"Gila, Ya_ elo. Ayana. Masih bisa bertahan sama Ares suami, gila, Apa sih yang Ares kasih sama elo, selain anak. “ Ucap Lisha tidak tahan lagi.
”Ares itu udah ngak ngasih elo duit, cinta, perhatian ,tapi elo bertahan hidup empat tahun sama dia. Elo bener - bener gila. Ayana. Apalagi sekarang dia pinjem modal pake nama elu lagi. Bodoh amat sih, Lo.” Maki Lisha dia tidak tahan mendengar Ayana bercerita dia telah bertengkar dengan Ares masalah piutang lagi, Ini sudah ketiga kalinya Ayana mengalami hal ini.
Dan ujung - ujung nya Ayana yang terus membayarnya, Ares tidak punya muka dan bebal dengan Ayana.
“ Gue bertahan karena Athena. Lo tau anak gue punya penyakit bipolar, bahkan gue harus terlihat mesra sama Ares di hadapan Athena.” Jelas Ayana. Dia menghembuskan nafasnya karena kesal, kesal akan kehidupan nya yang terus menyiksanya setiap hari.
“ Cerei ajah.”
“ Nggak semudah itu, yang ada Debt Collector ngejar gue, Lish.” Ayana hampir menangis menahan ceritanya,
Dia sudah tidak tau lagi harus apa? rasanya kalau bunuh diri itu tidak dosa dan reinkarnasi bisa kembali, Dia minta tidak mau jadi Ayana lagi. Karena dia sudah lelah. Dia mau jadi manusia baru dan terlahir tidak bertemu dengan Ares.
“ Lagian kalau ajah anak lo_”
Ayana mengangguk, dia membenarkan alasan lisha mengusulkan perceraian, meskipun kalimat itu di benci tuhan. Tapi bertahan begitu membuatnya tersiksa.
Ares sangat menyiksa Ayana, mana ada pernikahan hanya membuatnya sengsara bukan bahagia, Benarkan? Itu yang Ayana yakini. Pernikahan itu adalah ikatan suci tanpa menyakiti satu sama lain.
“ Andai ajah, Athena bisa gue, masukin lagi ke rahim gue, Lish. Gue bakal minta Athena masuk dan nggak pernah lahir dari benih Ares.”Ucapnya kesal. Dia menyesal telah melahirkan Athena karena kesalahan Ayana yang terlalu mencintai Ares.
“ Gue nggak tau meski nyaranin apa sama elo, andai ajah orang tua elo masih ada mungkin nggak akan kayak gini ceritanya.” Ucap Lisha. Dia berusaha menghibur Ayana dengan segala cara yang dia tau. “ Lo mau minum apa? gue pesenin kopi mau? lo mau ngerokok nggak?” Tawarnya.
Sejak kapan Ayana merokok? dia sudah tidak pernah lagi merokok bareng Lisha setelah dia melahirkan Athena ke dunia.
Lisha bangkit dari tempat duduknya.
“ Oh, iya. Gue mau kedatangan temen nih, lo nggak apa- apa kan? kalau nanti kita ngobrol bertiga?” Ucapnya memastikan Ayana tidak keberatan dengan kehadiran temen Lisha.
“ Temen lo yang mana?”
“ Temen baru gue.”
“ Pacar baru?”
“ Dia klien gue, Ay. Mau booking Fee unit apartement dilantai 5, Unitnya mahal, dia orang kaya, siapa tau jodoh gue.” Ucapnya malu. Lisha sahabat Ayana bangkit, dia mengangkat bokongnya. Dan meminta minuman ke meja kasir untuk tamu yang akan datang. " gue pesen minum dulu.."
Ayana mengangguk.
Ayana sibuk mengetik pesan. Hari ini adalah hari liburnya Sabtu, dan Athena sedang melakukan ektrakulikuler kesenian, seperti namanya Athena, dia memang sangat populer dan sangat cantik. Penuh bakat, hanya saja kekurangan nya adalah penyakit Bipolar nya yang mudah setres, selama di sekolah dia baik- baik saja ceria, Ayana khawatir. Dia selalu mengirimi pesan untuk putrinya.
“ Permisi. Mbak Lisha Adellia?” Ucap seorang lelaki kharismatik dengan wajah Oriental, mengulurkan lengan nya. “ Saya Agha Akhilendra.” Ucapnya.
Ayana mengangguk dan memberi senyum
“ Ayana.” Sambutnya.
Lelaki itu menarik alisnya.
“ Oh, saya salah orang. Ternyata.” Ucapnya malu, dia menutup mulutnya sambil berdiri memasukan lengan ke saku celana sebelahnya. Terlihat sangat familiar banget wajahnya. “ Maaf Mbak Ayana?”
“ Nggak pa-pa, Mbak Lisha sahabat saya. Lagi pesen minuman tuh, disana” Tunjuk Ayana, melihatkan Lisha sedang membayar kopi untuk mereka bertiga.
“ Boleh, saya duduk.” Ucap Agha. Dia tidak ragu untuk meminta kursinya.
“ Boleh, Mas. Silahkan.” Ucap Ayana ramah. “ Nama Mas, pasti karena ibu dan bapaknya sering baca tulisan sansekerta. Agha Artinya Suci, tulus, bersih. dan Akhilendra adalah penguasa semesta, Mas punya segalanya?”
“ Wah, pengetahuan kamu sama sastra boleh juga? saya suka? apa kamu penulis Novel?”
Ayana mengangguk. Dia suka menulis dan dia adalah salah satu penulis Novel online yang tidak terlalu pupuler, biasa saja, dia hanya melanjutkan hobinya saja dan mencari pelampiasan, karena dengan dia menulis, hidupnya sedikit waras. karena ketidak warasan yang menuntut terus dia harus waras, semua ada dalam tulisan nya, bagaiman mimpinya, bagaimana dia menceritakan tokoh yang dia idamkan, semua ada dalam karakter fiksi Ayana.
“ Iya.”
Lisha Datang membawa kopi.
“ Mas Agha?” Lisha menyalami. “ Kalian sudah saling kenal?”
“ Bukan, tadi saya salah mengira kalau mbak Lisha itu Ayana?” Jawab Agha langsung. “ Jadi gimana mba? di proses kan? saya mau beli Unit Apartement untuk calon istri saya.”
Lisha tertohok tadinya dia berharap bahwa lelaki super keren itu akan dijadikan nya calon pacar, tapi nyatanya sial? Lelaki keren macam dia mana ada bisa nganggur, bahkan lelaki seperti dia banyak sekali jadi rebutan wanita, bahkan rela menjadi istri simpanan Agha. Dia lelaki perfecto, sungguh contoh suami Able. Tajir.
Terlihat dari Arloji nya merek luar negeri yang harganya puluhan juta, dengan berlian disekitar jam tangan nya, dan bau parfum khas yang wanginya membuat wanita klepek- kelepek. Aromanya maskulin sekali dan sangat Manly.
Ayana saja sampai shock melihat sosok Agha, dia suka tapi bukan itu. Dia seperti sosok suami able yang sering Ayana ceritakan dalam ceritanya.Kisah suami yang sangat menyayangi sang istri dan bertanggung jawab, itu Yang Ayana tuliskan.
“ Wah, calon istri , Mas Agha sangat beruntung.” Ucap Lisha. “ Saya proses ya, mas. Silahkan isi beberapa dokumen.” Ucap Lisha.
Ayana melihat Agha baik - baik di hadapan nya, dia berandai - andai jika Agha adalah single parent sama sepertinya, mungkin dia akan mengulurkan tangan dan bicara pada Agha, kalau dia mau jadi calon istri Agha, atau jika calon istri Agha kabur, dia mau menggantikan dia, menikah dengan Agha.
Ayana menepisnya, dia tau bahwa Ares tidak pernah menceraikan Ayana bahkan sampai sekarang, dia menggantung ayana bagai layang - layang, bergerak sesukanya tanpa tali.
Ayana dan Ares telah menyepakati perceraian, tapi dalam bentuk lisan. Ares tidak mau membuktikan dalam bentuk tulisan apapun. Ares mengikat Ayana dalam bentuk pernikahan dengan status suami. Itu yang di benci Lisha, Bahwa Ayana bodoh, menghidupi manusia yang tidak layak disebut manusia, Ares kejam pada Ayana. Dia tinggal makan, diam dirumah Ayana, lalu membebankan Ayana. Ayana menghidupi lelaki yang menyiksa nya.
Ayana bertahan karena Athena, meskipun dia pisah ranjang dengan Ares selama bertahun - tahun. Mereka sebenarnya bukan lagi sepasang suami istri, mereka hanya partner dalam mengasuh anak mereka Athena.
“ Mbak Ayana kok, murung? apa saya mengganggu kalian?”
Ayana mengeleng secepatnya. “ Nggak mas, ngak ganggu. Saya cuman lagi ada problem, Nope pokoknya, Mas.” Elaknya sebisa mungkin. “ santai ajah.”
“ Oh, baik kalau gitu.” Agha kembali meneruskan pengisian dokumen.
“ Iya Mas.”timpal Lisha.
Lisha tiba - tiba angkat bicara, dia memang sudah sangat kesal pada Ayana. “ Ini toh, Mas. Ada ya- sahabat saya, wanita yang mau serumah sama lelaki yang dianggap suami, tapi mereka udah pisah selama berbulan - bulan atau tahun sih gak jelas. Bahkan secara agama mereka itu sudah cerai, tapi masih saja membayarkan hutang orang itu karena status nya masih seorang suami.” Jelasnya kesal. dia mendelik pada wajah Ayana yang bodoh.
" Lisha.." Sela Ayana
Ayana menepuk jidatnya tidak percaya Lisha menceritakan kisahnya ke sembarang orang. Dia agak melotot dan kesal.
“ Apa butuh pengacara? mau saya bantu?” Tawarnya dengan sigap. Dia memandang Ayana dengan wajah yang iba.
“ Mas pengacara?” Tanya Lisha. Diasangat bersemangat.
Agha menggeleng. “ Bukan, saya punya rekan.” Jawabnya.
Ayana menolak. “ Nggak usah, Mas.” dia melemaskan bahunya menolak tawaran Agha. “ Ngak perlu, saya bisa atasi, ini.”
“ Atasi sama hutang lagi, lo. Ay.” Ejek Lisha.
“ Ya, sudah. Kalau butuh apapun, silahkan kontak saya.” Agha memberikan kartu namanya. “ Karena ini sudah beres, saya pamit, ya. Mbak Lisha dan Mbak Ayana.” Pamitnya. Memberikan senyuman kharismatik." Permisi."
Mereka menatap punggung Agha yang kekar tampak fisiknya sering sekali olahraga teratur dan makan - makan bergizi dengan diet seimbang. hingga orang itu menghilang di ambang pintu sebuah Caffe. Daerah Jakarta Pusat.
“ Agha Arkhilendra, CEO. PT UTAMA Mobilindo. ” Ucap Lisha. dia membaca kartu nama yang di letakan diatas meja untuk Ayana. “ kesempatan, kalau calon istrinya kabur, lo bisa nikah sama dia, Ay.” Ide gilanya menguar.
“ Ngaco lu.”
“ Ngarep banget, cowok kayak dia itu super dady sekali, pokok nya sugar- sugar dady,,”
“ Mana ada dia mau sama kelas bawah kayak kita, orang sekelas Agha itu perempuan yang deketin juga dari kalangan yang sama.” Tekan Ayana.
“ Iya sih. Tapi lo mau nggak model cowok kayak Agha?” Tanya nya penasaran. Lisha suka sekali menggoda sahabatnya.
" Ya, maulah_ Ngaco. Mana ada cewek ngak mau cowok sekelas itu, kecuali cowok kayak gitu Psikopat, atau orang gila kayak Ares. Gue ngak mau!!"
“ Iyalah, daripada lo bertahan terus sama Ares yang pengangguran ngak jelas usahanya, terus dia cuman bebanin hidup elo, ya mending cari cowok lagi, banyak kok di luaran sana” Jawabnya.
“ Lo mau bantuin gue, nggak?” Mata Ayana bersinar, dia menemukan ide gila.
“ Apa?”
“ Masukin Athena ke perut gue, Dari dulu kalau Athena nggak ada, Gue bakalan ngacir, tinggalin Ares” Matanya mengerjap - ngerjap.
“ Athena gue sulap deh, atau udah lo bawa ke psikiater?” mereka minum kopi bersama setelah Agha pamit. terlihat santai menikmati waktu mereka sebagai sahabat. “ Saran gue, lo bawa dia berobat, banyak kok, yang sembuh?”
Ayana kembali melamun memikirkan ide Lisha, ada baiknya.
“ Iya, ya. Harusnya.”
Lisha memilih menu makanan, sudah jam makan siang, mereka hanya minum kopi saja. itu pasti membuat perut mereka perih sekali. Ayana masih menerawang seisi caffe yang sepi.
“ Mau makan apa?” Tanya Lisha.
Ayana fokus ke kursi ada yang di tinggalkan Agha. Bersebelahan. Ayana mengambil sebuah kotak yang tertinggal.
“ Lish, klien lu, ninggalin ini.” Ayana memberikan kotak kecil, mirip tempat cincin. “ Ini cincin kawin mereka kali.” Ucap Ayana.Dia tidak berani menbuka kotak itu, meskipun kotaknya dengan mudah bisa di buka.
“ Mana?” Lisha membukanya. “ Gila ini_”
Lisha menutup mulutnya, dia melihat perhiasan termahal yang pernah dia lihat. seperti dalam cerita Novel bahwa Protagonis bertemu dengan calon suami kaya, suami able lalu mereka menikmati kekayaan. Ini adalah lanjutannya, Calon istrinya pasti pingsan melihat perhiasan semewah ini. Kalau Lisha jadi istrinya dia rela dikamar dua hari dua malam hanya untuk bercinta.
“ Tiffany & Co.” Ucap Lisha. “ Gue rela, kalau harus bercinta tanpa stop sama Agha, dua hari dua malam deh, hadiah mereka ini.” Lisha mengaguminya. “ Berapa milyar ini..” Tebaknya.
Ayana menutupnya. Dia ngak suka, meskipun dia sedang butuh uang sekarang, dia ngak mungkin jual cincin berharga Agha untuk melunasi hutang nya dua ratus juta. Karena cincin ini mungkin saja akan lebih parah kasusnya, Dia akan mendekam di penjara. Ya_Ayana tau, tindakan ilegal itu. Dia tidak bodoh dan tidak mau bertindak gegabah.
“ Gue simpen ini, Gue hubungi Mas Agha, biar aman nggak lo bawa kabur, Lish.”
' Hadeuh sayang tuh, buat gue deh! terus gue kabur.."
" Otak lo kriminal tauk!"
***
Sebuah kartu nama, masih terus di pandangi Ayana. Sebuah nama CEO dari perusahaan.
" Arga Arkhilendra.." Gumamnya sambil menetap kartu nama.
Sudah sejak 1 jam Lalu, Mereka janji bertemu. Ayana duduk di sebuah ruang tunggu, dan akhirnya Ayana di panggil ke ruangan Agha untuk bertemu dan memberikan kotak Cincin yang Agha tinggalkan sewaktu bertemu.
Sekertaris itu mengetuk pintu,
TOK...
TOK...
"Pak, Mba Ayana mau ketemu sama bapak, katanya ada perlu." Ucap Sekertaris Agha yang bernama Raisya. Dia melihatkan sebagian kepalanya dipintu.
" Suruh, dia masuk." Agha masih duduk di kursi jabatan nya dengan beberapa pekerjaan yang masih dikerjakan di Laptopnya, terlihat sedang meeting. " Saya masih meeting, ya_" desisnya
" Baik, Pak." Raisya mempersilahkan. Ayana masuk ke dalam ruangan kantor, Dia duduk agak kikuk. Dan beneran canggung, sebenarnya dia hanya ingin memberikan kotak cincin saja, tanpa harus berlama - lama.
kalau saja harganya ngak mencapai Milyaran, mungkin saja kotak itu sudah dia titipkan pada sekertaris Agha saja.
Agha mempersilahkan duduk walau hanya dengan isyarat, dia tetap fokus pada Laptopnya.
Hening, suasana hanya terdengar percakapan Agha saja, Ayana diam dia tidak bisa berkata apapun selain melihat seisi ruangan Agha yang di penuhi penghargaan dirinya.
Cukup lama ternyata, Ayana sudah menunggu Agha selama setengah jam. Agha masih sibuk dengan Laptopnya. Dia mulai bosan, dan mengeluarkan ponsel nya. Matanya membelak dia mulai lagi panas melihat layar ponsel nya.
Sederetan pesan sudah muncul, sebuah pesan menagih hutang piutang Ayana. dan beberapa panggilan yang ditolak Ayana karena nomor tidak dikenalnya. Dia tau ulah siapa ini? ulah suami nya.
Benar. Ini ulah Ares, dia bahkan dengan lantang mengaku suami Ayana, tapi dia tidak pernah berani memasang badan menghadapi para Debt Collector itu. Ayana selalu jadi sasaran para penagih hutang.
" Ya, Allah. Mas." Desisnya. ia menahan bibirnya gemetar dan ujung matanya panas.
Ayana merapatkan rahang nya, dia menutup matanya dan mengingat kelakuan Ares yang membuat kepalanya hampir meledak.
Ayana memijit pelipisnya.
Dua ratus juta itu bukan uang yang sedikit, dari mana datang nya? dia mengganti uang itu dengan apa? apa dia harus menjual dirinya pada Agha? atau mengadaikan harga dirinya pada Agha berani meminjam uang untuk piutang ini.
Ayana menggeleng, dia tidak akan melakukan itu pada Agha, Agha hanya lelaki yang baru di kenal. Solusinya memang satu, dia harus menjual mobil nya dan mengganti dengan sepeda motor saja. Atau bahkan Ayana harus pulang pergi naik angkutan umum. Demi menyelamatkan nama nya. Ayana membenarkan jalan satu - satunya adalah menjual kendaraan itu pasti.
Ayana sudah bertekad.
" Maaf, Mbak Ayana. Menunggu saya agak melar waktunya." Ucap Agha meminta maaf. " Barusan meeting dadakan." sesalnya.
" Ngak, Pa -pa. Mas. its oke." Ayana tidak keberatan. Dia meronggoh tas di samping lengan kiri nya mengambil sebuah kotak, Lalu meletakan dimeja.
Dia menyembunyikan dengan baik kotak perhiasan itu dan sudah menginap semalaman dirumahnya. Untung saja Ares tidak tau benda itu, kalau saja dia tau, mungkin sudah di Gasak Ares." Maaf, Mas. kemarin saya tidak bisa kesini. Ada perlu, maaf juga kalau Cincin mas nginap dirumah saya semalaman." Ucap Ayana malu.
" Oh, Iya. Terima kasih mba Ayana. Saya kira kemarin jatuh dimana." Ucapnya santai.
" Iya, Sama - sama, Mas."
Agha memandang nya. Dia melihat wajah Ayana agak sendu. Tapi ditutupi dengan baik dengan caranya tersenyum.
"Mbak agak sedih, kenapa?" Agha ternyata memperhatikan Ayana dari jauh. Tadi dia sempat melihat Ayana mengusap sudut matanya. " Apa karena, Suami kamu?"
Bagaimana dia tau? Apa jika Agha lulusan Psikiater dia bisa tau pikiran nya, ataukah Mas Agha Cenayang? bagaimana bisa dia menebak masalah Ayana dengan tepat sasaran. Meskipun ayana tidak menceritakan nya dengan gamblang.
Ayana mengelak, bahwa tidak ada yang terjadi padanya.
" Ngak, saya cuman mau jual mobil saya, kira - kira laku berapa?" Tanya Ayana penasaran. Sambil mengalihkan masalah dia dan suami nya.
" Mobil mana?"
" Kalau Hon*da Br*io saya, kira- kira laku dijual berapa, Ya. Mas?"
Agha mengingat sesuatu, dia hampir menebak saja tepatnya. Lalu mengulang kalimat Hon*da Br*io " Tahun berapa?" Tanya nya lagi?
" 2014"
Agha mengangguk. Dia hapal harga mobil itu, dia hapal pasti, terkait jual beli dan barang - barang seperti mobil itu sudah di luar kepalanya.
" Mbak butuh uang berapa?" Tembak nya.Tanpa basa - basi.
" M-Maksud nya? harga saya, Ups ralat. Harga mobil saya berkisar berapa?" Tanya Ayana agak gugup. Dia tau Agha menebak kalau Ayana sedang butuh uang. " jadi berapa kira - kira?"
" Kalau harga sesuai tahun paling 100juta, itu karena tahun nya 2014, Sudah agak lama ya?"
Ayana mengangguk, benar itu adalah mobil idaman nya selagi dia beli sendiri dengan uang nya. Hasil tabungan semasa dia kerja dan hidup sendiri sebelum menikah, Lalu dia belikan mobil,
Mobil itu dibeli ketika Athena berusia empat tahun. Ayana suka sekali mengajak Athena jalan - jalan dengan mobil kecil nya.
" Mbak butuh berapa untuk semuanya?"
" N-Ngak Mas. Saya hanya butuh seharga mobil itu ajah. Nanti saya cari sisanya." Ayana menolak . " Supaya bisa tertutupi hutang Mas Ares."
" Suami kamu?"
Ayana mengangguk. dia sebenarnya ingin bercerita banyak, tapi dia dan Agha tidak sedekat itu. Bahkan dia mau meralat kalimat Suami tersebut. Ayana dan Ares sudah sejak lama berpisah.
" Saya kasih cek, seharga mobil kamu. Tapi mobilnya bisa kamu pakai dulu, kalau kamu sudah punya kendaraan lain silahkan datang kesini " Agha menuliskan Cek, dia berdiri dan mengambil buku cek di meja nya.
" Mas, Saya ngak perlu secepat ini." Ayana menolaknya. Dia takut juga curiga pada lelaki yang dengan mudahnya memberikan uang padanya. Ayana meyakini bahwa pasti ada buntut dari kebaikan Agha. " Saya simpan kunci mobil nya di meja, Mas. Saya terima cek nya." Ayana punya harga diri, dia bukan pengemis.
Dia yakin dengan menjual mobil itu adalah solusinya.
Agha terkekeh.
" Mbak Ayana itu punya prinsip, ya?"
Ayana mengangguk, Jelas Ayana memiliki prinsip. Dia tidak suka bergantung pada siapapun, bahkan dia sudah tangguh dan mandiri sejak awal.
Ayana sudah kuat dengan bahu dan punggung nya. Dia bukan tipe wanita yang lemah dan menggantungkan diri pada makhluk yang bernama laki - laki. Itu terjadi Empat tahun lalu dari usia pernikahan yang 14tahun berlangsung. Sepuluh tahun baik - baik saja sisa empat tahun adalah Neraka dari Ares.
Dia belajar dari Ares, lelaki yang mengaku sebagai suaminya, dan terus menjerat leher Ayana hingga tercekik. Bahkan Ares tidak pernah memberi nya kebahagiaan selama empat tahun ini. Ares terus menyiksa Ayana secara perlahan dengan piutang nya, Jiwa Ayana sudah lama hancur dan berantakan karena ares membiarkan dirinya tertatih tanpa bahu sandaran.
Hasil akhirnya adalah Ayana juga Apatis pada mahluk yang bernama laki - laki. Dia tidak mudah percaya siapapun kecuali Lisha sahabatnya. Bahkan dia juga tidak percaya Agha.
Ayana senyum ke arah Agha, ketika Agha menuliskan Cek itu.
Hidupnya dijalani dengan baik, Ayana terlatih hidup penuh Ekspresi, dia terlatih tersenyum dalam kegetiran, Dia terlatih untuk tertawa padahal dia sedang menangis, Ayana terlatih untuk berfikir secara waras padahal kehidupan nyata dalam hidupnya penuh ketidakwarasan,
Misalnya dia masih bertahan dengan Ares. Hanya karena Athena yang memiliki penyakit Bipolar. Hidup satu rumah dengan lelaki macam Ares.
Ayana melihat foto kelulusan Agha, selain kuliah di Oxford, dia memiliki beberapa gelar. ia terlihat mengagumi perjalanan Agha di dunia karirnya.
Agha memang lulusan Psikologi, dia memulai karirnya di bidang HR, dia loncat kesana kemari ke beberapa perusahaan Multinational hingga pada akhirnya dia mendirikan perusahaan nya sendiri.
Ayana mengetahui nya, dia membaca Profil Agha Akhilendra, seorang pengusaha sukses di bidang otomotif.
Mereka diam, setelah Ayana kembali menyodorkan kotak perhiasan itu ke arahnya.
" Cincin nya indah, pasti beruntung calon istri, Mas." Puji Ayana. Setelah melipat kotak tersebut.
Agha hanya mengangguk, lalu senyum tipis. lelaki yang tidak jauh dengan usia Ayana itu hanya melihatkan senyum nya sedikit. Dia juga terlihat tidak baik - baik saja.
" Kamu sudah melihatnya?" Agha membuka kotak perhiasan itu dan memastikan berlian yang ada di dalamnya tidak copot. " Kamu ngak tertarik?"
Ayana mengangguk. dia senyum pasti. Perempuan mana yang menolak perhiasan mewah. " Mana ada yang tidak bahagia, di berikan perhiasan segitu mewah nya, Mas." Ucap Ayana sambil senyum kearah Agha. " Saya juga menginginkan itu, Tapi_"
" Tapi apa?" Tanya Agha penasaran.
" Hanya dalam cerita saja."
" Oh, Masih nulis Novel online, Mbak Ayana?" Agha menatapnya dalam, ada keinginan matanya untuk menyelam kedalam kehidupan Ayana.
Ayana menolaknya dia tidak memberikan akses untuk Agha mengetahui lebih banyak masalahnya.
" Perhiasan itu mahal sekali, Semalaman saya ngak bisa tidur. Mas. Saya takut, kalau ada orang yang tau harganya, bisa saja saya dibunuh." godanya sengaja.
Agha tertawa terbahak - bahak
" Itu imitasi, jangan terlalu dipikirkan." Ucapnya santai. Agha bahkan terlihat acuh dengan cincin itu. Dia sudah menutup nya kembali.
" Oh, gitu. Saya khawatir. Bahkan Lisha saja sampai hampir pingsan jika perhiasan itu asli, dia bahkan rela mau bercinta dengan mas dua hari dua malam kalau, Dia dapat perhiasan seperti itu?" Ayana terkekeh melihat Ekspresi sahabat nya.
" Ha..ha..kok Lisha, sampai kepikiran begitu ya? Tapi boleh juga ide gila itu, Apa Mbak Ayana mau bercinta sama saya?"
Ayana langsung membelak.
" Halah, Mas. ini becanda saja, mana mungkin saya seperti itu."
"Saya percaya." Agha mengalihkan perhatiannya dengan kembali melihat, cek untuk Ayana.
Ayana kembali menatap nya, dia percaya? seorang Agha dengan latar belakang berpendidikan dengan mudah percaya pada orang lain, Ayana tidak habis pikir? padahal bisa saja kalimat tadi Ayana membohongi nya, Bisa saja tadi Ayana sesungguhnya ia mau diajak bercinta demi perhiasan itu, Bisa saja kan> apapun demi uang.
"Mas percaya saya?"
Ayana masih tidak percaya, buktinya cek senilai seratus juta sudah di tangan Ayana. Tapi Ayana juga berfikir orang macam Agha mana mungkin, ia gampang ditipu? dia berpendidikan, memiliki gelar MBA dari Universitas Oxford. Tapi mengapa? segampang itu memberikan seratus juta. "Apa dia terlalu banyak uang?" Pikirnya
" Mas, Jangan mudah percaya, siapa tau saya juga bisa saja nipu, Mas."
" Oh gitu, pantas saja ya. Saya ketipu."
" S-Siapa yang nipu, Mas?" Ayana takut bahkan ucapan tadi hanya asal saja, dan hanya memperingatkan Agha. " Mas Ketipu, aku tadi asal bicara loh..?"
" Lupakan." Agha tidak keberatan.
Ayana mengangguk." Oh, gitu.." ia menarik kursinya dan pamit, sudah tidak banyak lagi yang harus dia bicarakan dengan Agha selain mengecek, Cek keaslian yang Agha berikan, kosong atau tidak.
" Mbak Ayana, Kalau saya hubungi sewaktu - waktu apa, boleh?" Tanya Agha sedikit penasaran " Kita bicara santai. Atau saya kirim surat undangan pernikahan." Ucapnya.
Ayana mengangguk dia tidak keberatan, " Boleh, Mas. Saya ambil cek ini. Mobil saya ada di carport kantor Mas. Saya tinggal."
Agha mengangguk.
" KTP Mbak Ayana, jangan lupa di Copy, nanti kasih ke Raisya di depan ya?"Ucapnya mengingatkan. Agha mengantarkan hingga depan pintu kantor." Hati- hati, mbak.." lambainya.
" Iya, mas." Ayana keluar dari ruangan. " Kalau butuh surat - suratnya, hubungi saya ,saja. " Ucap Ayana.
" Pasti." Jawab Agha.
******