tersebut.
"Makananmu tadi jatuh di jalan, jangan keluar terlalu malam, selamat menikmati, Sam".
"Sam", siapa Sam? Kenapa dia mengirimmu makanan, otak Nada berfikir dengan cepat, dia lalu ingat, kejadian tadi berputar kembali ke ingatan nya, mungkinkan Sam itu adalah Bos geng copet itu? Tapi bagaimana dia tahu alamat kos Nada. Memikirkan hal ini Nada menjadi merinding rupanya dia sedang berurusan dengan orang yang menakutkan.
***
Seusai kuliah Nada dengan kedua temannya Mitha dan Saras hendak pergi meninggalkan ruangan kelas. Namun mendadak kelas menjadi ramai dan heboh. Alex, mahasiswa kedokteran yang tampan serta jago basket adalah pria idaman yang cukup populer di kampus mendadak masuk keruangan kelas mahasiswa ekonomi. Di dibelakangnya ada Jerry mahasiswa kedokteran juga satu angkatan dengan Alex dan merupakan sahabatnya.
Alex masuk ke ruangan kelas dengan santai langkahnya ringan namun pasti dan berhenti tepat di depan Nada. Semua orang yang merupakan mahasiswa ekonomi histeris, ada yang bersiul dan ada juga yang tepuk tangan.
Ekspresi Alex begitu santai, ia berbicara pada Nada,
"Kamu Nada kan?".
Nada bingung dengan situasi saat ini, dia tahu Alex mahasiswa kedokteran yang populer di kampus, tapi bagaimana Alex kenal dengan dirinya, dirinya bukan siapa-siapa juga bukan mahasiswi yang populer juga. "Iya..". Nada menjawab sambil tersenyum garing.
Kemudian Alex menyodorkan sebuah amplop coklat dan memberikan pada Nada,
"Titipan dari Sam, terimalah". Katanya singkat.
Semua orang menjadi semakin histeris dan ruangan menjadi semakin gaduh, banyak yang berfikir bahwa Alex menyukai Nada dan memberikan surat cinta. Meskipun mereka mendengar bahwa itu titipan dari orang lain, pikiran mereka tetap saja menyangka Alex sedang pendekatan pada Nada.
Nada mengambil amplop itu dan mengucapkan "Terima kasih".
Alex tersenyum dan langsung pergi dari ruangan itu.
Mitha dan Saras tentu saja kepo serta mendesak Nada membuka amplop itu.
Dengan ragu Nada pun tetap membukanya, didalamnya ada dua buah amplop kecil. Satu berisi uang lima juta rupiah, dan satu berisi surat.
Saras kemudian berkomentar "Nad, isinya uang Nad, uang asli lho, emang kenapa dia kirim uang ke kamu?".
"Mana aku tau" Nada kemudian membuka surat tersebut dan membacanya.
"Uang ini untuk ganti uang kamu yang kecopetan, Sam".
Sam... dia lagi...
"Wah Nada, dia mengembalikan uang kamu yang kecopetan ya?", sahut Mitha ikut senang dibuatnya.
"Tapi ini kan kebanyakan, bukannya cuma dua juta lima ratus, ini lima juta rupiah, dia mengembalikan dua kali lipatnya", Saras mengemukakan pendapatnya.
Mitha "Ambil saja sisanya, lumayan kan".
Saras "Jangan dong". Sanggah Saras yang tak setuju.
Mita, "udah gak papa, ambil aja".
Saras, "jangan, pokoknya jangan".
Mitha dan Saras berdebat dengan asiknya, sedangkan Nada menjadi sangat teramat bingung sekarang.
Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Nada, tapi untuk menjawab semua pertanyaan itu tentunya hanya Sam sendiri. Tunggu dulu bukannya amplop ini dari Alex, berarti Alex pasti kenal dengan Sam.
"Eh...eh... anterin ketemu Alex dong, dia pasti belum jauh ayo kita kejar" Nada kemudian berdiri dan menarik kedua temannya.
"Tunggu tunggu, buat apa cari Alex" Mita menahan tangan Nada yang akan berjalan mengejar Alex.
"Ya mau tanya siapa yang kirim uang ini, lagian ini kebanyakan aku mau kembalikan sisanya".
Mita jelas tidak setuju "Jangan dong, dia kan sudah kasih ke kamu ya kamu terima saja, mungkin sisanya adalah uang kerugian spikologis kali".
Saras juga ikut menimpali "Gak bisa gitu dong, tetap harus dikembalikan, itu namanya cewek matre".
Mitha, "udah Nada simpan saja".
Saras, "kembalikan".
Sekarang Nada tambah bingung apa yang harus dilakukan sekarang.
***
Beberapa hari ini Alex dan Jerry tidak muncul di kampus ini semua permintaan Sam. Dia takut Nada tidak menerima uang pemberiannya dan mengembalikan ke Alex.
Sehingga kedua temannya itu diminta bersembunyi dulu.
Beberapa hari terakhir Sam juga selalu di markas mereka dan jarang keluar kamar. Sam sering berdiri di depan kaca jendela kamarnya melihat lalu lalang kendaraan yang lewat depan bengkelnya.
Ya ini adalah sebuah bengkel motor dan tempat cuci sepeda motor dan mobil sekaligus markas geng Laut Hitam.
Saat datang ke kota Malang Sam membawa uang tunai tiga puluh lima juta rupiah dalam ranselnya, sengaja tidak membawa kartu agar orang tuanya tidak bisa melacak dia.
Setelah merebut kekuasaan kepala preman daerah Bumi Ayu dia menyewa rumah pinggir jalan untuk membuka bengkel dan cuci mobil, semua anggota preman yang lama kini menjadi anggota geng Sam dan bekerja di bengkel tersebut. Sejak saat itu Bumi Ayu menjadi tempat yang aman.
Setelah kejadian ciuman dengan Nada, Sam menjadi pendiam, pikirannya hanya tertuju pada Nada, dia mengutus Dito untuk mengawasi tempat kos Nada dan melaporkan jika ada masalah. Satu buah lagi anak buah Sam bernama Agus dia adalah detektif dunia Maya Sam, semua informasi Nada mulai dari Nama, siapa temannya, juga makanan kesukaannya didapatkan dari Agus. Adegan ciuman itu sangat membekas di hati Sam, setiap hari bahkan setiap menit adegan tersebut selalu berputar ulang dalam pikirannya.
***
Minggu pagi, ada sebuah tempat di belakang mall yang sangat ramai sekali orang berjualan, namanya pasar Minggu, bukannya tentu ketika hari Minggu saja. Biasanya banyak orang berolah raga kemudian sarapan disana, dan banyak juga orang yang sekedar jalan-jalan saja untuk cuci mata. Begitupun juga Nada, bersama Mita dan Saras mereka sengaja bangun pagi di hari Minggu tentunya untuk jalan-jalan.
Sampai disebuah kedai Nada mencoba beberapa bando di tempat tersebut, ada dua model yang disukainya, satu berwarna pink dengan hiasan strawberry dan kedua berwarna ungu dengan bunga yang mekar diatasnya. Keduanya sama-sama cantik. Nada mencobanya satu persatu di depan cermin. Kelihatannya suka dua duanya hingga sulit untuk memutuskan membeli yang mana.
Tanpa mereka sadari, ditempat yang tidak jauh dari sana Dito sibuk memegang hp dengan menyedot es teh di tangan satunya. Kamera handphone tentu saja mengarah pada Nada. Semua gerak-gerik Nada serta temannya terlihat jelas dalam panggilan Vidio call. Sejak di area masuk pasar Minggu, Sam sudah menyuruh Dito untuk melakukan panggilan Vidio Call, sebenarnya Sam ingin membuntuti Nada sendiri, entah mengapa Sam merasa sangat ingin dekat dengan Nada, tapi dia gugup dan takut salah tingkah sehingga meminta Dito untuk mengikuti Nada.
Sam melihat Nada kesulitan memilih bando yang akan dibelinya, setelah mencoba beberapa kali, kedua bando tersebut di letakkan kembali ke tempat asalnya dan Nada pergi dengan muka cemberutnya.
Sam mengerutkan dahi, entah apa yang dipikirkan Nada sehingga dia tidak jadi membelinya.
Ada sedikit senyuman di bibirnya dan berkata pada Dito untuk membawanya pergi ke kedai bando tadi "To, bando yang dipilih Nada tadi sekarang kamu beli" pinta Sam.
***
Setelah puas berkeliling Nada dan kedua temannya merasa lapar sehingga memutuskan membeli sarapan disana.
Mita melihat sesosok orang yang disukainya masuk ke kedai bubur sehingga mengajak Nada dan Saras sarapan bubur juga.
Saat masuk kedalam kedai Mita langsung memasang muka manisnya.
"Eh Toni, lagi mau sarapan ya? Kebetulan sekali kita ketemu disini" tak lupa juga senyum manis menyertai ucapannya.
Toni pun tersenyum dan membalas sapaan Mita, "iya, kamu juga mau sarapan bubur juga ya".
"Iya, tentu saja, boleh duduk sini kan?".
"Boleh".
Di tempat lain Sam yang melihat Nada makan bersama beberapa orang laki-laki hatinya merasa tidak enak dan meminta Dito untuk tidak mematikan panggilan vidionya.
Erga melihat ada Nada diantara mereka kemudian menyunggingkan senyum, sebenarnya dia menyukai Nada, akhirnya ada kesempatan makan bersama meskipun bersama teman yang lain tapi dia masih sangat senang.
Setelah melihat Nada duduk Erga bertanya "Nad, kemarin katanya kamu kecopetan ya?".
Rupanya kejadian ini sudah menyebar dan banyak orang tau, Nada tersenyum tapi masih menjawabnya "Iya".
Erga yang melihat Nada enggan untuk berbicara, dia tidak melanjutkannya lagi. Rencananya untuk PDKT dengan Nada tidak boleh terburu-buru apalagi yang ia tanya sepertinya membuat kesal Nada, tentu saja pembahasan ini tidak boleh dilanjutkan. Ya kan?.
Setelah sarapan Toni menawarkan untuk mengantar Mita, Saras dan Nada kembali ke kos. Mita tentu saja langsung setuju. Kapan lagi bisa dekat dengan Toni, kesempatan seperti ini tidak mungkin dilewatkan. Sampainya diparkiran muncullah sebuah masalah. Mobil Toni berbentuk sedan dan hanya bisa menampung empat sampai lima orang. Sedangkan mereka berjumlah enam orang.
Toni lupa jika mobilnya tidak cukup untuk mengungkapkan semua orang, tiba-tiba dia teringat sepertinya Erga tertarik pada Nada, sebab Erga beberapa kali menanyakan tentang Nada yang satu kelas dengannya.
Toni menoleh pada Erga dan berkata "Erga sepertinya kamu tadi bawa motor, berarti gak ikut mobil aku kan, kalau gitu goncengin Nada aja" sambil mengedipkan sebelah matanya sebagai tanda.
Erga melihat tanda dari Toni seketika paham apa maksudnya
"Iya.. iya... Nada kamu aku goncengin aja yuk, kan di mobilnya Toni gak cukup, lagian kamu kan pakai celana".
Nada memang tidak menyadari maksud Toni dan Erga. Dia melihat kedua temannya memang memakai rok dan dia sendiri memakai celana panjang. Tentu saja yang harus mengalah adalah Nada. Nada pun menyetujuinya.
Dito meskipun tidak melakukan Vidio call lagi dia tetap membuntuti Nada, dan juga mengambil beberapa jepretan Nada dan Erga boncengan naik sepeda motor sebagai oleh-oleh untuk Sam dari pasar Minggu.
***
Pagi hari seperti biasa Nada dan kedua temannyannya berangkat ke kampus, sampainya di depan kos ternyata seseorang telah menunggu.
Mita kemudian menyapanya "Erga kenapa pagi-pagi sudah disini?".
Erga tersenyum dan berkata "Jemput Nada".
Nada yang mendengar perkataan Erga sontak kaget dan sedikit bingung, mereka tidak janjian dan Erga kemarin tidak bilang hari ini akan menjemput dirinya.
Saras dan Mita menyenggol-nyenggol lengan Nada yang masih terbengong.
"Udah sana", sambil mendorong Nada ke arah Erga
"Baiklah", meskipun enggan Nada tetap pergi dengan Erga karena tidak ingin membuat Erga datang dengan percuma.
Sam yang selalu bangun pagi selalu menyempatkan berolah raga setiap hari, mendengar hpnya berbunyi, dia menurunkan barbel di tangannya, ada kiriman foto dari Dito.
Raut wajah Sam langsung menjadi kusut, kemarin melihat Nada dibonceng pulang oleh laki-laki membuat perasaan tidak nyaman, sekarang malah Nada dijemput pergi ke kampus, hati Sam bagaikan ditusuk pisau.
Sam punya firasat kalau Erga juga menyukai Nada. Segera Sam pergi mandi dan ikut pergi ke kampus.
***
Perkuliahan semester depan belum dimulai, namun para siswa sedang mempersiapkan diri memilih kelas yang akan diambil, sehingga kegiatan perkuliahan sangat longgar, selesai mengurusi administrasi perkuliahan Nada ingin segera pulang ke kos, tidak seperti teman-teman yang lainnya bisa hang out setelah urusan kampus selesai, dia memilih untuk berhemat. Kali ini Nada pulang sendiri sebab Saras masih menemani Mita yang sedang stalking Toni di perpustakaan.
"Ya udah aku pulang duluan ya", Nada berpamitan pada kedua temannya
"Oke".
Sampai di depan perpustakaan, barusaja kakinya sampai di aspal tiba tiba ada sebuah motor berkecepatan tinggi berhenti di depannya.
Nada melindungi kepalanya dengan kedua tangan, dia menyangka akan tertabrak dan masuk rumah sakit tentunya.
Nada yang gemetaran melirik pengendara motor itu, pengendara itu kemudian membuka helmnya.
"Sam".
Dia lagi dia lagi ucap nada dalam hati. Kenapa akhir-akhir ini dia masih berurusan dengan orang ini, mungkinkah Sam akan balas dendam dengan dirinya. Pikiran Nada mulai melayang ke hal yang buruk, kalau tidak masuk rumah sakit pasti masuk liang kubur. Ya Tuhan dia masih ingin hidup seratus tahun lagi.
Sam yang melihat tingkah Nada berfikir mungkin dirinya mengagetkan Nada, tidak seharusnya dia mengerem motor mendadak di depan Nada, kebetulan dia punya air mineral yang sudah diminum separuh lalu diberikan pada Nada.
Sam mengulurkan tangan hanya dilihat saja oleh Nada, sekarang dia tambah bingung mengapa Sam memberikan air mineral, apakah ada racun di dalamnya. Saat dia sedang mempertimbangkan akan mengambilnya atau tidak Erga dari sisi berlawanan datang dengan motornya.
"Nad, mau pulang kah? Ayo aku antar". Erga menatap Sam, siapakah orang ini, tampangnya penuh dengan kumis brewok, pakaiannya juga seperti preman, tapi kenapa bersama dengan Nada.
Nada yang sedang dalam dilema, karena kehadiran Erga dia merasa lega, dan bergegas ikut ke motor Erga.
Sam pun hanya bisa melihat Nada pergi dengan Erga, namun siapa sangka tangannya mengepal sangat erat menunjukkan ketidak senangannya.
Sampainya di kos Erga pun bertanya pada Nada "Siapa orang tadi itu Nad".
"Hah" Nada tidak siap dengan pertanyaan Erga, dia harus jawab apa.
"Dia... Orang tanya alamat", cuma alasan ini yang terfikir saat ini.
"Ohh", Erga pun tidak ambil pusing, suasana hatinya sedang baik, dia merasa Nada tidak menolak untuk dia dekati.
"Kalau gitu aku pulang ya, bye".
"Bye".
***
Siang hari, Sam mengajak bertemu dengan Alex dan Jerry di sebuah dealer motor.
"Woi... Ada apa nih, kenapa ngajak ketemuan di tempat ini, mau beli motor ya".
Jerry yang baru datang langsung bertanya pada Sam.
"Sudah tau tanya, "Jawab Sam santai.
Alex mengerutkan dahinya "Kamu punya uang Sam?".
"Sudah ayo pilih", Sam beranjak dari tempat duduknya dan mulai melihat-lihat motor yang berpose manja minta untuk dibeli.
Alex dan Jerry cuma bisa mengikuti si Bos Muda itu.
Setelah dia melihat lihat, rupanya pilihannya jatuh pada motor gede sejenis ninja. Tanpa sadar dia bergumam "Nada suka warna apa ya?".
Meskipun suaranya kecil namun Alex dan Jerry bisa mendengar, mereka menoleh satu sama lain. Jadi ini ada hubungannya dengan Nada.
Pagi tadi tidak ada angin tidak ada hujan Sam menemui Alex pagi-pagi katanya mau daftar kuliah. Sedangkan pendaftaran mahasiswa baru sudah ditutup. Jadi dia memaksa Alex dan Jerry untuk mencari cara agar dia bisa diterima di kampus itu. Masalah belum ditemukan malah Sam beli motor baru.
Alex ragu-ragu namun tetap bertanya "Jadi ini semua berhubungan dengan Nada?".
Sam mengerutkan mulutnya dan mulai menceritakan kejadian tadi di kampus saat menemui Nada.
Alex dan Jerry yang mendengar cerita itupun tidak dapat menahan tawa, keduanya tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
"Sam, kamu tau tidak kalau itu tandanya Nada takut sama kamu", Jerry bicara masih sambil memegangi perutnya.
Sam membelalakkan matanya "Kenapa, takut sama aku?!".
Alex dan Jerry jadi tertawa lebih kencang.
Jerry yang terkenal playboy di kampus akhirnya memberikan saran ke Sam "Gini Sam, gadis itu rata-rata suka hal yang bagus, mewah dan mahal".
"Maksudmu?, Aku beli motor ini untuk mengalahkan si Erga itu, mungkin kalau motorku lebih bagus dari Erga Nada mau aku bonceng, ini sudah benar kan?".
Jerry tersenyum dan berkata "Dalam kasus ini kamu benar, sebagai cowok memang harus punya gengsi, tapi itu yang pertama".
Sam hanya diam dan menatap Jerry sebagai isyarat untuk melanjutkan perkataannya.
"Yang kedua penampilan, semua gadis pasti suka tampang yang ganteng dan keren, kamu sebenarnya sudah tampan cuma kurang keren."
Sam mendengarkan sambil melihat-lihat pakaiannya.
"Tampangmu sekarang seperti preman, meskipun kamu bawa motor bagus Nada pasti masih kabur", sahut Alex.
"Ada juga yang ketiga, yang ini jurus bikin para gadis klepek-klepek, nanti aku kasih tau ke kamu", tambah Jerry.
"Gak rugi aku punya sahabat seperti kalian", Sam memandangi temannya dan tersenyum manis seolah dia mempunyai harta yang berharga.