Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Angela baru bisa beranjak keluar kelas sekarang.
Tadi teman sebangkunya masih menanyakan tugas kelompok yang diberikan oleh gurunya usai bel pulang sekolah berbunyi. Jadi ia berbicara dulu dengan temannya itu hingga tak bisa buru-buru pulang.
”Njeeeeeeeellll.....,” pekik sebuah suara ketika Angela baru beberapa langkah keluar kelas.
Seandainya Angela tak menoleh pun ia akan segera tahu kalau itu suara Sherin, salah satu sahabatnya yang beda kelas.
Dan memang benar itu suara Sherin yang memanggilnya. Ia terlihat ditemani Naya dan Dila.
Begitu mereka sampai di dekat Angela tanpa ba bi bu langsung mencecar pertanyaan ke Angela.
”Njel.... kamu putus sama Randy ya ?” tanya Sherin langsung.
”Iya,”
”Kapan, Njel ?” giliran Naya yang bertanya.
”Dua hari kemarin,”
”Kenapa putus... Njel?” kali ini Dila yang giliran bertanya.
”Nggak tahu....tiba-tiba dia bilang ngajak temenan aja. Pas aku tanya apa maksudnya, dia bilang, kita putus mulai sekarang,”
”Ngomong langsung gitu ?” tanya Dila lagi.
Angela menggelengkan kepalanya.
”Nggak. Lewat WA,”
Ketiganya terlihat kompak menghembuskan nafas kesal mendengar jawaban Angela itu.
”Diiihhh, apaan tuh ! Masa mutusin cuma lewat chat WA?” gerutu Sherin.
Suasana hening beberapa detik.
”Eh...tunggu...Njel, bukannya dulu kamu bilang dia nembak kamu juga lewat WA tuh ?” lanjut Dila bertanya.
Angela mengangguk.
”Ya ampuuuuunnn !!! Ini bocah ya, kebangetan deh. Nembak sama mutisin cewek beraninya cuma chat WA aja,” kata Naya geram.
”Biar mudah kali,” timpal Sherin. Ketiganya langsung melirik ke arah Sherin.
”Maksudku...mungkin Randy mau cari mudahnya gitu. Biar nggak bingung, biar nggak deg-degan waktu nembak Angela, makanya dia milih nembak lewat chat WA aja. Simple. Begitu juga waktu putus. Lewat WA juga, biar nggak perlu ribet ngejelasin ini itu ke Angela,” papar Sherin panjang lebar.
”Itu sih pelit namanya,” komentar Dila.
”Cowok biasanya nembak cewek pakai bawa bunga atau ngasih bingkisan coklat gitu, ini kok nggak modal banget sih ?” imbuh Dila lagi. Terdengar nada kesal di suaranya sewaktu berkata seperti itu.
Angela tersenyum kecut. Yang lainnya menimpali dengan kata iya sebagai isyarat kalau mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dila barusan itu.
”Njel, kamu nggak papa kan ? Nggak sedih kan ?” tanya Sherin kemudian.
Angela melirik teman-temannya.
”Keliatannya gimana ? Apa aku keliatan putus asa ? Atau pengen bunuh diri gitu ?”
Ketiganya temannya menggeleng.
”Nggak sih. Tapi mungkin aja ngerasa sedih. Pengen nangis gitu,” sahut Sherin.
”Udah. Udahan sedih sama nangisnya. Dua hari lalu pas diputusin itu aja aku nangisnya,” jelas Angela.
”Sekarang mungkin tinggal sewotnya aja. Chat-ku belum di baca sama Randy. Padahal aku tanya, kenapa aku diputusin ? Aku salahnya apa ? Mau aku perbaiki. Eh nggak di baca-baca juga sampai hari ini,” imbuh Angela lagi.
Tampak wajah ketiga sahabat Angela itu semakin kesal.
”Aduuuh,, Njeeeeeelll...kamu kemarin itu pacaran sama cowok model apaan sih ? Ngeselin banget gitu!” kata Naya geram.
Angela mengedikan bahunya. Hening beberapa saat.
”Eh, Njel...kamu masih follow instagramnya Randy nggak ?” tanya Dila.
”Masih,”
”Buruan unfoll !” pekik Dila.
”Iya....iya...iya... buruan unfoll,” teriak yang lainnya memerintah.
Angela melihat ketiganya bingung. Untuk beberapa detik ia hanya menatap semua secara bergantian.
Tangannya mencoba membuka tasnya. Ia meraba dalam tas mencari ponselnya.
”Pokoknya unfoll deh ya ... unfoll...!!” perintah Sherin.
Ponsel sudah di tangan Angela. Gadis berambut hitam sebahu itu langsung membuka akun instagramnya.
”Sini...sini....aku bantuin unfoll,” seru Naya. Ia mengarahkan tangannya ke ponsel yang ada di tangan Angela.
Angela mundur. Berusaha menjauhkan ponselnya dari Naya.
”Kalian kenapa sih ? Aneh banget,”
”Udah nurut aja.... unfoll...nggak usah liat-liat !” kembali terdengar perintah Sherin.
Sikap ketiganya itu justru membuat Angela penasaran. Ia kembali mundur selangkah lagi supaya teman-temannya tak merangsek untuk merebut ponselnya itu.
”Jangan ada yang mendekat ! Apalagi sampai merebut ponselku !”
Angela menjauhi teman-temannya. Ia menggerakkan tangannya untuk membuka akun instagramnya.
Setelah akun instagramnya terbuka, terlihat foto Randy dalam lingkaran merah. Tanpa pikir panjang Angela langsung menekan foto Randy.
Mata Angela sedikit terbeliak. Ia menatap instagram story milik Randy.
”Udah dibilangin jangan di lihat. Kenapa di lihat juga sih ? Sekarang jadi sakit hati kan kamunya, Njel” ujar Dila.
Wajah Angela memang sedikit berubah. Ia terlihat kesal. Baru saja ia melihat di instagram story itu, Randy sedang foto berdua dengan Septiana, teman satu sekolah Angela tapi beda kelas. Septiana siswi kelas XI IIS-4. Di postingan itu Septiana tengah memegang setangkai mawar merah di tangannya.
Di situ tertulis, Mawar Untuk Bebeb. Randy juga men-tag akun instagram Septiana. Air muka Angela terlihat tak suka. Tangan kanannya langsung mencari akun Septiana. Ternyata instagram story Septiana juga dilingkari merah.
Segera saja Angela menekannya. Foto yang sama seperti di akunnya Randy juga terpajang di sana. Yang beda cuma tulisan yang tertera di foto. Tertulis, Mawar Dari Kesayangan. Septiana juga men-tag akun instagram milik Randy.
Angela bersungut kesal. Teman-temannya mendekatinya dan menepuk-nepuk ringan bahunya. Tak lama berselang, keempatnya langsung berjalan pulang beriringan.
---------------------
Angela ada di kamarnya. Wajahnya masih bersungut kesal gara-gara melihat instagram story milik Randy sewaktu di sekolah tadi.
Ia tak banyak bicara sejak pulang sekolah. Usai makan Angela segera masuk kamar. Dan sekarang ia tiduran di kasurnya, berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Benaknya diliputi rasa kesal. Tak menyangka kalau Randy sudah punya pacar lagi meski baru dua hari putus dengannya. Teman satu sekolah pula pacar barunya itu. Jangan-jangan Randy selingkuh. Begitu pikiran jahat Angela saat ini. Untuk mengendalikan dirinya agar tak berpikiran jelek terus, Angela mencoba tidur. Belum sampai matanya terpejam tertidur, aksinya ini sudah keburu diganggu bunyi ponselnya.
Biib...biib...biib...
Angela membiarkan ponselnya yang tergeletak dekat kakinya itu berbunyi.
Biib...biib...biib...
Kembali terdengar bunyi pesan lewat aplikasi WhatsApp. Angela memiringkan tubuhnya agar tangannya bisa meraih ponselnya itu. Setelah tangannya berhasil memegang ponsel, Angela membuka pesan yang masuk. Segera saja matanya mendelik tak suka.
”Diiiiiiiihhhhh....” keluhnya. Ia menggaruk kepalanya sebentar. Dengan wajah ogah-ogahan ia membaca pesan masuk dari Randy itu.
Njell......gimana keadaanmu ?
Apa kamu baik-baik saja ?
Sssssssssshhhhhhhhh.......desis Angela kesal.
”Apa sih maunya anak ini ?” pekik Angela kesal.
Ia tak langsung menjawab. Ia letakkan ponselnya itu dulu di kasur beberapa detik.
Angela menghembuskan nafas panjang beberapa kali sebelum membalas pesan. Setelah mampu menguasai emosinya barulah ia mengetik jawaban.
Aku baik-baik saja.
Ketiknya singkat.
Tadi aku liat kamu buka instagram story aku
Makanya aku tanya...apa kamu baik-baik saja
Sssssssssshhhhhhhhh....kembali desisan kesal keluar dari mulut Angela.
Memangnya kenapa ? Aku ga boleh liat instagram storymu lagi ya ?
Atau aku harus unfoll ato blokir akunmu gitu ?
Ketik Angela. Mukanya terlihat kesal saat mengetikan kalimat itu.
Ga... gapapa kok... terus aja follow akunku
Jawab Randy. Angela melempar ponselnya ke kasur. Pikiran Angela jadi kacau lagi. Ia bertanya-tanya maksud tersembunyi apa yang membuat Randy bersikap seperti barusan. Pahadal pesan yang ia kirim sejak dua hari kemarin hingga beberapa jam yang lalu masih menunjukkan centang yang belum dibaca. Bisa-bisanya Randy tadi mengiriminya pesan menanyakan apa dia baik-baik saja. Jelas ia kacau. Pesannya tak dibaca, tiba-tiba saja tadi melihat Randy sudah pacar baru pula, jelas ia sedang tak baik. Marah dan kesal sudah menghinggapi hatinya sejak kemarin hari hingga sekarang.
Dengan wajah bersungut kesal, Angela langsung mengambil gulingnya dan kembali berusaha tidur.
Jam istirahat sedang berlangsung. Angela, Sherin, Naya dan Dila sedang berkumpul di kelasnya Angela. Sudah sekitar lima menitan keempatnya bercakap-cakap.
”Aku nggak bisa memahami sikapnya Randy, deh. Ngebingungin tuh bocah. Mutusin lewat chat WA, ngecuekin chatnya Angela, eh... tiba-tiba aja nanyain apa kamu baik-baik saja? Apaan juga gitu maksudnya? Geje banget sih?” kata Naya kesal.
Sherin dan Dila mengangguk.
”Udah mutusin duluan, terus ngecuekin chat selama dua hari, mendadak bersikap peduli ? Mencurigakan banget,” imbuh Sherin.
Dila mengangguk setuju.
”Kamu kemarin jawab apaan, Njel?” tanya Dila.
”Ya pasti aku bilang aku baik-baik sajalah,”
”Bagus!” seru Dila mantap.
”Kepo ih dia,” sahut Naya.
”Mungkin dia berharap Angela kalap. Ngamuk-ngamuk. Cemburu. Nangis gitu setelah ngeliat postingan foto dia sama Septiana. Gitu kali maksudnya,” timpal Sherin tak kalah sengitnya.
Sahabat-sahabatnya Angela itu tampak geram mendengar cerita yang disampaikan Angela tentang chat WA Randy yang kemarin itu. Mereka merespon cerita tersebut dengan komentar-komentar yang emosionil. Suaranya juga terdengar berapi-api. Ekspresi wajah mereka pun terlihat tak sukanya.
”Njel!” seru sebuah suara dari arah pintu kelas menghentikan obralan keempatnya. Angela menoleh. Ternyata Rizal yang memanggilnya. Dia anak OSIS juga. Ketua Sekbid 3, Pendidikan dan Pendahuluan Bela Negara.
”Tolong ke ruang OSIS ya ! Ketua panitia Pensi yang terpilih mau nyerahin proposal kegiatan. Dia menunggumu di ruang OSIS,” katanya masih dari luar pintu. Ia tak masuk kelas. Angela mengangguk. Rizal pergi tak lama kemudian. Angela pamitan ke Sherin, Naya dan Dila untuk ke ruangan OSIS. Mereka pun bubar. Angela segera berlalu menuju ruang OSIS.
Sewaktu Angela masuk ruang OSIS, ruangan itu sedang sepi. Hanya seorang cowok yang ada di sana. Dia berpostur tinggi. Berperawakan sedang. Berkulit sawo. Berhidung mancung dan berbibir tipis. Angela tak mengenali namanya. Cowok itu langsung berdiri saat Angela memasuki ruangan OSIS.
”Pagi,” sapanya.
”Pagi juga,” sahut Angela ramah.
”Saya ke ruang OSIS buat nyerahin proposal kegiatan Pentas Seni,” jelasnya tak kalah ramah dari Angela.
Cowok itu menyerahkan jilidan yang di bawanya ke Angela.
”Oh...,” Angela mengangguk. Ia menerima jilidan kertas HVS yang disebut proposal oleh cowok itu.
”Jadi kamu ketua panitia Pensi tahun ini ya ?”
”Iya,” jawab cowok itu.
”Oh...maaf ya...aku nggak ikut rapat pembentukan panitia Pensi. Aku sedang sakit waktu itu. Jadi nggak masuk sekolah. Makanya nggak ikutan rapatnya,”
Cowok di depan Angela melempar senyuman diikuti anggukan ringan.
”Kamu bukan anak kelas XI kan ?”
”Bukan,”
”Pantas aku nggak mengenalimu,”
Cowok itu menyunggingkan senyum mendengar apa yang dikatakan Angela. Beberapa detik kemudian, Angela ingat sesuatu. Ekspresi wajahnya menyiratkan rasa ia ingin tahu sesuatu.
”Maaf kalau ini menyinggung,”kata Angela.
”Kamu baru kelas X, tapi kok bisa langsung jadi ketua panitia Pensi sih ? Bukannya, harusnya kamu wakil dulu ? Ini kok langsung jadi ketua ?” tanya Angela.
Cowok di depan Angela itu kembali tersenyum.
”Iya kak. Harusnya wakil sih. Tapi kemarin disepakati kalau anak kelas X boleh jadi ketua panitia asalkan dia mau dan mampu,”
Dahi Angela mengernyit. Ia tak paham. Sejauh inj belum pernah hal itu terjadi.
”Apa yang terjadi kemarin ? Kok sampai ada kesepakatan seperti itu ?”
”Seperti yang kakak tahu, acara Pensi merupakan program kerjanya sekbid 8. Sekbid saya. Sekbid Persepsi, Apresiasi dan Daya Kreasi,”
Angela mengangguk paham.
”Biasanya, di sekolah kita, ketua panitia acara selalu diambil dari sekbid yang membidangi program kerja itu. Dan biasanya, ketua selalu diambil dari anak kelas XI. Tapi baru kali ini diizinkan dari kelas X boleh jadi ketua,”
Angela diam menyimak.
”Kak Elang Bayu sebagai ketua sekbid 8 minta izin nggak mau dicalonkan sebagai ketua panitia kemarin pas rapat itu,”
Dahi Angela mengernyit. Elang Bayu anak kelas XI MIA -1. Kelasnya paling ujung. Dekat pintu gerbang. Angela jarang berinteraksi dengan anak-anak seangkatannya yang kelasnya paling ujung. Karena kelasnya berada di deretan tengah, jadi ia lebih sering berinteraksi dengan anak-anak yang kelasnya berdekatan dengan kelasnya saja.
”Ayah Kak Elang sedang sakit. Mau operasi juga katanya. Jadi Kak Elang minta izin nggak dicalonkan atau dipilih jadi ketua panitia dulu. Mau konsentrasi ngurus ayahnya gitu,”
Angela mengangguk. Ia memahami kondisinya Elang.
”Sedangkan Kak Aldo Hilmi juga nggak mau dicalonkan atau dipilih sebagai ketua. Kak Aldo sedang persiapan ikut lomba olimpiade Matematika mewakili sekolah kita,”
Angela mengangguk paham. Ia menggaruk kepalanya sebentar. Mencoba memahami segala hal yang terjadi saat ia tak masuk sekolah waktu itu. Dua hari ia izin tak masuk sekolah karena demam dan muntah-muntah. Asam lambungnya sedang naik. Di saat itulah sedang berlangsung rapat OSIS untuk pembentukan panitia Pensi nanti. Jadi ia ketinggalan informasi.
Ketika Angela sudah masuk sekolah lagi, Gustav Putra, wakil ketua OSIS 1 dan Fabian Andri, wakil ketua OSIS 2 sudah memberikan laporan jika kepanitiaan sudah terbentuk dan akan segera memberikan proposal kegiatan kepadanya. Merasa semua sudah berjalan sesuai koridor, Angela tak bertanya-tanya lagi. Ia mengira yang jadi ketua panitia Pensi justru Elang. Dan tak seorang pun yang memberi tahunya kalau Elang enggan menjadi ketua panitia Pensi lantaran ayahnya sedang sakit.
”Oh...aku sepertinya ketinggalan banyak info nih,” komentar Angela setengah bergumam.
Hening beberapa detik.
”Ayahnya Elang sudah operasi belum sih ?”
”Belum, kak,”
”Emmmhh...kalau sudah operasi, kita usulin yuk ke anak-anak OSIS buat nengokin gitu,”
”Boleh kak. Setuju banget,”
Angela tersenyum. Raffa juga begitu.
”Oh ya. Namamu siapa ? Maaf aku nggak hafal nama anak-anak OSIS yang kelas X nih,”
Raffa tersenyum geli. Terlibat percakapan sekian menit dengan Angela tapi ia lupa memperkenalkan diri.
”Saya Raffa kak,”
Angela mengangguk setelah itu melempar seulas senyum.
”Oke Raffa, aku pelajarinya dulu ya proposalnya. Ntar kalau sudah fix semuanya, aku tandatanganin, terus kita sama-sama maju ke Kepala Sekolah buat ngejelasin semuanya,”
Giliran Raffa yang mengangguk. Bel jam istirahat berakhir terdengar. Angela dan Raffa reflek melihat keluar pintu.
”Wah...udah waktunya masuk kelas deh!”
”Iya,” sahut Raffa dengan singkat.
”Aku bawa dulu proposalnya, Raff,”
Rafa mengangguk. Keduanya sama-sama keluar ruang OSIS yang bersebelahan dengan ruang perpustakaan itu. Beberapa siswa-siswi mulai keluar ruang perpustakaan bersamaan dengan keduanya keluar ruang OSIS.
Angela segera menuju ke arah tangga. Kelasnya ada di lantai bawah. Ruang OSIS ada di lantai 2. Sebelum beranjak pergi ia bertanya pada Raffa.
”Kelasmu yang mana, Raff ?”
”Itu kak ! Yang dekat tangga persis,” kata Raffa sambil menunjuk ke arah kelas dekat tangga yang hendak dituruni Angela itu.
Angela mengangguk paham. Kemudian ia melambaikan tangannya sebagai isyarat pamitan.
Angela berdiri di depan kelasnya Raffa. Ini jam istirahat. Angela celingukan ke arah dalam kelas untuk mencari Raffa. Beruntunglah Raffa ada di kelasnya di jam istirahat inj. Kalau saja Raffa tak ada di kelasnya, Angela berniat tanya pada teman sekelasnya dimana Raffa sekarang. Ada hal yang menurutnya penting untuk dibahas bersama Raffa.
”Raffa !” panggilnya.
Raffa yang sedang mengobrol dengan temannya segera menoleh ke arah Angela. Wajahnya terlihat terkejut
”Kak Angela kok ke sini ?” tanyanya ketika Angela sudah mendekati bangkunya. Ia yang semula duduk mengobrol dengan temannya langsung berdiri menyambut Angela.
”Memangnya kenapa ? Kelasmu nggak boleh dimasukin murid dari kelas lain gitu ?”
”Nggak kak. Bukan. Bukan itu. Maksud saya, kenapa kak Angela nggak ke ruang OSIS saja, terus nyuruh saya nemuin kakak di sana,”
Angela meresponnya dengan senyuman lebar.
”Itu karena kelasmu lebih dekat dari tangga ketimbang ruang OSIS,” jawabnya.
Raffa tertawa ringan. Tiga orang temannya Raffa yang tadi mengobrol bersama ikutan tersenyum mendengar jawaban Angela itu.
”Mari, Kak silahkan duduk sini !”
Raffa mempersilahkan Angela duduk di bangku nomor dua dari depan. Tempat yang tadi ia duduki sewaktu mengobrol. Tiga orang teman Raffa langsung menyingkir.
Sedangkan Raffa menarik kursi yang ada di depannya agar menghadap ke arah Angela. Setelah keduanya duduk saling berhadapan barulah Angela memulai percakapan. Ia menyodorkan proposal yang kemarin diberikan Raffa kepadanya.
”Ini soal anggaran mendatangkan artis, beneran nih cuma segini ini besarnya anggaran yang dibutuhkan ?”
”Iya kak,”
”Kok murah ? Tahun lalu biaya ngedatengin artisnya nyampai 2 x lipat dari harga ini lho,”
”Oh itu. Begini kak, acara Pensi tahun ini kan ada unsur kegiatan amalnya, saat ini kan lagi banyak musibah, seperti gunung meletus dan banjir, jadi kami panitia Pensi mengupayakan kalau penjualan tiket nanti setelah dipotong untuk segala keperluan Pensi, keuntungannya akan disumbangkan di komunitas yang menangani kegiatan sosial semacam ini. Dan sewaktu tahu kalau Pensi nanti ada unsur kegiatan amalnya, artisnya ngasih harga khusus gitu kak,” jelas Raffa panjang lebar.
Angela terkejut. Dahinya terlihat mengerut. Mulutnya melongo.
”Serius ini, Raff ?”
”Iya kak. Saya udah ketemu sama artis dan managementnya. Kakak saya kebetulan kerja di radio. Artis yang akan kita undang nanti itu, baru aja promo album di radio tempat kakak saya kerja. Makanya saya bisa nemuin artis itu lebih dulu. Terus dibantuin kakak saya melobby juga sih. Dan akhirnya dapat harga segitu itu,”
”Wouw...jadi kamu sudah ketemu artisnya dan melobby-nya langsung ?” sahut Angela tak percaya.
”Sudah kak...artis dan manajemennya sudah saya temui beberapa hari lalu sebelum saya membuat proposal ini dan menyerahkannya ke kakak ?”
”Wah, hebat ! Udah bisa jalan sendiri melobby artis. Tahun lalu panitia sampai dibantu Wakasek Kesiswaan buat melobby-nya,”
Raffa hanya tersenyum tipis.
”Kebetulan aja mungkin kak. Nasib baik. Niat awalnya sih buat cari info biaya mengundang dia, sekalian cek info jadwalnya dia kosong apa nggak pas Pensi kita nanti. ” jelas Raffa.
Angela meresponnya dengan senyuman tipis. Karena apa yang ditanyakannya sudah dapat jawaban yang jelas, Angela segera minta Raffa menggandakannya.
”Ya udah kalau gitu, gandakan jadi 3 jilidan proposalnya ya ! Satu buat file OSIS. Satu nanti buat diberikan ke kepala sekolah, dan yang satu lagi untuk diserahkan ke yayasan,”
Raffa mengangguk.
”Kalau sudah digandakan, nanti serahkan ke aku! Ntar aku tandatangani. Terus kita bareng-bareng nemui kepala sekolah dan pihak yayasan,”
Kembali Raffa mengangguk. Setelah merasa urusannya dengan Raffa selesai, Angela segera beranjak dari duduknya. Ia berniat meninggalkan kelasnya Raffa. Jam istirahat berakhir sebentar lagi. Raffa juga ikut berdiri saat melihat Angela berdiri.
”Raffa, boleh aku minta nomor teleponmu ? Biar aku bisa komunikasi sama kamu lewat WA gitu?”
”Boleh kak. Boleh banget,” sahut Raffa sembari tersenyum.
Angela mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Ia menyerahkan ponselnya ke arah Raffa.
”Coba kamu tulis sendiri nomormu di sini !” kata Angela.
Raffa meraih ponsel milik Angela. Ia lantas mengetikkan nomor ponselnya. Beberapa detik kemudian ia mengembalikan ponsel itu ke Angela.
”Kalau sudah punya nomor gini kan enak, bisa komunikasi cepat kalau ada yang perlu kita bahas dengan segera,” kata Angela seraya menekan tombol panggilan dari ponselnya. Terdengar bunyi ponsel dari arah saku bajunya Raffa.
”Itu nomorku. Save ya Raff !”
Raffa mengangguk. Tangannya bergerak mengambil ponselnya dan menekan tombol menyimpan kontak.
”Kemarin waktu saya ketemu Kak Angela, sebenarnya juga mau nanyain nomor teleponnya kakak, tapi karena takut dikira kurang sopan, akhirnya saya nggak jadi minta nomornya Kak Angela,” ujar Raffa sembari memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku.
”Ya nggaklah Raff. Kalau untuk urusan OSIS gini masih sopan-sopan aja kok minta nomor ponselku,” ujar Angela seraya tersenyum.
Usai berkata seperti itu Angela pamitan kembali ke kelasnya. Saat ia keluar dari kelasnya Raffa, bel masuk pelajaran terdengar. Angela bergegas turun ke bawah.
Sementara itu, di dalam kelas, Raffa diledek teman-temannya.
”Cieeee....dimntain nomor teleponnya sama ketua OSIS....,” seloroh salah satu temannya.
Raffa hanya meresponnya dengan cengiran di mukanya.
”Boleh aku minta nomornya Kak Angela ?” pinta salah seorang teman Raffa yang bertubuh jangkung, kurus dengan potongan rambut belah tengah.
”Jangan...nanti kalian mengganggunya,” sahutnya. Raffa menonaktifkan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya.
”Eh, dia jomblo sekarang. Udah putus sama pacarnya yang kemarin itu. Jadi siapa pun boleh mendekatinya,” kata teman Raffa yang bermata sipit.
Raffa kembali membuat cengiran di wajahnya
”Pepet terus, Raff ! Siapa tahu kamu bisa jadi pacarnya,” canda temannya yang berkulit gelap.
Lagi-lagi cuma cengiran yang ditunjukkan Raffa.