Hidup adalah misteri.
Pak Gian menanamkan itu di otak puteri tunggalnya ketika mereka harus kehilangan Mirna, sosok ibu dan istri yang mereka cintai ketika Carissa baru berusia sepuluh tahun.
Dengan keadaan hidup serba berkecukupan, tak pernah kekurangan suatu apa pun, Carissa cuma harus tunggu sebulan lagi sebelum akhirnya pak Gian punya waktu untuk mengajak mereka pergi ke Universal Studio. Tapi demam yang diderita mendadak oleh bu Mirna justru membawanya ke ajal tak terduga.
Sejak saat itu, rasanya Carissa mati rasa pada setiap hal yang diluar ekspektasinya.
Toh semua orang akan mati. Toh setiap yang ada akan hilang.
Tak ada yang abadi.
Begitu juga responnya ketika mendengar nama pak Gian ditangkap polisi di kantornya pada tengah hari, saat dia sedang santai menyantap bento, mengunyah ebi tanpa ada firasat apa-apa.
"Ini bokap lo kan Ris?" Wiryo, pria berambut tipis itu menunjukkan layar iphone-nya.
Halaman instagram berita terkini menunjukkan seorang pria gemuk dengan kumis tebal digiring dua orang polisi berbadan tinggi besar.
Yang bisa Carissa lakukan adalah...
Memproses berita itu secepat mungkin.
Memastikan pria gemuk berpipi penuh itu adalah ayahnya. Dengan nama Giantoro Haliman, berarti betul itu ayahnya.
Mata Carissa menurun ke bagian caption, tuduhannya penggelapan dana perusahaan. Buset. Carissa tahu betul ayahnya kerja di pabrik makanan beku itu bahkan sebelum dia menikah dengan bu Mirna. Tak lama lagi pak Gian memasuki usia pensiun. Kalau dia bertahan sebentar, uang pesangonnya pasti cair banyak. Kenapa harus mengambil uang secara ilegal?
Toh kehidupan mereka selama ini tak aneh-aneh. Carissa bersekolah di sekolah swasta mahal hingga kampus bergengsi di biaya yang tergolong tinggi. Tapi gaji ayahnya pasti cukup untuk itu. Dia menyelundupkan uang lebih buat apa?
Nah, di posisi dahi yang berkerut seperti ini, Carissa mulai merasa sel-sel otaknya saling menyambar tanda berpikir terlalu keras. Padahal di momen ini, dia sudah tak bisa melakukan apa pun. Tak bisa mengubah apa yang terjadi. Baik soal kasus ayahnya sampai alasan dia melakukan semuanya.
Maka gadis itu menarik napasnya panjang-panjang, menghembuskannya perlahan, "yah ... " Keluhnya pelan.
"Gitu doang? Lu gak panik Ris? Ngapain kek, cari pengacara kek." Sembur Wiryo seolah menunjukkan emosi yang seharusnya dia tunjukkan.
"Kita ada pengacara keluarga. Biar nanti om Jo aja yang bantu. Gue gak ngerti masalah gituan." Tanggap Carissa sebelum lanjut memakan sepotong ebi tempura terakhirnya.
Carissa kira dia sudah lihai berhadapan dengan luka.
N
yatanya, semesta ingin memberikannya satu pelajaran lagi.
Menjadi cuek tak semudah itu.
Kantor Gahleen Sekuritas di lantai tiga puluh gedung perkantoran Jakarta Selatan itu mendadak sunyi kalau Carissa datang.
Empat tahun kerja di perusahaan ini mulai dari asisten analis hingga akhirnya menjadi salah satu analis utama andalan perusahaan membuat dia peka pada perlakuan orang terhadapnya. Di titiknya saat ini, dia rasa dia tak seharusnya didiamkan orang. Tak seharusnya status tersangka pak Gian berpengaruh padanya.
Siapa sangka, kesunyian yang terasa seperti simpati yang bersamaan dengan ledekan itu malah menggema di kuping Carissa. Menyalak kencang. Menyakiti gendang telinganya.
Tak sampai di sana, proses hukum yang berjalan menyatakan bahwa pak Gian telah melakukan penggelapan dana selama dua puluh tahun dia bekerja.
Alih-alih fokus pada kerja payah para auditor yang baru menemukan kejahatannya di tahun ini, media malah menyorot instagram Carissa. Kebiasaan party-nya, rutinitas arisan di yacth-nya ...
"Pantesan aja duitnya kayak gak habis-habis."
"Kebayang gak sih berapa tumpuk kekayaannya?"
Bisikan itu Carissa dengar dari dapur kantornya. Dengan langkah tak tertahan, dia menggebrak pintu kaca, menunjukkan tiga wajah para admin baru yang melotot kaget terpergok dia.
"GAJI GUE DUA DIGIT ANJING!" Teriaknya menggema di ruang sempit itu. Sudut mata kirinya menangkap pergerakan para karyawan lain yang mulai mencium keributan, "bisa gak sih lo pada tutup mulut busuk lo itu? Pake buat hal yang lebih berguna!"
Ketiga anak itu gemetaran. Matanya berkaca-kaca. Carissa puas akhirnya ada beban yang bisa dia keluarkan dengan lancar. Ada sesuatu yang menimbulkan lega di hatinya.
"Yang penjahat kan bapak lo! Kenapa orang lain yang disuruh diem?" Sahutan terdengar dari arah kiri.
Dari seorang wanita berambut wavy yang dicat cokelat. Yang wajahnya menunjukkan kebengisan tanpa dia sembunyikan. Begitu lah sikap si Gladis. Staf marketing yang selama ini iri pada kesempurnaan hidup Carissa.
Dia merasa punya kesempatan untuk menggulingkan semuanya.
Karena kini bulatan kamera ponsel itu telah menghadap Carissa, merekamnya, dari lima ponsel yang berbeda.
Dari pembencinya dan dari orang-orang yang selama ini selalu berusaha menyabarkannya, Wiryo.
"Bangsat ... " Carissa mengumpulkan semua pedih ke tangannya. Dia rampas ID cardnya dari lehernya sendiri, dilemparkannya benda itu tepat mengenai kamera Gladis.
Carissa tahu. Mulai saat itu, hidupnya hancur.
Karirnya hancur.
Tak pernah Carissa bayangkan dia akan berada di posisi ini saat ini. Mengendarai sebuah beat hitam, sendirian, melewati jalan Lembang yang menukik naik dan turun dalam kesendirian di tengah hujan gerimis.
Singkatnya, sejak dia kehilangan semua aset ayahnya dan merasa trauma memakai semua harta miliknya sendiri, Carissa kira dia akan segera mati.
Namun justru muncul satu mimpi di otaknya.
Impian Carissa saat ini yaitu bisa lanjut bekerja dimana dia tak perlu ada di ruangan yang sama dengan banyak orang, bisa mendapatkan tanggungan mess dan bisa dapat gaji yang mencukupi dia untuk makan serta beli bensin dari motor beat yang dia beli sendiri dari hasil tabungan sahamnya.
Miris. Uang yang dia tumpuk sebagian besarnya malah disita. Dan uang yang dia ekspektasikan buat masa depan malah harus dia gunakan ketika usianya masih 24.
Untung saja semesta tak mau menyiksanya lama-lama. Sebuah panggilan dari perusahaan penyalur kerja di Bandung menawarkannya pekerjaan sebagai manager operasional di sebuah arena wisata. Jauh sih dari pekerjaan sebelumnya yang fokus pada angka dan data. Tapi tak masalah. Segala benefit yang ditawarkan membuat Carissa tutup mata pada pengalaman masa lalunya.
Carissa tak asing dengan tempat itu. Dulu ayahnya sering mengajaknya berkuda, memetik strawberry hingga berkemah disana. The Golden's Arena namanya. Mereka sudah berdiri selama lebih dari empat puluh tahun. Dari hasil riset Carissa, mereka masih memakai sistem lama. Mulai dari booking via website pribadi dan telepon biasa, bahkan tidak melalui Whatsapp. Jadi Carissa berasumsi dia takkan berhadapan dengan banyak orang yang akan mengejeknya.
Maksudnya, Carissa paham ejekan itu konsekuensi baginya. Namun kalau saja dia bisa mengurangi intensitasnya, mungkin dia bisa fokus menata hidupnya kembali.
Gadis itu akhirnya menghentikan motornya di sebuah Arena ladang luas di puncak bukit landai. Dia membuka kaca depan helmnya, merasakan udara dingin menyerang lubang hidungnya. Gerbang bertuliskan The Golden's Arena menyambutnya. Tapi tutup. Padahal ini hari Sabtu.
"Tutup mbak!" Seruan seorang lelaki terdengar dari seberang jalan. Carissa menoleh ke warung kelontong yang diisi lima pria berjaket hijau khas ojek online.
Carissa tak menjawab. Dia hanya mengacungkan jempolnya. Toh tutup tak tutup gak ngaruh mengingat dia akan jadi karyawan disini. Yang jadi masalah adalah kalau tempat ini justru tutup permanen. Artinya mungkin agen pekerjaan itu telah menipunya.
Gadis itu menjalankan motornya lagi, lebih pelan kini, hingga akhirnya seorang satpam berseragam putih biru nongol dari pos, agak membuatnya lega.
Carissa melipir ke kanan, ke pintu kecil yang dibuka si satpam.
"Mbak Carissa?" Satpam bermata kecil itu mengerjap-ngerjap tak kuat kena air hujan.
"Iya." Carissa membuka jaket hitamnya, menunjukkan ID Card yang disuruh print oleh si agen kerja sebagai tanda dia memang orang kiriman mereka.
"Silakan masuk mbak. Lurus aja sampai ketemu kandang kuda. Pak Anton lagi jaga disana harusnya."
"Baik, Terima kasih pak." Carissa menutup lagi kaca helmnya.
Masuk kembali kesini, seolah tergelincir di mesin waktu.
Jalanan aspalnya luas, seukuran dua mobil. Kiri kanannya tembok tinggi berkawat.
Sekitar dua ratus meter dia berkendara sendiri sampai masuk ke gerbang masuk lain yang perlu tiket, tapi hari ini tanpa penjaga dan pintu motornya tak ada penghalang. Dia lurus lagii hingga mendapati lobi penginapan di bagian kiri. Bentuk lobinya juga masih jadul. Ada satu ruangan kaca yang berhadapan dengan lima baris kursi mirip di puskesmas.
Mulai saat ini, dia bisa melihat langsung ke penginapannya.
Ada dua gedung di kiri kanan yang dikhususkan untuk penginapan tipe deluxe. Selanjutnya ada juga yang berbentuk tenda-tenda putih, ada danau buatan di area kanan, kebun-kebun buah yang bisa dipetik sendiri. Hingga akhirnya Carissa memasuki jalanan turunan landai yang memungkinkan dia melihat kandang kuda serta satu bangunan yang kalau tak salah adalah kantor pengelola. Dulu pak Gian lebih sering mengajak Carissa kesini daripada ke penginapannya. Karena pak Gian tak suka ribet soal makanan dan waktu itu The Golden's Arena cuma punya menu sarapan nasi goreng yang tak pak Gian sukai.
Setelah tiga jam berlalu, akhirnya Carissa bisa menurunkan standar motornya dengan tenang. Sampai juga.
Gadis itu membuka helmnya. Rambut panjangnya terasa lembab. Kedua kakinya kaku. Makanya dia buru-buru berdiri. Meletakkan helmnya di tas besar yang dia ikatkan ke jok motor.
"Long ride, huh?"
Kekagetan Carissa hampir membuatnya menjatuhkan helm kalau saja dia tak buru-buru menahan benda bulat itu.
Teguran lelaki bersuara berat menolehkan wajah Carissa ke arah gedung.
Dia bertubuh tinggi. Badannya masih kekar untuk wajah yang sudah berkerut dengan jambang beruban. Di cuaca dingin ini, pria paruh baya setengah tua itu memakai kaos ketat tipis yang menunjukkan otot-otot lengan terbentuk jelas. Mungkin dia pengurus kuda. Tak heran kenapa badannya bisa sampai seperti itu.
"Antoni," Lelaki itu tiba di depan Carissa dalam sekejap mata. Kaki panjangnya berfungsi dengan baik juga.
Antoni?
Sepertinya nama itu adalah nama pemilik area ini.
Carissa tersenyum kecil, untung saja dia barusan tak langsung mengungkapkan isi pikirannya soal pengurus kuda.
"Carissa, pak." Carissa menerima jabatan tangan Antoni dengan mantap.
"Sepanjang minggu ini saya bertanya-tanya apakah kamu Carissa yang saya kenal." Antoni memiliki mata tipe hooded, dimana dia kelihatan memicing walau sedang diam. Mirip punyanya Tom Cruise lah. Mungkin itu kenapa wajahnya masih kelihatan menarik walau dia jelas sudah tua. Terlihat jelas sisa-sisa ketampanannya ketika dia masih muda.
"Kenal saya? Dulu saya memang sering ke sini dengan ayah saya. Kami lebih suka ke area kuda."
"Kamu ingat saya? Anton? Tonton?"
Carissa memandang lekat wajah lelaki itu. Mencari memori seorang pria jangkung dengan hidung mancung bengkok dan rahang yang tegas. Dimana ya?
Kalau dia versi muda, mungkin mengingatkan Carissa pada sosok yang tak dia ingat namanya.
Pria itu kurus kerempeng, senyumnya lebar sampai mulutnya terlihat seperti persegi panjang, dia selalu memakai topi dan lengan panjang bahkan di cuaca panas. Dia yang dulu memandu ayahnya, mengenalkan mereka pada kuda-kuda.
Apakah mungkin cowok itu bernama Antoni?
"Saya yakin terakhir kamu melihat saya, saya masih bisa tertiup angin kalau badai. Mungkin selembar foto bisa mengingatkan kamu. Ayo." Mata Antoni melirik ke tas Carissa.
"Oh, iya." Gadis itu membuka tali karetnya dengan cekatan. Dia menggendong ransel gendutnya, mengikuti Antoni yang duluan jalan kearah gedung pengelola.
*
"Ayah ... Takut." Carissa kecil mendesak ke pelukan ayahnya. Melihat seekor kuda cokelat besar siap dia naiki di depannya.
"Bruce baik kok Caris." Pria bertopi itu meyakinkan dengan senyum yang sampai menghilangkan matanya.
"Tuh, baik kok. Sana sama om Anton ya."
"Sini sama om Anton ... " Pria itu menjulurkan tangannya.
Membuat Carissa mengingat kembali tangan dingin Antoni yang tadi menjabatnya.
Rupanya sekuat itu memori selembar foto baginya.
Kini mereka di ruang kantor Antoni, pengap, tanpa jendela, bau kayu dan rokok jadi satu. Carissa duduk di depan meja Anton membalik fotonya, ada tulisan Carissa's Family.
"Saya gak tahu Om Anton ternyata pemilik area ini," Ucap Carissa refleks. Dia segera menutup mulutnya melihat lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, "pak. Maksud saya pak Anton, sorry."
"No Caris, om is fine." Dia mengedikkan bahunya. Seumur hidupnya, memang hanya orang ini yang ribet memanggilnya Caris. Padahal biasanya orang sekitarnya memanggilnya Rissa, "ini dulu milik ayah saya. Saya yang lanjutkan usahanya."
"Ah ... " Carissa melihat ke sekeliling ruangan. Dinding creamnya menyimpan beberapa frame berisi foto kuda dengan para pengunjung. Mungkin di jaman dulu, seperti ini lah cara mereka menunjukkan testimoni.
"Nanti kamu tinggal di gedung satu. Tugas kamu adalah melihat bagaimana operasional kami berjalan selama satu minggu, setelahnya silakan kamu rombak semau kamu. Yang jelas, saya mau perubahan besar sebelum re-opening kami dua bulan lagi."
"Sebesar apa?" Tanya Carissa serius.
"Kamu tim pemikir pertama yang ada di kantor ini. Buat sebesar mungkin. Sebebas mungkin. Kamu cuma boleh laporkan ke saya mengenai berapa karyawan yang harus saya tambah atau apa saja yang harus saya upgrade. Saya gak mau dengar permintaan persetujuan. Kamu managernya."
Wow. Lumayan berat juga ya tugasnya. Tapi dengan fasilitas mess di hotel, makan gratis di kantin dan gaji awal tujuh juta, rasanya sangat lumayan. Apalagi Carissa merasa dia benar-benar akan kerja sendiri di sini.
Untungnya Carissa sudah mengamati soal bisnis dengan melihat dari sang ayah yang turut mengembangkan perusahaan tempatnya bekerja. Walau akhirnya Carissa bingung juga, dengan kecerdasannya, harusnya ayahnya bisa saja kaya tanpa terlibat penggelapan uang.
"Siap. Saya akan kerjakan semuanya sebaik mungkin."
"Good. Nanti motor kamu disimpan sama satpam saja. Kita kasih kendaraan operasional sepeda listrik. Terus ... "
"Om sayaaang ... " Pintu yang terbuka membuat kedua orang itu menoleh.
Carissa tak bisa tak membesarkan matanya pada seorang wanita muda yang sama kagetnya juga dengan dia. Di udara dingin, bisa-bisanya dia memakai mini dress bertali spaghetti. Make upnya agak terlalu menor untuk wajah semuda itu. Rambutnya berantakan seperti tak dipedulikan.
"Eni izin pulang." Gadis itu mundur menyadari tubuhnya diperhatikan dengan aneh oleh Carissa.
"Iya."
Carissa kembali menghadap depan. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benaknya ; siapa perempuan itu? Kenapa panggilannya sangat manja? Kenapa dia berpakaian seksi? Apakah betul apa yang dia pikirkan?
"Makasih om." Perempuan itu berbisik sebelum menutup pintunya.
"Saya akan minta Soleh antarkan kamu ke gedung satu." Antoni berdiri sambil menggaruk kepalanya canggung. Dia mengambil sebuah kunci di kantong dalam lemarinya. Meletakkannya ke meja.
"Terima kasih om." Carissa buru-buru berdiri, diambilnya kunci itu. Dia mengangguk sekali tanpa menatap wajah Antoni. Menggendong tas ranselnya, berbalik ...
"Caris ... "
Duh, kenapa dia manggil sih? Awkward nih! Keluh Carissa dalam hati.
Gadis itu menoleh, terpaksa lagi menatap wajah Antoni.
"Jangan aneh ya liat yang kayak gitu. Saya seorang lelaki normal. Kamu akan kerja sama saya, jadi saya harap kalau pun ada yang mau kamu kritik ke saya atau apa pun itu, kamu akan omongin langsung ke saya. Gak dari belakang."
Jadi benar apa isi pikiran Carissa. Wanita itu adalah perempuan panggilan. Si Antoni yang usianya tak mungkin kurang dari empat puluhan in, berarti masih suka dengan daun-daun muda. Perempuan tadi kelihatannya bahkan lebih muda dari Carissa.
Dengan fakta ini, apakah ada hal negatif yang harus Carissa waspadai?
Hmm entah lah. Tampaknya Antoni seorang pria terpelajar. Antoni harusnya bukan tipe yang suka memaksa atau melecehkan. Dia harusnya paham soal consent. Dia takkan menyentuh Carissa kalau Carissa tak mau.
Carissa mengangguk, memutuskan berpositif thinking dulu, "tenang om. Saya paham."
"Good. Thank you," Antoni mendesah lega, "selamat istirahat dan selamat bekerja."
"Terima kasih om." Carissa mengangguk sekali lagi.
Membawa badannya buru-buru pergi dari tempat hangat itu.
***
***
***
Betul apa kata orang : Ternyata hidup yang terlalu sempurna adalah sebuah pertanda buruk.
Bagaimana bisa Carissa lahir sebagai gadis cantik, kaya, tidak pernah kekurangan apa pun dan selalu dapat apa yang dia mau seumur hidupnya tanpa perlu membayar kembali sesuatu?
Kehidupan cintanya tak kalah seru. Kecantikan Carissa selalu menjatuhkan hati pria mana pun yang dia mau. Segala hubungan cinta bagi Carissa adalah kesenangan. Berbagai lelaki pernah Carissa pacari mulai dari adik kelas, kakak kelas, selebriti online populer hingga dosennya sendiri.
Bahagia. Hanya itu dalam otaknya.
Ketenangan itu disusul dengan fakta bahwa Carissa musti menyerahkan sebagian besar hartanya.
Belum lagi sebuah mimpi aneh yang kerap hadir ke benaknya.
Carissa terbangun di suatu tempat berlatar kelabu tanpa ujung. Dia masih memakai gaun hitam, gaun tidurnya. Dia celingukan mencari cahaya. Namun karena mimpi ini sudah terlalu sering, dia tahu apa yang akan segera muncul.
Maka gadis itu menutup matanya keras-keras. Dentum jantung yang menggebrak dadanya semakin meyakinkan dia untuk berontak. Dia takkan teriak kali ini. Dia takkan takut.
Sebuah cengkraman serasa meretakkan rahangnya. Nyerinya seperti gigi-giginya dicabut perlahan!
"Buka mata kamu!" Suara serak dan nyaring memaksanya.
"Nggak!" Lawan Carissa.
"Baik ... " Kekehan menyeramkan berbarengan dengan kekuatan tak tertahan yang akhirnya membuat matanya entah bagaimana terbuka sendiri.
Di hadapannya adalah sosok menyeramkan. Sosok yang takkan dia sangka bisa muncul di bentuk seperti ini. Sosok kurus, bermata besar, pucat, yang telah kehilangan aura manusianya. Hanya tahi lalat di ujung mata kanan yang menunjukkan bahwa sosok itu mirip ibunya, Mirna.
"Sampai kapan pun kalian tidak akan bisa lari dari saya!" Geramnya marah untuk yang ke ... Mungkin sekian ribu kali.
Adegan ini seolah menegaskan mimpi Carissa bahwa Mirna mati tidak wajar. Padahal Mirna meninggal dalam keadaan memegang tangan Carissa setelah dua hari terkena tipes parah.
Pesan Mirna kembali menusuk ke dadanya. Carissa menghentakkan tubuhnya untuk bangun, terduduk.
Di sebuah kamar hotel yang jadi tempat tinggalnya. Kasur ukuran queen, dapur kosong, balkon tertutup. Tipe deluxe yang menjadi fasilitas gratis baginya. Mimpi kali ini agak lebih ekstrim. Carissa memegang rahangnya yang nyeri. Terasa sangat nyata.
Asumsinya ini berhubungan dengan bau kayu, sprei lama yang masih asing dengan dirinya. Tidur di tempat baru selalu membuat dia tak nyaman. Namun tempat ini akan segera jadi miliknya. Mungkin mulai besok dia bisa mulai memasang pewangi jasmine agak mengingatkan dia pada aroma rumah yang familiar.
"Lebih baik daripada penjara." Carissa berbicara menenangkan dirinya sendiri. Dia beringsut bangun. Kota Bandung yang dingin tanpa AC saja membuat lantai serasa seperti terbalut es. Gadis itu menuju ke dispenser, menuangkan air hangat ke gelas kaca yang panjang lalu menambahkannya dengan air suhu netral.
Dia menyesap pelan memastikan hangatnya pas. Lalu meneguknya habis setelah yakin itu cukup menghangatkan tenggorokannya.
Baik lah. Mari berharap sisa malam ini akan dihabiskan dengan tenang. Harapnya.
Baru hendak kembali ke kasur, Carissa salah fokus pada cahaya bulan yang nampak terang. Dia mengambil Samsung S23 Ultra-nya di meja. Melihat jam menunjukkan angka 2.25 pagi.
Selama beberapa waktu kebelakang, Carissa tinggal di rumah di gang yang bahkan menghalangi segala pandangnya dari Matahari. Bisa melihat langit dini hari begini jadi pemandangan yang cukup membuat dia terbelalak.
Gadis itu membuka tirai, menggeser pintu kaca balkon, menerima udara yang tiga kali lipat lebih dingin menghantam kulitnya, namun paru-parunya terasa ditiup angin mint! Sangat sejuk.
Dia membuka kamera, melakukan zoom untuk melihat bulan lebih jelas ditengah langit biru tua.
"You're so pretty." Puji Carissa dengan senyum tulus.
Hanya perlu sepersekian detik bagi Carissa untuk merasakan pergerakan aneh di bawah.
Jadi dari lantai tiga view kamar Carissa memungkinkan dia melihat ke kolam renang hangat yang langsung berhadapan dengan kebun pembatas menuju area perkemahan.
Pepohonan rimbun hijau menutupi pandangan Carissa dari wilayah camping.
Namun justru pergerakan itu terlihat di pagar pembatas utama dimana masih ada kursi-kursi panjang yang disediakan untuk piknik atau area tunggu para pekemah.
Ada gerakan aneh dibelakang salah satu kursi yang tertutup daun.
Apakah itu hantu?
Carissa mundur sekali.
Bisa jadi hantu.
Apa lagi coba pergerakan yang bisa terlihat di area yang bisa dibilang wilayah hutan itu? Seliar-liarnya para pekemah, mereka akan tidur di jam segini.
Yang lebih ngeri, hari ini perkemahan tutup. Hanya hotelnya yang buka.
Tapi, masa sih hantu?
Lagian, kalau Carissa bisa membuktikan itu hantu dengan kameranya, justru itu adalah kesempatan bagus. Dia bisa menguploadnya ke sosial media. Dia bisa mendapatkan perhatian positif dari orang-orang. Siapa tahu bisa mendapat uang dari sana kan?
Seketika saja keberanian menyelimuti dirinya. Carissa membuka fitur kamera, telah merekam video. Dengan seksama ponsel canggihnya yang bahkan bisa memoto bulan itu menyusuri area pinggiran hutan yang terdapat pergerakan tadi.
Ada pepohonan rimbun, ada jalan setapak kosong, ada kursi panjang dengan senderan yang warnanya telah menghitam, nah! Ada pergerakan lagi!
Siku Carissa sampai bertumpu ke pagar balkon agar pergerakan kameranya lebih stabil. Semangatnya membuat napasnya memburu diiringi jantung yang berdegup lebih cepat.
Tapi yang dia lihat ...
Seorang gadis telanjang dibanting ke rumput.
Mulut Carissa menganga seketika.
Sang pria menyusul dari balik semak. Perempuan itu kelihatan sudah tidak berdaya. Si pria tak berbasa-basi ketika menyosor bibir si wanita. Tangan lelaki itu mengarah ke bagian bawah. Tak terlihat jelas, tapi Carissa tahu apa yang lelaki itu lakukan padanya.
Carissa menelan ludah.
"What the ... " Kaget Carissa bercampur bingung.
Apakah perempuan itu sedang diperkosa?
Saat lelaki itu mengangkat wajahnya sedetik, jantung Carissa seakan jatuh.
Antoni?
ITU ANTONI?
ANTONI MEMPERKOSA SESEORANG?
Carissa menutup mulutnya. Namun pikirannya segera terbantah sendiri melihat si wanita malah menarik kepala Antoni untuk mendekat ke dadanya.
Mereka sengaja.
Mereka dengan sadar melakukannya disana.
"That freaking old man!" Maki Carissa pelan, menyuarakan kebingungannya.
Bisa-bisanya mereka melakukan itu di kebun! Jam segini! Di udara sedingin ini!
Memangnya cewek itu tidak digigit semut api? Memangnya badan mereka tidak beku? Memangnya mereka yakin takkan ada yang mengintip?
Walau pun mustahil memang melihat jelas tanpa bantuan kamera apalagi di jam hantu berpatroli seperti ini. Tapi kan tetap saja...
Si perempuan melengkungkan tubuhnya, terlihat sangat keenakan. Sepertinya dia bukan perempuan bernama Eni yang pernah Carissa temui. Bagian bawahnya tak terlalu jelas, cuma yang bisa Carissa perhatikan, tangan Antoni bergerak sangat cepat.
Ya iya lah. Lelaki itu pasti berpengalaman dengan banyak perempuan. Kemampuannya sudah tak diragukan lagi.
Kepala si wanita mendongak keatas. Matanya terpejam. Giginya menggigit bibir. Kelihatannya dia betulan sangat menikmati.
Apakah Antoni memang selihai itu?
Carissa mendadak tersadar apa yang sedang dia lakukan.
Dia mengambil video orang yang sedang bercinta. Video orang lain. Bagaimana kalau nantinya ini jadi masalah?
"Fuck. No. Stop. Stop." Gadis itu panik sendiri. Dia buru-buru masuk ke kamarnya, menutup pintu balkonnya. Menyeret penuh tirainya.
Dia bersandar ke pintu kaca sambil terengah-engah. Bedanya kini bukan karena adrenaline, melainkan kekagetannya pada isi pikirannya sendiri ; bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu oleh seorang pria paruh baya yang gagah?
*
Pada dasarnya, tugas Carissa sama saja seperti membangun bisnis ini dari nol.
Mereka tak punya apa pun! Email saja tak punya.
Sampai jam dua siang, dia jadi satu-satunya penghuni di restoran dekat kolam. Berhadapan dengan laptop, sebuah buku catatan dengan berbagai coretan revisi serta password.
Berkali-kali muncul di benaknya, apa mungkin dia bisa?
Hari ini saja dia baru urus sistem, tapi setengah hari belum sampai setengahnya. Bagaimana dengan sisanya?
Dia juga lupa bertanya soal jam kerja. Sejak tadi Carissa tak menemukan Antoni di mana-mana. Untung sih, soalnya Carissa tak yakin dia bisa melupakan kecepatan gerakan tangan Antoni saat ...
Mata Carissa mengerjap keras. Dia menundukkan kepalanya ke meja.
Kapan dia bisa stop kalau dia terus kepikiran?
Imajinasinya termasuk aktif. Dengan video yang dia miliki di ponselnya, dia bisa membuat ratusan kemungkinan.
Bagaimana kalau akhirnya Antoni menyukai dia? Bagaimana kalau dia juga tak bisa menahan rasa penasarannya pada Antoni?
Dari hasil riset Carissa yang terbatas, nama Antoni Miller pernah masuk ke postingan Facebook akun bernama Echa Gania. Mereka tidak terlihat dekat, makanya Echa sampai update status ketika dia berkunjung ke The Golden's Arena, menandai akun Facebook Antoni yang sudah tidak aktif sejak lima tahun lalu. Disana tertulis Antoni lahir pada 1979, cuma lebih muda dua tahun dari pak Gian. Termasuk tua, tapi katanya usia 40-an sudah termasuk masa puber kedua. Bagi pria, justru ini masa 'panas'nya mereka.
Tak heran, sebagai seorang pria yang tidak didampingi istri, Antoni jadi melampiaskannya dengan sembarang perempuan.
Tapi kenapa harus di kebun? Apa enaknya melakukan itu ditengah rasa khawatir? Carissa saja tak pernah mau kalau diajak oleh mantannya ke hotel sembarangan. Minimal bintang lima, itu sudah pasti.
Dentingan kecil terdengar saat sebuah piring diletakkan di meja.
Carissa mendongakkan kepalanya.
Tepat menanamkan pandangnya pada seorang pria yang sejak tadi berkeliling di otaknya. Kali ini dia memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek. Dia memakai topi motif army. Duduk santai di depan Carissa tanpa tahu isi pikiran gadis itu. Tangannya memegang gelas teh hangat yang mengepul.
"Nenden bilang kamu belum makan siang. Ngemil dulu aja nih." Dagu Antoni menunjuk ke sepiring cemilan khas Sunda mulai dari dua combro, dua misro, empat cibay yang masih mengepul dan tiga goreng pisang.
Nenen? Dia bilang nenen kah? Dahi Carissa mengerut bertanya dalam hati.
"Belum kenalan? Nenden yang masak di belakang."
"Ah ... Teh Nenden. Iya, saya sudah kenalan tadi pagi." Fiuh! Kupingnya kenapa jadi error sih?
"Makan." Antoni membuka topinya, memperlihatkan rambut yang hitam legam dengan uban di bagian bawahnya, tangannya mencomot goreng pisang, memakannya dalam sekali suapan.
"Iya, makasih om. Lagi ngerjain ini dulu."
Tadi lagi ngapain ya? Sejujurnya Carissa lupa. Dia pun melihat ke tab chrome nya. Ada gmail dan website list rekomendasi aplikasi wajib untuk para pemilik hotel dan tempat wisata.
"Gimana hari ini? Lancar?" Antoni mencomot satu combro.
"Mulai dari sistem dulu. Besok baru keliling." Jawab Clarissa tanpa menatap atasannya.
"Memang pasti makan waktu agak lama untuk keliling. Karena ini lagi proses perluasan ke belakang sana ... " Carissa mengikuti arah pandang Antoni ke bagian belakang hutan.
"Mau dibikin perkemahan juga om?"
"Pondok," Ralatnya. Akhirnya setelah berusaha dihindari, mata Carissa dan lelaki itu bertemu juga. Akan aneh kalau Carissa buru-buru memalingkan pandangan. Maka dia bertahan, mengangguk, berusaha menyembunyikan lehernya yang menegang, "tipenya lebih dekat ke villa. Satu kamar, perlengkapan lengkap. Tapi jarak antara room satu dan lainnya kita buat jauh. Biar cocok untuk penyewa yang lebih suka suasana intim."
Pasti usaha satu ini terinspirasi dari kegiatan dia sendiri, yang suka 'main' di tempat terbuka. Tebak Carissa.
"Keren. Ide bagus." Tanggap Carissa.
"Dua bulan lagi kita pembukaan resmi. Nanti saya butuh bantuan kamu untuk diskusi man powernya."
"Siap om."
"Ini dimakan Caris." Tangannya menyodorkan piring mendekat ke sisi Carissa.
"Gampang om. Nanti kalau udah lapar saya makan."
"Disini kamu gak usah takut kelaparan. Makan pagi siang malam tinggal minta Nenden. Kalau mau snack memang musti bayar, tapi yang ini saya yang bayar."
"Siap om. Gampang ... "
"Jangan telat. Setidaknya ganjal dulu Caris... " Antoni mengambil sebuah pisang goreng. Camilan berbentuk panjang itu diarahkan ke mulutnya.
Duh apa ini? Terakhir dia disuapi ayahnya saja belasan tahun lalu.
Dan tangan kanan Antoni adalah tangan yang sama yang semalam bergerak cepat di bagian bawah tubuh wanita itu. Sekarang, tangan itu terarah ke mulutnya.
Pertanyaannya, atas dasar apa Antoni berpikir bahwa Carissa mau dia suapi?
"Aa ... " Tangan Antoni semakin maju. Harum gorengan itu mulai terendus Carissa. Carissa yakin Antoni tak sedang menatap pisang goreng-nya, melainkan ke bibirnya.
Fix.
Carissa tak salah sangka.
Tindakan lelaki ini punya maksud lain baginya. Ini seperti kode. Apakah Carissa mau menerima tindakan abnormal yang dia tawarkan? Atau tidak.
Antoni lelaki yang cerdas. Apa yang dia lakukan pasti terstruktur. Pelan. Terencana. Untuk membawa Carissa ke ranjangnya pasti dia punya tahapan.
Pertanyaannya ... Apakah Carissa mau?
Tangan Carissa mengambil gorengan itu dari tangannya, "thank you om."
Ini lah pilihan Carissa. Entah benar atau tidak apa yang dia pikirkan barusan. Dia harap itu bisa menghentikan imajinasinya dan imajinasi Antoni.
Tatapan pria itu menggelap. Dia mengambil kembali tangannya, bersedekap di meja, meluncurkan tatapan bertanya-tanya seolah memikirkan hal yang sama dengan Carissa.
Entah dalam topik yang sama atau tidak. Entah dalam satu cerita yang senada atau tidak. Yang jelas baik Carissa dan Antoni saling bertukar tatap. Berusaha menelaah sikap masing-masing dan sikap yang harus ambil. Tapi yang jelas, mereka sama-sama tahu tidak bisa sembarangan dengan rekan kerja mereka ini.
***
***
***
Carissa Agatha Haliman. Anak tunggal dari Giantoro Ali Haliman.
Puluhan tahun dana perusahaan, investasi, bantuan sosial, mengalir lancar melalui rekening perusahaan yang dipegang Gian.
Jabatannya Head of Finance saat ini. Sementara karirnya sendiri bahkan dia jalani sejak usianya masih delapan belas. Waktu kerjanya mulai di bagian admin cuma karena dia bisa menggunakan komputer.
Pengabdiannya tidak main-main. Dia adalah saksi hidup dari jatuh bangunnya Dassa Foods melewati jaman, berganti nama PT, pindah-pindah kantor dari produksi rumahan sampai pabrik distribusi internasional.
Itu lah kenapa ketika tim audit eksternal tahu-tahu datang ke pabrik dan menyatakan bahwa mereka telah berhasil membongkar penggelapan dana senilai milyaran, banyak karyawan pabrik yang tak menyangkanya.
Berkat kejadian itu, pembicaraan soal Gian dan keluarganya jadi sesuatu yang asyik diperbincangkan.
Kantin pabrik Dassa Foods di jam makan siang terasa sepi tanpa suara mengobrol para karyawan. Wita, seorang wanita muda berambut sebahu mengamati semua orang yang kompak memasang raut serius, berpura-pura bicara hal-hal tak penting padahal ... Tentunya bergosip soal penangkapan pak Gian yang terlalu ganjil dan mendadak.
Para petugas keamanan berjalan mondar mandir seakan para karyawan adalah narapidana dalam tahanan. Mereka tak akan segan menggetokkan tongkat mereka kalau ada karyawan yang terpergok membicarakan soal Gian.
"Kalau pak Gian memang bersalah, mereka harusnya gak usah selebay itu gak sih ngejagain kita?" Bisik Wita pada Azril, sahabatnya pria gempal yang sedang mengunyah sepotong nugget ayam.
"Maksud lo dia gak bersalah?" Tanya Azril tanpa memandang wajah oriental Wita demi menghindari kecurigaan petugas keamanan.
"Pak Gian adalah satu-satunya jajaran staf atas yang respect sama karyawan pabrik. Segala bentuk kepedulian dari dia selalu sampe ke kita dengan aman kok. Apa pun sumbangan yang turun dari pabrik juga diterima dengan baik sama yang pantas. Lo inget kan bencana banjir di Bekasi yang belum lama ini terjadi?"
Azril mengangguk, "gue ada disana. Gue bantuin pembelian sembakonya juga. Seingat gue harganya gak ada yang di mark up."
"Puluhan tahun dia kerja di sini," Wita menyuap sendokan terakhirnya yang berisi nasi dan sepotong telur dadar. Ujung mata kirinya menangkap bayangan satpam berjalan pelan melewatinya. Setelah menelan makanan, Wita melanjutkan, "agak aneh kalau dia bisa lolos dari orang audit selama itu."
"Mungkin dia ngelakuinnya belum lama."
"Tapi tetep aja ... "
"Gue nangkep," Azril menyimpan gapunya menyilang dengan sendok, "yang jadi mencurigakan bagi kita adalah, pak Gian seolah sengaja dijebloskan karena udah gak bisa diajak kerja sama untuk sesuatu. Apalagi kabarnya penyelidikan dimulai di tahun Andreas Grahandi dipersiapkan terjun ke meja direktur sama bapaknya."
Wita mengangguk terlalu jelas. Dia segera celingukan memastikan tak ada petugas yang sedang memandangnya.
Nama Andreas seperti mimpi buruk bagi para karyawan.
Kehadirannya yang diiringi senyum manis di wajah baik itu. Ternyata tak sebaik kebijakan yang dia bawa.
Mendadak saja lemburan membludak tanpa batasan. Acc cuti sangat susah. Dari yang Wita dengar sekilas, anak kantor pun banyak yang protes pada tekanan kerjanya.
"Kita cuma bisa berharap dia gak ngubah apa pun lagi." Tutup Azril. Mengangkat piringnya lalu pergi ke bagian piring kotor.
Kalau Wita tak bisa secuek itu.
Selama hidup, kedua orang tuanya selalu menanamkan kejujuran. Itu juga kenapa dia sulit menemukan pekerjaan tanpa jasa calo. Makanya ketika akhirnya dia lulus ke interview user, dia akhirnya merasa ini kesempatan bagus.
Gian lah pria yang menghadapnya di ruang kaca HRD. Tidak terlalu ramah. Pertanyaannya lugas. Hanya satu yang tampaknya memberatkan hati Gian dan disadari betul oleh Wita. Dengan tinggi Wita yang 155senti, tinggi yang pas di batas minimum penerimaan karyawan produksi, berat badannya justru mencapai delapan puluh lima kilo.
"Standar minimal dan maksimal yang ditetapkan perusahaan itu sudah ada peraturannya. Kamu paham kan?" Tanya Gian.
Wita paham ini mengacu ke berat badannya.
"Paham pak. Semuanya pasti ditentukan karena ada keamanan yang harus dijaga."
"Kalau begitu, jelaskan kenapa saya harus menerima kamu di posisi ini?"
"Apa yang ada di tubuh saya saat ini adalah karena saya menganggur sejak dua tahun lalu. Saya merasa demotivasi, tidak terlalu aktif. Tapi kalau saya diterima, saya akan tunjukkan tidak hanya tenaga saya yang bisa berguna untuk perusahaan tapi juga perusahaan tidak salah mempercayai saya sampai di tahap ini. Karena saya siap menjaga badan saya lebih ketat, siap jadi lebih sehat sehingga saya bisa bekerja dengan maksimal."
"Memang bisa? Kamu yakin kamu bisa? Kami bukan body shaming ya. Kalau kamunya yang menjanjikan, berarti suatu hari wajib saya tagih."
Lima juta rupiah UMK Cikarang. Kalau demi lima juta dia harus mengurangi asupan nasi dan seblak mingguannya, Wita yakin dia bisa. Pasti bisa!
"Bisa. Saya yakin saya bisa."
"Jangan terlalu keras sama diri sendiri," Akhirnya senyum terlihat di wajah pria gempal berkumis tebal itu, kerutan terlihat di sudut matanya. Tangannya menarik selembar kertas dari map birunya, "lakukan itu untuk kesehatan kamu. Kalau untuk kami, cukup kerja dengan maksimal saja."
Saat itu bisa dibilang satu dunia tak percaya bahwa seorang Wita yang sudah dikenal gendut sejak SMA, bisa mencapai berat badan idealnya.
Ternyata kepercayaan pak Gian yang akhirnya menjadi penyemangat Wita. Walau gajinya besar, pengeluaran jajannya tak sebanyak saat menganggur. Malah tabungannya menumpuk, berbarengan dengan tubuhnya yang kian mengurus.
Pak Gian tak terlibat langsung pada perubahan drastis di hidupnya, tapi andai saja Wita mendapatkan user yang lain, dia tak yakin mereka mau menerima dia dengan kondisi obesitasnya.
Lalu bagaimana sekarang?
Wita hanya salah satu dari tiga ribu pegawai pabrik yang digaji oleh Andreas, orang yang menjebloskan Gian ke penjara.
Wita bisa apa?
Tak bisa apa-apa selain kepikiran.
Sepanjang antrian motor matic yang siap meluncur ke jalan raya kawasan Cikarang sore hari mendung itu, Wita menekan pelan gas motor sambil bengong. Setengah bagian dirinya berpikir apakah dia mau sate padang atau nasi bebek? Setengah lainnya memutar ingatan di momen yang sama. Biasanya di salah satu mobil yang berjajar di sepanjang samping trotoar, ada sebuah Lexus hitam menunggu. Pintunya terbuka, dengan seorang wanita berambut panjang yang biasanya terlihat mengenakan blazzer merah serta rok spam dan ID card menggantung di lehernya. Itu Carissa, anak tunggal pak Gian. Kini apa kabarnya ya dia? Bagaimana kehidupannya setelah segala hartanya disita? Apakah dia masih punya kehidupan normal? Mengingat pak Gian lumayan viral di sosial media.
Termenungnya Wita terbawa hingga ke saat makan malam lesehan keluarga kecilnya di rumah.
Sang ayah melirik ke istrinya. Si ibu memahami, dia melihat ke TV yang menyala menampilkan kilasan berita mengenai Andreas yang kini kerap hadir di TV sebagai sponsor ajang olahraga para selebritis. Pria berkepala botak itu digandeng-gandeng Xennos Damian, artis top yang kini menjadi pembawa acara. Meminta semua orang di lapangan tenis memberikan tepukan meriah bagi Andreas.
"Orang kaya akan tetap kaya kok kak walau pun hidupnya kena kemalangan. Mereka pasti pintar simpan aset." Pak Rohman berusaha menenangkan sementara bu Sri mengecilkan volume tvnya.
"Ada yang mengganjal di hati Wita pak," Wita memotong-motong daging bebek goreng tanpa berniat memakannya, pandangannya blur ke tekstur bunga-bunga di piring transparannya, "kenapa semuanya serba kebetulan? Disaat pabrik ganti kepemimpinan, kebijakan banyak berkurang, protes mulai terdengar, eh orang yang bekerja puluhan tahun di kantornya malah dipenjarakan."
"Justru bagus dong Ta. Bayangin, kejahatan yang selama ini tersembunyi, akhirnya terkuak."
"Berbarengan dengan turunnya beberapa kebijakan pak?"
"Mungkin aja. Mungkin kepemimpinan yang baru lagi atur strategi untuk sistem baru yang lebih baik? Sabar aja dulu."
"Rasanya gak sesimpel itu ah pak. Yang lagi kita omongin, adalah satu-satunya orang yang mau kooperatif sama desakan karyawan. Padahal bukan bidang dia. Tapi dia bisa se-peduli itu loh pak sama kita."
"Wita ... Jangan terlalu skeptis sama polisi. Menjarain orang gak gampang. Mereka melakukan itu pasti karena bukti yang kuat."
"Oke, tapi kenapa sekarang kami dilarang bahas soal itu sama sekali di area pabrik?"
"Kecolongan uang dalam jumlah besar pasti jadi luka juga Ta untuk pabrik itu. Coba, ada berapa orang yang jadi merasa bersalah karena gagal menghentikan sebuah kejahatan yang berasal dari dalam kantor sendiri? Wajar kok kalau kantor kamu mau melupakan semuanya untuk fokus ke depan."
"Iya, tapi ... "
"Menurut ibu, baiknya kita diam saja Ta. Yang terpenting kan kamu masih kerja, gaji pokok masih di penuhi ... "
"Bu, aku mungkin gak akan diangkat jadi karyawan tetap kalau gak dibantuin pak Gian. Ibu tau sendiri, dari satu angkatan hanya aku dan Azril yang masuk tanpa calo. Kami sampai dijauhin berbulan-bulan, dianggap sok."
"Itu salah satu kebaikan pak Gian. Bagus kalau kamu masih ingat. Tapi faktanya saat ini dia harus dihukum untuk kejahatannya. Suatu hari setelah dia bertaubat, setelah dia jalani hukuman, mungkin dia akan menuai kebaikan dari kemurahan hatinya pada kamu." Tukas ayahnya.
Ini semua karena bukti-bukti itu. Dengan ditangkapnya pak Gian, berarti buktinya tak bisa Wita bantah. Walau sisi skeptisnya tetap bertanya-tanya. Walau ada bagian di dirinya yang merasa sangat mungkin pak Gian dijebak oleh entah apa yang si Andreas mau lakukan, Wita rasa masuk akal kalau di posisi ini dia hanya bisa diam.
Artinya, pelan-pelan dia musti mengabaikan semua FYP Tiktok yang sibuk beropini pada keganjilan kasus pak Gian. Wita harus bersikap seolah dia tak tahu betapa pria yang kini dicap penjahat, pernah menolong banyak orang.
Yah ...
Akhirnya, Wita hanya bisa kembali ke kamarnya dalam keadaan hampa. Duduk di spring bed empuknya yang bisa dia beli sendiri dari hasil gajinya. Gaji berkat kebaikan pak Gian menerimanya. Sementara pak Gian sendiri apakah punya kasur di penjara?
Tapi yang menambah harapan bagi Wita yaitu saat pagi hari dia membuka ponselnya.
Ada sebuah grup baru. Grup apa ini?
Grup itu diberi nama THE RIGHT SIDERS.
Pesan pertama datang dari Yuli:
Halo semuanya, saya SPV yang waktu itu pernah di interview oleh Pak Gian.
Saya add kalian ke grup ini karena saya dengar kalian cukup dekat dengan Pak Gian.
Sebelum melanjutkan, saya ingin memastikan: Apakah ada di antara kalian yang merasa kasus Pak Gian mencurigakan?
Wita menaikkan kedua kakinya, bersila diatas kasur. Dahinya mengerung penasaran pada percakapan ini.
Jemi:
Bisa gak sih gak usah tambahin saya ke percakapan ini. Saya nggak peduli. Makasi.
Tia:
Saya ngerasa sama kayak mbak Yuli. Tapi saya nggak mau terlibat dalam apa pun motif di balik ini.
Dani:
Anak saya baru lahir, guys. Saya nggak mau ambil risiko kena masalah juga.
Yuli:
Bentar deh, kalian benar-benar mau membiarkan orang baik masuk penjara?
Nih, saya dapat DM di Instagram dari seseorang bernama Fahri. Dia YouTuber terkenal yang sering mengungkap sebuah kasus janggal dan menjadikannya konten yang sukses. Dia butuh beberapa data untuk menyelidiki ini lebih jauh.
Dia punya 1,5 juta subscriber. Dia jarang upload, tapi kalau iya, biasanya kontennya membuka mata orang terhadap suatu kasus. Mirip kayak pas Netflix rilis dokumenter yang kelihatan kek ngebelain pihak bersalah, tapi akhirnya mengubah opini publik.
Jadi, apakah ada di antara kalian yang mau bergabung dengan saya dan Fahri untuk menyelidiki semua ini?
Dani:
Serius mbak? Semua ini cuma buat bantu seorang YouTuber?
Yuli:
Tepatnya YouTuber yang fokus mengungkap kebenaran.
Luis:
Saya bahkan nggak tahu kenapa saya ada di grup ini.
Luis telah keluar dari grup.
Tia:
Menurut saya ini nggak worth it sih mbak. Mbak buang-buang waktu aja.
Tia telah keluar dari grup.
Wita menggeleng-geleng, memutuskan tak ikut campur di chat grup. Tapi dia jadi penasaran pada sosok Fahri ini.
Pencariannya di google membawanya ke beberapa berita soal mayat. Namun tak ada informasi lengkap soal si Fahri itu sendiri. Sampai akhirnya salah satu sumber foto menuju ke akun instagram Fahri.
Akunnya tidak diprivat. Ada foto-foto endorse alat pendakian gunung. Untuk orang yang bertindak layaknya detektif, dia lumayan terbuka juga.
Wita iseng mengklik bagian DM yang justru menunjukkan sebuah pesan tak terbaca dari Fahri!
Hi. Kamu karyawan Dassa Foods ya? Saya lagi kerjain sebuah konten. Apakah kamu berminat join di proyek saya? Fee gak besar, tapi lumayan lah. Kerahasiaan identitas juga saya jamin. Kalau berminat silakan hubungi ke email saya.
Oh ya, saya gak mengizinkan chat ini disebarkan ke manapun. Jd mohon kerjasamanya. Thank you
Pesan itu pun menghilang.
Kok bisa? Memang ada fitur pesan sekali baca ya di instagram?
Aneh.
Jadi bukan hanya Toriq yang dihubungi. Wita memang pernah memposting fotonya dengan pak Gian waktu kegiatan outing akbar dulu.
Apakah ini bisa jadi jalan Wita untuk membantu menguak kebenaran? Setidaknya dia bisa melakukan ini untuk ketenangan hatinya saja. Agar dia yakin pak Gian sedang menjalani takdir yang sepantasnya.
Wita mengangguk yakin. Dia kembali ke profil Fahri untuk mengklik icon surat yang menuju langsung ke emailnya.
***
***
***