Orderan Kue Untuk Hari Pertunangan Suamiku
"Mbak, rumahnya yang sebelah mana ya? Ini aku sudah ada di pertigaan kompleks," kataku di telepon pada Raisa, pelangganku.
"Lurus aja Mbak, rumah nomer tiga sebelah kiri, cat warna oranye. Nanti aku tunggu di depan ya. Mbak pakai kendaraan apa?" ucapnya.
"Oke. Aku pakai mobil warna putih Mbak. Aku meluncur ya," kataku sambil mengendarai mobil pelan.
Seorang wanita cantik berambut sebahu di cat warna cokelat melambai ke arahku.
"Mbak Dita!" teriaknya.
Aku pun langsung memarkirkan mobil tepat di depan rumahnya. Sebuah rumah yang tak begitu besar dengan teras memberikan kesan asri serta berbagai tanaman bunga indah menghiasi sekitar. Terlihat bangunan ini masihlah baru.
"Masak bingung sih, Mbak. 'Kan tadi sudah ku sharelok," katanya saat aku keluar dari mobil.
"Sedikit sih, Mbak. Biasa kan kadang shareloknya itu melenceng. Kukira kemarin dekat lo Mbak, eh ternyata lumayan jauh dari rumahku," kataku sambil membuka bagian belakang mobilku.
"Kubantuin ya, Mbak. Lah memangnya Mbak Dita baru ya di kota ini?" tanyanya sambil membantuku menurunkan kue tart dan puding hias.
"Nggak baru baru juga sih, ya sekitaran dua tahun. Tapi aku jarang sekali keluar rumah," kataku.
Kamipun masuk ke dalam rumah, dan dia mempersilakanku duduk. Ruang tamu bergaya minimalis itu, sudah dihias dengan backdrop dan segala macam hiasan bernuansa emas, dengan tulisan HAPPY ENGAGEMENT RAISA N WISNU, tulisan sama yang kutuliskan pada puding dan kue tart yang telah di pesan tadi.
"Istirahat dulu, Mbak. Diminum dulu sirupnya. Pasti capek ya? Jadi free ongkir, 'kan?" katanya yang duduk di sebelahku.
"Ya lumayan sih, Mbak. Pasti dong, sesuai kesepakatan awal tetap free ongkir," kataku sambil meneguk segelas sirup yang telah dihidangkan.
"Makasih ya, Mbak. Puas banget deh pesen di Mbak Dita. Bagus banget semuanya, sesuai ekspektasi!" ujarnya.
"Alhamdulillah deh kalau suka. Eh acaranya kapan ya ini?" tanyaku
" Nanti sehabis magrib."
"Tunanganya orang mana, Mbak? Beruntung banget dia dapat calon istri yang cantik seperti Mbak Raisa ini," kataku.
Ucapanku tadi bukanlah bualan semata. Namun pada kenyataanya, Raisa ini sangatlah cantik, dengan kulit putih bersih, hidung mancung, lesung pipit, pandai berdandan dan bentuk tubuh yang proporsional, perfek pokoknya. Tentu sangat berbanding terbalik denganku.
"Orang lumayan jauh sih Mbak. Dari kota sebelah. Cukup lama sih aku pacaran sama dia, sudah lebih dari setahun," jelasnya.
"Wah semoga acaranya nanti lancar dan segera menuju ke pelaminan ya , Mbak."
"Amiiin. Nanti pokoknya pas acara nikahanku, semua kue dan snack boxnya, aku pesan sama Mbak Dita saja. Oh iya, bentar ya Mbak. Aku ambil uang dulu, sampai lupa,"ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian Raisa masuk ke dalam rumah. Aku hanya duduk sendiri di sofa. Aku pun mengagumi ruangan minimalis itu, meski agak sempit karena penataannya yang pas, jadi ruanhan ini terasa lega dan nyaman. Saat aku menoleh ke belakang, mataku menatap satu foto yang sontak membuatku terbelalak.
Foto Raisa yang memakai kaos kopel berwarna hitam itu tengah memeluk seorang pria, yang wajahnya begitu mirip dengan Mas Chandra, suamiku. Pikiran buruk seketika melintas di benakku.
Setelah melihat keadaan sekitar aman, aku pun segera memotret foto itu. Kurasa aku tak salah lagi, laki-laki di foto itu adalah Chandra, laki-laki yang telah menjadi suamiku sejak tiga tahun yang lalu. Wisnu Chandra Mahardika, itulah namanya.
"Ini Mbak uangnya. Tolong dihitung dulu," katanya sambil mengangsurkan uang itu padaku.
"Itu foto calon suaminya ya, Mbak?" tanyaku.
"Iya bener banget, Mbak. Mbak Dita kenal dengan Mas Wisnu?"
"Nggak kok, Mbak. Serasi saja dan cocok banget. Pasti dia juga sangat beruntung mendapatkan calon istri seperti kamu," sahutku.
Aku sungguh sangat yakin bahwa itu adalah Mas Chandra, tetapi sebisa mungkin kutahan emosi, aku ingin cari tahu lebih dalam lagi.
"Makasih ya, Mbak. Justru aku yang beruntung mendapatkan dia, karena dia itu pria yang kaya banget lo, Mbak. Pimpinan perusahaan Adi Jaya dan juga seorang kontraktor. Dialah yang merenovasi rumah orang tuaku jadi seperti ini. Dan saat kita nikah nanti, dia akan menghadiahi aku sebuah rumah lo," ujarnya dengan mata berbinar.
Wow pimpinan perusahaan ya? Hebat sekali Mas Chandra berbohong dan membanggakan diri. Padahal perusahaan itu adalah milik papaku, dan dia di sana hanyalah karena aku yang menyuruhnya. Dan menjadi kontraktor pun bermodal dari uang investasiku saja.
"Hebat sekali dong dia. Dulu pertama kenal di mana Mbak, bisa dapat laki-laki seperti itu?" tanyaku lagi.
"Dulu 'kan aku kerja di sebuah cafe, Mbak. Dan dia sering kesana. Setelah jadian aku tak boleh lagi bekerja, bahkan dia telah membuatkanku cafe sendiri, yang sudah enam bulan ini aku kelola," katanya bangga.
Keterlaluan kamu, Mas. Kaugunakan uangku untuk memodali simpananmu yang cantik ini!
"Wah beruntung banget ya Mbak. Tapi kelihatannya usia kalian jauh berbeda ya, Mbak? Apa nggak takut kalau misalnya di luar ternyata dia sudah beristri?" tanyaku yang sudah mulai capek menahan emosi.
"Umur 'kan tak jadi masalah yang penting kita sama-sama mau. Kalau soal istri sih aku nggak tahu pastinya, katanya sih masih single. Kalaupun seandainya dia sudah beristri, tak masalah sih bagiku, yang penting dia bisa memberikan apa yang kumau," katanya.
Waduh kelihatannya si Raisa ini alim, ternyata jahat juga ya. Aku pun segera mengakhiri obrolan ini. Dari pada nanti aku tak kuat lagi memahan emosi.
"Wah, ceritanya pantang mundur ya, Mbak. Ya sudah Mbak aku pamit dulu ya, sudah sore nih," kataku sambil keluar dari rumah itu.
"Iya, makasih Mbak. Hati hati ya," katanya sambil melambaikan tangan saat aku mulai menjalankan mobilku.
Sebenarnya semua itu, sudahlah cukup menjelaskan bahwa laki laki tadi adalah suamiku yang telah tega menduakanku. Namun aku masih butuh bukti yang lebih kongkret.
Aku pun ingat dengan perkataan Mas Chandra, yang memang tadi pagi katanya akan pulang telat karena banyak sekali pekerjaan di kantor. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore, dan acara itu akan diadakan setelah magrib, jadi kuputuskan untuk tak pulang saja, mengintai acara itu dari dekat.
Aku pun berbalik arah, kembali menuju rumah Raisa. Aku mencari tempat mengintai di sekitar sini. Dan akhirnya aku menemukan tempat parkir yang pas, jarak tiga rumah saja dari rumah Raisa. Kurasa dia ataupun Mas Chandra tak akan mengira jika ini mobilku.
Aku pun menunggu di dalam mobil dengan sabar . Hingga waktu yang telah ditentukan telah tiba. Kubuka mataku lebar-lebar, agar aku tak kehilangan jejak. Lumayan lama menunggu, hingga akhirnya sebuah mobil Pajery berwarna putih susu parkir tepat di depan rumah Raisa. Tak salah lagi, itu adalah mobil Mas Chandra, hadiah pernikahan dari almarhum papaku dulu.
Aku pun mulai merekam apa yang ada di hadapanku. Dari dalam mobil itu turunlah Mas Chandra yang memakai pakaian batik rapi. Dengan diantar oleh laki-laki dan perempuan yang aku tak mengenalnya. Mereka membawa beberapa seserahan.
Benar benar jahat kamu, Mas. Aku tak menyangka kamu yang selama ini sayang dan sangat baik padaku ternyata tega berbuat seperti ini. Namun saat ini aku dilema, haruskah sekarang juga kuhancurkan acara pertunangan itu? Ataukah aku harus main cantik saja menghadapi semua ini?
Ah lebih baik aku diam saja dulu, dan memberi balasan yang setimpal dulu pada Mas Chandra. Rasanya juga terlalu kolokan jika aku sekarang langsung masuk dan mengacaukan acara ini. Rasanya, kalau aku sedikit membalas tak apalah, sebelum aku mengakhiri semua ini. Mas Chandra dan juga Raisa pantas untuk mendapatkan pelajaran karena sudah bermain api di belakangku.
Aku pun menyudahi merekam video itu setelah mereka masuk kedalam, apa yang terjadi di dalam rumah warna oranye itu sudah bisa kuperkirakan. Berbahagialah dulu, Mas. Anggap saja kamu menang sekarang, tapi jangan sampai nanti kamu menyesal di kemudian hari.
Sebelum pergi dari sini, aku mencoba menelepon Mas Chandra, ingin tahu saja kira-kira bagaimana responnya, saat aku menganggu acara pertunangannya itu. Dua kali aku menelepon, tak diacuhkannya. Namun pada panggilan ketiga, dia langsung mengangkat panggilan dariku itu.
"Assalamualaikum. Ada apa, Dek?" katanya membuka obrolan.
Dari tempatku parkir, terlihat Mas Chandra sedang keluar dan saat ini berdiri di teras. Eh ternyata dia takut ketahuan juga ya.
"Waalaikumsalam. Lagi dimana, Mas?" tanyaku.
"Ini, emmm, Mas lagi ada di kantor perumahan yang nantinya akan kita kerjakan, Dek," katanya.
"Oww gitu. Jadi pulang kapan nih?" tanyaku.
"Pulang agak larut kayaknya, soalnya perjalanan dari sini ke rumah kan masih sekitar dua jam-an," katanya sepertinya cemas.
Nampak di sana dia mondar-mandir, sambil berkacak pinggang.
"Ooo begitu ya. Oh iya, Mas. Lokasi proyek nya di mana sih? Aku lupa," kataku berbohong.
"Di Malang, Dek. 'Kan tadi pagi Mas sudah bilang ke kamu. Sudah dulu ya, ini lagi meeting, nggak enak sama yang lain," katanya.
"Iya deh iya, kalau begitu nanti kamu pulang wajib bawa Pia Mangkok dan Malang Strudle, masing-masing dua ya. Awas kalau nggak bawa, ini lagi pingin banget aku, hehehe," kataku.
"Aduh, kamu ini ada-ada saja sih Dek. Kenapa nggak bilang dari tadi siang kalau kepingin itu? Sudah malam ini!" katanya.
"Lha pinginnya kan baru sekarang. Lagian kan tadi aku lupa kalau kamu sekarang ada di Malang, Mas. Hah malam? Ini kan baru pukul setengah tujuh. Pokoknya pulang harus bawa itu! Atau aku bakal ngambek!" kataku.
"Jurus andalan deh, pasti ngambek! Iya deh nanti aku beliin. Tapi ingat aku pulangnya agak maleman. Nggak usah nunggu, kamu langsung bobok saja nanti," katanya.
"Lha gitu dong. Makin sayangg deh sama kamu Mas. Di Malang kan dingin banget, jangan macam-macam ya!" kataku.
"Nggak bakal aku ini macam-macam Dek. Punya kamu saja itu sudah anugerah bagiku. Nggak usah mikir yang gitu ya, pamali. Udahan ya, ditungguin ini," katanya.
Hemmm, mulutmu manis sekali Mas. Padahal dia sudah bermain api di belakangku, tapi masih saja sok alim dan setia. Memang perlu diberi sedikit pelajaran kamu ini.
"Kamu ini, Mas. Ditelepon istri kok kayak ditelepon selingkuhannya saja sih, takut ketahuan! Ya sudah deh pokoknya malam ini pulang harus bawa dua macam pesananku tadi, jangan lupa struk pembeliannya ya. Soalnya aku nggak mau kalau bukan asli beli di Malang. Titik nggak pakai koma! Hati-hati ya nanti kalau pulang. Wassalamualaikum," kataku sambil nyengir.
"Aduh, kamu ini apa-apaan sih, aneh-aneh saja. Ya sudah nanti Mas belikan. Assalamualaikum," katanya sambil memijit keningnya.
Setelah panggilan telepon dariku diakhiri. Terlihat Mas Chandra masih di teras dan menghubungi seseorang. Kira-kira siapa ya yang dia hubungi? Setelah panggilan itu diakhiri, dia pun masuk kembali kedalam rumah, sambil tersenyum. Akupun kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sepertinya tadi dia bingung dengan permintaanku untuk membawa oleh-oleh khas kota Malang itu. Secara jarak kotaku dengan Malang adalah sekitar dua jam perjalanan. Kira -kira hal seperti apa sih yang akan dilakukannya untuk mengabulkan permintaanku itu?
Mas Chandra sangatlah tahu, jika aku sangat keras kepala, apa yang kuminta harus kudapatkan. Jadi pasti dia akan berusaha mengabulkan semua permintaanku. Selama tiga tahun berumah tangga, dia selalu mencerminkan sosok suami yang penyayang dan setia pada istri, bahkan kadang dia seperti kalah denganku dan aku adalah bosnya dalam rumah tangga kami. Namun rupanya di luar dia adalah serigala berbulu domba, tapi eits jangan salah kalau aku adalah ratu dari para serigala, yang tak mudah kau bodohi.
Aku sempat berfikir apa motivasinya sehingga menyelingkuhiku? Apa karena memang aku terlalu mengekangnya? Apa karena aku yang tak bisa merawat diri? Apa karena aku belum bisa memberikan dia anak? Atau banyak alasan alasan lainnya yang membuatnya menduakanku.
Namun kurasa dia begitu teledor, kalau dia menduakanku seperti ini. Apa sih kurangnya aku? Aku dan almarhum papa telah mengangkat derajatnya, memberikan dia kemewahan dan kehormatan. Jika saja tak ada kami, maka aku yakin dia tetaplah akan menjadi karyawan rendahan sampai sekarang. Hanya karena dia pernah menolong papa saat akan ada mobil yang menyerempetnya saja-lah, yang membuat papa merasa berhutang budi sehingga menikahkan aku dengan Mas Chandra.
Akhirnya sampai juga di depan rumah. Belum terlalu malam sih, masih pukul setengah delapan.
"Pak Sigit, tolong ya mobilku yang ini taruh di bagian dalam lagi," kataku sambil menyerahkan kunci.
"Siap, Non" kata satpamku itu.
Kemudian akupun masuk dan pintu pun dibuka oleh Bi Sanah, asisten rumah tangga yang telah disini sejak almarhumah Mamaku dulu masih hidup, sekitar lima belas tahun yang lalu.
"Non Dita mau makan malam sekarang?" tanyanya.
"Nggak deh, Bik. Lagi malas makan. Aku mau langsung tidur saja," kataku sembari menaiki tangga.
Akupun langsung menjatuhkan badanku di atas kasur springbed empukku. Kucoba memejamkan mata, namun nyatanya aku tak bisa. Bayangan Mas Chandra dan Raisa yang sedang berbahagia di sana, tak bisa luput dari pikiranku.
Jadi begini ya rasanya sakit hati dan dikhianati? Sampai usia dua puluh lima tahun ini, baru kali ini aku merasakanya.
Aku adalah Dita Prameswari, pewaris tunggal dari seorang pengusaha kaya. Sejak berusia sepuluh tahun , Mamaku telah meninggal dunia, karena mengalami kecelakaan. Jadi hanya Papa lah yang selalu menemani hari hariku, meskipun sibuk, namun dia tak pernah lupa memberi perhatian padaku. Dari kecil memang hidupku sudah bergelimang harta.
Papa selalu menuruti apa yang aku inginkan, namun tak lupa juga Papa selalu memberi teladan padaku agar tak menjadi manusia yang sombong. Alhamdulillah meskipun aku manja, namun aku selalu berusaha menghargai orang lain.
Papa menjodohkanku dengan Mas Chandra, ketika aku baru saja lulus kuliah di Amerika. Meski aku lama tinggal di luar negeri, namun tak pernah kulupakan adat adat ketimuran. Dan hingga menikah pun aku bisa menjaga kehormatanku.
Ketika Papa menjodohkanku dengan Mas Chandra, sebenarnya aku juga sudah punya kekasih. Seorang pemuda dari negeri Gingseng, yang merupakan kakak tingkat dikampusku dulu. Sudah lebih dari satu tahun kami berpacaran, namun semua harus kandas, hanya karena perjodohan itu. Apalagi memang kami berdua saat itu berbeda keyakinan.
Menurut Papa, Mas Chandra adalah calon suami yang terbaik, yang bisa membahagiakan aku dunia akhirat. Namun jika sekarang kejadiannya harus seperti ini, aku tak bisa menyalahkan Papa. Karena ini semua sudah menjadi takdirku.
Aku pun dulu juga sangat percaya kalau Mas Chandra memanglah laki laki yang baik, karena sikapnya yang sopan santun dan sepertinya tak pernah mengincar hartaku.
Dulu sebelum menikah, Mas Chandra hanyalah pegawai biasa di perusahaan milik Papa. Dia merupakan karyawan teladan yang terkenal jujur, pekerja keras dan rajin beribadah. Dia berasal dari keluarga miskin, Bapaknya hanyalah buruh tani.
Papa memang sejak lama sering membicarakan tentang dia padaku, namun setelah kejadian hutang budi itu, Papa malah semakin mantap untuk menjadikan dia mantunya. Karena Papa yang terus memaksa, akupun akhirnya memutuskan kekasihku dan menerima perjodohan itu, meski saat itu belum ada rasa cinta untuknya di hatiku.
Pesta pernikahan pun digelar dengan mewahnya saat itu. Dan setelah kami sah menjadi pasangan suami istri, Papa menaikkan jabatannya menjadi CEO di perusahaan kami, menggantikan aku yang ingin fokus menjadi ibu rumah tangga saja. Tak lupa Papa menghadiahinya sebuah mobil Pajery padanya .
Dua tahun yang lalu, saat Papa mulai sakit sakitan, kami pun pindah ke kota Jombang. Karena memang beliau ingin akhir-akhir sisa hidupnya, bisa berada di tanah kelahirannya. Jadi untuk kerjapun Mas Chandra harus PP Jombang Kediri setiap harinya. Sikap Mas Chandra pun tetap tak berubah, dia selalu menunjukkan semua sisi baiknya, hingga tak ada celah untuk kami meragukan kesungguhannya.
Hingga satu tahun yang lalu, Papaku menghembuskan nafas terakhir dan minta untuk dimakamkan di sini, di samping makam Mama, dan kedua orang tuanya. Otomatis akulah yang menjadi pewaris tunggal semua kekayaan ini setelah Papa meninggal. Namun aku belum ingin terjun dalam bisnis, jadi ku berikan kepercayaan mengurus perusahaan itu pada Mas Chandra.
Tiga tahun menikah, Allah belum juga mengaruniai kami momongan, mungkin memang sekarang kami belumlah siap menjadi orang tua. Namun sepertinya hal itu tak pernah menjadi persoalan untuk suamiku.
Di rumah besar ini, aku dibantu oleh dua asisten rumah tangga, seorang sopir pribadi,satu tukang kebun dan dua orang satpam yang bergantian shift. Karena jenuh tak ada kegiatan, sebulan terakhir ini akupun memutuskan berjualan aneka kue tart dan puding hias melalui internet secara online. Hasilnya pun memuaskan memang, lumayan lah pokoknya meski hanya sepele. Namun Mas Chandra tak pernah tahu tentang usaha online ku itu.
Hingga akhirnya usahaku ini bisa menunjukkan sifat asli Mas Chandra di belakangku. Di akun biru yang kugunakan untuk promosi, memanglah tak pernah kugunakan untuk mengupload foto diriku, atau pun keluargaku, jadi wajar saja jika Raisa tak tahu kalau Mas Chandra itu suamiku.
Kemudian aku pun tertidur, dan terbangun kembali saat Mas Chandra membangunkanku.
"Dek, bangun. Ini pesanan yang kamu minta tadi," katanya sambil memberikan pesananku.
Aku yang masih setengah sadar pun, kaget dibuatnya.
"Jam berapa sih ini, Mas?" tanyaku sambil mengucek mataku yang tak gatal.
"Sekarang sudah jam dua belas malam. Oh iya sampai lupa, nih struk belanja oleh-olehnya yang tadi kamu minta. Apa sih yang tidak untuk istriku ini," katanya sambil menoel daguku.
Segera kuperiksa pesanan dan juga struknya, ternyata benar ini struk asli dengan alamat dari Kota Malang. Kok bisa sih dia dapat ini? Apa iya tadi dia sampai berangkat ke Malang untuk membelikan pesananku ini?