Bab 1

Tasya memandangi pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Riasan tipis di wajahnya tidak mampu menutupi kegelisahan yang sudah lama terpendam. Di luar, suara tawa riang dari tamu-tamu yang datang untuk merayakan ulang tahun ayahnya semakin memekakkan telinga. Tapi di dalam hatinya, hanya ada satu perasaan: terperangkap. Terperangkap dalam dunia yang tidak pernah ia pilih, terperangkap oleh ekspektasi keluarganya yang seolah tak pernah berhenti menekan.

"Sudah siap?" suara lembut ibu Tasya terdengar di balik pintu kamar, membuat Tasya tersentak.

Tasya menoleh, menghela napas sebelum akhirnya membuka pintu. Ibu Tasya berdiri dengan senyuman hangat, meski jelas terlihat ada kekhawatiran di matanya. Wanita itu mendekat dan merapikan beberapa helai rambut Tasya yang tergerai.

"Tasya, kau tahu betapa pentingnya hari ini untuk keluarga kita, bukan?" Ibu Tasya berkata dengan nada lembut namun penuh penekanan. "Ayahmu berharap banyak pada hubungan ini."

Tasya memaksakan senyum yang terlihat dipaksakan. "Aku tahu, Bu. Tapi aku... aku hanya merasa seperti burung dalam sangkar." Kata-katanya terdengar lirih, penuh kebingungan.

Ibu Tasya menghela napas, seolah sudah terbiasa mendengar keluhan tersebut. "Aku mengerti, sayang. Tapi ini semua demi masa depanmu. Semua ini akan terasa lebih baik jika kau mulai menerima keadaan ini."

Tasya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, meski hatinya terasa semakin berat. Tidak peduli berapa banyak usaha ia lakukan untuk memenuhi keinginan orang tuanya, rasa cemas itu tidak pernah hilang. Apa yang mereka tidak pahami adalah, ia tidak pernah meminta untuk dipaksa menikah. Ia tidak pernah meminta untuk dijodohkan dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia kenal, apalagi merasa ada keterikatan emosional dengan orang tersebut.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada ibunya, Tasya turun ke ruang tamu, tempat ayah dan tamu-tamu sedang berkumpul. Namun, tatapannya segera tertuju pada satu sosok yang jelas tidak bisa ia abaikan-Kyler, pria yang menjadi sumber dari hampir semua kekacauan dalam hidupnya.

Kyler, lelaki tinggi dengan rambut cokelat gelap yang rapi, tampak sedang berbicara dengan beberapa tamu pria di ujung ruangan. Auranya yang penuh percaya diri memancar jelas. Sebagai anak bungsu dari keluarga bisnis yang terkenal, Kyler selalu menjadi pusat perhatian, meskipun tidak pernah sekalipun ia mau terlibat dalam drama sosial keluarga. Itulah sebabnya Tasya selalu merasa kesal-Kyler adalah cermin dari segala yang ia benci dalam hidupnya. Ketidakpeduliannya, ketajaman sikapnya, dan yang paling membuatnya marah, adalah bagaimana ia selalu bisa lepas dari segala situasi tanpa pernah merasa terbebani oleh apapun.

Tasya berusaha menghindari tatapannya, tapi Kyler sudah menangkap pandangannya. Senyum dingin terulas di wajah pria itu, sebuah senyuman yang sudah cukup mengisyaratkan betapa ia menikmati ketegangan yang ada di udara.

"Kau terlihat berbeda malam ini, Tasya," Kyler tiba-tiba muncul di sampingnya, suara rendahnya menambah ketegangan yang sudah melingkupi ruangan.

Tasya mendelik tajam. "Apa yang kau inginkan, Kyler?"

Kyler tertawa pendek, tidak peduli dengan ketajaman nada suaranya. "Aku hanya ingin memastikan kalau aku tidak salah lihat. Kau benar-benar datang ke sini untuk... apa? Menjadi pacarku? Atau hanya ingin menghindari pertanyaan tentang pernikahan?" Kyler mengangkat alisnya dengan penuh sindiran.

Tasya merasa darahnya mendidih, tapi ia menekan emosinya. "Aku tidak perlu penjelasan dari orang sepertimu."

Kyler hanya mengangkat bahu, seperti biasa, tidak terpengaruh dengan sikapnya. "Tenang saja, Tasya. Aku di sini bukan untuk memperumit hidupmu lebih jauh. Lagipula, kita berdua sudah sepakat, bukan?"

Tasya menggertakkan giginya. "Kita tidak sepakat. Kau memaksa aku dalam hal ini. Aku tidak butuh pacar kontrak dari orang seperti kamu."

Kyler mengubah ekspresi wajahnya, kali ini lebih serius. "Aku bukan orang yang memaksamu. Ini adalah jalan keluar terbaik untuk kita berdua. Kau ingin bebas dari desakan pernikahan dari keluargamu, dan aku butuh ini untuk membalas dendam pada sahabatku yang mengkhianatiku."

Tasya terdiam, memandangi Kyler yang kini tampak jauh lebih serius. Ia bisa merasakan ketegangan yang begitu tebal di antara mereka. Namun, entah mengapa, ada bagian dalam dirinya yang merasa... terperangkap.

"Apa yang sebenarnya kau harapkan dari hubungan ini?" Tanya Tasya, akhirnya memutuskan untuk bertanya, meski hatinya masih penuh keraguan.

Kyler menghela napas, seolah pertanyaan itu bukan yang pertama kali dia dengar. "Aku ingin Vanessa tahu bahwa aku tidak akan membiarkan dirinya menghancurkan hidupku tanpa konsekuensi. Kau mungkin tidak tahu, tapi aku selalu terlibat dalam permainan ini, Tasya. Aku tidak bisa membiarkan dia merasa menang begitu saja."

Tasya menatap Kyler dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu harus merasa kasihan atau semakin marah. "Aku... aku hanya ingin hidupku kembali. Tidak ada yang lebih dari itu."

Kyler menatapnya sejenak, seolah mencoba menilai kebenaran dari kata-katanya. "Jadi, kita akan melanjutkan ini, bukan? Ini demi kita berdua."

Tasya menarik napas panjang. "Jangan berpikir aku melakukannya karena aku peduli padamu. Aku hanya ingin bebas dari tekanan ini."

Kyler tersenyum, meski senyuman itu terasa lebih seperti kemenangan daripada kebahagiaan. "Begitu juga aku."

Malam itu berakhir dengan rasa tegang yang tidak terucapkan. Mereka berjalan bersama ke luar rumah dengan cara yang seolah sudah terbiasa, meski jelas ada ketegangan yang mengalir deras di antara mereka. Tasya merasa seperti sebuah boneka yang dikendalikan oleh takdir yang entah bagaimana mempertemukannya dengan Kyler.

Namun, saat mata mereka bertemu di lorong panjang rumah itu, ada sesuatu yang tak terduga. Kyler melihatnya dengan cara yang berbeda, dan dalam kedalaman tatapannya, Tasya merasa seperti ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kontrak atau balas dendam.

Apa ini? Cinta? Tidak. Hanya sekadar permainan, sebuah permainan yang berbahaya.

Dan malam itu, mereka berdua tahu bahwa perjanjian yang mereka buat akan membawa mereka ke tempat yang jauh lebih gelap daripada yang mereka bayangkan.

Bab 2

Tasya merasa kelelahan di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan yang terus berjalan seperti biasa. Tanggal-tanggal pertemuan keluarga, makan malam formal dengan orang tua, dan percakapan-percakapan kosong dengan teman-temannya seolah telah menjadi rutinitas yang menghimpit dirinya dari segala arah. Ia tidak pernah benar-benar merasa hidup dalam rutinitas itu, hanya menjalani apa yang diharapkan orang-orang di sekitarnya.

Namun, hal yang paling mengganggu adalah kenyataan bahwa ia kini terikat dalam perjanjian kontrak dengan Kyler. Setiap langkah yang mereka ambil bersama, setiap pertemuan yang dipaksakan, menambah rasa terperangkap yang semakin dalam. Mereka tidak pernah benar-benar berbicara tentang apa yang terjadi di antara mereka. Sebuah hubungan yang dibangun atas dasar kebutuhan, bukan perasaan. Dan itu membuat Tasya merasa terasing, bahkan dari dirinya sendiri.

Hari itu, Kyler mengundangnya untuk makan siang di sebuah kafe mewah di pusat kota. Di luar, hujan turun dengan deras, membasahi jalanan yang sibuk. Ketika Tasya tiba, Kyler sudah duduk di meja dekat jendela, menatap hujan dengan pandangan kosong, seolah dunia di luar sana hanyalah bayangan kabur yang tidak ada hubungannya dengan kehidupannya.

Tasya duduk di seberangnya, menatapnya dengan mata yang tidak dapat menutupi ketidaksukaannya. "Jadi, apa rencanamu hari ini, Kyler?" Suara Tasya terdengar lebih tajam dari yang ia inginkan, tetapi ia tak bisa menahan diri.

Kyler tidak langsung menjawab. Ia memandang Tasya sejenak sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatapnya dengan serius. "Aku ingin membicarakan perjanjian kita."

Tasya mendengus pelan, melipat tangannya di atas meja. "Perjanjian? Kyler, aku rasa kita sudah cukup jelas tentang itu. Kita berdua hanya menjalani ini karena tekanan dari keluarga kita."

Kyler mengangguk pelan, tapi ada yang berbeda dalam sorot matanya. "Aku tahu. Tapi tahukah kamu, Tasya, kadang-kadang kita tidak bisa lari dari apa yang telah kita mulai. Kadang-kadang, perjanjian itu bisa menjadi lebih dari sekadar formalitas."

Tasya merasa ketegangan di antara mereka semakin mencekam. "Apa maksudmu dengan itu?" tanyanya, suara pelan tapi penuh kewaspadaan.

Kyler menghela napas panjang, seolah berpikir sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang, tapi... aku merasa ada sesuatu yang lebih dari hubungan kontrak ini, Tasya. Sesuatu yang mungkin kita berdua tidak siap hadapi."

Tasya terdiam. Ia merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ada apa dengan Kyler? Apakah ia mulai menganggap perjanjian ini sebagai lebih dari sekadar balas dendam kepada Vanessa? Tapi ia menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih jauh. Tidak ada yang bisa ia percayai sepenuhnya dalam hal ini.

"Sesuatu yang lebih?" Tasya akhirnya bertanya, suara yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya. "Kyler, kita hanya... menjalani ini. Itu saja. Tidak ada yang lebih dari itu."

Kyler tersenyum tipis, meski senyuman itu tidak menghilangkan ketegangan yang ada. "Kita lihat saja nanti."

Ketika makanan mereka tiba, suasana di meja menjadi lebih tenang, meskipun ketegangan masih bisa dirasakan. Tasya berusaha untuk fokus pada makanannya, menghindari tatapan Kyler yang terus tertuju padanya. Ia ingin merasakan kenyamanan dalam kebersamaan ini, tapi tidak bisa. Setiap kata yang keluar dari mulut Kyler mengingatkannya pada perjanjian yang telah ia buat-perjanjian yang mengikat mereka berdua dalam ikatan yang lebih dalam daripada yang ia inginkan.

Sepanjang makan siang itu, Kyler lebih banyak diam, seolah merenung. Tasya juga tidak merasa perlu berbicara banyak. Masing-masing terperangkap dalam dunia mereka sendiri, saling menghindari kenyataan bahwa ikatan yang mereka miliki semakin rumit. Mereka bukan pasangan yang saling mencintai, bukan juga pasangan yang saling mengerti. Mereka adalah dua orang yang terjebak dalam permainan yang mereka buat sendiri.

Setelah selesai makan, Kyler membayar tagihan dengan cepat, dan mereka berdua keluar dari kafe menuju mobil. Hujan yang terus turun membuat udara terasa dingin, tapi Kyler tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan. Ia tampak seperti selalu siap menghadapi segala sesuatu, seperti selalu mengendalikan situasi.

Di dalam mobil, suasana semakin terasa tegang. Tasya menatap keluar jendela, mencoba untuk mengalihkan perhatian dari kenyataan yang semakin menghimpitnya. Namun, suara Kyler yang tiba-tiba memecah keheningan membuatnya terkejut.

"Tasya, aku tahu ini semua sulit. Aku tahu kau merasa terjebak dalam situasi ini, begitu juga aku. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal." Kyler mengalihkan pandangannya ke arah Tasya. "Aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti yang kamu pikirkan."

Tasya menoleh, bingung dengan kata-kata Kyler. "Apa maksudmu?"

Kyler menarik napas panjang, seolah berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Aku tidak ingin hubungan ini berakhir dengan kita berdua hanya menjalani rutinitas tanpa makna. Aku tidak ingin kita berakhir seperti orang yang hanya menjalani kehidupan karena tekanan eksternal."

Tasya merasa ada sesuatu yang berbeda dalam kata-kata Kyler kali ini. Tidak ada sindiran atau ejekan seperti biasanya. Ia bisa merasakan ketulusan dalam suaranya. Namun, itu tidak cukup untuk mengubah perasaannya.

"Kyler," Tasya berkata pelan, "Kita sudah sepakat, bukan? Kita hanya perlu menjalani ini sampai tujuan masing-masing tercapai. Tidak lebih dari itu."

Kyler diam sejenak, kemudian mengangguk. "Kau benar. Tapi terkadang, perasaan kita bisa berkembang tanpa kita sadari."

Tasya menundukkan kepala, menahan perasaan yang semakin kacau dalam dirinya. Ia ingin menanggapi lebih jauh, tetapi kata-kata itu terhenti begitu saja. Apa yang seharusnya ia katakan pada Kyler? Apakah ia juga merasa seperti itu? Ataukah ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk bertahan?

Mobil terus melaju di tengah hujan yang semakin deras, membawa mereka lebih jauh dari kenyataan yang semakin sulit untuk dihadapi.

Ketika mereka sampai di rumah masing-masing, Tasya merasa terpecah. Satu sisi dirinya ingin melarikan diri dari semua ini, dari perasaan yang semakin rumit, dan dari kenyataan bahwa ia semakin terikat dengan Kyler. Namun, sisi lainnya merasa bahwa ia tidak bisa menghindar dari apa yang sudah dimulai.

Tasya melangkah masuk ke dalam rumah, hanya untuk disambut dengan senyum lebar ibunya. "Bagaimana pertemuan kalian? Sudah makan siang bersama Kyler?" ibu Tasya bertanya dengan nada ceria.

Tasya memaksakan senyum. "Ya, semuanya baik-baik saja, Bu." Namun, meskipun ia berkata begitu, di dalam hatinya, ada keraguan yang semakin menguasai dirinya. Kyler telah mengungkapkan sesuatu yang mengusik pikirannya, dan ia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Setelah berbicara sebentar dengan ibunya, Tasya memutuskan untuk pergi ke kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur, merasakan beratnya kenyataan yang semakin mengendap di dalam dirinya. Kyler-dan perasaannya yang semakin bingung-semakin sulit untuk diabaikan.

Apakah ini semua hanya bagian dari permainan? Atau, pada akhirnya, perasaan yang terpendam akan muncul begitu saja, mengubah segalanya tanpa bisa dicegah? Tasya menatap langit yang gelap di luar jendela kamar, bertanya-tanya apakah ada jawaban untuk semua ini.

Namun, yang ia tahu pasti adalah bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah pertemuan itu.

Bab 3

Tasya terjaga lebih awal dari biasanya, matanya masih terpejam saat cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui tirai jendela kamarnya. Tangan kanannya meraba ponsel di meja samping tempat tidur, merasakan getaran yang menunjukkan pesan baru. Ia membuka layar ponselnya, dan tanpa ragu langsung melihat siapa yang mengirimnya.

Pesan itu datang dari Kyler.

"Bisakah kita bertemu siang ini? Ada yang perlu aku jelaskan lebih lanjut."

Tasya menghela napas, sebuah perasaan gelisah menyelusup dalam dirinya. Kyler dan kata-kata yang ia ucapkan tadi malam masih terngiang jelas dalam pikirannya. Perasaan yang ia rasa, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya-sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak, lebih dari sekadar hubungan yang dipaksakan. Itu membuat Tasya cemas, tetapi juga bingung. Apa yang Kyler coba sampaikan?

Namun, ia sudah terbiasa dengan kebingungannya. Jika ada yang harus ia lakukan sekarang, itu adalah menjaga jarak dan tetap berpegang pada prinsip yang sudah ia buat. Mereka hanya terikat oleh perjanjian, dan Tasya tak berniat membiarkan emosi mengaburkan fokusnya.

Ia mengetik balasan dengan cepat, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya.

"Ada apa, Kyler? Kalau itu tentang perjanjian kita, tidak perlu dibahas lagi. Kita sudah sepakat."

Setelah mengirimkan pesan itu, Tasya merasa sedikit lega, seolah telah menutup pintu untuk perasaan yang tak terkontrol. Namun, ketika balasan Kyler datang beberapa saat setelahnya, semuanya berubah.

"Aku tidak bisa hanya membiarkan kita berdua hidup dalam kebohongan, Tasya. Aku tidak ingin kita hanya sekadar berakting."

Kalimat itu membuat Tasya terdiam. Ia merasa seperti berada di ujung jurang, dengan perasaan yang mendalam namun penuh keraguan. Ini lebih dari yang ia harapkan. Kyler jelas ingin lebih, tapi apakah ia siap untuk itu?

Siang itu, Tasya menemui Kyler di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Cuaca cerah, dengan langit biru yang begitu kontras dengan ketegangan yang ada di antara mereka. Kyler sudah duduk di bangku panjang yang menghadap ke danau kecil, tubuhnya terbalut jaket hitam, tangan yang terlipat di depan dada memberi kesan serius.

"Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Kyler?" Tasya berjalan mendekat, mencoba untuk menampilkan sikap tenang, meskipun hatinya terasa berdebar hebat.

Kyler menoleh, matanya tajam namun tidak menantang. "Kita tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak ingin perjanjian ini menjadi alasan kita saling menyakiti." Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, seolah-olah ada sesuatu yang lebih dalam darinya yang sedang berjuang untuk keluar.

Tasya menundukkan kepalanya, menelan kata-kata yang hampir saja meluncur dari bibirnya. "Lalu, apa yang kamu inginkan? Perasaan ini... tidak ada, Kyler. Tidak ada yang lebih dari ini."

Kyler diam, sejenak, lalu berdiri dan berjalan menuju Tasya. "Aku tahu perasaanmu mungkin tidak sama, tapi aku sudah mulai merasa ada sesuatu yang lebih, Tasya. Mungkin aku salah, tapi aku tidak bisa terus berbohong tentang ini. Tentang kita."

Tasya terkejut dengan kedekatannya yang tiba-tiba, jarak mereka semakin dekat. Nafasnya menjadi lebih cepat, dan ia merasa sesuatu yang berbeda dalam diri Kyler, sesuatu yang sulit untuk ia definisikan. Apakah ini benar-benar hanya perasaan terpendam akibat tekanan yang ada? Ataukah Kyler memang mulai menginginkan lebih? Mungkinkah ia mulai terikat pada perasaan yang ia tak pernah inginkan?

"Kyler, aku..." Tasya mulai berbicara, namun kalimatnya terhenti ketika Kyler menatapnya dengan penuh intensitas.

"Tidak ada yang perlu kamu katakan, Tasya. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ini lebih dari sekadar perjanjian. Aku ingin kita jujur pada diri sendiri. Aku ingin kita berhenti berpura-pura."

Tasya menelan ludahnya, perasaan cemas dan bingung bercampur. Apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa Kyler berubah seperti ini?

"Kyler, kita sudah sepakat untuk tidak terlibat perasaan. Kamu tahu itu. Kita berdua punya alasan masing-masing," kata Tasya, mencoba mengingatkan dirinya sendiri dan Kyler bahwa ini hanyalah sebuah permainan. Tidak lebih.

Kyler menghela napas panjang, tatapannya kini melunak sedikit. "Aku mengerti, Tasya. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mulai merasakan hal yang berbeda. Dan aku tidak ingin menyesali apapun setelah semuanya berakhir."

Tasya merasa seperti terjebak dalam permainan yang tak bisa ia hindari. Setiap kata yang keluar dari mulut Kyler seolah mengguncang dinding yang ia bangun di sekeliling hatinya. Ia sudah terlalu lama menjaga jarak, terlalu lama bersembunyi dari kenyataan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada sesuatu yang lebih dari sekadar perjanjian ini. Tapi, apakah ia siap menghadapinya?

"Aku tidak tahu harus bagaimana, Kyler," Tasya mengakui, suaranya lebih lembut dari yang ia inginkan. "Aku takut ini hanya akan mengacaukan segalanya."

Kyler mendekat, jarak mereka hanya beberapa inci sekarang. Ia tidak berkata-kata, hanya menatapnya dengan mata yang penuh penantian. "Tasya, aku hanya ingin kita berdua jujur, dan melihat ke mana perasaan ini akan membawa kita. Aku tidak bisa terus mengabaikannya."

Tasya merasakan ketegangan yang mengalir di dalam tubuhnya. Ia tahu bahwa Kyler sedang berusaha untuk membuka hatinya, namun apakah ia bisa melakukan hal yang sama? Apakah ia siap untuk menghadapi kenyataan bahwa perasaan yang ia hindari selama ini akhirnya akan datang?

Ketika Kyler meraih tangan Tasya, ada kehangatan yang tak dapat ia hindari, meskipun hatinya berperang. "Aku tidak bisa melawan perasaan ini lebih lama lagi," Kyler berbisik, matanya tak lepas dari Tasya.

Tasya menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku takut kita akan hancur jika ini terus berlanjut."

Kyler tersenyum samar, seolah tahu bahwa kata-kata itu hanyalah penghalang yang tak akan bertahan lama. "Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya, Tasya."

Saat itu, Tasya tahu, tidak ada jalan keluar dari perasaan yang kini semakin mendalam. Bahkan jika ia ingin menghindarinya, takdir telah menuntunnya pada titik ini-tempat di mana perasaan mereka mulai tumpah, tak bisa disembunyikan lagi.

Namun, apakah mereka berdua benar-benar siap menghadapi konsekuensi dari pilihan ini? Saat perasaan mulai berkembang dan tak terhindarkan, akankah mereka bisa bertahan atau justru menghancurkan segalanya?

Tasya merasa takut akan kedalaman perasaan yang mulai merayap ke dalam dirinya. Kyler, dengan segala ketulusan yang ia tampilkan, memulai sebuah perjalanan yang bahkan Tasya sendiri tidak tahu di mana ujungnya. Dan semakin lama, ia semakin merasa bahwa kontrak ini mungkin lebih dari sekadar surat perjanjian yang bisa ditinggalkan begitu saja.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED