Bab 1

“Sorry, gue gak sengaja,” ucap Alexa, kepada seorang lelaki yang tak sengaja dia tabrak di minimarket.

Lelaki tersebut menggunakan masker, sama seperti Alexa dan tak mengucapkan apa-apa. Alexa membantu lelaki yang belum diketahui namanya itu memasukkan barang-barangnya ke keranjang. Setelah itu, keduanya saling berpandangan. Entah kenapa melihat kedua manik mata lelaki itu membuat Alexa langsung merasa jatuh hati. Mata lelaki itu sipit, dia menggunakan hoodie berwarna hitam.

Akhirnya, Alexa memutuskan kontak matanya dan langsung beranjak menuju kasir untuk membayar makanan yang dibelinya. Alexa membeli cemilan untuk menemaninya belajar malam ini karena besok pagi hari pertamanya di kampus untuk UTS. Alexa merupakan mahasiswi dari fakultas psikologi di Universitas Indonesia yang ada di kota Jakarta. Alexa pergi ke minimarket diantar oleh sepupunya yang bernama Deviaska atau biasa dipanggil Devi.

“Gimana? Udah? Lama banget sih lo,” komentar Devi.

Alexa tersenyum girang ketika tiba di mobil. “Gila sih lo harus tahu ini, tadi gue gak sengaja nabrak cowok di dalem. Ternyata gila sih ganteng banget! Kayak orang Korea, matanya sipit! Ini sih harus gue cari tahu.”

“Cie lah, siapa tuh? Buat gue aja kali,” goda Devi.

“Enak aja, kagak-kagak. Udah cepetan balik, udah malem gue mau belajar!” perintah Alexa.

Devi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang karena hari sudah malam, sehingga penerangan pun tidak terlalu jelas. Di mobil Alexa tertidur, sangat pulas karena kelelahan seharian ini tidak istirahat sama sekali. Alexa dan Devi merupakan sepupu, mereka tinggal satu rumah karena Devi ditinggal kerja oleh orang tuanya di Amerika, kedua orang tuanya sudah sangat percaya kepada keluarga Alexa.

Mobil berwarna merah yang dikendarai Devi telah sampai di depan sebuah rumah mewah, rumah milik Eza, Ayahnya Alexa. Saat tiba di rumah, Alexa masih belum juga bangun. Devi ingin membangunkan tapi tak tega, alhasil Devi memutuskan untuk berdiam diri di mobil menunggu Alexa terbangun. Hari sudah semakin malam, udara terasa semakin dingin.

Mau tak mau Devi harus membangunkan Alexa karena besok pagi keduanya harus kuliah. Sedikit informasi, Devi dan Alexa kuliah di kampus yang berbeda.

Devi menepuk pundak Alexa, kemudian berucap, “Lexa, bangun kita udah sampe nih. Buruan gue ngantuk banget,” ucapnya.

Alexa mengucek matanya, lalu melihat jam berapa di ponselnya. “Sunpah? Ini jam sepuluh? Kenapa lo gak bangunin gue sih Dev? Kan lo tahu gue mau belajar malam ini, ah lo mah gak asih.”

“Ya kan gu—“ Belum sempat Devi menyelesaikan ucapannya, Alexa sudah memotongnya lebih dulu.

“Gue gak mau denger, pasti lo mau bilang kalo lo kasihan sama gue. Iya ‘kan? Udah deh gue males.” Alexa keluar dari mobil dengan perasaan kesal.

Di dalam kamar Alexa memulai kegiatan belajarnya, dia menghapal dengan serius. Alexa dikenal di kampus sebagai mahasiswi yang berprestasi, cantik dan banyak dikejar-kejar oleh lelaki di kampusnya. Tapi setelah diselingkuhi oleh masa lalunya, Alexa sampai saat ini belum berniat memiliki kekasih lagi. Dia masih menghilangkan ketakutan dari masa lalunya itu dan fokus dengan kegiatannya sebagai mahasiswi.

“Lexa.” Pintu kamar Alexa terbuka, ada sosok Gita Neneknya Alexa yang datang membawakan susu untuk cucu kesayangannya itu.

Alexa menatap Gita dan tersenyum. “Nenek, padahal gak usah repot-repot. Aku juga bisa ambil susunya sendiri nanti, lagian ini udah ada makanan.”

“Nenek ke mari, sekalian mau bahas sesuatu sama kamu,” ucap Gita. “Nenek udah bicarakan hal ini sama papa kamu, jadi kita berdua sepakat untuk menjodohkan kamu sama anak temen papa kamu, kamu mau ya sayang?” Lalu, Gita menaruh susu cokelat kesukaan Alexa di meja belajar Alexa.

Alexa memejamkan kedua matanya. “Kasih aku waktu dulu ya, nek. Nanti kalo aku udah dapet jawabannya pasti aku kabarin nenek.”

“Ya sudah, nenek tunggu jawaban kamu ya. Jangan begadang besok harus bangun pagi,” nasehat Gita, kemudian dia meninggalkan kamar Alexa.

Gawat, kalo gue dijodohin. Gimana rencana gue buat dapetin hati cowok yang tadi di minimarker? Gak bisa dibiarin ini, batin Alexa.

***

Pagi ini Alexa bangun lebih awal, setelah semalaman dia belajar dan begadang mencari informasi tentang cowok yang ditemuinya di minimarket. Alexa tidak bisa tidur, maka dari itu dia memutuskan untuk telepon bersama Herawhaty saja, salah satu teman akrabnya di kampus. Sebelum berangkat, Alexa sarapan terlebih dahulu bersama Gita, Eza dan Devi. Mereka sarapan dalam keadaan hening, hanya ada suara sendok dan piring yang beradu.

Di sela-sela sarapan itu, Gita kembali menanyakan tentang pembicaraannya dengan Alexa semalam. Dia tak sabar ingin melihat cucu kesayangannya itu naik ke pelaminan bersama anak dari teman kerja Eza. Gita sudah tahu siapa yang akan dijodohkan dengan Alexa, lelaki yang baik, namun masih kuliah juga sama seperti Alexa. Hanya saja anak dari teman Eza itu sudah berada di semester akhir yang tandanya sebentar lagi akan lulus.

“Jadi gimana, Lexa? Apakah kamu mau menerima perjodohan itu?” tanya Eza.

Alexa mengembuskan napasnya kasar. “Maaf yah, kayaknya aku gak bisa terima perjodohan itu.”

“Tapi Lexa, mau sampai kapan kamu sendiri terus? Buka pintu hati kamu untuk orang lain, Lexa. Umur kamu juga sudah semakin tua, gak mungkin kamu terus sendirian,” komentar Eza.

“Sabar yah, aku juga lagi usaha supaya bisa buka hati. Tapi susah, ayah gak tahu gimana masa lalu aku. Udah lah yah, aku jadi gak ada mood makan.” Alexa meninggalkan ruang makan dan memutuskan untuk langsung berangkat ke kampus.

Alexa berangkat ke kampus menggunakan mobil, yang biasa dikendarai sendiri. Eza hanya bisa memaksa Alexa saja untuk memenuhi keinginannya sendiri. Berbeda dengan Ibu Alexa, Ranti yang sudah lima tahun telah tiada. Ratih tidak pernah memaksa kehendak Alexa, justru wanita itu selalu menginginkan apa yang menjadi keputusan Alexa. Mengingat itu, Alexa jadi rindu akan sosok Ranti di sisinya.

Selama perjalanan Alexa hanya bisa menahan kesalnya, perutnya masih lapar karena sarapannya tadi belum habis. Sesampainya di kampus, Alexa ke kantin terlebih dahulu untuk membeli makanan dan kebetulan sekali Hera sudah menunggunya di sana. Hera tengah menyantap bakso kesukaannya, salah satu hobi Hera memang makan. Tapi siapa sangka, Hera juga termasuk salah satu mahasiswi aktif di kampusnya.

“Hei jegeg ayu, tumben lo sarapan di sini? Mau gue pesenin apa?” tawar Hera.

Alexa menggelengkan kepalanya, kemudian berucap, “Gue kesel, masa iya gue mau dijodohin? Ga banget ‘kan? Jadi tadi pagi gue sarapan sedikit, mau makan di sini. By the way, biar gue pesen sendiri aja tunggu di sini bentar,” jelasnya.

Ketika Alexa selesai memesan makanannya yaitu bakso dan jus jeruk, tiba-tiba ada seorang lelaki yang tengah memesan menu yang sama seperti Alexa, untuk kedua kalinya Alexa saling berpandangan dengan lelaki itu. Dia adalah lelaki yang kemarin bertemu dengan Alexa di minimarket, melihat Alexa kembali lelaki itu jadi penasaran akan sosok gadis yang ada di depannya saat ini.

“Lo, yang kemarin malam di minimarket itu ‘kan? Kenalin gue Vero, gue dari fakultas ekonomi.” Vero menjulurkan tangannya, mengajak Alexa untuk berkenalan.

Dengan cepat, Alexa membalas juluran tangan Vero. “Gue Alexa, d-dari fakultas psikologi. Salam kenal ya, eum ngomong-ngomong boleh tukeran wa atau ig? Biar lebih deket aja.”

“Oh iya boleh, sebentar.”

Vero mulai menyebutkan nomor teleponnya dan menyebut pula apa nama media sosialnya, setelah berhasil mendapatkan nomor telepon dan media social Vero, Alexa kembali ke mejanya. Di sana Hera sudah menantinya, bakso yang Hera pesan sudah hampir habis. Alexa datang dengan wajah yang gembira, hatinya seperti dihujani ribuan bunga. Ternya Vero benar-benar mirip orang Korea, wajahnya benar-benar tampan.

“Kenapa sih lo? Kesambet ya?” Hera bergidik ngeri melihat Alexa yang senyum-senyum sendiri.

“Sembarangan lo ya kalo ngomong, gue tuh lagi seneng aja. Lo kenal Vero gak? Anak dari fakultas ekonomi, dia ganteng bener udah dua kali ketemu sama gue. Gemes banget pengen gue kejar terus sampe dapet,” ucap Alexa dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.

Hera menatap Alexa serius. “Woy, serius? Wah jangan deh Lexa, lo gak tahu? Dia udah punya pacar, tapi emang sih cewenya bukan di kampus kita. Intinya cewenya tuh anak kampus lain, sebelas dua belas lah sama lo cantiknya.”

“Ah, masa sih? Tapi keliatannya kayak jomblo. Gak percaya, intinya gue mau deketin dia dulu. Temenan juga lama-lama bisa jadi demen,” jelas Alexa.

Hera memutar kedua bola matanya malas, kemudian berucap, “Susah deh bilang sama lo, terserah dah tapi kalo lo dilabrak sama cewenya jangan salahin gue,” ungkapnya dengan perasaan kesal.

Bab 2

Jadwal kampus Alexa hari ini sudah selesai, Alexa bersama Hera berjalan santai menyusuri setiap lorong kampus. Pulang kuliah hari ini mereka berdua akan pergi menuju sebuah café yang cukup dikenal masyrakat Jakarta untuk belajar bersama di sana. Tapi ketika baru saja tiba di parkiran, ada seorang lelaki yang berteriak memanggil nama Alexa, siapa lagi jika bukan Vero. Lelaki yang baru saja berkenalan dengan Alexa tadi pagi di kantin.

Alexa menatap Vero yang sedang berjalan cukup cepat menuju tempatnya, yaitu tepat di samping mobil Alexa. Selama menatap wajah tampan Vero, kedua mata Alexa tidak berkedip sama sekali. Wajah Vero benar-benar tampan, tubuhnya tegap dan matanya yang membuat Alexa merasa gemas, sipit seperti bias Alexa yang ada di Korea. Setelah Vero tiba di hadapan dirinya, Alexa pun mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.

Hera yang sepertinya sudah tahu merasa jengkel, akhirnya Hera memutuskan untuk pulang tanpa sepengetahuan. Hera sudah tahu bagaimana sifat Alexa, jika sudah bersama lelaki yang disukainya tidak akan ingat keadaan sekitar. Alexa mendadak merasa gugup karena Vero sedari tadi menatapnya tanpa berkedip juga. Vero kagum melihat sisi misterius Alexa juga penampilan Alexa yang tidak seperti perempuan lain.

“V-vero? Lo mau apa ke sini? Ada sesuatu yang mau lo sampaikan?” Akhirnya Alexa membuka percakapan.

“Oh iya, besok gue ulang tahun. Lo mau gak nemenin gue jalan? Buat rayain ulang tahun gue aja sih,” jawab Vero.

Alexa menggaruk keningnya pelan. “Eh, kok sama gue? Bukannya lo udah ada cewe, ya? Kenapa harus ajak gue?”

“Ya gitu deh, jadi gimana nih? Mau apa enggak?” tanya Vero tak sabaran. “Kalo gak mau juga gapapa kok gue bisa sendiri,” sambungnya dengan ekspresi wajah dibuat-buat sedih.

Perasaan Alexa jadi campur aduk, dia sangat mau menerima ajakan Vero. Tapi Alexa juga kembali berpikir dan mengingat perkataan Hera tadi pagi. Ketika dipikir-pikir kembali, hal ini bisa Alexa manfaatkan untuk berteman lebih dekat lagi dengan Vero. Akhirnya Alexa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia menerima ajakan Vero, wajah Vero kelihatan sangat bahagia karena besok hari ulang tahunnya tidak akan sama seperti dulu, sendirian.

Tanpa sadar Vero memeluk tubuh Alexa, kemudian berkata, “Makasih ya Lexa, lo emang temen gue yang paling baik. Apa lo tahu? Dari dulu gue nyari banget temen modelan lo, yang mau langsung diajak tukeran media sosial, bisa diajak main dan cerita, sekali lagi makasih Lexa,” ungkapnya.

“Sama-sama, santai aja kali sama gue. Dari dulu gue juga selalu nyari temen cowo yang sefrekuensi tapi karena gue trauma sama masa lalu, jadi ya gitu. Tapi sekarang gue lagi berusaha buka hati buat cowo lain.” Alexa melepaskan pelukannya secara perlahan dari tubuh Vero, kemudian tersenyum.

Keduanya saling berpandangan, terjadi lagi kontak mata yang cukup lama. Kali ini jantung Alexa berpacu lebih kencang, Alexa memang tipe orang yang sangat mudah jatuh cinta. Hanya bertemu satu kali saja bisa langsung membuat Alexa terpesona, apa lagi jika berada di kampus yang sama dan bertemu hampir setiap hari, mungkin itu akan membuat Alexa semakin merasa jatuh cinta. Kontak mata antara Alexa dan Vero akhirnya terputus ketika ponsel Alexa berbunyi. Alexa melihat siapa yang meneleponnya, ternyata Eza.

“Ver, bentar ya gue angkat telepon dulu,” ucap Alexa dan dibalas anggukan kepala oleh Vero.

Alexa mengangkat sambungan telepon itu di tempat yang cukup jauh dari Vero.

“Halo yah, ada apa?”

“Lexa, cepat pulang sekarang. Ada tamu penting.”

“Siapa memangnya yah tamu itu? Harus sekarang banget?”

“Nurut aja Lexa, cepetan pulang jangan pake lama loch.”

Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Alexa, lalu Alexa kembali menemui Vero dengan wajah tidak enaknya. Sial, niat Alexa untuk berduaan dengan Vero batal karena sudah harus cepat-cepat pulang. Bahkan Alexa baru sadar ternyata diam-diam Hera meninggalkannya, sehingga tidsk ada alasan bagi Alexa untuk pulang terlambat. Alexa sudah tahu, pasti tamu penting itu adalah orang yang akan dijodohkan dengan Alexa, sangat malas,

“Duh, Ver. Maaf ya kayaknya gue harus pulang duluan, barusan bokap telepon nyuruh gue pulang cepet. Maaf banget, gue tinggal gapapa ‘kan?” jelas Alexa.

Vero tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Santai aja kali, Lexa. Hati-hati ya pulangnya, besok pulang kuliah jadi ya temenin gue, see you.”

Sebelum meninggalkan Alexa, sempat-sempatnya Vero mengacak rambut Alexa. Jantung Alexa terasa berdebar cukup kencang karena perlakuan Vero barusan, harapan demi harapan Vero berikan kepada Alexa tanpa memikirkan bagaimana nasib kekasihnya, Devi. Setelah Vero benar-benar meninggalkannya, Alexa berteriak kegirangan tak jelas di parkiran. Tak peduli banyak orang yang melihatnya, intinya Alexa sangat bahagia.

“Gila! Gue mimpi apa semalam!” teriak Alexa kegirangan.

***

Ketika tiba di rumah, Alexa melihat ada sebuah mobil alphard berwarna hitam terparkir di halaman rumahnya. Di dalam rumahnya juga kelihatan ada sepasang suami istri yang usianya kira-kira lima puluh tahun sedang mengobrol bersama ayah dan neneknya. Wajah Alexa kusut, tidak ada semangat ketika tiba di rumahnya. Alexa membayangkan bagaimana nasib dirinya jika benar-benar dijodohkan dengan orang lain.

Semua pasang mata kini tertuju kepada Alexa yang baru saja mengucapkan salam di ambang pintu. Termasuk laki-laki yang akan dijodohkan dengan Alexa, yang duduk tepat di samping bundanya, Hellen rekan kerja Eza. Laki-laki yang dikenal bernama Erlangga itu menatap Alexa dari bawah sampai atas berulang kali. Dalam hatinya dia terus memuji kecantikan Alexa dan wajah datar Alexa, Erlangga suka perempuan seperti Alexa.

“Nah, ini cucu saya cantik “kan? Alexa, sini duduk. Kenalin itu Erlangga, laki-laki yang akan dijodohkan dengan kamu.” Gita menatap Erlangga disertai senyuman yang tak luntur dari wajahnya.

Alexa memutar kedua bola matanya malas. “Nek, aku gak mau dijodohin nek. Nenek kan tahu aku juga masih muda banget, gak mau nek. Jangan sekarang ya nek?”

“Gak sekarang kok, Lexa. Kalian bisa temenan dulu aja, kalian gak akan menikah dalam waktu dekat kok. Pendekatan dulu aja supaya bisa lebih tahu satu sama lain,” terang Dio.

Berbeda dengan Alexa, Erlangga justru tak sabar ingin segera pertunangannya dengan Alexa diselenggarakan. Ternyata Alexa itu satu kampus dengan dirinya hanya saja mereka berdua berbeda jurusan. Merasa dirinya ditatap tanpa henti oleh Erlangga, Alexa melemparkan tatapan tajam kepada lelaki dengan wajah datar itu. Tidak ada takutnya, Erlangga tetap menatap Alexa dan kini dia tersenyum melihat Alexa yang jengkel karena ditatap terus-menerus oleh dirinya.

“Om, tante, maaf saya permisi ke kamar dulu.” Lalu, Alexa meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya.

“Cie yang dijodohin, mana cowonya ganteng pula,” goda Devi.

Entah sudah sejak kapan Devi berada di kamar Alexa, membuat Alexa merasa semakin jengkel. Alexa merebahkan dirinya di kasur, kedua matanya terpejam mengingat kembali kejadian di kampus tadi. Lebih baik mengingat hal menyenangkan itu daripada memikirkan perjodohannya dengan lelaki tidak jelas yang ada di bawah. Devi yang melihat tingkah aneh Alexa menyentuh kening Alexa untuk memeriksa apakah suhu tubuh Alexa panas atau tidak.

Kedua bola mata Alexa kembali terbuka, dia menepis tangan Devi dari keningnya. Dia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk di atas kasur, tapi senyuman tetap terpancar di wajahnya. Ini seperti jatuh cinta yang pertama kali Alexa rasakan ketika sd dulu. Tapi kali ini terasa lebih indah karena besok dirinya akan menemani Vero jalan untuk merayakan hari ulang tahun Vero secara kecil-kecilan.

Devi menatap Alexa dengan kening berkerut, kemudian berucap, “Lo kenapa sih? Kayak orang gila gini, lagi jatuh cinta nih pasti ya lo?” tebaknya.

“Kenapa lo tahu? Wah pasti lo ngintilin gue ke kampus ya?” tuduh Alexa.

“Sembarangan lo kalo ngomong, gak guna juga gue ngikutin lo ke kampus. Gue nebak aja sih soalnya ciri-ciri lo kayak orang lagi jatuh cinta. Senyum-senyum gak jelas, apa lagi namanya kalau gak lagi jatuh cinta?” jelas Devi panjang lebar.

Alexa menampilkan cengiran khas di wajahnya, mengingat kejadian di kampus tadi rasanya Alexa tak sabar ingin segera kuliah kembali besok pagi. Kini penyemangat kuliahnya sudah ada, yaitu Vero. Alexa kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat, tak lama kemudian Alexa pun tertidur, deru napasnya mulai tertidur. Devi yang melihat tingkah sepupunya itu hanya bisa menggelengkan kepala saja.

“Dasar lo, Lexa. Ada-ada aja sifat lo, tapi bagus deh lo udah bisa buka hati buat cowo lain,” ucap Devi pelan.

Bab 3

Sepulang dari kediaman Alexa, Erlangga mengajak ketiga temannya untuk bertemu. Seperti biasa mereka bertemu di sebuah cafe, mereka memesan kopi untuk mereka santap, menemani pembicaraan mereka yang cukup serius. Erlangga dan ketiga temannya dikenal sebagai anak geng motor. Tapi itu dulu ketiga keempatnya masih duduk di bangku SMA, sejak masuk kuliah mereka berempat keluar dari geng motor dengan alasan ingin fokus kuliah.

Namun tak jarang mereka pergi ke bar ketika malam hari untuk memuaskan keinginan mereka, apa lagi Erlangga. Lelaki itu sejak dulu dikenal selalu ganti-ganti perempuan, paling lama dia berpacaran hanya tiga bulan. Penyebabnya adalah Erlangga sering ketahuan selingkuh, karena menurut Erlangga satu wanita itu tak cukup. Anehnya, kali ini ketika melihat Alexa. Niat untuk mencari pengganti perempuan itu tidaklah ada.

Justru Erlangga ingin cepat-cepat menikah dengan Alexa agar tidak ada lelaki lain yang mengambil Alexa darinya, sifat Alexa yang misterius mengundang hawa penasaran Erlangga. Pasalnya, biasa jika perempuan melihat Erlangga pasti akan langsung jatuh hati dan mengemis cinta kepadanya, tapi Alexa berbeda. Dia justru menolak perjodohan tersebut, Erlangga berpikir apakah penyebab Alexa menolak dijodohkan dengannya?

“Pokoknya kalian berdua harus bantu gue, supaya Alexa bisa deket sama gue gimana pun itu caranya,” perintah Erlangga.

“Tapi gimana caranya? Secara kan dia beda jurusan sama kita, beda fakultas, dan yang lebih parah lagi dia misterius banget. Di instagramnya aja kosong melompong, anehnya tetep banyak followers, pp dia juga dark. Gila sih kalo gini gue gak tahu harus gimana.” Lalu, Made menyeruput kopinya sedikit dan kembali hanyut dalam pembicaraan.

Fathan menatap Erlangga serius. “Dan yang lebih parah lagi, kalau Renatta tahu hal ini gimana? Dia pacar lo bro, dia cantik, baik, masa mau lo tinggal gitu aja?”

“Diem.” Satu kata yang keluar dari mulut Erlangga, tapi berhasil membuat teman-temannya langsung bungkam.

“Apa? Kamu mau putus sama aku, Er?” tanya Renatta, yang entah sejak kapan berada tepat di belakang sofa yang Erlangga dudukki.

Erlangga kaget, sontak dia langsung berdiri dan menghampiri Renatta yang kini sedang berdiri sembari menatapnya seolah meminta penjelasan. Mungkin ini waktu yang tepat agar Erlangga bisa menyudahi hubungannya dengan Renatta dan fokus menarik hati Alexa, si gadis misterius yang membuat Erlangga semakin semangat untuk berkuliah. Mulai esok, Erlangga berjanji tidak akan absen kuliah lagi.

Erlangga menatap Renatta lamat, kemudian berucap, “Iya, kita udahan ya. Maaf kalo aku selama ini kurang perhatian sama kamu, intinya maafin apapun kesalahan aku. Jangan nangis ya, Re. aku yakin kamu pasti ketemu sama orang yang lebih baik dari aku,” putusnya.

“Loh? Gak bisa gini dong, kamu bilang aku pacar terakhir kamu. Apa sebabnya kamu mau putus? Oh pasti kamu selingkuh lagi, ya? Siapa perempuannya sini biar aku kasih pelajaran!” tebak Renatta.

“Perempuannya pilihan nyokap dia,” jawab Made dengan santainya.

Mulut Renatta terkatup rapat ketika mendengar jawaban yang dilontarkan Made, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi jika memang benar perempuan yang sekarang menjadi kekasih Erlangga adalah pilihan Hellen, Renatta bisa apa? Dengan air mata berlinang, Renatta meraih jemari Erlangga. Ini terakhir kalinya bagi Renatta untuk bisa berdekatan dengan Erlangga sebelum perempuan lain yang menggantikan posisinya.

Renatta menundukkan kepalanya. “Makasih ya, semoga kamu bahagia sama pilihan kamu. Kalau nikah jangan lupa undang mantan terakhirmu ini, kalo gitu aku pamit.”

“Sama-sama,” jawab Erlangga tanpa suara, ketika Renatta sudah cukup jauh meninggalkannya.

Ketiga teman Erlangga mati-matian merutuki sikap bodoh Erlangga, bisa dikatakan Erlangga itu mempermainkan hati Renatta seenaknya, padahal Renatta sudah sangat tulus menyayangi bahkan mencintai Erlangga. Ingin rasanya mereka mencaci maki sang ketua dari circle mereka. Tapi sayangnya sifat Erlangga yang keras kepala membuat mereka sulit untuk mencaci maki lelaki itu, karena pada akhirnya pasti Erlangga akan bersikap bodo amat.

“Yah, selesai sudah hubungan kita sampai di sini,” ejek Asep.

“Banyak omong lo,” ucap Erlangga dengan kesal.

***

“Alexa! Devi! Cepat turun!” teriak Eza dari bawah.

Entah ada apa, tengah malam seperti ini Eza sudah berulang kali berteriak memanggil Alexa dan Devi. Padahal kedua gadis itu sedang menikmati tidur nyenyak mereka, Alexa dan Devi cepat-cepat keluar kamar dan menghampiri Eza yang sedang membawa tubuh Gita bersama satpam rumahnya untuk dibawa ke rumah sakit. Alexa yang melihat sang nenek sedang tidak baik-baik saja menangis histeris.

Devi berusaha menenangkan Alexa, dengan mengucapkan kata-kata yang menguatkan. Devi dan Alexa ikut pergi ke rumah sakit meskipun Eza sudah melarangnya tapi mereka berdua tetap memaksa agar diberi ijin untuk ikut. Tangis Alexa sejak tadi belum berhenti, dia membayangkan bagaimana nasib dirinya jika Gita taka da lagi di dunia. Gita itu bagaikan seorang Ibu bagi Alexa, jadi tak heran jika kadang Alexa kelupaan dan memanggilnya dengan sebutan mama.

Sesampainya di rumah sakit, Gita segera dibawa ke ruang UGD dan langsung ditangani oleh dokter dan suster. Lima belas menit berlalu, akhirnya dokter dan suster keluar kemudian memberitakan bahwa kondisi Gita baik-baik saja, Gita hanya banyak pikiran sehingga asam lambungnya naik dan pingsan. Alexa segera masuk ke ruang rawat Gita, duduk di kursi yang ada tepat di sebelah brankar di mana Gita terbaring lemah.

“Nek, gimana kondisinya? Bilang sama aku, nenek mau apa? Apapun itu bakal aku turutin nek,” tawar Alexa.

“Kalo nenek maunya kamu terima perjodohan itu gimana? Nenek mohon Lexa, kamu gak mau lihat nenek kayak gini terus ‘kan? Nenek mau bahagia di hari tua nenek, umur kamu sudah cukup untuk menikah Lexa, terima ya perjodohan itu?” Gita menatap Alexa dengan tatapan memelas.

Alexa terdiam, haruskah dia menerima perjodohan itu? Di satu sisi Alexa memang ingin melihat Gita kembali sembuh tapi di sisi lain Alexa tidak mungkin menerima perjodohan itu karena saat ini hatinya sudah diisi oleh lelaki lain, yaitu Vero. Alexa mengembuskan napasnya perlahan-lahan secara kasar, pikirannya tidak menentu sekarang untuk menolak atau menerima permintaan Gita yang menurutnya cukup berat.

Eza menepuk pundak Alexa pelan, kemudian berkata, “Jangan buat ayah sama nenek kecewa, Lexa,” pesannya.

“Lexa, lebih baik lo terima perjodohan ini. Lo gak mau kan lihat nenek sakit-sakitan terus kayak gini? Kalo gue jadi lo pasti mau banget terima perjodohan itu, secara Erlangga itu ganteng, keluarganya juga kaya, lo tinggal santai di rumah,” ucap Devi, kedua manik matanya menatap Alexa dengan tatapan memohon.

Alexa menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. “Oke nek, aku mau.”

Gita, Eza dan Devi tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban yang diucapkan Alexa, mereka bertiga merasa bahagia. Berbeda dengan Alexa yang justru merasa kesal karena dipaksa untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Tanpa mengatakan apa-apa, Alexa meninggalkan ruang UGD dan berlari menuju taman rumah sakit. Devi segera menyusul Alexa karena takut jika sepupunya itu akan berbuat nekat.

“Gila ya lo! Gue kira lo mau bunuh diri tahu gak? Ngapain sih lo kabur?” komentar Devi. “Sini cerita sama gue, siapa tahu aja gue bisa bantu lo,” bujuknya.

Percuma juga gue cerita sama lo, Dev. Lo gak akan bisa kasih gue solusi dan justru malah nasehatin gue, batin Alexa.

Bukannya menjawab, Alexa malah melamun dan menatap lurus kea rah depannya. Devi melambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Alexa, membuat Alexa sedikit merasa kaget. Alexa mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menatap Devi sebentar lalu menggelengkan kepalanya. Biarlah hanya Alexa yang tahu bagaimana perasaan di hatinya sekarang, daripada membuat masalah semakin rumit.

“Lo kenapa sih Lexa? Kalo ada masalah itu cerita jangan dipendem,” nasehat Devi.

“Kalo masalahnya bersumber dari keluarga sendiri gimana?” tanya Alexa.

Kening Devi berkerut. “Maksud lo? Gimana sih, gue gak ngerti.”

“Gak usah dipikir, lupain aja.” Alexa memejamkan kedua matanya sebentar, kemudian meninggalkan taman rumah sakit.

“Ih! Lexa emang dasar ya lo nyebelin!” teriak Devi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED