Malam yang berkuasa memeluk Alyssa dalam lelahnya langkah-langkah yang diayun menuju kediamannya. Angin malam berembus tak tahu diri hingga Alyssa merapatkan coat lusuhnya. Nafas yang keluar berkali-kali adalah nafas lelah yang meski dihembuskan ternyata tak mampu mengurangi beban hidupnya.
Saat kakinya berhenti di depan rumah, Alyssa melihat tiga orang pria berbadan besar berdiri di sana. Ada perasaan takut dalam diri Alyssa ketika mata ketiga pria itu menatapnya. Was-was dalam dirinya, namun Alyssa tetap melangkah mendekat.
“Kalian siapa?” tanyanya takut-takut. Mata-mata mereka menatapnya dengan garang. Alyssa memberanikan diri menatap mereka agar tak mudah diintimidasi.
Salah satu dari mereka dengan tato Naga di lengan kirinya menghampiri Alyssa. “Apa kau putri dari Samuel Moore?”
“I-iya. Kalian siapa?”
“Kami datang untuk mengambil uang yang ayahmu janjikan tiga hari yang lalu.”
Mata Alyssa awas memperhatikan ketiganya. Rasanya ingin kabur, tapi badan-badan besar mereka rasanya menutupi segala jalannya. Alyssa menelan ludahnya sendiri susah payah.
“Uang apa yang kalian maksud?”
“Ayahmu berhutang pada tuan kami sebesar sepuluh ribu Pounds, dia berjanji akan membayarnya hari ini."
“Se-sepuluh ribu Pounds?!” Alyssa menggeleng tak percaya. Uang sebanyak itu digunakan untuk apa oleh ayahnya? Kenapa dia tak pernah melihat wujudnya. “Itu tidak mungkin.”
“Ayahmu kalah di meja judi.”
Alasan yang sama untuk setiap masalah yang diciptakan ayahnya. Alyssa bahkan harus membayar sewa rumah sendiri karena sang ayah nyaris tidak pernah pulang, tapi selalu meninggalkan hutang.
“Baik kalau begitu aku akan masuk dan mencari uang itu di dalam. Mungkin ayah menyimpannya di dalam.” Ucap Alyssa gugup.
“Jangan coba-coba kabur, atau kami akan menjadikan kamu target berikutnya.” Ujar pria bertato itu dengan jari telunjuk tepat di depan wajah Alyssa, memperingati dengan tegas.
“Tidak akan. Kalian bisa melihat saya terlalu kecil untuk melarikan diri dari kalian.”
Bergegas Alyssa menuju pintu rumahnya. Tangannya gemetar mengambil kunci dari dalam tas. Pandangan tiga pria itu tidak lepas darinya. Alyssa langsung masuk begitu pintunya berhasil dibuka, lalu ditutup dengan cepat.
Gadis itu panik sendiri mencari kesana dan kemari perihal keberadaan uang itu. Lemari-lemari, dan bahkan hingga kolong tempat tidur tidak lepas dari sasarannya, tapi kemudian terdiam. “Ayah tidak mungkin mempunyai uang sebanyak itu.”
Alyssa berlari ke kamarnya dan di depan pintu ada kertas yang menempel bertuliskan pesan dari ayahnya. Pesan yang membuat Alyssa geram bukan main sampai kertas kecil itu diremas kuat oleh tangannya sendiri, lalu memasukkan bulatan kertas itu ke dalam saku coat yang besar.
Suara gedoran pintu terdengar nyaring di luar sana. Alyssa yang kaget buru-buru mengambil tasnya, memasukkan beberapa pakaiannya dengan cepat. Alyssa harus segera kabur dari orang-orang di luar sana. Terakhir kali Alyssa berhadapan dengan penagih hutang, dia berakhir dengan sebuah tamparan keras di pipinya.
“Buka pintunya!”
Teriakan itu menggema di telinga Alyssa. Buru-buru mengaitkan ransel ke punggung. Alyssa keluar dari rumahnya lewat pintu belakang. Dia mengendap-endap seperti seorang pencuri. Ketika melewati sisi rumah yang memperlihatkan tiga orang itu, secepat kilat Alyssa berlari.
Salah satu dari mereka melihat Alyssa. Berteriak pada gadis yang mencoba kabur itu. “Hei! Jangan kabur!”
Alyssa mengumpat. “Sial!”
Kakinya berlari dengan cepat, tas di punggungnya ikut terombang-ambing mengikuti langkah kakinya. Alyssa terus berlari, melewati gang-gang sempit yang kumuh. Beberapa tunawisma berkeliaran di sana. Saat kakinya mulai tak sanggup berlari lagi Alyssa bersembunyi di antara tumpukan tong besar, kayu-kayu dan juga sampah-sampah dalam kantong besar. Membekap mulutnya sendiri agar suara nafasnya pun tak terdengar.
“Ke mana larinya perempuan itu?” tanya salah satu dari tiga orang yang mengejarnya. Mereka mengamati sekitar dengan awas, tapi yang mereka lihat hanya para tunawisma dan juga tumpukan sampah.
Ada persimpangan di sana, jalan yang mungkin salah satunya dilewati Alyssa pikir mereka hingga berpencar mencari jejak Alyssa. Sementara Alyssa yang bersembunyi keluar pelan-pelan. Dia sudah tidak tahan dengan bau menyengat dari tumpukan sampah yang belum diambil petugas kebersihan itu.
“Weeeek!” Alyssa muntah meski hanya cairan bening yang keluar. “Benar-benar bau busuk.”
Alyssa segera keluar melalui jalan yang dilewatinya tadi setelah memastikan mereka benar-benar jauh. Sekarang tujuannya adalah kediaman kekasih ayahnya, Jane. Berharap wanita itu bisa menolongnya.
***
“Jadi kamu sudah putus dengan ayahku? Sejak kapan? Karena apa?” tanya Alyssa pada Jane bertubi-tubi ketika dia sudah duduk manis di kediaman Jane sambil menikmati kue jahe yang dibuat Jane.
“Sekitar dua minggu yang lalu. Ayahmu menjual kalung milikku secara diam-diam untuk berjudi. Kalung itu adalah milik nenekku, sangat berharga bagiku.”
Bahu Alyssa merosot mendengar penuturan Jane. Dia merasa sangat bersalah pada wanita itu. “Maafkan ayahku yang kurang ajar itu, Jane.”
Jane tersenyum kecil. “Tidak perlu meminta maaf untuknya. Seharusnya dia yang datang menemuiku dan meminta maaf, bukan kamu yang sekarang berlari dari para penagih hutang ayahmu itu.”
“Aku tidak mengerti kenapa ayah masih bermain judi seperti itu. Aku pikir setelah dia bertemu kamu, dia akan berubah tapi, ternyata tidak.”
“Manusia tidak akan berubah secepat itu, Alyssa.”
Alyssa mengangguk setuju dengan apa yang Jane katakan. “Jadi apakah kamu mempunyai alamat tempat ayah bekerja dulu?” tanyanya dengan harapan bisa menemukan ayahnya di tempat pria itu bekerja.
“Iya, ada. Tunggu sebentar,” Jane beranjak dari tempat duduknya. Dia mencari alamat yang Alyssa minta di antara laci-laci kayu di ruang keluarga.
Sedangkan Alyssa mengamati rumah Jane yang tampak sederhana, tapi tertata rapi. Alyssa sebenarnya berharap juga jika Jane menjadi ibunya, namun sepertinya Jane terlalu baik untuk ayahnya yang brengsek itu.
Jane kembali dengan sebuah kartu nama di tangannya. “Ini alamat yang kau pinta.”
“Terima kasih Jane,” ungkap Alyssa menerima kartu nama berwarna perak itu. Alyssa mengeja nama yang tertera di atas kartu nama itu. “Assa Zachary?”
Nama yang sepertinya tidak asing bagi Alyssa. Seperti pernah mengenal tapi, tidak tahu kapan dan di mana? Alyssa menatap Jane penuh tanya, berharap ada sedikit informasi yang bisa Jane berikan padanya terkait sosok pemilik identitas di tangannya itu.
“Namanya memang seperti itu. Aku belum pernah bertemu atau datang ke tempat ayahmu bekerja, aku hanya mendapatkan kartu nama itu.”
“Baiklah Jane, terima kasih atas bantuannya. Aku harus pergi sekarang.”
“Apa kamu tidak mau bermalam dulu?”
“Tidak, aku harus segera menyelesaikan urusanku ini.”
“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan Alyssa.”
“Terima kasih Jane, selamat malam.” ucap Alyssa seraya keluar dari rumah Jane sambil membawa kartu nama yang dia harap pemiliknya bisa membantunya seperti yang tertulis di kertas yang ditinggalkan ayahnya.
Maafkan ayah karena harus pergi dan meninggalkan hutang tapi, tenang saja kamu bisa meminta bantuan pada atasan ayah. Dia akan menolongmu, dan untuk sementara tinggallah di tempatnya sampai ayah kembali.
Ayah akan segera pulang.
Alyssa menghela nafas lelahnya, dia belum berani untuk pulang karena takut para penagih hutang itu datang lagi ke rumahnya. Menemui Assa adalah satu-satunya cara yang bisa Alyssa lakukan. Dia pergi ke stasiun Waterloo untuk menuju Hampstead.
Tapi, Alyssa merasa ada yang mengikutinya. Dia berbalik, tapi tak mendapati orang yang dirasa mengikutinya. Rasanya Alyssa ingin cepat-cepat sampai ke stasiun dan duduk dengan tenang. Alyssa mempercepat jalannya. Stasiun Waterloo jaraknya tinggal beberapa langkah lagi darinya.
Langkah Alyssa kemudian berhenti ketika dia melihat sosok ayahnya dari kejauhan. “Ayah? Ayah!”
Alyssa berlari lagi mengejar ayahnya sampai ke seberang jalan, tapi ayahnya itu naik taxi dan jauh meninggalkan Alyssa yang terdiam di tempatnya dengan nafas memburu. Alyssa tak mengerti dengan semua ini.
“Harusnya ayah mendengar teriakanku, tapi kenapa ayah tak mendengar? Apa ayah benar-benar membuang diriku sekarang? Ayah!”
Hampstead, Bishops Avenue terasa sangat lengang ketika kaki-kaki lelah Alyssa menyusurinya. Sudah sangat larut malam memang untuk mencari sebuah alamat. Alyssa sudah hampir kehabisan daya ketika mencocokkan setiap nomor rumah di sana. Jarak dari rumah ke rumah lainnya cukup memakan tenaga.
“Nomor tiga sembilan sudah, berarti setelah ini nomor empat puluh.” Alyssa berbicara pada dirinya sendiri mengingat setiap nomor rumah yang dilewatinya.
Tak ada satu pun rumah yang kecil di sini. Lebih pantas disebut mansions dari pada rumah. Ada juga yang rupanya seperti istana, atau gereja yang megah. Alyssa berhenti di depan pagar rumah dengan nomor empat puluh. Pagar yang menjulang tinggi sementara rumah di dalamnya terletak sangat jauh dari pandangan Alyssa.
Dua penjaga berdiri di balik pagar. Pakaian mereka serba hitam dengan alat komunikasi di telinga. Alyssa yakin masing-masing dari mereka menyembunyikan pistol di balik jaket kulit yang dikenakan. Alyssa melihat dirinya kini seperti kelinci kecil yang tersesat.
“Permisi,” ucapnya melalui celah pagar yang dijaga ketat itu, “Apa benar ini kediaman Assa Zachary?” lanjutnya ketika seorang dari mereka mendekati Alyssa.
“Anda siapa?”
“Saya Alyssa, putri Samuel Moore yang dulu pernah bekerja di sini.”
Kedua penjaga itu saling berkomunikasi lewat pandangan. Alyssa terlihat sangat cemas, takut-takut kalau dirinya ditembak tiba-tiba. Namun hal yang terjadi justru sebaliknya, pintu gerbang dibuka sedikit agar Alyssa bisa masuk.
“Silakan masuk.”
“Apa semudah itu saya diizinkan masuk?” tak ada jawaban dari mereka. Alyssa gugup. “Bolehkah saya bertemu dengan tuan kalian?”
“Tentu, dari itu kami membukakan pintu untuk Anda, Nona.”
Sebuah buggy car berhenti di depan gerbang. Ada seorang pria yang sama seperti para penjaga itu duduk dibalik kemudi. Itu adalah kendaraan khusus yang biasa digunakan untuk berkeliling di sekitar mansions milik Assa Zachary.
“Naiklah! Dia akan mengantar anda sampai ke depan pintu.” Pinta penjaga itu lagi kali ini lebih sopan dengan sedikit membungkuk.
Alyssa pun masuk dengan takut-takut, berjalan mendekati buggy car dan duduk di belakang. Takjub ketika melihat betapa luasnya halaman rumah bak istana itu. Rumput hijau terhampar, dihiasi lampu-lampu taman yang berjajar di sisi jalan yang dilaluinya.
Ada kolam air mancur di depan pintu utama, membentuk sebuah lingkaran dengan patung dewi di tengah kolam memegang sebuah kendi air yang miring, dari sanalah air keluar dan jatuh ke kolam, lalu menyemprot ke atas dengan indahnya.
Buggy car yang dinaikinya berhenti tepat di depan pintu. Alyssa turun, dua orang penjaga di depan pintu membukakan jalan untuknya. Alyssa terbengong-bengong melihat betapa mewahnya rumah yang di pijaknya dari luar.
“Silakan masuk Nona.” Ucap salah satu dari mereka.
“I-iya.” Alyssa masuk, melangkah penuh khawatir namun juga takjub.
Dua pelayan wanita datang menghampirinya, membungkukkan badan lalu berkata salah satunya pada Alyssa. “Mari Nona, saya antar ke kamar.”
Alyssa mundur selangkah. “Ke kamar? Saya datang kesini untuk bertemu dengan tuan kalian, bukan untuk menginap atau sejenisnya.”
Pelayan itu tersenyum kecil. “Tuan sedang istirahat, Nona bisa menemuinya besok pagi saat sarapan.”
“Kalau begitu saya akan kembali besok pagi.”
“Tapi, ini sudah larut malam, Nona. Sebaiknya Anda beristirahat dulu."
Keraguan menerpa Alyssa, rasanya kalau dia kembali besok pagi pun belum tentu dia bisa selamat dari para penagih hutang itu. Belum lagi membayangkan perjalanan yang melelahkan untuk sampai ke tempat ini, hanya saja menerima tawaran mereka juga bukan pilihan bagus bagi Alyssa.
Kebimbangan Alyssa terbaca jelas oleh seorang wanita yang berjalan menghampiri. “Kau tidak perlu takut. Tuan kami bukanlah lelaki mesum, lagi pula di sini ada banyak pelayan wanita. Kamu bisa meminta salah satunya untuk memastikan keamanan kamu."
“Anda siapa?”
“Saya Helga, kepala pelayan di sini. Saya yang akan menjamin keselamatan kamu.”
Setelah tadi dihadapkan dengan pria-pria bertubuh besar dan menyeramkan kali ini Alyssa bisa bernafas lega karena ada beberapa wanita di dekatnya. Dia akhirnya mengangguk setuju untuk bermalam.
“Baiklah kalau begitu saya akan bermalam di sini.”
“Mari! Silahkan ikut saya.” Helga membawa Alyssa menaiki anak tangga yang setiap lekukannya diukir sangat indah. Kepala Alyssa mendongak melihat pada lampu gantung dengan ratusan kristal yang menyilaukan matanya.
“Apa kau mengenal ayahku?” tanya Alyssa pada Helga untuk membunuh sunyi di antara mereka.
“Samuel Moore, tentu saja. Dia penjaga pribadi tuan besar.”
“Maksudmu Assa?”
“Bukan, tuan besar adalah ayah dari tuan muda kami."
“Ada berapa banyak tuan di sini?”
“Hanya satu, Tuan Muda Assa. Sedangkan tuan besar kami tidak tinggal di sini.”
Dua pelayan yang bersama mereka membuka pintu kamar lebar-lebar. Helga tersenyum kala melihat Alyssa takjub pada pandangan pertama terhadap kamar yang dilihatnya.
“Ayo masuk.” Helga mengajak Alyssa untuk masuk lebih dulu.
“Wow! Ini seperti kamar seorang putri.”
“Ini adalah kamar tamu. Kamu bisa beristirahat di sini, jika membutuhkan sesuatu kau bisa memanggil kami dengan ini.” Tutur Helga menunjukkan sebuah remote kecil dengan tombol merah di tengah.
“Ah, terima kasih Helga.”
“Jangan sungkan,” Helga meletakkan remote kecil itu ke atas meja di sisi tempat tidur. “Baiklah kalau begitu, selamat beristirahat.”
“Terima kasih Helga.”
Helga dan kedua pelayan wanita itu keluar dari kamar. Alyssa meletakan tas punggung yang sejak tadi bertengger di pundaknya ke lantai. Dia mengamati kamar yang sangat luas itu, lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dengan kaki yang menjuntai menyentuh lantai.
“Semoga esok hari semuanya akan selesai.”
***
Alyssa terbangun kala matahari pagi masuk melalui jendela yang tirainya dibuka lebar-lebar oleh Helga. Matanya berkedip-kedip kecil sebelum terbuka lebar. Alyssa segera bangun ketika menyadari dirinya berada di tempat orang.
“Maafkan aku, Helga karena bangun siang.”
“Tidak masalah, aku paham. Lagi pula tuan muda juga baru selesai mandi.”
“Apa aku bisa bertemu dengannya pagi ini?”
Helga tersenyum. “Seperti yang kami janjikan, tentu kamu bisa menemuinya. Sekarang mandilah, pakaian ganti sudah kami siapkan.”
“Saya sudah punya pakaian di dalam tas.”
“Pakaian yang serupa dengan yang kamu pakai sekarang?” tanya Helga memperhatikan pakaian yang dikenakan Alyssa.
Jeans yang kusut, kaos dan juga kemeja flanel. “I-iya, apa itu masalah?”
“Sebenarnya tidak, tapi tuan muda kami kurang menyukainya. Dia akan menghormati perempuan yang tampak anggun di matanya.”
“Ah, baiklah kalau begitu.”
Alyssa berpikir dia harus menurut agar urusan hutang ayahnya cepat selesai lalu dia bisa segera pergi dari tempat ini. Maka, Alyssa bergegas ke kamar mandi yang lagi-lagi membuatnya takjub. Bahkan tak sadar tangannya meraba dinding kamar mandi tersebut.
Air hangat dengan campuran aromaterapi sudah disiapkan. Lilin menyala di sisi bak mandi, wangi bunga dan manis berbaur memanjakan penciuman Alyssa. Tidak bisa lama-lama dia terbuai karena harus bergegas bertemu dengan Assa Zachary.
Dua pelayan yang semalam masuk ke kamar, membawa make-up dan juga sepatu. Pakaian Alyssa sudah siap di samping meja rias. Mereka menunggu Alyssa sampai selesai mandi.
Tentu saja hal itu membuat Alyssa kaget setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, lalu ketika keluar mendapati mereka.
“Ka-kalian kenapa ada di sini?”
“Kami akan membantu Nona bersiap.” Jawab salah satu dari mereka.
“Saya bisa sendiri.”
Pelayan itu mengambil pakaian yang sudah disiapkan. “Silakan Nona pakai ini lebih dulu.”
Alyssa menerima dengan canggung, dia kembali masuk ke kamar mandi dan mengenakan pakaian itu di dalam sana. Rasanya akan sangat malu jika harus berpakaian di depan para pelayan itu.
Tak lama Alyssa keluar dengan midi dress berwarna biru, bagian lengannya berbentuk bell yang dipadu lace putih hingga membuat Alyssa tampak anggun. Dua pelayan itu bergerak membawa Alyssa duduk di depan meja rias.
Mereka dengan cekatan mengeringkan rambut Alyssa dan menatanya sedemikian rupa. Tak lupa untuk mempercantik rambutnya, diselipkan juga jepit rambut panjang dengan taburan mutiara. Wajahnya pun dioles tipis-tipis dengan riasan bermerk.
“Sudah selesai, Nona.”
Harus diakui oleh Alyssa bahwa dua pelayan itu begitu terampil dalam mengubah penampilannya. Salah satu dari mereka memberikan alas kaki Cone Heels putih. Ketika ingin mengenakan itu di kaki, Alyssa buru-buru menarik kakinya.
“Saya bisa mengenakannya sendiri.”
“Baiklah, Nona.”
Alyssa mengenakan alas kakinya sambil berpikir. Rasanya terlalu berlebihan untuk dirinya. Apalagi kedatangannya hanya untuk membicarakan perihal hutang ayahnya. Alyssa termenung tapi, suara Helga menyadarkannya.
“Sudah siap?”
“Ah, iya.”
Alyssa berdiri lantas segera mengikuti langkah Helga. Dua pelayannya merapikan kamar agar kembali seperti saat sebelum Alyssa datang.
Jantung Alyssa berdegup kencang dalam setiap kali dia mengambil langkah. Rasa penasaran akan sosok Assa membuat Alyssa gemetar. Dia takut jika lelaki itu tidak ramah. Pikiran buruk tentang sosok Assa mengacaukan Alyssa sampai tidak menyadari mereka sudah sampai di ruang makan, dan hampir saja Alyssa menabrak punggung Helga.
“Tuan Muda.” Panggil Helga.
Pria yang dipanggil itu berdiri dari duduknya dan berbalik. Alyssa berdiri di tempatnya ketika Helga menyingkir memberikan akses pada tuanya untuk melihat Alyssa.
Alyssa bertemu pandang dengan Assa. Pria yang mampu membekukan seluruh sistem sarafnya hingga rasanya sangat sulit dia bernafas. Terlebih lagi ketika mendengar sapaan dari pria itu.
“Selamat pagi Alyssa Moore.”
Suara Assa terdengar seperti sebuah rayuan manis dari penyair yang membaca setiap untaikan kata-kata cinta yang melenakan hati pendengarnya. Rupa parasnya seperti lukisan nyata yang dicipta seniman paling handal di muka bumi. Senyum tipisnya serupa Oase di tengah gurun.
Alyssa terpana untuk sesaat, tapi seluruh kewarasannya kembali membawa Alyssa berpijak pada kenyataan bahwa tujuannya menemui Assa adalah untuk membereskan hutang-hutang ayahnya.
“Se-selamat pagi Tuan." balas Alyssa dengan terbata-bata.
Assa tersenyum tipis melihat kegugupan Alyssa. “Duduklah, kita bicarakan apa yang ingin kau sampaikan sambil sarapan.”
Alyssa setuju, dan Helga segera menarik kursi untuk Alyssa duduk berhadapan dengan Assa. Setelahnya Helga menepuk tangannya, lalu beberapa pelayan datang membawakan sarapan untuk mereka. Lagi-lagi Alyssa dibuat takjub dengan tempat yang sekarang diinjaknya.
Aneka makanan untuk sarapan tersaji. Alyssa disuguhi wafel dengan taburan gula halus, madu dan juga potongan strawberry. Meski perutnya terasa lapar tapi, Alyssa tampak tidak begitu berselera. Dalam pikirannya dia ingin segera menyelesaikan semuanya segera.
“Dari semalam saya memikirkan semua kejanggalan di sini. Sambutan terhadap saya terlalu berlebihan. Apakah Anda sudah mengetahui bahwa saya akan datang ke tempat ini?”
Assa mengangguk. “Benar.”
“Baik kalau begitu saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar tujuan saya datang ke sini. Hanya saja kenapa ayah meminta saya untuk datang menemui Anda dalam urusan hutangnya?”
“Karena saya atasannya.”
“Dan Anda setuju melunasi hutang ayah begitu saja? Saya tidak yakin.”
Pertanyaan itu kini mengubah raut wajah Assa yang ramah menjadi misterius. Senyum yang tercipta adalah senyum yang berhasil membuat Alyssa ngeri menatapnya. Assa duduk tegak menatap Alyssa dengan sorot mata tajam. Biru bola matanya seperti lautan yang tenang tapi, sangat dalam dan mampu menenggelamkan siapapun tanpa bisa kembali ke permukaan.
“Seperti yang kamu tahu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini.”
“Ma-maksud Anda?”
“Kamu tentu tahu bahwa ayahmu itu gemar sekali bermain judi. Dia kalah saat melawan musuhnya. Lalu dia datang meminta bantuan saya, tapi dia tidak mempunyai apa-apa sebagai jaminannya, jadi saya tidak melunasi hutang-hutangnya dengan segera. Itu sebabnya para penagih hutang itu datang ke rumahmu.”
Alyssa mendengarkan dengan baik, menunggu Assa melanjutkan kalimatnya, tapi pria itu justru makan dengan tenangnya. Alyssa menghela nafas, dia kembali mengajukan pertanyaan.
“Anda tahu siapa para penagih hutang itu?”
“Tentu saja. Mereka adalah orang suruhan saingan bisnisku. Kemarin siang ayahmu menghubungiku dan menjadikan dirimu sebagai jaminannya tapi, dia sadar kau tidak akan mau jika langsung berterus terang. Itulah sebabnya dia menulis surat yang mengarahkanmu datang ke tempat ini, Alyssa.”
Sekarang semuanya jadi masuk akal. “Jika saya adalah jaminan, lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap saya?”
“Mengurungmu di tempat ini sampai ayahmu kembali.”
Alyssa teringat semalam dia melihat ayahnya. “Ke mana ayah saya pergi?”
“Itu rahasia.”
“Saya anaknya. Apa tidak boleh tahu?”
“Sejak kapan kau menjadi anaknya, Alyssa?”
Pertanyaan Assa membuat Alyssa termenung kembali pada kisah yang lalu. Samuel Moore tak pernah menganggapnya seorang anak. Pertanyaan Assa membuat ulu hatinya terasa perih.
“Tapi dia tetap ayah saya.”
“Tidak ada seorang ayah yang menjadikan anaknya sebuah jaminan,”
Lagi-lagi Assa menghantam dengan kenyataan tentang ayahnya. “Tapi Anda tidak bisa menahan saya di sini tanpa persetujuan dari saya.”
“Saya tidak perlu persetujuan kamu.”
“Saya tidak akan tinggal di sini!” Alyssa membanting garpu di tangannya, lalu mendorong kursi dan berdiri. “Anda tidak bisa mengatur hidup seseorang hanya karena sebuah hutang.”
Assa hanya tersenyum, kembali makan dengan tenang dan membiarkan Alyssa berlalu. Gadis itu melepas alas kakinya, berjalan menuju kamar yang semalam ditempatinya untuk mengambil tasnya. Tidak akan berlama-lama dia berada di tempat asing itu. Walaupun menyuguhkan kemewahan, tapi Alyssa tidak merasa nyaman.
“Sialan! Aku bukan boneka yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, ataupun oleh ayahku sendiri.”
Alyssa menggerutu masuk ke kamar dan segera mengganti pakaiannya. Begitu selesai Alyssa keluar dari kamar. Ranselnya kembali tersampir di punggung. Saat melewati meja makan, Alyssa melihat Assa yang masih duduk tenang menghabiskan sarapannya. Tak ada yang melarang Alyssa keluar dari mansions itu.
Sampai di keluar dan berjalan menuju gerbang yang terasa sangat jauh, semua pengawal yang dilewatinya hanya diam membiarkan Alyssa melangkah. Hanya saja tiba-tiba Alyssa merasa dirinya sangat pusing. Perutnya terasa sakit, rasa mual menjalar seiring dengan kepalanya yang berdenyut hebat dan semua gelap. Alyssa ambruk begitu saja tanpa sempat ada yang menahannya.
***
Sayup-sayup alunan Greensleeves menyapa pendengaran Alyssa. Di tengah-tengah kepalanya yang terasa berat suara piano itu mendamaikan hatinya. Pandangannya sedikit mengabur, belum sempurna benar sadarnya. sejenak Alyssa terdiam, menyelami setiap simfoni yang masih mengalun.
Alyssa mengumpulkan kesadaran. Matanya memindai ke sisi, lalu sedikit beranjak dari tidurnya melihat ke segala ruang. Kamar yang terlampau luas untuk bisa dijelajahi. Sadar kini Alyssa bahwa tangannya ditusuk jarum infus. Dalam satu tarikan nafas jarum itu ditarik lepas dari tangannya.
kakinya dibawa turun menapaki karpet hangat di bawah tempat tidur. Kaki telanjangnya terasa hangat begitu menyentuh karpet serupa darah yang mengering itu. Jelas ini adalah kamar yang berbeda. Suara piano menuntun Alyssa keluar dari kamar mencari dari mana alunan nada indah itu berasal.
Kepala Alyssa kembali berdenyut, nyaris limbung dirinya. Alyssa berpegangan pada anak tangga. Satu persatu dituruninya. Setiap anak tangga dilapisi karpet yang bagian tepi kiri dan kanannya disulam benang emas. Semakin Alyssa turun, semakin jelas suara piano terdengar di telinga.
Di sana, di tengah ruangan Assa duduk bermain piano seperti seorang yang bersahabat dengan pianonya. Dilihat dari sisi, mata Alyssa menangkap kesempurnaan rupa Assa. hidungnya tajam melekuk tanpa cela. Tubuh dalam balutan jas itu piawai mengikuti setiap alunan lagu yang dibawakannya.
Alyssa mendekat, berdiri di sisi piano. “Saya di mana?”
Pertanyaan Alyssa menghentikan permainan Assa. Pria itu menatap Alyssa tenang. “Kau seharusnya tetap di tempat tidur.”
“Saya terbangun karena permainan pianomu yang buruk.”
Assa tersenyum. “Benarkah? Padahal gadis-gadis begitu memuja permainan pianoku.”
“Saya tidak.”
“Ya benar. Alyssa tidak.” Assa berdiri menyejajarkan posisinya dengan Alyssa walaupun tetap Assa jauh lebih tinggi. “Alyssa yang manis ini tengah marah rupanya.”
“Tolong lepaskan saya.”
“Tidak dengan kondisi yang sekarang.”
Sial! Alyssa merasakan kembali denyutan hebat di kepalanya. Tubuhnya sedikit terhuyung, tapi tangan kekar Assa meraih pinggangnya lebih cepat. Menahan Alyssa agar tidak terjatuh menyentuh lantai marmer berharga ratusan juta itu.
“Lepaskan saya.” Pinta Alyssa lemah. “Saya mohon.”
Assa lebih memilih membopong Alyssa dengan tangan-tangan kekarnya. Tak peduli pada pukulan lemah yang Alyssa layangkan pada dadanya. “Diamlah Alyssa, kalau tidak kau bisa jatuh.”
Tenaga Alyssa tak sebanding, meski ingin memberontak kuat tapi, kondisinya jelas tidak mendukung. Alyssa berpasrah ketika Assa membawanya kembali ke kamar. Meletakkannya dengan hati-hati ke tempat tidur.
“Saya ingin pulang.” Lirihnya lagi.
“Di sini rumahmu, Alyssa.” balas Assa sebelum menjauhkan diri dari Alyssa. Pria itu merogoh ponselnya menghubungi seseorang.
Alyssa tersadar dirinya kini sudah terjebak.