Akhirnya selesai juga pekerjaanku. Dari pagi ublek-uthek di dapur mempersiapkan sarapan. Meski suamiku bergaji besar , tetapi kami tidak memiliki pembantu. Memang yang menginginkan dengan alasan agar aku bisa gerak dan tidak mager dan juga uangnya bisa aku gunakan untuk yang lain.
Waktunya rebahan sambil nunggu Dhuhur, lagi pula mau apa lagi? nyuci, memasak, menjemur pakaian, menggosok, menyapu, mengepel, semuanya sudah.
“Capek,” gumamku.
Aku menuju ke ruang tengah, ruang khusus untuk keluarga dan tiduran di kasur yang memang telah tersedia. Sembari tiduran kubuka-buka medsos.
Ada status menarik dari Mama Azzah-- tetangga sebelah. Ratu sosmed kalau kami menyebutnya. Aku dan dia satu komplek, tetapi beda blok. Rumahku di cluster depan, tentu saja cluster termahal sedangkan dia cluster biasa.
Kami ada grup WA emak-emak komplek dan mengadakan arisan RT sebulan sekali.
“Alhamdulillah ya, Pi, akhirnya kesampean juga beli baru.” Begitu isi statusnya sembari menyertakan foto mobil baru Avanza.
Aku terbelalak melihat statusnya.
“Uh, pamer!” ucapku. Aku tahu dia itu panas karena Mama Izam juga barusaja beli mobil baru.
Kulihat banyak sekali yang respon dan memberikan emot love. Pasti bangga sekali dia.
Banyak pula yang komentar, “Alhamdulillah ya, mbak, moga nular, Aamiin.” Itu Komentar Mama Ais tetangga depan rumah.
Adapula yang komen, “Boleh, dong, nyobain.” itu Komentar Mama Mira.
Lalu aku? Ogah!
Bukannya aku iri, aku hanya sebal sama dia. Setiap hari ada saja yang di posting. Ketika di jalan, ketika makan, ketika liburan, ketika baru beli baju dan lain-lain, semua-muanya di posting. Kurag kerjaan.
Sepertinya orang itu ingin membuatku panas. Kali ini aku juga mau bikin postingan biar dia makin panas.
Aku keluar rumah dan mengambil gambar mobil milikku merk honda jazz yang terparkir di garansi.
Ku upload gambar mobil tersebut di facebook lalu kuberi caption, “Alhamdulillah Papa punya akupun punya.”
Tak berapa lama kulihat di story WA, dia bikin status, “Pamer!.” Akupun tertawa puas. Aku tahu bahwa dia membalas statusku di Facebook dan membuat story di WA.
Begitulah kami. Aku tidak ingin bersaing dengannya hanya saja dia itu sangat menyebalkan, apa-apa di posting, dikiranya haya dia saja yang bisa, huft.
Setelah melihat-lihat status di facebook, aku beralih ke WA. Kembali aku melihat statusnya Mamah Azzah.
Dia memposting foto mesra dengan suami dengan memberi caption, “Makasih sayang atas hadiah tas ini. Tas keren oleh-oleh dari Bandung.”
Setelah itu dia memposting tas pemberian suaminya. Melihat tas tersebut, aku tertawa, “Ya elah, tas kek gitu aja di pamerin. Tuh tas branded gue banyak di lemari,” gumamku.
Huh, memangnya kamu saja yang punya tas. 'Nih aku posting tas brendedku,' batinku.
Aku mengupload koleksi tas yang ada di lemari dengan caption, “Tas, tas, tas, bukan KW, ini asli branded, siapa mau?”
Setelah ku upload, banyak sekali yang nge-like, aku yakin dia melihat postinganku. Puas!
Begitulah keisenganku di waktu luang, paling seneng kalau bikin Mama Azzah panas.
Setelah itu aku tidak pernah melihat postinganya baik di Facebook maupun story WA. Bagiku itu lebih baik dari pada kesel dan sebel melihatnya.
Tiing ….
Notifikasi WA masuk ke ponsel, ketika kulihat, ternyata dari Mama Mira.
[Mama Adit, hari ini lihat statusnya Mama Izzah, nggak?]
[Sudah beberapa bulan ini aku nggak lihat, kayaknya di blokir] balasku.
[Duh, heboh se kampung, lho] balas Mama Mira.
Ada berita apa, sih, kok aku ketinggalan jaman.
[Berita apa, Mah] balasku penasaran.
Tak lama Mamah Mira mengirim screenshoot yang berisi status Mama Azzah.
Aku kaget dan tak percaya dengan isi statusnya.
Isi satusnya yaitu, “Sebentar lagi aku akan memiliki apa yang menjadi milikmu.”
Wuih, status macam apa ini. Lama aku tidak mengikutinya, benar-benar ketinggalan berita.
Ok, nanti aku stalking menggunakan akun Mas Adnan--suamiku.
Seperti biasa setelah habis Isya Mas Adnan pulang dari kantor.
Semua telah kupersiapkan, dari air panas untuk mandi, makan malam serta minuman kesukaan Mas Adnan.
Setelah Mas Adnan bersih dan rapi, kupersilakan untuk makan.
“Mas, makan, yuk,” ajakku mesra. Itulah aku, manja dan kemayu. Gak masalah, to, sama suami sendiri, haha.
“Aku udah kenyang, tadi makan malam sama teman kantor,” balasnya.
“Aku mau istirahat saja, capek banget.” Sembari melangkah menuju ranjang lalu merebahkan diri, sepertinya memang sangat capek Kesempatanku untuk pinjam ponselnya.
Mas Adnan itu pelor (nempel molor, artinya jika sudah kena bantal, langsung tidur.)
Pertama kubuka pesan di aplikasi WA.
“Astaghfirullah,” pekikku, hampir saja copot jantungku.
Aku membaca di aplikasi WA suamiku ada pesan masuk. Memang tanpa nama, tetapi aku sangat mengenal nomor tersebut. Ini sebulan lalu.
[Assalaamualaikum, Mas Adnan? Ini aku, Khamila, Mamahnya Azzah.]
[Ya, ada apa, Bu] jawab suamiku.
[Kebetulan saya sedang berada di jalan Kartini No. 10, sepertinya dekat dengan kantor njenengan, bolehkan saya ikut nebeng pulang? Kebetulan Papahnya Azzah sedang keluar kota]
[Iya, Bu] balas suamiku.
Mendidih kepalaku membaca pesan dari dia.
Hari berikutnya.
[Maturnuwun sudah membolehkan ku ikut pulang, maturnuwun juga traktiran baksonya]
Wah, kurang ajar sekali, kenapa Papa nggak ngajak-ngajak?
[Iya] balas Papa.
Hari berikutnya dan hampir tiap hari nebeng sama suamiku, maunya apa?
Lalu aku stalking ke akun FB-nya melalui akun Papa.
Ini sebulan lalu.
“Bahagia bersamanya.” Begitu statusnya dengan caption foto saat di mobil. Semakin geram aku sama dia.
Status berikutnya.
“Makasih traktiran baksonya.” Captionnya foto bakso rudal kesukaanku.
‘Cukup! Cukup! Sudah semua ini, aku harus segera mengakhiri.’
Ting …. Notifikasi pesan masuk di ponsel Papah.
[Maturnuwun uangnya, Mas, ini terlalu banyak] Pesan dari Khamila.
What! Ini keterlaluan! Aku harus bangunin Papah.
“Pa ….”
Eh, tunggu. Aku harus atur strategi untuk memberi pelajaran pada wanita ulat itu. Aku juga mau memberi pelajaran Pada papa. Berani sekali dia berbuat ini padaku.
Lau bagaimana caranya, ya, wanita itu sangat pinter. Aku berfikir keras. Aku berdiri dan mondar-mandir ke sana-ke mari.
Aku harus menanyakan ke Papa, meski aku tahu Papa tidak akan mengaku.
Aku membuka Facebook Papa. Kali ini aku mau bikin status panas dulu biar Khamila membaca.
“Bulan madu kedua, asyeek.”
Itulah status yang aku kirim di akun Papa sambil kuberi gambar saat kami berlibur di Puncak.
Itulah status yang aku kirim di akun Papa sambil kuberi gambar saat kami berlibur di Puncak.
.
.
Pagi hari ….
Semua berkumpul di meja makan untuk sarapan. Sebelum suamiku berangkat kerja, aku menunjukkan chat yang ada di ponsel Papa.
“Pa, ini chat dari siapa?” tanyaku pada Papa sembari menunjukkan chat antara dia dan Khamila. Sebenarnya aku tahu bahwa itu chat dari Khamila, tetapi aku pura -pura bertanya.
“Oh, itu chat dari istrinya Si Burhan,” balas Papa.
“Kenapa diladenin sih, Pa,” ucapu sambil menyodorkan nasi goreng untuk sarapan.
“Apa-apaan sih, Ma, itukan chat lama,” elak Papa sambil mengunyah nasi goreng yang aku sodorkan.
“Iya, tapi ngapain Papa ngeladenin dia, diakan udah bersuami,” jawabku sewot.
“Papa tahu, tapi apa salahnya kalau ayah membantu.”
“Kok setiap hari sih, Pa,” cecarku penasaran karena memang hampir setiap hari nebeng.
“Iya memang setiap hari karena arahnya sama dengan arah tempat kerja Papa. Suaminya tahu, kok.”
Oalah, lha kenapa dia posting di facebooknya seperti itu? Apakah suaminya tidak membaca? Wah, dasar wanita gatel.
“Lha itu pas dia minta bareng sama pulangnya, itu pas dari mana, Pa?”
Aku masih penasaran, akan kucecar terus Papa hingga aku tahu masalahnya. Sejauh ini aku percaya dengan Papa.
“Owh, itu,” jawab lelaki tampan yang kini menjadi pendamping hidupku, lalu menyesap kopi susu di hadapannya seusai makan.
“Dia itu habis dari rumah saudaranya, kebetulan rumahnya dekat dengan kantor Papa, lalu dia nebeng,” lanjutnya.
“Lha itu nebeng sama Papa tiap hari ke mana?” cecarku. Kukorek keterangan dari Papa. Awas kamu Khamila, bikin status hoax.
“Ya itu yang tadi Papa jelaskan. Tiap hari dia ke tempat saudaranya karena saudaranya itu habis lahiran. Saudaranya itu sendiri di rumah, suaminya kerja di luar negeri,” ungkap Papa.
Setelah itu dia berdiri dan mengambil tas yang telah aku sediakan serta bersiap ke kantor.
“Tunggu, Pa, kenapa dia tidak bareng sama suaminya? Lalu apakah Papa pernah beli bakso dengannya?”
Aku kembali bertanya pada Papa. Aku bertanya pada Papa sesuai dengan status di facebooknya Khamila.
“Nanya apaan sih, Ma, kayak gitu aja di tanyain.”
“Pa, ini terkait dengan statusnya Mama Azzah—Si Khamila itu. Setiap apapun, dia itu selalu update status termasuk ketika bareng sama Papa, termasuk ketika beli bakso,” jawabku kesal dan sedikit marah. Kulihat Papa kurang suka dengan pertanyaanku.
“Memang dia bikin status apa?”
“Dia bilang makasih atas traktirannya sembari mengupload foto bakso rudal,” ucapku ngegas.
Papa menggelengkan kepalanya, “Ya Allah, kayak gitu aja marah,” ucapnya.
“Ya iyalah, Pa, enak aja, makan bakso sama suami orang,” ujarku menahan emosi.
“Sini, deh, Papa jelasin. Memang iya Papa yang bayarin. Pas waktu itu dia nebeng Papa pulang dari rumah saudaranya, kebetulan di jalan, Si Azzah—anaknya itu minta dibelikan bakso. Dia bilang uangnya ketinggalan, ya sudah Papa bayarin.
Kenapa dia selalu nebeng sama Papa, karena arah tempat kerja Pak Burhan—suaminya Khamila itu berlawanan dengan rumah sudaranya, jelas?”
Wah, berarti memang Si Khamila-nya saja yang kegatelan. Kurang ajar sekali dia, sudah bikin status tidak jelas. Awas kamu, akan kubalas.
“Udah, ya, Papa berangkat,” pamit Papa buru-buru.
“Eh, Pa, tunggu!” cegahku.
“Ada apa lagi, sudah jelas, kan? Udah, ah, nanti Papa telat.”
“Itu, Pa, chat terkhir dari Khamila, katanya ia bilang terimakasih atas uangnya.”
“Ooo, itu? Itu Papa ngasih ke yayasan anak yatim. Katanya dia panitianya, dia ngajuin proposal,” ujar Papa sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar wanita, mulutnya gak bisa dijaga. Sudah! Papa mau berangkat. Uh,” ujar Papa sedikit kesal. Mungkin karena kuinterogasi juga karena ulah Khamila yang setiap hari upload status di facebook. Akupun tersenyum lega mendengar pejelasan Papa. Jadi, Khamila hanya mengada-ada dan cari sensasi. Aku di blokir agar tidak melihat statusnya yang mengada-ada itu, ha ha ha.
“Iya, Pa, hati-hati di jalan, ya.”
Aku menyalaminya dengan ta’zim, kucium punggung tangannya dan ia mencium keningku mesra.
Setelah Papa ke kantor dan Adit—putraku berangkat sekolah, kubereskan semua piring kotor dan sisa sayur serta nasi yang ada di meja makan. Kucuci piring dan gelas bekas makan serta semua perkakas untuk memasak.
Hari ini rencanaya ada rapat emak-emak komplek sekaligus arisan RT. Acanya habis Dhuhur, jadi aku harus menyelesaikan semua pekerjaan rumahku. Aku orang yang tidak suka berantakan--ketika rumah aku tinggalkan, semua harus dalam keadaan rapi.
‘Ok, sebelum melakukan pekerjaan rutin, bikin status dulu, ah.
“Hoaks, jangan suka bikin hoaks, ya! Nanti kena akibatnya!.”
Bodo amat Si Khamila lihat statusku apa enggak, yang penting aku sudah lega.
Waktunya beberes.
Kali ini aku menyapu kemudian mengepel lantai dari lantai bawah sampai lantai atas. Rumahku memang besar dan lebar, tetapi aku kerjakan sendiri itung-itung olah raga. Sembari menyapu dan mengepel, aku mencuci pakaian dengan mesin cuci. Jadi dua pekerjaan dapat diselesaikan sekaligus.
Setelah beres mengepel lantai, aku lanjutkan mencuci pakaian yang tadi sudah aku masukkan ke mesin cuci. Mencuci dengan mesin cuci memang praktis, tinggal giling--langsung selesai dan sekaligus dikeringkan.
Setelah ku jemur, aku langsung mandi. Hari ini aku tidak masak karena nanti ada arisan emak-emak. Biasanya dapat nasi kotak.
Sembari menunggu dhuhur, aku rebahan di ruang tengah sembari membuka chat whatsapp.
Rupanya banyak chat masuk, aku tidak sempat membukanya karena tadi sibuk urusan rumah tangga.
[Mama Adit, jangan lupa nanti ada arisan RT sekaligus meeting emak-emak komplek, datang, ya ….] Begitu isi chat Mama Ais—tetangga depan rumah.
[Ok] balasku.
Tak lupa aku membuka chat di WA grup emak-emak komplek yang chatnya sudah ratusan. ‘Waduh, manjatnya capek, nih,' batinku. Karena memang banyak sekali obrolan.
Aku scroll ke atas, rupanya ada chat dari Khamila—Mama Azzah.
[Emak-emak, jangan lupa nanti habis Duhur arisan serta meeting di tempat saya, ya]
‘Oalah, rupanya di tempat Khamila, to, bukankah kemarin katanya di rumah Mama Kinan? Tapi Kebetulan, aku pingin lihat kayak apa rumahnya, karena selama ini sombong sekali.’
[Ok] balas Mama Ais.
[Sediakan yang enak-enak ya, Ma,] balas Mama Kinan serta beberapa ibu-ibu yang lain.
Aku cukup nyimak saja.
Setelah itu, aku melihat-lihat story WA.
“Emak-emak cantik bin modis, nanti arisan di rumahku, ya.”
Itu status Khamila. ‘Rupanya nomerku sudah di buka blokirannya,' batinku.
“Sudah kinclong.”
Status selanjutnya sembari mengupload suasana di dalam rumahnya. Sepertinya di ruang tamu. Kulihat di gambar telah di gelar karpet bermotif batik membentang di ruangan yang kira-kira luasnya tiga kali lima. Jajanan kering telah tersaji di tengah karpet.
“Masih lebar rumahku,” ucapku lirih.
Aku teringat penjelasan Papa tadi, ternyata apa yang di posting Khamila itu hanya hoak. Mungkin ia hanya ingin mendapat pengakuan dari followernya, kasihan sekali, sampai segitunya ia membuat berita hoak.
“Bikin status, ah,” gumamku lirih.
Ku foto lantai ruang tamu yang tadi ku pel.
“Alhamdulillah, semua bersih dan rapi meski ruangannya lebar dan berlantai dua. Istri yang baik adalah yang selalu memperhatikan kebersihan rumahnya agar suami betah.”
Ku uplaod foto ruang tamu yang bersih dan kinclong dengan tatanan sofa manis berwarna krem berjajar rapi dan lemari hias yang di dalamnya terdapat hiasan-hiasan cantik serta koleksi piring serta gelas hias.
Hmmm.
Tak lama ada notifikasi masuk dengan balasan chat atas statusku di story WA.
[Mantul] Dari Mama Ais.
[Wauw] Dari Mama Kinan.
[Tidak ada yang mampu menandingi Mama Adit] Balas Mama Rena.
Aku tersenyum sendiri membaca balasan mereka lalu ku balas satu per satu.
[Terimakasih, say]
Sudah jam setengah satu, aku harus bersiap.
Sebelum aku melangkah ke kamar untuk berganti pakaian, aku lihat kembali story WA.
Hehe, sudah ada dua puluh lima orang yang melihat statusku termasuk Mama Azzah.
Eh, dia bikin status baru.
“Sombong dan suka pamer itu nggak baik, ya.”
Begitu statusnya Khamila, akupun tertawa terbahak-bahak.
‘Hoy, itu, kan kamu!’ batinku.
Udah, ah, ngeladeni dia tidak ada habisnya, tetapi aku ingin membalas setiap statusnya karena memang dia itu menyebalkan. Apalagi kemarin bikin status yang melibatkan suamiku. Bikin gara-gara saja sama aku. Awas!
Apalagi kemarin bikin status yang melibatkan suamiku. Bikin gara-gara saja sama aku. Awas!
‘Astaga sudah jam satu kurang, aku belum dandan’
Aku bangkit dan menuju ke kamar untuk berganti pakaian.
Kulihat chat di WAG emak-emak komplek, Si Khamila kirim pesan, [Ayo emak-emak, ini sudah ada Mama Rena]
Aku buru-buru ganti pakaian dengan pakaian yang baru kubeli seminggu yang lalu di butik teman.
Gamis motif polos warna peach dengan model klok ditambah kerudung syari dengan bahan wolpeach grade A. Pas di badanku yang memang lansing dan tinggi proporsional.
Kupoles wajahku dengan make up tipis tapi terlihat elegan. Pemakaian eyeliner, eyeshadow, pemerah pipi dan lipstik warna pink. Aku mematut diri di cermin sembari berputar-putar.
“Hemmm, rapi dan cantik,” gumamku.
Aku senyum-senyum sendiri, biarlah aku memuji diri sendiri, kalau ada Mas Adnan, dia pasti memujiku.
Oh ya, ada yang lupa, aku belum memakai cincin mutiara lombok yang diberikan Mas Adnan pas ulang tahun yang ke dua puluh tujuh kemarin. Kuambil cincin yang ada di lemari dan segera kupakai.
Kok ada yang kurang, ya, oh ya, gelang emasku yang waktu itu aku beli pada saat Mas Adnan dapat tunjangan hari raya.
Kembali aku bercermin serta memantaskan diri. Nice!
Mereka pasti akan terpesona dengan penampilanku. Cantik, modis dan elegan, terutama Khamila, bakalan kebakaran jenggot.
Kring …. Telpon berbunyi, kulihat panggilan masuk dari Mama Ais. Kuangkat segera, “Hallo, Assalaamualaikum,” sapaku.
“Waalaikumsalam salam, udah berangkat apa belum? Udah rame, tuh di rumah Mama Azza, yuk berangkat,” jawab Mama Ais di sebrang.
“Oke, oke, nih bentar lagi keluar, aku udah selesai dandan, kok,” balasku sembari bercermin. Aku tidak ingin ada yang kurang dengan penampilanku.
“Nanti samperin aku, ya,” pinta Mama Ais.
“Ok.”
Setelah menutup telpon dari Mama Ais, aku mengambil kunci mobil serta dompet cantik warna marun yang aku beli online kemudian melangkah keluar.
“Eits, lupa, aku belum bikin status,” ucapku lirih.
Sembari pose di depan mobil Honda Jazz-ku yang berwarna putih, aku mengambil gambar. Cekrek-cekrek-cekrek untuk beberpa kali.
Sengaja di dalam gambar tersebut aku perlihatkan cincin mutiara dan gelang emas serta dompet cantikku.
Setelah itu, aku memposting di story whatsapp.
“Otewe arisan emak-emak komplek.” Sembari uplaod gambar yang barusaja kuambil di depan mobil Honda Jazz.
Aku membuka pintu pagar dan mobil kukeluarkan. Pintu kututup dan kukunci, lalu masuk kembali ke mobil dan berlalu menuju rumah Mama Ais yang letak rumah tak jauh dari rumahku.
Rumah Mama Azza memang tak terlalu jauh, jaraknya sekitar 500 meter, tetapi aku lebih nyaman menggunakan mobil agar riasanku tidak rusak.
Sampailah aku di rumah Mama Ais, kutekan klakson mobilku agar Mama Ais tahu kalau aku sudah datang.
Tak lama, Mama Ais keluar.
‘Lumayan juga penampilan Mama Ais, sederhana tapi tetap anggun.’ Mama Ais memang tidak terlalu terpengaruh dengan gaya hidup emak-emak sini.
Ia melangkah kearahku kemudian masuk ke mobil dan duduk di kursi depan.
“Masya Allah, cantik sekali Mama Adit, nih,” puji Mama Ais sambil memperhatikan penampilanku. Aku hanya tersenyum karena fokus menjalankan mesin mobil.
“Makasih, Ma, dah yuk berangkat,” ajakku.
Karena memang jaraknya tidak jauh, hanya butuh beberapa menit untuk sampai. Rupanya sudah banyak yang hadir di kediaman Khamila. Mungkin aku dan Mama Adit adalah yang terakhir, padahal hanya terlambat tiga menit.
Hebat sekali memang ibu-ibu komplek, ontime. Penampilan mereka sangat fantastik, masya Allah. Ada yang seperti toko emas berjalan, ada yang dandanannya menor, pakaian mereka juga bagus-bagus, mengalahkan hari raya.
“Eh, Mama Adit,” sapa salah seorang tetangga, “Sini, Ma, duduk didekatku.”
“Iya, Ma, nanti dulu, lagi nyari Mama Azza, kemana dia?” ucapku sambil tersenyum, kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. ‘Cuma satu lantai, kamarnya ada tiga dan dapurnya tidak terlalu luas. Beda dengan rumahku, tapi sombongnya selangit.’
‘Mana Khamila, pingin lihat penampilannya.’ Kucari-cari dia tapi tidak kutemukan. Mungkin sibuk di dapur.
Akhirnya aku duduk bersama ibu-ibu yang lain sembari mengobrol ngalor-ngidul dan sesekali membuka WA.
Kulihat story WA-ku, hehe sudah ada 18 orang yang melihat.
Ups, rumpanya Mama Azza juga bikin status tak lama setelah aku bikin.
“Sudah siap, nih, aku tunggu ya emak-emak.” Begitu statusnya sembari mengupload gambar dia dengan dandanan yang begitu norak menurutku.
Make up tebal, menggunakan eyeshadow dan celak serta alis dengan warna coklat tebal. Pemerah pipi warna pink dan lipstik pink tebal melebihi dandananku.
‘Astaga, kalau seperti ini dandanannya, pasti Mas Adnan bilang kayak ondel-ondel, ha ha ha.’
“Assalaamualaikum ibu-ibu semua.” Aku dikagetkan dengan suara salam. Mungkin karena sedang asyik melihat story WA pertemananku.
Reflek aku menjawab, “Waalaikum salam warahmatullahi wa barokatuh.” Berbarengan dengan ibu-ibu yang lain. Ketika aku melihat sumber suara, ternyata itu Si Khamila.
Aku terbelalak dengan penampilannya, sama persis seperti yang dia upload di story WA. “Astaghfirullah,” ucapku lirih. Hampir tawaku meledak.
Maksud hati ingin tampil cantik, tetapi malah over.
“Terimakasih atas kedatangaannya, silakan nikmati hidangan yang kami sajikan. Maaf hanya seperti ini, tidak seperti kalau di rumah Bu Dania (namaku disebut) kalau di sana pasti enak-enak,” kata Khamila sembari memandang kearahku dan tersenyum manis.
Sangat berbeda ketika saling sindir di medsos.
Aku kaget, dia menyebut namaku. Aku hanya tersenyum.
‘Ngapain nyebut-nyebut namaku, hemmm.’
“Kita mulai acaranya, ya,” sambungnya lagi.
Acara akan dimulai. Hari ini giliran Mama Rena sebagai pembawa acara.
Akhirnya acarapun di mulai dengan pembawa acara Mama Rena dan aku kembali melihat-lihat story WA. Tak luput dari pandangan, selalu aku lihat status Mama Azza. Dia mengirim status acara arisan ini termasuk di situ ada gambarku.
‘Wah, ada aku juga di statusnya, tapi kok captionnya gak enakin, sih.’
“Arisan emak-emak komplek yang super kece, modis dan stylish mengalahkan acara hari raya.”
‘Asem tenan, bukankah yang over make up itu dia sendiri?’
“Mama Adit, ini jajannya,” ucap Mama Ais mengagetkanku yang tengah asyik melihat status Khamila. Ia menyodorkan kue sosis isi ayam. Yakni sejenis kue seperti risoles tetapi lebih empuk dan lembut dengan isi ayam suir.
“Owh iya, makasih,” balasku sembari mengambil satu dan langsung kumakan, “Hemmm, enak ya, Ma,” ucapku pada Mama Ais yang nama aslinya adalah Yani sembari mengunyah kue tersebut.
“Coba kue yang itu, Ma, kayaknya enak,” pintaku pada Mama Ais sembari menunjuk kearah kue yang bentuknya seperti bubur. Tersaji rapi dalam cup berbungkus aluminium.
“Oh itu?” tunjuk Mama Ais. Aku mengangguk, “ini namanya kue lumpur,” sambungnya.
Aku mengambil satu dan memakannya, “Hemmm enak juga.”
“Bagaimana ibu-ibu, enak bukan kuenya? Silakan dinikmati.”
Aku kaget karena tiba-tiba terdengar suara Mama Azzah bicara, oalah rupanya dia sambutan sebagai tuan rumah.
“Terimakasih atas kehadiran ibu-ibu semua dengan adanya acara ini, semoga silaturahmi kita semakin erat terjalin,” sambungnya dengan gaya kemayu.
Kami semua mengangguk. Tibalah saatnya pengocokan arisan. Pengocokan arisan dilakukan oleh pembawa acara.
“Selamat kepada Ibu Dania,” ucap Mama Rena—pembawa acara.
“Alhamdulilla, akhirnya dapet juga.”
Lumayan lima juta, bisa buat beli emas.
“Arisan bulan depan di kediaman Mama Adit, ya,” ucap Mama Rena.
Setalah acara lain-lain, akhirnya acara ditutup. Aku dan Mama Ais undur diri.
‘Rasanya ada yang kurang,' batinku. ‘Berkat, iya, nasi berkat atau nasi kotak. Sudah kesepakatan kalau arisan dapetnya nasi berkat, lha ini kok nggak dapet, wah, gimana ini.’.