" Alana, ceritain gimana lo bisa seberani itu sema_"
" Gak usah bahas itu bisa ?! " Seru nya dengan tatapan tajam tak suka.
Sandra mengangkat kedua tangan nya dengan cengiran yang tersunging di bibir, " Sorry hehe. "
" Udah ayo, jangan bikin mood gue rusak. " Alana melangkah lebih dulu untuk memasuki kampus lebih dalam.
" Hari ini hangout yu. " Sandra menyamakan langkah nya dengan gadis itu.
Benar-benar melupakan rasa penasaran nya tentang kejadian semalam di clubbing. Meskipun rasa penasaran itu masih ada, namun tidak mau membuat Alana marah dan membalas perbuatan nya semalam.
" Hnm ayo, gue juga mau beli barang. "
Keduanya nya memasuki kelas untuk memulai perkuliahan.
Sesuai apa yang di rencanakan, kedua gadis itu memutuskan untuk singgah di sebuah pusat perbelanjaan. Membeli barang-barang yang di butuhkan ataupun barang yang menarik perhatian mereka.
" Ke tempat underwear. " Ucap Alana menggiring langkah mereka.
" Perasaan minggu kemaren lo baru beli. Kok udah beli lagi? " Ucap Sandra cukup heran.
" Yang kemaren kurang nyaman, gue pengen beli bra. Yang sekarang kerasa kekecilan. "
Tanpa diminta, netra Sandra mengamati tubuh Alana yang hari ini memakai rok sepaha dengan atasan pakaian berlengan panjang yang mencetak bentuk tubuhnya namun memiliki belahan cukup rendah di dada.
" Dada lo lebih gede. " Ucap nya menilai.
Kepala perempuan itu condong, mendekat ke telinga Alana.
" Sering lo mainin ya? " Bisik nya yang membuat pergerakan Alana yang sedang memilih bra terhenti. Dengan refleks perempuan itu menyentil kening Sandra hingga ringisan keluar dari bibir perempuan itu.
" Sembarangan. Gue gak kaya gitu. " Melotot nya tak Terima.
" Trus gimana? Masa secepat itu, pake obat ? "
" Gak usah aneh-aneh. " Dengus Alana malas.
Perempuan itu memberikan pilihan beberapa underwear yang di ambilnya kepada pelayan yang sudah mengikuti mereka sejak tadi.
" Kami memiliki pakaian tidur terbaru, barangkali nona ingin melihat. " Tawar nya ramah, kedua perempuan itu sudah tidak asing di tempat itu. Karena memang sering berkunjung, bisa dibilang salah satu member disana.
" Mau mba. " Seru Sandra lebih dulu.
" Mari saya tunjukkan. " Ajak pelayan itu yang di ikuti keduanya.
Alana tidak begitu tertarik, stock baju tidur nya masih cukup banyak yang baru. Namun tidak ada salahnya juga melihat, biasanya koleksi terbaru selalu bagus.
" Ini nona. Untuk edisi nya sendiri terbatas. Produk ini hanya dikeluarkan beberapa buah. " Jelas nya
Satu alis Alana terangkat menatap pakaian tidur yang lebih mirip lingerie itu. Beberapa ada yang cukup normal, namun beberapa ada yang cukup gila menurut nya. Hanya seutas tali dengan kain tipis, dia bisa membayangkan jika benda itu tidak akan menutupi bagian tubuhnya.
" Saya mau yang merah itu. " Tunjuk Sandra.
Pakaian itu hanya menutup bagian depan, namun memiliki tali yang cukup rumit. Alana tidak banyak berkomentar, selera mereka hampir sama.
Tidak untuk di tunjukkan kepada siapapun, murni untuk di pakai tidur. Bagi Alana seperti itu.
" Mau ketemu siapa lo? " Tanya Alana curiga. Bukan hal aneh lagi jika Sandra sering menghabiskan malam panas dengan pria berbeda. Dia yakin jika pakaian itu untuk dia pakai sebelum adegan panas mereka.
Sandra tersenyum cerah dengan pertanyaan itu, " Pria hot tentunya. " bisik nya dengan kerlingan centil
Alana merotasi kan kedua matanya mendengar itu.
" Buruan lo juga beli. " Titah Sandra.
" Yang pink itu bagus. " Komentar Sandra, menunjuk sebuah lingerie yang jelas-jelas transparan. Hanya tertutup oleh bordiran bunga dan jaring tipis.
" Gila, terlalu sexy. Kedinginan yang ada. " Dengus Alana.
" Saya mau yang hitam aja mba. " Pinta Alana menunjuk pakaian yang benar-benar bisa di sebut pakaian tidur atau dress tidur, meskipun tetap saja kesan nya sexy.
Memiliki tali tipis sebagai penyangga dan panjang yang mungkin hanya setengah paha.
" Yah, terlalu tertutup. " Tutur Sandra kecewa.
" Udah ayo. " Ajak Alana.
Hanya sebuah underwear, namun cukup untuk menginjak angka juta. Wajar saja karena brand ternama, dengan tenang Alana memberikan kartu nya untuk menyelesaikan pembayaran itu.
" Kami ada hadiah karena nona sudah menjadi member di sini dan sudah melebihi jumlah pembelian. " Ucap sang kasir menyerahkan dua paperbag kepada Alana dengan kartu perempuan itu.
Senyum perempuan itu tercetak, " Terimakasih. " Tutur nya ramah.
Keduanya meninggalkan tempat itu setelah sudah selesai.
" Lah gue kaga. " Dengus Sandra dengan wajah tertekuk nya.
" Mau? " Tawar Alana menyerahkan paperbag berisi pakaian yang baru di berinya itu.
Entah apa isinya, paling bra. Dia masih mampu membeli tanpa diskonan.
" Nggak deh, besok aja gue kesini lagi. "Tolak Sandra. " Paling cuma cd. "
" Tapi isinya ini lumayan gede juga. " Gumam Alana, mulai penasaran dengan isinya.
" Ntar lo buka di apart, kasih tau gue isinya. "
Sepeninggalnya dua perempuan itu, seseorang dengan tubuh tegap yang di balut oleh pakaian kantor formal keluar dari sudut ruang ganti. Menatap dua orang itu yang menjauh.
" Ini tip mu. " Beberapa uang merah diserahkan kepada kasir itu.
" Terimakasih banyak tuan. "
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapaun lagi dia meninggalkan tempat itu dengan seringai yang tercetak di bibir nya.
" Aku akan memberikan sesuatu yang nikmat sayang. " Lirih nya tak sabar.
Bruk
Alana melempar kantung belanjaan yang di bawanya dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di kasur queen size.
"Leganya." Lirih gadis itu, merasakan udara dingin dari AC yang menyentuh kulit.
" Berendam sepertinya ide yang bagus. "
Meskipun rasanya malas, namun dia tetap mamaksa membawa tubuh itu ke dalam kamar mandi. Menanggalkan satu persatu pakaian nya dan masuk ke dalam bathup yang sudah terisi oleh air dan busa sabun.
Iringan musik halus terputar memenuhi kamar mandi itu. Segelas cairan merah tak lupa tersimpan di tangan nya. Sesekali dia menyesap minuman itu.
" Ah, nikmat. " Lirih nya.
Merasakan bagaimana tubuh nya yang terasa lebih rileks setelah seharian beraktivitas di luar.
Satu jam dengan kegiatan di kamar mandinya, Alana keluar dari sana dengan wajah yang lebih segar. Dia mengambil salah satu paperbag belanjaan nya, mengeluarkan underwear yang tadi di beli.
" What ”
Tangan nya mengangkat sebuah lingerie berwarna pink yang ada di salah satu paperbag.
" Ini yang di hadiahkan? " Gumam nya.
" Terlalu mahal untuk sebuah hadiah pelanggan. " Ucap nya dengan nada tak habis fikir
Tak ingin memikirkan itu, Alana lebih tertarik untuk mencobanya. Dia menanggalkan handuk yang melilit tubuhnya. Mmebuat tubuh itu telanjang bulat dan mulai memakai lingerie transparan itu. Lingerie yang sebelumnya di tunjuk oleh Sandra.
" Bagus juga. " Decak nya menatap pantulan dirinya di kaca fullbody.
Dia menyentuh payudara nya yang terlihat akan tumpah karena lingerie itu yang yang terlalu pas. Bulatan merah tercetak di tengah transparan itu.
" Nakal banget gak sih. "Kekeh nya mengibaskan tangan
" Yaudah lah pake, cuma tinggal sendiri ini. " Putus nya.
Dia menurunkan suhu AC di kamar itu, bagaimanapun benda itu benar-benar tak menutupi seluruh permukaan kulit nya. Dan tentunya cukup membuat nya kedinginan.
Dengan tenang dia mulai mengeringkan rambutnya dan memakai segala perawatan malam sebelum tidur.
Menelentangkan tubuhnya di atas tempat tidur, Alana membuka handphone nya. Menscroll random hingga gadis itu tertidur dengan handphone yang masih menyala.
Hening
Apartemen mewah yang hanya di tinggali sendiri itu senyap setelah pemilik ruangan menjelajahi alam mimpinya. Terlihat pulas dengan tubuh yang meringkuk di atas tempat tidur luas yang cukup bisa menampung 4 orang lagi dengan seukuran nya.
Pip pip pip
Cklek
Pintu dengan keamanan tinggi itu terbuka dengan mudah nya.
Tap tap
Ketukan sepatu yang beradu dengan lantai terdengar pasti hingga kamar yang di tempati pemilik ruangan terbuka.
" Aku datang sayang. " Suara berat itu terdengar.
Tatapan tajam itu menyorot intens gumpalan daging yang terbaring di atas tempata tidur nya. Mendadak suhu dingin diruangan itu menjadi terasa panas melihat apa yang di pakai oleh perempuan itu.
" Astaga sayang, kamu benar-benar menyambut ku?" Kekeh nya dengan suara tertahan.
Dengan langkah pasti dia melangkah mendekat ke tempat tidur itu, tuxedo yang masih membalut tubuh tegap itu terlempar begitu saja.
Bak predator, dia merangkak menaiki tempat tidur dan mengurung tubuh kecil Alana di bawah nya.
Jakun nya naik turun menatap perempuan itu yang sudah seperti air di tengah panas nya padang pasir.
" Aku akan membuatmu menjerit sayang. " Bisik nya.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati dia mengeluarkan sebuah suntikan kecil dari saku celana nya, beserta botol ukuran serupa berisi cairan berwarna bening. Dengan cepat dia memindahkan nya ke dalam suntikan.
" Mari kita mulai. " Serak nya. Menekan jarum tajam itu di lengan atas halus milik Alana.
" Sttt tenang. " Bisik nya saat perempuan itu terusik tak nyaman dalam tidur nya saat jarum itu menancap menembus kulit.
" Mari bertemu dalam mimpi. " Tutur pria yang mengurung tubuh itu setelah berhasil memindahkan cairan tadi ke tubuh Alana.
Beberapa menit menunggu, pria itu hanya diam. Menatap liar tubuh di bawah nya yang terlihat bagai daging segar yang siap di santap.
Rahang pria itu mengeras dengan kabut nafsu di kedua mata tajam nya.
" It's time. " Serak nya, mulai mendaratkan bibir nya di atas bibir perempuan itu yang sedikit terbuka.
Alana terusik, namun perempuan itu masih memejamkan matanya. Membuat pria itu menyeringai, mengetahui jika cairan tadi sudah bekerja. Ciuman itu lama kelamaan berubah menjadi liar, memanggut cukup tergesa seakan bibir itu akan hilang jika dia lepaskan sedetik saja.
Tangan kekar itu mulai merayap, mengelus permukaan halus perut Alana hingga menyentuh dan meremas kedua gundukan gadis itu.
" Ahh. "Lengkuhan wanita itu lolos.
Kekehan senang yang terdengar berat keluar, dia semakin liar menjelajahi tubuh itu. Menyentuh dan mengecup setiap inci. Tanpa merasa khawatir jika pemiliknya akan bangun.
Decapan itu memenuhi kamar, saling menyahut dengan lengkuhan sang perempuan yang terus keluar akibat tindakan dari pria itu.
" Kamu hanya milikku. "
Pria itu menjauhkan wajahnya dengan bibir basah, netranya menatap puas bagaimana labia merah itu berkedut basah setelah mengeluarkan pelepasan nya.
" lezat. " serak nya menjilat bibir nya yang terdapat cairan milik gadisnya.
" Setiap jengkal tubuh ini milikku. "
Alana terlonjak dari tidur nya, nafas gadis itu memburu dengan kepala yang terasa berat.
" Sial, bisa-bisanya gue mimpi basah."
" Dan terasa sangat nyata." Lanjutnya merasakan intim nya yang terasa lembab.
Gadis itu menunduk, menatap pakaian nya yang terlihat berantakan dengan paha yang mengangkang terbuka.
" Sial, sial. Kenapa sentuhan nya terasa benar-benar nyata." Alana merutuk dan memukul pelan kepala nya. Bahkan tubuhnya terasa masih bisa merasakan sentuhan itu.
Merasa otaknya sudah tercemari pagi-pagi, gadis itu segera turun dari tempat tidur. Dia meringis pelan merasakan miliknya yang terasa perih.
" Apa ini karena terjepit tali lingerie ini atau gue puasin diri gue sendiri selama mimpi ?" Lirihnya, dengan langkah sedikit terseret dia segera masuk ke kamar mandi.
Kekehan berat terdengar dari seorang pria yang tengah menatap layar di depan nya, menampilkan bagaimana ekspresi gadis nya yang terlihat berantakan setelah bangun tidur.
" So sexy, aku tidak tahan untuk kembali menyentuh mu sayang." Serak nya dengan tangan memegang erat gelas di tangan nya.
Dia mengeser layar itu, berganti ruangan dimana gadis nya yang mulai menanggalkan satu persatu pakaian nya dan masuk ke dalam bathup.
Rekaman itu sangat jelas memperlihatkan bagaimana gadis yang terpejam di dalam bathup, dia mengeuk ludah nya kasar. Kepala nya mulai membayangkan jika dirinya ikut masuk dan menyentuh kulit halus itu. Apalagi kedua bulatan padat yang terlihat memanggil-manggil nya.
" Ahhh, Alana." Desahnya dengan mata terpejam, gelas yang di genggam nya tadi sudah hilang entah kemana. Tangan pria itu sudah memijat teratur milik nya yang sudah terbebas dan menegang. Tatapan nya menatap penuh nafsu bagaimana tubuh itu yang berdiri di bawah guyuran shower dengan gaya sensual nya.
Membayangkan jika disana dia menghujam gadis itu dengan keras, menenggelamkan di belahan milik gadis nya yang masih sempit dan hangat. Membuat gadis nya mendesah nikmat dan melolong menyebutkan namanya.
" Yeahh, sayang. Emhh nikmat."
" Alanahh ahh."
" Babyy shitt."
" Kau sangat cantik honey."
" Arghhh."
Desahan itu menguap di dalam ruangan kerja itu, cairan lengket memenuhi lengan kekar itu setelah berhasil mengeluarkan nya dengan isi kepala yang mendambakan gadis nya.
" Kau benar-benar membuat ku gila sayang." Desah nya melihat milik nya yang masih menegak. Padahal dia sudah membuat nya keluar cukup lama.
Wajah pria itu memerah dengan kabut nafsu, kembali dia menggeser layar ipad di depan nya saat melihat gadis disana sudah keluar dari kamar mandi.
Alana bersenandung pelan, dia menatap deretan pakaian di depan nya. Memilih yang cocok untuk dia pakai hari ini. Tidak akan kemana-mana sebenarnya, kebetulan hari ini dia tidak ada matkul. Jadi akan memutuskan menghabiskan waktu di apartement. Apalagi tubuhnya terasa pegal-pegal Mungkin karena kemarin melakukan banyak aktivitas.
" Kaus saja deh." Gumam nya, dia melepaskan handuk yang melilit setengah tubuhnya.
Memakai celana segitiga dengan tenang dan langsung memakai kaus kebesaran yang menutupi setengah pahanya itu. Tanpa perlu repot memakai bra, toh di sini dia hanya sendiri. Kebiasaan yang sering Alana lakukan.
Bahkan jika cuaca benar-benar gerah, gadis itu hanya memakai underwear di dalam apartment nya itu. Inilah yang membuatnya lebih enak tinggal sendiri selama kuliah 2 tahun. Dia bisa bebas melakukan apapun tanpa ada gangguan. Jika dirumah ada adik laki-laki nya yang membuat dia tidak bisa melakukan itu.
" Laper." Lirihnya, dengan rambut masih setengah basah Alana meninggalkan kamar dan melangkah menuju ke arah dapur yang ada di apartment nya.
Gadis itu membungkuk, menatap isi di dalam kulkas. Hal itu membuat bajunya terangkat dan memperlihatkan bokongnya yang hanya memakai cd berwarna merah yang sangat kontraks.
Mungkin menurut nya tidak apa-apa, apartment itu sepi. Hanya ada dirinya, tanpa tau jika sebuah kamera tersembunyi merekam semua itu. Seseorang yang menatap lewat kamera mengumpat dan mendesah lirih menyaksikan itu tiada henti.
" Rasanya aku ingin menampar bokong padatmu sayang."
" Ah, bagaimana jika aku menghujam dengan kamu yang membungkuk seperti itu ? Doggystyle ?"
" Sial, aku benar-benar tidak tahan."
Alana memakan pelan salad di depan nya, tatapan nya fokus menatap ponsel dan sesekali membalas pesan yang di kirim oleh teman-teman nya.
"Shh." Dia menyimpan ponsel nya dan menunduk merasakan gesekan kaus dengan benda kecil di balik dadanya.
" Kenapa terasa perih ? Aku sama sekali tidak memainkan nya ?"
" Atau karena siklus akan haid ?" Bingung nya, dia menekan bagian itu dan meremas nya dari balik kaus.
" Sepertinya iya, datang bulan akan lebih cepat."
Merasa sudah tidak selera untuk makan, Alana menuntaskan sarapan nya dan membereskan kembali. Perempuan itu melangkah ke ruang tv. Membaringkan badan nya di sofa dan mencari saluran yang menarik untuk dia tonton.
" Bosen." Keluhnya setelah lama menonton, dia mengusap pelan perut rata nya dengan kaus yang sudah tersingkap itu. Memikirkan kegiatan yang cocok untuk di lakukan nya sekarang.
Ingin keluar, tapi cuaca sedang panas-panas nya. Melihat dari jendela saja sudah malas, apalagi benar-benar keluar.
" Sandra kemana ? Tumben chat gue gak di balas." Dumel nya.
Hari ini dia tak ada jadwal apapun, jadi akan bersantay saja di apart, atau mungkin akan sedikit berenang untuk olahraga setelah sedikit makan siang nanti.
___
Alana menenteng sebotol cocacola, dia keluar dari apartemen dengan menggunakan kimono yang didalamnya hanya berlapis underwear. Karna sesuai rencana, disiang ini dia akan melakukan sedikit olahraga renang.
Dia menggunakan kartu akses masuknya kedalam kolam renang private yang sudah di sediakan pihak apartement.
Menyalakan lampunya hingga ruangan itu berubah terang, suasananya memang sepi karna hanya digunakan oleh dia dan penghuni apartemen di sebelahnya.
Menyimpan HP dan minumannya disisi kolam supaya mudah dijangkau, dia membuka bathrobe yang membungkusnya, lalu melakukan sedikit peregangan supaya kakinya tidak kram.
Byur
Alana melakukan beberapa putaran, dirasa lelah, dia menumpukan tangannya dipinggir kolam sambil mengatur nafas dan merasakan sensasi segar air kolam.
Ting
Suara pintu masuk yang terbuka membuatnya mengernyit, namun tak berselang lama kernyitan itu hilang saat tau sosok yang muncul kemudian.
Seorang lelaki gagah, dengan rahang tegas yang ditumbuhi jambang tipis, tatapan tajam, dan hidung mancung membuat Alana tertegun untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia mengalihkan tatapannya.
Keadaan pria itu yang hanya mengenakan celana ketat sepaha dengan dada tanpa penghalang membuat pikirannya melayang.
Apalagi 8 roti sobek yang tercetak disana membuatnya salah fokus. Dan 3 tato bintang yang berada disamping perutnya membuat pikirannya gila.
Omo omo!!
Alana sangat menyukai bintang, dan apa-apaan pria itu, kenapa meletakkan bintang ditempat yang sangat errrr.
Dia kembali melihat pria itu yang sudah duduk di kursi pinggir kolam.
"Kak " Sapanya dengan sedikit senyum, hanya formalitas sebenarnya.
Tapi sepertinya dia sedikit menyesal karna membuang 3 detik waktunya untuk menyapa pria itu, karna balasannya hanya sedikit anggukan tanpa senyum.
Ngeselin, nyesel gue.
Very sexy, but it feels dangerous.
Alana memutar tubuhnya, mengambil ancang-ancang untuk kembali berenang. Menghiraukan keberadaan pria itu yang satu ruangan dengan dirinya.
Dengan santai, dia meliukkan tubuhnya didalam air. Menikmati waktu berenangnya.
Kesempatan, biasanya dia selalu disibukkan dengan organisasi kampus yang diikutinya.
Didalam air, dia menoleh kesamping saat merasakan pergerakan air, ternyata benar, pria itu sudah masuk kedalam kolam.
Mereka tampak asik berenang, tanpa merasa terganggu sama sekali. Asik dengan dunia mereka sendiri.
Kepala Alana menyembul ke atas, dia mengusap wajahnya dan mengatur napas.
Karna kolam yang tidak begitu luas, tentu saja ketika dia melihat kedepan, pergerakan pria itu terlihat. Kulit putih yang liat dan kekar, mendayuh air dan membuat pergerakan air tersebut mengguncang.
Tidak ingin ketahuan mengamati, perempuan itu berjalan sedikit kesamping, menumpu kedua tangannya di sisi kolam dan mengambil ancang-ancang untuk duduk di pinggirannya.
Tangga untuk keluar ada, namun itu berada di sisi lain, dan Alana tak ingin repot untuk berjalan lagi kesana.
Berhasil terduduk, dia membiarkan rambutnya yang terurai dan menitikkan air kolam. Serta tak merasa terganggu sedikitpun dengan dia yang hanya mengenakan bikini.
Toh lingkungannya sudah biasa dengan orang-orang berbaju seperti itu.
Alana juga tidak sering menggunakan baju seperti itu, namun karna ini didalam ruangan dan juga kehadiran pria itu yang tampak acuh, dia rasa itu bukan masalah besar.
Dia membuka penutup botol minumannya dan meneguk nya hingga setengah.
Setelah selesai dia terdiam sejenak dan turun kembali kedalam kolam. Baru hendak melangkah untuk berenang kembali, deringan ponsel menghentikannya.
Drrrtt drttt
Dia berbalik kembali, mengambil bathrobe untuk melap tangannya yang basah
" Eliot." Lirih nya meringis dan menggeser ikon hijau di hpnya.
" Halo kak." Sapanya.
" Dimana ?"
" Apart, kenapa kak ?" Tanyanya basa-basi meskipun sudah bisa menebak tujuan pria itu menelepon nya.
" Proposal kegiatan udah beres ?"
Nah kan. benar firasat nya
Meskipun memiliki sahabat yang cukup pemalas, seperti Sandra, Julio dan Cris yang sering mengajaknya clubbing. Namun saat di kampus Alana cukup rajin dengan masuk ke beberapa hima, sangat berkebalikan dengan sahabatnya.
" Bukan nya timeline nya masih tiga hari ?" Tanya gadis itu dengan hati-hati, pasal nya dia baru menyelesaikan kurang dari setengah nya.
Menjadi sekertaris ternyata cukup merepotkan karena harus mengurus persuratan, apalagi proposal kegiatan. Jujur dia menyesal masuk.
" Belum beres ?" Ulang nya, Alana bisa membayangkan wajah tampan itu yang bertanya dengan datar di sebrang sana.
" Belum, baru setengah. Rencananya mau gue rampungin malam ini."
" Timeline nya maju, besok. Lo bisa selesain sekarang?"
Gadis itu mendengus masam, apa-apaan ? Kenapa mendadak!!
" Sorry mendadak, gue bantuin kerjain nya." Lanjutnya seolah paham dengan kekesalan Alana.
" Oke deh, kebetulan gue gak ke kampus. Mau kerjain dimana ?" Balas Alana, berusaha untuk terdengar tenang dan tidak mengamuk ke si penelpon yang merupakan kaka tingkat nya itu. Mengganggu waktu santai nya !
" Apartment lo dimana ?"
Alana mengernyit, namun dia tetap menyebutkan tempat tinggal nya itu.
" Kita kerjain di sana, kebetulan gue gak jauh dari gedung tempat lo tinggal."
" Oke, unit nya gue kirim lewat pesan." Balas Alana pada akhirnya.
Sambungan mereka terputus, Alana menyimpan ponselnya kembali. Namun entah perasaannya saja, dia merasa diamati. Untuk memastikan dia membalikkan tubuhnya dan benar saja.
Alana menelan salivanya kasar, pria itu tampak menyandar di pinggir kolam dengan tatapan tajam yang sangat menusuk kearahnya.
Dia segera menunduk dan berjalan pelan ke arah pria itu, maksudnya ke arah tangga kolam untuk keluar. Dan sialnya pria itu menyandar disamping tangga tersebut.
Oh come on!! Gue kaya anak tikus dihadapan singa.
Kakinya sedikit lemas karna masih bisa merasakan tatapan pria itu yang menghunus.
Saat sampai dihadapan tangga yang akan membantunya keluar dan berdampingan dengan pria itu, Alana menatapnya dan menunduk kembali.
"Duluan kak. " Cicitnya .
Dengan tangan yang sedikit lemas, dia memegang pegangan tangga besi itu dan menaikinya satu persatu.
Dengan langkah sedikit tergesa dia memakai bathrobe nya setelah sedikit mengeringkan tubuhnya dengan tangan dan mengambil ponsel serta minuman bekasnya tadi, dan tanpa basa-basi keluar dari ruangan itu.
Pergerakan itu ternyata tak luput dari mata tajam yang sejak tadi mengamatinya.
Sampai akhirnya pintu menutup, sebuah seringai kecil tercetak di bibirnya.
___
" Oke, Eliot orang luar pertama selain sahabat gue yang ke sini." Bisik Alana menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Dia mengenakan rok jeans setengah paha dengan baju sabrina yang memperlihatkan leher dan tulang selangka nya. Tak lupa dia memakai makeup tipis di wajah nya. Kedua sudut bibir nya terangkat menatap pantulan dirinya.
" Aish, gue seniat ini." Kekeh nya geli.
Ting tong
" Itu dia ? " Gumam nya heran, dengan cepat dia keluar kamar dan mengecek siapa yang datang.
" Loh, cepet banget ?"
Alana mundur selangkah, dia menatap pria di depan nya yang memakai kemeja yang sengaja tidak di kancingkan. Memperlihatkan kaus yang di pakai di dalam nya, sebuah tas tersampir di bahu dengan rambut acak-acakan yang menambah pesona ketampanan nya.
Rahang tegas, hidung mancung, tatapan tajam dan bibir tebal merah tanpa pewarna itu selalu berhasil membuat jantung Alana berdebar.
" Gue udah bilang gak jauh dari sini." Ucap nya.
Gadis itu tertawa pelan, berusaha santai dengan pria itu. Dia menyingkir kesamping dan membuka pintunya lebih lebar. Mempersilahkan untuk masuk.
Alana menatap punggung lebar itu yang masuk ke dalam apartment, dengan senyum tertahan dia menutup pintu nya dan ikut menyusul masuk.
" Kenapa mendadak banget." Ucap gadis itu dengan helaan nafas berat, dia mulai menyalakan laptopnya dan duduk di bawah kursi yang di duduki Eliot.
" Gue baru kerjain dikit, gak sampe setengah." Jelas nya, menyimpan laptop itu di atas meja.
" Sorry, dosen minta nya lebih cepat. "
Meminta maaf, namun raut nya tetap datar. Alana sudah terbiasa dengan sikap itu. Namun ada beberapa moment dimana pria itu akan ramah bahkan sangat ramah. Susah di tebak memang.
" Coba cek dulu yang ini." Pinta Alana.
Pria itu ikut turun dan duduk di bawah, disamping Alana. Beralaskan karpet tebal. Alana sengaja memilih di bawah supaya lebih mudah mengetik di banding duduk di atas.
" Gak usah ikut turun." Seru gadis itu yang tidak di hiraukan.
" Lo belum koreksi typo nya ?" Gumam pria itu menatap layar laptop di depan nya itu.
" Belum, biasanya gue cek di akhir. Liat tujuan nya aja dulu sama keperluan nya, udah bener belum." Pinta Alana.
" Udah, lanjutin aja dulu." Titah pria itu kembali menggeser laptop ke arah Alana.
Perempuan itu mengangguk dan mulai fokus mengerjakan. Beberapa menit berlalu, keduanya tenggelam dengan kegiatan masing-masing. Alana tersentak merasakan usapan di pahanya. Dia menunduk dan menatap tangan kekar itu yang sudah bertengger di sana.
Rok sepaha yang digunakan nya semakin terangkat saat dia duduk bersila seperti itu, dia mendongak dan semakin membatu saat wajah Eliot ternyata cukup dekat dengan nya.
" Kenapa ?" Tanya pria itu tenang.
Alana bungkam, tak tau harus mengatakan apa. Apalagi usapan itu terasa semakin intens.
" Jangan terlalu diperjelas kata-katanya. Buat jelas tapi langsung ke tujuan." Komentar pria itu dengan pandangan yang sudah menatap kembali ke laptop.
" Ah-iya, paham." Balasnya berusaha untuk tenang, dia kembali merilekskan badan nya yang menegang.
Tidak mempermasalahkan tindakan Eliot yang mengelus dengkulnya.
'Pria itu tidak akan macam-macam, dia cukup mengenal nya.' -Itu fikir Alana.