Bersulang!
Kaca-kaca beradu diiringi riuh suara tawa saat Arabella, Claudia, Vera, dan Clara mengangkat gelas wine mereka tinggi-tinggi.
"Untuk persahabatan yang tidak akan pernah tergoyahkan!" seru Arabella semangat. Cahaya lampu disko berkelap-kelip menerangi wajah-wajah cantik mereka yang ceria.
Claudia tersenyum lebar. "Dan untuk pesta ulang tahun Arabella kita yang ke-27!" serunya. Denting gelas kembali terdengar di antara dentuman musik. Arabella tersenyum mendengarnya.
Clara yang memang jiwa pestanya tidak pernah redup, bangkit dari kursi. Ia mengayunkan tubuh mengikuti irama.
"Hidup ini terlalu singkat untuk tidak menikmati tiap detiknya! Dan untukmu, kesayanganku, selamat ulang tahun!" teriak Clara, penuh bahagia.
Vera, yang lebih kalem, ikut menyambung. "Dan untuk cinta yang bakal kita temukan di jalan nanti!"
Tawa empat sahabat itu meledak, mewarnai suasana yang makin larut dalam euforia.
Di tengah kerlip lampu dan decak kagum orang-orang sekitar, mereka berpelukan. Malam itu, bukan sekadar perayaan ulang tahun saja, tapi juga malam kebebasan.
"Ini hadiah untukmu, Sayang," ucap Claudia, menyodorkan sebuah kado. Begitu pula Vera dan Clara.
"Selamat ulang tahun sekali lagi, Araku. Semoga kau berjodoh dengan Sky," timpal Clara.
"Terima kasih, Clara, doakan saja." Arabella, menampilkan senyum manis merekah.
"Oh iya, Sky dan yang lain... tumben belum datang? Bukankah kita sudah janjian akan berkumpul di sini?" tanya Vera, matanya memandangi ketiga wajah sahabatnya yang mengangkat bahu.
"Mungkin terjebak macet. Aku akan menghubungi Sky dulu, ya," ucap Arabella, meraih ponselnya.
Belum sempat menekan tombol panggil, tangan Sky sudah menahan pergelangan tangan kekasihnya. "Aku sudah di sini, Sayang."
Arabella berbalik, spontannya memeluk tubuh pria itu erat. "Kenapa lama sekali, Sayang? Aku kangen!" bisik Arabella, suaranya manja.
"Maaf, tadi aku mengalami kemacetan dan sempat cari hadiah untuk kamu juga." Sky kemudian mengecup pipi Arabella.
"Hadiah? Apa itu?" tanya Arabella, berharap.
Sudah bertahun-tahun hubungan keduanya terjalin. Namun, Sky bahkan tidak pernah melamar. Arabella sangat berharap lamaran itu datang di hari ulang tahunnya.
Namun, melihat Sky hanya memberikan sebuah kotak kado kecil yang tak jauh beda dari milik sahabat-sahabatnya, wajah Arabella sedikit berubah, tapi cepat ia tutupi dengan senyum.
Sky menangkap raut itu. "Kau tidak suka hadiahnya, Sayang? tanya Sky. "Aku akan membelikan yang lain jika kau memang tidak menyukainya."
"Ah, bukan begitu. Aku sangat senang, kok." Bibir Arabella memaksa tersenyum, tapi matanya mengkhianati.
Sky mengecup bibir wanitanya lembut. Ia beralih menatap sahabat-sahabat Arabella, lalu teman-temannya.
"Minum sebanyak apa pun yang kalian mau. Aku akan traktir malam ini!" serunya, membuat suasana kembali meriah.
Setelah mengatakannya, tatapan Sky tak sengaja tertumbuk pada Claudia. Tatapan yang terlalu lama, terlalu penuh arti. Claudia tersenyum tipis, membalas dengan sentuhan halus di kaki Sky di bawah meja, sebuah isyarat nakal dan menggoda.
"Sayang, aku pergi ke toilet dulu," ucap Sky, bangkit sambil mencium kepala Arabella. Arabella mengangguk.
Tak lama, Claudia menyusul. "Aku juga harus pergi ke toilet. Aku tidak tahan ingin buang air kecil."
"Mau kutemani?" tanya Clara, menawarkan diri.
"Tidak usah, Clara." Claudia tersenyum kecil. Clara hanya mengangguk sebagai jawaban, kembali fokus pada minumannya.
♦️♦️♦️
Di depan toilet pria yang sepi, Sky sudah menunggu kedatangan seseorang. Melihat wanita yang ia tunggu-tunggu, keduanya masuk, tak lupa mengunci pintu.
"Aku merindukanmu, Sky," desah Claudia, matanya memanas. Claudia bersikap agresif, mencium bibir serta leher Sky.
Sky menahan pinggang wanita itu, menariknya hingga tubuh mereka tak berjarak. "Yang sedang kau rindukan aku, atau yang lain, hm?"
Claudia tersenyum menggoda. "Aku merindukan keduanya." Tangan Claudia menyentuh kejantanan pria itu.
Tanpa banyak kata, bibir Sky melumat bibir Claudia. Ciuman itu panas, liar, tak peduli pada waktu dan tempat. Toilet kecil itu dipenuhi suara desahan keduanya, suara desah Claudia lah yang berbunyi nyaring. Claudia sempat menggigit bibirnya agar suara itu tak lolos.
"Pelankan suaramu, Honey. Kau ingin ketahuan oleh orang?" bisik Sky, hembusan napas panasnya menerpa kulit Claudia yang terangsang karena Sky tak berhenti mempermainkan area bawahnya.
Claudia hanya mengangguk, matanya redup. "Cepat sentuh aku, Sky!"
Sky tersenyum menyeringai. Ia mengangkat satu kaki Claudia, memposisikan diri dengan nyaman. Dalam satu kali hentakan, kejantanan Sky terbenam sepenuhnya. Ia mengerang rendah, miliknya yang terjepit, membuat Sky tak dapat menahan diri untuk bergerak. Tubuh mereka tak lagi bisa dipisahkan oleh apa pun.
♦️♦️♦️
Beberapa menit telah berlalu, Sky melangkah keluar lebih dulu untuk memastikan. Dirasa aman, barulah ia meminta Claudia keluar. Wajahnya memerah, rambutnya masih sedikit berantakan, tapi segera ia perbaiki.
Tak lama, Claudia tiba di meja teman-temannya yang sudah menunggu sedari tadi.
"Kenapa lama sekali?" tanya Arabella.
"Aku... sakit perut," jawab Claudia, berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan. "Maaf, sudah buat kalian menunggu."
"Hm, tidak apa. Aku juga ingin pergi ke toilet, tunggu saja di sini." Arabella lalu pergi sendirian.
Arabella berjalan tanpa memandang ke depan, fokusnya pada ponsel. Tanpa sadar, ia justru menabrak seorang pria bertopeng yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu tanpa ampun mencengkeram lehernya, membuatnya kesakitan.
"Aku... maaf... aku tidak sengaja. Tolong lepaskan." Air mata menggenang di pelupuk mata Arabella, membasahi wajah pucatnya yang ketakutan.
Pria itu tak bergeming, tangannya masih melingkari leher Arabella, satu lagi menyeka air mata wanita itu. Tanpa peringatan, pria itu menciuminya paksa. Arabella tak sempat melawan. Ia berusaha untuk tetap merapatkan bibir, tapi pria itu justru menggigit bibirnya, memaksa lidahnya masuk.
Setelah puas dengan apa yang ia lakukan, pria itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Arabella terdiam di tempat, tubuhnya gemetar, perasaannya campur aduk.
Dia segera berlari ke toilet, menatap wajahnya di cermin. Air mata Arabella kembali mengalir. Dia segera membasuh bibirnya, berusaha menghilangkan jejak ciuman pria asing itu.
"Siapa orang itu? Dasar keparat!" gerutu Arabella, air matanya tetap mengalir.
♦️♦️♦️
Sekembali ke meja, Sky mendapati wajah wanitanya pucat, bibir Arabella pun sama pucatnya.
"Sayang, ada apa denganmu? Bibirmu pucat," tegur Sky, jemarinya menggenggam tangan Arabella.
"Aku... aku habis cuci muka, Sayang. Lipstikku hilang," jawab Arabella. Ia merasa bersalah pada Sky.
"Boleh kita pulang? Aku mendadak merasa tidak enak badan," kata Arabella, menatap Sky dengan wajah memohon.
"Pulang? Aku akan mengantarmu," kata Sky sambil mencium kening Arabella.
Mereka semua berpamitan pulang. Sky mengantar Arabella kembali ke apartemen wanita itu.
♦️♦️♦️
"Tak perlu antar sampai kamar, Sayang," tolak Arabella, begitu Sky ingin beranjak turun dari mobil.
Di dalam mobil, suasana mendadak hening. Sky menghela napas sejenak, kemudian meraih wajah Arabella, menciumnya dalam. Tapi Arabella segera menghentikan saat tangan Sky mulai bergerak lebih jauh.
"Maaf, aku tidak bisa sebelum kita menikah," ucap Arabella pelan.
Sky mengeraskan rahangnya, kecewa. Dalam hati, ia tahu akan kembali mencari Claudia untuk menyalurkan hasrat.
Siapa... siapa yang menekan bel terus-menerus seperti ini? batin Arabella bertanya-tanya.
Ia meraih ponsel, melihat jam yang baru menunjukkan pukul lima pagi.
"Sepagi ini ada yang ingin bertamu? Bagaimana jika itu bukan manusia?" Arabella bergidik ngeri.
Arabella ingin mengabaikan, tapi bel terus berbunyi tanpa henti. Hal itu sangat mengganggunya. Meski takut, Arabella coba beranikan diri untuk mengecek. Ingin rasanya ia memaki orang yang telah mengganggu waktu istirahatnya itu.
Arabella membuka pintu dengan tampang sok berani. Namun, tak ada siapa pun di depan pintu kamar. Lorong apartemen itu bahkan masih tertutup rapat oleh kegelapan.
Arabella mengusap tengkuknya yang meremang. "Siapa yang ... Argh!"
Ketakutan menggiring Arabella untuk segera mengunci pintu kamar apartemennya. Tubuh wanita itu bergetar bagai daun diterpa angin kencang di belakang pintu. Air matanya menggenang di pelupuk.
"Apa hantu yang menekan bel kamarku tanpa henti? Tapi... bagaimana itu mungkin?"
Arabella tak bisa berpikir jernih. Ia baru mengambil langkah untuk kembali ke kamar, saat dentang bel apartemen kembali memecah keheningan. Arabella terlonjak kaget, memegangi dadanya yang berdegup hebat.
Arabella mengambil ancang-ancang membuka pintu dengan cepat. Ia sudah ingin memaki-maki orang yang dengan sengaja mempermainkan ketakutannya saat ini. Namun, sial! Lagi-lagi Arabella masih tidak menemukan keberadaan orang yang menekan bel. Suasana masih sama seperti pertama kali ia membuka pintu.
Arabella menoleh ke kanan, tak ada orang. Saat menoleh ke arah kiri, kedua matanya menangkap siluet seseorang yang tengah berdiri di kegelapan. Dengan keberanian yang tersisa, Arabella coba bertanya dengan pelan.
"Siapa ... di sana? Kau yang menekan bel kamarku tanpa henti?"
Arabella tak melihat jelas. Suasana gelap lorong apartemen yang hanya diterangi oleh cahaya remang-remang, menerpa siluet seseorang berbalut hoodie hitam. Ia menunduk, wajahnya bahkan tidak bisa di lihat. Insting keamanan Arabella terpicu. Ia mundur, ingin menutup pintu kamarnya.
Namun, pandangan Arabella tak sengaja tertuju pada buket bunga mawar hitam yang tergeletak tidak jauh dari kaki pintu. Dengan gerak cepat dan hati yang masih berdegup, Arabella meraih bunga itu, membawanya masuk ke dalam, dan tanpa ragu mengunci pintu dengan segera.
"Buket mawar lagi? Siapa orang misterius tadi? Apakah ... dia yang meletakkan buket bunga ini?" tanya Arabella pada dirinya sendiri sambil membolak-balikkan buket tersebut.
"Aku tidak menemukan apa pun di mawar ini. Bagaimana aku bisa tahu siapa yang telah memberikannya?" Arabella menghela napas panjang, ia merasa seperti di teror.
Arabella kembali ke kamar. Ia membuka tirai, menatap langit yang mulai terang. Buket itu ia letakkan di atas meja, bersebelahan dengan satu lagi buket mawar merah yang semalam juga ia temukan di depan pintu apartemennya.
Ia memandangi kedua buket tersebut. "Aneh," gumamnya. "Tidak ada satu pun nama pengirim di kedua buket ini. Apa ... aku memiliki secret admiror?"
Tak ingin menduga-duga, Arabella memilih untuk menyegarkan diri. Ia memasuki kamar mandi, mengisi bathtup, menyalakan lilin aromaterapi yang dapat meredakan ketegangan.
Begitu tubuhnya tenggelam di dalam bathtub, Arabella menghirup dalam aroma sabun yang lembut, memenuhi paru-parunya dan perlahan meredakan ketegangan di dada. Kedua matanya terpejam, membiarkan sensasi hangat itu menyeretnya ke dunia lain, jauh dari bayang-bayang gelap yang sempat menyergap tadi.
Usai berendam, Arabella melangkah masuk ke dalam shower box berdinding kaca. Air hangat mengguyur sekujur tubuhnya, membasuh sisa kecemasan yang masih melekat. Suasana hening dan suara gemericik air menjadi teman satu-satunya. Waktu seakan berhenti, membuatnya tak menyadari betapa lama ia terjebak di sana.
Dengan hanya selembar handuk putih membalut tubuh, Arabella melangkah keluar dari kamar mandi, menuju walk-in closet. Namun, entah mengapa, setiap langkah yang diambilnya terasa berat. Seperti ... ada sepasang mata yang mengawasi dari dekat. Namun, Arabella tahu betul jika ia sendirian, tapi naluri wanita itu berkata lain.
"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa ada yang tengah mengawasi," gumam Arabella, matanya memandang sekeliling.
"Tenangkan dirimu, Arabella! Kau aman. Tidak ada siapa pun di sini." Arabella mencoba meredam desiran aneh yang merambat di tengkuknya.
♦️♦️♦️
Di sisi lain...
Jantung seorang pria kini tengah berdetak kencang saat melihat seseorang melalui layar monitor besar yang terpasang di ruangan pribadinya. Di layar, terpampang wanita cantik yang selama ini mencuri perhatian pria itu, terlihat mengenakan pakaiannya. Cahaya layar monitor memantulkan siluet tubuh telanjang yang membuat pria itu semakin tidak sabar untuk berada di sisinya.
Pria itu tersenyum tipis. "Kau benar-benar membawa kegilaan untukku, Baby."
Pria itu melihat wanitanya menoleh ke seluruh sisi kamar, seakan merasakan kehadirannya meskipun ia sudah tak berada di lokasi wanita itu lagi. Pria itu membayangkan bagaimana reaksi wanitanya jika ia benar-benar berada di sana.
"Mungkin ... aku bisa kelepasan menidurimu, Sayang," katanya, penuh kegilaan.
"Rasanya aku ingin menembus layar monitorku. Menarikmu ke dalam pelukanku, merasakan setiap helaan napasmu yang tercekat saat aku menyentuh bagian tubuh sensitifmu yang paling kau lindungi dari kekasihmu sendiri," gumam pria itu dengan suara parau.
Kedua matanya terpejam sesaat, membiarkan imajinasi liar itu membakar kewarasannya.
Matanya terbuka perlahan. Pandangannya bertaut ke layar lagi, di mana wanitanya kini telah selesai berpakaian. Hasrat pria itu memuncak. Ingin rasanya menerkam, menggenggam erat, dan tidak pernah membiarkan wanita itu beranjak sedetik pun dari sisinya.
"Damn it," desisnya. "Aku ingin menguncimu dalam dekapanku, Baby. Melingkupi tubuhmu dengan sayapku, membangun dinding yang tak bisa kau tembus, agar tak ada celah bagimu untuk kabur. Suara, wajah, semuanya ... hanya aku yang akan menjadi satu-satunya."
Setiap detik terasa menjelma menjadi siksaan. Waktu seakan mempermainkan, memaksa pria itu untuk terus menatap layar monitor, menyaksikan wanita incarannya tanpa mampu menyentuh. Tapi ia tahu, saatnya akan tiba. Saat di mana ia akan berada di sisi wanita itu. Memastikan bahwa tidak ada siapa pun, atau apa pun, yang bisa memisahkan mereka.
Dengan tatapan tajam menusuk ke layar, pria itu berbisik pelan, namun suaranya penuh ancaman manis.
"Itu baru pemanasan, Sayang. Masih begitu banyak kejutan yang sudah ku persiapkan. Kejutan-kejutan itu menunggumu, Arabella Carol."
Ruangan di kamar apartemen wanita itu telah sepi. Bayangannya pun tak terlihat lagi dari pandangan pria itu. Ia bangkit dengan keputusan bulat, meninggalkan kursinya yang empuk. Langkahnya terarah menuju pintu, lalu memastikan untuk menguncinya kembali. Tidak satu pun boleh mengusik ruang pribadi pria itu tanpa izin, jika mereka tak ingin memberi nyawa padanya secara cuma-cuma.
♦️♦️♦️
"Kenapa aku merasa diikuti? Apa ada yang mengikutiku?" batin Arabella, matanya sesekali menoleh ke belakang, tapi hanya kabut malam yang menyelimuti jalan setapak itu. Rasa takutnya kian menjadi-jadi, langkahnya pun semakin ia percepat, seakan ingin menerobos kabut ketakutan yang semakin tebal.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan di pundaknya membuat Arabella menjerit tertahan. "Argh!"
Tapi sebelum pikiran Arabella benar-benar diselimuti panik, suara yang begitu dikenalnya memecah ketegangan itu.
"Hey ... ini aku, Sayang. Sky."
Degup jantung Arabella yang tadinya menghantam dada, seketika melemah. Tubuhnya bergetar, seluruh rasa gugup dan ketakutan luruh saat ia langsung memeluk tubuh Sky erat-erat. Akhir-akhir ini ... Arabella selalu merasa terteror, itulah yang membuatnya selalu tak bisa beraktivitas dengan baik.
"Kau menakutiku, Sayang," bisiknya lirih, air mata tanpa sadar membasahi pipinya yang dingin. "Jangan seperti itu lagi, ku mohon!"
Sky membalas pelukan Arabella, merengkuh tubuh wanita itu dengan hangat. Jemarinya menyentuh lembut pipi basah Arabella, lalu mengecup keningnya pelan.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk menakuti." Sky benar-benar merasa bersalah
Dalam balutan rasa takut yang perlahan digantikan kelegaan, Arabella hanya mengangguk pelan.
"Aku benar-benar takut, Sky! Aku kira ..." Perkataan Arabella terhenti, tak ingin melanjutkan lebih.
Sky menangkup wajah wanitanya, menatap mata Arabella dalam-dalam.
"Aku sudah di sini, Sayang. Aku tidak akan lakukan hal seperti ini lagi. Aku juga tidak akan biarkan siapa pun menyentuhmu, atau membuatmu ketakutan."
Arabella hanya bisa mengangguk, detak jantungnya masih berdebar tak karuan, tapi setidaknya sekarang ada Sky di sisinya.
"Aku antar ke apartemen, ya?" tanya Sky, meminta izin.
"Tidak ..."
"Aku akan tetap mengantarmu! Tak ada penolakan!"
Arabella tak membantah. Ia biarkan Sky mengantarnya pulang.
♦️♦️♦️
"Cukup sampai di sini, Sayang," bisik Sky lembut, suaranya serak menahan perasaan yang masih membara. Arabella hanya bisa mengangguk pelan, matanya tak lepas dari sorot mata pria itu yang selalu membuatnya tenggelam.
"Hati-hati di jalan, ya," ucap Arabella, suaranya sedikit bergetar, menyembunyikan keengganan untuk berpisah. Pandangan mereka bertaut dalam kehangatan, seolah waktu ingin membekukan detik itu.
Sky tersenyum kecil, tapi sebelum Arabella sempat memutar kenop pintu, tangan kekar pria itu lebih dulu menangkap pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya. Detik itu juga, desir halus seperti arus listrik mengalir di antara keduanya.
"Tunggu," gumam Sky, mendekatkan wajahnya ke wajah Arabella, hingga hanya tersisa jarak napas. Tanpa aba-aba, bibirnya mendarat di bibir Arabella yang terasa lembut, hangat, tapi menyimpan bara yang siap meledak kapan saja.
Arabella sempat terkejut, tapi tak mampu menolak. Tubuhnya luluh, bibirnya membuka sedikit, mempersilakan ciuman Sky masuk lebih dalam. Napas mereka bertaut, menghangatkan udara dingin di antara mereka.
Ketika napas Arabella mulai tersengal, tangannya menepuk lembut bahu Sky, tapi pria itu tidak segera melepas. Justru jemarinya menyelinap ke balik pakaian tipis Arabella, mengusap punggungnya dengan sentuhan menggetarkan.
"Sky ...," desah Arabella di sela ciuman, tapi yang keluar justru lenguhan pelan, tak mampu menyembunyikan gejolak yang ikut menyala dalam dirinya.
Sky menarik wajahnya sedikit, menatap mata Arabella yang sayu oleh gairah tertahan. "Kau tahu, Sayang ... kau membuatku gila," bisiknya, sebelum kembali mencium bibir wanita itu, kali ini lebih dalam, mengeksplorasi semua.
Tanpa bisa dicegah, tubuh Arabella terangkat ke udara, dibopong dengan mudah oleh Sky. "Sky, tunggu ..."
"Aku tidak bisa," potong Sky, suaranya berat, penuh hasrat.
Dengan langkah pasti, Sky membawa Arabella masuk ke dalam kamar apartemen itu. Saat memasuki kamar, pandangan mata mereka sempat tertuju pada sesuatu. Sebuah rangkaian bunga mawar hitam, tergeletak rapi di atas meja. Warnanya pekat, kelopaknya tampak sempurna dalam kegelapan. Terdapat lilin juga di sana, seolah seseorang sengaja menghiasnya.
Sky menatap Arabella, alisnya bertaut. "Kau yang menghiasi semua itu, Sayang?
Arabella menggeleng cepat, napasnya masih berat. "Aku ... aku tidak tahu, Sky, baru lihat."
Ada sedikit ketegangan di antara keduanya, tapi Sky hanya menghela napas, lalu menatap Arabella dengan cara yang membuat wanita itu nyaris melupakan segalanya.
"Nanti kita bicarakan soal itu. Malam ini, kau milik aku, Arabella," ucapnya dengan suara rendah, penuh penguasaan.
Dengan hati-hati, Sky merebahkan Arabella di atas ranjang empuk, tubuh wanita itu tenggelam di antara seprai putih yang dingin. Cahaya lampu kamar yang temaram membuat kulit Arabella tampak semakin pucat dan halus.
Arabella tersenyum, menyentuh pipi Sky. "Aku percaya padamu ... sepenuhnya."
Saat bibir Sky mulai mengeksplorasi lembut sepanjang leher Arabella, napas hangat pria itu menerpa kulit sensitif wanitanya, menimbulkan getaran halus yang merambat ke seluruh tubuh. Sebuah desahan lolos dari bibir Arabella, dada wanita itu naik turun, sementara tangan Sky perlahan mengangkat ujung pakaiannya, menyibak kain tipis itu agar bibirnya bisa menyentuh kulit mulus di bawahnya.
Sentuhan demi sentuhan terasa seperti aliran listrik yang membakar Arabella, menyulut gairah dan rasa nyaman sekaligus. Jemari Sky menyusuri lekuk tubuh Arabella penuh penguasaan, seolah ingin menghafal setiap detail dari wanita itu. Keduanya larut dalam kehangatan yang memabukkan, tanpa kata, hanya suara napas yang saling berpacu, menyatu dalam keheningan malam.
"Aku akan jadi pria paling beruntung malam ini, Arabella. Sekarang kita akan semakin tidak memiliki jarak," bisik Sky, suaranya berat, dibalut senyum yang mengandung makna.
Arabella hanya mampu mengangguk, matanya setengah terpejam, menyerahkan diri sepenuhnya dalam pelukan pria yang kini begitu dekat dengannya, merasakan keintiman yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.
Sky baru ingin memulai, saat dentingan benda jatuh dari luar kamar mendadak memecah konsentrasi keduanya. Suara itu sangat jelas, membuat Sky langsung menghentikan gerakannya, menegakkan tubuh, dan menatap Arabella dengan sorot mata penuh tanya.
"Kau tidak sedang menyembunyikan seseorang di apartemenmu ini, kan, Sayang?" tanyanya dengan nada setengah bercanda, setengah curiga.
Arabella tersenyum tipis, meski jantungnya ikut berdegup karena terkejut. "Tentu saja tidak, Sayang. Aku bahkan tidak mengenal pria lain selain kau saja." Suara Arabella tenang, karena ia memang tak berbohong.
Sky baru niat mengabaikan, saat suara benda jatuh terdengar lagi. Kali ini lebih keras, lebih mengganggu kedua insan itu. Tanpa banyak bicara, Sky segera bangkit sambil mengenakan celana dalam, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam seperti seekor singa yang baru saja terusik di sarangnya.
"Aku akan pergi untuk mengeceknya dulu, Sayang," ucapnya, lalu melangkah cepat ke pintu kamar.
Arabella hanya bisa terduduk diam, merapatkan selimut di tubuhnya yang masih setengah terbuka, degup jantung wanita itu tak kunjung tenang. Malam yang awalnya dipenuhi kehangatan, kini diselimuti ketegangan baru. Rasa cemas menyelusup diam-diam, membuat ruang itu seakan hening dalam ketakutan yang belum terucap.
♦️♦️♦️