Untuk melunasi biaya rumah sakit dan operasi neneknya yang tengah sekarat itu, Erin dengan nekat pergi ke sebuah club malam di ibu kota untuk mengambil pekerjaan sebagai wanita penghibur agar bisa menghasilkan uang dengan cepat.
Dengan tergesa gesa, Erin Tiathe datang tanpa persiapan apapun. Ia hanya menggunakan kaos oblong dan celana panjang, serta sandalnya yang hampir putus akibat ia pakai untuk berlari dari rumah sakit hingga ke tempat club malam, dimana ia akan mulai bekerja malam ini.
Begitu sampai di club malam itu, Erin pun dengan cepat langsung masuk diam-diam, menemui pemilik club malam yang kebetulan adalah salah seorang yang tak sengaja ia kenal beberapa waktu lalu. Erin pun menengok ke sana kemari, di tempat yang gemerlap akibat lampu disko itu, untuk mencari keberadaan wanita, yang bisa memberinya pakaian untuk memulai pekerjaannya yang pertama kali sebagai wanita penghibur.
Setelah sekian lama mencari, Erin pun pada akhirnya menemukan wanita berambut pirang, yang merupakan pemilik dari club malam ini. Erin pun segera menghampirinya dengan tampang yang lusuh, "Madam!" Panggil Erin dengan keras, agar wanita berambut pirang itu dapat mendengar suaranya di tengah suasana yang ramai saat ini.
Wanita berambut pirang yang biasanya di panggil dengan sebutan madam Egelline itu, kini langsung menengok ke arah sumber suara yang seperti sedang memanggilnya. Ia pun memasang ekspresi terkejut tak percaya, begitu melihat Erin yang dengan beraninya, datang ke club miliknya dengan tampang yang lusuh dan pakaian yang berantakan.
Madam Egeline pun langsung segera membawa Erin ke tempat yang sepi, agar tidak ada yang melihatnya. "Apa yang kamu lakukan di sini dengan tampang yang berantakan seperti ini? Bagaimana jika para pelangganku langsung pulang begitu melihatmu?" Ungkapnya merasa kesal, akibat Erin yang dengan sembarangan pergi ke club miliknya.
Sebenarnya, Erin pun tidak ingin melangkahkan kakinya ke dalam tempat berzina yang penuh dosa ini. Tapi mau bagaimana lagi? Situasi dan keadaan lah yang membuatnya terpaksa datang untuk menjual dirinya. Karna bagi Erin, menyelamatkan nyawa neneknya merupakan hal yang lebih penting dari pada keperawanan dan harga diri yang ia miliki.
Karna mau bagaimana pun juga, hanya neneknya lah satu satunya keluarga yang ia miliki dan yang masih tersisa saat ini. Tentunya Erin tidak akan membiarkan neneknya pergi meninggalkan dirinya sendirian di dunia yang keras ini.
"Ma, maafkan aku. Aku ke sini karna ingin bekerja, berikan aku pekerjaan yang waktu itu sempat kau tawarkan padaku." Tutur Erin terburu buru, mengingat kembali kondisi neneknya yang memerlukan uang dengan segera, untuk melakukan operasi.
Madam Egeline pun terkejut tak percaya di buatnya. Karna ternyata pada akhirnya, Erin yang beberapa waktu lalu menolak tawarannya untuk ikut bergabung, kini justru menghampirinya sendiri untuk meminta pekerjaan. Madam Egeline pun tersenyum, ia merasa puas dengan Erin yang datang sendiri untuk meminta kembali pekerjaan yang sempat ia tolak beberapa waktu lalu.
Sambil menaikkan ujung bibirnya, madam Egeline pun mengucapkan basa basi terlebih dahulu sekaligus untuk mengetahui, hal apa yang membuat Erin sampai menemuinya terlebih dahulu. "Tumben sekali kamu sampai seperti ini. Keadaan terdesak apa yang sampai membuatmu pada akhirnya mau bergabung dan bekerja di sini?" Tanyanya merasa penasaran.
Erin pun mau tidak mau harus menceritakannya. Karna tidak baik untuknya mengulur waktu lebih lama lagi, "Aku butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit nenekku dengan segera. Kalau tidak, nenekku tidak akan segera melakukan operasi." Ujar Erin yang menceritakan alasannya datang dan sampai meminta pekerjaan.
Mendengar alasan yang di ucapkan Erin, madam Egeline pun menganggap perkataannya masuk akal. Karna tidak mungkin gadis polos sepertinya, mau melakukan pekerjaan hina seperti ini jika tidak sedang berada dalam situasi yang terdesak.
Madam Egeline pun menatapnya dari atas hingga ke bawah. Ia yang bahkan kini sudah lumayan tua itu, sampai di buat kagum dengan bentuk tubuh Erin yang sangat indah. Meskipun tidak begitu terlihat karna pakaiannya yang longgar dan lusuh, Madam Egeline tentunya tidak akan salah menilai.
Apalagi di tambah dengan kulit putih dan paras cantik yang di miliki Erin, pasti membuat pria manapun yang melihatnya langsung terpesona. Kini yang di butuhkan Erin hanyalah sedikit perawatan pada tubuh dan wajahnya, setelah itu, kecantikannya pasti akan langsung terpancar dari dalam dirinya. Karna pada dasarnya, Erin memang cantik secara alami tanpa harus di permak.
"Baiklah. Aku menerimamu untuk bergabung dan ikut bekerja di sini," Ucap madam Egeline sambil tersenyum puas.
Di saat seperti ini lah Erin merasa gemetar. Namun meskipun begitu, ia sudah tidak bisa mundur lagi setelah memantapkan hati. Tidak masalah jika ia kehilangan aset satu satunya yang berharga dari dirinya, karna baginya, keselamatan neneknya lebih penting dari apapun di dunia ini.
Erin pun tak lupa dengan tujuannya datang kemari. "Tapi sebelum mulai bekerja, aku ingin meminta upahku terlebih dahulu." Tuturnya dengan sorot mata yang seolah menunjukkan bahwa ia tidak percaya dan masih merasa ragu.
Madam Egeline pun merasa tertantang mendengar Erin yang masih sangat muda itu, bahkan berani berkata seperti itu seolah tidak percaya padanya. Padahal biasanya madam Egeline membayar pekerjanya setelah melakukan pelayanan, namun kali ini, berbeda untuk Erin.
"Wah wah. Padahal kamu belum bekerja, tapi sudah meminta upah duluan?" Katanya meledek Erin yang tidak sabaran.
Erin pun tidak peduli dengan bagaimana tanggapan madam Egeline padanya. Karna jujur, di dalam hatinya ia masih merasa sedikit takut, jika setelah selesai melakukan pekerjaan yang hina itu, ia justru tidak di bayar dan neneknya tak kunjung bisa di operasi.
Setelah meledek Erin, Madam Egeline pun merogoh sakunya dan mengeluarkan segebok uang kemudian memberikannya pada Erin. "Karna kali ini merupakan yang pertama kalinya bagimu, aku memberikanmu uang sedikit lebih banyak dari pada yang lainnya." Ucapnya sambil melemparkan beberapa tumpukan uang itu kepada Erin.
Erin pun segera menangkapnya, ia menyimpan uang itu di dalam kantong kresek, untuk membayar biaya rumah sakit neneknya nanti. Madam Egeline pun merasa senang melihat Erin yang sangat antusias saat memasukkan uang yang barusan ia lempar.
"Padahal biasanya aku membayar para pekerjaku setelah mereka selesai melakukan pelayanan. Tapi khusus untukmu, aku berikan lebih awal. Maka dari itu, kamu harus berterima kasih padaku karna telah memperlakukanmu lebih baik dari pada yang lainnya," Ujar madam Egeline sambil menyembunyikan wajahnya dari balik kipas tangan yang sedang ia pegang saat ini.
Erin pun mau tidak mau harus mengucapkan terima kasih, karna bagaimana pun juga, madam Egeline lah yang sudah menolongnya dengan memberikan pekerjaan meskipun tidak halal.
"Tentu saja, saya sangat berterima kasih atas bantuan besar yang telah anda berikan." Kata Erin sambil terus memandangi kantong kresek berwarna hitam yang kini terlihat penuh, akibat banyaknya uang di dalamnya.
Madam Egeline pun menutup hidungnya, merasakan bau busuk yang menyeruak keluar dari tubuh Erin, entah apa yang akan terjadi padanya jika para pelanggannya juga mencium bau busuk di club malam miliknya. Madam Egeline dengan segera, langsung meminta Erin untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaannya.
"Sebelum itu, bersihkanlah badanmu yang bau itu." Ucap madam Egeline sambil menutup hidungnya dengan tangan.
Madam Egeline meminta pada para pekerjanya untuk memberikan Erin beberapa alat yang bisa ia gunakan untuk mandi seperti handuk dan lain sebagainya. Erin pun di antar pergi ke kamar mandi, yang terhubung dengan tempat di mana para gadis milik madam sepertinya, berdandan sebelum melakukan pekerjaan mereka.
Tanpa rasa takut, Erin pun mulai membersihkan dirinya. Membasahi dirinya yang kini sudah terlanjur merangkak ke dalam jalan yang salah, hanya karna merasa bingung dan terdesak. Bahkan rasanya, rasa letih dan dosa yang telah ia perbuat, ikut terhanyut dengan air yang terus mengalir dan membuat tubuhnya basah.
Dengan handuk seadanya, Erin pun keluar dengan tubuhnua yang hanya di tutupi oleh handuk itu tanpa rasa malu karna kini, tidak ada siapapun di dalam ruangan tersebut. Madam Egeline yang melihat Erin baru saja keluar dari dalam kamar mandi itu pun, langsung melemparkan sebuah pakaian pada Erin.
"Pakai ini. Kamu juga tau bukan? Jika memakai pakaian seperti ini juga merupakan bagian dari pekerjaanmu?" Ujar madam Egeline melipakan kedua lengannya di bawah dada.
Erin pun menerima pakaian itu kemudian memandanginya terus menerus. Mini dress berwarna hitam, dengan bagian dada nya yang terbuka dan juga pinggul yang ketat itu, merupakan pakaian yang bahkan tidak pernah ia sentuh seumur hidupnya. Tapi kini untuk yang pertama kalinya, Erin harus mengenakan pakaian yang ia anggap hina untuk menggoda para pria dan menyelesaikan pekerjaannya.
Erin pun mengangguk, ia pergi ke dalam ruang ganti dengan pasrah, memakai pakaian tersebut. Erin melihat dirinya sendiri di cermin yang berukuran besar, menatap dirinya yang menyedihkan, dirinya yang tidak bisa melakukan apapun, dirinya yang kini tersesat di jalan yang salah. Erin pun keluar, menunjukkan penampilannya yang kini semakin mempesona dengan di bantu oleh pakaian tersebut.
Madam Egeline pun tersenyum puas, begitu menatap penampilan Erin yang kini sangat berubah di banding sebelumya, hanya karna gaya pakaiannya yang berbeda. "Memang benar, penilaianku tidak pernah salah." Madam Egeline pun terus menatap Erin dari atas kepala hingga ujung kaki, merasa takjub dengan penampilan Erin yang begitu seksi sekarang ini.
Meskipun kini Erin memakai pakaian yang bagus dan terlihat mahal, pakaian yang bahkan seumur hidupnya tidak pernah ia bayangkan karna terlalu mustahil untuknya miliki, kini bahkan tidak membuatnya merasa senang dengan memakai pakaian ini.
Dengan pasrah, Erin pun mengikuti perintah madam Egeline yang memintanya duduk di kursi rias. Dengan tangannya sendiri, madam Egeline mendandani Erin dengan sangat lihai, membuat garis mata dan bibirnya terlihat lebih mempesona jika di bandingkan dirinya yang selalu polos tanpa make up sedikit pun.
Begitu melihat perubahan yang besar pada dirinya yang sekarang ini melalui cermin, Erin seolah merasa bahwa jati dirinya kini telah hilang. Erin merasakan sosoknya yang kini terlihat sangat berbeda dari pada sebelumnya.
"Nah, sudah selesai. Sekarang kamu bisa langsung melakukan pekerjaanmu." Tutur madam Egeline dengan senang melihat dirinya yang berhasil merubah Erin, sambil memberikan sentuhan terakhir untuk menyempurnakan riasannya.
Dengan tubuhnya yang lemas itu, Erin pun berdiri, menghadap madam Egeline untuk bertanya hal apa yang harus ia lakukan sekarang. "Apa yang harus saya lakukan sekarang?" Tanya Erin dengan sisa tenaga yang tidak seberapa di dalam tubuhnya.
Sambil menggandeng tangan Erin untuk keluar dan bersiap, madam Egeline pun menjelaskannya dengan singkat, hal apa yang harus Erin lakukan untuk memulai pekerjaannya. "Kamu tinggal pergi saja ke salah satu ruangan. Duduk dengan manis, kemudian menunggu sampai ada pria yang datang untuk menemuimu. Dan setelah ia datang, kamu hanya tinggal menuruti keinginannya saja, mudah bukan?" Kata madam Egeline yang menjelaskan.
Erin menelan ludah. Karna meskipun ia berasal dari golongan bawah, ia tentunya tidak bodoh dan mengerti dengan apa maksud dari ucapan madam Egeline padanya barusan. "Ba ... bagaimana jika yang datang adalah pria tua yang sudah memiliki istri dan anak?" Erin pun menyampaikan rasa khawatirnya.
Madam Egeline pun tersenyum, mendengar ucapan Erin yang menurutnya lucu. "Duh ... kamu ini, kamu terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Tentu saja hal itu tidak akan terjadi, karna yang bisa memasuki tempat ini hanyalah pria muda dan yang masih bujang." Kata madam Egeline berbohong, tidak ingin jika Erin sampai melarikan diri hanya karna hal ini.
Erin pun mau tidak mau harus percaya kepada ucapan madam Egeline karna kini, hanya madam Egeline lah orang yang dapat ia percayai. Lagi pula Erin sudah menerima uangnya, tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak pekerjaan yang sudah seharusnya ia lakukan sebagai imbalan dari uang yang telah ia terima.
Erin pun mengangguk, "Saya mengerti." Tuturnya dengan lembut, segera pergi menuju ke salah satu ruangan yang tadinya madam Egeline bicara dengan dirinya.
Erin pun melangkahkan kakinya ke dalam salah satu ruangan. Begitu masuk ke dalamnya saja, Erin tak henti hentinya di buat takjub dengan kemewahan yang ada di dalam ruangan tersebut. Cahaya yang seolah memang sengaja di buat redup, hanya di terangi oleh lampu disko, sofa yang empuk dan juga berbagai alkohol dengan harga yang cukup tinggi, kini berada tepat di depan matanya.
Erin pun melakukannya sesuai dengan apa yang madam Egeline perintahkan padanya. Erin hanya duduk di atas sofa yang empuk itu dengan manis dan tenang, menunggu dengan sabar, akan adanya pria yang datang ke dalam ruangan tersebut. Namun hingga beberapa menunggu, tak kunjung ada pria yang datang menghampirinya.
Kepala Erin saat ini pun terasa pening, akibat mendengar suara musik yang keras itu terus bergema di gendang telinganya. Agar bisa membuat dirinya kembali normal, Erin pun berfikir untuk mencoba alkohol di depannya itu sedikit. Agar setidaknya, ia sekalian juga bisa melupakan sejenak, berbagai macam masalah yang membuatnya seolah ingin mati selama ini.
Kedua orang tuanya sudah tiada, dan kini neneknya yang merupakan keluarga yang ia miliki satu satunya juga tengah berada di dalam keadaan kritis, terbaring di rumah sakit dengan lemah pada saat ia tidak memiliki uang sepeser pun. Tentu saja siapapun yang mengalami hal seperti itu, akan sama putus asanya seperti Erin sekarang ini.
Akhirnya, Erin pun menuangkan minuman itu ke dalam gelas dengan berfikir, bahwa tidak apa jika ia hanya meminumnya sedikit. Namun sayangnya, Erin meminum alkohol di depannya tanpa tau, jika kadar alkohol di dalam minuman itu sangatlah besar. Untuk orang yang baru pertama kali minim seperti Erin, tentu saja alkohol itu dengan mudah bisa membuat sekujur tubuhnya terasa lemas.
Meskipun terasa pahit, tapi anehnya Erin merasa seperti kecanduan hingga tak terasa, kini ia sudah menghabiskan tiga gelas besar dari minuman itu. Kini tubuh Erin benar-benar terasa lemas, pandangan matanya kabur dan kakinya pun seolah tidak bisa melangkah dengan benar.
Erin pun merebahkan tubuhnya yang kini terasa berat itu, pada meja di depannya. Pendengaran dan penglihatannya yang kini terasa kabur, sampai tidak bisa menyadari kedatangan seseorang ke dalam ruangan tersebut.
"Aku tidak menyangka jika bisa menemukan gadis yang masih muda di sini." Kata seorang pria paruh baya yang terlihat sangat menjijikkan. Tubuhnya yang gendut dan rambutnya yang sudah beruban itu, menunjukkan bahwa usianya mungkin sudah mencapai 50an sekarang ini.
Erin pun hanya bisa mendengarnya dengan samar, ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas, siapa yang saat ini tengah berbicara padanya akibat efek alkohol yang begitu kuat. Dengan tenaganya yang masih tersisa, Erin pun berdiri dengan susah payah, berniat untuk melakukan pekerjaannya tanpa tau siapa orang yang akan ia layani.
Tentunya pria paruh baya ini merasa senang, melihat Erin yang dengan suka cita menyambutnya. "Kamu cantik sekali, gadis muda. Siapa namamu?" Tanya pria paruh baya itu sambil menjilat bibirnya sendiri, merasa tergiur akan tubuh Erin yang kini sangat menggoda imannya.
"Na, nama saya ... Erin." Jawab Erin dengan terbata bata, merasa bahwa suaranya sebentar lagi seperti akan hilang.
Erin yang semula mencoba untuk berdiri dan hendak melakukan pekerjaannya itu, kini dengan tidak sengaja terjatuh ke atas pangkuan pria yang bahkan wajahnya saja, tidak bisa ia lihat dengan benar itu. Tapi tentunya, bagi pria tua itu hal ini adalah hal yang menguntungkan baginya.
"Ah ... maaf, saya tidak sengaja." Sambil terus memegang kepalanya yang terasa seperti sedang berputar putar itu, Erin pun mencoba untuk berdiri dan meminta maaf atas kesalahannya.
Saat ini, terlihat sekali hawa nafsu yang begitu besar pada pria tua yang kini berada dalam satu ruangan yang sama dengan Erin. Hasratnya langsung mencuat, begitu gunung kembar Erin dengan tidak sengaja menyentuh kedua pahanya dan membuatnya bergairah.
Sambil memegang tangan Erin dan menariknya untuk kembali lagi ke pangkuannya, pria itu pun berbicara dengan lantang, sehingga membuat Erin kini dapat mendengar suaranya dengan sangat jelas. "Tidak apa-apa. Kemarilah lagi!" Katanya dengan bersemangat.
Erin pun kini bisa melihat dan mendengar wajah juga suara pria yang dari tadi ada bersama dengan sangat jelas. Betapa terkejutnya Erin, begitu mengetahui pria yang dari tadi berada dalam satu ruangan yang sama dengannya, ternyata adalah pria tua yang bahkan seluruh rambutnya hampir berubah warna menjadi putih. Rasa pusing akibat efek dari mabuk itu seolah langsung menghilang dari tubuhnya akibat merasa panik.
Dengan refleks, Erin pun segera menghindari pria itu dan berjalan mundur, ia tidak menyangka jika rasa khawatir yang dari tadi ia takutkan, kini justru benar-benar terjadi pada dirinya. Meskipun Erin sudah menghindar, pria tua yang kini berada jauh darinya sama sekali tidak terlihat berniat untuk melepaskannya.
Sambil terus melangkah mendekati Erin, pria tua itu memasang ekspresi wajah yang menjijikan untuk di lihat. "Mau lari ke mana kamu?" Ujarnya dengan posisi tubuh yang seolah sudah siap, untuk pergi berlari dan menangkapnya.
Erin pun dengan segera mengambil vas bunga yang ada di belakangnya, ia menyodorkan vas bunga yang di buat dari kaca itu untuk menyelamatkan dirinya. "Mu, mundur! Ka ... kalau tidak, aku benar-benar akan melemparkan ini padamu." Kata Erin mengancam, untuk melindungi dirinya sendiri.
Sewaktu kecil, Erin mempunyai trauma di masa lalunya yang hingga kini masih membekas dan membuatnya jadi merasa takut, setiap kali bertemu dengan pria itu yang mirip seperti kakeknya. Semua penampilan pria di depannya kini, benar-benar mirip sekali dengan kakeknya yang kini sudah mati. Mulai dari perutnya yang buncit, tubuh yang pendek dan gemuk serta rambutnya yang hampir semuanya berubah menjadi warna putih, tentu saja mengingatkan Erin dengan sosok kakeknya.
Kakeknya yang senang sekali bermain dengan wanita, melakukan judi, mabuk, hingga melakukan kekerasan terhadapnya dan juga neneknya. Jika kali ini pria yang akan ia layani adalah pria tua yang mirip dengan kakeknya, Erin merasa tidak ada bedanya ia dengan wanita-wanita selingkuhan kakeknya dulu, yang sudah membuat neneknya menangis setiap hari tanpa henti. Itulah alasan mengapa Erin sangat menolak, jika pria yang harus ia layani adalah seorang kakek kakek.
"Kamu pikir aku takut? Coba saja lempar." Kata pria tua itu yang tidak menunjukkan sedikit pun jika ia merasa takut pada ancaman yang di berikan oleh Erin padanya barusan.
Melihat pria tua di depannya yang justru terus melangkah maju mendekati dirinya dan sama sekali tidak menghiraukan ancamannya, membuat Erin dengan terpaksa, harus melemparkan vas bunga itu agar bisa melindungi dirinya sendiri. Namun sayangnya, saat Erin sudah melemparkan vas bunga itu ke arahnya, pria tua itu justru berhasil menghindar.
Erin pun kini merasa kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan. Melihat Erin yang saat ini sedang tidak fokus, membuat pria tua di depannya jadi lebih mudah untuk menangkapnya. "Akhirnya kena!" Teriak pria itu yang merasa sangat senang, karna ia kini berhasil menangkap gadis cantik yang dari tadi terus mencoba mengincar darinya.
Erin pun meronta ronta, mencoba melepaskan tubuhnya dari genggaman pria tua itu. Namun, Erin yang masih muda itu bahkan sampai tidak bisa melawan pria yang bahkan sudah masuk usia lanjut akibat sisa efek samping dari alkohol yang masih tersisa di dalam tubuhnya.
Pria tua itu kali ini benar-benar tidak berniat untuk memaafkan Erin yang tadi hampir ingin membunuhnya. Pakaian Erin pun di sobek sobek, bibir Erin yang tipis itu dengan paksa di curi, kedua buah dadanya pun dengan kasar di remas olehnya, membuat Erin sampai berteriak karna merasa sakit.
Untungnya, teriakan Erin itu pun membuatnya bisa terselamatkan dan lepas dari genggaman pria tua itu. Suara teriakan Erin yang sangat keras, membuat orang yang tengah lewat di depan ruangan mereka mendengarnya, kemudian masuk untuk mengecek keadaan dari dalam ruangan tersebut.