Bab 1

Suara ramai terdengar dari para siswa-siswi yang sedang dalam mata pelajaran olahraga. Seorang gadis cantik, rambut hitam sebahu sedang melakukan pemanasan di sudut lapangan Volly.

"Azalea!" Terdengar suara cempreng yang memanggil namanya. Siapa lagi kalau bukan kedua sahabatnya. 

Azalea, merupakan salah satu siswi kelas XII yang berprestasi di sekolah. Nilainya tak pernah mengecewakan. Selain pintar dia juga masuk kategori sebagai gadis yang cantik dan ramah namun sedikit pemalu. Ingat yah, hanya sedikit.

Banyak para siswa yang selalu ingin dekat dengannya, bahkan pemuja rahasianya tak terhitung lagi jumlahnya. Terbukti begitu banyak hadiah kecil yang selalu ia jumpai di laci mejanya di kelas setiap hari. 

"Udah siap main?" tanya Viola yang sedang berjalan beriringan dengan Zinnia. 

Viola dan Zinnia adalah sahabat Azalea. Berbeda dengan Azalea yang terkesan sedikit pemalu, kedua sahabatnya itu lebih terkesan ke sifat tak tahu malu. Yah, kedua sahabatnya itu adalah gadis yang narsis, bawel kayak emak-emak berdaster, tukang ghibah kayak para tetangga. 

Namun nasib mereka berbeda, Viola dan Zinnia adalah anak seorang pengusaha kaya sedangkan Azalea hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah seorang buruh di salah satu pabrik penghasil makanan instan yang tak lain adalah perusahaan milik ayah Zinnia dan ibunya seorang penjahit rumahan. Kendati demikian Viola serta Zinnia selalu memperlakukan Azalea dengan baik. Bahkan ketika ada yang menghina Azalea mereka akan berada di barisan paling depan untuk membela Azalea. 

Back to Lapangan Volly

Azalea dan para teman lainnya tengah bersiap untuk bermain. Para siswi berhadapan dengan siswi juga, begitu pun juga para siswa. 

"Udah deh, ngaku kalah aja. Ngapain juga capek-capek main, kan sudah bisa ditebak siapa yang bakalan menang!" teriak salah satu siswa yang merupakan lawan Azalea dan juga sahabatnya. 

"Ck, sombong sekali kau. Entar kalah juga paling nangis kejer. Huaaa … Mami... Mami," ledek Viola dengan nada mengejek sambil memainkan bibirnya. Siswa lain yang mendengarnya ikut tertawa. 

"Kau! Awas kau yah! Kalau begitu ayo buktikan siapa yang bakalan nangis di sini," sahut Asoka yang tak mau kalah. Asoka merupakan salah satu siswa satu kelas dengan Azalea dan lainnya. Meskipun pintar tapi Asoka terkesan sombong dan sedikit manja. 

Asoka selalu menganggap Azalea dan sahabatnya sebagai musuh. Karena ia merasa iri dengan persahabatan mereka. 

Permainan pun dimulai. Para suporter dari masing-masing team terdengar berteriak saling memberikan dukungan. Permainan berlangsung dengan begitu meriah, bahkan ada sebagian para guru yang sedang free ikut menyaksikan permainan para siswinya, terkadang mereka pun ikut bersuara. 

Para siswa yang sedang bertanding di lapangan sebelah pun merasa terusik sekaligus penasaran. Mereka berlarian ke sumber suara untuk ikut menyaksikan pertandingan tersebut karena memang saat itu guru olahraga berhalangan hadir jadi mereka semua hanya bermain-main saja. 

"Ayo Azalea, semangat!" teriak Afdal. Afdal merupakan salah satu cowok yang tak lain adalah teman Iqbal. 

Iqbal adalah teman sekelas Azalea yang sudah satu tahun jatuh hati pada gadis itu, hanya saja tak pernah ia ungkapkan karena belum memiliki keberanian untuk itu. Bukan hanya Afdal yang mengetahui jika Iqbal temannya itu menyukai Azalea, bahkan Viola dan Zinnia pun tahu. Hanya saja mereka mengabaikannya dan 

tidak pernah mengatakan kepada Azalea yang kurang peka itu. 

Silih berganti para siswa-siswi berteriak menyuarakan dukungannya. 

Setelah beberapa menit permainan berlangsung pertandingan pun dimenangkan oleh team dari Azalea dan kawan-kawan. Mereka semua berteriak sambil berpelukan serta lompat-lompat kegirangan, sedangkan team Jenika sedang bersungut kesal sambil menghentakkan kaki.

"SEKARANG KAU BISA LIHAT KAN SIAPA YANG TERBAIK. MAKANYA JANGAN SOK JAGOAN. HUU!" teriak Viola dan di ikuti tawa oleh sebagian siswa-siswi yang ada di sekitar lapangan tersebut. 

"Jangan nangis yah..." tambah Zinnia.

Asoka mengepalkan kedua tangannya mendengar teriakan dari rivalnya tersebut. Dengan wajah yang merah padam karena marah sekaligus malu dia dan para dayang-dayangnya meninggalkan lapangan tersebut. Azalea hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum tipis melihat kelakuan para sahabatnya. 

Sepulang sekolah seperti biasa Azalea selalu diantar oleh Viola dan Zinnia dengan mobil. Kadang memakai mobil Viola kadang juga dengan mobil Zinnia. Yah, Viola dan Zinnia memang tinggal satu kompleks. Sedangkan Azalea tinggal di perumahan sederhana. 

"Assalamualaikum!" teriak Azalea begitu masuk ke dalam rumah dan disambut hangat oleh kucing kampung kesayangannya. Azalea menggendong kucing yang diberinya nama yaitu Si Manis sambil membelainya. 

"Waalaikumsalam," balas Melati yang merupakan bunda Azalea. 

Azalea meraih punggung tangan sang Bunda kemudian mengecup pipi kanan,kiri Melati dan bergelayut manja di lengannya. Sang bunda hanya tersenyum melihat kelakuan manja putri satu-satunya tersebut. 

"Udah sana ke kamar bersihkan diri dulu. Kamu mau makan sayang?" tanya Melati kepada anaknya yang baru saja melangkahkan kakinya menuju kamarnya. 

"Nggak bun. Lea masih kenyang," jawab Azalea. Lea adalah panggilan keseharian Azalea ketika di rumah dan juga panggilan untuknya dari para tetangga dan kerabat dekat Azalea.

"Ya sudah, kamu bersihkan diri baru istirahat yah," titah sang bunda dengan nada lembutnya.

"Siap Bundaku Sayang," jawabnya sambil memberi hormat layaknya seorang prajurit sejati. Ia kemudian berlalu menuju ke kamarnya. Sedangkan Melati hanya tersenyum.

Langit sudah berganti warna, suara manusia yang berlalu lalang kini telah tergantikan oleh suara hewan-hewan kecil di balik rerumputan. Televisi kini tengah menayangkan cerita yang tayang bisa sampai 1000 episode dimana menjadi kegemaran para ibu-ibu berdaster. Begitupun dengan tayangan berita. Pada jam istirahat seperti ini terkadang Melati dan juga Wiranto Ayah Azalea memperebutkan remote televisi untuk melihat tayangan kesayangan mereka. 

Wiranto atau biasa di sapa Wira, pria berumur setengah abad itu masih terlihat sangat tampan meskipun di wajahnya sudah sedikit ada keriput. Begitu juga dengan Melati. Tak salah jika Azalea lahir dengan wajah yang cantik. Karena memang ayah dan bundanya merupakan salah satu idola di sekolah dulu pada zamannya. 

Azalea tengah bergelut di dapur untuk membuat makan malam. Selain pintar di sekolah Lea juga senang memasak. Keahlian memasaknya didapatkan dari sang Bunda dan Neneknya yang ada di kampung. 

"Taraaa… Bunda, Ayah, makanannya udah siap! Makan yuk!" teriak Azalea kepada kedua orang tuanya yang saat ini tengah berada di depan televisi.

Di meja makan tengah tersedia nasi panas dengan lauk tempe goreng tepung, ayam goreng, sayur tumis sawi serta sambal. Sungguh makanan yang dapat menambah timbunan lemak di perut, sebab kalau sudah dapat lauk seperti ini dipastikan susah untuk berhenti sebelum piring lauk kosong. Heheh.

"Wah enak nih! Putri ayah emang jago masak," puji Wira kepada sang putri yang saat ini tengah tersenyum senang sambil menampilkan deretan gigi putihnya. 

"Iya donk Ayah, kan Bunda yang udah ajarin. Bunda nggak di puji nih?" tanya Melati dengan wajah cemberut. 

"Iya iya. Pokoknya Bunda dan Lea deh yang terbaik," puji Wira yang membuat senyum terbit di wajah kedua orang kesayangannya. 

Mereka pun makan dengan lahap sambil sesekali berbincang mengenai sekolah Azalea,pekerjaan Ayah, dan juga banyaknya orderan jahit untuk sang Bunda. 

Setelah semua piring kosong, Lea membersihkan meja makan dan mencuci piring. Yah ketika malam hari ia memang biasa menggantikan sang Bunda untuk masalah dapur. Karena ia tak mau jika bunda kesayangannya itu sampai kecapean, terlebih lagi akhir-akhir ini orderan jahitnya menumpuk. 

Sesekali Azalea pun juga turut andil membantu sang Bunda memproses jahitannya jika sedang tak banyak tugas sekolah. Iya sangat gemar memainkan pensilnya untuk merancang baju baju yang menurutnya cantik dan wow. 

Tak salah jika Azalea bercita-cita menjadi seorang fashion desainer. Karena menurutnya sangat menyenangkan ketika ide yang dituangkannya di dalam kertas dinilai baik oleh orang lain apalagi ketika sang Bunda mengaplikasikannya dalam wujud sebuah gaun atau gamis untuk para customernya dan mereka pun puas dengan hasilnya. 

Seperti sekarang ini, pagi-pagi salah satu ibu muda yang satu kompleks dengan mereka sedang mencoba gaun pesanannya untuk acara nikahan. 

"Wow, ini pas sekali Bu Melati. Gaunnya cantik sekali. Aku selalu puas dengan hasil karyamu," puji tetangga mereka yang tak lain adalah Bu Icha. Bu Icha adalah salah satu customer tetap Sari. Kadang ia menerima orderan darinya dia sampai tiga kali dalam satu bulan. 

"Terima kasih Bu Icha untuk orderannya. Ini juga modelnya bantuan dari Lea," ucap Sari.

"Iya, itu sebabnya aku selalu menyuruh Lea yang memilihkan model atau memodifikasi berbagai macam model, karena aku yakin hasilnya selalu memuaskan seperti ini. Semoga Azalea betul-betul bisa menjadi desainer yah bu Melati," tutur Bu Icha tulus sambil menyelipkan sedikit doa. 

"Iya Bu Icha, semoga yah!" Senyum Sari kepada tetangganya itu. 

Icha pun memberikan upah kepada Melati. Tak jarang kadang ia memberi lebih dari harga yang telah dibicarakan dengan alasan tambahan uang jajan untuk Azalea. Meskipun tak enak hati tapi Melati terpaksa menerimanya karena tak ingin mengecewakan Bu Icha.

Bab 2

Pagi indah untuk semua anak sekolah karena hari ini merupakan hari libur nasional. Suara burung berkicau terdengar begitu merdu di telinga. Cahaya mentari terlihat di sela-sela gorden putih yang beterbangan tertiup oleh sang angin. Seorang gadis masih meringkuk dibawah selimut putihnya dengan mata yang masih terpejam, terlihat bibirnya membentuk lengkungan ke atas, entah apa yang dia mimpikan. Hingga suara perempuan kesayangan membangunkan dirinya dari mimpi indahnya.

"Lea, bangun sayang. Katanya mau makan bubur ayam, kalau lama entar habis loh! Bubur ayam Bang Asep cepat habis loh!" teriak Melati di balik pintu kamar sang putri. 

Azalea menggeliat, ia duduk sambil mengumpulkan separuh nyawanya, mengucek-ngucek matanya. "Iya bunda, bentar, Lea mandi dulu." 

Azalea langsung beranjak dari ranjang sederhananya, mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. 

Selesai mandi Lea langsung berlari keluar rumah menuju ke tempat penjual bubur ayam langganannya yang berada tak jauh dari rumahnya, sekalian olahraga lari pagi. Tak lupa pula iya menyapa para tetangga yang berpapasan dengannya sembari tersenyum.

Lea pulang sambil menenteng tiga kresek bubur ayam untuk dirinya dan juga bunda dan ayahnya. Sesampainya di rumah setelah memindahkan bubur tersebut di piring Lea sarapan dengan begitu lahapnya. Ayah, bundanya hanya tersenyum melihat tingkah putrinya tersebut.

Hari libur tinggal rumah bermalas-malasan? Jawabannya no! Azalea kini sibuk menyapu daun-daun pepohonan yang bertebaran di halaman rumahnya. Karena pagar rumah Azalea hanya pagar kayu dan cukup pendek jadi mereka yang lewat depan rumah itu akan melihat sosok manusia cantik itu. 

Seperti sekarang ini, bunda dan para tetangga mereka sedang berbaur dengan tukang sayur keliling. 

"Aduh, rajin banget sih anaknya jenk. Seandainya aku punya anak cowok, udah aku nikahkan dengan anakmu," ucap tetangga 1.

"Iya jenk. Lea itu selain cantik, pintar tapi juga rajin yah. Jarang-jarang sekarang anak gadis yang mau mengerjakan tugas rumah seperti itu. Pegang handphone iya bahkan selalu seperti anak saya," timpal tetangga 2.

"Iya jenk. Jadi pengen punya anak perempuan." 

Bla… blaa… blaa… 

Melati hanya menanggapi ucapan tetangganya itu dengan senyuman. Meskipun usia sudah setengah abad tapi tak mengurangi kecantikan di wajahnya.

Kalau punya fans, pasti punya haters. Yups, betul sekali! Bahkan sekarang yang masuk kategori haters Lea dan Melati sekarang sedang memilih milih sayuran dengan wajah kusut. Ia begitu kesal mendengar para ibu-ibu sedang memuji anak Melati. 

Bu Nining langsung membayar sayuran yang ia beli lantaran tak ingin berlama-lama mendengar para tetangganya itu memuji Lea. 

Ia tak suka dengan Lea karena merasa Lea adalah gadis yang sempurna, rata-rata semua para lelaki di kompleks itu mengaguminya termasuk suaminya. 

Ibu-ibu lain hanya mengangkat bahunya tanpa berkomentar melihat kepergian Bu Nining yang terkesan terburu-buru. 

"Bunda, Ayah, Lea berangkat dulu yah." Azalea memberi salam kepada kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka sebelum berlari, sebab ojek online yang dipesan sudah nongkrong manja di depan rumah dengan motor maticnya. 

"Maaf mbak buat mbak menunggu," ucap Lea yang merasa tak enak hati. 

"Nggak papa kok mbak, nggak masalah. Kalau begitu kita berangkat sekarang yah?" 

"Ok mbak," jawab Lea sembari tersenyum. 

Motor matic itu pun melaju dengan kecepatan sedang, membela jalanan yang terlihat cukup ramai saat itu. Azalea dan mbaknya pun terlihat sesekali berbincang.

Setelah beberapa menit Azalea pun sampai di depan rumah yang cukup mewah dengan warna nuansa ungu. Yah, pemilik rumah ini adalah purple lovers. Heheh. Setelah memberikan ongkos kepada mbak ojeknya Azalea masuk ke rumah tersebut setelah dipersilahkan oleh satpam. Dan masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan oleh pembantu di rumah itu.

Sembari menunggu tuan rumah turun dari kediaman ternyamannya, Lea berdiri dan melangkah ke arah dimana terletak beberapa pigura. Dan ada satu pigura yang menarik perhatian gadis cantik tersebut. Dia mengangkat pigura tersebut sembari tersenyum. 

"Tampan sekali," puji Lea. Tanpa ia sadari ada seorang wanita yang tatkala cantiknya mendengar ucapannya.

"Dia Om ku." 

"Astaga! Viola kau mengagetkanku," uc‍ap Azalea sembari mengelus-elus dadanya. Rumah tersebut adalah rumah Viola. Kedatangan Azalea hari ini sebab ada beberapa tugas rumah yang harus mereka selesaikan. Viola terkekeh melihat reaksi sahabatnya itu.

"Tampan kan?" tanya Viola.

"Iya, tampan sekali. Anak di sebelahnya itu lucu sekali," ucap Azalea mengagumi dua sosok yang ada dalam pigura tersebut.

"Iya itu Neo, anak Omku." 

"Pantas mereka agak mirip. Ternyata anaknya toh," ucap Lea dengan mimik wajah yang sedikit berubah menjadi cemberut. Viola yang menyadari itu pun mengerutkan keningnya.

"Kenapa? Apa kau jatuh cinta pada pandangan pertama setelah melihat foto itu?" tanya Viola sambil menatap sahabatnya. 

"Hmmm… Entah," ucap Azalea sambil menaikkan bahunya. 

"Kerjain ah!" Viola

"Huuu sabar yah. Walaupun kamu naksir juga nggak bakalan kesampaian, soalnya dia sudah punya anak, jadi otomatis dia punya---?"

"Istri," timpal Azalea. Semakin kusut saja wajahnya.

"Itu kamu yang bilang yah, bukan aku. Tapi sepertinya bagus juga kalau sahabatku ini yang akan jadi little auntyku. Akhh... ide yang sangat cemerlang Viola. Kau memang jenius,"  batin Viola.

Azalea menjentikkan jarinya di depan wajah Viola, karena sahabatnya itu terlihat melamun. 

"Kenapa kau melamun? Hayo, apa yang kau pikirkan? Jangan-jangan otakmu itu sedang berfantasi  memiliki anak dengan kak Akram?" tanya Viola dengan nada mengejeknya. 

"Otakku tidak berfantasi memiliki anak, tapi sedang berfantasi liar sedang membuat anak, bisik Viola. 

"Mesum!" teriak Azalea sambil memukul bahu sahabatnya yang mesum itu. Viola tertawa terbahak-bahak melihat reaksi menjijikkan yang ditampilkan Azalea. Dia memegangi perutnya sembari tertawa. 

Di antara mereka bertiga, Azalea lah yang paling polos. Bahkan jatuh cinta pun ia tak pernah, sebelum melihat pigura tadi. Setelah melihatnya, entah apa yang ia rasakan. Sedangkan Zinnia sebelas duabelas dengan Viola yang sedikit mesum meskipun dia belum memiliki kekasih. 

Setelah beberapa menit Zinnia pun datang. Mereka mengerjakan tugas dengan serius di gazebo belakang rumah Viola ditemani dengan minuman dingin nan segar yang di buatkan oleh pembantu di rumah itu.

"Permis non, ada cowok ganteng di luar, cariin nona," ucap bi Inah sambil tersenyum. 

"Siapa bi?" tanya Viola.

"Cowok ganteng Non, katanya dia mau ketemu sama nona," ucap bi Inah lagi tersenyum, dia begitu mengagumi sosok cowok ganteng tersebut. 

"Suruh masuk aja bi," titah Viola. 

"Si ganteng nggak mau, Non, katanya harus nona yang menjemputnya di luar. Dia masih berdiri di luar pintu." 

"Ish, siapa sih," ucap Viola namun ia tetap beranjak dari duduknya meskipun sedikit kesal. 

Ceklek…

Bab 3

Pintu terbuka

"Siang Sayang." Seorang pria tampan menyapa Viola dengan senyum manis di wajahnya. Wajah tampan yang sudah satu tahun ini mengisi hari-harinya. 

"Sayang," balas Viola dengan wajah yang sumringah. Terlihat gadis itu begitu senang dengan kedatangan kekasihnya.

Viola menggandeng tangan kekasihnya yang terlihat memegang kantong kresek. Viola menuntun kekasihnya itu untuk mengikutinya. "Kamu kok datang nggak bilang-bilang?" tanyanya.

"Biar surprise aja," ucap Akram, lalu dia menatap Viola sambil memicingkan matanya. 

"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Apa kau punya pria lain yang datang bertamu?" 

Sederetan pertanyaan terlontar dari bibir merah pria yang sedang cemburu buta itu dan menghentikan langkahnya.

"Ish, kau itu!" Viola mencubit pelan lengan Akram karena merasa gemas dengan kekasihnya itu. "Nggak ada pria lain sayang. Cuman ada Azalea dan Zinnia di taman belakang.

"Oh! Kirain." Akram terkekeh kecil. Mereka lalu melanjutkan langkahnya menuju di mana Azalea dan Zinnia berada.

Akram Harinto, seorang pengusaha muda yang saat ini sedang menjalani bisnis resort. Dia melanjutkan usaha ayahnya yang saat ini sedang membuka beberapa cabang. Akram dan Viola sudah menjalin kasih selama satu tahun. Mereka bertemu saat sama-sama sedang menghadiri acara pernikahan salah satu kolega ayahnya. 

Meskipun sama-sama masih muda, baik Akram maupun Viola serius menjalani hubungannya. Tak tanggung-tanggung mereka bahkan sudah mempertemukan orang tua mereka satu sama lain, yang berujung orang tua mereka sekarang berteman dan sering bertemu. 

Azalea dan Zinnia yang saat ini tengah sibuk dengan laptop masing-masing tak menyadari kehadiran Viola dan Akram. Sampai suara cempreng Viola membuyarkan konsentrasi mereka.

"Hey, hey guys, kita ngemil dulu yuk!" seru Viola. Ia lalu berlari masuk ke dalam dapur sambil menenteng kresek yang dibawa oleh Akram tadi. Akram terkekeh kecil melihat tingkah kekasih yang berlari-lari melompat seperti anak kecil. Azalea dan Zinnia pun geleng-geleng kepala melihat aksi kekanak-kanakan sahabatnya.

Mereka semua memakan beberapa macam cake yang dibawa oleh Akram ditemani dengan minuman dingin yang telah disiapkan oleh pembantu Viola.

"Setelah lulus, kalian akan lanjut kuliah?" tanya Akram sesaat setelah meminum jus jeruk miliknya.

"Iya dong Sayang. Kami akan lanjut di kampus yang sama," jawab Viola dengan semangat.

"Kalau kita nikah dulu baru kamu lanjut, gimana Sayang?" Akram mencoba menggoda kekasihnya, dia ingin melihat bagaimana reaksi dari Viola. Benar saja pipi Viola langsung merah merona mendengar ucapan Akram. 

"Cie ... Viola malu-malu," ledek Azalea. 

"Pipinya merah cuy," timpal Zinnia.

Akram tertawa melihat tingkah Viola yang langkah. Biasanya kekasihnya itu tak pernah kehabisan kata-kata untuk setiap pertanyaannya, tapi sekarang tingkah malu-malunya itu justru sangat menggemaskan bagi Akram. 

Akram langsung memeluk erat Viola yang duduk di sampingnya. "Kamu menggemaskan sekali Sayang. Seandainya nggak ada mereka di sini aku sudah menciummu," bisik Akram lalu mencubit gemas pipi Viola. 

"Aku denger loh kak," ucap Zinnia sambil mencibirkan bibirnya. 

"Aku juga," timpal Azalea mengerucutkan bibirnya. 

"Kalau kakak mau, yah cium aja. Kita nggak bakalan lihat kok." Zinnia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan diikuti oleh Azalea melakukan hal yang sama. 

"Ish, kalian itu menyebalkan," kesal Viola. 

Cup… 

Akram mengecup singkat bibir Viola bertepatan dengan Azalea dan Zinnia membuka mata. Viola membelalakkan matanya dengan aksi nekad kekasihnya itu. 

Azalea dan Zinnia jangan di tanya lagi. Mereka terkejut, mata mereka melebar seakan hendak keluar pada tempatnya dan mulutnya membentuk huruf O. Sedangkan Akram hanya terkekeh kecil sambil membawa Viola ke dalam dekapannya. 

Viola memukul pelan dada bidang Akram.

Azalea dan Zinnia berpelukan layaknya teletubbies sambil berakting menangis. "Hiks, hiks... Bisa nggak kalian hargai perasaan kami yang jomblo di sini?" protes Zinnia.

"Iya bener. Malah lihat secara live lagi adegan kissnya," tambah Azalea. 

"Jomblo yang teraniaya!" serentak Azalea dan Zinnia masih dengan gaya berpelukan. 

"Apa bagusnya sih jatuh cinta, aku penasaran deh?" tanya Azalea menghadap ke Zinnia setelah memperbaiki kembali duduknya. 

"Yah, kamu tanya ke aku. Aku mana tau Zubaeda! Aku kan juga nggak pernah jatuh cinta." Zinnia mengangkat kedua bahunya tanda ia pun tak punya jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu. "Tanya noh sama kedua insan yang saling berpelukan mesra di depan kita." Sambil mengangkat dagunya ke arah dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. 

"Iri? Bilang bos," pekik Viola yang semakin mengeratkan pelukannya untuk memanasi kedua sahabatnya. 

"Sekalian aja kak Akram karungin bawa pulang," kesal Zinnia.

"Boleh juga tuh idenya," canda Akram yang mendapat tatapan tajam dari Viola. 

"Serius dhe ini kak Akram, Lea mau tanya. Apa tandanya kalau kita jatuh cinta pada seseorang?" tanya Azalea serius. Zinnia pun memperbaiki duduknya menghadap ke Akram.

Akram melerai pelukannya dari sang kekasih dan beralih menggenggam tangannya. 

"Hmmm…" Akram terlihat berpikir. "Ketika kamu melihatnya, jantung kamu akan berdetak lebih cepat dari biasanya." Azalea dan  Zinnia manggut-manggut seperti ayam yang sedang mematuk beras di tanah sembari menunggu jawaban selanjutnya. 

"Kamu akan merasa bahagia ketika melihatnya. Kamu jadi ingin tau segala tentang dia. Cukup sekian dan terima kasih." Akram tertawa melihat reaksi para sahabat kekasihnya itu. 

Azalea terlihat memegangi dadanya.

"Kenapa Lea, apa jantungmu berdetak lebih cepat waktu melihat foto tadi?" tanya Viola disertai dengan senyum mengejeknya. Tangannya masih setia berada dalam genggaman Akram. 

Azalea mengangguk. "Iya, tadi jantung ku sepertinya sedang berdisko ria, berdetaknya cepat sekali. Aku pikir tadi aku terserang penyakit jantung," ucapnya polos sambil mengelus-ngelus dadanya.

"Hahaha." Tawa Akram, Viola dan Zinnia pun pecah mendengar jawaban konyol Azalea. 

Sedangkan Azalea sudah memajukan bibirnya sambil menunduk malu.

"Foto siapa sih Sayang?" tanya Akram.

"Foto Om Kenzo sama Neo," jawab santai Viola. 

Baru juga Akram dan Zinnia menarik nafas ingin berbicara, Viola langsung mengangkat jari telunjuknya menyuruh mereka diam. Akram serta Zinnia mengerutkan keningnya.

"Itu tandanya kamu jatuh cinta sama Om ku. Tapi yah, mau gimana lagi," ucap Viola seperti menggantung.

"Hmmm… Nasib nasib. Baru merasakan jatuh cinta sama seseorang, eh tau tau orangnya ternyata udah punya istri," sahut Azalea lesu. 

Zinnia yang sudah mulai mengerti rencana Viola ikut menimpali. "Tantangan tuh Lea, kan lagi musim tuh pelakor." 

"Ish, amit-amit dah aku jadi pelakor Nia. Mending jomblo daripada ngerusak rumah tangga orang," kesal Azalea. 

"Bener tuh apa kata Nia. Coba tak mengapa, gagal jadi pengalaman. Iya nggak?" tambah Viola.

"Ish, kalian berdua sama aja. Bukannya ngajarin yang baik-baik malah membawa ku ke ajaran sesat." kesal Azalea seraya cemberut membuat ketiga orang di dekatnya tergelak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED