Bab 2

Axton semakin merapatkan tubuhnya, menghirup aroma lavender yang melekat dari tubuh Quinza, dan mencium Quinza lebih dalam lagi.

Tidak sampai disitu, tangan kanan Axton pun sudah memegang bokong sintal milik Quinza meremas bokong Quinza dengan kasar, hingga tangan Axton pun turun ke bawah mengelus paha quinza yang mulus, menyingkap rok Quinza agar Axton lebih leluasa mengelus bagian dalam paha Quinza.

Axton yang sudah di selimuti gairah melepaskan ciumannya tanpa memper kikis jarak antara mereka, memberikan Quinza ruang untuk menghirup udara sebanyak banyak nya, tanpa melepaskan pandangannya ke arah Quinza.

Melihat sudut bibir Quinza berdarah, Axton menghapus darah yang berada di sudut bibir mungil Quinza dengan ibu jarinya, dan mengatakan sesuatu pada Quinza.

“Itu baru permulaan sugar, jika kau berani terhadapku bahkan kau berani bermain dengan ku, aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dari pada ini,” ucap Axton, menatap Quinza tajam, dan pergi meninggalkan Quinza yang sudah terisak atas perbuatannya.

Quinza terisak dalam diamnya, tidak berani untuk membalas ucapan Axton, bagi Quinza axton terlihat seperti malaikat dari luar tetapi jika dilihat lebih dalam lagi Axton seperti devil. Like an angel and devil itulah yang berada di dalam pikiran Quinza.

Merasa dirinya sudah sedikit tenang, Quinza segera pergi dari kelasnya tanpa mengikuti mata pelajaran selanjutnya. Axton pun hanya menatap kepergian Quinza dari kejauhan sampai punggung gadis itu menghilang. Dari hadapannya.

••••••••

Quinza menjalankan mobil audi R8 miliknya menuju salah satu tempat yang sering quinza kunjungi untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.

Beberapa menit kemudian, Quinza sampai di tempat tujuannya, di sebuah tempat yang selalu bisa menenangkan hati dan pikirannya, dengan cepat Quinza membuka pintu mobilnya dan keluar, tidak sabar untuk menemui seseorang

Setibanya di halaman rumah yang sangat sederhana, seorang wanita paruh baya telah menunggu Quinza di depan pintu, Quinza langsung memeluknya, menenggelamkan kepala di ceruk leher wanita itu.

"Aku merindukanmu, maaf, aku jarang sekali menemuimu, bagaimana dengan kabar mu bibi elia dan juga anak anak panti disini?" tanya Quinza, ya sekarang ia berada di salah satu panti asuhan di kawasan New York, letaknya tidak terlalu jauh dari kampus Quinza, tempat yang sering Quinza kunjungi, menemani anak anak yatim yang kehilangan keluarganya atau dibuang dari keluarganya.

"Bibi baik darling, anak anak di panti ini juga sangat baik, mereka selalu menanyakan mu dan merindukan mu, masuklah dan temui mereka, mereka sedang bermain di halaman belakang." jawab bibi Ellia wanita paruh baya berusia 54 tahun, pengurus dan pemilik panti tersebut.

Quinza tersenyum sebagai jawabannya lalu masuk kedalam rumah panti menuju halaman belakang, melihat anak anak panti yang sedang bermain, hati dan pikiran quinza menjadi hangat melihat mereka yang sedang asyik bercengkrama dengan anak anak panti lainnya

"Apa aku mengganggu kalian semua yang sedang asyik bermain?" tanya Quinza, tersenyum pada anak anak panti, yang mendengar ucapannya, salah satu di antara mereka bernama emi menghampiri Quinza, memeluk kaki quinza dengan manja.

"Kenapa kamu jarang datang kesini, aku sangat merindukanmu juga masakan mu," Ucap Emi manja. Pada Quinza

Quinza terkekeh mendengar ucapan Emi, "ckk.. Really Emi, kau merindukan ku hmm?" Tanya Quinza, mensejajarkan tingginya pada emi, sambil mengacak rambut blonde milik Emi dengan tangannya,

"jika kau merindukan ku, berikan aku satu buah kecupanEmi, dan aku akan memasak makanan kesukaan kalian, bagaimana apa kalian setuju"

Anak panti bersorak gembira mendengar quinza ingin memasak untuk mereka. Elia ikut senang melihat mereka bergembira, sudah lama rasanya tidak melihat anak anak panti seperti ini.

"Thanks Quinza, kau membuat mereka begitu gembira hari ini," ucap bibi Elia tersenyum pada Quinza.

Quinza menoleh ke arah samping kanannya, melihat bibi elia sudah berada di sampingnya, Quinza tersenyum mendengar ucapan bibi elia lalu Quinza memeluk bibi Elia, "bibi tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi kewajiban ku untuk menghibur mereka dan membuat mereka tersenyum bahkan bergembira, bagi ku mereka semua adalah nya malaikat malaikat ku, penawar rasa lelah ku disaat aku membutuhkan ketenangan, aku sangat menyayangi mereka, merekalah penyemangat ku bibi," kata Quinza yang sudah terisak di atas pundak bibi elia.

"Don't cry honey, kamu bisa menceritakan keluh kesah mu pada ku, kau sudah kuanggap seperti anak kandung ku sendiri, berbagilah kesedihanmu, aku sangat senang jika kamu menceritakan semuanya."

Quinza beruntung ada seseorang yang masih mau memperdulikannya di saat Quinza membutuhkan teman bercerita.

Tidak terasa Quinza menghabis kan waktu nya bersama mereka panti asuhan, mengajarkan anak-anak menulis dan membaca, sampai mengajarkan anak anak panti bermain piano. Hingga hari pun sudah mulai gelap, hingga Quinza pamit pada mereka dan pada bibi Elia.

"Ingat kalian jangan nakal dan menyusahkan grandma Ellia, aunty pamit pulang, minggu depan aunty mengunjungi kalian lagi," pamit Quinza pada mereka.

Quinza yang hendak menaiki mobil nya mendengar suara pertikaian tidak jauh dari rumah panti asuhan itu.

©©©©©©

"Ku mohon tuan, maafkan saya, saya berjanji tidak akan membocorkan rahasia itu pada orang lain.

"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu, kau salah mencari musuh, kau tau bukan siapa aku, aku tidak akan segan membunuh seseorang yang berani berkhianat dengan ku.

Pukulan, tendangan bahkan sayatan dan tusukan dia berikan pada orang itu sampai terkulai lemas, melihat orang itu sudah tidak berdaya , dia pun tertawa menarik rambut orang itu sampai mendongakan kepala ke arahnya.

"Kau dengar baik-baik perkataan ku, aku tidak akan puas jika orang yang aku siksa dengan mudahnya mati begitu saja, dan ini baru permulaan aku menyiksamu." Ujar Axton dengan intonasi suara dingin

Suara teriakan menggema di sepanjang jalan yang terlihat sepi, tidak ada satu orang pun yang melintasi jalanan itu.

Quinza yang baru pertama kali melihat kejadian itu pun terkejut sampai dirinya menutup mulut dengan kedua Telapak tangannya.

Quinza menyaksikan dengan begitu seksama. Melihat, bagaimana cara dia menyiksa orang itu sampai kondisinya lemah tak berdaya.

Tidak sampai disitu, Quinza melihat orang itu yang sudah terkapar lemah, diberikan siksaan yang lebih parah bahkan tidak segan orang yang menyiksanya itu, memberikan goresan dan tusukan yang bertubi tubi.

"Jangan pernah bermain dengan ku, jika kau hanya ingin menemui neraka mu, hahahaha, bagaimana rasanya, apa kau masih ingin mendapatkan siksaan dari ku lagi, atau kau menyerah untuk langsung ku bunuh"

"Ckkk.. kau memang iblis berbentuk malaikat, Bunuhlah lah aku sekarang juga, dari pada kau terus menyiksaku seperti ini."

Mendengar permintaan nya, pria pun langsung membunuh orang itu dengan menikam jantungnya bertubi-tubi dan terakhir menembak orang itu dengan menggunakan handgun tepat di bagian kepalanya.

Axton tersenyum puas saat melihat korbannya mati secara mengenaskan di tangannya.

Bab 3

Langit sudah mulai senja, Axton pun bergegas pergi meninggalkan kampus tempat dirinya mengajar, belum sempat Axton membuka pintu mobil suara dering ponselnya berbunyi. Axton segera mengangkat ponsel nya yang terletak di celana panjang miliknya, tanpa melihat nama sang penelepon.

"Katakan ada apa kau meneleponku?" tanya Axton tanpa mau basa-basi.

"Bagaimana bisa..? apa yang kalian kerjakan hah?!"

"Aku tidak mau tahu kau urus penghianat itu sampai aku datang kesana dan kirimkan lokasi nya pada ku sekarang juga, pastikan pria itu tidak kabur," Axton memutuskan panggilan sepihaknya, tanpa mau mendengarkan ucapan si penelepon lagi

Setelah memastikan sambungan telepon ia matikan, axton melihat lokasi yang baru saja ia terima dari salah satu sahabatnya.

Lokasi itu tidak begitu jauh dari tempat ia berada, hanya perlu mengendarai kuda besi nya selama 30 menit.

Setelah memastikan sambungan telepon ia matikan, Axton melihat lokasi yang baru saja ia terima dari salah satu sahabatnya.

Lokasi itu tidak begitu jauh dari tempat ia berada, hanya perlu mengendarai kuda besi nya selama 30 menit.

••••••••

Di tempat lain Dom yang ditugaskan Axton untuk menjadi pemimpin mereka sampai axton datang menyuruh anak buah nya untuk terus memata matai gerak gerik pria itu.

Sayangnya gerak-gerik anak buah Axton dan Dom diketahui oleh pria itu. Pria itu buru-buru berlari dan berhasil lolos dari anak buah Dom. Tepat disaat pria itu ingin bersembunyi, Axton sudah berada di depan tubuhnya, ia tidak mampu berbuat apa apa jika sudah berhadapan dengan Axton apa lagi melihat tatapan Axton seperti elang yang siap memangsa korbannya.

Pria itu hanya bisa menelan saliva kasar nya berharap jika Axton mau melepaskannya.

"Ku mohon tuan, maafkan saya, saya berjanji tidak akan membocorkan rahasia itu pada orang lain.

Axton hanya diam mendengar permohonan pria itu untuk di lepaskan, tapi sayang nya axton bukanlah pria yang mau menuruti permintaan bodoh pria itu.

Lagi lagi pria itu memohon pada axton untuk melepaskan nya. "Tolong tuan maafkan saya, saya mohon, saya akan melakukan apa pun yang tuan inginkan, tapi tolong tuan lepaskan saya, pria itu membujuk axton agar ia terlepas dari cengkraman Axton.

Axton pun tertawa di depan pria bodoh itu sambil memicingkan matanya, hingga axton menarik kerah baju pria itu, sambil membisikan sesuatu padanya.

"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu, kau salah mencari musuh, kau tau bukan siapa aku, aku tidak akan segan membunuh seseorang yang berani berkhianat dengan ku." ucap Axton menegaskan ucapanya pada pria yang berada di depannya.

Axton yang sudah emosi memukul pria itu, menendang bahkan sayatan dan tusukan ia berikan pada pria itu sampai pria itu terkulai lemas, melihat orang itu sudah tidak berdaya , ia pun tertawa menarik rambut orang itu sampai mendongakan kepala ke arahnya.

"Kau dengar baik baik perkataan ku, aku tidak akan puas jika orang yang aku siksa dengan mudahnya mati begitu saja, dan ini baru permulaan aku menyiksamu, dan sekarang saatnya untuk mu merasakan neraka yang kau ciptakan sendiri." ucap axton dengan suara dinginnya.

Axton kembali melayangkan pukulan ke wajah pria itu dan menendangnya sangat keras Sambil berteriak pada pria itu "jangan pernah bermain dengan ku, jika kau hanya ingin menemui neraka mu sendiri, bagaimana rasanya, apa kau masih ingin mendapatkan siksaan dari ku lagi, atau kau menyerah untuk langsung ku bunuh."

Pria itu masih bisa terkekeh setelah mendapat siksaan dari Axton dan meminta axton untuk segera melenyapkannya. "Ck.. kau memang iblis berbentuk malaikat, Bunuhlah lah aku sekarang juga, dari pada kau terus menyiksaku seperti ini" kata pria itu

Sesuai dengan permintaan pria itu, axton pun menikam pria itu di jantungnya dan terakhir axton meletupkan handgun nya tepat di kepala pria itu.

©©©©©©©©

"Arghhhhhh!!!" Teriak Quinza mendengar suara letupan senjata yang tidak jauh dari tempat nya berdiri, tubuh quinza lemas begitu saja ia tidak mampu menompangkan kedua kakinya, tubuh nya terasa kaku di saat ia menyaksikan bagaimana pria itu membunuh tanpa adanya rasa belas kasihan.

Axton yang mendengar suara teriakan seorang wanita di dekat lokasi itu memutuskan untuk mencari tau siapa pemilik suara itu.

dengan langkah yang sangat tenang axton menghampiri sumber suara itu dan melihat sesosok gadis yang mematung di tempatnya.

Hingga Pandangan mereka bertemu, Axton yang manatap Quinza dengan tenang sambil berjalan mendekati Quinza.

Sedangkan Quinza menatap Axton dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya, sampai Quinza pun terkukung di antara kedua tangan Axon

Axton yang sudah berdiri di depannya melontarkan Sebuah pertanyaan untuk Quinza "Apa yang kau lakukan disini hah, apa kau ingin seperti pria itu, mati secara mengenaskan, jika kau masih menyayangi hidupmu, lebih baik tutup mulutmu dan jangan pernah menceritakan kejadian ini pada siapapun," ucap Axton memperingati quinza, agar quinza tutup mulut, walaupun di hati kecil axton, axton enggan melenyapkan quinza dari hidupnya.

Melihat quinza yang terdiam dan menunduk, axton pun mengangkat dagu quinza dengan menggunakan jari telunjuknya.

"Tatap mata ku, jika aku sedang berbicara padamu sugar, atau kau ingin kejadian tadi pagi terulang kembali?" kata Axton menggoda Quinza, agar Quinza menatap dirinya.

Quinza sendiri pun enggan menatap Axton, dan malahan memilih untuk menatap ke arah lain tanpa memperdulikan ucapan Axton yang tersirat dengan penuh ancaman.

Dengan sabar Axton menanyakan kembali pada quinza"Are you scared with me, sugar?" tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Quinza.

Lagi-lagi quinza tidak menjawab pertanyaan Axtonn, dan Axton yang masih bersikap sabar menghadapi keterdiaman Quinz

"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab semua pertanyaan ku, tapi satu hal yang harus kau ingat sugar, dimanapun kau berada aku akan tetap berada di dekatmu dan mengawasimu setiap saat? Agar kamu tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun" peringat Axton.

Mendengar ancaman Axton lagi, Quinza hanya bisa terisak merutuki kebodohannya saat ini. Jika ia tidak penasaran dengan suara itu, mungkin Quinza tidak akan bertemu dengan dosen devil, gila ini, dan Quinza tidak akan mendapat ancaman yang mengerikan dari sang dosen gila yang berada di depan tubuhnya.

Dengan keberanian yang cukup quinza pun balik bertanya pada axton. "Kenapa kau selalu mengancamku, kesalahan apa yang aku perbuat sehingga kau tidak mau melepaskan ku, jika aku memang mempunyai salah padamu, aku minta maaf, aku tidak sengaja melihat kejadian ini, aku hanya penasaran dengan jeritan seseorang," aku Quinza meminta maaf pada axton atas kebodohan nya.

Belum sempat quinza meneruskan ucapan nya, axtob sudah membungkam bibir quinza, kali ini axton mencium Quinza dengan lembut tidak sekasar ciuman tadi pagi.

Axton terus melumat bibir quinza, hingga ia menerobos masuk kedalam ke rongga dalam mulut quinza tanpa henti, bibir milik quinza sangatlah manis, Axton menyukainya bahkan axton ingin terus membekam bibir mungil Quinza, hingga Quinza kehabisan nafas.

Di saat pasokan udara mulai menipis dari rongga nafas mereka berdua, axton melepaskan ciuman nya untuk mengambil nafas sebanyak banyaknya, tanpa melepaskan kening mereka.

"Kau tidak perlu takut padaku sweety, kau hanya perlu menuruti semua perintah ku itu sudah cukup buat ku, apa pun yang kamu lihat sekarang itu belum seberapa, tapi aku akan memastikan jika kau tidak akan melihat kejadian ini untuk kesekian kali nya, kecuali kau melanggar semua perintah ku, you're mine, remember that."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED